Chiko: "FIC ANGKOT PART II!"

Niku: "Berhenti nyebut ini fic angkot gera -_-"

Chiko: "Hehe, tapi kan ini dapet inspirasinya di angkot, jadilah kita sebut ini sebagai FIC ANGKOT!"

Niku: "Udah, udaaah!"

Chiko: "Hehe, setelah bikin Hikabu, sekarang saatnya bikin DaikiXxx, hehe~"

Niku: "Tadinya mau buat di new story aja, tapi batal gara-gara kata Chiko: 'SEMUA FIC ANGKOT KUMPULIN JADI SATU STORY BEDA CHAPTER AJAAHH!', jadilah ini jadinya -_-"

Chiko: "Gak apa-apa, kan? -_-"

.

Disclaimer: Seandainya saya yang punya mereka...

.

Sudah lima tahun, bukan?

Aku berjalan, menunduk, memikirkan semuanya.

Semuanya. Bahkan seluruh detailnya. Aku menghela nafas panjang.

Tidak akan selesai. Tidak akan pernah selesai. Cerita yang kutulis. Cerita tentang kita berdua. Sejak aku bertemu denganmu. Waktu-waktuku denganmu.

Semuanya.

Namun semua itu akan berhenti. Bukan selesai, tapi berhenti. Dan tidak akan pernah mulai kembali.

Aku meremas tanganku sendiri dan mengangkat kepalaku, menatap langit, mencari secercah harapan yang bisa menerangi hatiku.

Silau. Aku menutup mata. Benar, matahari bersinar terang sekali siang itu.

Bersinar.

Sepertimu.

Aku menatap sekeliling, seakan-akan aku sedang menilainya baik-baik, mencari tempat tujuanku.

Gereja itu.

.

"Dai-chan..."

Suara tersebut membuyarkan lamunanku.

Ia berdiri di hadapanku, tersenyum. Namun, bukan senyum yang kukenal.

"Kukira kau tidak akan datang," katanya pelan.

Aku mengalihkan perhatianku, menghindari tatapan matanya. "Kau tidak ingin aku datang?"

"Bukan begitu," katanya cepat.

Aku menggigit bibirku, menahan perasaan yang berkecambuk di dadaku.

Ingin rasanya aku berlari jauh-jauh dari tempat ini, tapi aku memutuskan bahwa aku akan menghadapi kenyataan. Aku sudah memutuskan bahwa aku akan bersikap tegar.

"Aku.. aku senang kau datang-"

"-mana mungkin aku tidak datang," aku memotong perkatannya, sebisa mungkin menahan getaran dalam suaraku. "Kau sahabatku, tentu saja aku akan datang."

Ia tampak terkejut, tapi lalu pandangannya menyendu. "Kau tahu bukan itu maksudku.."

"Sudah terlambat," aku menjawab pelan. "Kau tidak bisa mundur sekarang.. Kau tahu itu."

"Dai-chan..."

Matanya memancarkan kesedihan, suaranya yang bergetar mengiris hatiku.

Aku tidak berani menatapnya.

"Dai-chan, kumohon—"

"—selamat atas pernikahanmu," potongku cepat. Aku menengadahkan kepalaku, menahan air mataku.

"Jangan mengalihkan pembicaraan..."

"Kenapa?" aku menatapnya.

Keheningan menyelimuti kami, sampai akhirnya ia membalikkan badannya.

Tapi ia tidak beranjak dari tempatnya.

Ia tetap berdiri membelakangiku.

"Kau—kau tidak mengerti."

"Tentu saja. Bukan aku yang akan menikah."

"Dai-chan..."

"Jangan panggil aku begitu!"

Keheningan kembali menyelimuti kami.

Perasaanku campur aduk. Aku harus bagaimana? Ada perasaan marah, ada sedih, juga beberapa perasaan yang tidak bisa dijelaskan.

Aku mengangkat kepalaku, menatapnya.

Mata kami bertemu.

"Aku mencintaimu, Dai-chan. Kau tahu itu, kan?"

Bibirku kelu.

"Aku hanya.. aku hanya seorang pengecut."

Aku mengigit bibir, mati-matian menahan perasaanku yang makin teraduk.

"Kau tahu kau bukan pengecut. Kau hanya menginginkan sesuatu yang tidak kumiliki.."

"Bukan begitu," nafasnya tercekat. "Aku hanya—"

"Takut akan pendapat orang lain tetang kita. Aku tahu—"

"Tidak, kau tidak tahu—"

"—bukan aku yang akan menikah," kataku lagi, untuk yang kedua kalinya hari itu.

Skak.

Ia terdiam. Tanpa berbalik lagi padaku, ia mulai melangkahkan kakinya.

"Dai-chan.." suaranya bergetar. "Kau tahu aku tidak bermaksud melakukan ini.."

Jangan menangis, kumohon jangan menangis...

"Aku tidak tahu apa-apa... Kau bahkan tidak mau memberitahuku apapun... Sampai aku mendengarnya dari orang lain."

Ia menghela nafas berat.

"Dai-chan.."

"Lupakan semuanya. Lupakan semua tentang kita. Bukankah ini seharusnya menjadi awal yang baru bagimu?" aku kembali menggigit bibir setelah mengatakannya.

Apanya yang 'lupakan'?!

"Selamat—selamat atas pernikahanmu..."

Aku dapat mendengar suara nafasnya yang mulai tidak teratur, sebelum akhirnya terdengar jawaban, "..T-terima kasih.."

.

Aku mencintainya.

Tapi, apa masih ada yang bisa kulakukan sekarang?

Aku sangat mencintainya.

Tapi, apa dayaku?

.

Aku berjalan meninggalkan tempat tersebut.

Langkahku mantap, meninggalkan semua memoriku di tempat tersebut dan berjalan pergi.

Menjauh dari sebuah papan yang berdiri tegak di depan tempat tersebut.

.

The Marriage of

Yaotome Hikaru and Itano Tomomi

.

.

.

.

Niku: "APA INI?! APAAA?!"

Chiko: "Yang terakhir itu, sebenernya ga kepikir mau nulis apa. Jadilah ditulis 'the marriage of'~"

Niku: "..."

Chiko: "Itu yang jadi ceweknya kan Tomochin, itu sebenernya gara-gara pairing HikkaXTomochin yang belakangan mulai nyebar. Yah, gara-gara mukanya mereka mirip sih."

Niku: "Yap. Jadi, ini adalah HIKADAI!"

Chiko: "Break dari AriJima! Dan seperti biasa, comment is love~"