AYURI CHAENTACHI PRESENT

My Vertion: NaruNata.

Drabble Collection. Word 250-Blablablah!

Standard Warn Applied!

Minim convertition!

DLDR!

Naruto and All Character © Masashi Kishimoto

### UKS ###

Akibat kejadian hilangnya kesadaran Hinata. Mau tidak mau inilah tempat yang setia menampung keadaan Hinata. Tidak perlu bertanya lagi 'Ini dimana?' kala kesadaran menghampiri dirinya dengan diiringi terbukanya kelopak mata itu. Bau obat-obatan sudah cukup untuk menjadi jawabannya.

Mengeliat pelan dari posisi tidurnya, Hinata menarik kedua tangannya kesisi kepala dan mendorongnya kearah yang berlawanan. Melakukan pereganggan guna melemaskan otot tangannya yang terhimpit kala dia pingsan dan tidur dalam waktu bersamaan.

Mencoba menarik diri lebih jauh Hinata membantu tubuhnya bangun dengan bertopang dengan kedua tangannya. Menguap kecil Hinata spontan menutup mulutnya menggunakan punggung tangan kirinya. Kucek. Hinata mengucek kedua kelopak matanya. Sampai kedua tangan itu terhempas terjatuh bebas ke kedua sisi tubuhnya. Dengan menatap kosong kearah depan. 'Disini lagi, kah…' gumamnya. Sebelum lamunan Hinata menari melalang buana. Suara Khas wanita dewasa menyapa indra pendengarannya diikuti dengan terbukanya kain penutup tempat tidur yang dia tempati di UKS. "Sudah bangun, Hinata?"

Menoleh cepat kearah suara Hinata tersenyum dengan anggukan kepala yang terkesan gugup dan canggung. "Hm, yaa… ma-maaf merepotkan, Shizune-san.."

"Hahaha, sudalah. Tidak apa-apa. Seharusnya kau lebih mengkhawatirkan dirimu. Kau kenapa Hinatachan?"

"Mmmmn, et-etto, aku tidak apa-apa." Hinata menundukkan kepalanya dan nyaris semua wajahnya tertutup oleh poni ratanya.

"Maksud Ibu, apa yang menyebabkan kamu pingsan begitu?" Shizune mencoba menemukan pertanyaan lain untuk lebih memahami permasalahan Hinata yang tampak tertutup.

Blush!

Memikirkan apa yang membuatnya begini saja sudah membuat pipi Hinata menghangat dengan rona merah yang setia menghiasinya. Kegelisahan menghampiri Hinata kala dia mencoba berpikir keras bagaimana cara menjawab pertanyaan Shizune—dokter sekolahnya—kala dia sendiri juga belum memahami betul persoalan fenomena Naruto ini.

Melihat kelakuan Hinata, membuat Shizune tersenyum manis. Seridaknya dia sudah mendapat sedikit gambaran mngenai keadaan Hinata, sepertinya dia harus mengkomunikasikannya dengan BK untuk lebi jelasnya. Namun, sekarang tidak ada salahnya mengetes Hinata. "Tidak apa-apa jika kau tidak ingin menjawab." Perkataan Shizune menarik kedua manik awan Hinata menatap legamnya kedua manik Shizune. Hal itu membbuat Shizune tersenyum lembut pada Hinata. Pelan Shizune menyambung ucapannya. "Naruto, tadi yang membawamu kesini, dia benar-benar panic kala menggendongmu kesini… akh, anak itu bahkan menanyakan keadaanmu berkali-kali," melirik ekspresi Hinata yang sekarang sudah dalam tahap menormalkan detak jantung. Berkali-kali Shizune melihat Hinata menekan jantunnya dan menunduk dalam kala telinganya tampak begitu merah. Tidak Habis disitu Shizune pun kembali berkata "Naruto berkata begini, Apa Hinatachan tidak apa-apa?' Shizune sedikit menirukan gaya Naruto berbicara.

"Sudah hentikan Shizune-san.."

Lirih Hinata, ini tidak baik untuk hatinya. Mengetahui Naruto perhatian dan sekaligus mencemaskan dirinya membuat Hinata senang dan gugup dalam bersamaan. Apalgi jantungnya yang entah mengapa berdetak secepat ini. Jika dibiarka bisa-bisa dia pingsan lagi.

"Ya. Ya… kau tidak apa-apa, jadi… sekarang ibu mau perggi ke kanto guru dulu, kalau memang sudah merasa baikan kau tidak apa-apa kembali ke kelas." Setelah berucap demikian Sizune berlalu dari hadapan Hinata. "Ya, Shizune-san."

Mencoba menormalkan keadaannya Hinata menarik nafas dan membuangnya secara teratur. Berhasil. Cara ini memang paling efektik. Dan belum lima detik semua menjadi normal untuk Hinata. Dia, Hinata Hyuuga menatap roti melon dan jus Jambu Biji diatas meja tepat disamping tempat tidurnya.

Kruukk!

Haah, dia lapar. Kalau roti dan minuman itu diletakkan disana berarti itu memang untuknya. Meraih roti itu dengan tangan kananya Hinata menemukan keberadaan kertas dibawah roti itu. penasaran Hinata meraih kertas itu dan…

Lagi-lagi Blush…

Dengan gerakan robot Hinata membuka bungkus roti itu dan menggitnya kecil mengunyahnya dengan hati-hati serasa ingin menikmati setiap rasa dari roti melon…

Klek!

"Hinatachan aku membawakan tas mu. Kita pulang cepat karena guru rapat…" panggil dan info Naruto yang entah bagaimana sudah berdiri di depannya, dengan menyandang tasnya di depan tubuh serta tas Naruto sendiri di belakang tubuhnya.

Tatap! Kedua manik berlainan warna bertemu dalm sepi yang memberikan arti.

Hinatalah yang pertama memutuskan kontak mata dari Naruto dengan mengambil jus diatas meja dan meminumnya pelan. "Ha-haik, Na-naruto-kun, terima kasih," Hinata tanpa saarmeremas roti melon yang ada ditangannya. "Makanannya juga.." kembali Hinata berperang dengan bawah sadarnya.

"Hn, jangan dipikirkan. Dan.. lanjutkan makanmu." Seru Naruto dengan mengaruk belakang kepalanya dengan tersenyum lebar kearah Hinata. Sedang Hinata mencoba meremas kecil kertas yang di abaca barusan. Hinata menatap Naruto lama. "Kita akan pulang bersama! Jadi aku menunggumu!"

'Eeeeekhhhh, Pu-pulang bersama..' Histeris Hinata dalam hati.

.

.

.

.

.

Abis lagi.

Achaen: ketemu lagi dan minta reviewnya ya, minna…

.

.

.

.

Ada yang penasaran sama isi kertasnya. Sou, enjoy this Omake!

"Hai, Hinatachan, aku panic sekali mendapati kau pingsan begitu, jadi saat istirahat aku mengunjungimu lagi, tapi kau belum bangun… ini aku kelebihan beli kue, dimakan ya semoga kau suka….ohya, cara tidurmu lucu, seperti kucing! :D"

Naruto.

'ku-kucing?'

Lagi-lagi Blush…

Dengan gerakan robot Hinata membuka bungkus roti itu dan menggitnya kecil mengunyahnya dengan hati-hati serasa ingin menikmati setiap rasa dari roti melon…

Klek! Dan Narutopun datang dengan hebohnya.

End omake