Marriage Simulation
Rated T-M
Genre : Romance, Conmfort,
Cast : Lee Donghae, Kim Kibum - menyusul
Summary : Donghae bingung ketika diminta oleh kedua orang tuanya untuk segera menikah sedangkan dia memiliki paradigma tersendiri mengenai kehidupan pernikahan. Lalu bagaimana Kibum, sahabatnya , memberi solusi? Chek it out
Desclaimer :
Fanfic ini boleh dibilang terinspirasi atau mungkin juga remake dari sebuah novel On Line karya Zuldin Fitrianto berjudul Pernikahan Simulasi, dengan mengalami perubahan bahasa sesuai gaya dan bahasa saya sendiri dan mungkin juga terdapat berbagai perubahan alur yang disesuaikan dengan Our Sweet Couple KIHAE. Ingin membandingkannya silahkan seacrh di google
Warning : Fanfict ini sangat membosankan dan ANTI EYD, Juga Full TYPO(s). Jadi bersiaplah. Selain itu saya penggila Hae Uke. Termasuk HAE GS. Bagi yang tidak suka, silahkan pergi.
_Beloved KiHae_
Brakk
Donghae mendorong tubuh Kibum hingga menjauh darinya. Dia benar – benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Namja itu. Donghae bergegas pergi menuju kamarnya, membiarka Kibum seorang diri berteriak kalut mengacak – acak rambutnya.
Donghae pasti menganggapnya manusia paling mengerikan serta suami yang tidak berguna.
"AGHT. Kibum BODOH", jeritnya. Apa yang barusan ingin dia perbuat pada Donghae, seharusnya sebagai suami ia memperlakukannya dengan lembut, bukan berbuat kasar semaunya. Terlebih sebelumnya mereka adalah sahabat baik.
Di dalam kamarnya Donghae masih tidak lagi terisak, dia segera menuju kamar mandi mengguyur seluruh tubuhnya dibawah Shower.
Seumur hidup dirinya memang tidak pernah disentuh oleh siapapun melebihi ciuman dari seorang kekasih. Ia tidak rela jika tubuhnya dijamah tanpa adanya ikatan tanggung jawab. Donghae benci harus menanggung resiko berat seorang diri. Kehormatan adalah yang terpenting baginya.
Lalu Kibum?
Bukankah lelaki itu suaminya?
Suami yang sah dalam ikatan Negara dan Agama. Hubungan mereka legal dari sisi manapun. Walau tetap, semua itu hanya SIMULASI. Selamanya SIMULASI.
Donghae keluar dari kamar mandi berbalut piyama tidur setelah puas membasuh seluruh tubuhnya. Dia tidak bermaksud menghapus jejak Kibum di sana tetapi karna memang dia butuh mandi setelah seharian penuh beraktivitas.
Donghae tertegun ketika baru kakinya melangkah melewati pintu kamar mandi dan mendongakkan wajah ia lihat seseorang tengah duduk di sisi tempat tidurnya. Orang itu tak lain adalah Kibum, ya siapa lagi kalau bukan namja itu. Satu-satunya orang yang bisa masuk kedalam kamarnya walaupun telah ia kunci. Kibum adalah pemilik apartemen ini , jadi wajar kalau dia punya kunci cadangan.
Kibum menatap wajah Donghae dengan sayu, ada sejuta ma'af yang ia lukiskan disana, walaupun dibalas dengan tatapan dingin oleh Donghae. Kibum mengulas senyum terbaiknya , berharap Dongae berkenan mema'afkannya, walaupun tanda-tanda itu nampaknya tidak ada.
" Ma'afkan, aku…", Kibum menunduk, mengalihkan pandangannya pada lantai marmer coklat di bawah kakinya " Apa, kau benar-benar marah?', tanyanya sedikit berbisik, atau mungkin sedang berbicara pada marmer.
Penampilan Kibum yang pasi, kusut, dan kusam membuat rasa iba dalam diri Donghae menguar. Semua orang tahu, Donghae adalah makhluk yang memiliki belas kasih terlalu tinggi, bakan ia memiliki stock airmata yang tak akan ada habisnya. Jadi walaupun telah diperlakukan dengan sedikit tidak senonoh oleh Kibum, Donghae tetap berbaik hati mendekati namja itu lagi tanpa ada rasa takut sedikitpun.
" Ma'afkan , aku. Tadi aku benar- benar diluar control",
" Aku tahu", Donghae mendesah, lagi-lagi, manusia bernama Kim Kibum itu tejebak oleh keegoisannnya.
" Terimakasih, kalau kau mau mengerti dan mema'afkan aku", Kibum memutuskan untuk kembali kemarnya setelah mendapat ma'af dari Donghae, sebelum yeoja itu menahan tanganya untuk tidak beranjak.
" Kita menikah simulasi kan? Kalau begitu contohkan padaku bagaimana caranya agar Suamiku mau berbagi beban yang ia tanggung padaku", Ucap Donghae yang membuat tubuh Kibum kaku.
Kibum menghela nafasnya. Haruskah ia membagi betapa pusing dan memuakkannya urusan kantor pada wanita bergelar istrinya itu. Apakah itu tidak terlalu kekanak-kanakan. Kibum akan terlihat sebagai manusia labil, jika dia mengeluh atau mencurahkan isi hati hanya disebabkan oleh perdebatanproject, rekan egois, juga lepasnya satu saham diperusahaanya. Bukankah itu sangat memalukan? Aght, itu terlalu Childish, dia bukan Donghae, dirinya adalah Kim Kibum yang pantang berbagi.
" Berceritalah sesuatu padaku tentang kesulitan yang tengah kau alami. Aku istrimu Kim Kibum. Dan kau janji akan mengajarkan pernikahan yang sesungguhnya padaku", ucap Donghae. Ia sangat berharap Namja intropeth di sampingnya itu mau berbagi keluh kesah walaupun hanya sedikit, sangat sedikit.
Kibum mendesah, ia terlihat sangat lelah dengan dirinya juga kehidupannya. Donghae adalah yeojayang ia kenal selama bertahun-tahun, teramat sangat lama. Namun menyandang status suami-istri baru beberapa hari ini mereka jalani. Selama bersahabat, Donghae memang selalu ingin tahu apa yang sedang Kibum pikirkan, dia tidak suka namja itu menjadi seorang intropeht di hadapannya, Donghae selalu memaksa Kim Kibum untuk menjadi orang lain, walau hanya untuk Donghae.
Perlahan Donghae meraih kepala Kibum menyandarkan dibahu layaknya seorang ibu yang tengah menengkan putranya, juga seorang sahabat yang berbagi pundak.
Donghae dapat membaca air muka Kibum dengan baik. Ia tahu Kibum sedang bermasalah. Saat melihat Kibum di Sofa ruang tamu sebelumnya pun dia sempat melihat sebotol Beer tergeletak malang di bawah meja. Kibum sedang kacau, dan Donghae bisa merasakan itu.
Kibum merasa benar-benar nyaman menyandarkan tubuhnya di bahu Donghae, ada ketenangan tersendiri yang belum pernah ia dapat sebelumnya, kecuali pada sang eomma, hanya itu, tidak ada yang lain. Mungkin benar suami istri sudah sewajarnya berbagi.
Lama kedua insane itu terpaku dalam keheningan, hanya ada helaan nafas dari keduanya seolah menghembuskan beban yang menyusup dalam jiwa dan raga mereka.
Mereka masih dalam kondisi sama , oh bukan, tidak sama karna Kim Kibum melingkarkan kedua lenganngya di pinggang Donghae, bergelayut manja tanpa mengucap sepatah katapun. Aroma tubuh Donghae yang wangi terlebih setelah mandi membuat ia larut dibuai alunan mimpi. Tanpa sadar Kibum memejamkan matanya. Menghempaskan rasa lelah dan kejenuhan sepanjang hari.
"Terimakasih, Chagiya", itulah bisika terakhir yang terdengar oleh gendang telinga Donghae, sebelum namja tampan itu terlelap tanpa berpaling dari tubuhnya.
Donghae terbangun dengan hembusan nafas seseorang yang menerpa wajahnya. Dengkuran halus dari seorang namja yang kini tengah ia peluk, ya, sepanjang malam mereka berdua tidur diatas satu tempat tidur denga saling memeluk.
Donghae tidak tahu apa yang harus ia lakukan pada Kibum, namja itu nampak kelelahan dan butuh sandaran. Tidak ada yang Donghae dapat berikan selain bahu kecil yang dapat menyangga tubuh kekar Kibum. Memeluknya, memberi kehangatan, hanya itu, tidak ada yang lain.
Perlahan tangan Donghae bergerak membelai surai rambut Kibum. Menatap Kibum sedekat ini membuatnya semakin tahu, Kim Kibum benar-benar tampan. Semakin dilihat namja itu semakin menarik, Donghae tidak dapat memungkiri ini.
Kibum mengucek kedua matanya ketika merasakan secercah cahaya menyeruak masuk menyusuri pupil matanya. Sudah siang, dan dia tidak perlu cemas karna ini hari minggu. Saatnya beristirahat sepanjang hari. Tapi, tunggu…suara apa itu?
Kibum menajamkan pendengarannya. Ada bunyi – bunyian berasal dari dapur. Apakah ada maling menyusup kedalam rumahnya?
Ayolah Kim Kibum bodoh apakah dia tidak sadar juga dimana sekarang dirinya, dan sedang tinggal bersama siapa?
Kibum mengamati sekelilingnya, matanya berputar meneliti setiap ornament, ini kamar tamunya, kamar yang khusus dia persiapkan untuk tamu sebelum?
Tunggu,,,
Donghae.
Kibum bergegas secepat kilat menuju dapur. Benar saja, di tengah perabotan masak memasak itu seorang yeoja cantik tengah sibuk meracik bahan-bahan entah diolah menjadi makanan seperti apa.
Kibum tersenyum sembari menyandarkan tubuhnya di pintu. Donghae yang melihat itu mendengus sedikit kesal. Ia merasa Kibum tengah meremehkannya.
" Jangan cuma tertawa disana. Bisakah kau membantuku, Bummie? Panci ini panas sekali. Aku tidak dapat memindahkannya", perintah Donghae.
"Memangnya kau sedang memasak apa?," tanya Kibum sembari memindahkan isi panci kedalam mangkuk. Ia tidak bisa menebak nama makanan yang sedang diolah Donghae.
" Aku tidak tahu apa namanya…..eum…aku hanya mengikuti recep yang tertulis",
" Memangnya kau dapat recep dari mana?Kau membeli buku masakan", Kibum sama sekali tidak menyangka Donghae seatusias itu belajar memasak.
Donghae menyengirkan bibir dengan wajah inocentnya yang khas, " Aku barusan mencai recep di internet, hehehe",
Kibum menggeleng tidak yakin, kalau dilihat dari rupanya makanan tersebut cukup menatik, tapi dia tidak yakin makanan itu enak dan tidak beracun.
" Bummie_yah, aku sudah mengusahakan yang terbaik semampuku, kalau rasanya berantakan, ma'afkan aku, yeobo", mohon Donghae ketika Kibum menyupakan sesendok Japjae ke dalam mulutnya.
Mendengar kata Yeobo membuat Kibum tersedak hebat. Terang saja Donghae panic segera mengangsurkan air minum dengan wajah harap – harap cemas dikarnakan takut meracuni suaminya.
" Apakah rasanya benar-benar tidak enak?", tanya Donghae galau, ia segera menyumpit sepotong sayur lalu ia masukkan kedalam mulutnya. Rasanya tidak buruk, tapi kenapa reaksi Kibum berlebihan.
" Bukan begitu, aku hanya terkejut kau memanggilku Yeobo", Kibum sadar reaksinya itu bisa mengacaukan antusiasme Donghae dalam hal masak-memasak, dan itu sama halnya dia sudah merusa kerja keras yeoja cantik itu.
" Apa kau tidak suka kupanggil begitu?', pertanyaan Donghae disertai wajahnya yang manyu, membuat Kibum semaki salah tingkah.
" Bukan-bukan, aku suka. Panggil saja aku begitu..Ahk, sudahlah mari makan", Kibum buru-buru mengisi mangkuknya dengan nasi dan mencomot berbagai macam lauk sebagai penyedapnya.
Dia memakannya dengan tenang, sementara itu di hadapnnya Donghae dengan wajah harap-harap cemas menunggu reaksi Kibum mengenai experimentnya itu. Apakah rasanya enak, hambar, atau mungkin Kim Kibum akan keracunan setelah memakannya?
Lama bahkan hingga makanan itu hampir habis tidak ada reaksi yang berarti dari Kibum ia bahkan menikmatinya dengan wajah datar dan terlalu santai. Kibum yang menyadari tengah diperatikan Donghae mengurungkan suapannya ke dalam mulut untuk yang kesekian kali.
" Kenapa kau melihatku terus?", tanyanya.
" Tidak, aku hanya ingin tahu. Kau tidak memberitahuku bagaimana rasa makanan ini sejak tadi", Donghae kembali merengut.
Kibum tersenyum diambilnya sesumpit sayur dan membawanya ke depan mulut Donghae" Ini coba kau rasakan sendiri, menurutku kau cukup berbakat memasak", Kibum menyuapkan potongan sayur tersebut.
Donghae mengunyahnya dengan pelan. Rasanya memang tidak buruk bagi seorang pemula. Terlebih dirinya sama sekali belum pernah menginjak dapur kecuali mengambil air minum, tapi bukan itu yang ia inginkan. Ya, setidaknya Kim Kibum memuji, atau apalah yang dapat menyenangkannya.
Mereka berdua makan dalam diam, masih dengan Donghae yang menyembunyikan manyun di wajahnya, juga Kibum yang tetap datar tanpa expresi.
"Anak itu tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan selain tersenyum, atau diam sama sekali", omel Donghae, dalam hati.
Hari sudah beranjak siang ketika Donghae memutuskan untuk menyudahi kegiatan barunya, membersihkan seluruh apartement Kibum, menepikan perabotan yang tidak penting, memindahkannya kegudang, juga menyusunnya hingga sedemikian rupa. Membuat keadaan apartement mewah itu semakin cantik dan nyaman. Disisi lain Kim Kibum tidak sama sekali tahu apa yang istrinya kerjakan, ia sibuk berkutat dengan berbagai macam berkas-berkas serta laptop kerja di dalam kamarnya.
Ini menambah kadar kekesalan Donghae, walaupun Kibum sempat meminta ma'af karna tidak dapat membantunya, akan tetapi Donghae tetap kesal karna dia tidak tahu mana barang yang masih Kibum gunakan mana yang tidak.
Jadilah ditengah rasa kesalnya yang membuncah Donghae menumpuk semua barang yang ia rasa buruk di dalam salah satu kamar yang difungsikan sebagai gudang. Kalau Kim Kibum kelak kebingungan mencari barang-barangnya, Lee Donghae tidak akan ambil pusing dan akan menyuruh lelaki itu untuk mencarinya sendiri di dalam gudang.
Semua beres, Donghae tinggal membersihkan diri, lalu menikmati waktu luang ditengah hari.
Ternyata mengurus rumah tanpa pembantu itu melelahkan, terlebih jika memiliki suami super sibuk yang tidak mau membantu. Grr…Donghae mengeram kesal. Sudahlah lebih baik dia berendam air hangat bercampur aroma Terapi di dalam bathup. Pasti rasanya sangat menyenangkan.
20 menit kemudian setelah hampir ketiduran di dalam kamar mandi, Donghae menyudahi acara berendamnya. Rasanya sangat segar, tubuhnya yang tadi pegal setelah berkerja keras kini kembali pulih. Fresh, apakah Kibum pernah mencobanya? Donghae pernah masuk kekamar mandi di kamar Kibum, tetapi dia tidak menemukan sabun cair , Donghae tidak perlu membayangkan cara Kibum mandi sedikitpun, itu membuatnya bergidik geli campur malu.
Donghae membalut tubuhnya dengan handuk, karna dia bermaksd menggantinya dikamar saja, toh itu kamarnya dan dia bebas mengekspose tubuhnya sendiri.
Sebelum sampai di depan lemari pakaian, Donghae sempat berkaca di depan cermin memandangi tubuhnya yang sempurna, sintal, dan jenjang bentuk tubuh idaman setiap Yeoja.
Perlahan Donghae membuka handuk yang melilit sebagian tubuhnya, ia terbiasa mengamati tubuhnya sendiri, mencari celah lemak yang harus dihancurkan. Dan lihat! Baru beberapa hari tinggal bersama Kim Kibum tubuh Donghae nampak sedikit lebih kurus dari biasanya. Ada sesuatu yang menyusut dari anggota tubuhnya. Terutama di bagian dada.
Tangan Doghae bergerak menyentuh buah dadanya, rasanya benda itu mengecil dan sedikit mengendur, pasti ada lemak yang menyusut di situ.
Kedua tangan Donghae masih setia memegang dan mengangkat buah dadanya hingga secara tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar tanpa mengetuk pintu. Jelas orang itu mendapati tubuh Donghae yang tidak tertutup apapun, juga kedua tangan yang masih setia menempel di dada, bukan tepatnya buah dada.
Spontan Donghae terlonjak, meraih segera selimut diatas kasur lalu melingkupkan keseluruh tubuhnya.
''Yah! Kim Kibum, kau tidak sopan. Kalau mau masuk ketuk pintu dulu", teriak Donghae, kesal campur malu.
Di depan pintu Kim Kibum berdiri salah tingkah, dengn wajah bersemu merah, juga sesuatu yang menegang di sela tubuh bagian bawah.
Dengan cepat disertai rasa bersalah ditutupnya kembali pintu dan beteriak dari luar. " Ma'af aku lupa kalau sekarang kamar ini milikmu. Aku hanya ingin mengambil sesuatu di dalam lemari",
" Dasar Pabbo", umpat Donghae, seharian ini Kibum sukses membuatnya kesal. " Cepat masuk dan ambil sendiri barangmu", perintahnya.
Dengan masih salah tingkah dan takut-takut Kibum kembali membuka pintu kamar Donghae lalu bergegas menuju arah lemari pakaian yang terdapat di sisi tempat tidur yeoja itu. Dia tidak mendapati wanita itu, mungkin sedang mengganti pakaiannya d ikamar mandi.
Dapat, Kibum tidak mengalami kesulitan mendapatkan benda yang ia mau. Karna benda itu dia letakkan di salah satu laci lemari tersebut, dan laci itu ia kunci rapat. Tidak ada seorangpun yang bisa membukanya. Tidak juga Donghae.
Kibum megumpulkan benda-benda rahasia itu, secara cepat sebaik mungkin tidak sampai terlihat oleh istrinya. Tidak Donghae tidak boleh tahu.
T.B.C N.B : Terimakasih semua, saya sangat senang kalian berkenan datang dan mampir membaca fict ini. Saya sedang melaukan pembenahan WP, kemungkinan ini adalah chap terakhir yang di simpan disini. Untuk berikutnya akan di taruh di wp .com, namun tidak dalam waktu dekat ini. Mungkin 2 atau tiga hari lagi. Saya sangat berterimakasih bila kalian semua berminat dengan fict ini dan melanjutkannya ke sana.
Gomawo All.
