Tokk.. tokk...

Ting.. tongg...

"Ya sebentar aku datang !" Taeyong bergegas menuju pintu apartemennya. Sepertinya tamunya sangat tidak sabaran untuk dibukakan pintu.

Cklekkkk...

"Chittapon? Ayo masukkk ! Aku merindukanmu, hehe" Terlihat wajah khawatir Ten menghiasi pintu apartemen Taeyong. Ia mempersilahkan sahabatnya itu untuk masuk, tetapi Ten masih saja mematung dan wajahnya gelisah. Matanya dipenuhi dengan kekesalan sedang menatap Taeyong.

"Apa yang kau lakukan pada matamu, Taeyong hyung?" Tanya Ten dengan suara menyeramkan. Sudah pasti ia melihat mata sembab Taeyong, dan hidung merah Taeyong. Sangat khas sekali bagi orang yang habis menangis untuk waktu yang lama.

"Hmm? Mungkin aku kelamaan tidur sampai seperti ini?" Taeyong hanya memainkan gagang pintu apartemennya.

"Bohong ! Kau habis menangis bukan? Sudah berapa lama kau menangis? Apa yang sudah dilakukan bajingan itu kepadamu? Kau bukannya pulang dengan senang tetapi harus dengan wajah acak-acakan seperti ini?" Serius. Ucapan Ten ini membuat Taeyong harus menunduk. Bahunya bergetar, suara isakan keluar dari bibir kecilnya. Ia terus menggengam ganggang pintu dengan kuat.

"Aku tidak menangis, aku hanya lelah.."

"Jangan berbohong padaku dan berceritalah padaku. Apa aku sekarang harus membuat perhitungan dengannya karena membuatmu menangis hampir gila seperti ini? Baiklah aku berangkat." Ten terdengar sangat khawatir dan marah, Taeyong takut.

"ANIII..ANIIYAA.. ANDWAE ! Dia tidak tahu aku seperti ini, tolong jangan Ten-ahhh, hanya disini dan temani aku okay? Hikssss, tolong aku tidak tahu harus apa. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Hikss, maafkan akuuu..." Taeyong langsung menarik-narik tangan Ten agar namja itu tidak pergi. Ia takut, ia bingung sebenarnya apa yang ia tangiskan. Hatinya sangat sakit dan sesak lalu ia menangis. Ia tidak ingin merepotkan siapapun dan tidak ingin menyalahkan siapapun. Makanya ia akan terus menangis jika sudah tidak kuat menyimpan semuanya sendiri. Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk bercerita pada sahabatnya sedikit demi sedikit.

Ten mengangguk lemah dan akhirnya ikut masuk ke apartemen Taeyong. Ia mengikuti Taeyong ke kamar dan kaget melihat tisu yang berserakan disana sini. Seriously, Taeyong adalah namja pecinta kebersihan dan sekarang menjadi sangat kacau hanya karena memendam perasaan untuk seseorang. Ten hanya menghembuskan nafas dan ikut duduk di sebelah Taeyong yang menangis keras dan menutupi wajahnya sendiri dengan bantal. Ten hanya bisa mengelus pelan punggung Taeyong agar merasa baikan. Ia sebenarnya juga sakit jika melihat sahabatnya berantakan seperti ini, tapi ia sabar menanti sampai Taeyong hyungnya siap untuk bercerita padanya. Setelah dirasa tangis Taeyong mereda dan sekarang namja kucing itu sudah menegakkan wajahnya kembali, menghapus sisa-sisa air matanya dengan sesenggukan, Ten lalu membuka percakapan.

"Hyung, kumohon biarkan aku saja yang berbicara padanya. Tidak apa-apa jika kau tak berani. Aku yang akan maju untukmu, okay?" Ten mengusap lembut bahu Taeyong yang sudah siap akan menumpahkan air matanya lagi, dan itu benar-benar terjadi.

"Astaga hyungggg, mengapa kau menangis lagi? Ya ampun, aku harus apa agar kau berhenti hmm? Apa kau tidak lelah? Aigooo aku tidak tega melihatmu seperti ini. Aku sangat gatal sekali ingin menemui Jaehyun sekarang. Dasar kurang ajar.." Bukannya mereda ketika Ten menyebut nama Jaehyun tangisan Taeyong menjadi semakin tak terkendali. Ten hanya bisa melihat dengan gemas dan hanya bisa merutuk Jaehyun dalam hati.

"Jadi, Ten-ahh...huwehh hiksss, aku tak sanggup bercerita. Mengapa aku sangat cengeng seperti ini, ingin menyebut namanya saja aku juga ingin menangis lagi..." Taeyong mengambil beberapa lembar tisu, Ten hanya mampu mengangguk dan menghelas nepas.

"Jadi, Taeyong hyung kau terus mengatakan hal yang sama selama satu jam penuh. Ayolah hyung berceritalah padaku, aku tidak akan mengadukannya pada siapapun? Ya ampun ! Jangan-jangan kau malu ya? Kau malu karena tiba-tiba jatuh cinta pada eungg sebut saja Casper..." Ten yang sudah kepalang penasaran ada apa dengan Taeyong hanya bisa menggaruk-nggaruk dagunya.

"Hah? Apa tadi? Kau sebut dia siapa?" Seketika Taeyong berhenti menangis dan menatap Ten dengan penasaran.

"Eung, Casper?" Ten menjawab dengan mata menggoda.

"HAHAHAHAHAHA... CASPER HAHAHAHA, YA TUHAN MENGAPA ITU TERDENGAR SANGAT LUCU, HUHUHU MENGAPA AKU MENANGIS SAMBIL TERTAWA SEPERTI INI HAHA, TOLONG TEN PERUTKU SAKIT KARENA TERTAWA HAHAHA CASPER AIGOO..." Taeyong tiba-tiba membeludak dalam tawa, membuat Ten terkejut awalnya lalu kemudian ia tersenyum tulus melihat Taeyong yang akhirnya tertawa. Tapi itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba Taeyong rasanya akan banjir air mata lagi.

"Taeyong hyungggg, casper, casperrrr, hantu putih botak itu. Casperrrrr, bayangkan bagaimana kocaknya wajahnya ! Lalalalala CASPER CASPER CASPER. HUHU TOLONG JANGAN MULAI MENANGIS LAGI. MATA INDAHMU KASIANNNN .." Ten berusaha mencegah Taeyong dengan menggerak-gerakan tangannya melayang-layang seperti Casper, dan itu membuahkan hasil. Akhirnya Taeyong tidak jadi menangis, ia memilih larut dalam tawa karena melihat tingkah konyol Ten, sahabatnya.

"HAHAHA, Arraseooo.. arraseoooo, aku tidak akan menangis lagi. Huft..." Taeyong berusaha menegakkan tubuhnya dan menghirup napas dalam-dalam agar perasaannya kembali sedikit normal.

"Janji kau tidak akan menangis lagi? Berhenti dan bercerita padaku, anggap saja dia Casper oke?" Ten menatap menyelidik pada Taeyong yang berusaha menghirup dan membuang napas teratur.

"Hmmmmmm, iya aku janji.." Taeyong akhirnya mampu menjawab dengan baik.

"Jadi, baiklah aku akan memulai sesi curhatnya...hiks.."

"TAEYONG HYUNGG ! Suaramu bergetar..."

"Iyaaa maafkan aku, baiklah aku memang malu jika harus mengakui bahwa aku menyukai eungg Casper..."

"Lalu..." Ten menyimak Taeyong dengan penuh perhatian.

"Aku tahu dia memiliki kekasih, dan aku merasa sangat jahat padanya. Tidak seharusnya aku mencintai orang yang sudah memiliki pasangan. Bagaimana bisa aku hanya mengangguk tak berdaya ketika eunggg Casper... hiks.. Casper mengajakku untuk pertama kalinya..." Taeyong berusaha memberanikan diri menatap Ten. Ten hanya menimpali dengan anggukan kecil, bermaksud agar Taeyong menyelesaikan curhatannya.

"Aku bingung dengan apa yang kualami. Dua minggu aku terus bersamanya, aku menghiburnya ketika kekasihnya sendiri tidak pernah menghubunginya. Ia memperlakukanku dengan baik. Casper sungguh terlihat sangat ingin bersamaku. Setiap hari yang dilakukannya menghabiskan waktu bersamaku, bermain bersamamu kadang, memasak bersama, ber..bercinta...oh apa itu disebut bercinta, we're just have a sex. No love. Hikss..."

"Teruskan hyungg..." Suara Ten memelan, ia mulai menyerap segala perkataan Taeyong. Ia menyodorkan beberapa tisu pada hyungnya.

"Seharusnya aku tidak seperti ini Ten. Seharusnya aku sadar aku hanya sekedar penghiburnya bukan lebih. Aku tidak boleh menyukainya. Jika kekasihnya tahu, pasti aku berakhir. Aku ingin bersikap biasa saja tetapi semakin lama itu semakin menyesakkan. Apalagi jika ia tiba-tiba bercerita tentang kekasihnya disaat bersamaan ia berusaha menarikku ke ranjangnya untuk seks. Bayangkan saja hatiku hancur sedikit demi sedikit..."

"Hyung sudah selesai?"

"Ani, jadi kesimpulannya... rasa cinta di dalam diriku mulai tumbuh semakin lebat setiap harinya. Tanpa ia tahu, dan ia hanya menganggapku sebagai hyung baiknya yang setiap hari menemaninya. Hyung bodoh yang mau-maunya saja diperintahnya, seseorang yang tidak lebih baik dari kekasihnya. Mungkin apa aku sudah menjadi jalang sekarang? Setiap hari aku haus perhatian dan sentuhannya. Aku jahat Ten tapi Demi Tuhan aku terlanjur menyukainya, tidak semudah kubayangkan untuk mencoba menghilangkan perasaanku...Aku minta maaf HIKS..." Taeyong kembali pecah dalam tangis hebat. Ten yang mendengar suara retakan dalam tangis itu ikut bergetar dan matanya berkaca-kaca. Ia sangat tahu bahwa Taeyong adalah orang yang sangat baik, bukan jalang perebut kekasih orang. Makanya, hyungnya merasa sangat bersalah seperti ini, bahkan ia tidak pernah mengatakan pada Jaehyun bahwa ia menyukainya. Ia hanya bisa berkata maaf.

"Hyunggg, menyukai orang bukan kesalahan okay? Tapi mungkin sekarang waktu yang tidak tepat hyung. Hyung tenang saja, aku akan menemanimu dan akan berdiri di barisan paling depan untuk melindungimu jika nanti ada yang berbuat jahat padamu." Ten meraih Taeyong ke dalam pelukannya dan berusaha membuat Taeyong lebih rileks dengan mengusap-usap punggungnya.

"Hiksss... Maafkan akuuuu, Jaehyun maafkan aku, Doyoung maafkan akuu..hikss tolong maafkan aku, aku bersalah..." Taeyong membalas erat pelukan Ten yang membuat tangisannya semakin keras, ia terus membenamkan kepalanya pada dada Ten dan menggumamkan kata maaf yang terdengar perih di telinga Ten.

"Apa hyung takut jika Jaehyun akan marah dan menyalahkanmu nanti? Seharusnya bajingan itu yang meminta maaf pada hyung, ia yang menggodamu di awal. Hyung aku serius tentang aku yang ingin sekali pergi ke Jaehyun dan mencacinya." Ten menggoyang-goyangkan badan Taeyong ke kanan kiri agar Taeyong merasa baikan dan berhenti menangis.

"Ani jangan Ten. Tolong rahasiakan ini okay? Mulai sekarang aku mungkin akan menjaga jarak dengan Jaehyun. Terimakasih sudah mendengar curhatanku yaa, kau belum makan ya? Perutmu berbunyi barusan...hehehe.." Taeyong melepaskan pelukannya dan tertawa menggoda Ten.

"Yakkk hyungggg, aku malu. Aku memang belum makan sih...huft..." Ten memukul kecil bahu Taeyong dan tangannya mengelus sayang perutnya sambil cemberut.

"Makanya belajar masak ! Yasudah karena kau sudah menemaniku hari ini, aku akan membuatkanmu hidangan spesial, dan kau harus membantuku di dapur !"

"Hyunggg~~~~~~ terimakasihhhh ~~~~~ Tapi, apa? Aku harus terjun ke dapur?" Ten mencicit kecil.

"Iya kau tidak salah dengar kok. Sekarang angkat pantatmu dan ikut aku ke dapur !" Taeyong beranjak dari ranjangnya, sedikit meregangkan tubuhnya dan melengang keluar sambil meneriaki Ten untuk segera mengikutinya ke dapur.

"Hyunggg ~~~~ tunggu.." Ten awalnya sangat malas jika harus pergi ke dapur tapi ia butuh asupan nutrisi sekarang, akhirnya dia beranjak dan berlari kecil menyusul Taeyong ke dapur kesayangan hyungnya.

Hanya memasak yang dapat meningkatkan mood Taeyong.

"Hyungggg ~~~ terimakasih sudah memasakankuuu. Sudah kuduga masakanmu masih tetap terbaik walaupun tadi sepertinya sedikit terkontaminasi dengan air matamu.."

"Yakk ! Dasar ! Ckckck.." Taeyong hanya tersenyum mendengar perkataan Ten.

"Hyungg aku mau pulang ya, aku mau mandi dulu, uh aku bau bawang !" Ten menuju pintu apartemen Taeyong dengan mengendus-endus kaosnya yang bau khas dapur. Taeyong hanya mengikutinya dari belakang sambil tertawa kecil.

"Arraseoo, terimakasih sudah menemaniku yaaa" Taeyong membuka pintu dan Ten melangkah keluar.

"Anyeongg Taeyongiee hyung. Awas jika kau menangis lagi setelah ini.." Suara Ten terdengar menjauh.

"Anyyeonggg ~~" Taeyong menutup kembali pintu dan melangkah masuk. Sepi kembali. Aura gloomy Taeyong pun sepertinya kembali. Ia masuk ke kamar dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menutup matanya mencoba tidur. Damn. Ingin tidur tenang saja masih terbayang memorinya bersama Jaehyun. Taeyong mengernyit dan merengek sampai akhirnya ia dapat tertidur pulas.

K

"Bagaimana, hmm?" Jaehyun kembali meraup pelan bibir merah Taeyong, karena tidak sabar dengan Taeyong yang hanya diam menatapnya santai. Namun tiba-tiba, Taeyong balik menggigit dan melumat singkat bibir Jaehyun. Lalu bergumam, "Hmm?". Shit. Jaehyun sudah tidak tahan dengan tatapan sayu Taeyong dan akhirnya melumat keras bibir manis namja kucing itu. Ia lalu membawa kaki Taeyong melingkari pinggangnya dan mereka saling berpagutan panas menuju kamar Jaehyun.

Tubuh Taeyong panas seperti cacing sekarat, ia terus menggerakkan tubuhnya naik turun ketika Jaehyun berusaha membawanya ke kamar. Punggungnya sampai terantuk pintu dengan keras karena tingkah hypernya. Ia melenguh kaget karena benturan namun tidak merasakan sakit sama sekali. Fokusnya hanya pada bibir Jaehyun. Jaehyun membuka pintu dan akhirnya membanting Taeyong ke ranjangnya. Disana gelap, hanya ada cahaya bulan yang masuk ke cela-cela jendela. Jaehyun menatap pantulan wajah sayu Taeyong yang sudah terlentang tak berdaya. Ia menunjukkan smirknya sambil melucuti satu per satu kancing kemejanya, lalu terlihatlah tubuh atletisnya yang membuat Taeyong keranjingan di atas ranjang. Jaehyun naik dan mengungkung Taeyong di bawahnya. Ia menelusupkan kepalanya pada leher Taeyong, menghirup aroma namja itu dalam-dalam yang membuatnya semakin ingin merusak Taeyong malam ini. Kecupan dan gigitan terus ia hadiahkan ke permukaan leher putih Taeyong, yang terdengar hanyalah desahan tidak kuat Taeyong. Jaehyun melepas kaos Taeyong lalu segera melahap puting tegang namja kecil itu. Kedua tangannya tidak berhenti mengusap bagian tubuh Taeyong yang lain, dan Taeyong hanya bisa meremat rambut acak-acak Jaehyun.

"Eunghhh, Jaehyun-ahh eungg.." Suara manja serak Taeyong membuat Jaehyun menegakkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke bibir Taeyong.

"Apa Taeyongiee? Taeyongiee mau apa hmm?" Jaehyun berkata tepat di depan bibir Taeyong. Membuat namja kucing itu berusaha menggapai bibirnya. Tiap kali Taeyong ingin menggigitnya, Jaehyun menjauhkan wajahnya, lalu begitu seterusnya sampai Taeyong merengek manja.

"Uhhh jangan menggodahkuhhh, aku ingin bibirmuhh tolonggg, eungh.." Jaehyun semakin bernafsu melihat Taeyong yang merengek seperti anak kecil ini akhirnya ia melumat habis-habisan bibir Taeyong sampai namja itu melengkungkan tubuhnya. Lidahnya menggoda dalam mulut Taeyong. Persetan dengan air liur mereka yang sudah menggila. Dibawah sana, Taeyong berusaha membuka celana Jaehyun, begitu pula sebaliknya.

Jaehyun benar-benar menelusuri tubuh polos Taeyong yang menurutnya indah. Lidahnya sudah bergerilya kemana-mana dan Taeyong hanya bisa pasrah karena kelakuan Jaehyun. Taeyong tidak mau kalah langsung tergesa mencari kejantanan Jaehyun, mengurutnya sebentar lalu memasukkannya ke dalam mulut kecilnya. Ia memejamkan mata, merasakan milik Jaehyun.

"Ahh, Taeyongie ahhh lebih dalam. I like your slut mouth.." Jaehyun merasakan darahnya meluncur dari ubun-ubun. Mendongakkan kepalanya, mulutnya terbuka, sedikit salivanya mengalir bersamaan dengan keringat mengucur di leher seksinya. Ia menyodokkan pinggulnya pada mulut kecil Taeyong. Memegang kendali atas kepala Taeyong. Memaju mundurkannya.

"Nghh, cukuphhh ouchhh, sinihh aku ingin melihat lubang berkerutmu.." Jaehyun dengan sigap memposisikan Taeyong tengkurap di bawahnya. Menunggingkan Taeyong, mata gelapnya terhisap nafsu oleh lubang pink berkerut Taeyong. Lidahnya sudah tidak mau menunggu untuk menikmatinya.

"Ahhh, Jung ! Hentikanhhh.. Ahhh nghhh shhh ahh lagi, gatalhhh..." Taeyong adalah namja yang sensitif dengan sentuhan. Ia dilema. Ia ingin menjauhkan pantat halusnya dari bibir Jaehyun, dan di saat bersamaan Jaehyun semakin menariknya dekat. Ia hanya bisa memegang sprei kusut sambil mendesah pasrah. Tangan Jaehyun meraih kejantanan Taeyong dan mengocoknya pelan. Demi Tuhan Taeyong sudah hampir keluar, namun tiba-tiba Jaehyun melepaskan segala sentuhannya. Ia membalik tubuh Taeyong menjadi terlentang, dan mengungkungnya. Wajahnya berhadapan dengan Taeyong, terlihat rambut mereka yang sudah lepek karena keringat deras. Taeyong tiba-tiba menyingkirkan sedikit poni Jaehyun yang menutupi dahinya. Nafas keduanya terengah-engah dan terdengar seksi. Jaehyun lalu mengecup bibir Taeyong dengan sangat lembut.

Cupp

"Kenapaa Jaehyunie?" Taeyong bertanya lembut dengan suara seraknya, sambil mengelus sayang pipi Jaehyun.

"Taeyongiee, kau percaya padaku kan?" Bibir Jaehyun membuat jejak kembali di leher Taeyong.

"Nghhh, lihathh akuu..." Taeyong lalu membawa wajah Jaehyun ke hadapannnya.

"Hmm?" Jaehyun menggoda bibir Taeyong. Menarik ulurnya. Kasian bibir Taeyong yang sudah bengkak.

"Sudah sejauhhh inihh, hmm? Jika kau ingin mengakhirinya sekarang aku tidak masalah. Jika kau ingin menuntaskan segalahh keinginanmuhh, aku sangathh tidak masalah dengann itu.." bisik Taeyong seksi pada akhir kalimatnya. Dibawah sana ia menggesek-gesekan pinggulnya, menggoda Jaehyun yang matanya berubah menjadi gelap lagi.

"Shit. Aku akan merusakmu malam ini. Aku bersumpah sayanghh.." bersamaan dengan itu Jaehyun mengangkangkan kedua kaki Taeyong, dan batangnya yang sudah keras membesar langsung masuk sekali hentakan ke dalam lubang Taeyong.

"Akhhhhh, Junghhh sakithh ngh.." Suara pekikan Taeyong yang terdengar sangat menggoda.

"Ahhh maafkan aku, aku akan bersikap lembut okay?" Jaehyun langsung meraup bibir Taeyong untuk meredakan rasa sakit di bawah.

"Ngghh, apa kauhh tidak ingin bergerak?" Taeyong yang sudah kepalang bernafsu berusaha memaju mundurkan pinggulnya menggoda Jaehyun agar segera menggenjotnya. Taeyong tersenyum gila, dan Jaehyun lebih gila.

"Sayanghh, kau mau yang pelan seperti inihh.." Jaehyun memaju mundurkan kejantannya sangat pelan, sehingga Taeyong melenguh sampai harus menutup kedua matanya

"Nghhh, please don't teasehh mee..."

"Honey, pleasehh open your eyes..Apa kau ingin yang biasa seperti ini.." Jaehyun menaikkan temponya tetapi tidak terlalu cepat. Lubang Taeyong serasa sangat gatal. Taeyong berteriak histeris karena tidak sanggup dengan perlakuan Jaehyun.

"Ahhhhh, Junghh ahhh gatalhhh ahhh shitthh...hentikanhhhh.." Taeyong masih menutup matanya dan mendongak penuh nikmat. Tangannya mencengkeram punggung Jaehyun.

"Ngghh lubangmuhh sempithh sayanghh, aku jadi ingin cepat seperti ini, ahhhh ahhh.." Jaehyun tanpa basa basi segera menggenjot cepat lubang Taeyong. Suara derit ranjang dan desahan liar mereka memenuhi ruangan.

"AHHH..AHHH DASAR BINATANG KAU JUNGHH UHH LEBIH CEPATHH LEBIH DALAMHH AHHH KUMOHONNNN..SETUBUHI AKUUU.." Taeyong meracau gila dan itu membuat Jaehyun semakin gencar untuk memasukkan dalam kejantanannya.

"Sedalamhh ini ? Uhhh ahhhh ahhh nghh... " Jaehyun sampai memejamkan mata untuk berkonsentrasi menikmati lubang sempithh Taeyong.

"Yahhhh, disanahhh junghhh ahh pleasehhhh, ahhhh lagiiii , ahh mengapa milikmu sangat besarhh ahh aku sudahhh tak sanggup..." Taeyong melengkungkan tubuhnya ketika Jaehyun menumbuk keras prostatnya. Ia meraih bibir Jaehyun, melumatnya habis-habisan dan tak lupa juga memaju mundurkan pinggulnya.

"Ouchhh ahhhh, Demi Tuhan kenapahh kau bisa senikmat ini Lee Taeyong..." Jaehyun meraba-raba tubuh polos Taeyong. Mengulum keras puting Taeyong dan terus menghentak dibawah sana.

"Junghh kenapa kau sangat tampan sepertihh ini..." Taeyong meraih wajah Jaehyun. Mereka saling bertatap dan mata mereka sudah basah oleh air mata kenikmatan.

"Sebentarhhh lagiihhh.."

"Kiss meeehhhh"

Jaehyun menggigiti bibir Taeyong. Kepalanya sudah pening karena nafsu, dan akhirnya mereka berdua keluar bersama.

Crothhh...

"AHHHH JAEHYUNHHH AHHHH.."

"Hmm TAAEYONGHHH.."

Mereka saling menggeram satu sama lain. Jaehyun beberapa kali menyentakkan cairannya agar semuanya masuk ke lubang Taeyong. Hangat dan berkedut.

Cupppp...

Taeyong memeluk Jaehyun erat. Jaehyun mengecupi wajah Taeyong, bahu Taeyong dan leher Taeyong sambil bergumam terimakasih. Ia berguling ke samping Taeyong dan ganti memeluk Taeyong erat. Keduanya berusaha menormalkan nafas mereka, menikmati sisa-sisa kenikmatan pelepasan mereka.

"Jung, kau melupakan sesuatu.." Taeyong membuka sebuah percakapan sambil membuat pola abstrak di dada telanjang Jaehyun.

"Hah melupakan apa?" Jawab Jaehyun yang sedang mencumbui ringan sisi leher Taeyong.

"Kekasihmuhh..eunghh" Taeyong melenguh pelan karena jilatan Jaehyun pada rahangnya. Ia lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Jaehyun.

"Aku tidak melupakannya hyung.." Jaehyun menarik dekat Taeyong dan mencumbui tengkuk namja kecil itu. Tangannya mengelus pelan perut datar Taeyong lalu terus ke bawah.

"Ouchhh, Jung berhentilah menggodaku.." Taeyong menghempaskan tangan nakal Jaehyun. Membalikkan tubuhnya kembali menghadap Jaehyun.

"Hahaha, aku tidak bisa berhenti. Sebenarnya hyung.." Jaehyun menyamankan tubuhnya dan memeluk Taeyong, mengarahkan kepala Taeyong untuk bersandar di dadanya.

"Sebenarnya apa?" Taeyong menyandarkan kepalanya nyaman pada dada Jaehyun, memeluk namja itu.

"Aku tidak pernah melakukannya dengan Doyoung.." Jaehyun menghirup aroma wangi dari rambut Taeyong. Memainkan rambut Taeyong.

"Ckckck, aku ingin percaya tapi itu terlalu mustahil. Jangan berbohong padaku.."

"Entahlah. Sangat sulit mengajaknya untuk keluar aturan."

"Pesonamu belum cukup menaklukannya Jung" Taeyong perlahan mengecupi dada Jaehyun. Menghirup dalam aroma namja yang ia suka. Memabukkan.

"Entah, apa yang membuat aku menyukainya dulu." Jaehyun mengusak pelan rambut Taeyong, sehingga Taeyong merasakan kehangatan yang penuh kasih sayang. Menurut Taeyong.

"Jadi, bagaimana misalnya ia datang kemari sekarang? Lalu melihat kau menyetubuhiku seperti seorang bajingan?" Taeyong tiba-tiba bangun dari sandaran nyamannya, ia sedikit meregangkan tubuh kakunya. Sedangkan Jaehyun? Ia asyik menikmati pemandangan punggung Taeyong yang indah. Menyunggingkan senyum nakalnya.

Brakkk

Tiba-tiba Jaehyun membanting kembali tubuh Taeyong ke ranjangnya. Menindihnya dan mengaitkan kaki Taeyong pada pinggulnya. Menyiapkan kejantanannya yang siap tempur dengan lubang Taeyong kembali.

"Jadi, jika Doyoung kemari sekarang biarkan saja ia melihat kekasihnya menyetubuhi seseorang seperti binatang, dan biarkan ia mendengarkan desahanmu yang seksi itu sayanghh ouch.."

Cupppp.. Jlebbb.. Plokk plokk..

Bersamaan dengan itu Jaehyun kembali menghujam lubang Taeyong dengan sangat bersemangat. Keduanya sama-sama menampilkan smirk nakalnya lalu menyatukan bibir mereka kembali, diikuti dengan desahan mereka berdua yang mengalun semalaman penuh.

"Ahhh, Jaehyunnn setubuhi aku sampaihh pagihh.."

Read n Review?