Pagi itu, Mikasa merasa sedikit kedinginan dalam keadaan mata yang masih terpejam. Padahal selimut terpasang di sekujur tubuhnya—walaupun ia tak ingat kapan ia menyelimuti dirinya. Huh..? Kenapa sedingin ini?
Samar, matanya menangkap sebuah sosok di seberang wajahnya. Dan mulai menceracau dalam keadaan setengah bangun itu.
"Ada apa? Kau tidak bisa tidur lagi, hingga ke kamarku, hm?" Kemudian tangannya mendekap sosok tersebut erat-erat. Ah, hangat.
"Nih, selimut." Masih dalam keadaan telernya, tangan kanan Mikasa menyelimuti sosok yang didekapnya itu.
Memang, dulu adik gadis obsidian itu sering pindah ke kamarnya malam-malam jika sedang susah tidur—EH?!
Tunggu!
APA?!
Paradox
~ Sequel of The Tears ~
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
WARNING: Sekuel, AU, possibly OOC, MENJURUS INSES kayaknya (dan memang perlu saya kasih caps lock ya, MENJURUS INSES!), kalau ada mistypo dengan amat sangat saya mohon beritahu saya
DLDR~
Saya ingetin sekali lagi, MENJURUS INSES! Ngga suka inses ngga usah baca, nak...dan yang ngga puas cuma menjurus, not gomen :D
Chapter 2 : Changes, Then Distances
.
.
.
Mikasa segera tersadar seratus persen dari alam mimpinya. Gadis itu terpekik dan segera melepas dekapannya, lalu melempar tubuhnya sendiri merapat ke pojok kasur. Otomatis, sosok di sebelahnya—yang tak diragukan adalah Armin—pun ikut terbangun.
Si pemilik iris biru itu sendiri ikut terkejut. Terkejut, kenapa dirinya bisa berada di situ. Ia menjauhi kasur kakaknya dengan tergesa-gesa. Keduanya terdiam, tak ada yang berani melakukan kontak mata satu sama lain. Mikasa segera menutupi seluruh kepalanya dengan selimut, wajahnya kini terasa begitu panas seolah mendidih, dan ia hanya dapat menyembunyikannya di dalam sana. Detik berikutnya, gadis itu berlari meninggalkan ruangan miliknya tersebut.
Tinggallah seorang Armin di situ. Punggung pemuda pirang itu bersentuhan dengan dinding terdekat. Ia bertanya-tanya, apa yang terjadi sebenarnya sampai-sampai ia bisa berada di kamar kakaknya itu.
Apakah ada makhluk gaib yang memindahkan tubuhnya ke situ? Eh, hei. Itu gila!
Atau ia sendiri yang berjalan ke sana di malam hari. Tapi—kapan..?
Ah, apa kebiasaan di masa kecilnya ia ulang kembali..?
Si blonde masih di sana, terjongkok. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang bercampur semu kemerahan meratapi keadaan yang ia rasa janggal pada dirinya sejak kemarin.
.
.
.
Selang beberapa menit, Armin yang masih mematung di kamar kakaknya, mendengar bunyi-bunyi dari arah dapur, yang ia yakini suara Mikasa yang sedang memasak sesuatu. Mungkin kakaknya itu sedang membuatkan sarapan untuk mereka. Cacing perut Armin memang sudah berkeluh-kesah ingin diberi asupan gizi pagi, namun pemuda itu memutuskan untuk bergegas berpindah ke kamarnya sendiri dulu saja dan berdiam untuk sementara waktu di sana.
Segera saja ia keluar dari kamar itu menuju ke kamarnya yang tak jauh dari situ. Sesampainya di tempat tujuan, segera ditutupnya pintu masuk dan merebahkan dirinya di atas kasur miliknya dengan perasaan campur aduk. Armin tak berani keluar dari sana. Ia merasa tak sanggup menemui kakaknya untuk sementara waktu.
Tetapi, tak lama, terdengar ketukan pada pintu kamarnya. Ah, siapa lagi yang mengetuknya selain sang kakak?
"A...Armin...a...aku...aku membuatkan sarapan...a...anu...maaf, mengganggu... Ka...kalau kau mau...ke ruang makan saja, ya..." Setelah itu langkah gadis obsidian itu semakin menjauh—tentunya ke arah ruang makan. Ia juga butuh sarapan.
Batin Armin berperang kembali. Mau ditaruh di mana wajahnya di depan Mikasa?! Ia terlalu malu atas ulah yang tak sepantasnya ia lakukan untuk kedua kalinya terhadap gadis yang lebih tua darinya dua tahun itu.
Tetapi, Mikasa sudah bersusah-payah membuatkan sarapan. Tidak mungkin disia-siakannya begitu saja. Apa yang harus dilakukannya?!
.
.
.
Sudah Mikasa duga.
Adiknya itu tak akan dengan mudahnya ia ajak menyantap sarapan bersama seperti dulu. Begitu pikir gadis itu. Apalagi setelah melalui kejadian-kejadian itu. Atas fakta itulah, Mikasa memutuskan untuk memulai sarapannya seorang diri.
Mikasa hampir menjatuhkan gelas dari tangannya ketika melihat sepasang mata sayu yang perlahan muncul dari balik dinding ruangan tersebut—si adik. Sosok pemilik mata itu tampak takut-takut memasuki ruang makan.
Memakan sarapan di piringnya, sang kakak diam saja. Matanya bergerak ke sana kemari, asalkan tak bertemu pandang dengan Armin. Karena apapun yang berusaha ia katakan, semua akan berakhir dengan suasana ultimate awkward, bukan?
Meja makan terletak rapat ke dinding. Bagian kiri dan kanannya terblok oleh rak penyimpanan makanan dan rak penyimpanan alat makan. Maka, mereka berdua hanya bisa pasrah karena duduk bersebelahan dan makan sarapan dengan suasana yang tak kalah dari kesunyian kuburan. Hanya terdengar kecapan mulut mereka mencerna makanan.
Akh! Masa' iya harus begini terus?! Masa' iya, ia harus berdiam diri terus selamanya dengan adiknya?! Dirinya harus melakukan sesuatu!
Tetapi, sebelum Mikasa sempat mengeluarkan suara untuk memulai topik, secarik kertas disodorkan ke sebelah piringnya.
'Maafkan aku.'
Kenapa-kenapanya si pirang tak menggunakan bahasa jari, tentu sudah terjawab di masing-masing individu: bukan waktu yang tepat untuk melakukannya.
Mikasa ingin menyanggah kata maaf dari adiknya itu. Namun, bibir si obsidian masih terlalu kelu untuk digunakan berbicara dengannya.
Selang beberapa detik, Armin menggeser kertas lain. Kali ini isinya lebih panjang.
'Sungguh aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dadaku panas. Jantungku berdegup cepat. Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti, kenapa aku melakukan itu semua padamu. Aku tahu kau pasti menganggapku aneh, makanya kau menghindariku. Tapi aku tidak menyalahkanmu berbuat begitu. Kau tak salah. Akulah yang salah.'
Sang kakak agak terkejut atas pengakuan adiknya itu—sekaligus terenyuh. Gadis itu melirik ke sebelahnya. Si pirang sedang bersiap untuk menulis lagi. Tangannya tampak gemetaran memegang alat tulisnya itu.
"Armin..."
Yang dipanggil tersentak kaget setengah mati, sehingga menjatuhkan pulpen yang digenggamnya ke lantai. Armin—dengan panik—membungkukkan tubuhnya untuk mengambilnya. Tetapi, kedua pundaknya buru-buru Mikasa tahan dan membuat setengah tubuhnya berhadapan dengan kakaknya. Wajah memerahnya berusaha menghindari tatapan si surai legam itu. Namun tangan kanan Mikasa segera menangkap dagunya, meminta perhatian adiknya.
"Dengar, Armin. Berhentilah terus-terusan merasa bersalah! Aku tidak menganggapmu—" Ucapan Mikasa yang setengah berteriak terputus ketika ia melihat iris sebiru lautan di depannya seolah siap menelan dirinya hidup-hidup kapan saja.
"—aku tidak menganggapmu bersalah..." lanjut Mikasa cepat-cepat melepas jemarinya dari dagu sang adik. Sebenarnya agak kaget juga dirinya dapat berbuat begitu pada Armin. Semua terjadi begitu cepat hingga ia tak menyadarinya.
Baik si kakak maupun adik saat itu juga segera melempar pandangan ke arah lain setelah mereka sadari wajah mereka terasa direbus dalam suhu lebih dari 100 derajat Celsius.
Gadis obsidian itu cepat-cepat meneguk gelas satunya yang berisi air putih, lalu beranjak dari kursinya.
"Maaf..." Mikasa mengangkat piring dan gelasnya, dan bergegas ke arah dapur untuk mencucinya.
"Armin..." Langkahnya terhenti sejenak—tanpa memandang yang diajak bicara. "Apakah...akan terus begini..?" lanjutnya lirih, kemudian kembali melangkah. Si pirang menatap sarapannya dengan pandangan kosong. Ia meletakkan pulpen yang baru berhasil diangkutnya dari lantai, lalu memakan apa yang ada di sana tanpa bisa menikmatinya sama sekali. Jaringan otaknya seolah telah berubah menjadi benang kusut setelah mendengar sederet kalimat barusan.
.
.
.
Tak menunggu lama, Armin menyelesaikan kegiatan sarapannya. Ia menyusul ke dapur untuk turut mencuci alat makannya—agak takut-takut, karena ia tahu Mikasa belum pergi dari sana, masih mencuci bekas-bekas alat makan di acara barbeque semalam.
"Kemarikan," ucap Mikasa datar—menyodorkan sebelah tangannya tanpa menoleh. Armin menurut saja, ia berikan piring dan gelas bekas sarapannya pada gadis itu. Dan tangan Mikasa mencucinya sangat perlahan, seakan ingin mengulur waktu sampai adiknya itu pergi dari belakangnya. Tetapi, sampai selesai dalam urusan mencuci piring dan mengelap tangannya pun, Mikasa dapat merasakan bahwa si blonde tak kunjung meninggalkan tempat itu. Gadis itupun menghela napas dan berbalik badan seraya membuka mulutnya,"Apa yang kau—"
Tak ada.
Mikasa tak melanjutkan kalimatnya setelah ia mendapati tak ada siapapun di belakangnya. Tak ada Armin di sana. Hanya perasaannya yang sedari tadi memberi informasi yang salah. Tentu saja, memangnya apa yang adiknya lakukan dengan berlama-lama menungguinya mencuci piring? Ditambah lagi, keadaan mereka sedang luar biasa canggung begitu.
Tiba-tiba saja, dalam kepala Mikasa terbayang kembali suasana sarapan tadi. Tepatnya saat ia melihat adiknya menulis di atas meja. "Uh..? Tadi...ke mana perbannya menghilang..? Walaupun sudah dilepas...kenapa tidak ada bekas luka di manapun? Apa sebenarnya yang terjadi pada tangan dan kakinya? Apakah luka dalam?" gumamnya panjang. Ia mulai khawatir, kalau-kalau Armin mengalami sesuatu pada tulang dan persendiannya... Ah! Semoga tidak seperti yang kubayangkan!
.
.
.
Tak lama, Mikasa mendengar bunyi pintu depan dibuka, kemudian ditutup kembali perlahan. Disusul suara langkah kaki yang semakin menjauh. Apakah Armin pergi? Ke mana?
Sang kakak segera melangkahkan kakinya ke arah ruang tengah. Dan di sana ia mendapati benda tipis, tergolek di atas meja. Bisa disebut, itu adalah kertas yang terlipat rapi. Tangan Mikasa segera menyambar benda tersebut seraya mengerutkan keningnya, dan membuka lipatannya. Rupanya terdapat tulisan di dalamnya. Tulisan tangan adiknya.
'Aku pergi part-time. Kembali sekitar jam 3. Tidak perlu berdagang delima lagi, aku selalu menyetorkannya pada pedagang buah di pasar.'
Oh. Benar apa yang dikatakan Eren. Adiknya itu sekarang langganan menyetor panen buah delima mereka pada pedagang buah di pasar.
Lalu..?
Apa yang dapat ia lakukan sekarang?
Mikasa tampak berpikir keras. Jari-jarinya memainkan kertas yang digenggamnya.
Mungkin dirinya dapat turut mencari pekerjaan part-time. Ya. Bisa saja, sih. Lagipula, ia 'kan belum bertemu dengan teman-temannya yang lain semenjak kemarin. Ia baru bertemu dengan Eren, Marco, Jean, Sasha, dan Christa. Kata mereka, yang lainnya mengaku tak dapat hadir dalam perjamuan semalam karena sibuk membantu orangtua mereka mempersiapkan festival musik tahunan.
Mikasa segera mengambil sepatunya. Ia berpikir, mungkin setidaknya ia dapat turut membantu kesibukan mereka di alun-alun.
Atau—mungkin ia dapat mencari tahu tempat-tempat Armin bekerja paruh waktu.
Ah. Tunggu dulu.
Bukankah itu saat yang tepat baginya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada tangan dan kaki adiknya? Mungkin ia dapat menemukan sesuatu di kamar pemuda itu. Secara tiba-tiba, terbesit cetusan itu dalam kepala si kakak. Ia pun melepas sepatunya kembali dan mengarahkan pandangannya ke sebuah pintu bercatkan warna cokelat yang agak jauh letaknya dari situ—pintu kamar si adik, tentu saja.
"Sebentar saja..." gumam Mikasa melangkahkan kakinya menuju tempat yang dimaksud. Gadis itu berlari kecil dan berhenti di depan pintu itu. Tangannya mengecek kenopnya, yang ternyata tak terkunci. Ketika ia membukanya, semerbak aroma asing menerobos indra penciuman Mikasa. Ah, tidak. Tidak asing. Hidung gadis itu pernah mengendus bau serupa, entah di mana. Mikasa membuka benda kayu itu lebih lebar. Pemandangan ruangan di hadapannya agak berbeda dengan empat tahun yang lalu.
Sebuah kamar mungil—ya, Mikasa tahu luasnya memang tak seberapa. Kasur berukuran sedang, meja kayu dan kursi, serta sebuah lemari pakaian—Mikasa juga tahu itu. Mata si gadis bersyal merah itu menangkap beberapa—atau mungkin lebih dari beberapa—benda yang dirasanya asing.
Sebut saja benda itu 'buku'.
Buku di mana-mana. Tebal, tipis. Besar, kecil. Berjajar rapi di atas meja, ada yang bertumpuk di sandaran jendela, beberapa berserakan di setiap pojok ruangan, dan ternyata tidak sedikit yang teronggok di bawah kasur. Saking banyaknya, sampai-sampai Mikasa menyempatkan dirinya untuk mendongak ke langit-langit ruangan—yah, siapa tahu ada buku yang juga menempel di sana, walaupun mustahil, memang. Eh? Jadi sekarang adiknya seorang kutu buku? Mikasa tak mempermasalahkannya, sih. Malahan, ia mulai terpikir rencana untuk membelikan adiknya itu sebuah rak buku. Dan gadis itu baru mengingat bau aroma yang mengelilinginya saat itu—bau yang sama persis pada saat ia berada di perpustakaan kota dulu.
Oh, hampir terlupa olehnya rencana awal ia ke tempat itu. Ia ingin mencari petunjuk mengenai persoalan perban Armin.
Mikasa memulai dari lemari pakaian di sebelahnya. Saat dirinya membuka lebar pintu lemari, alangkah terkejutnya gadis itu. Ternyata puluhan buku juga bertumpuk di sana, hampir menutupi isi asli lemari tersebut. Mungkin nyaris menguasai seluruh isinya. Hei, ini gila...
Dan sang kakak jadi kesusahan untuk mencari tahu di sana karena buku-buku itu. Jadi, ia memindahkan buku-buku itu sejenak ke lantai terdekat, lalu memeriksa setiap ruas lemari di depannya. Mikasa segera menemukan satu petunjuk di dalam situ.
Segulung perban. Tapi, perban itu agak aneh—karena teksturnya sedikit tebal. Mikasa mengurut dagunya. Dahinya berkerut, tanda sedang berpikir.
Sebenarnya adiknya itu menderita sakit apa? Tidak parah 'kan? Lalu, kenapa hari ini ia tak memakainya? Seolah hanya mainan yang sebentar-sebentar dipakai, sebentar-sebentar tidak. Agak aneh. Atau Mikasa saja yang ketinggalan jaman di mana para anak muda memiliki tren baru menggunakan perban? Hah?
Mikasa kembali mengobrak-abrik isi lemari itu. Tetapi, tak ada benda yang dirasa pantas ia jadikan petunjuk lagi. Ia menghela napas. Yah, mungkin ia juga harus memeriksa laci mejanya juga. Atau kolong kasur. Gadis itu pun mengembalikan buku-buku yang tadinya mendiami lemari tersebut, dan menutup kembali pintunya.
Gadis surai hitam itu boleh kaget atas jumlah buku milik adiknya yang hampir menginvasi ruangan itu. Tetapi ia lebih kaget lagi setelah menarik laci meja di sana. Bukan karena isinya—yah, ia tidak heran lagi jika laci-laci pun ikut dipenuhi buku. Ya, setidaknya Mikasa belum sempat merogoh laci tersebut. Kronologinya adalah, Mikasa menarik laci meja, kemudian tangan kanannya sudah bersiap untuk mengeluarkan buku-buku yang menutupi isi lainnya di sana, namun jemarinya segera tercekat. Nah, pada saat itulah gadis itu boleh kaget berkali-kali lipat dari rasa kagetnya terhadap jumlah buku di ruangan itu.
"A—Armin..?!" serunya setelah menoleh ke belakang. Di sana, Armin berdiri setengah membungkuk sambil masih mencengkeram pergelangan tangan kakaknya untuk mencegahnya merogoh lacinya tadi. Sekalinya si pirang itu melepaskan cengkeramannya pun diiringi dengan gerakan menghempas. Alisnya berkerut, kedua matanya menyipit, bibirnya melengkung ke bawah dengan ekstrimnya.
Sang kakak langsung tahu, adiknya itu pasti sedang kesal. Kenapa? Tentu karena Mikasa mengutak-atik isi kamarnya.
Kenapa Armin bisa ada di sini? Bukankah ia tadi sudah—AH! Bukan itu! Sial! Sekarang malah dirinya membuat si blonde marah padanya!
"A...anu... maaf, Armin...aku..."
Tanpa mempedulikan kata-kata kakaknya, pemuda itu mengambil bungkusan berwarna putih tulang di atas meja dan bergegas keluar. Tampaknya ia kembali karena lupa membawa barang itu. Armin melirik tajam pada Mikasa sebelum membanting pintu. Gadis beriris hitam itu sempat mengejar langkah adiknya, namun terhenti setelah pintu di depannya ditutup kasar. Selang beberapa detik, terdengar kembali bunyi pintu depan yang dibuka dan ditutup kembali. Kali ini bunyinya terdengar keras karena ditutup dengan bantingan.
Rupanya adiknya marah sekali, ya... Ah, Mikasa jadi serba salah telah lancang. Tentu saja, remaja seusia mereka membutuhkan privasi, Mikasa!
Kini, hatinya bertambah gundah. Kenapa di saat begini?! Rasanya ia ingin mengubur dirinya hidup-hidup saja saat itu juga.
Mikasa ingin menyusul Armin dan meminta maaf padanya berkali-kali. Tetapi—
—gadis obsidian itu terlalu takut padanya.
Yang ia hadapi bukanlah adik kecilnya yang dulu. Adiknya yang sekarang terlalu—
—menyeramkan.
.
.
.
"Eh, eh, Mikasa. Sedang jalan-jalan?" Yang ditanya menoleh ke arah kirinya. Mikasa baru menyadari bahwa sedari tadi langkahnya diikuti oleh si gadis rakus asal keluarga Braus.
"Yaah..." jawabnya singkat.
"'Yaah' apa? Hei, kenapa kau murung begitu?" balas Sasha yang disusul oleh kedua jari telunjuknya yang sekonyong-konyong menarik kedua ujung bibir teman di sebelahnya ke atas, berharap ia tersenyum. Namun, sayang tak berhasil.
"Eh, hei. Kita ke kafe di kota, yuk!" hibur si brunette. Mikasa tak menjawab apa-apa, tapi membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh gadis itu.
.
.
.
"Yang itu, Mikasa. Ayo!" Sasha masih saja menarik-narik tangan Mikasa—yang sebenarnya sedang malas ke tempat ramai. Apalagi kafe. Banyak orang yang mengobrol dengan teman-temannya di sana, pasti.
Saat memasuki halaman kafe, terdengar sapaan salah seorang pelayan.
"Selamat pagi, nona-nona cantik." Suara yang tak asing.
"Yo! Pagi, Jean!"
Mikasa melengos. Oh, Sasha mengajaknya ke kafe tempat Jean bekerja, ya?
Terserahlah.
Setelah itu, Sasha segera menempati meja yang masih kosong di sana. Si gadis kuncir ekor kuda itu menarik Mikasa duduk di kursi yang berseberangan dengannya.
"Kau mau pesan apa, Sasha? Jangan banyak-banyak, lho. Malu-maluin aja."
"Huh, Jean, beraninya kau pada pelanggan!"
Dan terjadilah cekcok mulut ala pasangan itu, sampai akhirnya mereka kelelahan sendiri.
"Sudahlah, Sasha! Aku harus ke dapur lagi! Cuma satu porsi pancake, 'kan?"
Sebenarnya gadis itu ingin memesan lebih, namun segera Jean bungkam mulutnya dengan roti sisa yang sedari tadi ia bawa.
"Ng...Mikasa, kau pesan apa?" Pemuda itu sampai harus dua kali mengucapkannya untuk menyadarkan Mikasa dari lamunannya.
"Eh...aku...sama saja kayak Sasha, deh..."
Jean dan Sasha melirik satu sama lain. Dan keduanya sama-sama mengerti apa yang mereka maksud. Berhubungan dengan kejadian malam silam.
"Hei, kalian sedang apa? Mengobrol apa?" Terdengar suara yang tak asing pula dari belakang Jean. Seorang pemuda yang berseragam sama dengan kekasih Sasha itu.
"Eh, Marco... Tidak... Ini, Sasha memesan..."
"Lho, ada Mikasa. Kau mau bertemu Armin? Dia jarang keluar, soalnya cuma bertugas bantu-bantu di dapur."
Ada petir menyambar di pagi itu. Bukan petir dari langit. Bukan. Melainkan petir imajiner yang berada dalam kepala Mikasa. Dan matanya pun membulat.
Apa?! Armin bekerja di situ?! Dirinya harus cepat-cepat pergi dari situ!
GRAAAKK.
Mikasa buru-buru beranjak dari kursinya. Ia ingin segera lari dari situ. Namun, tangannya cepat-cepat Sasha tahan.
"Mikasa! Tunggu!"
"A...aku mau pulang... Ada yang harus kukerjakan..."
"Setidaknya kita makan dulu di sini—"
Mikasa yang terlanjur tenggelam dalam perasaannya yang kacau, dengan gusar menarik tangannya dari genggaman Sasha dengan kasar.
"SUDAH KUBILANG 'KAN?! AKU HARUS PULANG! KAU MAKAN SAJA SENDIRI, SASHA!"
Teman-temannya itu mematung, kaget juga seorang Mikasa yang kalem saat itu tengah membentak seseorang sekencang itu. Setelah itu, seisi kafe juga segera berubah sunyi. Semua pengunjung yang ada di sana teralihkan perhatiannya pada sumber teriakan tadi. Beberapa karyawan berhamburan dari arah belakang, penasaran apa yang sedang terjadi di lahan bisnis mereka.
Sebelum Mikasa berlari meninggalkan tempat itu, ujung matanya sempat menangkap sosok tak asing berdiri di antara kerumunan karyawan di sana. Benar, itu adiknya. Dan itu membuatnya semakin menguatkan tekad untuk berlari kencang dan lebih kencang lagi, sampai akhirnya menghilang dari pandangan setiap pasang mata di situ. Kemudian kafe pun kembali ramai oleh ocehan pengunjung. Hanya beberapa pelayan yang bergumam mengenai kejadian tadi pada rekan-rekannya.
"Ah, pengunjung merusuh toh... Kukira apa..."
"Huh, apa-apaan orang itu... Dia kira ini lapangan?"
"Mungkin orangtuanya tidak mengajari sopan santun, ya!"
"Hahaha! Bukan mungkin lagi! Pasti! Tak berpendidikan! Begitulah ciri-ciri orang gagal—"
BUGGGH!
Sebuah tinju menghantam wajah siapapun itu yang melontarkan kalimat terakhir hingga si pemilik wajah terjatuh, lalu teman satunya segera menghampiri. Marco yang baru sampai di tempat kejadian segera mengunci tubuh pelaku kekerasan barusan dengan kedua lengannya, sebelum yang bersangkutan melancarkan serangan berikutnya.
"Hentikan! Armin! Ini hanya akan memperbesar masalah! Kalian! Berhentilah membicarakan keburukan orang!"
Siapa yang tak tersinggung jika ada yang mencemooh orang yang mereka sayangi? Tak terkecuali pemuda bersurai pirang itu.
"Akh! Apa-apaan kau, Marco... Kenapa kau membela anak baru ini? Dia belum ada setahun di sini!"
"Bukan masalah membela! Namun, mulut kalianlah yang harus kalian jaga!" Marco mendengar deru napas Armin yang naik turun tak beraturan, sebuah sinyal kemurkaan. "Armin, tenanglah! Jangan biarkan emosi menguasai dirimu!" ucap pemuda itu masih memegangi si blonde—setengah terkejut temannya itu main tangan pada orang. Itu kali pertama ia melihatnya.
"Apa masalahmu, Ackerman?!" teriak rekan kerja mereka memegangi pipinya yang mulai memar.
Armin berusaha melepaskan diri dari Marco. Tadinya agak sulit memang, tetapi toh akhirnya berhasil, karena berkat tubuhnya yang lebih kecil dari pemuda itu, ia dapat meloloskan diri dari teknik penguncian seorang Marco Bodt. Korban tinju tadi sempat mundur beberapa langkah dibantu temannya, bersiaga kalau-kalau disarangkan tinju lagi oleh si pirang. Namun, Armin tak menghiraukan mereka lagi. Ia segera berlari keluar kafe menyusul Mikasa setelah melepas dan menyerahkan celemek putihnya pada sahabat Jean itu asal-asalan. Entah untuk apa ia mengejar kakaknya, tapi ia merasa ia harus melakukannya.
"Cih! Apa masalahnya sih?!"
"Gadis tadi itu Mikasa. Mikasa Ackerman. Kakaknya. Yang kalian olok-olok tadi," sahut Marco dengan sedikit nada sindir, seraya berjalan ke meja tempat sepasang kekasih tadi yang masih beku di tempat perkara teriakan Mikasa tadi. Beberapa karyawan yang ditinggalkannya hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka sambil berdecak.
"Marco, Armin barusan—?" sambut Jean yang pertama kali menyadari kedatangan sahabatnya itu. "...Mengejar Mikasa..?" sambung si gadis Braus.
"Semoga... Dan semoga mereka segera menuntaskan masalah mereka..." Jean dan Sasha mengangguk mengiyakan perkataan pemuda itu.
.
.
.
Setelah berlari cukup jauh, Mikasa mengurangi kecepatan langkahnya. Isi kepalanya terasa berantakan. Di saat begitu, dirinya ingin sekali pergi mengasingkan diri dari keramaian. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk menenangkan diri di tepi danau yang sebenarnya terletak lumayan jauh dari pemukiman. Biasanya, hanya ada beberapa orang yang memancing ikan di sana.
Sesampainya di danau yang dimaksud, Mikasa menghempaskan dirinya di hamparan rumput bagaikan karpet hijau yang tebal. Maniknya memandang lurus ke arah langit, tepatnya ia memandangi gumpalan putih berbagai bentuk di sana.
"Kenapa aku berteriak segala tadi..?"
Lalu menggulirkan tubuhnya ke kiri. Matanya kini berseberangan dengan rerumputan di sana. Lama sekali, hingga akhirnya tak ia sadari kelopak matanya menggelincir ke bawah, dan membawanya ke alam mimpi.
Tetapi, gadis itu tak dapat berlama-lama menikmati lelapnya, karena beberapa saat kemudian ia merasakan gemerisik rumput di dekatnya. Mikasa membelalakkan matanya. Ia tak berani berkata apapun, yang ia pikirkan saat itu adalah 'cepat pergi dari tempat itu'. Segeralah ia beranjak dari posisi tidurnya, bersiap untuk berlari lagi. Namun, apapun atau siapapun yang menyebabkan bunyi gemerisik tadi, berhasil menangkap pergelangan tangan kiri Mikasa. Gadis itu hanya dapat pasrah dan memasang wajah horor. Posisi tubuhnya sangat tanggung saat itu.
"Bagaimana...kau bisa tahu...aku di sini—Armin..?!" tanya Mikasa dengan suara bergetar. Sosok yang tengah terduduk dengan masih sambil menahan usaha kabur si gadis obsidian menatapnya dengan alis turun, seolah menunjukkan bahwa ia tak suka oleh tindakan kakaknya saat itu, ia ingin kakaknya terus di situ. Mikasa sangat mengerti itu, maka dari itu ia terpaksa membatalkan niatannya untuk lari dari situ. Ia menempatkan bokongnya di rerumputan tepat di sebelah sang adik. Saat melepaskan genggamannya, tak diduga, Armin menenggelamkan kepalanya di pundak Mikasa. Dan perlahan kedua tangannya menggapai punggung gadis itu, sehingga menghilangkan jarak di antara mereka.
"A—apa yang— Bu—bukankah kau...kau seharusnya sedang...sebal—marah padaku..?" Mikasa menanggapinya takut-takut, sebelum sebuah gelengan terasa di pundaknya. Setelah itu, disusul oleh gerakan jari yang dikenalnya di punggungnya. 'Bahasa jari' mereka.
'Aku cuma—' Jari itu terhenti sejenak.
'—tidak mau kau melihatku berbeda... Karena kau pasti menganggapku aneh setelah melihat keadaan kamarku—'
"Ti—tidak kok—! Aku tid—"
'Aku tidak pernah berharap aku berubah... Aku ingin seperti adikmu yang kau kenal dulu! Aku tidak mau...kau melihatku seperti ini!'
Ah.
Si pirang berhasil membaca pikirannya.
Mikasa terdiam cukup lama, menatap ke arah danau, walaupun tak ada objek yang benar-benar ia perhatikan di sana. Ia hanya sedang tak tahu harus memandang ke arah mana saat itu. Sedangkan pemuda di depannya mempererat dekapannya. Lalu, yang didekap pun menghela napas. Apa yang ia bingungkan selama ini? Adiknya selalu berada di sisinya. Ya, adik kecil yang manja padanya. Berubah fisik tak jadi masalah, Armin tetaplah Armin. Jemari Mikasa menyisir rambut pirang kecokelatan milik sang adik. Warna dan tekstur yang sama dengan surai ibu mereka.
"Armin... Dengarkan aku, Armin..." Yang disebut namanya masih dalam posisi awal. "Kau tahu, Armin? Semuanya butuh perubahan. Manusia maupun alam ini berubah. Aku pun pasti berubah, bukan? Sejak awal, kau tidak sendirian. Semua tumbuh bersamamu."
'Kenapa...begitu..?'
"Apanya yang 'begitu', Armin?" Sang kakak mengerutkan dahinya, walaupun ia tahu adiknya itu tidak melihatnya.
'Kenapa Mikasa beranggapan begitu?! Bukankah perubahan ini...menakutkan?'
"Eh..?"
Mikasa cukup tersentak kaget karena gerakan jari berikutnya terasa kasar dan penuh emosi, seolah sedang membentaknya. Ah, bukan 'seolah', tetapi sang kakak tahu, bahwa kali itu adalah sebuah bentakan.
'AKU TAKUT BERUBAH! KENAPA MIKASA TIDAK MENGERTI?!'
Sebelum isyaratnya sempat dibalas, Armin melepaskan pelukannya dari kakaknya dan cepat-cepat pergi meninggalkan gadis itu.
"Armin!" seru Mikasa berusaha menghentikan lari adiknya, yang sayangnya sama sekali tak ditanggapi oleh yang bersangkutan. Gadis itu merapatkan syal merah pada wajahnya. Pandangannya ia rendahkan. Tangannya mencabuti rumput-rumput di sekitarnya.
"'Kenapa'...katanya..?" gumamnya pelan. "Tentu hanya karena aku ingin menghiburmu, Armin..."
Ya
'Hanya'
Aku pun membohongi isi hatiku sendiri...
Sebab—
—sebab aku juga takut akan perubahan ini...
.
.
.
- TBC -
Beneran dah multichap :v
Berasa galau ni anak-anak, dasar remaja _(:3_
Iiiihhh saya kok ikut galau #apa
Homina homina hominaaaaa #bertapa buat chapter depan
Seperti biasa, makasih dah mampir...dan baca
Mind to review? ^^
