Entah itu kapan tapi Naruto tahu dia pernah membayangkan dimana dia hidup di dalam sebuah kastil besar sebagai seorang putri kemudian bertemu dengan seorang pangeran tampan berkuda putih, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri ketika dia jatuh. Dan Naruto juga ingat dia membayangkan dimana hidup bahagia dengan pangeran berkuda putih miliknya.
Lalu entah kapan juga Naruto mulai tersadar jika itu hanyalah sebuah bayangan dalam mimpi. Tertidur dengan senyum mengembang serta kedua tangan memeluk boneka beruang kecil hadiah dari ibunya saat berumur tujuh tahun. Karena saat itu dia juga tahu semakin dia bertambah dewasa, semakin dia mengerti akan dunia semakin dia tahu jika kehidupan seorang tuan putri hanyalah angan-angan dalam imajinasi kanak-kanak.
Mungkin memang benar jika kehidupan tuan puteri bahagia itu tidak ada tapi seorang pangeran berkuda putih mungkin memang sedikit benar. Naruto juga sedikit yakin tentang itu, dimana dia baru bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih penolong miliknya. Mengulurkan tangan untuknya dan memang benar Naruto yakini menjadi pendamping pangeran untuknya juga sebuah mimpi.
Menghembuskan nafas dalam-dalam, Naruto menyandarkan tubuhnya pada kursi disamping ranjang dimana ibunya dirawat selesai operasi. Berkat operasi itu juga Naruto baru tahu jika ibunya mengalami gagal jantung dan infark miokard* istilah medis yang belum dia mengerti sama sekali namun sepertinya pangeran –tidak pria yang menolongnya tadi mengerti dengan jelas. Sedikit merutuki kebodohannya karena tidak menanyakan nama pria itu setidaknya dia mereka bisa bertemu kembali terlalu muluk memang tapi Naruto berharap dia bisa bertemu setidaknya dengan begitu dia bisa membalas budi atas kebaikan yang telah dia berikan.
"You have to endure caterpillars if you want to see butterflies" – Antoine De Saint -
:: ::
:: ::
2nd BUTTERFLY
Uchiha Sasuke || Uzumaki Naruto || Namikaze Menma ||
Romance || Drama || Family || Angst
Naruto © M. Kishimoto
Butterfly©ChrysantimumBluesky
M
Warning :
AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!
:: ::
:: ::
"Ku dengar Presdir Kim dari Itaewo Grup menandatangani kontrak kemarin?"
"Hmm… meskipun sangat susah membujuknya kemarin"
"Waah… kau pasti sangat lelah, bukankah besok kau akan ke Hokkaido? Ku dengar salah satu investor asing ingin berkerja sama dalam resort yang kau bangun disana?"
"Eoh… Tapi aku masih memikirkannya, ku dengar perusahaan mereka sedang dalam limit. Tapi aku juga mencari investor lain untuk berkerja sama dalam resort ini"
"Ini akan jadi project besarmu"
Mengaduk, lalu menuangkan lagi, mengaduk hingga sup cream di mangkuk kecil itu tidak berbentuk sempurna lagi. Menma menguap kecil, makan malam yang benar-benar membosankan. Lebih membosankan dari pada duduk diam dalam mata pelajaran yang dia ikuti siang lalu. Bersandar pada kursi dengan kedua kaki terjulur di bawah meja, menatap makanan tanpa minat sama sekali.
"…..kau harus mencontoh ayahmu Menma"
"Huh?" Mengangkat wajah dari arah makanan dengan sebelah alis yang terangkat tinggi-tinggi memastikan apa yang masuk ke dalam pendengarannya beberapa saat lalu. Menegakkan tubuh saat ayahnya menatap dengan picingan mata yang menyipit tajam memberikan tanda nonverbal atas ketidaksukaan pada sikap duduknya beberapa menit yang lalu. Bahkan terang-terangan bersikap tidak perduli dengan semua ucapan ke dua orang disana. Mengangguk, dengan seringai kecil untuk sang ayah. "eoh.. tentu aku harus mencontohnya"
Kedua sudut bibir wanita di depannya melengkung dengan baik hingga kedua matanya menyipit karena senyum. Wanita itu adalah ibunya, ibunya yang resmi beberapa bulan lalu karena sang ayah menikahinya dengan tanpa persetujuan dari dirinya sendiri. Tapi Menma tidak terkejut dengan hal itu karena sejak dia lahir hak suaranya tidak pernah terpilih. Hanya saja Menma sedikit bingung ketika sang ayah memutuskan untuk menikah lagi, bukan berarti selama ini ayahnya nyaman sendiri. Bahkan Menma hafal siapa saja wanita-wanita yang di bawa pulang sang ayah setiap malamnya hingga dia harus mengungsi ke rumah Shikamaru hanya untuk tidur.
Dan mungkin itulah penyebab kenapa dulu ibunya memilih pergi dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kesepian. Terkadang Menma berfikir apa yang sedang digali oleh ayahnya yang tidak pernah merasa puas. Bahkan tidak mengenal kata cukup, dan mungkin benar kata ibu barunya suatu saat Menma akan mencotoh ayahnya.
"Oh ya dimana saudaramu? Apa dia tidak pulang hari ini?"
Menggidikkan bahu tanda tidak tahu, atau mungkin juga tanda tidak mau tahu. Ah.. Menma hampir melupakan ini terima kasih untuk ayahnya berkat usahanya mau menikah lagi kini Menma memiliki seorang saudara. Kini dia tidak perlu untuk sendirian lain. Terima kasih untuk Namikaze Minato, Menma akan bertepuk tangan paling meriah nantinya.
.
.
Butterfly
.
.
Menyimpan ponsel pada kantong sweater yang dia kenakan. Naruto menghela nafas perlahan saat udara malam berhembus memasuki rongga hidungnya. Setelah mengirim pesan pada atasan di tempatnya bekerja part time untuk absen beberapa hari ke depan. Ibunya sudah sadar namun belum boleh pulang dan hal yang membuatnya pusing adalah ketika ibunya berubah menjadi manja dan merengek terus meminta pulang. Meski dia sudah menjelaskan beberapa kali jika ada seseorang malikat tampan yang rela menghamburkan jutaan yen miliknya hanya untuk menolong orang yang tidak dia kenal.
Kembali Naruto menghembuskan nafas berat, melangkah ke luar dari rumah setelah menguncinya mengambil beberapa helai pakaian untuk ganti dan beberapa peralatan mandi yang di butuhkan. Kembali berfikir mencari cara untuk mendapatkan informasi orang yang sempat menolong mereka kemarin, ibunya juga terus menerus memintanya untuk membalas budi ataupun mengembalikan uang orang itu, entah dengan apa yang jelas mereka harus bertemu.
Mengusap kedua lengan untuk sedikit mengurangi rasa dingin yang menyeruak masuk. Naruto mulai berjalan kembali ke rumah sakit mungkin dia akan menyetop taksi nanti jika sudah berada di jalan raya disana. Tempat ini sepi seperti biasa mungkin orang-orang tidak akan keluar rumah dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, tapi siapa yang perduli tentang itu. Naruto mengusap lengannya lagi, malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Mungkin akan memasuki musim dingin sebentar lagi.
"Dasar Uchiha sialan!"
Sebuah decihan dan segerombolan pria tidak dikenalnya keluar dari gang sempit disekitar disekitar sana. Naruto tidak tahu siapa mereka, dari yang dia lihat hanya segerombolan pria dengan penampilan mereka yang jauh dari kata sopan, pierching dan rokok dari penampilan mereka sepertinya mereka juga bukan orang baik. Naruto sedikit mundur dan menjauh dari gerombolan tersebut mencari aman dengan bersembunyi di balik gang diantara dua rumah besar saat mereka berjalan melewatinya. Naruto mulai keluar saat mereka benar-benar menjauh dari tempatnya berdiri, mereka benar-benar menakutkan. Naruto harus segera pergi dari sana sebelum mereka kembali.
"Uhuk…! Uhuk!"
Suara itu datang saat Naruto berjalan melewati gang tempat gerombolang pria tadi berasal. Berjalan mundur melongok ke dalam gang dengan cahaya seadanya dari lampu neon di tiang listrik, menyipitkan mata berjalan dengan perlahan memastikan apa yang dilihatnya. Dan matanya terbuka lebar begitu melihat seseorang meringkuk dengan memegangi perutnya.
"Oh Ya Tuhan!" jeritnya tertahan begitu melihat kondisi yang ternyata seorang pria dengan tubuh babak belur penuh luka dan biru lebam serta darah. Naruto berlari secara cepat bersimpuh di depan pria itu dan menepuk pipinya berharap dia masih sadar. "Hei! Kau tidak apa-apa? Hei!"
Pria itu tidak menjawab, hanya rintihan sakit dan terbatuk-batuk. Dengan panik Naruto merogoh kantung sweaternya mencari ponsel yang dia simpan tadi. Tangannya bergetar ketika ingin menelpon ambulance, dia belum pernah mengalami kejadian seperti ini dia tidak tahu harus bagaimana. Satu-satunya hal yang ada dipikirannya adalah menelpon ambulance. Berharap pria yang masih meringkuk di hadapannya ini tertolong.
.
.
Butterfly
.
.
Mengerang kecil dengan denyutan di kepala yang menjadi-jadi. Tangan kanan terangkat menyentuh kepalanya yang sudah diperban rapi, matanya menyipit menyesuaikan cahaya terang yang menyapa setelah terpejam beberapa waktu yang lama. Sasuke mendesis perih ketika dirasa perih pada bagian-bagian tubuhnya. Mengerjap mata begitu benar-benar bisa melihat dengan jelas dimana dia sekarang.
Di sebuah kamar dengan warna putih dominan, sebuah ranjang yang dia tempati jangan lupakan infuse yang terpasang dan mengalir melalui selang ke dalam aliran pembuluhnya. Sasuke melirik ke samping, disana ada nakas dengan sebuah bunga segar yang seperti baru diganti dan segelas air minum, tidak perlu menebak dia sudah tahu berakhir dimana. Setidaknya Sasuke masih bersyukur karena gerombolan pria kemarin membuatnya sekarat hingga berakhir di rumah sakit bukan sebuah pemakaman.
Meski tubuhnya ditendang dan kepalanya kena pukul sebuah bogeman berkali-kali hingga darah mengalir dari pelipisnya membuat kepalanya harus dibalut dengan perban Sasuke masih ingat dengan jelas bagaimana dia bisa berakhir disini. Di tengah erangan kesakitannya semalam seseorang gadis belari tergopoh-gopoh untuk mendekat, memeriksa, tubuhnya. Meski penghlihatan mengabur karena menahan sakit yang luar biasa Sasuke masih ingat dengan sebuah rambut panjang yang menyentuh lengannya ketika gadis itu menunduk untuk menepuk pipinya. Jika penglihatannya benar gadis itu memiliki rambut panjang yang begitu cerah seperti terik matahari, begitu lembut saat beradu dengan kulit dinginnya kala itu.
"Kau sudah sadar?!" sebuah pintu yang terbuka pelan dan tertutup kasar, Sasuke menatap ibunya yang tersenyum lebar begitu melihat dirinya sudah membuka mata. Wanita itu bahkan masih bisa berjalan dengan begitu cepat meski memakai sebuah stiletto dikakinya dengan umur yang tidak lagi muda. Membuat Sasuke berfikir ribuan kali sebenarnya ibunya menikah umur berapa kala melahirkan dirinya.
"Hn" mengangguk pelan dengan sebuah gumaman.
"Syukurlah" Mikoto menghela nafas lega setelah memeriksa kondisi Sasuke berfikir mungkin luka-luka itu membuat anaknya kesakitan. Tangannya terulur mengusap rambut hitam yang sebagian tertutup perban hingga kening, menarik kursi di belakang untuk dia duduk. Kembali mengusap lembut rambut Sasuke. "Sebenarnya ada apa denganmu? Apa yang terjadi hingga kau babak belur semalam? Untung saja ada yang menolongmu semalam. Kau tahu ibu hampir gila melihatmu sekarat di dalam UGD"
"Hanya serangan dari segerombolan anjing gila" jawaban Sasuke yang cukup membuat kerutan di dahi ibunya. Mengingat ibunya mengatakan penolong hidupnya Sasuke kini benar-benar memusatkan perhatian pada ibunya. Setidaknya dia tahu terimakasih, meski banyak orang yang mengutuk tingkahnya. Lagi pula ini tentang nyawa. "Jadi, apa ibu tahu siapa orang yang menolongmu?"
"Oh! Gadis itu? Ibu lupa menanyakan namanya tapi ku dengar ibunya dirawat di sini jadi mungkin mudah untuk menemuinya. Kau harus berterima kasih padanya" memberikan nasihat seperti dulu saat Sasuke kecil untuk jangan lupa mengucapkan terima kasih telah memberikan permen.
"Tentu saja." setidaknya Sasuke harus bertemu kembali. Meski hanya sekali, dan jika entah itu kapan mereka bertemu kembali mungkin Sasuke tidak akan keberatan.
.
.
Butterfly
.
.
"Jadi kapan kita bisa pulang?"
Lagi, pertanyaan yang sama untuk kelima kalinya dalam sehari. Ini bahkan belum genap lima jam sejak dokter memeriksa ibunya untuk yang awal pagi ini. tangannya masih sibuk untuk mengemasi barang-barang yang entah sejak kapan sudah berserakan di sofa tempatnya tidur. "Apa ibu sudah bisa mengangkat lemari pakaian?"
"Kau sedang mengerjaiku?" Kushina berkedip antara percaya atau tidak. Dia hanya meminta pulang, dia bahkan sudah lebih dari sehat.
Naruto berbalik meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. "Ibu sudah bertanya sebanyak lima kali dan aku sudah menjawab sebanyak lima kali juga. Jadi kenapa ibu masih bertanya?"
"Oh ayolah… apa yang bisa dilakukan dengan tiduran seperti orang sakit?" kembali Kushina merengek seperti anak kecil yang kehabisan permen dan mungkin sebentar lagi Naruto juga akan kehabisan kesabarannya.
"Aku tidak ingin menghancurkan harapanmu sebenarnya. Tapi kau memang sakit ibu." Berbalik kembali mengemasi barang-barangnya merapikannya hingga bertumpuk diujung sofa. "Aku pikir mungkin ibu akan kedatangan Dokter Tsunade setelahnya. Aw!"
Naruto berbalik. Dia melihat ibunya melotot marah setelah melemparinya dengan bantal tidur, tapi sedikitnya dia bersyukur ibunya tidak melempar vas bunga kecil atau nampan besi berisi mangkuk kosong di atas meja nakas. Mungkin ibunya benar tentang perkataannya tentang dia sudah sehat.
"Kau pikir aku tidak tahu jika Dokter Tsunade spesialis kejiwaan!"
Meringis pelan melihat ibunya menyembur galak. Naruto mengambil dompet yang dia letakkan diatas sofa dan berjalan cepat kearah pintu keluar. Berhadapan dengan ibunya yang seperti ini akan menghabiskan stok darah miliknya. "Hei! Mau kemana kau!"
"Aku butuh makanan bu! Jangan biarkan aku ikut terbaring di rumah sakit juga!" dan setelahnya Naruto menggeser pintu dengan cepat, menutupnya sebelum teriakan ibunya sampai keluar dan menganggu pasien lain yang sedang beristirahat. Seharusnya dia menuju caffetaria sejak tadi.
.
.
Butterfly
.
.
Tidak ada yang bisa diharapkan memang selain sup dan makanan penuh warna hijau di rumah sakit. Kecuali jika dia sedikit punya uang untuk mengunjungi kedai makanan siap saji terdekat, tapi tidak uang terlalu berharga untuknya. Mengulum makanan di mulut dan menelannya dengan suka rela jika tidak ingin uangnya habis sia-sia untuk seporsi makan siang seperti ini. Sesekali Naruto mengecek notifikasi di ponsel mungkin ada beberapa yang ingin menghubunginya.
Kembali menyuap sup dan nasi sementara tangannya bermaksud ingin kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana, sebelum bergetar kecil sebuah pesan masuk yang Naruto pikir tidak datang. Melihat siapa pengirimnya, sedikit berkerut ketika nama Karin muncul, gadis paling cerewet, berisik, dan menganggu pendengaran yang sialnya ada sepupunya. Kedua orang tuanya berada di Hokkaido sementara dia tinggal di Tokyo untuk bersekolah, gadis yang juga satu tahun lebih tua dari Naruto entah kenapa juga harus bekerja part time di tempat yang sama dengannya.
From: Karin
Bagaimana keadaan ibumu? Maaf aku tidak bisa menjenguknya disini sangat sibuk. Karena kau tidak ada pekerjaanku jadi dua kali lipat! Ku harap kau mau memberikan setengah gajimu untuk kompensasi!
Menutup akun line tanpa membalas pesan Karin meski tanda baca pasti sudah diterima gadis itu dengan jelas. Malas juga meladeni Karin, setengah gajinya? Yang benar saja dia bahkan uang itupun tidak pernah dia pakai. Mengingat tentang uang dia jadi teringat juga tentang uang yang seharusnya dia gunakan untuk mengganti biaya operasi ibunya. Bahkan tabungannya selama lima tahunpun belum cukup untuk menggantinya di tambah pria itu sama sekali tidak muncul. Menggeleng pelan saat ingatannya kembali pada pria yang sama. Naruto yakin dia akan benar-benar gila jika tidak bertemu dengannya sekali lagi.
Jika saja pria itu setidaknya mengisi formulir informasi maka dia tidak akan kebingungan seperti orang bodoh. "Oh!" pekiknya tertahan saat melihat siluet yang sama dia lihat di malam itu, berjalan di balik dinding kaca kafetaria rumah sakit. Naruto berdiri berjalan keluar dengan cepat meninggalkan makanan yang belum habis separuhnya. Biarkan saja toh itu bukan seleranya meski dia sedikit menyesal karena mengeluarkan beberapa lembar yen.
Menyipitkan mata mencoba mengikuti pria itu dari belakang. Dia tidak mungkin lupa, meski hanya dari belakang. Tubuh tinggi tegapnya, lalu rambut yang kelam. Bahkan Naruto masih ingat dengan jelas bagaimana postur tubuh penyelamat ibunya. Tidak mungkin itu hanya ilusi, mengingat dia terlalu sering memikirkan pria tidak dikenal tersebut. Sedikit tergesa ketika pria itu berbelok dan Naruto tertinggal karena menabrak suster dengan alat-alat medis di kedua tangannya. Masih dalam pandangan mata ketika pria itu berbelok dibagian ruangan VIP.
Tetap memasang mata untuk memastikan penglihatannya meski kedua tangannya sibuk membantu suster untuk merapikan peralatan yang jatuh berantakan akibat dia tabrak dengan tidak sengaja tadi. "Maaf" Naruto membungkuk kepada suster sebagai ucapan minta maaf lalu meninggalkan suster tadi dengan tergesa. Mengikuti arah jalan pria tadi, berbelok.
"Oh Ya Tuhan!" Naruto berjengit kaget mundur ke belakang. Seseorang tiba-tiba menghadang jalannya, muncul tiba-tiba seperti hantu. Matanya menyipit kesal begitu melihat sang pelaku justru memamerkan sederet gigi putih membentuk sebuah cengiran menyebalkan. "Uzumaki Karin! Kau mau mati?!"
Tertawa kecil dengan membentangkan kedua tangan sementara satu tangan memegang sebuah bungkusan plastik berisi beberapa roti yang sempat di belinya sebelum ke rumah sakit. "Surprise!"
Naruto bersiap mengangkat tangan untuk memukul Karin dengan keras sebelum gadis itu malah menyingkir dengan cepat juga di depan. "Apa aku terlihat senang?!"
"Wo..wo..wo tunggu dulu! Kenapa kau malah marah begini? Seharusnya kau senang sepupumu yang cantik ini sudah mengorbankan waktunya yang berharga untuk datang!"
Dan kali ini Naruto benar-benar berteriak dengan keras di depan Karin saat ini. "Kalau begitu tidak usah datang sekalian!"
.
.
Butterfly
.
.
"Ah…. Jadi kau sedang tergila-gila pada seseorang?" Karin berbicara dengan mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti setelah mendengar semua cerita Naruto tentang bagaimana ibunya sampai rumah sakit dan tentang orang yang menolongnya setelah Karin selesai menjenguk ibunya dan berakhir di café yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Memberenggut kesal begitu ucapan Karin yang terdengar ambigu di telinga seakan-akan dia begitu terobsesi pada pria asing yang baru di kenal. Dia hanya ingin membalas budi. Itu saja. "Apa aku terdengar seperti itu?"
"Hmm! kau tahu kau terlihat seperti ini" Karin meletakkan milkshake di tangan kanan, kanan kiri dia letakkan di kening berpose memikirkan sesuatu yang menyedihkan hingga membuatnya harus bertampang seperti akan didatangi oleh rentenir besok pagi. "Aku akan mati jika tidak melihatnya sekali saja! Sungguh aku benar-benar merindukannya"
Mengangkat ujung bibir atasnya mencibir kearah Karin dengan aktingnya yang memalukan. "Kau ingin mati sekarang?"
Terkikik geli ditempatnya tidak perduli jika Naruto sudah bersungut-sungut ditempat. "Tapi…" Meletakkan siku di meja menopang dagu dengan kedua tangan setelah melempar sebagian rambut merahnya ke belakang karena gerah, menatap Naruto dengan kening berkerut bingung. "Orang seperti apa dia sampai membuatmu seperti tadi?"
Menyeruput coffe hangat di depannya "Kenapa aku harus memberitahumu?"
"Tentu saja!" Menggebrak meja pelan, menatap lekat pada Naruto. "Sepanjang kau mengenalmu kau tidak pernah dekat dengan pria! Kau selalu cuek pada mereka! Dan ini pertama kalinya aku mendengar kau begitu tertarik untuk bertemu dengannya"
"Ralat" Mengangkat sebelah tangan menginstruksi Karin yang masih menggebu-gebu. "Aku hanya ingin balas budi"
"Terserah apapun itu! Jadi seperti apa orangnya?"
Menghela nafas perlahan, seharusnya dari awal dia tidak menceritakannya pada sepupunya ini jika akan berakhir diinterograsi seperti ini. Menangkup dagu dengan sebelah tangannya Naruto melihat jalanan diluar sana melalui kaca menjadi dinding pembatas antara luar dan dalam oleh si pemilik café. Menutup matanya mengingat pria itu datang pertama kali di hidupnya.
"Dia pria yang baik. Matanya berwarna hitam, begitu kelam seperti jelaga, tapi bagiku itu seperti langit malam. Dia mengulurkan tangannya pertama kali padaku dan aku tahu itu begitu hangat. Posturnya sangat tinggi sehingga aku terlihat seperti hobbit di depannya" tanpa sadar bibirnya menarik senyum kecil. "Rahangnya begitu tegas, kulitnya tidak putih dan juga tidak hitam, dia terlihat seperti pria asing. Dadanya bidang dan kokoh. Rambutnya berwarna hitam" berhenti sejenak membuka matanya lalu terkikik geli mengingat satu fakta yang baru dia ketahui saat ini. "Ku pikir dia maniak hitam bahkan pakaian yang dia kenakan waktu itu gelap semua"
Menyeringai pelan ditempatnya duduk, matanya berbinar jahil melihat Naruto yang entah kenapa terlihat seperti seorang gadis yang baru saja mengenal cinta dan juga jika Karin tidak salah menduga mungkin juga cinta pertama gadis itu. "Apa dia tampan?"
"Sangat tampan. Mungkin pria paling tampan yang pernah ku kenal" menegakkan posisi tubuhnya dengan senyum lebar yang masih terpasang untuk Karin.
Mengerutkan dahi bingung, setahunya Naruto tidak mempunyai teman laki-laki. itu pun jika ada adalah bos tempat mereka bekerja. Seorang pria tua cerewet pelit serta perhitungan yang begitu menyebalkan untuk diingat. "Memangnya siapa laki-laki yang kau kenal"
"Suigetsu Nii-san" Menjawab dengan nada sepolos mungkin tanpa ada beban berat menanggung di belakang.
"SIALAN KAU! JANGAN BANDING-BANDINGKAN PACARKU BODOH!"
.
.
Butterfly
.
.
Hari ini mungkin sedikit lebih menenangkan dari pada hari-hari sebelumnya. Sedikit terhibur dengan Karin yang menemaninya hingga langit berubah menjadi berwarna keemasan dari barat, hari akan menjadi gelap dan malam akan datang. Naruto tidak menyangka akan menghabiskan setengah harinya bersama Karin bercerita banyak lalu menertawakan dengan puas saat menjahili gadis itu hingga bersungut – sungut marah. Dan kini dia harus kembali ke rumah sakit untuk menemani ibunya setelah meninggalkannya untuk waktu yang lama, kembali ke rutinitas awal.
"Oh!" Naruto berjongkok di depan pintu masuk rumah sakit saat tali sepatunya harus lepas, mengikat dengan kening berkerut dan berdecak kesal bisa-bisanya tali sepatu itu harus lepas sekarang seperti tidak ada waktu lain.
Ini benar-benar menyebalkan harus berkunjung ke rumah sakit untuk hal yang sangat tidak perlu. Seharusnya dia bisa saja pergi semenjak tadi, tapi entah kenapa ada saja yang menahannya untuk tetap berada disini. Rumah sakit ini kembali mengingatkan tentang beberapa hari yang lalu saat dia terlihat seperti orang lain yang bahkan tidak di kenalnya. Menma berdecak kesal dirinya terlihat seperti seorang remaja labil yang baru merasakan cinta. Benar-benar memuakkan hingga membuatnya ingin mutah, rasanya perut dimasukkan oleh ribuan kupu-kupu atau disuntik gajah besar hingga terkadang membuatnya bergetar merasakan adrenalin yang begitu berbeda. Berhenti sebentar saat akan mendorong pintu keluar ketika ponselnya bergetar hebat. Sedikit berkerut bingung ketika nama Shikamaru tertera disana. Menggeser layar berwarna hijau untuk menerima, mendorong pintu untuk keluar. "Hm ada apa?"
Menma berjalan sedikit menyamping ketika seseorang menghalangi jalannya terus menatap ke depan dengan ponsel menempel pada telinganya, hanya menanggapi omongan Shikamaru diseberang sana dengan gumaman pelan atau tidak menjawab sama sekali. Naruto sedikit bergeser ketika tahu jika dia menghalangi orang lain lewat. Berdiri tegap ketika sepatunya benar-benar sudah terikat rapi. Kembali melanjutkan mendorong pintu untuk masuk, ada hal yang harus dia lakukan untuk sekarang, menemani ibunya.
"Haruskah kau mengulanginya dua kali? Baiklah aku mengerti. Aku akan kesana"
"Hei ada apa dengan ibumu?"
"Hmm.. aku akan menelponmu nanti"
"Bangunlah kau akan demam jika terus disana."
Naruto terdiam suara itu. adalah suara yang sama, tidak berbeda sama sekali. Begitu berat dan terkesan begitu keras. Naruto tidak akan lupa bagaimana nada-nada getas yang dia terima dulu ketika pria itu menolongnya. Dan kini dia kembali mendengarnya. Naruto berbalik secepat yang dia bisa hingga rambut panjang yang tenga dia ikat pun ikut bergerak dengan keras. Kedua bola matanya membulat, pupilnya mengecil.
Dia ada di sini. Berdiri di sana. Di depan matanya.
Itu adalah wajah yang sama yang dia lihat, dia tidak akan lupa tidak akan lupa. Bagaimana rahang tegas itu berbicara dan bagaimana mata hitam itu menatapnya. Naruto tidak akan melupkannya tidak akan pernah lupa. Pria itu berjalan dengan ponsel yang sudah di kantongi ke dalam celana jeans yang dia kenakan. Berjalan menuju mobil yang dia parkirkan tak jauh disana.
Kakinya melangkah, pelan, cepat, kemudian berlari. Ini adalah kesempatannya dan waktu untukknya. Naruto kembali melangkah menuju pintu untuk keluar saat laki-laki itu mulai membuka pintu mobil miliknya. Menyentuh pintu kaca tebal untuk mendorongnya terbuka. Mengambil kesempatan waktu yang diberikan untuknya.
Tarik.
Sebuah tangan besar menariknya berbalik dengan cepat hingga punggungnya harus membentur pintu. Matanya terpejam erat menahan sakit yang sedikit menjalar di sekujur punggung saat tubuhnya di paksa berbalik dan membentur pintu. Rasa sakit paling dominan berada pada kedua lengannya. Terasa tergenggam oleh batu begitu erat. Matanya terbuka perlahan. Dan seseorang berdiri didepannya. Sebuah mata kelam dan hitam kembali menyapa dirinya. Tubuhnya tinggi menjulang dengan otot-otot disekitar bahunya. Tapi, Naruto tidak mengenalnya. Seorang pria yang menatapnya begitu dalam hingga membuat sekujur tubuhnya merinding seperti dalam kolam es.
"Kau…." Suara baritone dengan gema bass dan begitu berat. Terdengar begitu maskulin, "Uzumaki Naruto?"
..
..
"When one door closes, another opens; but we often look so long and so regretfully upon the closed door that we do not see the one that has opened for us" – Alexander Graham Bell -
..
..
To Be Continued
ya ampun aku tahu ini benar-bener lama jaraknya dari waktu post terakhir, maaf banget udah lama nggak up. ada banyak hal yang bikin update, kemarin aku harus UN dan ngurusin SNMPTN jadi baru bisa update sekarang, jadi mohon doanya ya minna :)
saking lamanya nggak up aku sampe lupa ini cerita harusnya gimana dan jadinya begini lanjutnya , semoga kalian enggak bosen, mungkin cerita ini akan sedikit lebih melankolis nantinya, ada beberapa pertanyaan yang aku rangkum disini, maaf yang kemarin komennya belum sempat aku balas lewat PM, mungkin aku balas disini sebagian :)
Q : MenmaNaru?
A: iya sama Sasunaru juga :D
Q: suka drama korea?
A: iya suka sampai numpuk di dalam laptop saking banyaknya nggak dilihat semua :)
Q:semoga update lancar dan sampai tamat
A: amiin
Q: lanjuuut
A: silahkan dinikmati... :)
sekian dulu dari aku makasih banyak yang udah reviews dan fav ceita ini
see you next fic
Chrysanthemum Bluesky
