Title : Anemone
Cast(s) : Luhan, Sehun, Baekhyun, and more will reveal on the next chapter
Rate : T
Warning : BOYXBOY YAOI, MPREG (in the future)
CHAPTER 2
Anemone - a flower on a dark note indicates fading hope and a feeling of having been forsaken
Luhan mengira bahwa adiknya akan segera membaik setelah tinggal di rumahnya. Tetapi selama dua minggu ini, ia tetap mengurung diri di kamar, dan sulit sekali untuk sekedar keluar kamar. Apalagi setelah teman kerja Baekhyun, Jongdae, datang menjenguk, dan menceritakan bahwa dia sebenarnya sudah lama mengetahui Kris bermain dengan wanita lain dibelakang Baekhyun. Jongdae berat menceritakan hal itu, tetapi dia berpikir sudah saatnya Baekhyun tahu tentang hal tersebut.
Setiap malam pula, Luhan mendengar adiknya menangis sendirian di kamar. Dan itu membuat hati Luhan, sebagai seorang kakak, tersayat-sayat.
"Lu, minggu depan akan ada festival lampion. Apa kau mau datang? Kita sudah lama sekali tidak pergi ke tempat seperti itu", Sehun duduk didepan Luhan yang sedang memutar-mutar cangkir teh nya berulang kali.
Luhan menatap Sehun sebentar, lalu kembali beralih menatap cangkir teh nya. "Hm? Boleh saja…"
Sehun menghela nafas, melihat raut wajah tidak menyenangkan dari Luhan bukanlah hal favoritnya. "Kau kenapa sayang?"
Luhan menggeleng pelan, "Tidak…"
"Kau yakin?"
Dan Luhan mengangguk. Lalu ia melamun, dengan tatapan kosong.
"Lu.."
Tiba-tiba air matanya menetes. Luhan terperanjat kaget dan spontan tertawa, "Ahahaha kenapa aku menangis ya, bodoh sekali", ia berulang kali menghapus air matanya.
Sehun memeluk Luhan, "Aku tau kau pasti sangat khawatir"
Luhan balas memeluk Sehun, dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Sehun. "Aku sudah tidak mengerti lagi harus berbuat apa… Aku benar-benar sedih melihat adik kesayanganku menjadi seperti itu Hun…"
Sehun mengelus rambut Luhan dengan sayang. "Dia butuh waktu Lu.."
"Tapi ini sudah dua minggu, dan Baekhyun tetap seperti mayat hidup. Aku harus melakukan apalagi Hun…harus apa…"
Sehun menatap pintu kamar yang digunakan Baekhyun dengan tatapan sedih. Adik iparnya tersebut memang menjadi lebih pendiam semenjak mengetahui kebenaran suaminya yang pergi meninggalkannya.
"Kau juga harus istirahat Lu, lihat kantung matamu besar sekali", Sehun mencoba mencairkan suasana. "Baekhyun biar aku coba yang bujuk"
Luhan yang sebenarnya sudah lelah hanya mengangguk lemas. Sehun menggendong Luhan ala pengantin. "Nah, kekasihku yang cantik, harus tidur ya", lalu membawanya ke kamar, dan meletakkan tubuhnya pelan di atas tempat tidur. "Sleep tight sayang", Sehun mengecup dahi Luhan, dan beranjak untuk membiarkan kekasihnya itu beristirahat.
Tok tok tok
Sehun sudah tahu bahwa tidak bakal ada jawaban dari dalam. Tapi setidaknya Sehun berusaha untuk sopan.
Tok tok tok
"Baekhyun…aku buka ya?", dengan pelan ia membuka pintu kamar Baekhyun. Retina Sehun harus membiasakan diri karena keadaan kamar yang gelap. Baekhyun masih setia berbaring di atas tempat tidur.
Sehun sengaja menyalakan lampu agar ia bisa melihat keadaan kamar. Dan mirisnya keadaan kamar itu persis sama seperti dua minggu yang lalu, yang berarti Baekhyun selama ini benar-benar sudah seperti patung hidup.
Sehun berjalan menghampiri Baekhyun dan menggoyangkan bahunya. "Baek…"
Tidak ada reaksi dan jawaban, Sehun mencoba lagi.
"Baek..bangun"
Baekhyun menggeliat kecil. "Hyung…Baekkie masih ngantuk hoahm"
"Kau harus bangun dan membersihkan diri, juga makan"
Baekhyun tetap terdiam dan memejamkan matanya.
"Ayo buka matamu"
Baekhyun perlahan membuka matanya, ia berpikir bahwa yang akan dilihatnya adalah wajah Luhan, tetapi saat tersadar bahwa itu adalah wajah kakak iparnya, Baekhyun membelalak.
"Sehun hyung…"
Sehun tersenyum. "Kau tahu kan manusia itu butuh mandi dan makan?"
Baekhyun menundukkan wajahnya.
"Dan juga butuh matahari"
Baekhyun menggeleng. "Biarkan aku tidur lagi hyung", dan Baekhyun menutup badannya dengan selimut sekali lagi.
"Apa kau tidak ingin melihat dunia luar?"
"Aku sudah tidak ada semangat untuk melakukan hal apapun hyung. Badanku lemas sekali"
"Itu karena kau tidak mau makan"
Sehun menghela nafas. Ia sempat berpikir untuk menghentikan hal ini, karena percuma saja membujuk Baekhyun yang sudah seperti kehilangan jiwanya. Tetapi saat teringat wajah dan tangisan Luhan, Sehun merasa ia harus terus berjuang membawa adik iparnya ini keluar.
"Apa kau ingin melihat festival lampion?"
Baekhyun masih terdiam, tetapi sebenarnya ia mulai sedikit tertarik.
"Setiap awal tahun, di dekat sini akan diadakan festival lampion. Mereka akan melepas kapal dengan ratusan lampion ke sungai. Aku dan keluargaku dulu sering berkunjung ke festival itu. Banyak stand makanan juga. Apa kau mau?"
Baekhyun menyembulkan kepalanya dari dalam selimut.
"Kita pergi bertiga bersama hyungmu. Bagaimana?"
Baekhyun menatap Sehun sekali lagi. Dirinya terlihat masih ragu.
"Hei, sudah waktunya kau keluar. Memangnya selama kau mengurung diri di kamar, bersedih, menangis, membiarkan lambungmu kosong, membuat Kris kembali? Apakah itu membuat hidupmu menjadi lebih baik?"
Baekhyun menggeleng pelan.
"Yang ada Kris akan tertawa bahagia disana melihatmu sengsara Baek"
Baekhyun kembali menunduk.
"Jadi…tawaranku masih berlaku, bagaimana?", Sehun mengulurkan tangannya. Menunggu Baekhyun untuk menyambutnya. Baekhyun dengan perlahan mengulurkan tangannya.
Sehun bernafas lega. "Anak pintar. Kalau begitu kau sekarang harus makan ya?", Sehun mengelus rambutnya
Baekhyun kembali menggeleng.
"Kalau tidak makan kau tidak ada energi untuk ikut dengan kami di akhir pekan nanti"
Baekhyun terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk.
"Yes! Pintar!", Sehun lagi-lagi menepuk kepala Baekhyun pelan. "Sebentar akan aku ambilkan makananmu"
Sehun dapat mendengarnya walau pelan, Baekhyun mengucapkan terimakasih padanya. Dan Sehun merasa bebannya berkurang sedikit, setidaknya ini akan membuat Luhan tersenyum kembali. Dan itu memang tujuannya.
Baekhyun merasakan hatinya sedikit menghangat, entah mengapa. Hanya Tuhan yang tahu.
o—o-o
Luhan menghambur memeluk Baekhyun ketika ia melihat adiknya tersebut menghabiskan setengah piring makanannya.
"Terimakasih Baek, terimakasih kamu sudah mau makan. Hyung senang sekali", Luhan berulang kali mengecup pipi adiknya.
"Maaf hyung…"
Luhan menggeleng, "Tidak usah minta maaf. Sekarang mulai perlahan, kau harus bangkit ya?"
Baekhyun mengangguk ragu. Dan Luhan tersenyum haru, memandang Sehun dengan penuh rasa terimakasih karena dapat membuat Baekhyun paling tidak, mau memakan kembali makanannya.
Luhan sudah bisa bernafas sedikit lega, setidaknya ini berarti kebangkitan semangat hidup adiknya sudah dapat dimulai. Setiap hari ,walaupun masih jarang keluar kamar, namun Baekhyun sudah mulai menjawab pertanyaan atau sekedar menyapanya. Dan dari hari ke hari makanan di piringnya makin tersisa sedikit, yang itu berarti nafsu makannya semakin bertambah.
Lalu apakah Luhan senang?
Jawabannya tentu saja iya.
Tetapi apakah hanya itu saja yang dirasakan Luhan?
Tentu saja tidak.
Dibalik hatinya, Luhan merasakan hal yang aneh yang sedang terjadi.
Adiknya itu memang mau makan, tetapi itu jika Sehun yang membawakan makanannya.
Baekhyun bersedia keluar kamar dan sekedar membersihkan diri, jika Sehun yang sudah menyuruhnya.
Awalnya Luhan tidak mempermasalahkan hal ini, ia pikir itu karena kebetulan saja. Tetapi saat hal tersebut terjadi setiap hari, Luhan jadi berpikir.
Ada apa?
Bahkan saat sekarang, mereka bertiga sesuai rencana mendatangi festival lampion didekat apartemennya.
Awalnya ia pikir itu hanya kebetulan, saat tangan Baekhyun terus menggenggam tangan Sehun, Ya kebetulan, mungkin ia lupa bahwa ada tangan kakak kandungnya yang masih menganggur.
Atau mungkin kebetulan saat Baekhyun menarik Sehun untuk membelikannya kue beras. Meninggalkan Luhan yang asik memakan gula kapasnya.
Dan mungkin ini kebetulan juga saat tiba-tiba Luhan melihat Baekhyun digendong Sehun di punggungnya.
"Tadi dia berlari dan terjatuh, ceroboh sekali", Sehun menjelaskan kronologis yang terjadi. Luhan bertanya pada Baekhyun "Apakah sakit?", dan Baekhyun menjawab "Tidak, Sehun hyung sudah meniup lukaku sehingga sudah tidak sakit lagi"
Luhan tersenyum mendengar itu, tetapi hatinya tetap berderu keras merasakan ada hal yang aneh disini.
"Lu, apa kau ingin makan kue beras ini? Aku membelikan satu tadi untukmu", Sehun menyodorkan sebungkus kue beras pada Luhan.
Luhan menggeleng, "Ti-tidak Hun, aku sudah kenyang"
Dahi Sehun mengernyit, "Memakan gula kapas membuatmu kenyang? Ayolah Lu kau tidak dapat membohongiku"
Luhan hanya tersenyum dan menggeleng.
"Kalau Luhan hyung tidak mau, buatku saja Hyung", Sehun melirik sebentar ke arah Luhan, dan Luhan hanya membalas tatapannya seakan menyuruhnya memberikan kue itu pada Baekhyun. Sehun menghela nafas, "Baiklah ini untukmu", Sehun menyerahkan bungkusan kue itu pada Baekhyun yang masih ada di gendongannya.
"Jangan makan kue beras terlalu banyak, nanti kau bertambah berat"
"Yak hyung! Aku tidak gendut!", Baekhyun memukul kepala Sehun dengan kantong plastik.
"Hey kenapa memukulku!"
"Ahaha habis hyung dulu yang memulainya"
Seharusnya Luhan senang melihat adiknya dapat tertawa kembali.
Seharusnya Luhan senang.
Ya, seharusnya.
- o - o -
Sepulangnya mereka dari festival, Luhan menjatuhkan dirinya di atas sofa. Sedangkan Sehun menidurkan Baekhyun ke kamarnya karena saat perjalanan pulang, Baekhyun tidur di gendongannya.
Setelah menutupi tubuh Baekhyun dengan selimut dan mematikan lampu kamar, Sehun keluar dan bibirnya tersenyum melihat Luhan sedang memijati bahunya sendiri.
Sehun memeluknya dari belakang. "Kau lelah?"
Luhan yang tadinya kaget, menghembuskan nafas lega. "Tidak, hanya sedikit"
"Kulihat akhir-akhir ini wajahmu selalu tegang Lu. Ada apa?", Sehun mencium pipi Luhan.
"Tidak ada apa-apa. Bagaimana kau bisa berpikir bahwa wajahku tegang? Lihat aku tersenyum seperti ini", Luhan menarik mulutnya lebar berusaha membuat senyuman selebar mungkin. Tetapi yang ada malah makin membuat Sehun mengernyit heran.
"Itu terlihat sekali dipaksakan Lu"
Luhan kembali pada wajah lelahnya. "Sungguh tidak ada apa-apa Hunnie, mungkin aku memang hanya kelelahan"
Sehun mengecup leher Luhan. "Baiklah jika memang seperti itu maka banyaklah istirahat, jika kau ingin bercerita cerita saja. Kau seperti baru mengenalku saja. Biasanya kau cerewet dan bercerita hal apa saja padaku"
Luhan tertawa kecil, "Benarkah aku se cerewet itu? Hmm baiklah jika ada masalah tentu aku akan bercerita padamu"
"Sekarang aku ingin ciuman selamat malam", Sehun memaju-majukan bibirnya. Luhan lagi-lagi tertawa. "Apakah harus?"
"Tentu saja itu wajib!"
CUP.
"Nah sudah"
"Kurang!"
Sehun menggigit bibir bawah Luhan, mencoba menerobos masuk, dan tentu saja dengan mudah Luhan membiarkan bibir favoritnya itu melumatnya.
"Lu aku ingin…"
"Apakah harus?"
"Tentu saja", Sehun menyeringai dan langsung saja menyerang Luhan. Membuat malam itu menjadi panas dan mereka lewati dengan penuh desahan.
Dan desahan mereka tentu tidak luput dari pendengaran seseorang dibalik pintu, yang menatap mereka dengan wajah sedih dan putus asa.
- o - o -
Sore itu, Luhan sedang berkutat dengan buku masaknya di dapur. Ia sedang berusaha untuk mencoba memasak karena sebentar lagi Sehun akan pulang, dan dirinya serta Baekhyun perlu mengisi perut mereka. Ia pikir tidak baik terus menerus memesan makanan dari luar, selain boros, ia juga ingin cepat bisa ahli dalam memasak.
"Hyung, sedang apa?"
Luhan tersenyum melihat adiknya menghampirinya ke dapur. "Hyung ingin memasak sesuatu, kau ingin makan apa?"
Baekhyun duduk di kursi meja makan. "Hyung bisa memasak? Sejak kapan?"
"Yah! Kau ini…..hyung baru akan mencoba", jawab Luhan malu-malu. Baekhyun terkekeh kecil. "Aku akan membantumu hyung"
Mata rusa Luhan berbinar, "Benarkah?"
Baekhyun mengangguk, "Tentu saja hyung, yang daridulu memasak untukmu siapa lagi kalau bukan aku kan"
Luhan tertawa, "Iya iya aku ingat dengan jelas. Yasudah ayo ajari hyung"
Mereka memulai dari memutuskan untuk membuat sup saja, dan mungkin ayam goreng untuk lauknya. Lalu menyiapkan bahan dan bumbu. Memisahkannya, dan membagi tugas.
"Hyung aku potong selada, kau potong wortel-nya ya"
Luhan mengangguk patuh. Ia sangat berkonsentrasi untuk memotong wortel yang sekarang ada di hadapannya. Ugh, seumur hidup ini pertama kalinya Luhan melakukan pekerjaan melelahkan ini.
Baekhyun juga tengah memotong-motong seladanya ketika ia tiba-tiba berucap,
"Sehun hyung orang baik ya"
Sontak Luhan menghentikan potongannya, hampir saja mata pisau itu mengiris jarinya. Luhan menoleh ke arah Baekhyun yang masih setia memotong sayuran dengan santai.
"A-ah iya dia memang baik"
Baekhyun tersenyum. "Dia juga sangat gentle dan penyayang"
Manik mata Luhan bergerak tak terarah, ia cemas, dan ia tidak suka pembicaraan ini. Mungkin Baekhyun tidak bermaksud apa-apa, hanya saja Luhan menjadi tidak tenang dengan pembicaraan ini.
"Hyung bagaimana jika-"
DRRRT DRRRRT DRRRRT
Oh, sungguh Luhan harus berterimakasih pada siapapun yang menelponnya sekarang.
"Ng tunggu sebentar ya baek, hyung akan mengangkat telepon dulu", Luhan segera bergegas mengambil ponselnya yang terus bergetar di atas meja makan.
"Ya halo?", Luhan langsung semangat mengangkat ketika melihat nama suaminya di layar ponsel.
"Lu, maaf sepertinya aku akan pulang malam"
"Oh….baiklah, apa kau sempat makan?", Luhan sedikit kecewa sebenarnya.
"Aku akan makan di kantor, jika sempat"
"Kau harus makan! Sebenarnya aku dan Baekhyun sedang menyiapkan makan malam… jika kau belum makan, nanti saat pulang makanlah.."
"Baiklah Lu, bye sayang, aku harus segera kembali bekerja"
"Bye Hunnie, jaga dirimu"
Dan mereka berdua sama-sama memutus sambungan. Luhan mendesah keras.
"Siapa hyung?", Baekhyun bertanya dari balik meja dapur
"Sehun, sepertinya ia akan pulang malam. Dan sepertinya makanan ini akan kita habiskan sendiri Baek", Luhan tertawa canggung. Tidak pernah selama hidupnya ia menjadi canggung seperti ini terhadap adik kandungnya sendiri.
Luhan melihat gurat kekecewaan di wajah adiknya, namun ia berusaha mengabaikannya.
"Oh baiklah…kita makan berdua saja juga tidak masalah hyung"
Luhan tersenyum dan mengangguk. "Sisakan sedikit untuk Sehun, siapa tau dia ingin memakannya nanti"
- o - o -
Malam menunjukkan pukul setengah duabelas, dan Sehun baru saja sampai depan pintu rumahnya. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang amat sangat. Ia melihat Luhan dan Baekhyun yang masih duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Astaga, apa yang kalian lakukan selarut ini dan belum tidur?", Sehun sudah seperti memergoki kedua anak kecilnya yang belum tidur siang.
Luhan yang menyadari bahwa Sehun sudah pulang langsung menghampiri Sehun dan membantunya melepas jas hitamnya. "Aku menunggumu sayang"
"Aku juga", Baekhyun mengucapkan hal itu dengan santai.
Luhan menegang seketika. Tapi ia berusaha untuk mengabaikan sesuatu yang tidak enak di hatinya saat ini.
Sehun berdecak sebal. "Kalian ini, tidak perlu menungguku", Sehun melempar tasnya ke sofa, dan sedikit meregangkan ototnya.
"Lu, aku akan langsung tidur, tidak usah mandi, aku akan berganti baju saja"
Luhan mengangguk, "Baiklah kalau begitu, aku sudah menyiapkan baju tidurmu di atas kasur ya"
"Thanks Lu", Sehun mengusap tengkuk Luhan dengan sayang dan mengecup pelan dahinya.
Baekhyun menatap pemandangan mesra didepannya tersebut dengan datar.
"Selamat malam sayangku. Oh, selamat malam Baekhyun, kau harus segera tidur juga", Sehun berjalan ke kamarnya untuk segera menuju ke alam mimpi.
Luhan beranjak dari tempatnya ke dapur, "Kau tidurlah Baek, kau harus istirahat. Biar hyung yang membereskan meja makan dan memasukkan sup ini ke kulkas. Kita hangatkan ini besok untuk sarapan Sehun"
Baekhyun mengangguk, "Baik hyung. Selamat malam"
"Selamat malam Baekkie"
Baekhyun berjalan gontai menuju kamarnya. Tetapi sebelum masuk kamar, tiba-tiba Baekhyun berjalan mundur dan berhenti tepat di depan kamar Sehun. Ia perlahan membuka pintu kamar Sehun yang tidak terkunci.
Baekhyun melihat Sehun yang sudah terlelap, dan benar-benar tidak menyadari bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam kamar.
Baekhyun berjongkok didepan wajah Sehun. Mengamati setiap inchi lekukan wajahnya, dan dengan berani ia membawa jari-jarinya mengelus hidung dan bibir sang kakak ipar. Sehun sedikit menggeliat tetapi tidak membuatnya terbangun.
Baekhyun terdiam, pandangannya kosong. Tetapi ia merasa ada yang mengendalikan tubuhnya dan membuat bibirnya mendekat dan melumat pelan bibir Sehun, yang mirisnya adalah suami dari kakaknya.
Setelah puas mencium bibir Sehun, Baekhyun menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya, seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya. Tetapi hatinya seperti berkata, bahwa ia menyukainya.
Baekhyun berdiri dari tempatnya dan akan kembali ke kamarnya ketika ia menyadari bahwa seseorang telah memperhatikannya sedari tadi didepan pintu yang terbuka lebar.
-TBC-
