Update lagi! Thanks buat yang review di chapter 1, review kalian sangat berarti..XD

Disclaimer: Yana Toboso

Rate: T

.

.

.

His Butler, The Best

.

"Ada apa, Ciel?" tanya Alois, dengan senyum yang membuat Ciel curiga.

"Sebastian, tolong ambilkan minum," kata Ciel.

"Dua atau satu?" tanya Sebastian.

"Kau pikir aku minum dua gelas sekaligus?" bentak Ciel dalam bisikan.

"Baik, Young Master." Kemudian Sebastian pergi.

"Aku senang sekali bisa membantu perusahaanmu yang benar-benar melegenda itu," cicit Alois.

"Di mana makhluk itu?" tanya Ciel curiga. "Claude."

"Dia terkena flu berat. Entah kenapa, ya, kurasa sekarang sedang musim flu, ini kan musim semi. Dunia itu aneh, ya, Ciel," ujar Alois.

"Benar-benar aneh," ujar Ciel dengan suara yang hampir seperti bisikan.

Kemudian Sebastian datang membawakan nampan berisi dua gelas lemon juice. Dia menyodorkan minuman kepada tuan mudanya yang tidak melihat curiga pada nampannya. Dia mungkin mengambil nampan seorang pelayan, batin Ciel.

"Saya lihat Claude tidak di sini," kata Sebastian. "Ini jarang sekali terjadi. Apakah dia sakit?"

"Benar," ujar Alois. "Dia merinding kedinginan di bawah selimutnya. Bukankah lucu kalau melihat butler kita sakit? Sebastian, kau kok nggak kena flu aja?"

"Karena jika saya flu, tidak akan ada yang mengurus Tuan Muda," kata Sebastian. "Apakah Anda mau lemon juice?"

"Menarik sekali," kata Alois mengambil lemon juice dari nampan Sebastian. "Claude tidak sepertimu. Bagaimana kalau kau bekerja untukku saja?" Kemudian dia tertawa.

"Itu merupakan suatu kehormatan," kata Sebastian. Ciel tahu ini lelucon, tapi lelucon mereka sudah berubah menjadi mengerikan. Untuk menghindari lelucon mereka yang lain, Ciel meninggalkan mereka berdua, mencari sesuatu untuk menjernihkan pikirannya.

Ciel pergi menjauh, menuju beranda, kemudian tanpa sadar Ciel dirangkul oleh seseorang dari belakang. Entah kenapa bau parfumnya mengingatkan Ciel pada Viscount Druitt saat pesta penangkapan Druitt.

"Cieelll! Kenapa aula di mansion-mu ini begitu besaaarrr?" tanya Lizzie yang saat itu berada dalam balutan gaun putih dengan berbagai warna manik-manik. "Aku susah sekali mencarimu di antara banyak orang."

"Lizzie!" kaget Ciel, untuk pertama kalinya bersyukur Lizzie ada di sana.

"Kenapa kau, Ciel, jalan-jalan sendiri di sini?" tanya Lizzie. "Ayo kita bergabung dengan mereka di arena dansa."

Tanpa sadar, acara dansa sudah dimulai, walau sebenarnya Ciel sudah mendengar musiknya dari beranda.

"Aku sedang ingin mencari angin segar, Lizzie, aku tidak enak badan," kata Ciel. "Kau dansa dengan yang lain saja."

"Jahaaaattt! Ciel jahat! Tunanganku, kan, Ciel, bukan yang lain!" Tanpa persetujuan Ciel, Lizzie menarik-narik tangan Ciel masuk ke dalam aula.

Sepintas Ciel melihat Sebastian dan Alois masih mengobrol di tempat awal mereka, membuat Ciel curiga dan kesal. Tapi tarikan tangan Lizzie begitu mengerikan, Ciel tak dapat melepaskan diri.

"Ayo, dong, Ciel," kata Lizzie mengulurkan tangan.

'Ini terpaksa, lho,' kata Ciel pada dirinya sendiri, kemudian meraih uluran tangan Lizzie. Bukankah, seharusnya laki-laki yang mengulurkan tangan lebih dulu. Ciel mendebat dirinya, tapi kemudian tutup telinga untuk berhenti mendebat diri sendiri.

Ciel berputar-putar di arena dansa selama lima menit, kemudian menghentikan dansanya sendiri. Dia mengabaikan Lizzie yang protes. Ciel menyadari dia tidak lagi melihat Sebastian ataupun Alois di tempat mereka tadi. Kemudian matanya menyapu seluruh ruangan yang tertutup oleh orang-orang. Tidak ada.

Ciel berlari ke beranda, mencari, mungkin Sebastian di sana. Tidak pernah Ciel sepanik ini ketika butler-nya tidak berada dalam sudut pandangnya. Mungkin Ciel hanya berprasangka buruk, dan dia berharap semua yang dipikirkannya salah.

Ciel berpapasan dengan Maylene di ujung beranda.

"Kau melihat Sebastian?" tanya Ciel padanya.

"Saya melihatnya tadi. Dia menuju ke arah dapur," kata Maylene. "Dia bersama orang. Tapi kaca mataku rusaknya semakin parah. Saya nggak tahu siapa. Tapi bulannya indah, lho, Tuan. Saya bisa…"

Ciel tidak menangkap sisa ocehan dari Maylene. Dia pergi, memutari arena dansa dengan tenang- tanpa berlarian -dan keluar dari aula. Dia berlari ke dapur dengan segera setelah memastikan tidak ada yang memerhatikannya.

Sesampai di pintu dapur, dia tidak langsung masuk, karena mendengar Sebastian bicara.

"…telah mendekorasinya sendiri. Dapur ini, apakah Anda suka desainnya?"

Kemudian Ciel masuk tanpa aba-aba. "Sebastian!"

Yang dipanggil menoleh. Sebastian kaget melihat tuannya dalam keadaan ngos-ngosan. Sedangkan Ciel heran, dia tidak mendapati orang yang ada dalam bayangannya-sekaligus lega.

"Ada apa, Young Master?" tanya Sebastian. Sebastian sedang menjadi pemandu sorak untuk tur mini mengelilingi mansion Phantomhive itu. Peserta tur adalah Madam Red dan Lau. Entah apa tujuannya, Sebastian melakukannya dengan senang hati. Dia senang memperlihatkan bagian rumah Phantomhive yang telah didekornya.

"Ciel!" girang Madam Red. "Butler-mu hebat sekali! Bahkan sampai dapur yang tak mungkin dilihat tamu juga didekorasi. Toiletnya juga meriah, lho. Kalau begitu, Sebastian sebaiknya menjadi butler-ku saja. Aku akan membayar tujuh kali lipat dari Ciel, lho," kata Madam Red sambil tertawa.

"Hentikan!" teriak Ciel, emosinya sudah mengelilingi tubuhnya dan sekarang sudah sampai ubun-ubun untuk kesekian kalinya. Kemudian Ciel mengendalikan diri, mengingatkan bahwa dia adalah kepala Phantomhive. "Di mana Alois?"

"Alois?" tanya Sebastian, tampak sedang berpikir. "Saya kira dia masih di aula. Dia senang sekali dengan musik dansanya." Kemudian Sebastian akhirnya mengerti apa yang dipikirkan majikannya. Dia tersenyum licik. "Tapi saya rasa sebentar lagi dia akan kembali ke kamarnya. Jika itu terjadi, saya akan membuatkannya air hangat untuk Alois mandi, menyiapkan pakaian ganti dan menyanyikan lagu Lullaby sampai dia tidur."

Wajah Ciel merona. Dia sadar Sebastian tahu kekhawatirannya yang tak nyata. Kecemburuannya. Kekesalannya. Kedengkiannya. Semua itu akibat mimpinya, dan Ciel menyumpahi diri sekali lagi yang terlalu terbawa emosi.

"Nyanyikan saja sejuta kali untuknya," ujar Ciel sambil berlalu, kembali ke arena dansa.


Pesta selesai. Beberapa undangan menerima tawaran untuk menginap. Beberapa lagi memilih untuk pulang. Mereka memiliki aktivitas yang tak bisa dihentikan besok. Dan itu sebabnya banyak sekali kereta kuda di depan rumah Ciel.

Ciel langsung berjalan menuju kamarnya. Dia berpikir mungkin saja Lizzie memilih menginap, maka dia ingin memberikan sesuatu untuk Lizzie. Ciel terlalu sering mengabaikan kebaikan Lizzie. Dia ingin bersikap layaknya tunangan Lizzie, bukan sebagai kepala keluarga Phantomhive. Ciel memutuskan untuk memberikan cokelat produksi baru dari perusahaannya. Dia akan bergegas ke kamar untuk mengambilnya.

Tiba-tiba Ciel berpapasan dengan seseorang yang bisa membuat asmanya kumat. Druitt.

"Hola, Ciel," sapa Druitt.

"Apakah kau mau pulang?" tanya Ciel, berharap jawabannya adalah 'iya'.

"Tidak," kata Druitt yang membuat harapan Ciel meleleh. Druitt membungkuk hanya karena Ciel pendek, menepuk bahu kanan Ciel dengan tangan kirinya, kemudian membisikkan kata, "Aku tahu siapa kau sebenarnya."

"A…apa maksudmu?"

"Aku janji takkan bilang siapa pun," kata Druitt. "Ternyata selama ini kau berbohong padaku. Pada dunia."

"Apa maksudmu?" tanya Ciel takut, menepis tangan Druitt. "Kau tak tahu apa-apa tentangku."

Druitt menarik dagu Ciel, mendekati wajahnya, sehingga mata mereka bisa menatap lebih jelas. "Kau sebenarnya…punya saudara, kan?"

"Apa?" tanya Ciel bingung.

"Kau bilang anak tunggal dari Earl Phantomhive. Tapi aku pernah lihat saudaramu. Dia mirip sekali denganmu, seperti burung robin yang manis."

Itu lebih baik dari perkiraan Ciel. "Ya, ya begitulah. Mungkin kau memang melihatnya." Ciel pergi berlalu, kemudian Druitt menarik tangan Ciel.

"Pertemukan aku dengannya," kata Druitt.

"Apa?"

"Aku ingin bertemu dengannya. Apa yang telah kulakukan padanya saat itu membuatku menyesal. Ayolah!"

"Di…dia sudah meninggal. Kena serangan jantung! Dia begitu shock karena suatu insiden! Apa kau senang?"

Druitt melepas tangan Ciel dengan sangat dramatis. Dia menundukkan kepala, kecewa.

"Kalau kau mau menginap, silahkan pakai kamar yang disiapkan oleh butler-ku," kata Ciel sewajar mungkin. "Jika tidak, butler-ku akan mencarikan kereta kuda untukmu pulang."

"Tidak bisa!" teriak Viscount Druitt dengan sangat mengagetkan. "Serangan jantung karena suatu insiden? Yang benar saja! Aku akan menginap! Akan kubuktikan kalau itu salah!"

"Apa hubungannya menginap dengan membuktikanku salah?" tanya Ciel, tapi Druitt sudah berlalu. Ciel sweatdrop. Sekaligus merinding.


Ciel sampai di kamarnya. Dia hendak memanggil Sebastian untuk menyiapkan air mandinya, tapi tidak jadi. Ciel melihat asap mengepul keluar dari kamar mandinya yang terbuka. Air panas sudah disiapkan. Pakaian sudah ada di ranjang. Tidak pernah Sebastian menyelesaikan tugas ini dengan meninggalkan Ciel mengurus sisanya sendiri. Tapi Ciel tak peduli. Mungkin Sebastian sedang menyanyikan Lullaby untuk Alois, dan menyiapkan makan malam.


Ciel menuju ruang makan. Dia lupa mengambil hadiah untuk Lizzie, jadi dia pikir akan memberikannya besok saja. Ketika sampai di ruang makan, Ciel kaget, tak ada siapa pun di sana.

"Young Master!" teriak Bard yang tiba-tiba muncul. "Sebastian bilang para tamu memilih untuk makan malam di kamar. Jadi makanan akan diantar ke kamar Tuan Muda."

"Begitukah?" tanya Ciel. Dia kemudian pergi ke kamar untuk tidur saja, tidak perlu ada makan malam. Dia berpikir betapa introvert-nya para undangan yang memilih untuk menginap.

Ciel memilih jalan memutar, berharap mungkin saja menemukan kebetulan yang benar-benar kebetulan, seperti ruang kosong yang tiba-tiba muncul saat Ciel bersandar pada tombol yang muncul karena sebuah misteri, menemukan Lau yang tidur sambil jalan, mendapati Lizzie berdebat dengan dirinya sendiri atau apa pun. Tapi Ciel menemukan kebetulan yang lain.

"…bukan paksaan." Ciel mendengar suara dari sebuah kamar yang pintunya terbuka sedikit.

"Saya tidak akan menanggapinya sebagai sebuah permintaan," kata seseorang yang sangat familiar di telinga Ciel. Sebastian!

"Aku juga tidak. Itu tawaran. Tidakkah tuan mudamu yang egois itu benar-benar menyebalkan?" tanya sebuah suara yang Ciel kenal adalah Alois!

Sebastian tiba-tiba menyadari adanya penguping. Ciel kemudian kabur ke seberang, ke kamar di seberang kamar Alois yang syukurnya tidak di kunci.

Pintu kamar Alois terdengar terbuka. Terdengar langkah-langkah sepatu Sebastian berkeliling, kemudian langkah itu terdengar mendekat, ke arah pintu di mana Ciel sembunyi. Sunyi untuk beberapa waktu. Kemudian sebuah tangan membuka pintu dari dalam. Mengintip ke luar.

"Halo," sapanya pada Sebastian.

"Maaf jika saya mengganggu Anda," kata Sebastian di luar. Ciel tidak bisa melihat siapa orang ini, kamar ini gelap sekali. Dan wajah si lelaki sedang melongok ke luar untuk menyapa Sebastian.

"Tidak," katanya. "Apa yang kaulakukan?"

"Mengantarkan makan malam," kata Sebastian.

"Oh, sekalian, aku membatalkan pesananku. Aku ingin langsung tidur."

"Baiklah," ujar Sebastian. "Selamat malam."

Pintu kamar ditutup dan kegelapan pekat menyerbu. Langkah-langkah kaki Sebastian menjauh. Si penghuni kamar menuju lilin di meja dan menyalakannya.

"Sudah aman, Earl."

Ciel akhirnya mengenali orang yang menyelamatkannya. Viscount Druitt! Sekarang Ciel benar-benar memahami makna dari 'keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya'. Dan Druitt memang benar-benar buaya.

"Kenapa kau tahu aku harus menghindar dari orang itu?" tanya Ciel.

"Orang itu? Kenapa tidak sebut dia 'butler-ku' seperti biasa? Kalian pasti ada masalah, tapi aku tidak akan ikut campur. Aku melakukannya karena aku merasa perlu melakukannya."

"Baiklah, aku ucapkan terima kasih padamu," kata Ciel.

"Tidak, bukan itu yang kuinginkan," kata Druitt dengan santai duduk di pinggir tempat tidurnya. Ekspresi wajahnya membuat Ciel merinding. "Aku hanya inginkan burung robin kecilku."

+To Be Continued+

Entah kenapa kayaknya konfliknya bercabang. Hahaha.

Thanks buat yang udah review di chapter 1. Kalian satu-satunya alasanku untuk melanjutkan fic ini..

+lebayyy..

Review yaa yang ini~~