aku masih nga nyangka sehari langsung reviewnya dua puluhan.

krisHo nanti muncul lagi di chap pertengahan, sebagai roh tentunya.

typo banyak jelas sekali. terutama huruf D dan I, keyboardnya macet.

.

.

.

.

SeHun memandang dingin LuHan yang tengah asik menyiksa seekor werewolf. SeHun sama sekali tak tertawa saat seluruh klan vampire tertawa puas melihat kepala werewolf yang hancur diinjak LuHan. MinSeok ibu SeHun berusaha memancing SeHun dalam eurofia kesenangan mereka. Eourofia yang selalu membuatnya muntah dalam dua tahun ini.

SeHun memang baru berumur tujuh tauhun. Namun dia cukup tau apa yang membuat seluruh klannya tertawa seperti orang kesetananan. Membunuh. Klanya begitu suka membunuh, apalagi klan werewolf yang entah sejak kapan sudah hampir punah.

SeHun melangkahkan kakinya menuju pinggir jurang. Dibawahnya terapat desa werewolf yang sudah hancur lebur. SeHun menatap datar seluruh pemandangan darah yang tersebar. SeHun menghela nafas. SeHun berharap dilahirkan di klan lain saja. Dirinya tak ingin berteman dengan vampire-vampire angkuh yang hanya peduli tahkta, kekuasan, wilayah, politik dan hal lain yang membuat SeHun muak. SeHun tak dapat berteman dengan anak-anak klan lain, mereka selalu saja berlari ketakutan saat melihatnya seolah SeHun adalah monster yang akan membantai klan mereka. Ya SeHun tau dalam dirinya ada darah monster haus darah yang akan melukai klan-klan lain.

SeHun menatap klanya yang masih asik berpesta. SeHun kembali memandang desa yang sudah hancur itu. Tak jauh dari sana ada sungai, di seberang sungai ada hutan yang cukup lebat. SeHun menyeringai, rencana kaburnya sudah sempurna. SeHun menggunakan tubuh kelelawarnya untuk terbang menuruni jurang. SeHun terbang sembunyi-sembunyi di balik puing-puing rumah. SeHun cepat-cepat menceburkan dirinya ke sungai menyamarkan baunya. Diballiknya sebuah perahu, SeHun bersembunyi di bawah perahu lalu berenang sampai ke sebrang.

"SEHUN!"

Lengkingan MinSeok membuat SeHun langsung menyembunyikan dirinya di bawah akar pohon. Begitu merasa aman SeHun langsung berlari secepat mungkin ke dalam hutan.

Bruk

SeHun tersungkur, lututnya terluka namun dengan cepat kembali pulih. SeHun kembali berlari mencari tempat persembunyian. SeHun kembali bersembunyi di lubang pohon.

"hei kau siapa?" tanya Kai sinis pada SeHun. SeHun menatap Kai kaget, setaunya klan werewolf sudah musnah ditangan klannya. Tapi bocah yang ada didepanya ini benar-benar werewolf, lihat saja dari ekor dan telinga srigala yang menyembul dari tubuhnya. "hei, jawab pertanyaanku vampire" ujar Kai dingin.

"a-aku SeHun, kau?" tanya SeHun gugup. Sungguh mendengarnya mengucapkan kata vampire seolah mendengarnya mengatakan aku akan membunuhmu.

Diluar dugaan SeHun Kai tersenyum lembut padanya "aku Kai, kenapa kau ada disini? Pulanglah, orang tuamu pasti khawatir" ujar Kai dengan senyuman.

SeHun diam terpaku. "k-kau tidak menyerangku?" tanya SeHun heran. SeHun pasrah jika Kai menyerangnya. Bukankah itu berati dia bebas dari dunia yang begitu menjijikan ini.

Kai terkekeh. "dasar bodoh, meskipun aku begitu membenci klanmu karena sudah membunuh saudara-saudaraku" Kai menghentikan ucapanya. Digenggamnya kalung berbandul srigala itu. "aku yakin kau tak terlibat disana" ujarnya tersenyum.

SeHun tertohok, baru pertama kali ada bocah yang tak kabur melihatnya. Dan baru pertama kali pula ada orang yang mempercayainya, sungguh SeHun benar-benar terharu "K-Kai" panggil SeHun ragu.

Kai menoleh, menatap SeHun santai "ada apa?" tanya Kai.

SeHun menundukan kepalanya, jujur ini pertama kalinya dia berekspresi sebanyak ini. SeHun mengepalkan tanganya menahan kegugupanya. "maukah kau jadi temanku?" tanya SeHun. "selama ini aku tak punya teman" lirihnya.

Kai bengong. Dimiringkan kepalanya heran. "kenapa? Klanmu begitu berambisi membantai seluruh klan werewolf. Klanmu memiliki kekuasaan begitu besar. Lalu kenapa kau tidak berteman dengan mereka saja? Maksudku dari pada berteman dengan anak boron sepertiku" ujar Kai heran.

"aku muak dengan mereka. Ambisi mereka menggelapkan mata mereka. Aku tidak ingin terpengaruh oleh mereka" jawab SeHun "aku memang baru berumur tujuh tahun, tapi aku cukup mengerti kalau perbuatan mereka itu salah" lanjutnya.

"hmp. Baiklah SeHun, ayo kita berteman" ujar Kai pada akhirnya.

SeHun menatap Kai tak percaya, telinganya tidak salah kan? Ini bukan mimpi kan? Jika ini mimpi seseorang tolong jangan bangunkan SeHun. "kau tidak bercanda kan?" tanya SeHun memastikan.

"untuk apa coba aku bercanda?" jawab Kai tekekeh.

SeHun tersenyum senang. Senyum yang baru pertama kali dikeluarkanya seumur hidupnya "trimakasih-trimakasih" ujarnya menundukan kepalanya dalam-dalam, tak terasa air mata mengalir menuruni pipi mulusnya.

Kai tesenyum tulus. Diangkatnya dagu SeHun lembut. Diusapnya jejak air mata SeHun. "jangan menangis, nanti tambah jelek" ejek Kai membuat SeHun langsung menghapus air matanya kasar.

"aku tidak menangis!" sanggah SeHun.

Kai menyeringai kecil. "benarkah. Aku tau kau terharu karena mendapat teman sepertiku" ujar Kai melangkah lebih dalam, memasuki lubang pohon yang cukup besar itu. SeHun melangkahkan kakinya mengikuti Kai. Ternyata lubang itu mengarah ke bawah tanah.

Kai merebahkan tubuhnya di atas tanah yang telah dialasi tumpukan kulit kelinci. "ayo tidur, aku lelah sehabis berburu" ujarnya hendak menutup matanya.

"K-Kau berburu sendiri? Yang benar saja?" tanya SeHun tak percaya. Kai mendengus kesal "apa saja yang kau buru?" tanya SeHun antusias.

"kelici, tupai dan burung kecil" jawab Kai acuh.

"kau tidak berburu rusa?" tanya SeHun mendudukan tubuhnya di samping Kai.

Kai kesal karena SeHun terus menanyai "kau pikir seekor srigala kecil bisa berburu sendirian tanpa keluarga? Menangkap kelinci saja aku kesusahan" jawab Kai berang.

SeHun menunduk "m-maaf" gumamnya lirih.

"sudahlah ayo tidur" ujar Kai, Kai merasa bersalah melihat perubahan ekspresi SeHun. Kai langsung membaringkan tubuh SeHun tepat di sampingnya lalu mendekapnya erat. Yang didekap lebih kaget lagi.

LuHan uring-uringan mencari SeHun, sedingin apapun SeHun padanya, tetap saja SeHun anaknya. Luhan sudah menggeledah seisi hutan namun tak kunjung menemukanya. LuHan mulai putus asa, sudah hampir satu minggu SeHun menghilang.

LuHan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dipandanginya foto keluarganya. LuHan tersenyum getir melihat senyum bahagia SeHun di foto itu. "maafkan appa Hunie" lirihnya menahan air mata yang bisa turun kapan saja.

Seorang bawahan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan LuHan. "Tuan kami mencium bau tuan muda di daerah selatan hutan!" serunya.

LuHan langsung berdiri dari kursinya. "kita pergi kesana. Siapkan pasukan!" perintah LuHan. Disambarnya senjata-senjatnya. "MinSeok bersiaplah, SeHun sudah di temukan!" seru Luhan pada Minseok yang baru saja bangun dari tidurnya.

KRUUCUK

Kai menatap SeHun heran. SeHun hanya menunduk sambil memegangi perutnya yang terus saja berbunyi. Kai terkekeh melihat wajah SeHun yang memerah karena malu.

"kau lapar?" tanya Kai diangguki SeHun "aku juga, ayo kita berburu kelinci" ajak Kai.

SeHun tersenyum melihat kelakuan Kai yang menurutnya imut. "SeHun, lihat ini" bisik Kai. SeHun memandang heran Kai yang berubah menjadi srigala lalu mengendap pelan. Kai langsung menerjang seekor kelinci, digigitnya leher kelinci itu hingga mati.

Kai kembali berubah menjadi wujud manusianya. "makanlah" ujarnya melemparkan kelinci itu pada SeHun. SeHun menagkap kelinci itu sigap. Ditatapnya Kai dan kelinci itu bergantian "habiskan dulu darahnya" ujar Kai mengerti arti pandangan SeHun.

SeHun langsung menancapkan taring kecilnya pada si kelinci, menghisap habis darah pada kelinci itu hingga tak bersisa. SeHun melepaskan kelinci yang berubah menjadi lebih kering itu. "apa enak makan daging kering begini?" tanya SeHun.

Kai menghampiri SeHun. "hum, racun mu membuat dagingnnya makin enak" diambilnya kelinci itu lalu dimakanya dengan brutal membuat SeHun sedikit bergidik ngeri saat melihat gigi-gigi Kai mencabik daging kelinci itu. "akh kenyang~" desah Kai menepuk-nepuk perut kecilnya yang agak buncit.

SeHun terkekeh "Kai perutmu seperti orang hamil" ledek SeHun. Kai mem-pout bibrnya kesal. Kai membalik tubuhnya, menatap indahnya matahari terbenam. Kai duduk di pinggir jurang.

"Kai" panggil SeHun mendudukan tubuhnya di samping Kai "kita….. selamanya tetap berteman kan?" tanya SeHun pelan. Maniknya tak berhenti menatap matahari yang hampir terbenam. Kedua kaki kecilnya di ayun-ayunkan.

Kai tersenyum tipis, dipetiknya dandelion yang berada tak jauh darinya "sampai kapanpun kita tetap berteman" jawabnya pelan. "tapi mungkin pertemanan kita akan seperti dandelion" lanjutnya menatap sendu dandelion itu.

SeHun menatap Kai heran "apa maksudmu?" tanyanya. Sejak pertama kali mengenal Kai, rasanya ini satu-satunya ekspresi Kai saat serius.

"saat bersatu akan membuat sebuah bunga yang indah. Seperti saat ini semuanya terasa indah" jawab Kai. "tapi mungkin suatu saat-" Kai meniup dandelion itu sehingga pecah terbawa angin. SeHun menatap tajam Kai. "mungkin kita akan terpisah, kita tak tau kemana angin membawa kita-"

"aku tak mau itu terjadi!" sela SeHun. "aku mohon Kai" mohon SeHun.

Kai menggeleng pelan. "bukan itu maksudku. Suatu saat mungkin kita terpecah. Namun kita akan membuat dandelion-dandelion baru. Berawal dari suatu pengorbanan menghasilkan sesuatu yang indah. Kau mengerti maksudku?" tanya Kai tanpa memandang SeHun, Kai terus saja menutup kedua bola matanya menikmai semilir angin senja.

"kai~" lirih SeHun. jujur SeHun kecewa dengan apa yang diucapkan Kai, ucapanya seolah-olah akan mengakhiri persahabatan mereka. SeHun menghela nafas, dipandanginya matahari yang sudah sepenuhnya tenggelam "aku mengerti" jawabnya.

Snif snif

Kai mendogak mencium bau di udara, SeHun heran dengan tingkah Kai. Kai langsung berdiri begitu merasa bau itu semakin kuat. "Kai?" tanya SeHun.

"Vampire, ada banyak. Mereka kesini!" seru Kai menarik tangan SeHun supaya berdiri. SeHun langsung menegang begitu menyadari bau yang dicium Kai.

"Kai ayo pergi!" SeHun menarik Kai "Kai gunakan tubuh srigalamu!" seru SeHun, cepat-cepat Kai berubah menjadi srigala begitupula SeHun menjadi kelelawar.

Keduanya berlari tanpa menoleh kebelakang. Tanpa mereka sadari mereka berlari ke arah jalan buntu. LuHan dan kelompoknya terkekeh melihat wajah ketakutan Kai. "hei little wolf, apa yang kau lakukan bersama vampire eoh? Bunuh diri?" tanya LuHan mencibir disambut tawa vampire-vampire lain.

Kai menggeram rendah. Kai tau siapa vampire brengsek yang berdiri di hadapanya. Vampire yang membunuh ibunya. "dia tidak akan membunuhku" desis Kai.

LuHan tertawa keras "percaya diri sekali" ledeknya.

SeHun menatap MinSeok mengiba. SeHun tak peduli bila werewolf lain yang dibunuh, tapi SeHun tak akan pernah mengijinkan siapapun menyentuh Kai-nya "Kalian membunuh orang tuaku, kalian membunuh pamanku" desis Kai berulang-ulang bagai mantra.

MinSeok hanya mampu menunduk. Ini pertama kalianya ia melihat tatapan seperti itu dari SeHun. MinSeok ingin membantu SeHun namun dirinya tak mampu menentang LuHan. "hei, kenapa kau menggeram huh? Mau membunuh kami, ayo coba!" ejek LuHan.

GRAAAA

Kai berubah menjadi srigala hitam seukuran srigala dewasa. Matanya berubah biru tua. Kai menyerang para vampire itu membabi buta membuat SeHun terjatuh ketakutan. Manik-nya berair melihat para vampire itu menancapkan taring mereka di tubuh Kai. MinSeok langsung memeluk SeHun. SeHun gemetaran saat darah Kai terciprat ke wajahnya. "K-Kai…. Kai…. Ka-i" rancaunya.

SeHun menegang melihat Luhan mengacungkan pedangnya ke arah dada Kai. Tidak SeHun belum ingin ditinggal Kai. "KAI!" teriak SeHun saat LuHan menghujamkan pedangnya tepat ke dada Kai.

JRASH

"ukh" Kai kembali berubah menjadi manusia. Darah keluar dari mulutnya juga dadanya yang masih menancap pedang LuHan. LuHan menarik pedangnya hingga kai terjatuh. Air mata mengalir dari manik SeHun, ini terlalu cepat. Mengapa dia baru saja merasakan kebahagian tuhan kembali merenggutnya?

"keh, kau hebat juga. Putra Kris Wu" ejek LuHan menendang Kai hingga terjatuh ke jurang. SeHun langsung berlari. Menggapai tangan Kai yang berlumurkan darah. "SeHun apa yang kau lakukan!" teriak LuHan murka.

"Kai jangan hisk jangan" isak SeHun sambil menggelengkan kepalanya keras.

Senyum tipis terpatri di bibir Kai yang penuh darah. "S-SeHun… Sl-amat tinggal" lirih Kai. Dilepaskanya pegangan tanganya dari SeHun.

SeHun memandang syok tubuh Kai yang jatuh berguling-guling lalu tercebur ke sungai. Sungai yang semula berwarna biru jernih berubah menjadi merah karena darah Kai. "Kai…" lirihnya.

SeHun menggelengkan kepalanya. Kilasan-kilasan Kai berputar di kepalanya. Senyum Kai, Tawa Kai, kejahilan Kai, bahkan tangis Kai terasa menyesakan dadanya. SeHun memandang kosong tanganya yang berlumuran darah Kai. SeHun membalikan tubuhnya. Menatap dingin Luhan dan MinSeok.

"S-SeHun" MinSeok gugup melihat pandangan SeHun yang begitu dingin. MinSeok ingin mendekat lalu memeluk SeHun namun rasa takut menguasainya.

LuHan memandang SeHun tak kalah dingin "sebenarnya apa yang kau inginkan Oh SeHun?" tanya LuHan dingin. LuHan tau sebenarnya SeHun tengah menahan tangisnya. LuHan ingin menenangkan SeHun, namun melihat tatapan SeHun yang begitu menusuk LuHan tau ada hal lain yang tengah dipikirkan putra semata wayangnya ini.

"aku ingin membencimu Alfa Lu" geram SeHun membuat semua orang kaget.

"SeHun!" seru MinSeok. MinSeok takut. Selama ini SeHun tak pernah memanggil LuHan seperti itu. SeHun selalu memanggil LuHan, baba, appa atau yang lain.

"kenapa?" tanya LuHan dingin. "karena werewolf itu? Cih dia werewolf murahan" lanjut LuHan membuat SeHun makin geram.

"meskipun dia murahan di mata anda, dia sangat berarti di mataku. Jujur saja aku begitu ingin membenci orang yang membuatku ada di dunia hina ini" ujar SeHun membuat LuMin tertohok. "namun sayangnya leluhur kita mengajarkan untuk berbakti pada orang tua. Cih" SeHun mendecih muak.

"OH SEHUN!" seru LuHan "sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Luhan tajam.

SeHun menjilat darah Kai. "darah ini. Darah terakhir yang tumpah karena pedang anda. Jika sekali lagi ada darah yang tumpah karena pedang anda. Jangan harap saya akan mengakui anda sebagai ayah saya" ucap SeHun tegas namun mampu membuat MinSeok menangis.

LuHan meremat pedangnya keras. Luhan tak membayangkan sumpah SuHo benar-benar akan terjadi pada anaknya sendiri. "baiklah" serunya. Ayah mana yang ingin kehilangan putranya. Tidak ada kan?

SeHun menyeringai "kupegang janjimu" lirihnya. LuHan mengkomando sisa pasukkanya pulang. Luhan berjalan mendahului SeHun dan Minseok.

Minseok menghampiri SeHun yang masih setia memandang Sungai berharap kai akan muncul dari sana lalu berteriak 'aku bercanda Hun' atau setidaknya dia muncul ke permukaan. Namun harapan tinggal harapan. Dirinya tak akan pernah bertemu dengan sosok sahabatnya itu. "SeHun, ayo-" MinSeok hendak menggandeng SeHun namun tangannya langsung di tepis.

"aku bisa jalan sendiri" ujar SeHun dingin membuat MinSeok kembali menangis. Diam-diam SeHun juga menangis. Menangis karena sudah durhaka dengan orang tuanya. Menangis karena kehilangan Kai, semua rasa itu membuatnya ingin mati saja.

Three Years Later

Sejak kejadian itu SeHun berubah menjadi sangat dingin. Tak ada lagi putra putri pejabat vampire yang berani mendekatinya. Mereka terlalu takut kulit mulus mereka terluka oleh taring SeHun yang luar biasa tajam.

SeHunpun tak ambil pusing dengan mereka. Temanya sekarang hanyalah kanfas dan peralatan lukis lainya. Diam-diam dirinya melukis Kai, membayangkan seperti apa wajahnya sekarang. SeHun selalu saja tersenyum bila mengingat semua itu.

Tok-tok-tok

SeHun menghentikan lukisanya. Disimpanya lukisan yang baru setengah jadi itu. SeHun membukakan pintu kamarnya. Di hadapanya MinSeok tersenyum tipis. "ayo makan" ajaknya.

"baiklah, beta" sekali lagi MinSeok tertohok. SeHun tak lagi memanggilnya 'eoma' tak ada lagi nada ceria yang keluar dari bibir tipis itu. Hanya ada nada dingin dan sapaan formal.

Sesampainya di meja makan SeHun hanya duduk lalu makan sedikit. Kalimat-kalimat pendek nan formal yang keluar membuat LuHan jengah. "Oh SeHun bisakah kau berhenti bersikap formal?" tanya LuHan pelan.

SeHun tersenyum tipis. "maaf, tapi tidak bisa. Alfa" jawabnya.

Gigi LuHan bergemlutuk. Memang ini salahnya. Tahun lalu dirinya kembali membantai sebuah desa werewolf. LuHan kira SeHun tak ingat dengan sumpahnya, namun nyatanya selama setahun ini SeHun bersikap luar biasa formal padanya. Bahkan pada mentripun SeHun tak segan menundukan kepalanya.

Selesai makan SeHun kembali ke kamarnya. Kembali melukis Kai. Dia memang bocah berumur sepuluh tahun, namun dirinya yakin suatu saat nanti dia akan bertemu dengan sahabatnya itu. SeHun tersenyum tipis mengakhiri sentuhan terakhirnya pada lukisan kai dan dirinnya. Lukisan yang menggabarkan saat terakhirnya bersama Kai. Senja yang indah seindah senyum Kai.

SeHun mendongak, menatap rembulan yang bersinar melewati celah jendelanya. "kita akan bertemu lagi kan?" gumamnya.

-tbc-

review plis. makasih buat yang nge review, aku baca kok. cuman bingung mau balesnya gimana