Di sore hari yang cerah, Sasuke yang sedang menyapu halaman rumahnya berhenti sejenak setelah mendengar Bu Mikoto memanggil namanya dari dalam rumah,
"Sasuke! Sasuke! Sasuke!"
"Iya, Bu. Ada apa?" kata Sasuke sambil berjalan cepat masuk ke rumah.
"Tolong ambilkan baju Ibu dan Ayah di tempat penjahit yang biasa, ya. Ibu mau ambil sendiri tapi masih menyetrika ini semua," kata Bu Mikoto sambil menunjuk tumpukan baju kusut.
"Baik. Bayarnya berapa, Bu?" tanya Sasuke sambil mengambil jaket di gantungan baju dan mencari kunci motor.
"Ee, Ibu tidak tahu. Bagaimana kalau bawa saja dompet Ibu?" tawar Bu Mikoto sambil menunjuk kamar beliau.
"Oh, baiklah,"
"Hati-hati ya, Sasuke!"
"Hn.."
Sasuke segera keluar rumah, memakai helm dan sandal, lalu menaiki sepeda motor bebek yang ada di sebelah rumah. Pak Fugaku yang sedang menyiram tanaman melihat ke arah Sasuke,
"Mau ke mana?" tanya Pak Fugaku tiba-tiba.
"Disuruh Ibu ambil baju di tempat jahitan biasanya," jawab Sasuke.
"Ya sudah, hati-hati,"
Sasuke mengangguk lalu segera menarik gas sepeda motornya.
Saat pergi dan kembali ke rumah, Sasuke melewati jalan yang sama. Sebelum sampai ke tujuan, mata Sasuke tidak lepas dari pagar rumah kecil milik seseorang yang berada di depan pertigaan jalan desa. Sasuke tersenyum tipis lalu terkikik sendiri, merasa lucu kalau sampai sekarang dia masih teringat kejadian saat mulai bersepeda di luar rumah, tepatnya di depan rumah kecil itu.
Tonikaku Koge
(Kayuh Saja Terus)
Naruto tetap milik Kishimoto Masashi. Tsubame pinjam tokoh saja.
Peringatan: kadang terasa OOC. Lebih enak dibaca sambil membayangkan sepeda.
Hari libur yang cerah memang selalu cocok untuk melakukan kegiatan yang disukai. Tidak terkecuali Itachi dan Sasuke. Karena Sasuke yang baru bisa bersepeda belum mengenal haluan dan tata krama saat bersepeda, Itachi memutuskan untuk sekali-kali menemani Sasuke bersepeda berkeliling desa supaya Sasuke segera terbiasa dengan kondisi jalanan.
Awalnya, Itachi selalu sengaja mengajak Sasuke melewati jalan yang jarang memiliki pertigaan. Menurut Itachi, lebih baik lewat perempatan jalan besar daripada lewat pertigaan jalan kecil. Sasuke yang hanya mengikuti kakaknya pun tidak pernah protes, mengapa tidak melewati jalan ini atau itu.
Suatu hari, entah terlupa atau sengaja, Itachi mengajak Sasuke bersepeda lebih jauh dari biasanya. Kalau biasanya Itachi mengajak Sasuke hanya sebatas tempat-tempat yang agak ramai di sekitar desa, kini dia mengajak Sasuke untuk bersepeda sampai ujung desa. Ujung Desa Konohagakure sebenarnya sudah menjadi tujuan biasa Itachi kalau ingin bersepeda sendiri.
Sepanjang jalan, Sasuke tidak banyak bicara seperti biasanya. Dia hanya mengayuh dan mengayuh. Bahkan dia tidak minta berhenti seperti hari-hari sebelumnya.
"Mungkin dia sedang berusaha menghemat energinya," batin Itachi.
Tak lama kemudian, Itachi mengajak Sasuke berhenti dulu sambil melihat-lihat sawah dan bukit di sekitar ujung desa. Tak salah kalau Itachi suka bersepeda ke sana, pemandangannya masih alami. Sasuke pun terlihat menikmatinya sambil turun dari sepeda dan meregangkan otot-ototnya.
"Hup, aahhh! Segarnya di sini," kata Sasuke. Itachi yang masih menaiki sepedanya tersenyum saja.
Setelah dirasa cukup segar, Itachi mengajak Sasuke pulang melewati rumah penjahit langganan keluarga Uchiha karena jalanan itu ramai. Kalau melewati sawah-sawah, Itachi tidak berani karena konon kabarnya di sekitar sana banyak pemalak yang tiba-tiba muncul saat senja dan dia takut terjadi sesuatu pada Sasuke.
Mereka mulai mengayuh sepeda lagi.Setelah melewati rumah penjahit tersebut, Itachi mengingatkan Sasuke,
"Kalau nanti di dekat pertigaan, berhentilah dulu, baru boleh jalan lagi. Kendaraan di situ kadang tidak terkontrol,"
"Baik, Kak!" seru Sasuke.
Beberapa meter sebelum melintasi pertigaan tersebut, Itachi mengayuh sepedanya lebih kencang karena kondisi pertigaan itu sedang sepi. Melihat kakaknya mengayuh lebih cepat dan takut tertinggal, akhirnya Sasuke pun mengayuh lebih cepat. Sepedanya yang kecil membuat kakinya lebih cepat lelah, tapi dia masih tetap mengayuh sampai tidak fokus dengan kondisi jalanan.
Itachi sepertinya terlupa kalau kali ini Sasuke juga ikut bersepeda.
Saat mereka berdua sampai di pertigaan tersebut, mereka berbelok ke kanan. Namun, karena ada tugu kecil di tengah-tengah pertigaan itu, Itachi dan Sasuke tidak melihat ada sepeda motor yang berlawanan arah dengan mereka mendekat. Mereka berhasil menghindari sepeda motor itu, namun hanya Itachi yang berhasil berbelok dengan baik dan kembali ke jalan tanpa melihat ke belakang.
Di saat yang sama, Sasuke berhasil menghindari sepeda motor tersebut. Namun, dia tidak bisa kembali ke haluan yang benar. Sepedanya berjalan lurus ke arah rumah seseorang. Dia sudah berusaha mengerem sepedanya, namun remnya tiba-tiba tidak bisa digunakan. Kakinya juga berusaha mengerem.
Kalau waktunya jatuh, pasti jatuh.
BREKKKKK!!! KRETTT KRETTT KRETT!
Sepeda Sasuke benar-benar menabrak pagar rumah orang. Tubuh bagian atasnya ikut menabrak pagar, kakinya tersangkut ke parit kecil di depannya, dan sepedanya pun terpental sehingga sebagian masuk ke parit. Detik awal, dia hanya membenahi posisi duduknya, bersandar ke pagar. Detik berikutnya, dia menyadari kalau jalanan itu tidak ada siapa-siapa dan tidak ada yang menolongnya. Dan lagi, dia pun tidak sanggup berteriak minta tolong. Tubuhnya terasa berat hanya untuk mengucap kata tolong. Sampai beberapa detik kemudian,
"Hei, ada yang jatuh! Di dekat pagar putih!" sahut beberapa laki-laki yang melintas di jalan tersebut. Melihat keadaan Sasuke, mereka langsung berlari ke arahnya.
"Dik, dengar suaraku, tidak?" tanya seseorang yang pertama datang. Sepertinya orang ini khawatir melihat tatapan kosong Sasuke.
"Ini kok kakinya nyangkut di parit? Taruh sini, yang bagus!" sahut seorang bapak sambil mencoba mengangkat Sasuke yang masih terduduk lemas.
"Kasih minum, kasih minum!" sahut yang lainnya, lalu ada orang yag berlari ke arah pemilik rumah yang pagarnya ditabrak Sasuke untuk meminta segelas air.
"Dik, kamu kok bisa jatuh? Kamu naik sepeda sama siapa?" tanya bapak yang mengangkat Sasuke.
Setelah menerima berbagai pertanyaan dari orang-orang yang menolongnya dan meminum air, belum sempat dia menjawab pertanyaan, ada orang lain yang berteriak sambil berlari ke arah seharusnya Sasuke berjalan,
"Mas! Mas yang naik sepeda gunung! Adiknya jatuh! Ketinggalan!" orang itu awalnya asal berteriak saja, tidak yakin siapa yang dimaksud. Tapi, sepertinya dia menjadi lebih yakin setelah melihat wajah pengendara sepeda itu.
Itachi merasa terpanggil. Dia berbalik arah, melihat ke belakang. Alangkah terkejutnya dia saat menyadari adiknya tidak ada di belakangnya dan pikirannya baru selesai memproses panggilan orang tadi: adiknya jatuh. Segera dia memutar sepeda ke arah kerumunan orang-orang yang menolong Sasuke dan menghampirinya,
"Sasuke, Sasuke! Maaf, Kakak tidak tahu kau jatuh. Kau tak apa, kan?" tanyanya khawatir.
"Hmm, nggak apa-apa, kok. Cuma lemes," jawab Sasuke dengan mata yang sudah lebih 'hidup' dari sebelumnya namun tubuhnya masih sedikit gemetar.
"Ah, syukurlah. Terima kasih, bapak-bapak, sudah mau menolong adik saya,"
"Lain kali adiknya lebih diawasi, Mas. Kasihan jatuh tadi. Untung nggak ditinggal pulang sama Mas," ujar salah satu orang yang ada di sana.
"Maaf, Pak. Tadi memang saya tidak tahu kalau adik saya jatuh. Saya akan berhati-hati lagi. Sekali lagi, terima kasih," kata Itachi sambil berusaha membopong Sasuke yang masih sedikit terhuyung-huyung.
*
Itachi menepikan sepedanya sejenak lalu meneliti sepeda Sasuke yang tadi masuk ke parit.
"Untung tidak rusak. Tapi jadi agak kotor," katanya.
Mengapa Itachi mengamati sepeda Sasuke dulu? Karena jalan menuju ke rumahnya masih jauh. Kalau mengandalkan sepeda Itachi untuk mengangkut Sasuke, bagaimana kabar sepeda Sasuke? Lagipula, sepeda gunung Itachi tidak memiliki sadel belakang, jadi kaki Sasuke harus berpijak pada ujung-ujung poros roda belakang. Dan itu terasa tidak mungkin saat tahu kaki Sasuke pasti masih lemas setelah terjatuh tadi.
"Eh, ternyata bajumu kotor juga. Tapi kakimu benar-benar tidak sakit, kan?" tanya Itachi pada Sasuke.
"Hmm, nggak sakit. Tapi aku masih belum kuat mengayuh," jawab Sasuke asal-asalan. Tapi sebenarnya, Itachi tahu ada goresan di lutut Sasuke.
"Ya sudah. Kita jalan sebentar ke sawah sana. Nanti di sana ada sungai," tambah Itachi.
Mereka pun berjalan menuntun sepeda masing-masing. Sampai di sungai yang tidak jauh dari lokasi Sasuke terjatuh, Itachi langsung mengajak Sasuke turun ke sungai,
"Sasuke, sini. Lukanya cuci di sini. Itu kakimu ada goresan sedikit,"
"Nggak mau! Takut pedih,"
"Eh, daripada nanti ketahuan Ibu, lho!"
Sasuke diam sejenak, berpikir apa jadinya kalau peristiwa hari ini diketahui oleh Bu Mikoto. Tentu Bu Mikoto akan marah dan mungkin akan melarang Sasuke bersepeda lagi. Karena tidak mau hal itu terjadi, Sasuke menurut dan langsung masuk ke sungai. Sambil menahan sakit saat Itachi membasuh goresan di kakinya, Sasuke mengelap wajahnya lalu bagian dari sepedanya yang tergores atau ada bekas tanah.
Tiba-tiba,
"Mas, Mas! Maaf, kalau buang air, jangan di sungai ini! Ini untuk sawah, lho!" seru seorang pengendara sepeda motor yang saat itu tidak sengaja melihat Itachi dan Sasuke ada di sungai. Setelah itu, pengendara sepeda motor itu berlalu. Itachi yang merasa tidak melakukan apa yang dikatakan orang tadi, terkikik lalu tertawa sejadi-jadinya,
"…-kkkkkkkk, hahahahahaha. Orang itu, yang benar saja! Hahahaha!"
Sasuke yang masih menghayati pedihnya air sungai pada lukanya hanya tersenyum tipis. Tidak ikut tertawa bersama Itachi. Lalu, mereka keluar dari sungai dan pulang. Saat sampai di rumah, baik Pak Fugaku atau Bu Mikoto, tidak ada yang tahu kalau Sasuke terjatuh dari sepeda.
*
Seminggu kemudian, Sasuke masih belum berani bersepeda sendiri. Apalagi, dia sudah memahami bahwa rem sepeda kecilnya itu tidak bisa digunakan. Bu Mikoto menjadi heran, mengapa Sasuke sudah jarang menaiki sepedanya lagi,
"Sasuke, tumben tidak main sepeda?"
"Capek, Bu. Lagian, kakak juga nggak nemenin. Kan aku belum boleh main sepeda sendiri," jawab Sasuke berkilah. Sebenarnya dia masih takut kalau jatuh seperti seminggu lalu.
Itachi yang baru bangun dari tidur siangnya mendengar percakapan Bu Mikoto dan Sasuke.
"Hei, Sasuke. Besok 'kan aku libur. Bagaimana kalau sekali-kali kita naik sepeda Ibu keliling desa?" tawar Itachi. Wajah Sasuke yang awalnya datar-datar saja berubah ceria sekali.
"Eh, Kakak mau? Ayo, Kak! Ayo! Nanti sore, ya! Bu, nanti pinjam sepeda, ya!" teriak Sasuke kegirangan sambil menggandeng tangan Itachi.
"Hmm, ya, ya. Tapi nanti hati-hati, ya," kata Bu Mikoto.
"Eh, tapi sekarang aku menyapu garasi dulu, Sasuke. Nanti kalau sudah selesai, kita berangkat," kata Itachi.
"Ya, ya! Nggak papa, Kak! Asyik!" ucap Sasuke dengan raut yang antusias.
"Tapi Sasuke tidur siang dulu. Kalau tidak tidur, tidak boleh main keluar," tegur Bu Mikoto. Awalnya Sasuke menekuk wajahnya, seakan tidak ingin tidur siang. Namun, walau sebentar, dia harus tetap tidur siang supaya 'memenuhi syarat' Bu Mikoto untuk boleh bermain sore harinya.
*
Setelah Itachi membersihkan garasi, dia mengamati sepeda Bu Mikoto. Sepeda Bu Mikoto sudah hampir tiga bulan tidak digunakan. Jadi, rangkanya penuh debu dan beberapa laba-laba bersarang di sana. Itachi mengelapnya dengan kain bekas dan sedikit air. Setidaknya sepeda itu tidak terlihat kumal saat dipakai keluar nanti, pikirnya.
Setelah selesai membersihkan garasi, Itachi mengeluarkan sepeda Bu Mikoto dari garasi. Kemudian, dia masuk ke kamar Sasuke dan menemuinya tengah tertidur.
"Hei, Sasuke. Bangun. Katanya mau ikut bersepeda denganku?" ujar Itachi membangunkan Sasuke.
"Ehmm? Sudah sore, ya? Baik, Kak. Aku cuci muka dulu, ya," kata Sasuke sambil bangun dan melangkah terhuyung-huyung ke kamar mandi.
Setelah Sasuke siap, Itachi dan Sasuke berangkat. Tak lupa pamit pada Bu Mikoto yang berpesan untuk pulang sebelum malam tiba. Saat mereka hendak berpamitan dengan Pak Fugaku, beliau sedang pergi membeli kayu, jadi mereka tidak menemui beliau di bengkel kayu belakang rumah.
"Eh, mengapa ada tali plastik di keranjang?" tanya Itachi.
"Oh, mungkin sisa Ibu belanja. Biasanya Ibu begitu, kalau dapat tali plastik ditaruh di keranjang," jawab Sasuke asal-asalan.
Akhirnya mereka berangkat.
*
Itachi ternyata bersepeda ke ujung desa. Sasuke yang awalnya santai lalu teringat kejadian seminggu lalu. Sasuke yang awalnya berpegangan pada rangka sadel belakang, mengeratkan pegangannya pada pinggang Itachi dan menyembunyikan wajahnya di baju Itachi, seakan dia benar-benar tidak mau melihat tempat itu lagi. Itachi pun baru teringat kalau adiknya kemungkinan masih teringat kejadian seminggu lalu.
"Uh, salah jalan aku," batinnya.
Saat sudah semakin menjauh dari lokasi tersebut, Sasuke mulai memberanikan diri membuka wajahnya dan berpegangan pada sadel belakang lagi. Sasuke sekarang bisa menikmati udara di persawahan ujung desa.
Setelah melewati persawahan, Itachi membelokkan setang ke kiri, menuju jalan besar terdekat dengan Lingkungan Uchiha. Jalan besar yang biasa dilewati truk pengangkut ternak ini, kali ini sedang sepi. Jadi, Itachi bisa mengayuh sepeda lebih kencang. Sasuke diam saja sambil mengamati pergerakan Itachi sambil tetap berpegangan pada sadel belakang. Tak lama kemudian,
CTEKKKK! BUGHHHH!
Orang-orang yang ada di sekitar jalan besar itu langsung memandangi Sasuke yang sudah jatuh tersungkur dari sadel belakang tanpa sepengetahuan Itachi. Itachi sebenarnya merasa sepedanya lebih ringan namun tetap mengayuh sepedanya sampai ada seseorang yang berteriak memanggilnya,
"Mas! Mas! Adiknya jatuh!"
Itachi merasa tidak asing dengan teriakan itu, seperti sudah pernah diteriaki seperti itu. Dia menghentikan sepedanya, langsung menoleh ke belakang, dan melihat Sasuke dibopong beberapa orang ke pinggir jalan. Perlu beberapa detik pikirannya untuk mengolah informasi bahwa adiknya jatuh lagi dari sepeda
Dia merasa tidak membelok terlalu tajam tadi. Dia memikirkan bagaimana Sasuke bisa jatuh. Dia memandangi sepeda Bu Mikoto dan melihat rangka sadel belakang yang menyambungkannya dengan rangka utama sudah patah. Itachi tidak mempedulikan hal itu, memutar sepeda, dan berjalan menuju kerumunan orang.
"Permisi, Pak. Maaf, saya mau lewat. Itu adik saya," kata Itachi sambil menerobos pelan-pelan kerumunan orang-orang itu.
Itachi melihat Sasuke yang gemetaran seperti minggu lalu. Tapi, kali ini keadaanya lebih parah. Lututnya luka karena bergesekan dengan aspal. Sepertinya Sasuke sempat terseret sebentar sebelum benar-benar terjatuh dari sepeda.
"Sasuke, maaf ya. Maaf," ucap Itachi berkali-kali. Sasuke masih meringis menahan sakit pada kakinya tidak mendengar apa kata Itachi. Seseorang yang berjualan roti bakar di depan jalan itu lalu menghampiri Itachi,
"Mas, kamu anaknya Pak Fugaku Uchiha, ya? Kok bisa naik sepeda sampai ke sini?"
"Eh! Iya, Pak. Tadi saya hanya keliling-keliling saja sama Sasuke. Tapi sadel belakangnya putus tiba-tiba," jawab Itachi.
"Apa bautnya terlepas ya? Coba kulihatnya dulu," kata penjual roti bakar itu. Itachi sambil mengelus punggung Sasuke melihatnya juga.
"Wah, kalau ini sih benar-benar putus. Lihat, bahkan putusnya tepat di titik yang dilas," tambahnya.
"Bagaimana ya, Pak? Rumah kami masih lumayan jauh," ujar Itachi.
"Hmm, begini saja," kata penjual roti bakar itu sambil mengambil tali plastik di keranjang sepeda lalu membuat simpul untuk mengaitkan sadel belakang dengan tangkai sadel depan.
"Nah, begini lebih baik. Setidaknya kalian tidak perlu menyeret sadel putus itu sampai rumah. Nah, coba naik dulu," ujar penjual roti bakar mantap. Itachi mengangguk lalu berbicara pada Sasuke,
"Tahan sedikit sakitnya, ya. Sekarang naik ke sepeda dulu,"
Sasuke menurut saja. Sambil tetap meringis, dia menaiki sadel belakang, lalu disusul Itachi yang naik di sadel depan.
"Terima kasih sudah dibantu, Pak!" seru Itachi sambil bersiap mengayuh sepedanya.
"Ah, iya. Salam buat ayahmu, ya. Bilang, dari Pak Inabi Uchiha!" seru penjual roti bakar itu.
"Baik, Pak. Kami permisi dulu,"
*
Sampai di rumah, Itachi dan Sasuke sudah tidak memikirkan lagi cara untuk menyembunyikan kejadian itu dari orang tua mereka. Mereka sudah pasrah kalau kali ini dimarahi Bu Mikoto karena dianggap kurang hati-hati dalam bersepeda. Untungnya, kali ini Bu Mikoto tidak marah. Malah meminta maaf karena sudah lama tidak merawat sepedanya sampai sadel belakangnya bisa lepas. Lalu, Bu Mikoto mengobati luka di kaki Sasuke.
Malam hari, saat Pak Fugaku sudah pulang, beliau menanyakan di mana Sasuke dan Itachi pada Bu Mikoto. Itachi sedang membaca buku dan Sasuke sedang tidur di kamar.
"Tumben dia tidur cepat?" tanya Pak Fugaku.
"Tadi habis jatuh dari sepeda. Sepertinya dia kaget jadi badannya lelah sekali. Habis makan malam, dia langsung tidur," jawab Bu Mikoto.
"Hmm…" gumam Pak Fugaku.
*
Beberapa menit setelah Pak Fugaku mandi dan makan malam,
"Sasuke, kau pusing?" tanya Pak Fugaku yang tiba-tiba masuk ke kamar anak-anaknya, duduk di pinggir ranjang, dan mengelus kepala Sasuke. Itachi yang tidur di ranjang bagian atas tidak terganggu dengan kedatangan Pak Fugaku.
"Enghhhh, apa Ayah? Aku tidak sakit kepala," gumam Sasuke yang terbangun tiba-tiba.
"Ayah pijat, ya," kata Pak Fugaku.
"Hnnn," gumam Sasuke sambil membenahi bantalnya dan kembali memejamkan mata. Pak Fugaku tetap memijati kaki, punggung, dan kepala Sasuke. Berharap tubuh Sasuke terasa lebih baik besok, saat bangun tidur.
(bersambung)
*
Catatan Tsubame:Terima kasih sudah membaca dan memberi review. Maaf kalau reviewnya belum dibalas, karena kalau pakai app FFn di android tidak bisa untuk ngebales review, bisanya via PC. In syaa Alloh kalau ada waktu (dan kuota), Tsubame balas. Atau ada yang mau ngajarin balas review via HP?Entah mengapa chapter ini terasa lebih medhok, padahal tujuannya nggak membuat mereka jadi begitu. Tapi, agak aneh rasanya kalau tidak memberi gelar 'Mas/Mbak dan Adik' di cerita kali ini. Dan kalau pakai 'Kak', rasanya juga kurang sesuai hehe.Oya, pasti ada yang tanya, kenapa Tsubame pakai tanda bintang untuk memisahkan tiap sesi? Karena Tsubame pakai HP untuk menyimpan dan mengirim tulisan. Jadi ya, seadanya. Maaf ya kalau jadi kurang enak dilihat.Untuk revisi, Tsubame sedang mencari waktu karena ada beberapa urusan di dunia nyata. Jadi, mohon sabar lagi.