Sebelumnya aku minta maaf kalau chapter pertamanya terlalu pendek. Aku bikin agak panjang deh chapter ini, semoga tidak mengecewakan.
Dan, review tetap kutunggu!
Disclaimer: Vocaloid sudah sangat jelas bukan punyaku.
Normal POV
"MA FOS QUE GAA, OO FLY!" sebuah suara yang cukup keras memenuhi ruangan yang didominasi warna oranye. Seorang gadis dengan pita putih besar diatas kepalanya tengah berdiri diatas kasur bersprei kuning, sambil mengarahkan tangannya kearah meja belajar didepannya.
PRANGG!
"AH SIAL! AKU GAGAL LAGI! PADAHAL INI PELAJARAN YANG SANGAT SANGAT MUDAAHH!" Gadis itu mulai berteriak, dengan kesal diambilnya sebuah bingkai foto yang kacanya pecah dan berserakan ke lantai. Menatap lama kearah objek yang berada ditangannya. Foto dirinya saat diberi penghargaan sebagai penyirih terhebat di sekolahnya.
"Kenapa aku kalah olehnya? Padahal dulu aku begitu mudah menguasai sihir baru, bahkan yang sulit sekalipun. Dia seolah mengacaukan pikiranku, membuatku seperti kehilangan kemampuanku. Aku, aku ini kenapa?" Setetes air mata mengalir dipipinya, semakin banyak dan deras hingga akhirnya gadis itu jatuh ke lantai dengan perasaan kacau. Dia kesal, sedih, kecewa, tetapi dibalik semua itu, dia sangat marah.
"Len Kagamine, kau akan menyesal" ucapnya lirih.
Pukul 07.00 di sekolah Vokage
Seorang pemuda sedang menatap lurus kearah gerbang sekolah. Dia duduk di sebuah bangku panjang yang ada di tepi lapangan. Suasana sekolah ini begitu sepi, karena sekolah mulai pukul 08.00
Dia menyandarkan punggungnya sambil menghela nafas panjang. Sorot matanya yang gelap sangat berbeda dengan warna rambutnya yang cerah. Dia, Len Kagamine. Murid baru yang telah berhasil mencuri perhatian seisi sekolah, yang membuat sekolah ini bangga akan kehadirannya.
"Maaf.." katanya pelan.
Angin yang berhembus cukup kencang membawa pergi suaranya hingga nyaris tidak terdengar oleh siapapun. Tapi dia tetap diam sambil memejamkan matanya.
"Maaf.."
RIN's POV
Kau tahu hal apa yang sangat kubenci? Yang membuatku tak ingin beranjak dari kasur empukku? Ya! Sekolah!
Aku benci sekolah. Terhitung sejak seminggu yang lalu, saat sosok itu muncul begitu saja. Siapa katamu? Ah haruskah aku menyebut namanya? Huh—Len! Aku malas menyebut namanya. Membuatku ingin mencekiknya sekarang juga.
Aku ingat saat pertama kali dia datang ke sekolahku dan entah nasib buruk apa yang menimpaku saat itu, dia sekelas denganku *sigh*
Flashback
"Aku Len, Len Kagamine pindahan dari sekolah Deloid. Aku akan sekelas dengan kalian. Mohon bantuannya" katanya singkat.
Aku yang duduk di bangku paling depan tersenyum saat pandangannya mengarah kepadaku.
'ah murid baru! Semoga bisa berteman' pikirku senang.
"Nah Len, kau bisa duduk dibelakang Rin" Kata Luka-sensei yang notabene adalah wali kelasku sambil menunjuk bangku kosong dibelakangku.
Len mengangguk lalu berjalan ke tempat duduknya. Saat dia akan melewatiku, matanya menatapku tajam, aku membalas tatapannya. Tapi kemudian pikiranku kosong, aku seolah berada di tempat lain saat itu juga. Aku tidak mengerti kenapa, tapi itu yang kuarasakan saat aku menatap matanya.
"Baik, kita lanjutkan pelajaran kemarin" Suara Luka-sensei menyentakku untuk kembali fokus ke pelajaran. Namun aneh, aku merasa ada yang kurang dari diriku. Aku merasa…..
Kosong.
Flashback end.
"Rin-chan, bisakah melamunnya kau teruskan nanti saja? Kau belum mandi dan sarapan, aku tidak ingin mendengar teriakan 'AAAA! AKU TELAT KAITO-NII! BAGAIMANA INI?' dari mulutmu itu" Kata seorang pemuda berambut biru laut yang berada di depan pintu kamarku.
"Ah iya aku lupa" dengan tergesa aku mengambil handuk yang ada didekat meja belajarku, tanpa sengaja mataku melirik kearah jam berbentuk jeruk yang terletak di sudut meja belajar itu.
Pukul 07:45
"AAAAA! AKU TELAT KAITO-NII! BAGAIMANA INI?" aku berteriak sambil berlari ke kamar mandi.
"huh, selalu saja telat seminggu ini, biasanya kau adalah orang pertama yang sampai di sekolahmu" Kata kakakku, Kaito sebelum aku menutup pintu kamar mandi.
Uh—hukuman apalagi yang menantiku hari ini?
Normal POV
"Rin! Berhenti bermain-main dan cepat selesaikan hukumanmu atau aku akan membuatkmu tidak bisa bicara selama 2 minggu!" Ucap seorang pemuda berambut hijau sambil memakan negi dengan santainya, matanya melihat kearah gadis berambut honey blond dengan kesal.
"Kau pikir aku sedang apa Mikuo-senpai? Memangnya membuat alat-alat musik ini berbunyi sendiri dengan melodi yang indah itu mudah?" kata gadis itu tidak kalah kesalnya, dia sampai-sampai menendang bangku yang ada dihadapannya.
"Ma fos dilla rii, oo symphony" sebuah mantra diucapkan pemuda hijau itu sambil mengarahkan tangannya ke alat-alat musik yang ada di sekeliling ruangan yang terbilang besar.
Dan seketika bunyi nada-nada yang indah terdengar begitu saja memenuhi ruangan tempat mereka berada. Pemuda itu lalu mengarahkan tongkatnya yang berbentuk negi kearah alat-alat musik itu lagi sambil berucap "De nii oo folla"
Lalu alat-alat musik itu mengeluarkan cahaya berwarna hijau yang terserap kedalam tongkat negi itu. Saat cahaya itu telah hilang, ruangan kembali sunyi. Sihirnya telah diambil lagi oleh pemiliknya.
"mudah bukan?" pemuda itu berkata santai.
"Aku tidak tahu kau ini kenapa, tapi kumohon jangan membuang-buang waktuku hanya untuk mengawasimu menyelesaikan hukumanmu ini. Minggu ini saja sudah 10 kali kau terkena hukuman dan aku mengawasimu, tapi semuanya tidak bisa kau selesaikan. Kalau kau ada masalah, selesaikanlah secepatnya jangan membuat orang lain rugi karena masalahmu itu" Si pemuda hijau itu lalu beranjak kearah pintu,
"Aku harus ke kelas untuk praktek, setengah jam lagi aku kembali. Dan saat itu juga aku ingin mendengar suara musik dari ruangan ini. Dengan sihirmu, tentunya" tambah pemuda itu, lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Meninggalkan gadis yang berdiri mematung sambil menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku" ucap gadis itu pelan.
"maafkan aku.."
Len's POV
Aku menatap bangku kosong yang ada dihadapanku. Gadis itu, Rin Kagamine sudah 2 jam meninggalkan pelajaran karena harus menyelesaikan hukumannya.
Sudah seminggu sejak hari pertamaku disini dia selalu saja terkena hukuman. Dia terlihat sebagai murid yang bodoh, bagi orang yang tidak tahu reputasinya tentu saja. Tapi kenyataanya, dia adalah murid tercerdas di sekolah ini, aku tahu itu. Aku sangat tahu.
Aku tahu dia bisa menguasai pelajaran untuk tingkatan expert hanya dengan mendengarkan penjelasan singkat dari orang lain. Dia bisa menggunakan hingga 10 sihir dalam waktu yang bersamaan, mengalahkan Mikuo-senpai yang hanya bisa menggunakan 5 sihir.
Mikuo-senpai adalah murid tercerdas sebelum Rin masuk sekolah ini, lalu kemudian setelah Rin datang dia menjadi yang kedua setelah Rin. Mikuo-senpai tidak terima karena statusnya tergeser begitu saja oleh seorang adik kelas, perempuan lagi. Hingga Mikou menantang Rin untuk berduel, yang tentu saja diterima oleh Rin. Selama 1 jam mereka berduel, Mikuo telah mengeluarkan seluruh kemampuan sihir terbaiknya untuk mengalahkan Rin, sedangkan Rin hanya membuat sebuah bola transparan berwarna orange yang melingkupi dirinya sebagai pertahanan.
Hingga akhirnya Rin menguap, mungkin dia bosan. Lalu dia mengarahkan tangannya kearah Mikuo yang kelelahan, dengan satu mantra, Rin lalu membuat Mikuo terlempar keras hingga membuat kepala pemuda hijau itu berdarah. Dengan demikian, pertarungan ini dimenangkan oleh Rin. Dan Mikuo, rela atau tidak harus menerima kekalahannya dan mengakui kehebatan Rin.
Bagaimana aku bisa tahu itu semua? Apa kau lupa kalau aku adalah murid disekolah sihir ini? Dan untuk hal seperti itu saja mudah bagiku untuk mengetahuinya.
Aku kembali mendengarkan penjelasan dari Gakupo-sensei tentang pertahanan diri, saat sebuah suara memecah konsentrasiku.
"Maaf aku terlambat" kata seorang gadis mungil yang terlihat mirip denganku.
"Kau sudah menyelesaikan hukumanmu Rin?" Tanya Gakupo-sensei.
Gadis itu, Rin hanya mengangguk sebagai jawaban 'Ya' lalu melangkahkan kakinya menuju bangku didepanku setelah mendapat izin dari Gakupo-sensei untuk duduk.
Rin menatapku saat aku tengah memperhatikannya. Tatapannya terlihat sangat membenciku.
Aku lalu menundukkan kepalaku, aku tidak sanggup melihat tatapannya itu.
Aku tidak sanggup.
Cahpter 2 selesai!
Mungkin terkesan maksa karena jujur saja aku tidak mahir menyusun kata-kata.
Aku butuh review. Aku ini masih terlalu amatir T.T
Dan terimakasih untuk review yang masuk, aku akan mengikuti saran-saran dari kalian tentunya untuk memperbaiki cerita ini agar lebiihhh menarik lagi.
Review~~
