Yukimura menggeliat diatas futonnya, membelakangi sinar matahari yang menusuk matanya. Pemuda itu lelah, ia ingin tidur lebih lama lagi, kemarin adalah hari yang sangat menguras tenaga untuknya. Meskipun ia selalu diajari untuk selalu disiplin, bangun dan sarapan tepat waktu, namun untuk hari ini saja tubuhnya menolak untuk bekerja sama.

"Maaf...Oyakata-sama," begitu gumamnya di dalam alam mimpinya. Bahkan ketika tidurpun pemuda itu memimpikan pria yang merupakan tuannya, yang memungut satu-satunya yang selamat dari klan Sanada dan membesarkannya seperti anak sendiri. Yukimura berhutang besar kepada pria bernama Takeda Shingen dan menyayanginya bagai orang tua sendiri.

"Demi apapun itu...Danna!" Sasuke mendatangi futon Yukimura, rupanya ia yang membuka tirai jendela. Pria bersurai merah itu menguncang tubuhnya seraya terus memanggil-manggilnya. "Danna sudah pagi!" Yukimura bisa mendengar suara Sasuke samar-samar, padahal cuma bodyguard tapi ia selalu bertingkah seperti Baby sitter-nya.

"Hmm..." Yukimura setengah sadar, memicingkan matanya untuk melihat wajah Sasuke. Entah sejak kapan kepalanya berada di atas pangkuan pria berjas serba hitam itu, wajah Sasuke yang menunduk membuat wajah Yukimura geli karena setiap helai surai merahnya mengenainya. "Ma-maaf Sasuke kemarin sangat melelahkan aku tidak bisa menahan diriku..." ujar Yukimura lirih hampir terdengar seperti bisikan.

"Danna, sudah jam 10. Tokugawa-dono sudah menunggumu sedari tadi," Sasuke mengusap kepala tuannya lembut, ia mau saja membiarkan Yukimura istirahat tapi kelihatannya Ieyasu punya sesuatu untuk disampaikan. " Memang tidak biasanya kau selelah ini, Danna. Tapi kau masih ingat misimu kan?" Siapa juga yang dapat berbuat tega pada Yukimura yang sedang manja-manjanya? Tapi setelah bertahun-tahun bersama dengan tuannya itu Sasuke belajar untuk menjadi lebih keras kepala, dan mengeraskan hatinya agar tidak gampang luluh.

"Baiklah..." Yukimura membangunkan dirinya, berusaha untuk duduk. Sasuke di sebelahnya menopangnya, namun tubuhnya kembali jatuh terbaring diatas futon bersamaan dengan suara ledakan yang tak jauh dari ruangan mereka. Sasuke memeluknya erat Yukimura, membungkus tubuh pemuda yang lebih kecil darinya dengan tubuhnya, bermaksud melindungi tuannya. Suara berisik itu segera mengambalikan kesadaran Yukimura, kedua matanya sudah segar sekarang. "A-ada apa!?" tanyanya panik dan melepaskan diri dari pelukan Sasuke.

"Oh akhirnya bangun juga," Sasuke menghela nafas lelah. "Terdengar suara ledakan dari luar," lanjutnya memberitahu.

"Ledakan?" Yukimura menaikan kedua alisnya. Pemuda itu berjalan mendekati pintu keluar dan membuka pintunya sedikit, mengintip dari celah-celah. "Mereka bersemangat sekali," komennya lalu menutup kembali pintunya.

"Itu yang dikatakan orang yang biasanya teriak-teriak seharian di ruang latihan huh," sindir Sasuke dengan senyum tipisnya dan segera mendapat lirikan tajam dari Yukimura. "Setidaknya aku senang kau jadi lebih dewasa semenjak kau memasuki mansion ini," tambahnya ringan. "Jadi, apa perintahmu Danna?"

Yukimura tidak langsung menjawab. Pemuda itu melepaskan piyamanya dan menggantinya dengan Kimono hitam bersabukan obi merah, pakaian yang hanya ada di depannya saat ini. Sasuke berdiri di belakang, menunggu jawaban.

"Tidak ada, kembalilah ke tempatmu Sasuke."

Jawaban Yukimura membuat Sasuke melotot tidak percaya. "Tu-tunggu Danna jangan bilang kau mau membiarkan—"

Yukimura menoleh, menyeringai menunjukan rentetan gigi rapinya. "Aku akan kesana sendirian apalagi tadi kau bilang Ieyasu-dono menungguku." katanya, bersamaan ia selesai mengikatkan tali obi nya. "Sasuke sendiri masih ada tugas kan?"

Sasuke tidak bisa membantah. Pria itu diam sambil mengosok belakang kepalanya, bertanya-tanya sejak kapan tuan mudanya bisa berpikir sejernih ini?

"Okelah, jaga diri baik-baik Danna."

OXO

Tidak jauh dari kamar Yukimura terdapat sebuah ruang makan yang cukup besar, disana terdapat sebuah meja makan besar yang cukup untuk 12 orang. Ruangan tersebut terlalu besar bahkan untuk para kandidat yang hanya berjumlah total 6 orang, ruangan tersebut dua kali lebih besar dan luas untuk mereka semua.

Dari sanalah suara heboh yang di dengar Yukimura berasal. Begitu memasuki ruangan tersebut pemuda belasan tahun itu di sambut dengan pemandangan rusuh yang di buat oleh Masamune dan Motochika, dua orang pria yang kebetulan sama-sama memiliki luka permanen pada salah satu matanya.

Masamune menendang kursi di dekatnya dengan keras sementara Motochika meletakan salah satu kakinya diatas meja, Mori yang duduk tidak jauh dari pria berpenampilan bajak laut itu menghela nafas pendek terlihat lelah dengan 'pemandangan' tidak asing ini, di pojok ruangan Ieyasu berdiri sambil bersedekap dada seraya memasang senyuman, dan Mitsunari berdiri di sebelah pintu masuk tidak jauh dari Yukimura.

Yukimura memandang jengah situasi tersebut. "Bisa aku tanya apa yang sebenarnya terjadi disini?" tanyanya pada siapapun. Mitsunari paling cepat menyadari kedatangannya, menjawab "Hanya pertengkaran bodoh."

"Damn it! Dari semua orang tidak perlu kau yang menasehatiku, Motochika Chosokabe!" ujar Masamune dengan suara berat. Pria itu mengepalkan kedua tangannya erat, menahan dirinya sendiri tidak memukul Motochika.

"Harusnya kau malu karena perbuatan isengmu kemarin," celoteh Motochika sambil membuang mukanya, di wajahnya sama sekali tidak ada guratan yang menunjukan tanda-tanda akan mengalah pada Masamune. "Padahal kau yang membuat kita semua dalam situasi ini kenapa kau juga yang mengeluh dengan lantang?"

"Salahkan saja Tokugawa kenapa mansion ini sangat kekurangan staff? Dan meskipun kita berdebat seperti ini Kojiro tidak akan kembali sampai besok malam," balas Masamune tidak mau kalah begitu saja.

Wajah Motochika masam, pria itu berniat membuka mulutnya untuk kembali membalas, tapi di saat yang tidak tepat Ieyasu mendahuluinya. "Dokuganryuu benar Chosokabe menyalahkannya tidak akan mengubah situasi kita," sela si pria berambut spike itu. "Peraturan diantara kita juga sudah kita setujui bersama bukan?"

"Peraturan?" tanya Yukimura singkat pada Mitsunari.

Mitsunari tidak segera menjawab, pria bertampang galak itu menghela nafas pendek untuk sesaat. "Yah peraturan," mulainya. "Ieyasu tidak ingin orang-orang yang tidak terlibat dalam persaingan ini terluka atau bahkan terbunuh. Sebelumnya ada sampai 10 pelayan terluka parah karena pertikaian kita, semenjak itu ia mengurangi orang-orang yang seharusnya tidak terlibat dengan kita dan mengusulkan sebuah peraturan," jelasnya.

Yukimura memandang Mitsunari tidak percaya, ia cukup terkejut jika ternyata sebenarnya para kandidat memperdulikan nyawa orang lain, semenjak kedatangannya di hari pertama cukup membuatnya syok. "Dan,,, bisa aku tahu peraturan apa itu?"

"Ketika tanda-tanda perang muncul diantara kita para staff biasa akan mengungsi di bagian barat mansion ini selama seminggu, wilayah itu tertutup untuk kita para kandidat," jawab Mitsunari. "Dan kau tahu apa artinya? Kita harus bertahan hidup tanpa makanan semenjak orang-orang ahli itu mengungsi. Selama ini hanya mata kanan si naga itu yang menjadi pelayan cadangan kita, tapi kelihatannya si naga mata satu itu lupa akan peraturan ini dan malah mengirimnya ke tempat lain."

Yukimura memasang wajah kecut. Mungkin dia tidak sepandai Sasuke dalam menganalisa informasi tapi bukannya apa yang dikatakan Mitsunari itu terlalu berlebihan? Ia yakin orang-orang ahli itu yang dimaksud Cuma para pelayan kan? Jadi maksudnya mereka tidak bisa hidup mandiri tanpa pelayan gitu?

"Maksud Ishida-dono situasi keruh ini hanya disebabkan karena tidak ada orang yang memasak makanan?" tanya Yukimura lagi yang dijawab anggukan singkat dari Mitsunari.

"Tapi bukan berarti kalian sama sekali tidak punya bahan kan?"

"Bahan? Karena tidak ada diantara kita yang pernah masuk dapur, aku sendiri tidak begitu memahami situasi disana."

Yukimura mulai tidak percaya dengan orang-orang ini, sebenarnya hidup mewah macam apa yang dijalani orang-orang ini, sampai lemari es saja tidak pernah diintip!? Oh benar, mereka hanya maniak perang.

"...Cup ramen?"

"Makanan instan? Semenjak aku datang kemari aku tidak pernah memakannya, terutama karena si mata kanan naga itu sedikit anti dengan makanan sejenis itu."

Yukimura mulai merasakan gatal pada puncak kepalanya, seperti kabarnya mansion Tokugawa memang sesuatu (dalam artian lain) Tapi hebat juga meskipun hubungan mereka seperti ini, mereka masih bisa-bisanya makan bersama. Kalau Yukimura sendiri mungkin sudah mati kutu karena canggung.

"Aaah sayang sekali aku juga sudah mengirim Sasuke ke tempat lain, dia tidak akan kembali sampai dua hari kedepan," Yukimura mengoceh dengan suara yang lumayan lantang, menarik perhatian seluruh penghuni tempat itu. Tanpa disadari yang lain pemuda itu sudah berdiri di dekat Masamune.

*BUAK!

Detik berikutnya sebuah tonjokan melayang pada Masamune, tepat mengenai wajah pria bermata satu itu dan membuatnya terpental beberapa langkah. Semuanya sungguh terkejut dengan tindakan Yukimura, mereka melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

"O-oi..." Ieyasu melambaikan kedua tangannya, ia ingin mengatakan sesuatu tapi perasaan terkejut bercampur binggung nya mencegahnya, membuatnya tidak tahu harus berbuat apa.

"Bloody hell! Apa masalahmu sih!?" teriak Masamune sambil menyeka darah di bibirnya yang sobek, Yukimura benar-benar menghajarnya tanpa sungkan.

"Balasan yang kemarin," jawab Yukimura singkat sembari menggerak-gerakan tangannya yang sakit karena memukul pria yang sedikit lebih besar darinya. "Dengan ini kita impas Date-dono."

Yukimura memandang sengit Masamune. Pihak beriris biru langit diseberang sana menangapinya dengan seringaian sombong, seolah sengaja memancing api emosi pemuda itu.

"Ukh..." Motochika memegangi perutnya. "Melihat kalian berdua membuatku semakin lapar," keluhnya lalu duduk di kursinya. Pria besar berkaos unggu itu mengabaikan Masamune dan Yukimura yang mulai memanas dan berdalih ke Mori yang duduk berjarak dua kursi di sebelahnya. "Mori apa kau tidak bisa masak?" tanyanya, meskipun tidak terdengar demikian tapi dia sedang berharap jika Mori bisa memasak.

"Kalau aku bisa pun tidak akan kubuat untuk kalian," jawab Mori dingin.

"Cih, bilang saja tidak bisa."

Kelihatannya situasi jadi lebih ringan. Ieyasu bergabung bersama yang lain, mengambil tempat duduk tidak jauh dari Masamune, dan setelah itu diikuti Mitsunari—Masamune dan Yukimura masih adu pandang di tempat yang sama.

"Meski begitu kita harus melakukan sesuatu sampai Katakura kembali," celetuk Ieyasu sendirian. "Saling menyalahkan hanya menguras tenaga kita."

"Iuuh sekarang situasi terasa seperti survival," keluh Motochika. "Padahal kita di mansion mewah tapi rasanya seperti terlantar di pulau asing."

*BUAK!

Suara pukulan kembali menggetarkan ruangan tersebut. Semuanya kembali ke arah pasangan Masamune dan Yukimura, mereka berdua saling menarik kerah baju masing-masing, dan yang terkena pukulan masih saja Masamune.

"...Sanada memang dia yang salah tapi kau sendiri juga baru saja sampai kemari, dari kita semua mungkin kau yang paling lelah." Motochika berusaha membujuk tapi tidak ada tanda-tanda jika keduanya akan saling menjauh. Mau tidak mau kini Ieyasu yang turun tangan, berdiri diantara mereka.

Yukimura akhirnya berpindah tempat, terlihat sangat kesal ia menduduki kursi yang ditendang Masamune barusan. "Bukannya kalian sendiri yang membuat situasi ini sulit?" Baru saja Ieyasu menunjukan wajah lega karena berpikir telah berhasil melerai keduanya, Yukimura mengatakannya.

"Dari awal kita semua dari keluarga yang tidak biasanya. Meski terdengar seperti mencari alasan masalah biasa ini menjadi kelemahan kita," kali ini Mori angkat suara. Baru kali itu Yukimura mendengar suara lelaki berparas cantik itu berbicara tanpa nada sinis.

*BRAAK!

Meja sampai hampir terbelah dua karena ulah Yukimura. Pemuda itu berdiri sambil memukul meja, terlihat sangat marah. Seperti kabarnya macan muda ini adalah orang yang menggebu-gebu.

"...ber...a se...rang?" kepalanya menunduk dan suaranya tidak terdengar jelas, spontan yang lainnya bertanya 'apa?' secara bersamaan. "AKU TANYA JAM BERAPA SEKARAANG?" Yukimura berteriak nyaring membuat semuanya hampir jantungan.

"O-ooh hampir jam 12!" jawab Ieyasu gugup.

"...Anak ini sebenarnya apa masalahnya sih?" omel Mitsunari heran, yang lainnya mengangguk serentak, baru pertama kalinya mereka sepemahaman.

"Dengar ya, Oyakata-sama sangat tidak menyukai orang yang tidak disiplin kalau beliau ada disini mungkin kita bisa jadi dendeng!" tiba-tiba saja Yukimura mengoceh sambil mengacungkan kepalan tangannya. "Apanya yang bukan orang biasa? Kalian hanya tidak disiplin!" serunya lalu menunjuk yang ada diruangan satu persatu. "Melewatkan sarapan karena masalah sepele seperti ini, apa itu pantas untuk kandidat pemimpin Basara Company!?"

Motochika ber-sweat drop. "Bukan melewatkan tapi kita memang tidak ada yang bisa dimakan, bukannya kau marah ke Dokuganryuu karena ini?"

Yukimura diam beberapa saat, mulutnya terkunci rapat, kedua matanya yang polos itu melihat Motochika. "Hmm...Sanada?" panggilnya hati-hati. Sungguh Sanada Yukimura orangnya seperti bom waktu.

"Apa maksudnya Motochika-dono? Aku memukul Date-dono atas pembalasan yang kemarin 'kan sudah kubilang tadi?" jawab Yukimura datar seolah hanya dirinya yang waras saat ini, meskipun yang lainnya beranggapan sebaliknya.

Hening. Saat ini mereka semua berpikir jika sampai nanti kedepannya mereka tidak akan pernah bisa memahami seorang Sanada Yukimura. Pemuda itu beranjak dari tempatnya, menoleh ke kanan-kiri tanpa mengatakan apapun dan terlihat mencari sesuatu. Berhubung semuanya sudah terlalu capek menanggapi semua tindakan anehnya, tidak ada yang berkomentar bahkan sampai si pemuda itu pergi ke arah dapur.

"Mengenai makanan kalian tidak perlu mengkhawatirkannya lagi," ujar Yukimura sebelum menghilang di balik pintu geser yang menuju dapur.

"Eh?" Masamune yang duluan menyadari si anak itu sudah pergi ke dapur setelah mengatakan sesuatu seperti itu. Hanya dia satu-satunya yang sempat melihat sosok Yukimura yang keluar dari ruangan. "Apa dia bisa masak?" tanyanya heran.

OXO

Setelah meluangkan setengah jam di dalam dapur Yukimura membawa sebuah nampan besar dan meletakannya di tengah meja. "Kalian pasti lapar sekali jadi aku pilih yang paling cepat saja," begitu katanya sembari menghidangkan Onigiri buatannya. Semuanya memandang takjub, rupanya Yukimura benar-benar bisa memasak—atau dalam artian yang tepat untuk mereka adalah bisa membuat makanan.

"Aku juga membuat teh sebentar kuambilkan." Yukimura mengabaikan—tidak menyadari tatapan takjub yang lain dan kembali ke dapur.

Mereka menikmatinya bersama, bahkan Mori mengakui teh bikinan Yukimura.

"Kenapa tidak langsung bilang saja kau bisa masak?" tanya Mitsunari yang duduk tepat di sebelah Yukimura. "Tapi enah rasanya kalau tuan muda sepertimu bisa melakukan pekerjaan seperti ini."

"Yaah Takeda punya kondisinya sendiri," jawab Yukimura ambigu, ini pertama kalinya pemuda itu memakai nada berbicara seperti itu.

Masalah sudah selesai dan mereka pergi dengan perut penuh, meninggalkan Yukimura dan Mori sendirian. Yukimura sudah selesai makan dari tadi, ia masih tetap tinggal karena ingin membereskan perabotan makan yang sudah terpakai, sementara Mori ia masih duduk di tempatnya sambil menikmati segelas teh dan membaca sebuah buku yang terlihat rumit.

Tanpa sengaja Yukimura memperhatikan pemuda yang katanya hampir seumuran dengannya, rasanya tidak bisa dipercaya kalau laki-laki yang memiliku aura penuh kedewasaan itu hanya berbeda satu atau dua tahun darinya. Kelihatannya Mori tidak menyadari jika dirinya di perhatikan, pemuda itu masih tetap fokus pada buku bacaannya.

Mori Motonari, pemuda itu memiliki aura elegan dan disaat bersamaan dingin, juga dewasa—semua yang ada pada diri lelaki itu sangat bertolak belakang dengan Sanada Yukimura, membuatnya tidak bisa mendiskripsikan lelaki itu dengan baik, tapi ada satu hal yang terlintas dikepalanya saat bertama kali melihat Mori.

Mori Motonari adalah orang yang cantik, seperti boneka tradisional kerajinan kelas atas.

Yukimura menelan ludahnya, seperti yang diduganya berduaan dengan Mori membuatnya gugup. Ia segera mengumpulkan semua gelas dan piring, menumpuknya di atas nampan besar, ia ingin cepat-cepat mencuci semuanya dan kembali ke kamarnya.

Suara air yang mengalir dari keran hanya satu-satunya suara yang terdengar si siang yang sepi itu. Satu persatu perabotan makan dicucinya dan diletakkan di rak pengering. Yukimura menghela nafas, entah apa yang dipikirkannya, apa yang membebaninya, sampai sebuah tangan menabrak tangannya. Hampir saja ia menjatuhkan sebuah gelas karena saking kagetnya, ia segera mencari tahu siapa yang tiba-tiba muncul di sebelahnya. "Mori-dono?" panggilnya, binggung mendapati sosok yang lebih tinggi darinya beberapa senti, berdiri di sebelahnya.

"Beri aku sedikit tempat Sanada," minta Mori seraya menyalakan keran yang satunya. Yukimura tidak bisa mengatakan apapun, ia hanya menurut begitu saja untuk bergeser sedikit dan memberi jarak diantara mereka.

Mori mencuci gelas yang baru saja dipakainya. Pemuda bersurai hitam panjang seleher itu melakukannya dengan normal tapi untuk beberapa alasan dari segi pandang Yukimura, laki-laki itu melakukannya dengan sangat pelan dan elegan, rasanya seperti melihat acara perjamuan teh.

"Kupikir Mori-dono tidak tahu cara mencuci," keceplosan! Untuk kesekian kalinya, dia dan mulut besarnya. Sedetik kemudian Yukimura ingin segera kabur dari tempat itu, dan menabok dirinya. Bukannya yang dikatakannya sama saja dengan sindiran? Sungguh, meskipun dia tidak bermaksud demikian.

Mori selesai mencuci, meletakan gelasnya di rak pengering. Pemuda yang lebih tua itu lalu melirik ke arah Yukimura yang sudah berkeringat dingin. Semoga saja ia tidak terlalu tersinggung! Begitu doa pemuda bermarga Sanada.

"Bukannya tidak tahu tapi tidak mau," jawab Mori yang cukup mengejutkan dengan suara yang biasa saja. "Sebelumnya itu yang ingin kau sampaikan bukan? Macan muda peliharaan Takeda?"

Ukh, yang terakhir itu cukup pedas. Setidaknya ia bersyukur Mori tidak marah padanya, mungkin cara berbicara laki-laki itu memang demikian—pedas dan dingin, seperti daun mint. Mau saja ia membalasnya dan berdebat dengannya tapi ketika ia melihat senyuman simpul Mori, ia merenungkannya.

"Mori-dono bisa memahaminya saja sudah cukup." Yukimura juga tersenyum simpul dan melanjutkan pekerjaannya.

OXO

"Tidak biasanya Mitsunari berbicara panjang dengan orang lain," kata Ieyasu tiba-tiba. Mitsunari menoleh, memberikan tatapan mautnya. Masamune memandang ogah mereka berdua, yang sudah merupakan rival sejati jauh sebelum mereka tinggal di mansion. "Well, indeed. Kau terlihat memanjakannya Ishida," komen si naga mata satu itu lalu menyolonong, meninggalkan mereka berdua.

"Biasanya kau hanya peduli ke Ieyasu kan? Kalau tidak pasti mengoceh membesar-besarkan si Toyotomi," tambah Motochika yang ada di belakang mereka berdua.

"Apa maksudmu!?" seru Mitsunari tidak terima. "Aku tidak peduli dengan si pengkhianat ini dan aku tidak membesarkan besarkan Hideyoshi-sama karena beliau memang orang hebat!" katanya sambil menuding wajah Ieyasu.

"Hahaha..." Ieyasu tertawa keras seraya dengan kedua tangannya di kedua sisi pinggulnya, benar-benar mengabaikan jari Mitsunari yang hampir menyentuh hidungnya. "Sanada Yukimura orangnya menarik seperti Takeda Shingen sendiri."

"Tsk," Mitsunari mendecih kesal. "Kalau kalian mencelaku karena aku yang tidak seperti biasanya, bagaimana dengan si Dokuganryuu huh?"

"Ha?" Masamune melotot, sekarang giliran Mitsunari yang menantangnya?

"Oh, tentang kenapa Masamune tidak membalas pukulan Sanada?" Ieyasu menyela, wajahnya cerah sekali, tampak menikmati topik pembicaraan ini—Sungguh terbanding terbalik dengan orang yang bersangkutan, Masamune sudah memelototinya sedari tadi. "Padahal sebelumnya aku sudah takut kalau ruangan itu akan hancur karena duelnya mereka."

"Oi," Motochika menepuk pundak Ieyasu keras, sekarang ia juga nampak kesal. "Apa yang kau katakan? Tentu saja itu karena si Date pantas mendapatkannya, kalau saja ia membalas pukulan bocah Sanada aku yang akan menaboknya!"

Wajah Masamune memerah panas karena marah, Mitsunari melihatnya dengan tatapan simpati. Date Masamune untuk kali ini saja renungkan kesalahanmu.

"Yaah," Motochika menghela nafas panjang lalu menyeringai lebar. "Dia juga bocah yang menarik perhatian Mori, orang yang unik huh."

Sementara itu orang yang di bicarakan sudah berada di dalam kamarnya, duduk di atas tatami dan mengeluarkan barang-barangnya dari koper, ia tidak sempat melakukannya kemarin.

Hari ini Yukimura sudah berinteraksi dengan kandidat yang lain, berpikir jika mereka semua bukan orang-orang gila lagi melainkan orang-orang alay yang sebenarnya hanya orang kaya yang manja. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu jika mereka semua bukan orang jahat—termasuk Masamune yang menyerangnya kemarin. Bahkan laki-laki yang dijuluki naga mata satu itu bisa mengakui kesalahannya, ia tahu alasan kenapa pria itu tidak membalas pukulannya.

Jujur saja jika mengingat mereka harus bersaing mati-matian hanya demi tahta membuatnya sedikit tidak enak. Ia bukan tipe yang mengincar harta kekayaan, dan seharusnya tuannya juga demikian. Sampai harus menyingkirkan (membunuh) mereka untuk kekuatan sebenarnya membuatnya sangat terbebani, dan mempertanyakan tujuan dari misi yang diberikan tuannya saat ini.

Kita memang bersaing tapi kita bukanlah musuh.

Perkataan Ieyasu terngiang dalam pikirannya. Seperti yang dikatakan pria bermarga Tokugawa itu, persaingan ini pasti punya jalan keluar lainnya. Terlebih lagi Basara Company dimiliki oleh keluarga Tokugawa sendiri, bagaimana bisa mereka mengirim sang ahli waris sah ke dalam permainan beresiko ini?

"Oyakata-sama sebenarnya apa yang sedang terjadi?" gumam Yukimura pada dirinya sendiri, bagai sebuah doa yang tak akan terjawab.

To be Continue