Summary : aku tidak pernah mengagumi gadis lain seperti aku mengaguminya… dengan segala kelebihannya… dia mampu melakukan apapun… ya, apapun itu termasuk memikat hatiku. Ah…aku seperti punguk merindukan rembulan, dia terlalu sempurna untukku..

.

.

.

Author: Juzie chan

Disclaimer : seperti biasa…Kubo-chan #plakk# Kubo-san maksudku *sambil cengengesan.

Pairing : IchiRuki, slight Ichicand, ichihime, ntar dipikir lagi Ruki mau dipairing sm siapa. Bagusnya sm siapa ya?

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, tidak masuk di akal, hina, menjijikkan, menjemukan, membuat mual, bete, bibir pecah-pecah dan susah buang air besar dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

.

.

.

CH 2

.

.

.

TING TONG…

Dengan terhuyung-huyung Isshin menuruni tangga, efek tuak semalam ternyata belum hilang rupanya dan ternyata di rumah ia hanya sendirian. Kedua putri kembarnya, Yuzu dan karin sudah tidak nampak lagi di rumah. Sepertinya mereka sudah berangkat kuliah.

TING TONG…

"Sabar sabar!" seru Isshin, ia membuka pintu dan nampak pria berambut kuning bertopi strep-strep hijau putih dan mengenakan kimono hijau. Pria yang bersamanya, menemaninya minum semalam, sahabatnya bernama Urahara.

"Halo Isshin…" sapa Urahara begitu pintu terbuka, "aku ke sini untuk melihat keadaanmu."

Isshin langsung mempersilahkan masuk sahabatnya itu. membuatkannya teh dan menyediakan kue-kue ringan.

"Apa kau tidak ke rumah sakit, Isshin?" tanya Urahara ketika Isshin sudah duduk di sofa.

"Mungkin hari ini tidak…" sahut Isshin, "kepalaku berat sekali…aku juga sudah menelfon rumah sakit dan mengatakan aku sedang tidak sehat."

"Oh…" ujar Urahara, "hm…lalu…dimana putramu itu?" tanya Urahara sambil hendak meneguk teh-nya.

Isshin malah mendecak. "berandalan itu sudah masuk penjara."

Prooooooooooott

Urahara langsung menyemburkan semua teh yang ada di mulutnya.

"Ichigo masuk penjara?" tanyanya dengan ekspresi yang agak berlebihan.

"Ya…sudah dua malam dia ada di sana…"

"Memangnya…apa yang anak itu lakukan?" tanya Urahara, masih terheran-heran, "bukan kamu kan yang membawanya ke penjara?"

Isshin mengernyit. "tentu saja tidak!" sahutnya, "dia masuk penjara karena sudah melakukan keributan di bar…dan juga…dia memukul dua orang di sana…salah satu yang dia pukul adalah seorang gadis…"

"Gadis?" Urahara terkejut. Ichigo memukul seorang gadis? Itu benar-benar sangat keterlaluan, pantas saja semalam Isshin terlihat murka, batin Urahara.

"Ya, dia memukul seorang gadis," terang Isshin kembali, "aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan…aku bisa saja mengeluarkannya dari sana tapi aku benar-benar kecewa dengan anak itu."

"Isshin…" gumam Urahara, "tapi…Ichigo itu adalah ahli waris Kurosaki Group dan seharusnya umur dia sekarang sudah bisa mengambil alih perusahaan… bagaimanapun dia tidak bisa berada di penjara, seharusnya kita mempersiapkan anak itu agar bisa memimpin perusahaan…" Urahara mengingatkan Isshin.

"Mau bagaimana lagi, Kisuke?" Isshin malah terlihat bingung sendiri, "aku juga tidak bisa membiarkan Ichigo yang sekarang memimpin perusahaan Kurosaki…yang ada dia akan menghancurkannya."

Urahara merenung sejenak. Selama ini yang mengurusi perusahaan Kurosaki adalah dia dan sahabatnya Shihoin Yoruichi, tapi bagaimanapun perusahaan itu harus memiliki pemimpin demi mengembangkan bisnis Kurosaki. Tanpa pemimpin… perusahaan itu hanya akan berada di situ-situ saja sementara perusahaan saingan sudah berkembang pesat. Tidak bisa dibiarkan, Ichigo harus segera keluar dari penjara.

"Ah…aku tahu bagaimana merubah anak itu!" seru Urahara tiba-tiba.

"Hah? kau punya cara?" ujar Isshin bertanya-tanya.

Urahara mengangguk penuh keyakinan. "Mungkin Ichigo menjadi berandalan karena di sekitarnya penuh dengan berandalan," ucapnya, "tapi, jika di sekitar Ichigo adalah orang-orang hebat, orang yang berambisi dan para pesaing…kurasa Ichigo akan beradaptasi dan termotivasi."

Isshin mengernyit, tidak begitu mengerti maksud sahabatnya itu. "maksudmu…Ichigo dipekerjakan di perusahaan?" tebaknya.

"Yup, benar sekali!" seru Urahara sambil mengangkat telunjuknya dengan semangat.

"Kau ini bercanda ya? Ichigo yang sekarang malah akan menghancurkan perusahaan Masaki jika memimpin perusahaan!"

"Hehehehehe…" Urahara malah cengengesan, "Ichigo memang akan kita pekerjakan di perusahaan…tapi bukan di Kurosaki Group."

"Lantas?"

"Ichigo akan bekerja di perusahaan lain…perusahaan yang penuh dengan orang-orang hebat seumurnya…agar dia bisa belajar…"

.

.

.

Setelah mendengar penjelasan Urahara, Isshin seperti kembali memiliki secercah harapan. Segera ia menghubungi pengacara keluarga Kurosaki untuk mengurus pembebasan putranya lalu ia menuju ke penjara.

Kini Isshin bersama Ichigo, duduk berhadapan sambil saling melemparkan tatapan tajam. Yang Isshin kesalkan dari Ichigo, yaitu tatapan anak itu ternyata tidak memiliki penyesalan sama sekali atas tindakannya.

"Apa ayah datang ke sini untuk memukuliku lagi?" Ichigo bertanya dengan tajam.

"Apa kau ingin keluar dari sini?" Isshin malah melemparkan pertanyaan.

Ichigo mengernyit. Apa maksud ayahnya? bukankah kemarin jelas-jelas ayahnya mengatakan tidak akan membantunya keluar dari penjara lalu…kenapa ayahnya malah bertanya seperti itu?

"Tentu saja aku ingin keluar dari sini!" sahut Ichigo tegas.

Isshin lalu melempar map ke meja, tepat di depan Ichigo. "Baca itu!" perintahnya, "ayah akan membantumu keluar dari sini…tapi kau harus menandatangi perjanjian itu!"

Segera Ichigo mengambil map itu, membukanya dan membacanya dengan seksama. Ada beberapa point isi perjanjian tersebut, antara lain:

1. Tidak melakukan keributan di tempat umum

2. Tidak melakukan kekerasan tanpa alasan jelas

3. Tidak menyentuh wanita, dalam hal melakukan kekerasan fisik

4. Bersedia mengikuti kegiatan apapun yang Kurosaki Isshin perintahkan

5. Bersedia bekerja keras

6. Tidak menggunakan nama Kurosaki sebelum Kurosaki Isshin mengizinkan.

Ichigo tertawa geli begitu membaca point kelima dan keenam. "Apa ayah serius mau mempekerjakan aku di perusahaan ibu?"

"Siapa bilang kau akan bekerja di sana?!" seru Isshin tajam, "kau akan bekerja di tempat lain!"

Ichigo mendengus. "Lalu…apa maksudnya point keenam ini? tidak menggunakan nama Kurosaki? masa iya namaku cuma Ichigo…"

"Kau akan memakai nama keluarga ayah," kata Isshin serius, "yaitu…Shiba."

.

.

.

Akhirnya Ichigo pun lepas dari penjara. Dan keesokan harinya, perjanjian itu langsung dimulai untuk point keempat, mengikuti kegiatan yang ayahnya perintahkan. Sesuai dengan perjanjian, Ichigo kini berada di halaman kediaman milik keluarga Yamamoto. Ia bersama Urahara, mengenakan kimono rapi berwarna biru gelap, berjalan menuju kediaman seorang bangsawan, Genryusai Yamamoto..

"Shiba-kun~" Urahara tertawa terpingkal-pingkal setelah memanggil Ichigo dengan sebutan "Shiba-kun" dengan tanbahan aksen yang berlebihan.

"Kenapa kau tertawa?" geram Ichigo yang merasa agak risih dengan cara Urahara memanggilnya.

"Hahahahaha…" Urahara tertawa, "aku sangat senang menyebut nama "Shiba" lagi, kau tahu…sudah lebih dua puluh tahun aku tidak menyebut nama itu…hahahahaha."

"Lalu apanya yang lucu?"

"Tidak ada memang…hanya terdengar asing saja…ahahahaha… Shiba-kun~"

"Berhenti memanggilku dengan cara menjijikkan!"

Mereka berdua kini berada di dalam kediaman Genryusai Yamamoto, mengikuti upacara minum teh ternyata. Ini pertama kalinya Ichigo mengikuti acara formal tersebut. kebanyakan pesertanya adalah bapak-bapak dan ibu-ibu, seumuranlah dengan Isshin. Ichigo bingung mengapa ayahnya memerintahkan Ichigo untuk mengikuti upacara tersebut, katanya penting, tapi menurut Ichigo pasti akan sangat membosankan.

"Kenapa lama sekali mulai? Bukannya tuan rumahnya si kakek-kakek botak berjenggot panjang itu? apa lagi yang ditunggu?" bisik Ichigo ke Urahara yang duduk di sampingnya.

"Tunggu pembuat teh-nya toh…"

Tidak lama kemudian seseorang menggeser pintu dan nampaklah seorang pria berkimono hitam berambut putih panjang terurai rapi berwajah tampan dan seorang gadis berambut hitam yang dikonde, berkimono ungu senada dengan warna matanya.

.

.

.

Ichigo's POV

Ada dua orang yang baru datang. Pasti salah satunya adalah si pembuat teh…mungkin pria berambut putih itu. Mereka berdua masuk dan memberi kami salam. Si pria kemudian duduk di samping Urahara dan…yang membuat teh ternyata si gadis kecil itu… Huh, cantik juga dia.

Gadis berambut hitam itu beraksi, membuat teh, aku bingung kenapa membuat teh saja mesti susah-susah seperti ini. Sebenarnya kan cuma tinggal memasukkan ke dalam cangkir kemudian di seduh…selesai sudah. Bikin orang susah saja kalau mesti dengan upacara.

"Shiba-kun…gadis itu cantik ya?" Urahara menanyaku dengan berbisik.

"Biasa saja…" sahutku bergumam.

Aku melihat orang-orang sekeliling. Mereka menatap kagum gadis pembuat teh itu. Aku heran kenapa mereka mesti kagum seperti itu ya? upacara seperti ini kan biasa ditayangkan di TV…apa mereka tidak pernah melihatnya?

Akhirnya proses pembuatan teh yang agak lama itu selesai juga. Semua tamu di sajikan teh hijau dan kue manis. Gadis itu juga memberiku teh.

Urahara menutup mulutnya dengan kipasnya. "Minum tehnya, Shiba-kun~" bisiknya, dia sempat-sempatnya memanggilku dengan nada yang membuatku jijik. Segera aku meneguk tehnya, lumayan karena aku agak haus memang.

"Puah….pahit gila!" seruku. Dan Urahara langsung menyumpal mulutku dengan kue yang benar-benar sangat manis.

"Jaga tingkahmu, Shiba-kun!" Urahara membisikku sambil mengipas-ngipas.

Akhirnya upacara itu selesai juga. Urahara lalu menarikku untuk menemui seseorang. Seorang pria berambut putih yang datang bersama gadis pembuat teh itu.

"Ukitake-san," panggil Urahara ke pria itu, pria itu langsung menoleh. "Ini anak muda yang ingin aku perkenalkan," kata Urahara, "namanya adalah Shiba Ichigo."

Pria bernama Ukitake itu menatapku. Ditatap seperti itu aku juga pasti membalas menatapnya. Tiba-tiba Urahara memegang belakang kepalaku dan menekannya, memaksaku untuk membungkuk.

"Anak ini memang pemalu…ahahahahaha!" seru Urahara sambil tertawa-tawa tidak jelas. "um…lebih baik, kita bicara berdua di luar, ayo!" Ia lalu menarik pria itu ke halaman.

Aku lalu duduk di teras, menunggu Urahara berbicara dengan Ukitake-san. Entah apa yang mereka bicarakan hingga aku seperti tidak boleh mendengarnya. Musim panas hari ini benar-benar luar biasa, aku mengipas-ngipas tubuhku dengan kipas kertasku. Aku lalu melihat-lihat ke dalam ruangan, sepertinya di dalam ada acara yang semacam membuat puisi sastra jepang di selembar kertas khusus yang panjang, dan yang melakukannya itu adalah gadis si pembuat teh. Aku heran sepertinya semua tamu mengangumi gadis itu, padahal kalau dilihat-lihat gadis itu masih sangat muda, entah apa yang mereka kagumi hingga ada yang berbisik-bisik mengatakan ingin sekali mempunyai anak atau menantu seperti gadis itu. Yah…memang sih, gadis itu lebih cantik dari Candice, tapi penampilannya sangat biasa menurutku, dan juga…dia tukang pamer. Aku malas melihat seorang perempuan yang selalu ingin mengumbar kelebihannya.

Gadis itu tiba-tiba menoleh ke arahku, aku cepat-cepat memalingkan pandanganku. Mungkin dia sadar kalau aku terus memandangnya daritadi, tapi ketika aku melirik ke arahnya kembali, gadis itu sudah sibuk kembali dengan para tamu yang lain.

.

.

.

"Ukitake-san…aku meminta bantuanmu untuk mempekerjakan anak muda itu…" ucap Urahara dengan ekspresi serius.

"…tapi aku tidak bisa mempekerjakan seseorang yang tidak memiliki keahlian…" kata Ukitake, "lulus kuliah saja tidak…"

"Maksudku…hanya sekedar mempekerjakan saja… jadi karyawan biasa, walaupun gajinya yang paling rendah asal jangan cleaning service… aku cuma ingin anak itu mengenal lingkungan kerja," ucap Urahara.

Ukitake merasa rada heran dengan sikap Urahara. "Memangnya siapa anak muda itu? kau sepertinya sangat memperhatikannya…"

"Sebenarnya…anak itu adalah anak sahabatku…aku sudah menganggapnya sebagai anak sendiri…"

"Lalu…kenapa kau tidak mempekerjakan anak itu di salah satu perusahaan Kurosaki?"

Banyak tanya juga orang ini! batin Urahara.

"Kau tahu sendirikan perusahaan itu hanya mempekerjakan orang-orang yang sangat-sangat berpengalaman…dan juga seleksi untuk bisa bekerja di sana juga sangat ketat, lagipula Kuro- eh, maksudku Shiba-kun itu kuliahnya tidak selesai dan sama sekali tidak mempunyai pengalaman kerja…kumohon, hanya sekedar mengenal lingkungan kerja agar anak itu bisa belajar…"

Ukitake menimbang-nimbang permintaan Urahara, ia juga tidak enak menolak permintaan Urahara mengingat posisi Urahara yang sangat penting di Kurosaki Group. Dia sangat bisa membantu Ukitake untuk bisa bekerja sama dengan perusahan Kurosaki jika pemimpin Kurosaki telah kembali.

"Baiklah…aku akan mempekerjakannya…" sahut Ukitake akhirnya dan Urahara langsung riang gembira.

"Um…Um…boleh aku meminta tolong lagi…"

"Apa?"

"Tolong, beri kelunakan sama anak muda itu…sebenarnya…anak itu memiliki sifat yang temperamental…"

"Benarkah? Itu sangat bahaya…bagaimana nanti jika dia bermasalah dengan karyawan lain…bisa-bisa terjadi perkelahian."

"Anak itu tidak akan bersikap kasar jika tidak ada pencetusnya…oleh karena itu…tolong pekerjakan dia di bawah atasan yang memiliki sifat yang lemah lembut…oh ya…" Urahara mendekatkan wajahnya ke telinga Ukitake. "Anak muda itu sahabat semasa kecil pewaris Kurosaki yang sedang kuliah di luar negeri itu loh…" bisiknya.

"Benarkah?" wajah Ukitake terlihat bersinar-sinar. Ini adalah kesempatan emas untuk bisa menunjukkan image yang baik bagi calon pemimpin Kurosaki Group. Sudah lama sekali ia ingin menjalin kerja sama dengan Kurosaki untuk bisa keluar dari naungan Kingdom Group, milik Yamamoto dan menjadi perusahaan yang mandiri karena Yamamoto berpendapat bahwa usaha bidang fashion miliknya tidak perlu terlalu dikembangkan.

"Iya…" sahut Urahara, "kalau dia senang berada di perusahaanmu…dia bisa mempromosikan perusahaanmu agar pemilik Kurosaki Group nanti mau bekerja sama denganmu…"

"Oke kalau begitu…"

"Oke! Oke! Deal!"

.

.

.

Mau tidak mau akhirnya Ichigo bekerja juga, sesuai rencana Urahara dan ayahnya. Ichigo bekerja di perusahaan milik Ukitake, Kotowari Fashion, bergerak dibidang fashion dan masih di bawah naungan Kingdom. Di sana memang hanya mempekerjakan anak muda yang memiliki bakat dan kreatifitas yang tinggi.

Ichigo kini duduk di ruang kerjanya yang bersekat-sekat dan gabung bersama karyawan biasa lainnya. Ia duduk dengan kaki diangkat dan disilang ke atas meja. Ia merasa sangat bosan. Daripagi ia hanya berdiam saja, menatap layar komputer yang terus menyala. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, setidaknya mungkin ada seseorang yang bisa membimbingnya.

Seorang gadis berambut coklat pendek dan bertampang polos bernama Ogawa Michiru sedang sibuk mencari-cari orang untuk membantunya mem-fotocopy-kan beberapa file. Kepalanya celingak-celinguk untuk melihat karyawan yang sedang tidak ada kerjaan.

"Ah…sepertinya itu karyawan baru…" gumamnya melihat Ichigo dari belakang yang sepertinya sedang bermalas-malasan, lalu mendatangi Ichigo. "Hei…kamu!" panggilnya, "kau karyawan baru kan? aku mau minta tolong…"

Ichigo menoleh ke arahnya dan ketika Michiru melihat wajah Ichigo dengan alis yang mengerut, siapa saja akan mengira bahwa pria itu sedang marah. Michiru yang memang tidak kuat berhadapan dengan pria pemarahpun langsung ngacir entah kemana.

Ichigo terbengong-bengong melihat tingkah laku gadis itu. "…Bukannya tadi dia memanggilku…" gumamnya lalu kembali bermalas-malasan.

Sekelompok gadis-gadis yang sedang berkumpul menyaksikan kejadian tadi dari jauh.

"Kasihan sekali Michiru…pasti tadi dia dibentak-bentak sama karyawan baru itu…" ucap gadis berambut ikal berkacamata bernama Honshou Chizuru.

"Kenapa memangnya?" tanya gadis berambut pendek ikal dan berdada besar bernama Natsui Mahana.

"Pria itu adalah preman…" kata Chizuru, "aku melihatnya mengamuk di sebuah bar beberapa hari yang lalu, benar-benar mengerikan…."

"Mengamuk di bar?" ujar gadis berambut hitam panjang dan berkacamata bernama Kunieda Ryou.

"Iya... pokoknya pria itu benar-benar mengerikan…sampai-sampai dia memukul wanita…"

"Astagfirullah…" ujar Mahana dan Ryou serentak.

"Lalu…kenapa pria itu bisa kerja di sini?" tanya Ryou.

"Iya…bukannya seleksi karyawan di tempat ini sangat ketat…kan butuh surat keterangan berkelakuan baik!" kata Mahana.

"Entahlah…aku juga tidak tahu kenapa pria itu ada di sini…" gumam Chizuru.

Malang sekali nasib Ichigo, ternyata salah satu karyawan yang bekerja di tempat itu adalah saksi kemurkaan Ichigo di bar. Dan karena gosip begitu cepat beredar kini hampir semua karyawan wanita tahu akan sifat temperamental Ichigo.

Pria berambut coklat sebahu bernama Asano Keigo sedang berjalan berjoget-joget dengan riangnya di dekat Ichigo. Begitu melihat Ichigo ia lalu menyapanya.

"Eh…kau karyawan baru kan?!" serunya, "kalau tidak salah namamu Ichigo!"

Ichigo menoleh ke arah pria itu.

"Ternyata benar kata orang-orang…rambutmu benar-benar berwarna orange!"

Ichigo mendengus mendengar seruan Keigo. Hal yang paling ia benci adalah ketika seseorang mengatakan rambutnya berwarna orange. Bagi Ichigo, rambutnya mau berwarna apa saja itu adalah urusannya dan orang lain tidak perlu mengomentarinya. Tapi…Ichigo harus menahan emosinya, ia ingat betul perjanjian point pertama dan kedua…yaitu…tidak boleh melakukan keributan di tempat umum dan juga tidak boleh melakukan kekerasan.

"Perkenalkan namaku adalah Keigo, Asano Keigo, kau boleh memanggilku Keigo karena ruanganmu tepat di sampingku." Keigo memperkenalkan dirinya dengan heboh. "Dan itu…" katanya sambil menunjuk pria berambut hitam bertampang polos yang sedang sibuk merayu gadis yang lebih tua darinya, "namanya adalah Kojima Mizuiro…kalau kau mengalami kesulitan..kau bisa bertanya dengan kami."

"Oke," sahut Ichigo malas.

Tiba-tiba semua karyawan berdiri. Pemilik perusahaan datang rupanya. Pria dewasa berambut putih panjang, rapi, bertubuh tinggi kurus dan berwajah tampan. Pria itu adalah pria yang dikenalkan Urahara sewaktu di upacara minum teh. Dibelakangnya ada beberapa anak muda yang mengikuti, Ichigo tidak mengenali mereka kecuali gadis bertubuh mungil, berambut hitam pendek sebahu.

Tidak salah lagi, gadis itu adalah gadis pembuat teh, batin Ichigo.

Semua karyawan termasuk Ichigo berdiri dan membungkuk begitu direktur perusahaan, Ukitake Juushiro melewati semua karyawan. Rombongan itupun memasuki suatu ruangan. Mungkin mereka akan mengadakan rapat atau semacamnya.

"Hei…siapa pria bernama Ukitake itu?" Ichigo bertanya ke arah Keigo.

Keigo membelalak menatap Ichigo. "Dia itu direktur di sini, Ichigo!" serunya.

"Oh…" ujar Ichigo dengan polosnya, "Lalu…semua pengikutnya itu?"

"Mereka adalah manajer dari merek-merek produk perusahaan ini Ichigo," sahut Keigo, "mereka itu adalah anak muda yang cerdas dan kreatif, mereka juga andalan di perusahaan ini…"

"Hah? maksudmu, gadis kecil berambut hitam sebahu yang jalan tepat dibelakang Ukitake-san itu seorang manajer juga?" tanya Ichigo tak percaya.

"Maksudmu Kuchiki?" Keigo malah bertanya, "tentu saja…dia itu yang paling hebat di antara semuanya!"

"Benar…Kuchiki-san memang yang paling pintar," sahut Mizuiro, "tidak hanya cerdas tapi dia multitalent…pantas keluarga bangsawan Kuchiki mengangkatnya sebagai anggota keluarga."

"Iya bettol itu!" seru Keigo, "Kuchiki-san…oh Kuchiki-san…andai aku bisa dekat denganmu…" ujarnya menghayal, "tapi tidak mungkin dia melirikku….hiks…"isaknya.

"Hahahahaha…tentu saja!" seru Mizuiro tertawa, "pria yang pantas dengan Kuchiki itu pastilah pria yang hebat dan sebanding dengannya!"

.

.

.

Ichigo's POV

Sumpah aku ingin sekali pergi dari tempat membosankan ini! Aku merasa tekanan darahku meningkat karena terlalu bosan duduk sambil menatap layar komputer. Jam makan siangpun berlalu, selesai makan bersama si bodoh Keigo dan Mizuiro, diam-diam aku bersembunyi di tempat lain. Di suatu ruangan di lantai paling atas. Ada ruangan luas yang sepertinya adalah ruangan yang biasa digunakan seorang pianist pada saat panggung. Lumayan tidak dikunci, aku masuk saja dan tiduran di tengah-tengah bangku penonton.

Aduh…ngantuk juga aku. Aku tidur sebentar, dalam kegelapan hingga suara lentunan piano tiba-tiba terdengar dengan merdu. Apa ada seorang pianist yang memasuki ruangan ini?

Aku mengangkat sedikit kepalaku. Wajah pianist itu tidak terlihat karena terhalang oleh bagian atas piano yang terangkat ke atas. tidak lama kemudian pianist itu…ah sepertinya dia juga adalah seorang penyanyi! Suaranya benar-benar bagus… walaupun aku bukan penyuka musik mellow tapi suara ini benar-benar merdu, ia menyanyikan lagu When I was your man milik Bruno Mars. Suara seorang perempuan…

Aku berusaha agar bisa melihat wajah gadis yang sedang bernyanyi itu dan…

BRAKK

Ponselku jatuh!

Gadis itu langsung menghentikan nyanyiannya. "Siapa itu?!" serunya. Cepat-cepat aku mengambil ponselku dan menyembunyikan diriku di belakang sandaran kursi-kursi yang berdempetan. "Siapa itu? kenapa tidak mau menyahut?!"

Aku mengintip di sela-sela kursi…ternyata penyanyi itu adalah gadis pembuat teh! Kuchiki!

"Siapa?!" bisa kudengar suara langkah kakinya yang mengarah ke arahku. Gawat! Aku harus mencari ide agar gadis kecil itu tidak menemukanku tapi…bagaimana ya? lari dari sini tidak mungkin. Ah…aku punya ide.

"Meong…meong…" aku menirukan suara kucing saja, semoga gadis itu betul-betul mengira aku adalah kucing. "Meong…meong…" aku mengintip gadis itu lagi, bisa kulihat dari sorot matanya…dia tidak percaya bahwa suaraku adalah suara kucing! Gawat! Tentu saja tidak akan ada percaya bahwa suaraku itu betul-betul kucing!

"….oh…Kucing…ya sudah."

GUBRAKK

"Hei, siapa itu?!" gadis itu berseru kembali dan ia melangkah cepat mendekatiku…apa aku harus membiarkan diriku ditemukan dalam keadaan seperti ini? Atau aku langsung menampakkan diriku saja kemudian keluar dari ruangan ini dengan santai seolah-olah gadis itu tidak ada di sini? Bagaimana ini?

.

.

.

To be Continue…

.

.

.

Ternyata banyak tipo ya... :Dsorry teman-temanz juzie ga bisa apdet super duper kilat kaya' jasa ekspedisi kilat satu hari coz juzie sibuk ngurusin debat capres….wkwkwkwkwkwk *ngaco lagi* maksudnya juzie ada kesibukan yg lain…huehehe… paling juga mentok ya…sekali seminggu doank bisanya….itu mayan cepat klo menurut juzie :D , yg penting kn apdet…hehehehehe

Berhubung karena juzie masih tergolong nubie di dunia perfic2-an so…sebenarnya juzie bingung ini genrenya mau bagaimana? sebenarnya fic ini berbau romance-romence gitu cuma…scene romance-nya bakal jarang banget! Mungkin di chap terakhir-terakhir baru ada scene romancenya. Mengingat di sini karakter Ichi yang emosian dan ceritanya nanti mau dibuat cinta terpendam gitu jadi ga memungkinkan buat scene romance yah… romancenya terselubunglah… tipis-tipis gitu… *maksudnya?* ntar juzie digampar ama readers krn ga romance2 banget, makanya ga berani genrenya romance but… kagak ada yang mati koq, ntar jadi genre angs donk atau tragedy kalo mati… :D juzie ga mau buat cerita tragis.

Selain itu mungkin ada hurt-hurtnya juga…cuma konfliknya ya konflik batin gitu…maksud juzie yang dominan…kan konflik fisiknya udah ada di chap awal^^ *aku koq ngomong kagak jelas gini ya?!* paling yang hurt itu ya…Ichi…huahahahahaha…kan yang comfort-nya itu si Ruki…huahahahahaha *ngomong ngaco aja!* tapi ga hurt2 banget juga ah… *bingung ini mau jelasinnya kayak gimana?* tapi hurt juga bakal nongol di belakangan…-_-

Tapi tenang aja…ini ichiruki koq…pokoknya di fic ini Ichi harus mati-matian menyampaikan cintanya tanpa menyatakannya…*maksudnya?*

Untuk sementara drama aja ya…maybe ada saran dari para readers setelah membaca gambaran yang juzie jelasin di atas? Biar bisa dibenerin… Maaf kalo juzie menggambarkannya dengan sangat-sangat kagak jelas.^^

Azura Kuchiki salam kenal azura-san, hehehehe...panggil aku juzie saja ;) hehehe...tengkyu uda baca fic ini ;) ini udah apdet ya...jangan lupa di baca *ting-ting*

15 Hendrik Widyawatitengyu so much ;) yo ai...chara sternritter emang unik2 ya :D. ini uda apdet ;)

arya. salam kenal arya-san, tengkyu udah mampir di fic gaje ini XD. pokoknya ichiruki polepel deh :) ini uda apdet ya^^

darries kan karakter ichi-nya temperamen gitu. ini ruki udah nongol yaw ^^ , hehehehe...ichihime biar menambah variasi dan juga meningkatkan tension para readers #plakk# -_-' knp bisa merinding? hime kan baik orangnya,, oke kemunculan grimjow akan dipertimbangkan huehehehehehe..

Deathberry45 tengkyu... yup juzie juga suka klo ichi temperamen gitu XD daripada jadi cowok sok gantengan. ini udah apdet ya, walaupun ga kilat2 amat...;)

Stefy Mayu salam kenal stefi...oke deh,,ini udah lanjut ya^^ paling cepat bisanya ya apdet tiap minggu -,-, oke2 juzie akan berusaha membuat ichi menderita krn perasaannya. iya bener banget! juzie juga jengkel liat ichi di manganya sekarang, waktu ga punya kekuatan aja sampe mewek2 eh...ingat ruki dia, giliran udah powe up eh...musuh aja yg dijampangin *ngomel2 ga jelas* orihime muncul pakai pakaian seronok lagi! itu maksudnya apa ya? mau goda ichi ama si juha kali ya? atau jangan2 si kubo mau jadiin ichi ama hime lagi? *naudzubillah!* untung aja ichi ga begitu tanggapin tuh hime *eh balik curcul* hehehehe...ini uda apdet ya^^

Guest oke deh...ini udah mayan panjang ya ;) yah walaupun ga panjang2 amat...yg penting kan apdetnya bisa rutin tiap mnggu ^^

Yuki iyya donkzzzzzz, hehehehehe, ini ruki uda muncul koq, selamat membaca!^^