Prince Diary Part 2

.

.

Tittle : Prince Diary Part 2 / End

Author : Rheii Chan

Cast : Jung Jaejoong, Jung Yunho, Shim Changmin dll-.

Genre : Romance, Hurt, Fluff

Lenght : Twoshoot

.

.

Happy Reading ^^


'Cinta itu bukan untuk menyempurnakan, tapi ikhlas menerima kekurangan. Bukan saling melengkapi, hanya saling mengisi'

.

.

Jung Yunho POV

.

.

Sejak kecil aku tak pernah menyukai pesta, tapi pesta kali ini berbeda untukku. Dari kursi kebesaranku dapat kulihat Ahra yang duduk di kursi sebelah kiriku kini tengah tersenyum padaku, Yeoja cantik yang selalu tampak anggun itu sibuk mengusap perutnya yang membesar akibat kehamilannya yang menginjak usia 9 bulan.

Aku membalas senyuman Ahra dengan anggukan kecil lalu segera menolehkan kepalaku ke sebelah kanan di mana seorang namja yang luar biasa cantik bahkan kecantikannya mengalahkan kecantikan seorang Aphrodite sedang memejamkan matanya menikmati alunan dawai indah yang disenandungkan para musisi terbaik Korea yang sengaja didatangkan istana untuk pesta ini.

Aku tak mengharapkan hal apapun lagi selain ini, semuanya sempurna dalam hidupku dan aku merasa menjadi namja paling bahagia di dunia saat ini walaupun kebahagiaan itu harus kulalui dengan jalan yang berliku.

.

.

FLASHBACK

.

.

Aku mengagumi keindahanmu ..

Aku menyukai kepintaranmu ..

Aku mensyukuri kehadiranmu ..

Dan aku mencintai apa adanya dirimu, Kim Jaejoong ..

.

Pagi yang cerah di musim Panas ke 23 dalam hidupku kulalui sedikit berbeda karena kehadiran sosok indah yang kini terbaring di sampingku setiap aku membuka mata. Aku nyaris tak percaya setelah sekian lama aku mengaguminya dari jauh kini aku bisa memilikinya walaupun dengan 'sedikit' paksaan.

Kususuri setiap jengkal wajah indah yang telah mempesonaku sejak 10 tahun yang lalu saat appa dan mendiang haraboji memperlihatkan foto Jaejoong padaku dan memperkenalkannya sebagai calon istriku nanti, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama padanya bahkan cintaku semakin dalam saat kulihat sosok aslinya.

10 tahun kuhabiskan hidupku untuk menjadi stalkernya, melindunginya dari bahaya yang bahkan dia sendiri tak tahu dan mengawasinya tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik, pintar dan penyayang.

Aku terkekeh pelan mengingat pembicaraan pertama kami di pesta Mentri Shim sebulan yang lalu, dia tampak membenciku dan itu membuat hatiku sakit namun di sisi lain aku lega karena pilihanku ternyata tidak salah, Jaejoong berbeda dengan yeoja atau namja cantik lain yang hanya memandangku karena kedudukanku.

"Kau terlihat sangat bahagia Yunho-ah, bahkan senyum bodoh itu tak pernah lepas dari bibirmu sejak tadi pagi" ledek hyungku, pangeran Yong Hwa saat kami baru selesai latihan anggar pagi itu.

"Tak ada satupun alasan yang membuatku tidak bahagia hari ini hyung"

"Dasar pengantin baru, apa kau dan istrimu tak berniat untuk berbulan madu ? kalau iya aku rekomendasikan Bali, disana sangat indah dan kujamin kau pasti puas"

"Ani hyung, Boojae sepertinya tidak ingin berbulan madu"

"Aissh bahkan kau sudah memiliki panggilan yang sangat manis untuknya"

Wajahku memerah mendengar ledekan Yong Hwa hyung tapi seketika berubah murung saat mengingat fakta kalau Jaejoong tidak menyukaiku ah ani, dia membenciku dan tampaknya hyung menyadari perubahan raut wajahku dan menepuk punggungku pelan sebelum berlalu pergi kembali ke dalam Istana.

"Semua sah dalam perang dan cinta Yunho-ah bahkan trik paling licik sekalipun"

Ucapan Yong Hwa hyung saat itu sempat beberapa kali terngiang kembali di otakku namun aku sama sekali tak mengetahui arti kalimat itu, bertanya langsung pun percuma karena hyung hanya akan terkekeh pelan seakan mengejek lambatnya otakku untuk berfikir bila menyangkut Jaejoong.

Kehidupan rumah tanggaku berjalan lancar tanpa hambatan berarti walaupun Jaejoong masih saja bersikap dingin padaku. Aku juga terus berusaha mengambil hatinya dengan bersikap lembut selayaknya seorang suami yang sangat mencintai istrinya.

Kesabaranku akhirnya membuahkan hasil karena Jaejoong mulai menunjukan sedikit perubahan dengan sikapnya yang tak lagi ketus dan kurasakan tatapan matanya pun menghangat padaku walaupun aku masih harus setia menahan hasratku untuk menyentuhnya, hal yang hampir mustahil dilakukan mengingat aku dan istriku yang seksi itu tidur bersama dalam satu tempat tidur.

.

.

**YUNJAE**

.

.

'Namun dalam setiap nafas kehidupan seorang insan pastilah akan ada sebuah tragedi yang hadir mewarnai bagaikan sebuah coretan abstrak dalam sebuah kanvas putih yang makin lama akan menjadi sebuah lukisan indah bila kita mengerti cara melukisnya dengan baik'

Tragedi itu hadir 5 bulan setelah pernikahan kami, kepergian hyung dan istrinya untuk selama-lamanya dalam sebuah kecelakaan pesawat membuat keadaan tak sama lagi bahkan takkan pernah sama.

Aku terpuruk, ingin menangis dan berteriak untuk pertama kali dalam hidupku karena kepergian hyung namun aku harus tetap tegar di hadapan semua orang karena beban berat hyung kini sudah berpindah ke pundakku.

Jaejoong tampak tak menunjukan banyak ekspresi namun ada kesedihan mendalam dari matanya dan pandangannya terhadapku. Entah kesedihan akan kehilangan atau karena tanggung jawab seorang calon Ratu kini disematkan padanya ? aku tak tahu.

"Hyungmu kini sudah tiada Yunho-ah, kini tanggung jawabnya berpindah kepadamu. Siap tak siap kau harus memikulnya" Ucap appa ku saat kami berbicara empat mata di perpustakaan pribadinya malam hari setelah pemakaman hyung dan kakak iparku.

"Aku mengerti appa, aku akan melakukan yang terbaik untuk rakyatku"

"Kau juga harus memberitahu istrimu tentang tanggung jawabnya yang baru sebagai seorang istri calon pewaris tahta kerajaan"

Aku termenung dalam hati, Jaejoong pasti lebih membenciku saat ini karena telah merenggut kebebasannya dan kini mengekangnya dengan aturan yang jauh lebih ketat. Inilah pertama kalinya aku menyesal dilahirkan sebagai anggota keluarga kerajaan.

Kesibukanku sebagai pengganti mendiang hyungku kian padat setiap harinya bahkan kadang aku sampai harus menghabiskan hariku di negeri yang sangat jauh untuk tugas kenegaraan namun hatiku tak pernah menjauh dari istriku sedetikpun.

Perhatianku pada Jaejoongpun tak berkurang sedikitpun karena aku tetap memberinya kecupan di dahi seperti yang biasa kulakukan saat aku pulang maupun pergi untuk melaksanakan tugasku walaupun Jaejoong mungkin tidak menyadarinya karena dia selalu sudah terlelap saat aku pulang dan belum terbangun saat aku pergi.

Akupun tetap memantaunya dari jauh di sela-sela kesibukanku yang menumpuk tanpa sepengetahuan siapapun. Aku sadar kini Jaejoong tampak rapuh, kesepian dan hampir tak pernah lagi tersenyum tapi hanya itulah yang bisa kulakukan saat ini sebagai bukti cinta tulusku untuknya.

Hingga akhirnya suatu hari aku menyadari sesuatu saat aku tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan Junsu, dongsaengnya di telfon.

"Aku baik-baik saja disini Junsu-ah, hanya sedikit membosankan" ucap Jaejoong yang kala itu sedang berdiri menatap taman belakang istana dari balkon kamar kami hingga tak menyadari kehadiranku.

"..."

"Siapa yang menyangka semua akan jadi begini, awalnya akupun mengira kalau setelah menikah aku dan Yunho akan dikirim keluar istana dan aku akan terbebas dari peraturan menyebalkan ini karena peraturan mengatakan tak boleh ada 2 orang pangeran di dalam istana namun tampaknya takdir tak berpihak padaku"

"..."

"Jangankan melanjutkan study dan menggapai cita-cita, untuk keluar dari istana saja harus diiringi sekompi pengawal. Aku lelah Junsu-ah"

"..."

"Entahlah, yang jelas aku menyesal tidak mengikuti saranmu untuk kabur ke luar negeri saat appa harus menjodohkanku dengan pangeran Yunho"

'Menyesal'

Bagai disambar petir saat mendengar istri yang sangat kucintai menyatakan penyesalannya hidup bersamaku padahal aku sudah berusaha selalu menjadi suami yang terbaik baginya.

Akupun langsung beranjak keluar dari kamar dan duduk di ruang kerja pribadiku, pikiranku kalut, galau, marah, sedih dan kecewa bercampur aduk. Kukira selama ini Jaejoong sudah bisa menerimaku namun kini dia menyatakan penyesalannya.

Aku sadar kalau aku memang memiliki raganya namun tidak dengan Jiwa dan cintanya dan saat itulah ucapan mendiang Hyungku 7 bulan yang lalu terngiang kembali.

'Semua sah dalam perang dan cinta Yunho-ah bahkan trik paling licik sekalipun'

.

.

Malam berbadai itu, malam tepat perayaan anniversary pernikahanku yang ke 7 bulan bersama Jaejoong aku sengaja minum sedikit wine di ruang kerjaku, kukumpulkan keberanian untuk menjalankan rencana yang sudah kususun matang di otakku.

Ku masuki kamar tidurku yang menampung banyak kenangan indahku dan Jaejoong selama 7 bulan kebersamaan kami dan kulihat belahan jiwaku kini tengah tertidur pulas bagaikan malaikat yang polos dan tanpa dosa.

Entah kerasukan iblis apa, ku salurkan semua hasrat, gejolak, amarah dan cintaku pada Jaejoong malam itu. Kudengar raungan dan tangisannya seakan itu musik paling merdu di dunia, kurasakan pemberontakannya bagaikan hasrat perawan yang terpendam dan tubuhnya kini jadi candu paling mematikan bagi tubuhku.

Sebut aku binatang, brengsek ataupun gila karena aku memperkosa istriku sendiri bahkan mengingkari janji yang telah kuucapkan padanya di malam pernikahan kami. Janji yang lebih tinggi dari janji seorang Raja ataupun panglima perang terkuat di dunia, Janji seorang suami pada istrinya.

"Maafkan aku, aku melakukannya karena aku mencintaimu. Tidurlah" ucapku setelah aktifitas kami.

Aku lalu tidur membelakangi Jaejoong namun masih dapat kudengar jelas suara isakan darinya dan hatiku terasa sangat sakit mendengarnya menangis terlebih Jaejoong menangis karena aku.

Hingga tanpa terasa akupun menangis, menangisi kegagalanku sebagai seorang suami untuk orang yang kucintai.

Hari-hari yang kulalui setelah kejadian itu bagaikan neraka dunia bagiku, Jaejoong menjauh dariku bahkan dia tak mau menatapku sama sekali seakan aku adalah musuhnya.

Aku merindukan senyumnya ..

Aku merindukan celotehan sarkastiknya ..

Aku merindukan usapan lembutnya ..

Dan aku merindukan harum tubuhnya saat dia tertidur dalam dekapanku ..

Kini semua itu hilang, hilang karena kebodohanku dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan melihat dia semakin menjauh karena rencana yang sudah kusepakati bersama Halmoniku sehari setelah tragedi malam itu.

"Aku memanggilmu ingin menanyakan kapan kau dan Jaejoong akan memberi aku cicit, putra mahkota ?" tanya halmoni siang itu saat kami berada di dalam mobil kerajaan setelah pulang dari peresmian sebuah galeri seni di Kota Incheon.

"Kami sedang berusaha halmoni. Do'a kan saja agar usaha kami secepatnya membuahkan hasil"

Hatiku entah kenapa terasa sakit saat mengatakan hal itu apalagi teringat apa yang sudah kulakukan pada Jaejoong semalam dan bodohnya aku lupa kalau anggota keluargaku adalah orang-orang yang pintar membaca ekspresi termasuk Halmoni yang kini menatapku curiga.

"Katakan sejujurnya apa yang terjadi dalam pernikahanmu Putra mahkota ? apa kau tidak bahagia ?"

"Tidak Halmoni, aku sangat bahagia. Halmoni tahu kalau aku sudah mencintai Jaejoong semenjak mendiang haraboji dan appa menunjukan fotonya padaku 10 tahun yang lalu"

"Lalu apa yang mengganggu fikiranmu cucuku, ceritakanlah. Saat ini anggaplah aku nenekmu bukan Ibu suri sebuah negara"

Aku sedikit terkesiap, ini pertama kalinya setelah aku beranjak dewasa halmoni memanggil aku dengan sebutan cucuku dan dapat kurasakan kasih sayang yang besar terpancar di wajahnya yang masih tetap berwibawa walaupun usianya sudah tak bisa dikatakan muda.

"Aku merasa Jaejoong tak pernah mencintaiku seperti aku mencintainya ..." ucapku lirih.

"Bagaimana kau bisa beranggapan seperti itu cucuku ?"

Akupun lalu menceritakan segala yang terjadi dalam pernikahanku dan Jaejoong selama 7 bulan ini. Kulihat raut wajah halmoni berubah menjadi prihatin bahkan halmoni mengusap punggungku ketika aku menangis terisak menceritakan malam dimana aku menghancurkan Janjiku pada istriku hingga dia membenciku kini.

"Menangislah cucuku, keluarkan semua beban di dadamu" ucap halmoni saat aku tenggelam dalam pelukannya. Tak kupedulikan supir istana yang mungkin mendengar calon rajanya terisak, aku hanya ingin mengeluarkan semua sakit di hatiku saat ini hingga tak berapa lama kemudian aku sudah merasa sedikit nyaman dan berhenti terisak.

"Gomawo halmoni, aku jauh lebih lega saat ini"

"Jangan pernah malu untuk menangis karena cinta cucuku, bahkan panglima perang terhebat pun takluk pada cinta jadi kau tak usah takut untuk terlihat lemah" nasihat halmoni

" Cha sekarang tinggal memberi pelajaran pada cucu menantuku yang keras kepala itu agar mengakui perasaannya"

"Apa maksudmu halmoni ?" tanyaku bingung namun halmoni hanya tersenyum misterius membuatnya terlihat sedikit seram.

"Kau ikuti saja perintahku cucuku sayang, kita hanya perlu bantuan seorang ah ani 2 orang dalam hal ini dan kujamin istri cantikmu itu akan jatuh ke pelukanmu secepatnya"

.

.

**YUNJAE**

.

.

Aku tahu ini semua sudah direncanakan namun entah kenapa rasanya tetap saja menyakitkan. Aku tak sanggup melihatnya begitu menderita menahan tangis dan menatapku penuh benci saat aku menyetujui usulan halmoni untuk memiliki selir.

Jaejoong langsung beranjak pamit ke kamarnya begitu juga appa dan eomma meninggalkanku dan halmoni yang kini saling bertukar tatapan dengan ekspresi yang berbeda. Halmoni menatapku dengan smirk di wajahnya sedangkan aku menatapnya penuh tanda tanya.

Tadi halmoni memberitahukan bahwa aku akan dinikahkan dengan putri Mentri Go, Go Ahra agar aku mendapatkan keturunan dan tentu hal itu membuat kedua orangtuaku dan Jaejoong Shock bahkan dapat kulihat kesedihan terpancar di wajah cantiknya.

Reaksi Jaejoong jauh dari yang kuperkirakan, kukira dia akan menerima dengan senyum di wajahnya mengingat dia begitu membenciku alih-alih menatapku dengan tatapan terluka. Apakah aku boleh berharap kalau dia cemburu ?

Setelah meminta izin pada halmoni, aku langsung menyusul Jaejoong ke kamarnya dan baru saja akan membuka pintu aku mendengarnya tengah menelfon seseorang dengan suara yang teramat lirih dan hampir tak terdengar namun aku dapat menangkap satu nama dalam percakapan itu, Changmin.

Kedekatannya dengan Putra tunggal Mentri Shim itu memang membuatku sangat iri dan kadang cemburu. Dengan Changmin, Jaejoong bisa bercanda, tertawa lepas bahkan menumpahkan semua kegalauan hatinya. Hal yang gagal kulakukan sebagai suaminya.

Aku tersenyum miris dan kembali beranjak menjauh dari Kamar kami lalu mengambil handphone di saku celanaku untuk menghubungi seseorang.

Sebulan berlalu dan aku disibukan dengan urusan kenegaraan yang membuatku makin jarang bertemu dengan malaikat cantikku. Rindu terasa namun hanya sakit yang kurasa saat sadar bahkan saat berada di dekatnya pun aku tak bisa menyalurkan semua kerinduan itu.

Jaejoong tampak tak terganggu dengan isu pernikahanku dengan Ahra walaupun aku dapat laporan dari eomma kalau kini istriku itu semakin kurus dan pucat namun kurasa itu karena dia tertekan dengan keberadaannya di Istana bukan karena isu pernikahanku.

Bukankah Jaejoong tak pernah mencintaiku ?

"Yunho-ah, apa kau benar-benar akan menikahi putri mentri Go besok ?" tanya Jaejoong di malam sebelum pernikahan, saat itu aku baru saja pulang dari Amerika setelah satu minggu berada di sana untuk urusan kenegaraan.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya, Jaejoong terlihat sangat rapuh dan lemah saat ini dan hampir saja aku meraihnya dan menenggelamkan sosoknya dalam dekapanku kalau aku tak segera mengontrol diriku.

"Kukira kau tak peduli"

Ucapan bernada sedikit ketus itu meluncur begitu saja dari lidahku hingga aku sendiripun tak percaya bisa mengatakan hal semacam itu pada istriku dan dapat kulihat keterkejutan di wajahnya yang segera disembunyikannya, kau memang aktor yang hebat Jaejoong-ah.

"Aku peduli Yunho-ah, aku peduli" ucap Jaejoong lirih dan masih dapat kudengar.

Aku segera beranjak keluar dari kamar dan menuju ke ruang kerjaku. Aku tak sanggup berada di sisi Jaejoong saat ini karena bisa-bisa aku kembali goyah. Aku tak mungkin berbalik lagi saat ini, tidak mungkin.

.

.

Ku kenakan tuksedo terbaik yang khusus dirancang untukku menyambut hari bahagia ini dan kemudian berdiri di depan altar gereja kecil tersebut bersama Shim Changmin yang juga merupakan sepupu jauhku dari pihak appa juga appa yang bertindak sebagai pastur pernikahan ini.

Pernikahan ini memang sengaja dilangsungkan tertutup dan disembunyikan dari pers lebih dulu atas perintah halmoni sebelum nanti diumumkan secara resmi pada media dan siapa yang bisa melawan keinginan seorang Ibu suri.

Dan lagipula ini adalah bagian dari rencana kami.

Kutatap Jaejoong yang kini sedang duduk di barisan terdepan bersama eomma dan mengenakan sebuah dress berwarna putih gading yang membuat kulitnya tampak semakin pucat. Dan saat mata kami bertemu dapat kulihat kesedihan yang begitu dalam memancar dari kedua mata indahnya.

Tatapan kami terputus saat lagu pernikahan diputar dan sang pengantin wanita memasuki gereja di antar oleh sang appa. Ahra terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pernikahan namun tak lebih cantik dari Jaejoong dulu.

"Berhenti !" Tiba-tiba teriakan Jaejoong memenuhi ruangan gereja kecil itu dan membuat banyak orang keget termasuk aku. Ahra langsung berhenti di tengah langkahnya sedangkan kulihat eomma berusaha memberikan Jaejoong yang kini berdiri menghadapku kekuatan dengan menggenggam tangannya.

"Aaa..ku tak bisa .. maafkan aku tapi aku tak bisa membagi suamiku"

"Boojae ..." panggilku lirih dan dapat kurasakan mataku memanas saat ini.

"Maafkan aku Yunho-ah, aku .. sebut aku egois tapi aku tak sanggup membagimu dengan orang lain karena .. karena .. aku .. mencintaimu"

Brukkk

Kulihat tubuh lemah Jaejoong ambruk diiringi jeritan beberapa tamu yang hadir di gereja saat itu. Aku langsung terbangun dari keterkejutanku dan menghampiri Jaejoong yang kini tergeletak di lantai gereja. Wajahnya pucat dan suhu badannya panas.

"Jae sayang ,, bertahanlah sayang.. aku juga mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku .. bangun sayang, bangun Jae-ah" Racauku tak terkendali saat kusadari nafas Jaejoong mulai melemah. Tak pernah aku merasa setakut ini seumur hidupku, tak pernah.

.

.

**YUNJAE**

.

.

Kugenggam tangan malaikatku yang sudah 2 hari ini tertidur dengan damai di dalam mimpinya. Rona wajahnya tampak sudah kembali walaupun tangannya masih dihiasi infus yang menyuplai nutrisinya selama tertidur kini.

Kelelahan, stress berlebihan dan kurangnya nutrisi menjadi alasan ambruknya Jaejoong hari itu dan membuatku terus merutuki kebodohanku yang tak menyadari hal itu. Aku menyebut diriku mencintainya tapi untuk menjaganya saja aku tak sanggup.

"Boojae bangunlah sayang, apa kau tak lelah terus tidur selama 2 hari ini hmm ?" ucapku berharap Jaejoong mendengarnya.

Kurasakan tiba-tiba jemari Jaejoong yang sedang kugenggam bergerak dan tak lama kemudian mata indahnya terbuka. Aku berniat mencari dokter untuk memeriksa keadaannya namun langkahku terhenti saat Jaejoong menggenggam tanganku erat seakan tak mengijinkanku pergi dari hadapannya.

"Kajima Yunho-ah, kajima .." ucapnya lirih membuatku kembali duduk di kursi dan mengusap kepalanya lembut.

"Aku disini sayang, aku takkan meninggalkanmu. I promise. Kau ingin sesuatu ?"

Jaejoong mengangguk pelan dan menunjuk segelas air yang berada di meja samping tempat tidur ruang rawatnya dan akupun segera memberikannya. Air itu langsung habis dalam sekali teguk, tampaknya dia begitu kehausan setelah tidur lumayan lama.

"Lagi ?" tanyaku tapi Jaejoong hanya menggeleng.

Hening mendominasi kami selanjutnya sampai akhirnya Jaejoong memutuskan untuk memulai pembicaraan dan memecah keheningan tersebut.

"Mian aku sudah menghancurkan pernikahanmu dan Ahra" ucapnya sambil menundukan wajahnya dan kurasakan hatiku sakit melihat Jaejoong seperti itu.

"Pernikahan tetap berlangsung, tak ada yang dibatalkan"

Jaejoong tersenyum miris, perlahan dia melepaskan tautan tangan kami dan dapat kurasakaan tubuhnya bergetar dan tak lama kemudian pertahanannya jebol karena dia tak dapat menahan isakannya.

"Chukkae Yunho-ah"

Aku berdiri dari dudukku lalu memeluk Jaejoong yang kini terisak semakin keras, awalnya dia memberontak namun lama-lama pemberontakannya melemah. Aku tersenyum simpul karena kekhawatiranku kini sirna, Jaejoong memang benar-benar mencintaiku dan aku tak meragukan lagi hal itu.

"Harusnya kau mengucapkan selamat pada Changmin Boo, itu pernikahan Ahra dan Changmin bukan pernikahanku"

Jaejoong langsung melepaskan pelukanku dan memandangku bingung, ekspresinya sangat lucu saat ini bahkan kalau dia tidak sedang sakit mungkin aku akan mengajaknya membuat calon putra mahkota saat ini juga.

"Bukankah Ahra calon selirmu ?"

Aku menggeleng sambil tersenyum lalu naik ke atas ranjang dan memeluknya dari belakang kemudian menjelaskan pada jaejoong kalau ini semua adalah rencanaku dan halmoni untuk menguji cintanya. Aku juga memberitahukan padanya tentang keterlibatan Ahra dan Changmin dalam rencana kami.

Jaejoong tampak merenggut kesal mendengar ceritaku, sesekali dia mempoutkan bibirnya kesal dan memukul lenganku pelan bahkan dia mengutuk Changmin pelan saat aku memberitahunya kalau Changmin dan Ahra sudah dijodohkan dan bertunangan semenjak Changmin masih study di Harvard.

"Aku begitu takut saat Ahra berjalan ke altar namun kau diam saja boo, Changmin bisa membunuhku kalau aku menikahi tunangannya" ucapku sambil merebahkan kepalanya di dada bidangku.

"Appa Ibunda Ratu tahu rencana ini ?"

"Ani, eomma dan appa tidak tahu. Eomma bahkan menjewer telingaku sampai merah saat aku menceritakan tentang hal ini kemarin"

Jaejoong terkikik imut melihatku mengadu seperti anak kecil padanya. Kurasakan kehangatan tubuhnya dalam dekapanku dan wangi vanilla yang memabukan menguar dari tubuhnya.

"Yunnie nappeun eoh ?"

"Yunnie ?"

"Nde, panggilan sayangku untukmu. Otte ?" tanyanya sambil menyembunyikan wajah imutnya yang memerah karena malu. Akupun mencium puncak kepalanya pelan dan tersenyum, baru kali ini aku melihat sisi lain seorang Jung Jaejoong yang biasanya mandiri dan aku menyukainya.

"Joahe, Boojae. Neomu Joahe"

"Yunnie, masalah calon putra mahkota eottoke ? aku tak ingin yunnie punya selir"

Aku pura-pura memasang tampak berfikir sejenak sebelum akhirnya membalikan badan Jaejoong secara tiba-tiba hingga dia memekik kaget dan berada di bawahku sekarang.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita membuat Little Yunnie sekarang hmm ?" Tanyaku dengan seringaian mesum yang kudapat turun temurun dari keluargaku.

"Yah .. aku belum siap Yunnie ah. Yah ..yah ..yah ..."

.

.

FLASHBACK END

.

.

"Appa" panggilan lucu seorang namja kecil menyadarkanku dari lamunan masa laluku dan aku tersenyum lebar saat melihat putraku, Jung Yoogeun yang genap berusia 1 tahun hari ini kini sudah berada di pangkuanku ditemani baby sitternya.

Aku melambaikan tanganku pelan dan sang baby sitter langsung meninggalkanku dan Yoogeun yang kini sibuk menjawil-jawil kancing baju kebesaranku dengan tangannya yang mungil.

"Yoogeunnie tidak merindukan eomma hmm ?" tanya sebuah suara lembut yang kini tengah berdiri di sampingku dan melihat sang eomma, Yoogeun langsung ribut minta di gendong dan Jaejoong langsung memenuhi permintaan anak kesayangannya itu.

"Kau menyukai pestanya Boojae"

"Neomu Joahe Yunnie tapi apakah ini tak berlebihan untuk ulang tahun seorang anak berusia 1 tahun ?"

"Uri aegya harus mendapatkan yang terbaik sayang lagipula ini hadiah dari halmoni untuk cicitnya"

"Aissh halmoni belum berubah juga, masih saja suka pesta"

Aku tertawa mendengar gerutuan istriku. Hidupku terasa sangat lengkap kini, dengan Boojae di sampingku yang selalu mensupportku dalam keadaan apapun dan pangeran kecilku, Jung Yoogeun yang Tuhan telah percayakan untuk dititipkan pada keluarga kecilku setahun lalu rasanya tak ada lagi yang bisa kuminta di dunia ini.

"Changmin mana boo ? aku tak melihatnya dari tadi" tanyaku mencari keberadaan namja jangkung yang juga perdana mentri baru di negaraku menggantikan Perdana mentri lama yang pensiun karena usianya yang sudah tua.

"Seperti biasa mencicipi makanan. Anak itu masih saja belum berubah bahkan dia meninggalkan istrinya sendirian bagaimana coba kalau terjadi se ... Ya tuhan Yunnie, Ahra"

Jaejoong memandang horror ke arah Ahra yang sedari tadi duduk di kursi sebelah kiriku dan aku langsung mengikuti arah pandangannya dan betapa terkejutnya aku melihat yeoja itu kini tengah meringis kesakitan karena air ketubannya pecah.

"Yunnie jangan diam saja cepat panggil ambulance, yah yunnie ah " Jaejoong mulai panik sementara aku langsung mencari keberadaan sang suami yang tidak bertanggung jawab itu dan gotcha, namja jangkung itu sedang sibuk mencolek-colek kue ulang tahun Yoogeun sekarang dan tak menyadari kalau istrinya akan melahirkan.

"YAK SHIM CHANGMIN ISTRIMU AKAN MELAHIRKAN DAN KAU MASIH SIBUK MAKAN. YAH .. !"

Diperlukan usaha, pengorbanan dan kesabaran untuk cinta namun kadang sebuah Trick kecil jauh lebih diperlukan daripada itu semua .

.

.

END

.

.

Always Big Love and Hug buat chingu yg udah Review, Follow or Fav FF Rheii

Maaf ga bisa sebutin satu persatu tapi

Review kalian semangat buat Rheii

See U at the next FF

AKTF ^^