Beautiful Stranger

.

.

.

"Aku, pergi?" Sungmin mengulang kata kata itu terbata bata. Matanya menatap liar ke sekeliling ruangan di mana seluruh petinggi kerajaan biasa mengadakan rapat penting

Sungmin yang tadinya 'sedikit' berharap ketika di panggil ke Istana Utama langsung terpaku mendengar apa maksud sebenarnya dari semua ini

"Betul" ucap salah satu pria tua yang duduk satu tingkat di bawah raja, "Kami tahu betul ini bukan kehidupan yang kau inginkan, kau pasti merasa sangat tersiksa dan malu karena harus menghadapi kehamilan di luar akal sehatmu"

Tersiksa? Kenapa mereka baru sadar sekarang? Setelah semua yang telah di lalui Sungmin, Setelah yang terjadi pada tubuhnya…

"Aku…" Sungmin kehilangan kata kata

"Tenang saja" Pria tua itu masih melanjutkan perkataannya sambil mengangkat telapak tangannya terarah pada Sungmin, "Kami janji setelah bayi itu lahir, kau boleh memiliki hidupmu lagi. Kau boleh bertani di lahan luas yang telah di sediakan oleh pemerintah untukmu—bukankah itu cita cita Ummamu ketika kalian jatuh miskin dulu? Kalau itu tidak cukup kami juga akan memberikan beberapa harta kerajaan sebagai modal hidupmu"

"B… boleh memiliki hidupku kembali?" perkataan itu meluncur begitu saja dari bibir Sungmin. Bagaimana dia bisa memiliki hidupnya lagi kalau sebagian dirinya sudah berada pada orang lain.

Tanpa terasa Sungmin mengelus lembut perutnya—merasakan guncangan halus yang membuatnya meringis kecil.

Seakan tidak berpengaruh dengan sikap gelisah Sungmin, Tetua itu kembali mengangguk pelan, "Tentu, bagaimana Selir Lee? Apakah kau mau menyerahkan bayi itu ketika dia lahir kemudian menghilang, melanjutkan hidupmu yang tertunda? Ayolah—kau harus mengakui kau juga tidak menginginkan bayi itu bukan?" sekarang Tetua itu malah menyerangnya—menyerang bagian sensitif Sungmin

"Aku…" Sungmin menggigit bibirnya, menahan pemberontakan dirinya yang sebagian berteriak kalau perkataan Tetua itu salah… bayi ini anugerah bukan beban bagi dirinya

"Tapi aku ini Ibunya" tiba tiba saja Sungmin mendapat kekuatan untuk berkata seperti itu, "Apa jadinya kalau aku menghilang sementara—"

Perkataannya terpotong begitu mendengar tawa halus dari beberapa orang di sana. Sungmin lagi lagi terdiam. Ia di tertawakan seakan akan Sungmin sudah mengatakan hal yang gila

"Kau Ibunya?" ulang Tetua yang lain sambil menggeleng pelan, "Ingat Selir Lee kau itu Lelaki! Bayi itu ada hanya karena kutukan yang terjadi! Tidak lebih! Jadi jangan pernah berharap dia akan menjadi anakmu dan kau Ibunya" Serang Tetua itu mulai menunjukkan wajah sebenarnya—wajah bengisnya

"Perdana Kim, hentikan" Perintah Raja melirik Selir Lee yang mulai tertunduk di hina sedalam itu, Raja mendesah panjang sebelum turun dari tahtanya dan berjalan mendekati Sungmin, "Selir Lee… permintaan kami hanyalah—" Ia terdiam lagi, jujur entah kenapa sebagian dari hati kecilnya menyuruh sang Raja agar tidak mengusir Sungmin, ia takut akan ada hal buruk yang akan terjadi, "Kami hanya mau menghilangkan bebanmu… ini bukan takdirmu, kau berhak menikah dengan gadis manapun, kau juga berhak memiliki keluarga normal dan hidup bahagia, tapi bukan dengan cara seperti ini…"

Sungmin mendongak—memandang dalam dalam kedua mata Raja di depannya, "Aku tahu ini bukan takdirku—aku sudah pernah meneriakkannya pada utusan kalian, tapi apa? Kalian memaksa, memeras bahkan mengancam Ibuku yang tua renta agar menyetujui pernikahan gila ini! Ini juga bukan mauku!" Sungmin sudah tidak tahan lagi, ia berdiri di depan Raja—menatap berani semua orang di ruangan itu

"Aku juga tidak menginginkan bayi ini! Aku tidak minta agar aku bisa di hamili oleh orang berjenis kelamin yang sama denganku! Aku tidak menginginkannya!" teriak Sungmin mulai emosi. Bebannya selama beberapa bulan ini ia keluarkan sekaligus membuat beberapa orang juga mulai terpancing, "Jaga sikapmu Lee Sungmin! Kau baru saja berteriak di depan Raja!"

"Tidak apa apa" elak sang Raja bisa mentolerirnya

"Tapi Raja!" saat sang petinggi mau protes, tiba tiba penjaga di luar berteriak mengumumkan kedatangan seseorang

"Pangeran Kyuhyun akan memasuki Ruang Rapat"

.

KREKK

.

Pintu geser nan mewah itu bergerak ke samping, memperlihatkan sosok Pangeran Kyuhyun yang terengah engah mengatur napasnya, "Aku dengar Selir Lee di panggil—apa yang…" kata katanya terhenti saat menyadari suasana tegang di mana Selirnya berdiri tegak di antara para Tetua, "Sungmin.." Pangeran langsung menghampirinya, menyentuh pinggang Sungmin lalu berbisik lembut, "Kau sedang apa di sini, kembalilah ke ruanganmu—aku perlu bicara serius dengan mereka" mata Kyuhyun berubah tajam, ia hendak menuntun langkah Sungmin kalau saja Selirnya itu tidak menepis tangannya dan bergerak menjauh

"Aku juga sedang bicara penting dengan mereka, Pangeran" balas Sungmin bernada dingin—memberi jarak antara dirinya dan Pangeran

"Ada apa memangnya?" tanya Pangeran yang tidak tahu apa apa karena dari tadi pagi dia sudah tidak berada di istana, "Apakah ada yang tidak aku ketahui?" tanyanya menyelidik

"Aku—"

"Kami telah sepakat Pangeran" sela Pria tua yang di panggil Perdana Kim oleh sang Raja, ia maju ke depan—mengangguk sok penting melihat pandangan bingung Pangeran, "Selir Lee berhak mendapatkan hidupnya kembali… maka dari itu, sehabis bayi dalam kandungannya lahir, Selir Lee akan pergi dari sini" katanya tenang

"Aku tidak sepakat seperti itu!" sergah Selir Lee tidak terima, "Kalian yang mengatakannya padaku!" ia tampak gusar karena sekarang tatapan tajam sang Pangeran berubah arah padanya

"Tapi Anda sendiri yang berkata, Anda tidak menginginkan pernikahan ini, Anda juga tidak menginginkan bayi itu" tambah Perdana Kim menambah keruh suasana. Ia berhasil membuat Pangeran tampak murka dalam sekejap, "Apa benar yang di katakan Perdana Kim, Selir Lee?!" tuntut Pangeran suaranya meninggi

"Aku… " Sungmin nyaris mau menangis detik ini juga. Ingin rasanya ia mendekat ke arah Pangeran, mengatakan semua hanya emosinya semata, namun…

Kedua mata nanarnya malah merunduk—melihat gundukan lembut di perutnya yang mulai menonjol, memperlihatkan kehamilannya di bulan ke 4

"Ini salah" bisik Sungmin lemah, "Ini memang salah… tidak seharusnya aku terlibat sejauh ini…" Ia memejamkan mata—menguatkan diri untuk menatap Pangerannya, "Aku laki laki Pangeran sedangkan kau—kau hanya membutuhkan keturunan, aku akan memberikannya, ya.. bayi ini milikmu dan ketika itu selesai aku bisa kembali pada keluargaku…" ujarnya mengambil keputusan.

Semua orang di ruangan itu terdiam. Rencana busuk mereka berjalan lancar tanpa ada perlawanan berarti dari Selir Lee maupun Pangeran yang hanya terdiam di tempat. Kedua sisi kanannya terkepal kuat, raut wajahnya berubah keras

"Kau tidak menginginkan bayi kita?" suara Pangeran merendah—nyaris terdengar nada memohon di dalamnya

Sungmin tertawa pelan—tawa untuk menyembunyikan tangisnya, "Kau yang menginginkannya, ah tidak~ kalian semua yang menginginkannya, bukan aku"

Lagi dan Lagi, Sungmin berbohong. Ia tahu—dia yang paling tahu, betapa kehidupan di dalam tubuhnya membuat hari harinya berharga belakangan ini.

Ia berbohong entah untuk apa atau siapa

"Tapi Sungmin…" tahan Pangeran berusaha mencengkram kuat lengan Sungmin yang hendak keluar dari ruang rapat, "Apalagi Pangeran—aku mohon, aku butuh istirahat" elak Sungmin mencoba mengelak dari tatapan Pangeran yang bisa menelanjangi pikirannya

"Kau tidak boleh kemana mana sampai kita selesai bicara!" titah Pangeran mengeluarkan wewenangnya.

"Pangeran—" Salah satu Tetua yang ingin memotong pembicaraan mereka, malah menunduk dalam dalam begitu Pangeran Kyuhyun melayangkan tatapan mematikannya, "Aku ingin mendengar Selir Lee bicara, bukan kau" geramnya sedikit menggertak dan berhasil, Tetua itu mundur teratur sementara Pangeran membalikkan tubuh Selir Lee ke arahnya

"Apa masalahmu, apa mereka yang memaksamu untuk pergi?" bisik Pangeran yang hanya bisa di dengar Sungmin, "Kau tahu ada aku, tenang saja—aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu" janjinya di sertai tatapan memohon di mata tajam itu

Pertahanan Sungmin runtuh, tangannya mencengkram lengan Pangeran dengan kuat begitu merasakan ada sesuatu bergejolak dalam tubuhnya, "Mereka benar… ini bukan takdirku… aku seharusnya tinggal di desa, jauh dari keramaian, menikah dengan gadis sederhana dan membuat kehidupan dengannya…" Sungmin terdiam sejenak—memberi jeda lalu berbicara lagi, "Aku lelaki Kyuhyun, ini gila…" bisiknya pedih

Raut wajah Pangeran—datar, tidak terbaca, "Lantas kenapa kalau kau lelaki? Asal kau bahagia, bukankah itu yang terpenting?" desak Pangeran

"Tapi kau hanya butuh bayi ini, bukan aku" Sungmin perlahan lahan melepaskan pegangan Pangeran Kyuhyun lalu berjalan menuju pintu depan, "Aku hanya orang asing bagimu dan selamanya akan tetap seperti itu"

.

DEG

.

Kedua mata Pangeran melebar, kalimat itu—kalimat yang sama persis ketika ia mendengar…

"Tunggu dulu!" Pangeran yang mau mencegah Selir Lee sekali lagi, tiba tiba terkejut. Langkah kaki mungil Selir Lee yang hendak keluar mendadak saja terhenti. Tubuhnya terjatuh hampir menyentuh lantai kalau saja sepasang lengan Pangeran Kyuhyun tidak menangkapnya

.

'Kalau kau tidak menginginkan bayi ini, biar aku mengambilnya kembali'

.

"Sungmin? Sungmin!" Pangeran yang panik menampar lembut pipi Selir Lee di pelukannya sementara Ratu yang ikut khawatir berteriak keras menyuruh memanggilkan tabib istana

Seluruh ruangan gempar. Para Tetua menatap cemas sebelum tatapan mereka berubah hampa saat melihat garis darah keluar dari sela sela kaki Selir Lee

"AARRRGHHHHH" Sungmin berteriak kesakitan, "TIDAKKKKKKKK, JANGANNNNN" Racaunya seperti orang gila

"Sungmin! MANA TABIB ISTANA! SURUH DIA CEPAT KEMARI!" Pangeran Kyuhyun ikut meneriaki seluruh bawahannya mendengar jeritan Sungmin, "Tidak apa apa, sebentar lagi Tabib datang Sungmin, kau… bertahanlah" Pandangan sang selir mengabur, ia mengelus peluh keringat dingin yang membanjiri wajah selirnya itu

"Kyu… dia…" Sungmin tidak sanggup berbicara lagi. Pikirannya tiba tiba di penuhi oleh suara halus yang menakutkan. Suara yang mengancam calon bayinya

.

'Bukankah kau tidak menginginkannya Sungmin? Biar aku meringankan bebanmu, aku akan mengambilnya dari mereka. Tidak akan kubiarkan mereka mendapatkan bayi itu sementara mereka terus saja menyakiti keturunan Lee'

.

"Tidak… kumohon jangan…" isak Sungmin sambil mencengkram perutnya erat erat—ia ketakutan sekali, tatapannya memohon ke arah Kyuhyun, "Ada apa Sungmin? Bicara padaku?" pertanyaan Pangeran tidak bisa di jawabnya. Bibirnya nyaris kelu, semua teriakannya nyaris tidak berguna

Tidak lama Tabib datang, dia dan seluruh dayang dayang Sungmin berbondong bondong mengatur tubuh Sungmin—memindahkannya ke kamar terdekat. Pangeran Kyuhyun yang mengikuti mereka dari belakang, terbelalak kaget.

Darah… garis darah itu terus menetes dari sela sela kaki Sungmin

"Jangan…jangan… aku…"

"Jangan banyak bicara dulu, Selir Lee, saya akan menolong anda" serutabib perempuan itu tenang. Tapi Sungmin tetap menggelengkan kepala keras, tatapannya ketakutan bercampur rasa bersalah yang sangat besar

Suara halus itu—suara halus itu terus berbisik mengancam keselamatan bayinya

.

'Kasihan bayi itu jika ia sampai lahir tapi tidak di inginkan oleh Ibunya sendiri… bukankah lebih baik dia ikut bersamaku?'

.

Sungmin semakin menggelengkan kepalanya keras. Ia berbisik—terus memohon walau tak seorangpun tahu apa yang sebenarnya terjadi

"Jangan kumohon… dia baru 4 bulan… jangan sakiti dia… jangan balaskan dendamu di sini…" pinta Sungmin terus menangis keras. Tapi tidak seorangpun mendengarnya karena mereka sibuk kesana kemari panik melihat darah dari sela sela kaki Selir Lee tidak berhenti mengalir

Semua terasa samar samar bagi Sungmin. Teriakan panik para dayang dayang, atau suara perintah dari Tabib istana tetap tidak bisa mengembalikan kesadaran Sungmin yang mengambang

Ia bahkan tidak sadar jika ada sepasang tangan hangat yang menggenggamnya sejak tadi

"Sungmin" bisik Kyuhyun, kedua tangannya merengkuh tubuh Sungmin dari samping dengan erat, "Bertahanlah" kata Kyuhyun khawatir

.

DEG

.

Pandangan Sungmin berubah kosong. Putaran lembut di pikirannya tiba tiba membuat segalanya berputar hebat sehingga Sungmin merasa seperti De Javu

.


.

"Jaejoong, bertahanlah" Seorang Pria tampan tampak ketakutan sambil kedua tangannya memeluk sosok rapuh di atas tempat tidur, "Bagaimana tabib?" Ia beralih pada sosok lain di kamar mereka yang selesai memeriksa tubuh dalam dekapan Pria itu

"Sayang sekali Pangeran… Permaisuri Jaejoong…" Tabib itu mencuri curi pandangan ke arah Pangeran di depannya, "Dia keguguran…" katanya final

"A..apa?" Pegangan Pangeran mengendur di tubuh Permaisurinya. Ia berganti mencengkram kedua bahu Tabib tua tersebut, "Kau tidak bercanda bukan?! Bagaimana dia bisa keguguran! Kandungannya baru 4 bulan!" cecar Pangeran masih tidak terima

"Justru karena baru 4 bulan kandungannya masih sangat rawan" jelas Tabib itu penuh pengertian sambil melepaskan tangan Pangeran di bahunya, "Maaf Pangeran Yunho, tapi bayi anda sudah meninggal dunia" Tabib itu menghela napas panjang sebelum bangkit penuh hormat keluar dari kamar besar di Istana Utama

Pangeran Yunho hanya bisa mematung di sisi tempat tidur. Sebelah tangannya tiba tiba tertarik, ia menoleh—Jaejoong sudah sadar dari pengaruh obat bius sambil memandang nanar wajah Yunho yang tampak kosong

"Ap..a…." Jaejoong yang merasakan firasat buruk langsung meraba raba perut datarnya. Tidak ada apa apa di sana—tidak ada gundukan lembut yang terbungkus di dalam kulitnya

Janinnya sudah tidak ada

"TIDAKKKK!" Teriak Jaejoong histeris, Pangeran Yunho buru buru memeluk istrinya sambil terus berbisik menenangkan, "Tidak apa apa, tenanglah Jae, dia bukan milik kita…" tanpa ia sadari, Yunho juga meredam suara kecewanya dalam dalam

"Tapi kita menginginkannya… kenapa.. " Tangis Jaejoong begitu terdengar perih, ia yang tidak sanggup lagi hanya bisa menangis dalam pelukan Yunho, "Aku juga.. aku juga menginginkannya…" Yunho balas memeluk Jaejoong, begitu erat sampai terasa sesak hingga bernapas saja mereka tidak bisa

Mereka berdua saling menguatkan tanpa tahu ada takdir kejam lain yang menunggu mereka

.

.

.

.

"Tidak Appa! Aku tidak mau begitu!"

"Tapi kau berjanji! Kau berjanji jika Jaejoong tidak bisa memiliki keturunan kau mau mengambil selir untuk di jadikan permaisuri! Ingat Pangeran! Tidak ada Permaisuri yang tidak punya keturunan! Jika itu sampai terjadi maka Selir yang mempunyai anaklah yang harus naik tahta!"

"Tapi Jaejoong baru sembuh dari lukanya!" teriak Pangeran Yunho kali ini di selimuti emosi, "Kenapa Appa menyuruhnya untuk keluar dari istana secepatnya—"

"TIDAKKK!"

Suara teriakan yang lebih keras dari pertengkaran Ayah dan Anak itu berhasil menyita perhatian mereka. Raja dan Pangeran Yunho saling pandang kemudian keluar dari ruangan mereka menuju sumber suara

Di sana, di tengah taman istana yang megah, Jaejoong jatuh terduduk di kelilingi dayang dayang milik Permaisuri yang baru

"Jae!" Pangeran langsung menghampiri Jaejoong—membantunya berdiri lalu berbalik memandang tajam ke arah Perempuan itu, "Apa hakmu mengusirnya sekasar itu! Jawab aku Permaisuri yang terhormat!" sindir Pangeran sambil memandang tajam seolah mengintimidasi

Bukannya takut, Permaisuri baru itu malah menyunggingkan senyum menyebalkan, "Aku punya hak untuk mengusir Selir yang tidak kusukai, bukankah itu peraturan Kerajaan Pangeran Yunho yang terhormat" balasnya tidak kalah dingin

"Kau?!"

"Berhenti Pangeran!" Raja segera menahan lengan Pangeran yang mau maju ke depan, "Permaisuri Song benar, dia berhak" Raja menghela napas panjang.

Sekarang giliran Pangeran kebingungan, "Apa maksud Apa? Jae keluar dari istana begitu?" kata Pangeran Yunho penuh penekanan

Raja memandangnya sedikit merasa bersalah, matanya yang penuh tatapan pengertian selama ini ketika hampir seluruh petinggi negara menghujat keputusan gila Pangeran Yunho yang ingin menikahi sesama jenis, Lee Jaejoong

"Kalau sang Permaisuri menginginkannya" jawab sang Raja dengan berat hati

"TIDAK!" Pangeran Yunho menepis keras lengan Ayahnya dari bahunya sambil berjalan mendekati Jaejoong lalu memeluknya erat erat, "Aku tidak memperbolehkannya! Memangnya kau siapa?" tudingnya mengarah pada permaisuri, "Ingat! Kau baru di angkat! Jadi jaga sikapmu!"

"Hmm" Permaisuri menyunggingkan senyum sinis, "Itu hakku Pangeran—dia hanyalah noda kerajaan kita! Kau harusnya malu mendengar desas desus dari negara tetangga!"

"Lalu?" Yunho mau bergerak maju kalau Jaejoong tidak menahannya, "Yunho…" Jaejoong menggeleng pedih menyuruh Yunho tetap di sisinya

Tangan mereka berdua saling menggenggam kuat seolah tidak terpisahkan

"Kalau kau mengusirnya, baiklah tapi aku juga akan pergi" kata Yunho dingin

"APA?" Seluruh dayang, beberapa penasehat yang sudah mengerubuni mereka dari tadi, serempak teriak keras. Sang Raja pun tampak terguncang meski sebisa mungkin dia menjaga reaksinya, "Pangeran.." bisikan Ayahnya berarti ganda, Yunho meliriknya sekilas namun gelengan tidak berdaya ia berikan, "Ayah tahu aku mencintai Jaejoong jadi…"

"Tapi kau Raja berikutnya!" suara Raja berubah resmi dan tegas—semua orang terdiam, mereka mundur teratur sementara Yunho terus menatap tajam ke depan, "Bagaimana bisa kau mengenyampingkan urusan rakyat hanya demi…" Raja mengibaskan tangannya ke arah Jaejoong yang tertunduk di sebelah Yunho

"Tapi aku mencintainya!" balas Yunho keras kepala

"Lalu dengan cintamu kau mau menghancurkan satu kerajaan? Dengan cintamu kau memilih satu orang di bandingkan rakyatmu?" Raut wajah sang Raja berubah terluka—belum pernah seumur hidupnya dia merasa se-kecewa ini pada putra tunggalnya

"Ayah…" panggil Yunho membuat Raja mendongak lagi, "Ayah juga sangat mencintai Ibu sehingga hanya ada Ibu di kehidupan Ayah, biarkan aku hidup seperti itu juga…." Suara Yunho berubah memohon, sebelah tangannya semakin mencengkram kuat jemari Jaejoong

"Tapi Ibumu bisa memberikan keturunan, Ayah juga setuju kau menikahi Jaejoong sekalipun asalkan dia bisa mengandung, nah sekarang… kau tahu kan dia…" Raja menggeleng sedih, jujur kebahagiaan Yunho di atas segalanya, tapi sekali ini Raja ingin egois

"Tapi Ayah!" Yunho masih bersikeras

"Pangeran Yunho" Raja memejamkan mata sejenak saat mau mengambil keputusan, "Selama ini Ayah selalu mengalah padamu, Ayah akan memberikan apapun demi kebahagiaanmu, sekali saja—sekali saja… kau menurut apa takdirmu…"

Tidak ada paksaan, tidak ada nada tegas. Yunho sampai membelalakan matanya melihat suara permohonan dari Ayahnya

Ayahnya seorang Raja hebat terdengar frustasi dan tatapan mata pedihnya membuat Yunho sadar betapa membangkangnya dia selama ini

"Tapi tidak harus sampai di usir" suara Yunho mulai melunak, "Biarkan Jaejoong tinggal di sini sebagai selirku" Jaejoong tersenyum pedih meski ia tetap tidak rela mengingat Yunho-nya akan menjadi milik orang lain juga, sang permaisuri yang baru

"Aku—"

"Tidak Raja! Saya menolak dengan tegas!" Permaisuri baru yang merupakan tunangan sah Pangeran Yunho sebelum Jaejoong masuk dan menghancurkan segalanya, merengsek memasuki pembicaraan mereka, "Selir Jaejoong harus keluar dari istana! Aku tidak mau punya suami yang memiliki sikap menyimpang" tambahnya sinis

"Ya! Jaga ucapanmu!" bentak Pangeran Yunho, refleks ia mendekati Permaisuri hendak memarahinya lagi namun sayang, Permaisuri lebih gesit menghindar lalu mendekati Jaejoong di dekat pintu istana, "Kau harus tahu diri sebaiknya kau keluar sekarang juga, tidak seharusnya seorang lelaki bisa hamil, menjijikan" Permaisuri melirik tubuh Jaejoong atas bawah seolah menghinanya

"Kau?" Jaejong yang merasa tatapan permaisuri aneh tiba tiba merasakan sesuatu ganjil beberapa hari yang lalu

Tidak lama, kedua mata indahnya membulat penuh

"Apa? Kau sudah sadar? Hmm, bagaimana dengan minuman buah persik dariku berkhasiat bukan?" ejeknya senang melihat raut wajah Jaejoong yang berubah hampa

"KAU YANG MEMBUNUH ANAKKU!" Sontak Jaejoong mencengkram baju kebesaran sang permaisuri, tapi itu tidak berlangsung lama karena sebaris pengawal di tambah dayang dayang segera memisahkan mereka

"Dia gila! Lihatkan Pangeran! Selirmu itu gila karena kehilangan anaknya sehingga dia menuduhku!" kata Permaisuri pura pura ketakutan

Jaejoong tidak memperdulikan teriakan perempuan itu, ia berjalan gesit mendekati Yunho, "Dia yang membunuh calon anak kita, aku ingat beberapa hari yang lalu dia bertamu kemari, kau ingat? Minuman buah persik itu? Aku meminumnya, itu pasti ramuan untuk menggugurkan kandunganku!" Jaejoong berteriak histeris kalau saja Yunho tidak memeluknya erat, "Jae tenangkan dirimu, kau harus istirahat, nanti akan kuselidiki" bisik Yunho agak pusing dengan situasi yang terjadi begitu cepat

"Tidak!" racau Permaisuri memainkan perannya sangat hebat, "Aku tidak mau ada orang gila di istana! Usir dia Pangeran! Atau…. " Kedua mata Permaisuri menyipit berbahaya, "Atau aku akan bunuh diri" ancamnya sengaja mengambil salah satu pedang dari tubuh pengawal di dekatnya

"Permaisuri!" Raja berteriak panik, ia berpaling ke arah anaknya, "Pangeran kumohon!"

"Tidak Ayah, aku tidak mungkin mengusir Jae" tolak Yunho semakin mencengkram tubuh Jae di pelukannya

"Dia harus di usir atau aku yang mati!" ancam Permaisuri lagi

"Kau yang membunuh bayiku dan kau malah mau bunuh diri! Umpat Jaejoong berontak, amarahnya meluap luap sampai ia menyerang permaisuri dan semua kecelakaan itu terjadi…

Alam bertindak kejam

Mata di balas mata dan kematian di balas kematian

Jaejoong mendapatkan balasan atas bayinya yang telah meninggal, seharusnya ia lega dengan kecelakaan yang membunuh permaisuri lewat tangannya sendiri

Tapi tidak bagi orang lain

"Jae…" bisikan Yunho menyadarkan amarahnya, "Yunho aku…" Jaejoong berpaling—ia terdiam melihat wajah datar Yunho dan wajah sengit semua orang

"Tidak, bukan aku! Itu kecelakaan!" teriaknya kencang, tapi sayang semua sudah terlanjur terjadi, Jaejoong di dakwa pembunuhan permaisuri dan di hukum mati atas kesalahan yang tidak ia lakukan

"Yunho! Aku bersumpah itu bukan mauku! Aku tidak membunuhnya! Dia yang membunuh bayi kita!" ucapan demi ucapan di hiraukan oleh Yunho. Matanya masih memandang sendu tubuh Jaejoong, tapi ia segera membuang muka setiap kali mengingat kejadian naas itu

Untuk kali ini, bahkan Yunho pun tidak dapat berbuat banyak. Ia juga hampir menyangka, Jaejoong memang menusukkan pedang itu, tapi… tetap saja, ia kecewa… tidak seharusnya Jae bertindak segegabah itu

"Yunho!" Jaejoong masih terus memanggil Yunho dari depan pengadilan di mana dia akan menjalani hukuman mati

"Yunho… aku…." Jaejoong menggeleng sedih, tangisnya pecah meski sang algojo sudah mengalungkan tali ke lehernya, "Aku bersumpah tidak membunuhnya… aku.. aku mencintaimu" bisiknya

"Apakah ini pria yang di cintai setengah mati oleh Pangeran? Seorang pembunuh?" Salah satu tetua tersenyum meremehkan sambil menatap Pangeran yang tetap memasang tampang dinginnya

"Aku tidak mengenalnya, dia orang asing dan selamanya akan selalu seperti itu" balas Yunho masih menatap lurus ke arah Jaejoong di depannya

Jaejoong terkejut, seumur hidup ia mengenal Yunho—belum pernah dia mendengar perkataan sekasar itu dari bibir kekasihnya

Lagi, ia tertunduk dalam dalam menyembunyikan tangisnya, dadanya terasa sesak dan menyakitkan

"Hahaha, baguslah~ apa jadinya kalau seorang namja yang menjadi permaisuri—bisa mengandung juga? Benar benar, aku sudah menduga kalau pria ini menggunakan guna guna pada Pangeran" balas Tetua itu masih mengejek Jaejoong

"Apa?" Jaejoong jelas mendengar semua itu, kepalanya perlahan lahan terangkat dan mata basah itu memandang tajam ke semua orang—seluruh pejabat tinggi yang menyaksikan detik detik kematiannya

"Kalian menyangka aku menggunakan guna guna! Tidak! Itu anugerah! Dan kalian semua telah merampasnya dariku! Kalian—"

"Lee Jaejoong, anda akan segera melaksanakan hukuman mati, ada perkataan terakhir?" ucapan sang algojo memotong ucapan Jaejoong tadi

Jaejoong tersenyum kecut, ia sekali lagi memandang lama wajah datar Yunho lalu beralih ke sekumpulan pria tua yang menatap senang dengan acara eksekusi ini

"Kalian tidak begitu menyenangi lelaki yang bisa mengandung ya?" ejek Jaejoong seraya menyeringai, "Aku tidak bersalah!" teriaknya hingga keseluruh penjuru lapangan, "Dan kalau sampai aku memang tidak terbukti bersalah, aku bersumpah bahwa keturunan 100 kerajaan ini tidak akan bisa memiliki anak sebelum mengambilnya dari garis keluargaku! Keluarga besar Lee! Ingat itu! Kalian akan menyesalinya dan menjilat ludah sendiri!"

Seluruh orang terdiam, Pangeran Yunho bahkan sempat bergerak sedikit, menyadari kedua mata benih Jaejoong yang tidak pernah berbohong padanya.

"Tidak" bisik Pangeran parau, "TIDAK!" Ia berlari kencang meninggalkan tahtanya bertepatan dengan sang algojo memasang tutup kepala berwarna hitam kepada Jaejoong

"Tidak! Batalkan hukumannya, aku bilang—"

SRAKK

Algojo terlanjur menarik pelatuk besar yang membuat lubang besar di bawah Jaejoong terbuka lebar, detik itu juga Yunho berjalan tertatih mendekati tubuh Jaejoong yang bergerak tidak berdaya—tergantung

"TIDAK!"

.


.

"TIDAKK!" Sungmin berteriak kencang setelah deja-vu itu telah menghilang. Keringatnya tambah banyak dan membuat pakaian tipisnya basah kuyup

"Sungmin kau kenapa, tenanglah, kau terus berteriak dari tadi….." Kyuhyun yang berada di sampingnya segera memeluknya erat tidak peduli kalau selusin dayang berada di dekat ranjang mereka

"Tidak… jangan…" Sungmin terus menangis dan memohon, ia masih bisa mendengar suara suara halus yang dia kira sebagai suara Jaejoong

.

'Bukankah kau tidak menginginkan bayi ini? Lalu buat apa kau mempertahankannya?'

.

"Tidak…" Sungmin menangis lagi, suaranya nyaris habis dan kesadarannya hampir menurun.

"Tenang Sungmin, tabib akan berusaha sebisa mungkin menyelamatkan bayi kita" bujuk Kyuhyun yang tidak tahu apa apa, ia terus menenangkan Sungmin tapi bisa di lihat kalau Kyuhyun juga panik melihat darah tidak berhenti keluar dari sela sela kaki selirnya

.

'Bayi itu tidak akan selamat, karena dia akan ikut bersamaku' kata suara itu lagi

.

"JANGAN!" Tubuh Sungmin melengkung ke atas, rasa sakit beserta tangisnya membaur jadi satu, "Aku berbohong mengatakan itu—aku menginginkannya, yah aku menginginkan bayi ini, kumohon jangan ambil dia… Kyu…." Sungmin menangis histeris di tubuh Kyuhyun, mengeratkan tangannya sambil terus menggeleng lemah, "Aku berbohong Kyu, aku menginginkan bayi ini… aku tahu ini salah, aku tahu semuanya berjalan sangat tidak normal… tapi aku bahagia, ya aku bahagia…"

"Sssttt, berhenti menyalahkan dirimu" balas Kyuhyun membalas memeluk Sungmin, "Aku sudah mendengar semua ceritanya dari Ibumu"

Suara halus di kepala Sungmin tiba tiba saja menghilang, menyisakan Sungmin yang sedikit bernapas lega

Kyuhyun mencium kening Sungmin sekilas lalu melanjutkan ucapannya—berbisik cepat di telinga Sungmin, "Kenapa kutukan itu bisa terjadi, kenapa aku menikah dengan kau, semuanya… aku sudah tahu Sungmin dan…" Kyuhyun menghembuskan napas kuat kuat, "Aku tidak selemah Yunho—tidak akan kubiarkan siapapun menjauhkanmu dariku, tidak—meski aku harus memilih antara kerajaan atau dirimu, sudah jelas siapa yang akan kupilih"

.

DEG

.

Cengkraman kuat dari dalam perut Sungmin mengendur

"Darahnya berhenti mengalir!" pekik Tabib mulai lega, "Ambilkan jarum panas dan beberapa benang steril agar aku bisa menjahit lukanya, cepat!" beberapa dayang segera berlari meninggalkan ruang tidur Pangeran

"Berhenti?" tanya Kyuhyun takjub, Tabib mengangguk senang sebagai jawabannya, "Dengar itu Sungmin, sudah kubilang jangan khawatir!" Pangeran memeluk selirnya lalu mencium kening Sungmin yang basah oleh keringat

"Aku…" Sungmin mendongak ke atas, tak lama ia memejamkan mata—merasakan suara itu, tetapi tidak terdengar apa apa lagi, "Aku tidak peduli tentang kutukan, aku tidak peduli tentang tahta permaisuri, begitu tahu tentang cerita sebenarnya, aku langsung berkuda secepat mungkin, ingin menemuimu" sambung Pangeran memandang Sungmin lembut, "Aku hanya menginginkanmu dan untuk itu, aku rela memusuhi seluruh isi kerajaan… ingat itu Sungmin…" Pangeran Kyuhyun mendesah panjang, pelukannya semakin erat

.

DEG

.

Lagi lagi, sentakan itu terasa

"Ya Tuhan" Sungmin mengelus sayang perutnya ketika merasakan gerakan familiar yang selama ini ia rasakan, "Iya Selir Lee selamat, bayi anda berhasilkan di selamatkan" kata Tabib ikut bahagia selesai menjahit beberapa luka dalam Selir Lee

Sungmin bertukar pandangan haru dengan Kyuhyun yang langsung memeluknya lagi dan mencium pipinya tanpa henti

"Kami permisi dulu Pangeran, ingat—biarkan Selir Lee istirahat" tegur Tabib menginterupsi Pangeran.

"Baik" jawab Pangeran sambil memutar kedua matanya di ikuti pelukan Sungmin yang semakin mencengkram erat lengannya

Seluruh dayang dan para pelayan tabib ikut keluar, menyisakan Pangeran Kyuhyun dan Selir Lee berdua di atas tempat tidur

"Pangeran aku—"

"Panggil aku Kyuhyun kalau kita berdua saja" sela Pangeran Kyuhyun ikut berbaring di samping Sungmin dan terus memeluknya

Sungmin tersenyum malu, "Kyuhyun…" panggilnya ulang

"Hmm"

"Tadi sebenarnya aku seperti bisa mendengar suara Jaejoong, dia mengatakan kalau akan mengambil bayi kita terus menerus dalam kepalaku, aku takut…" Sungmin menggeliat mendekati Pangeran sambil terus bercerita, "Apa mungkin dia masih mau—"

"Ssst, kau tenang saja, dia tidak akan bisa mengambil bayi kita kalau perkataanmu itu benar" jawab Pangeran santai walau pikirannya masih tidak bisa menangkap maksud Selirnya, Suara? Di dalam pikiran? Ah mungkin Sungmin merasakan delusional karena kesakitan. Batin Pangeran berbicara

"Kenapa tidak bisa?" kata Sungmin tidak setuju, "Aku merasakan sendiri setiap ucapannya membuat gerakan aneh di perutku yang membuat darah itu terus menerus kelu..ar" Sungmin semakin susah mengucapkan kalimatnya karena tiba tiba saja Pangeran semakin memeluknya erat

"Dia tidak akan bisa" tegas Pangeran sekali lagi, namun suaranya melembut ketika ia mengelus kepala Selir Lee, "Karena akan ada aku yang melindungimu, tidak hanya dari dia, tetapi dari semua orang" janji Kyuhyun

"Pangeran…" Sungmin melonggarkan pelukannya, jarak mereka yang begitu dekat membuat Sungmin memberanikan diri mendongak mendekati wajah Kyuhyun di depannya

Kyuhyun bertindak duluan. Ia mengecup lembut bibir Sungmin—kali ini tanpa rasa putus asa atau kebingungan tiada tara. Kyuhyun sudah pasti dengan perasaannya, perasaan aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya

Perasaan yang membuat sesosok siluet orang di depan mereka—tersenyum penuh pengertian.

.

'Berbahagialah Lee Sungmin'

.

Ucapan itu terdengar lagi dalam pikiran Selir Lee, tapi ia tidak mengindahkannya. Sungmin hanya bisa mendesah lega sambil membiarkan sentuhan Pangeran mendominasinya saat ini

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian

.

Suara tidak setuju dan teriakan berdegung dari ruang rapat pagi itu. Semua orang dengan egoisnya menyuarakan pendapat mereka sendiri tanpa peduli dengan penjelasan panjang lebar dari Pangeran Kyuhyun

"Kami bilang tidak setuju ya tidak akan setuju!" sahut salah seorang tetua di iringi anggukan setuju dari yang lain, "Selir Lee tidak boleh menjadi Permaisuri, tidak ada argumen lagi!" tandasnya berani membalas tatapan menakutkan dari sang Pangeran

Pangeran Kyuhyun terdiam sejenak, ia memandang semua orang sambil mendengus kecil, "Aku sudah tahu tentang kutukan itu" akunya langsung berdampak keras bagi semua orang—tidak terkecuali Raja dan Ratu yang menatap tajam ke arahnya, "Ya, dan menurut cerita—Selir Lee berhak mendapatkan tahta Permaisuri, bukankah peraturan juga mengatakan jika Selir yang bisa menghasilkan keturunanlah yang boleh naik tahta?" kutip Pangeran kata per kata dari buku Undang Undang Kerajaan

Seluruh tetua bergerak gelisah, "Itu bisa saja—tapi hanya jika…"

"Hanya jika Selir itu menginginkannya bukan? Dan aku bisa membaca kenapa kemarin kalian berniat membujuk Selir Lee supaya mau pergi selesai melahirkan! Kalian bermaksud menyingkirkannya!" tuduh Pangeran sampai mengangkat jemarinya menunjuk ke arah tetua itu dengan tidak hormat

"Pangeran jaga sikapmu" tegur sang Raja di atas singgasana

"Tidak Ayah! Kalian yang seharusnya malu! Aku sudah tahu semuanya! Ratusan tahun yang lalu, Jaejoong harus menanggung hukuman atas kesalahan yang tidak ia lakukan dan sekarang? Kalian memaksa keturunannya juga keluar dari istana?" ucap Kyuhyun tidak percaya

"Tapi kasus Jaejoong tidak pernah terbukti benar atau tidak dia di racun! Dan dia sudah membunuh calon permaisuri waktu itu!" bela tetua itu sengit

Alis Kyuhyun naik sebelah, "Tidak terbukti? Oh ya? Bukankah Jaejoong bersumpah jika dia tidak melakukan pembunuhan maka dia akan mengutuk kerajaan dan lihat? Kutukannya berhasil! Apakah kalian tidak sadar itu!" Perkataan Pangeran lagi lagi menyudutkan mereka semua, Raja dan Ratu juga merunduk kecil—merasa bersalah karena hampir mengulang tragedi yang sama beberapa hari lalu

"Tapi…" Tetua itu tetap mencari bahan apapun untuk berdebat, "Tetap saja dia namja! Apa kata rakyat tahu kalau permaisurinya seorang Namja! Namja yang bisa mengandung lagi" ia berjengit jijik seolah telah menyentuh sampah tanpa sadar jika Pangeran bergerak mendekatinya lalu mencengkram kerahnya ke atas, "Arghh Pangeran!"

"Pangeran lepaskan Perdana Kim!" perintah Rajanya tahu kalau Pangeran sudah sangat kelewatan

Anehnya, Pangeran tidak bergerak, ia tetap menggantung Perdana Kim ke atas, "Aku tidak peduli Ayah—dia telah menghina istriku, suami mana yang rela melihat istrinya di hina" katanya datar, "Dan asal tahu saja, namja yang kau bilang menjijikan itu adalah namja yang menyambung darah kerajaan, namja menjijikan itu rela mengalah dan berbohong demi kalian, namja yang pasrah melanggar kodratnya sendiri karena keegoisan kalian!" Setelah berkata itu, Pangeran melepaskan cengkramannya membuat Perdana Kim jatuh terbatuk batuk ke lantai

"Uhuk Uhuk…"

Seluruh orang di ruang rapat itu lagi lagi mendadak kehilangan kata kata. Mereka tidak bisa melawan ucapan Pangeran yang semuanya memang mengandung kebenaran

"Aku sebenarnya tidak peduli kalian tidak mengangkatnya sebagai permaisuri, asal kalian tidak mengusirnya lagi dari istana, karena kalau sampai itu terjadi—aku juga akan pergi" ancam Pangeran terutama menatap Ayahnya di atas singgasana

Ayahnya tersenyum hambar, wajah bijaksananya tampak tidak terpengaruh, "Apa kau rela membuang tahtamu dan menelantarkan rakyat demi seorang Selir?" tantang Ayahnya

Kedua pasang mata itu—sepasang mata yang sama persis akibat garis keturunan saling bertukar pandangan

"Aku bukan Pangeran Yunho dan aku tidak akan mengulangi kesalahn yang sama—aku rela menyerahkan segalanya demi Sungmin" balas Pangeran membuat Ibunya terkejut bukan main

"Pangeran!"

"Biarkan saja" Sebelah tangan Raja mengibaskan seolah itu tidak apa apa, "Apa kau benar benar yakin?" ulang Raja sekali lagi

"Ya" jawab Pangeran Kyuhyun tegas, "Aku lebih memilih memusuhi semua orang daripada membuang Sungmin… hidupnya adalah hidupku juga…" Wajah keras Pangeran perlahan luluh, "Aku mencintainya Ayah" bisiknya pelan

"Aku mengerti…" Raja merubah senyumnya menjadi senyum lebar sebelum menjentikkan jarinya ke arah Perdana Kim, "Aku sudah mengambil keputusan, Perintahkan seluruh istana bersiap siap untuk upacara pengangkatan selir Lee sebagai permaisuri besok lusa—"

"Tidak mungkin!" terdengar beberapa teriakan tidak terima, protes apapun itu dari seluruh penjuru ruangan, jelas saja mereka memang sangat tidak suka dengan keputusan Raja yang seenaknya saja

"Apanya yang tidak mungkin?" balas Raja memasang wajah datarnya yang menurun pada Kyuhyun, "Aku berhak mengambil keputusan tanpa suara kalian bukan? Sudah, laksanakan tugasmu Perdana Kim!" ulang Raja melihat Tetua itu tidak bergerak dari tempatnya

"Tapi dia namja, Rajaku" bujuk Perdana Kim terakhir kalinya

"Lalu?" Raja hanya mengangkat alisnya, "Asal anakku bahagia itu bukan masalah—lagipula benar kata Pangeran, kitalah yang menikahkan mereka, kitalah yang dulu membuat semuanya menjadi seperti ini, bukan Selir Lee atau Pangeran, dan… " Raja tertunduk mengingat setiap petuah yang pernah di ceritakan oleh Raja terdahulu, "Aku harus mengembalikan tahta permaisuri milik Lee Jaejoong pada keturunannya, Lee Sungmin, itu haknya" tambah Raja bersuara berat

"Ayah" Pangeran Kyuhyun tersenyum bangga bercampur bahagia. Ia bisa melihat sosok Raja bijaksana dalam diri ayahnya.

.

.

.


.

Upacara itu berlangsung sangat meriah dan tidak dapat di sangka sangka, sambutan dari rakyat malah meriah. Itu sangat mengejutkan para dewan kerajaan yang mengira akan ada omongan kasar atau kudeta besar besaran atas putusan Raja tersebut

Tetapi tidak, bagi rakyat yang hampir menunggu bertahun tahun adanya garis keturunan yang lahir, mereka bersyukur tanpa menilai Selir Lee sepicik itu. Ternyata orang paling rendah derajatnya malah bisa melihat ketulusan ketimbang setiap orang berpangkat tinggi yang hanya mementingkan diri sendiri

Selir Lee—ah tidak, Permaisuri Lee begitu bahagia malam itu, ia bahkan sempat terpana melihat keadatangan Putri Hwayoung yang datang dari kerajaan sebelah. Putri Hwayoung terus mengucapkan selamat dengan tulus sambil menggoda Pangeran Kyuhyun yang sebentar lagi menjadi Ayah

"Apakah sekarang kau sudah menemukan lelaki yang kau cintai itu?" tanya Pangeran ketika jamuan makan malam di adakan

Putri Hwayoung yang sedang asyik mengobrol dengan Permaisuri Lee, menatap ke arahnya, "Sudah" jawabnya sambil tersenyum, "Tetapi dia sedang pergi ke daratan selatan untuk pendidikan menjadi panglima kerajaan—kalau berhasil menduduki tingkat itu, Ayah berjanji dia akan berpikir ulang menerimanya sebagai menantu hehehe" kekeh Putri di sertai tawa berat Pangeran Kyuhyun sementara Permaisuri hanya memandang bingung—tidak mengerti ucapan mereka berdua

"Begini Permaisuri" Kyuhyun sengaja menggoda Sungmin dengan gelar barunya sambil tangannya menarik istrinya duduk mendekat, "Semenjak kecil aku dan Putri Hwayoung sudah di jodohkan, kami tahu itu—tetapi sampai dewasa, perasaan kami tidak berubah, kami hanya bisa bersahabat tidak lebih" jelasnya panjang lebar

"Lalu…" sambung Putri Hwayoung membuat Sungmin berpaling ke arahnya, "Kami rela menikah karena kami tidak pilihan lain dan sampai saat kau datang atau Pangeran Kyuhyun menikah dengan banyak selir" Putri Hwayoung memutar kedua bola matanya sementara Permaisuri Sungmin menunduk—tidak suka mengingat kalau Pangerannya dulu milik banyak orang, "Pangeran tetap tidak bisa jatuh cinta… kurasa sebenarnya tentang kutukan itu, bukan Pangeran harus menikah atau tidak denganmu, tetapi apakah kau bisa membuatnya jatuh cinta… lihatlah, aku bahkan bisa melihat dari matanya malam itu—Sahabatku sudah berhasil menemukanmu"

Sungmin semakin tertunduk malu mendengar pujian tidak langsung dari Putri Hwayoung

"Dan kami jauh jauh sebelumnya sudah berjanji—jika kami sudah menemukan orang yang kami cintai, kami akan berpisah, begitu saja…" tambah Pangeran Kyuhyun sambil mengedikkan bahunya sedangkan Putri Hwayoung tersenyum ramah, "Iya beruntung sekali ya—aku malah jatuh cinta dengan Pengawal yang membawamu ke istana dan Kyuhyun, jatuh cinta dengan selir barunya, hidup ini ternyata sempit ya" candanya kali ini di tanggapi tawa renyah Sungmin

"Lihatkan, betapa manisnya dia" puji Pangeran sambil mencium pipi Sungmin yang terus memerah

"Ya! Ini tempat umum!" tegur Putri Hwayoung langsung menjaga imagenya dengan duduk tegap, "Sana pergilah—aku akan menutupi kalian" bisiknya dari sudut bibir

"Baiklah" Pangeran Kyuhyun menggandeng lengan Sungmin pelan pelan—bangkit berdiri sambil melewati beberapa tamu penting yang sedang menikmati hiburan musik tradisional

"Ah leganya—berisik sekali di dalam" desah Pangeran begitu mereka sampai di taman istana, Sungmin melepas genggaman tangan mereka dan berjalan jalan mengelilingi kolam ikan, "Kenapa dari tadi kau diam saja, kau berubah semenjak kejadian itu?" mendadak saja firasat negatif menguasai Kyuhyun, "Apa kau menyesal menerimaku?" katanya parau

"Bukan itu" Sungmin memajukkan bibirnya ke depan, "Dasar bodoh!" makinya, "Aku kan hanya belum terbiasa dengan ini semua… kau juga berubah belakangan ini"

Kyuhyun tersenyum senang karena Sungminnya yang sinis telah kembali, tapi ia mengerutkan kening mendengarkan kalimat terakhir istrinya, "Aku berubah? Aku tidak berubah!" elaknya

"Iya kau berubah, kau jadi…hmm…." Kedua pipi Sungmin sekarang memerah sepenuhnya

Melihat itu, timbul ide Pangeran untuk menggodanya, "Aku kenapa Permaisuri?" tanyanya sambil berjalan mendekati Sungmin

"Kau uhmm, kau jadi perhatian" ujar Sungmin mencari kata kata yang tepat

"Itu tidak salah, aku kan mencintaimu" balas Kyuhyun ringan sambil terus melangkah

"Nah! Kau juga selalu mengatakan itu!" tuduh Sungmin mulai merasakan hawa hawa seringai Pangeran menyelimutinya, "Apa tidak bisa sekali sekali saja Pangeran…"

"Panggil aku Kyuhyun kalau kita berdua" interupsi sang Pangeran

"Iya! Kyuhyun!" koreksi Permaisuri Sungmin, "Kau juga aishh jangan terus mendekat, kau bisa menghimpit bayi kita" bujuk Sungmin menghalau tubuh Pangeran yang hendak mendekapnya dari depan

"Sudahlah Sungmin jangan protes terus, memangnya kau tidak suka melihat perubahanku? Kau mau aku menikahi selir lain agar kau—"

"TIDAK!" Teriakan Sungmin agak terlalu kencang, untung taman itu sedang sepi sepinya, "Jangan jadi milik orang lain… aku tidak mau" rengut Sungmin kesal

"Makanya…." Pangeran mendenguskan napasnya tapi tetap memeluk lembut Sungmin sambil menjaga jarak, "Terima saja aku apa adanya ok?"

"Hmm" Sungmin mengangguk dalam pelukan Pangeran Kyuhyun

Mereka terdiam dan terus berpelukan tanpa adu argumen lagi

"Sungmin kau tahu kan kau akan pindah ke istana utama bersamaku?" tanya Kyuhyun tiba tiba

"Aku tahu kok, Dayangku sudah memindahkan barang barangku malah" jawab Sungmin

"Oh, apakah kau senang menjadi permaisuri? Tidak menyesal?" Kyuhyun menaruh kepalanya di atas kepala Sungmin sambil membawa tubuh mereka bergerak memutar mutar di taman

"Apapun itu, asal bersamamu—jadi Selir lagi juga tidak masalah…" Sungmin berkata jujur

Kyuhyun tersenyum lembut mendengar perkataan istrinya, tak lama ia melepaskan pelukan mereka berdua, "Saatnya tidur—ingat kata Tabib, kau belum sembuh benar tidak boleh terlalu lelah" katanya sambil menuntun tangan permaisuri masuk ke sayap kanan tempat di mana kamar mereka berada

"Baiklah Pangeran"

"Aishh sudah kubilang panggil aku—"

"Kyuhyun! Iya maaf aku suka lupa" tukas Sungmin malas berdebat

Pangerannya hanya bisa mengelus dada menghadapi sikap Permaisuri yang kadang masih acuh terhadapnya, "Bisa tidak kau romantis sedikit Sungmin?" dengus Kyuhyun masih kesal

"Romantis?" Sungmin mau tertawa dalam hatinya, tapi ia menutup rapat rapat mulutnya saat beberapa dayang membantu Sungmin membuka baju kebesarannya lalu menyusul Pangeran masuk ke dalam kamar

Pangeran belum selesai mengganti pakaiannya ketika Sungmin berbaring di atas tempat tidur

Romantis? Hmm. Sungmin tersenyum jahil sambil menarik selimut tebal menutupi perut besarnya, "Kyu~" panggil Sungmin sengaja memanggil lembut suaminya

.

DEG

.

Kyuhyun yang sedang merapikan rambutnya, menoleh tidak percaya ke arah Sungmin, "Coba ulangi sekali lagi?"

"Kyu~ kau tidak mau menemaniku tidur di sini" Sungmin menggunakan suara halusnya sambil menepuk nepuk sebelahnya

"Kata siapa tidak mau" Kyuhyun menyeringai lebar dan langsung merebahkan tubuhnya di samping Sungmin. Senyum senangnya masih mengembang sempurna, "Kau sangat manis jika seperti ini terus Sungmin…" puji Kyuhyun sekilas mencium pipi Sungmin

Sungmin tersenyum kecut, "Aku tidak selamanya manis Kyu, bagaimanapun aku lelaki—kadang mungkin sifatku akan membuatmu bermasalah jadi…"

Kyuhyun membungkam Sungmin dengan tangannya dan terus tersenyum lebar, "Itu tidak masalah… asal selamanya bisa bersamamu, aku akan menerimanya"

Sungmin menurunkan tangan Kyuhyun dari bibirnya lalu berganti menggenggamnya erat, "Selamanya" janji Sungmin sambil membalas senyum Kyuhyun

Sebelah tangan Kyuhyun yang bebas menurunkan tirai di depan tempat tidur mereka membuat tubuh mereka berubah menjadi siluet di tengah penerangan lampion sederhana

Dari situlah, sejarah baru terjadi bagi kerajaan ini.

Raja Cho Kyuhyun dan Permaisuri Lee Sungmin hidup bahagia selamanya

.

.

THE END

.

.

Gw tahu ini FF sampah, sama kayak gw—sampah ngga berguna

Ini tetap di tujukan untuk Lee Sunmiina (Prioritasnya) tetapi tidak memungkiri banyak orang yang sangat menyukai FF ini, gw sangat berterimakasih, gw benar benar terkejut melihat review sampai 172 *Deep bow*

Tidak ada yang bisa gw berikan terkecuali penggalan cerita terakhir. Silahkan menikmati FF ini sebagai penutup dari segalanya,

Semoga kalian bisa memberikan ungkapan terakhir untuk author sampah ini, sependek apapun ungkapan itu akan bisa gw terima

.

Thank You : KyuLoveMin, dhia bintang, sfasta11, Kim Seung rin, Cho SungMi, Ilovekyunnie, Kyuminsaranghae, Kyuminlovelovelove, sansan, LeeSungHye040497, niea sarang, JinoLee, NiMin Shippers, , Guest, yuuki, Zelenvi, Jo youngwoo, BbuingBbuing137, Keyra Kyuunie, mayacassielf, followsimSMI, MyPumpkinsLABU, Kim Sae Rin, cherrizka980826, sitara1083, Guest 2, siticho, Dini Auliya Zayyana, Honeyfah elfsone, pupud priatna, Kim soo nie, LinaLeru, HestyELF, hyuknie, Tiffany Ming, OlivKM's, chabluebilubilu, puzZy cat, hani, Winnielf, Kyuhan, 1812, HOTdragon, kyuminsaranghaeeeee, kyurin Minnie, daeminka, GaemSMl, Snowhite04, Mitchiru Kazami, SparKSomniA0321, ck mendokusei, Little Angel, ChubbyKyuMinHae, Cho Miku, Cho Kyuri Mappanyukki, JOYeerr Elpeu, Micon, wookie wookie, MegaKyu, jiraniats, sider imnida, dincubie, savory pancake, Evil Thieves, schagarin, Guest 3, kyumin4ever, Jung Mingsoo, bunnyming, Unykyuminmin, dhianelf4ever, Kyumin addicted, 0212echy, umin umin, CharolineElf, niyalaw, choshikyumin, Chibi, HoneyWatermelon, icha-chan, minniechan, Attanier, MINGswife, ayachi casey, Chikyumin, Bulan yue, Guest 4, mayuka57, Lara Saengie, Tifamin, Ryu, Mingre, Phirre16, Adrianna Darling, olive1315, HEEYEON, hunhan9094, nikyunmin, abesly, archielf, mitade13, nxn, min190196, Ichi54n, andin kyuminielf, Anami Hime, YukiLOVESUNGMIN, no name, eunhaezee, JK0603, Park Min Rin, Qhia503, Hikari tsuky, AfiahLee, Guest 5, AIDASUNGJIN, is0live89, KyuMin's SPY, Choi sila, Sibumxoxo, ANAKNYADONGHAE, Lu'iL KyuMin Elf, nodomi, Amaaa, ChoHuiChan, Evilkyu Vee, Zep, JoBel13ve, Hikari Hoshigawa, Blue DaFFodil, t137, Melanimin, Minnie kyute, WieLoveWolfBunnySelamanyah, BunnyMinnie, Chely, Ryusei Aki, nurinukie1, Miinalee, KimShippo, diitactorlove, winecoup134, misaki aekyo, sansan, Meytha Shora Andriyan, Rosa Damascena, reaRelf, Guest 6, Tia Matsuri, Guest 7, Cherrypumpkins, cottoncandyme, Han-RJ, lim sung mi, Hyeri, KimMinJi, farchanie01, Sung Hye Ah, hyeyoung park, noname2, , justreader, noname, Lee Lolina, blackwhite28, HJKH, sparkyumin