Sabaku no Ghee-Bukan fanfic yang benar-benar pertama sih, tapi yang pertama pakai B. Indonesia. Pakai bahasa sendiri malah jadi anehO.O Iya udah baca kok. Update Samsara donk!
YuriStrawberry-Sebisa mungkin Tia tahan di rating T, cuma mungkin pertengahan dan yang pasti endingnya ada lemon. (spoiler:Kalau alurnya pas nanti ada adegan rape ItaNaru. KALAU!)
runaway-dobe-Pasti dong:3 Kyuubi seksi? Baru tau?:3
Sora Aburame-Kyuubi yang kita kenal(dan sayang?) Tia jadikan betina disini, jadi cuma ada satu. Dan ada alasannya kenapa 99 tahun sekali. Yang pasti kalau empat tahun sekali Naruto bakal pingsan.
rEd-Ew-Aslinya jantan(mungkin). Tapi disini jadi betina mengikuti Kyuubi asli legenda Jepang.
Sumeragi Varan-Oke deh:3
Inuzuka Ryoushin-:3
.hoshi.na.chan-Tapi kayaknya chapter ini jadi jayus;; Yah kalau ada yang nggak suka akan Tia perbaiki.
WarningMasih sama kayak Chap.1. Tambahan:Chapter ini mengandung OOC tingkat tinggi mengalahkan khayalannya Peter Pan. Dan kayaknya bahasaku mulai hancur-hancuran-menyalahkan KambingJantan dan sesamanya-;; Lupakan dulu bahasa serius. Enjoy the humor as filler. Tapi kalau ada yang tak suka, dengan senang hati akan diedit.
PairingSama.
DisclaimerPasti sama.
Feromon, berasal dari bahasa Yunani 'phero' yang artinya 'pembawa' dan 'mone' 'sensasi'.
2#H for Hormones
Mereka bertiga berjalan beriringan seperti tangga, terdepan Naruto yang paling pendek, disusul Sakura dan Sasuke. Ternyata Sakura sudah tumbuh melebihi Naruto -membuat Naruto mengalami apa yang disebut krisis harga diri lelaki-, namun tetap lebih pendek daripada Sasuke. Sasuke sendiri kalau tidak hati-hati bisa jadi manusia pinang. Bukannya keberatan, karena dia jadi punya ejekan baru untuk temannya yaitu 'Toge.', dibalas 'Pinang!' dan ditengahi 'Toge sama Pinang, berisik!', oleh siapapun yang (sialnya) berada di antara mereka berdua saat adu tinggi badan.
Terlepas dari tinggi badan yang bermasalah, langkah mereka tetap selaras saat menelusuri jalan ramai Konohagakure, menjadi bukti bisu persahabatan lama terjalin. Bahkan elakan saat menghindari orang lalu-lalang pun seirama. Kiri, kanan, depan, belakang, loncat! Kiri, kanan, masuk... Priit priiit.
Naruto mengerling untuk kesekian kalinya ke arah tatapan aneh para lelaki selama perjalanan mereka menuju kantor Hokage.Tatapan malu-malu kucing yang agak mesum gitu deh. Jika diperhatikan, nyaris semua lelaki mulai dari tua-muda, kaya-miskin, sampai manusia-tidak mirip manusia menatapnya dengan cara sama. Beberapa malah kelihatan nafsu banget memberi ciuman jarak jauh -yang penting nggak kena-, sebagian menyumbangkan kedipan genit, dan sisanya memelototi bagian tubuh tertentu. Dan seperti layaknya remaja pada umumnya, Naruto merasa risih.
"Eh, Sakura...". Naruto bertanya pelan, kelihatan ngeri. "Mataku yang minus atau Shikamaru tadi ngedipin aku?".
Yang ditanya pun tak kalah bingung. Sebab menurut pengalaman mengenal Shikamaru, sama Temari saja dia suka malas pedekate, apalagi dengan Naruto yang jelas-jelas bukan muhrim. "Tau deh...", Sakura menggaruk kepala. "Ngedipin pohon, kali?".
Sungguh jawaban yang luar biasa karena tidak ada pohon saat itu.
"Hei, Naruto!". Kiba yang ada di ujung jalan melambaikan tangannya. Naruto nyaris saja melambai balik sebelum Kiba melanjutkan, "Suuit suuit! Seksi deh! Godain kita dong...". Padahal dia cuma sendiri, tapi kenapa menggunakan kata jamak 'kita'?
Lambaian Naruto langsung membeku di udara. Tim tujuh -minus Kakashi yang entah nyasar di belahan dunia mana- pun membatu. Efek godaan Kiba yang tak terduga sama dengan tatapan Medusa. Bahkan kalau Kiba mengaku dia menyate Akamaru hidup-hidup atau menghamili anjing orang, mereka takkan sekaget ini.
"Hai, kak Naruto!". Tanpa disadari, Konohamaru menyapa seniornya sambil menepuk pantat yang bersangkutan tanpa basa-basi. Seakan memegang pantat sesama jenis bukan perbuatan di ambang batas kesusilaan yang mengundang kontroversi agama. "Pantat kakak asoy deh! Pasti gampang melahirkan!".
Apakah Konohamaru sudah menerima pelajaran seks bahwa 'Lelaki tak mungkin hamil meskipun operasi kelamin'? Tak ada yang tahu.
Naruto, Sakura, dan Sasuke yang dari tadi membatu mulai retak-retak. Serpihan tubuh mereka terbawa angin ke utara. Cucu Sandaime yang dihormati ternyata calon abnormal pemegang pantat orang. Dunia pers bisa geger.
"Tentu saja melahirkan anakku, kan?", Lee tiba-tiba sudah ada di samping dan secara kenal-nggak-apalagi-dekat merangkul dari samping. Senyumnya luar biasa menyilaukan bagai mentari gurun Sahara, benar-benar mirip sampai ke bagian ultra-violetnya. "Masa depan kita untuk membangun dinasti Rockaki (Rock-Uzumaki akronim wannabe) sudah di depan mata! Perjuangkan pernikahan masa muda!", katanya mantap sambil menunjuk mentari masa muda -sayangnya posisi mentari pas 90 derajat, sehingga Lee mirip orang mau bertanya.
Sasuke yang sudah sembuh dari efek membatu mau ketawa mendengar 'dinasti Rockaki', tapi nggak jadi gara-gara Naruto kelihatan mau nangis. Kalau diketawain nanti meraung-raung. Kasihan juga.
Kupu-kupu beraneka warna pelangi berseliweran mendekati Naruto, beberapa hinggap di hidung dan kepalanya. Entah meniru telenovela mana. "Wah, wah...", terdengar suara yang (tidak) menggetarkan, siapapun yang mendengar dijamin (tidak) terpesona. Shino! "Kupu-kupu pengikutku akhirnya menemukan bunga terbesar di dunia ini...". Andai Shino tahu bunga terbesar itu bunga bangkai. "Oh, bungaku...". Biar mantap, Shino meraih tangan Naruto, mencium ujung-ujung jarinya lembut, tidak peduli bau aneh yang mengindikasikan sang pemilik belum cuci tangan. Naruto misuh-misuh dalam hati dan hanya bisa berharap penyakit seksual sang Aburame tidak menular dari ciuman. "Aaah, bau tubuhmu semerbak menggoda hati kumbang pengelana ini... Andaikan kuminum nektar cintamu yang sebening embun, dapatkah takdir mengizinkan untuk menyebar serbuk sari kejantananku di tubuh perawanmu?".
Bagus. Dunia kiamat. Shino bermonolog mesum penuh metafora.
"Eeeh... Naru-chan...". Sesaat yang lain mengira itu Hinata yang sedang sakit tenggorokan, tapi ternyata itu Neji. Wajahnya merah menunduk, kedua telunjuk saling beradu hingga orang-orang bisa salah mengira dia sebagai Hinata versi lelaki. Sekarang tak ada yang meragukan mereka keluarga. "M-maukah kau berlatih bersamaku?".
Chouji menyela dari samping, membuat Naruto agak terpental. "Heii... Mau chiki rasa ramen? Enak loh... Apalagi kadar MSGnya paling rendah dibandingkan buatan pabrik konohafood dan blablabla...". Satu lagi tanda kiamat:Chouji menawarkan makanannya ke orang lain.
"Mau makan ramen? Kutraktir!".
"Bunga mawar untuk sang mawar... lambang cinta abadiku...".
"Naruto, aku tidak keberatan jadi gay!".
"Maukah cucu menikah dengan kakek? Begini-begini masih kuat, lho!".
Uzumaki Naruto, enam belas tahun, tercatat dalam sejarah tidak pernah populer apalagi di kalangan wanita, dan sekarang memiliki basis fans sesama jenis terbesar di negeri Api.
Sasuke tidak tahan lagi untuk tertawa. Dia mendekap mulut agar jangan sampai terbahak-bahak, bersandar di tembok, nyaris kehabisan napas. Lupakan jaga image. Sakura cuma pasang muka heran dengan anggunnya.
Mungkinkah ini yang dimaksud dengan 'hindari laki-laki'? Batin Naruto merana karena tergencet tubuh-tubuh kekar. Tunggu, kalau begitu... Matanya membelalak, kemudian menyipit kesal. Baa(ka)-chan SUDAH tahu tentang hal ini!
"BAA-CHAN!". Teriakan kesal Naruto membahana di ruangan Hokage. Tsunade hanya menutup saluran pendengarannya dengan telunjuk, kalau sudah tua pendengaran harus dijaga baik-baik. "Jelaskan. Ini. Segera!". Dia memajukan badannya, memukul meja keras-keras untuk efek dramatis. Shizune yang ada di samping Tsunade diam-diam merasa kasihan, itukan meja besi.
Naruto terpaksa menahan sakit tulang tangannya yang retak.
Tsunade menghela napas sebentar. Mesti sabar, nanti tensinya naik lagi. "Oke, Naruto... Apakah kamu menerima pesan titipanku dari Sakura? Soal 'hindari laki-laki'.".
Sial, salah taktik. "T-terima sih... Cuma mana ngerti aku kalau tiba-tiba didaulat 'hindari laki-laki'? Lagipula Baa-chan kan tau kalau 70 persen warga Konoha laki-laki!". Naruto melanjutkan berorasi penuh semangat. "Jadi bukan salahku.".
"Yayaya...", sang Hokage memutar bola matanya. "Pokoknya tenangkan dulu para penggemarmu. Kantor Hokage bisa rusak.".
Dari luar tampak puluhan, mungkin bisa sampai ratusan laki-laki menggedor-gedor jendela, tembok, dan pintu secara meninja-buta, beberapa menggunakan jutsu-jutsu berbahaya dan bahkan ada yang berusaha menyusup. Sayangnya seluruh usaha keras mereka dihempaskan dengan adanya pelindung-anti-penyusup kantor Hokage, terima kasih kepada Yondaime yang berdedikasi menemukan penangkal jutsu. Namun melihat betapa antusiasnya jutsu-jutsu dilancarkan, kunai-kunai dilemparkan dan kutukan-kutukan dibisikkan, sepertinya tinggal menunggu waktu sampai penangkalnya kadaluarsa.
"Ya, tenangkan mereka...". Sakura berbisik di sebelahnya. "Saraf Tsunade-sama sudah mau putus tuh...".
"Tenangkan bagaimana? Belum juga sehari aku punya fans begini...".
"Yah misalnya... Lambaikan tangan, gitu?".
Naruto baru tahu Sakura bisa setidak-kreatif ini. "Memangnya aku Miss. Konoha? Cari ide yang bagus sedikit, dong!".
"Kalau begitu cari ide sendiri, sana!". Sakura jelas tidak terima.
"Cepat sedikit, Dobe!". Sasuke jadi berang juga. Tadi dia dihina, 'Ahh! Kenapa cowok berambut ayam itu yang jadi rekan bidadari kita?' oleh orang-orang di luar. "Lambaikan tanganmu!".
Jenius bukan berarti kreatif.
Karena tidak ada cara lain -dan Tsunade sudah mendelik berbahaya-, Naruto terpaksa melambaikan tangannya yang menjadi luar biasa berat, tersenyum kaku, dalam hati merasa sangat tolol. "Annooo... Bisa tenang sedikit, nggak?".
Luar biasa efektif. Tadi kayaknya ada yang pingsan.
Para massa memberi aplaus meriah atas lambaian idola mereka. Naruto tidak tahu harus senang atau terlecehkan secara mental. Sasuke tersenyum penuh arti. Arti mengejek.
"Ehem.". Tsunade berdehem memulai pembicaraan, walau dia bingung mau memulai dari mana. "Apakah Kyuubi menunjukkan tanda-tanda keanehan?".
Sedetik jantungnya seperti berhenti. "T-tanda keanehan? Maksudnya?".
"Misalnya... ". Sang Godaime tampak berfikir, mencari kalimat yang pas. "Kamu bermimpi basah dengan laki-laki.".
Sasuke tertawa kejam. Naruto mendelik marah sambil memerah dengan tatapan, 'sama sekali tidak lucu!'.
"Tidak.". Jawabnya tegas, namun dalam hati merasa galau. Mestikah dia melaporkan tentang 'hal itu'? Di hadapan dua rekannya? Naruto memilih berbohong. "Sama sekali tidak ada.".
"Serius?".
"Dua rius.".
"Mungkin belum masuk puncaknya... Tapi menurut gulungan ini...". Tsunade membuka gulungan yang ada di atas mejanya, gulungan itu langsung memanjang ke lantai. Tim tujuh plus Shizune mendekat untuk melihat lebih jelas, dan batin Naruto langsung tidak enak ketika menunjuk gambar satu-satunya wanita di gulungan itu. Naruto merasa sangat mengenalnya, namun tidak ingat, padahal setiap wanita sensual dengan pakaian seterbuka itu pasti dia akan ingat. Lebih tidak enak lagi ketika membaca tulisan di sampingnya; Kyuubi, musim panas ke-99. "Seharusnya para Jinchuriki sudah memasuki musim seminya.".
Shizune mengangkat alis. "Bukankah sekarang awal musim panas?".
"Maksudnya secara harafiah,", Tsunade menggeleng menghadapi ketelmian pengikutnya. "musim di mana para Jinchuriki akan menebarkan feromon untuk mencari pasangan, terutama manusia biasa. Biasanya wujud mereka akan berubah menjadi mirip manusia.". Tsunade menarik napas sebelum melanjutkan ke bagian sulit. Salah-salah Naruto pasti minta ulang karena tidak mengerti. "Walaupun tersegel sekalipun, feromon itu akan keluar menembus penyegel, dan tidak akan berhenti sebelum Jinchuriki terpuaskan nafsu seksnya dalam jangka musim panas.".
"Jadi selama 99 tahun sekali, para Jinchuriki akan menebarkan feromon untuk mencari pasangan?". Mereka semua ber-ooh tanda mengerti, paling tidak intinya.
"Benar. Tapi menurut gulungan ini...".
"...". Mengapa Tsunade memandang penuh arti kepadanya? Kenapa telunjuknya tetap menunjuk gambar wanita itu? Kenapa Sasuke, Sakura dan Shizune mendesah 'Astaga...'? Kenapa rasanya dia tahu apa yang akan terjadi?
"... Secara biologis, Kyuubi dalam tubuhmu itu... Betina.".
Naruto merasa Kyuubi kembali mengikik di dasar tubuhnya.
Doakan aku lulus UN!
Next Chapter : E for Excitement
'Buka kartu saja anak bodoh, kalau aku bisa mengendalikanmu sembarangan, aku sudah keluar dari dulu.'.
'Sayangnya aku harus menunggu bulan purnama musim panas...'.
'Tunggu! Kalau begitu...'.
'Baru sadar, ya?'.
'Kamu melakukannya atas KESADARANMU sendiri.'.
