Pairing: G27
Title: Of Perfect Boyfriend and Cheesy Words
Rating: PG-13
Summary: Giotto model sukses kelas atas yang bolak-balik tampil di London Fashion Week, Milan Fashion Week, New York Fashion Week dan Paris Fashion Week dan segala macam fashion show kelas atas lainnya. Sementara Tsuna... Tsuna hanya salah satu dari sekian banyak pilihan yang dipilih Giotto sendiri. Dan itu keputusan terburuk.
A/N: Odg... this story is frikin CHEESEEEEE. A LOT OF IT. tampar saja aku.
Tidak seperti kebanyakan model lain yang merambah dunia entertainmen, Giotto tidak berniat sama sekali menjual tampang di depan televisi dengan menjadi aktor atau penyanyi. Dia cinta mati dengan fashion. Sejak kelas tiga SMP Giotto sudah muncul di majalah lokal dan setiap tahun kariernya meningkat drastis. Seorang model sukses kelas atas yang begitu tampan, terlebih lagi orangnya sangat low profile. Di mana bisa menemukan pria sesempurna Giotto?
Hari-hari Giotto sebagai model kelahiran Italia itu memang sibuk. Pemotretan bisa berlangsung dari pagi sampai subuh. Sehari saja bisa banyak pindah lokasi. Mau bagaimana lagi. Tapi kalau sudah libur, dia bisa menikmati menjadi Giotto del Vongola di flat mewahnya di London. Menghabiskan hari di atas ranjang empuk dan sarapan yang sedikit lebih siang, memasak kue (salah satu hobinya) dan membaca novel atau majalah seperti National Geographic. Dan tidak lupa memadu kasih dengan kekasihnya.
Orang-orang di sekitar Giotto banyak memujanya. Model pria yang tampan dan pintar, baik hati dan tidak sombong. Multitalenta seperti jago memasak, menyanyi, menari, bermain alat musik dsb. Tapi dia tidak tertarik menjadi musisi atau aktor. Seperti yang sudah kita bahas di atas. Hatinya begitu lembut, banyak wanita yang rela membuang segalanya untuk bisa menghabiskan semalam di dalam pelukan Giotto. Tapi sayangnya tak ada satupun yang pernah berhasil. Karena Giotto gay. Orang sesempurna itu, yang bisa menjadi ayah panutan, tapi memilih pilihan terburuk (bagi orang di sekitarnya) dengan menjadi gay. Padahal kalau dia mau menikahi model seperti Miranda Kerr setiap manusia pasti menyetujuinya karena, ya Tuhaaan, mereka berdua manusia yang sangat cantik dan anak-anak mereka pasti akan cantik jugaaaaa. Sayang sekali hal itu tak akan terjadi.
Semua karena seorang pemuda Jepang bernama Tsunayoshi Sawada.
Giotto bertemu dengannya pertama kali di usia 21 tahun ketika sedang bekerja. Pemotretan untuk majalah Fashion TV yang membahas keindahan Asia di atas rupa ras Kaukasia. Saat itu lokasi pemotretan ada di Kyoto. Ketika jam istirahat, Giotto memutuskan untuk menelusuri tempatnya bekerja, kuil Kiyomizu. Di sekitar ada kedai kecil yang menjual makanan dan minuman lokal. Tertarik dengan harum yang berasal dari sana, Giotto memasuki kedai itu. Di sanalah dia bertemu dengan remaja berambut coklat dengan warna mata yang sama. Tsunayoshi Sawada. Umur 15 tahun, kelas tiga SMP. Berbeda enam tahun dari Giotto. Tapi Giotto jatuh cinta padanya.
...lebih parah dan tak masuk akal lagi, itu cinta pada pandangan pertama.
Jadi beginilah sekarang dia menghabiskan hari-harinya sebagai model dan memiliki kekasih seorang remaja Jepang. Yang sangat tak bisa disangka oleh orang-orang lainnya. Karena apa bagusnya remaja itu; wajahnya biasa-biasa saja, otaknya di bawah rata-rata, tingginya hanya sedada Giotto, kurus kerempeng, tak bisa bahasa asing, canggung dan hidup seperti parasit di rumah Giotto di London.
Tsuna sendiri merasa itu adalah cinta pada pandangan pertama juga. Begitu lulus SMP, Giotto segera meminta izin untuk membawanya ke London. Orang tua Tsuna anehnya menyetujui hal itu dengan wajah berbunga-bunga. Mereka tak keberatan anaknya gay karena, SIAPA YANG BISA MENOLAK MENJADI PACAR DAN (kemungkinan besar) TUNANGAN SUPERMODEL SEPERTI GIOTTO?!
Tapi untunglah Tsuna anak yang baik dan sangat mengerti Giotto. Kepolosan Tsuna selalu meluluhkan Giotto. Kepenatannya setelah bekerja seharian selalu terbayar hanya dengan melihat Tsuna ada di balik pintu, mengucapkan selamat datang pada Giotto dengan senyuman. Giotto akan langsung memeluk dan menciumnya setelah itu.
Oleh karena itu, setelah Tsuna berulang tahun ke-17, setelah dia cukup dewasa dan berani memberikan seluruhnya pada Giotto, Giotto sangat bahagia. Giotto sudah sengaja mengambil libur selama seminggu, khusus dari dua hari sebelum ulang tahun Tsuna hingga lima hari ke depan. Maka dari itu Tsuna sangat senang ketika bangun pagi dihari pertama umur 17, Giotto masih terbaring di atas ranjang bersama Tsuna. Tsuna bergeser ke dekat Giotto, mencium wangi tubuhnya di leher lelaki itu.
Giotto melenguh sesaat, menarik tubuh Tsuna lebih erat dalam pelukannya. Tsuna mengambil kesempatan mengagumi wajah kekasihnya dari dekat. Siapa lagi yang mendapat servis spesial seperti ini selain Tsuna?
"Tsunayoshi..."
Tsuna sudah menunggu kata-kata apa yang akan keluar dari mulut Giotto ketika akhirnya dia mendengar, "Buatkan aku kopi pagi..."
Apakah sudah diberi tahu kalau Giotto itu sebetulnya manja? Karena itu penting.
Image Giotto di depan yang baik dan blablabla itu hanya image seorang model. Image di depan kamera untuk dokumentasi dan pagelaran dan televisi. Pokoknya yang berhubungan dengan pekerjaannya. Tapi di balik lensa kamera, di balik pintu rumah flat lantai sebelas ini, Giotto sesungguhnya seperti anak berumur 10 tahun. Manja. Banyak maunya. Perintah sana-perintah sini. Dan itu hanya diketahui oleh Tsuna.
Ya ampun, tolong yah, ini abad 21, tahun 2013. Mana ada orang sempurna seperti yang sudah dijelaskan di atas hidup di dunia ini? Pasti ada satu-dua sifat buruknya. Seperti Giotto. Sebaik apapun dia di depan kamera, di belakang tentu ada cacatnya.
Tsuna merasa sedikit kesal, tapi berhubung ini hari pertama setelah ulang tahunnya, dia tidak boleh marah. Giotto juga pasti lelah selama ini bekerja dan jarang mengambil libur. Lagipula Tsuna juga ingin memberikan sesuatu untuk Giotto. Segelas kopi bukan apa-apa dibandingkan dengan segala hal yang sudah diberikan Giotto pada Tsuna, bukan?
Tsuna merangkak dari tempat tidur mengambil kemeja Giotto dan memakai asal di tubuhnya. Pinggangnya sakit, tapi untungnya masih bisa ditahan. Memang benar kali pertama melakukan seks sakit. Dia berjalan hingga ke dapur dan membuat espresso untuk Giotto. Bukan kopi yang sulit dibuat.
Tak lama terdengar suara langkah kaki. Tsuna tahu itu artinya Giotto akan ke dapur dan memeluknya dari belakang dan akan menciumi Tsuna. Salah satu bentuk sayang yang kerap dilakukan Giotto. Dan benar saja. Giotto melakukan semua hal itu. Lengannya melingkar di pinggang Tsuna, hidungnya meresap bau rambut Tsuna, bibirnya menciumi telinga dan pipi Tsuna.
"Sebentar lagi kopimu jadi." Tsuna membalikkan badan kini menatap Giotto, membalasnya dengan pelukan yang erat.
"Aku tahu, untung saja sekarang kamu sudah cukup lihai membuat espresso." Giotto sengaja membangkitkan kenangan dimana Tsuna mati-matian belajar meng-handle mesin kopi di rumah itu. Tsuna memukul dada Giotto.
Giotto membuang napas, "Kamu tahu, banyak orang di tempat kerjaku yang sering sekali menyayangkan kenyataan aku homoseksual. Mereka memang menerimaku apa adanya, tapi masih ada orang yang selalu bertanya 'kenapa?' atau bilang 'sayang sekali, padahal kamu bisa punya anak yang cantik kelak'."
"Lalu kamu jawab apa?" Tsuna mendongakkan kepala.
"Aku hanya tertawa. Tapi terkadang aku juga bilang 'iya, nih, salah pilih jalan'. Kuanggap itu hanya candaan saja. Dan beberapa orang yang tahu aku pacaran denganmu juga terkadang menilai sebelah mata. Katanya aku terlalu baik untukmu, katanya pilihanku salah, jelek sekali, kenapa bisa aku mau dengan remaja mungil dari Jepang..."
"Ah, aku sudah biasa mendengar semua itu... memang kenyataannya aku seperti itu kan," Tsuna tertawa sambil memutar badan dan menuangkan kopi ke gelas kesukaan Giotto.
"Ya, kamu memang payah dan tak bisa apa-apa," Giotto menyeringai dari punggung Tsuna dan Tsuna hanya membalasnya dengan hei pacar macam apa kamu.
Tsuna menyodorkan gelas coklat Giotto, Giotto mengambilnya dan meminum sedikit sebelum meletakkannya di atas konter dapur. Ia menggenggam kedua tangan Tsuna.
"Banyak yang bilang siapapun yang menjadi kekasihku sungguh beruntung karena aku punya segalanya. Tapi kupikir mereka salah."
Mata mereka saling bertatapan, Tsuna tersenyum, "Lalu yang benar bagaimana?"
Giotto menarik Tsuna dalam dekapannya, "Semenjak bertemu denganmu, tawaran pekerjaan semakin banyak, makin banyak orang yang mengakuiku sebagai model, banyak yang bilang aura di sekelilingku berubah, kata mereka aku tampak semakin matang dan lengkap. Dan ketika itu aku sadar bahwa akulah yang sesungguhnya beruntung bisa menemukan seseorang yang telah membuatku menjadi seperti itu. Seseorang yang mau mengerti aku apa adanya. Yang mau melihatku sebagai manusia biasa bernama Giotto del Vongola, bukan seorang model Giotto. Seseorang yang senantiasa ada mendukungku. Kubilang, akulah yang beruntung karena telah bertemu denganmu."
Giotto tersenyum lembut sambil melonggarkan pelukannya, menatap Tsuna dengan penuh cinta. Tsuna tersenyum lebar seperti yang biasa dia lakukan, "Itulah kenapa orang selalu bilang kebalikannya; aku yang beruntung bisa bersamamu."
"Oh, but I'm serious."
Mereka berdua tertawa kecil kemudian kembali menatap satu sama lain. Tsuna memainkan jari di atas dada Giotto yang bebas dari baju, "Aku tak sehebat yang kamu bilang. Kamu hanya melebih-lebihkan saja karena kamu mencintai aku."
"Tidak kok, aku tidak melebih-lebihkan. Kamu mungkin tidak sadar, tapi kamu mengubah sesuatu di dalam sini yang membuatku lebih menikmati dan menghargai hidup," Giotto meraih jemari Tsuna dan meletakkannya di atas posisi jantung. Tsuna memejamkan mata sambil tersenyum.
"Sepertinya mulai sekarang aku harus bawa video kamera untuk merekam semua kegombalanmu. Lumayan bisa kujadikan penghibur atau kalau kita bertengkar tinggal kusodorkan semuanya padamu."
Giotto menjitak kepala Tsuna pelan, "Orang yang bilang kamu biasa-biasa saja itu buta, mereka tidak tahu kamu menyimpan akal bulus lebih dalam dari pada aku."
"Aku kan belajar dari kamu."
Setelah itu keduanya tertawa bersama. Candaan ringan seperti ini. Kopi pagi hari seperti ini. Pelukan pagi hari seperti ini. Belaian di rambut, kecupan di pipi, genggaman di jari dan kebersamaan seperti ini. Entah kenapa tidak pernah bertambah tua di antara mereka. Waktu seakan berhenti. Tidak pernah ada kata bosan di antara Giotto dan Tsuna. Mereka yang hanya melihat dari luar memang tidak akan pernah mengerti. Biarlah. Biar hal itu hanya dimengerti oleh Giotto dan Tsuna.
Selama Giotto dan Tsuna merasa lengkap. Selama keduanya merasa sempurna. Selama keduanya selalu tertawa bersama bagai pertama kali bertemu; itu sudah cukup. Dan tidak ada yang lebih membahagiakan selain terus melihat orang yang paling dicintai sama seperti pertama bertemu, bukan?
End.
A/N: aku ingin tenggelam dalam lubang supaya ga keluarin fic aneh lagi. aku berencana mengeluarkan sebanyak mungkin SliceOfLife!AU di sini, tapi entah bagaimana nasibnya... ga SliceOfLife!AU aja uda aneh, bikin yg termasuk kategori itu kayanya makin aneh lagi... /brbmatiduluya anywaayy,, reviews are really acceptable if you're kind enough. hahaha. aku suka baca review. mendorong semangat bikin chapter selanjutnya hahaha :D makasih udah bacaa ^^
oh, maaf kalo tampilan fic ini agak aneh, aku buat bukan di PC tpi mobile, portable, atau apapun lah itu namanya. jadi mohon dimaklumi kalo tampilannya jelek, spasinya aneh dsb. T-T
