"UnLucky?"
Pairing : Kyusung? Or...?
Genre : Fluff, smoothy romance, and drama
Rate : T
Warn : YAOI, BOYS LOVE , miss Typo(s), full of weirdness, bad Plot, bad Idea, Fail, No Feel and...
UN-OFFICIAL PAIR!
.
DON'T LIKE? DON'T READ AND DON'T BASH THE PAIRING INSIDE!
.
Chapter 2
.
.
.
Simpatik atau kasihan,
Seorang Cho Kyuhyun belum benar-benar bisa membedakan maupun merekanya.
Tahunya hanya; bukankah semua rasa itu sama saja? jika beruntung, hatimu yang coba membantu menjelaskan.
Hanya mungkin Kyuhyun masih terlalu innocent—bukan dalam artian polos apalagi manis. ia hanya seorang tuan muda yang mencoba peruntungannya menjadi berandal minimal kelompok gangster, walaupun pada aplikasinya tak ada yang lebih menyenangkan selagi dirinya dengan bebas berkencan dengan PsP di temani setoples kue kering berkenaan dengan soda penyegar kerongkongan.
Simpatik,
Kini seorang Kyuhyun tengah menimbang, cenderung ke definisi rasa yang satu ini yang berhasil di deteksinya.
Simpatik similiasi dengan iba, bukan?
Menjadi penikmat opera sabun nyatanya membuat Kyuhyun ingin terjun langsung ke layar drama. Di sini beda. Di matanya lain, bukan sekedar drama ecek-ecek yang dijual oleh para pengepul kaset film bajakan. Umpamanya.
"Tidakkah kau lelah terus berceloteh seorang diri dengan objek mati itu?"
Yesung tak menyahut. tahu sedari tadi di perjalanan, Kyuhyun terlunta mengikutinya. Siapa suruh, jadi susah sendiri hingga berjalan cukup jauh begini dengan kondisi mirip pengemis berpura pincang di tepi trotoar. Konyol!
Yesung bergeming, kembali menangkupkan kedua telapak tangannya sebatas dada dan juga mulai memejamkan mata.
Kyuhyun ikut memperhatikan. Sedikit bosan, merasa tertipu juga dimainkan. Siapa yang membuat joke di sini?
"Amin."
Yesung mengecup puncak papan kayu bertulis sebuah nama berukir sederhana namun juga terselip harapan. sebentar, lalu tersenyum.
"aku pulang dahulu, Wonnie. saranghae~"
Sejurus kemudian, Yesung berbalik. Bertemu pandang dengan Kyuhyun yang masih menyender di pohon willow kokoh berdaun rimbun di sana.
"sudah selesai?"
Yesung mengangguk tenang, air mukanya tak bisa Kyuhyun reka. Terlalu banyak kombinasi di sana.
"kau mau pulang?"
Kyuhyun memicing, "apa kau pikir aku mempunyai keluarga di sini yang mengharuskanku berdoa terlebih dahulu lalu pulang sebelum petang? Kau fantastis!"
Yesung menghela nafasnya yang tiba-tiba memberat, tamunya itu begitu mengajarinya ilmu sabar. Namun bukan itu sekarang yang jadi pikirannya. Ia hanya tiba-tiba lelah tanpa sebab.
"kau belum pulih benar, Kyuhyun-ssi. Sebaiknya kita pulang."
Tanpa kata lagi, Yesung berjalan mendahului Kyuhyun yang tengah menganga tak percaya.
"dan kau tak memapahku juga membiarkanku kepincangan?!"
.
.
.
Choi Siwon
Mata Kyuhyun tak terlalu minus untuk kemudian menjadikannya salah mengeja huruf warisan nenek moyangnya—hangul, untuk sebuah nisan yang dikunjungi oleh Yesung tadi.
Oh.. begitu sensitif rupanya.
Malang ataukah mujur?
Choi Yesung itu...kembali sendiri ya?
Cho Kyuhyun tak mau melambung dahulu ke awangan, karena jikalau terjatuh, se iblis apapun nalurinya, tetaplah rasanya perih.
Yesung masih ingin tertutup. Juga, apa yang di harapkannya mengingat ia hanya orang asing yang selalu mengandalkan cideranya sebagai alibi juga tameng agar selalu dipandang dan diperhatikan?
Kyuhyun kembali berbaring di kamar Yesung, sedangkan si manis itu mengaku ingin membuatkan bubur.
Tapi, Hei! Memang Kyuhyun itu demam, atau terserang diare? Sehingga cukup masuk akal untuk sedikit ditawar oleh rasa hangat dari varian lain karbohidrat itu.
Ia tertembak; tergores, terpukul, terluka fisiknya. luarnya. Bukan penyakit-penyakit yang kadang menjadi rutinitas individu pelaku pola hidup tak sehat tersebut.
Kyuhyun tahu Yesung sedang memakai topeng, Juga berlaku tak sejujur seperti pertama bertatap. Binar cerianya sedikit tertutup oleh beban. Apapun itu, inginnya Kyuhyun bisa membantu mengurangi.
Cklek
Pintu kamar berwarna gading itu terbuka, membuyarkan lamunan Kyuhyun juga menampilkan jejak namja manis dengan nampan berisi mangkuk yang terbias uap panas di sekitarnya.
"makanlah hati-hati, masih cukup panas. Jika ingin sesuatu, panggilah aku. Aku ada di ruang tamu."
Sebelum benar-benar enyah, Kyuhyun terlebih dahulu menahan tangan mungil Yesung yang membuat empunya sedikit terlonjak juga menengok.
"kau berbeda,"
Kyuhyun membenarkan posisinya menjadi bersandar di penampang ranjang sedang satu tangannya masih menggenggam erat tangan halus milik Yesung.
"maaf, aku sedang tak bisa menyuapimu. Aku lelah,"
Kyuhyun mengeram pelan, "Jelas kau berbohong!"
Yesung lagi menghembuskan nafas panjang, lalu berusaha melepaskan kaitan lengan Kyuhyun pada tangannya.
Kyuhyun kini coba memandang dari sisi mana ia harusnya berlaku, "Kau, Ya.. aku tahu ini tak sopan dan terdengar sumbang. Namun, apa benar suamimu.. dia sudah—,"
"—Ya, meninggal. Seminggu yang lalu adalah tepat dua tahun peringatan kematiannya. Dan bodohnya aku melupakan hari itu."
Kyuhyun berjeda sebentar, "karena aku begitu tak tahu diri?"
Kesalahan ada pada Kyuhyun yang kemarin inginnya selalu Yesung ada di dekatnya. Tak mau ditinggal dengan alibi lagi-lagi karena luka-lukanya itu. bersalah? Sedikit.
"Tidak. Aku saja yang terlalu larut dengan segalanya, tanpa ingat suamiku tengah menungguku untuk merapalkan doa untuk kebagahiaannya di sana."
Ya, kodratnya, Kyuhyun tak pernah meleset dalam menilai pribadi orang. Dan Yesung salah satunya. Namja manis itu selalu berlaku tulus dan menganggap dirinya yang selalu kurang disaat yang lain begitu merasa paling sempurna.
"Kau menyesal?"
Yesung memilih untuk mendudukan dirinya di samping Kyuhyun. percuma, mau mengelak, cengkraman Kyuhyun makin mengerat di setiap helaan nafasnya.
"apa yang harus aku sesali? Bersyukur, karena tadi aku bisa melantunkan sanjunganku untuknya menjadi dua kali lipat sebagai ganti hari lalu. Harapanku, dia senang menerima limpahan doa dariku dari surga sana."
Jawabnya mulai ringan. sedikit banyak Kyuhyun mulai paham situasinya; di mana, tak mudah menjadi Yesung yang menurutnya satu dari segelintir manusia setengah malaikat yang tak begitu beruntung. Dirinya? Ah.. pangkatnya masih stuck berjejer dikalangan iblis berstrata elok.
"jikalau tak menyuapiku, kau mau apa? Kembali merapalkan doa untuknya? Hei.. aku juga membutuhkanmu! Bukan untuk mendoakan kesembuhanku saja, namun juga menopangku. Aku sedang tak baik."
Kyuhyun kembali mencoba peruntungannya. Seminggu tersesat di 'surga' membuatnya mulai betah dan makin tak tahu malu. Terserah, ini hidupnya dan juga Yesung terlihat tidak terbebani, atau—belum?
Yesung memandang Kyuhyun seraya mengangguk kecil, "Kau lebih dari tak baik."
Manik hazel Kyuhyun membola, "kau menyindir pribadiku?"
Yesung mengendikkan bahunya acuh seraya mulai mengambil mangguk bubur yang tadinya diletakkan di atas nakas. Namun, sumpah demi dewa iblis manapun, samar Kyuhyun kembali menyaksikan senyuman manis juga rona peach menguar lagi di wajah indah itu. akhirnya~
"sekalipun tinggal satu sendok terakhir, kau tak boleh berhenti menyuapiku."
Yesung bergeming namun juga kembali terkekeh ringan.
"kau begitu pengatur!"
.
.
.
Menggali informasi dari Yesung itu tak begitu susah pun dikarenakan sifat Si manis itu begitu jujur juga apa adanya. Humble. Sudah manis, indah pula adat juga kramanya. Siapa pula tak jatuh dalam pesonanya?
Ceritanya mengalir tanpa tercegah berkenaan dengan sifat aslinya yaitu cerewet. Menghibur seperti sebelumnya. Namun juga terselip sebuah ya, Kyuhyun inginnya menyebut sebuah kekurang beruntungan.
Ketidak beruntungan sudah menjadi hak paten untuknya. Bagi Yesung, dia bukannya tak beruntung.. hanya, kurang beruntung.
Dari mulut mungil itu, Kyuhyun tahu satu kisah, minimal satu rangkaian cerita entah sudah menuai epilog ataukah belum, Kyuhyun tak benar-benar peduli, hanya sekedar ingin tahu.
Choi Siwon..
Hmm, fisiknya dia orang yang tampan, juga jika Kyuhyun mau berdamai dengan kenaifannya, akunya namja Choi itu begitu serasi dengan tandingan manisnya si Yesung. dan Yesung begitu berbinar begitu menunjukan foto pernikahan keduanya dahulu. Ugh! Rasanya Kyuhyun ingin terserap perut bumi sejenak saat itu.
Tapi, Ayolah.. Kyuhyun itu bukan pecundang, dan ia akan mencoba mengais peruntungannya untuk satu rasa yang baru terbentuk kuat dalam hatinya semenjak ia hidup di dunia hampir 26 tahun lamanya.
Cintakah?
Dan dengan seorang yang bahkan istrinya sendiri menyebut tengah hidup lebih baik di surga, Kyuhyun tak peduli. Persaingan ya persaingan, tanpa pertimbangan membiarkan satu raga tidur tenang di pelukan Tuhan.
'Tuhan, tempatkanlah lelaki bernama Choi Siwon itu di tempat teragungmu di sana, dan berikan untukku malaikat terindah miliknya yang ia tinggalkan di sini. Amin~!'
Terhitung ini sudah kali kedua, Kyuhyun mengenyahkan gengsinya untuk kembali meminta kepada yang punya kehidupan. Dan berterimakasihlah untuk orang manis bernama Choi Yesung. sedikit request dari Kyuhyun untuk tak menyertakan embel-embel 'Choi' untuk memanggil si manis itu. terlalu sentimentil!
"Kyuhyun-ssi!"
Kyuhyun melihat kepala Yesung menyembul dari balik pintu. Menerjap imut yang membuat Kyuhyun kehilangan banyak tarikan nafas.
"hmm,"
Yesung tersenyum samar, "Kau mau mandi? Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu."
Yesung keluar dari balik pintu, mulai melangkah lebar kepada Kyuhyun.
"Berhenti!"
Praktis Yesung membatu, "waeyo?"
Kyuhyun memandang dingin Yesung, "jangan mendekat sebelum kau hilangkan embel-embel –ssi di belakang namaku!"
Yesung memberengut, namun juga masih terdiam beberapa langkah di depan Kyuhyun . "mengapa begitu?"
Kyuhyun mendongak, "rasanya begitu buruk! Aku mual mendengarnya. cukup Kyuhyun!"
Maksud Kyuhyun tak salah, ia hanya tak mau terlihat ada jarak karena embel-embel keformalan itu yang Kyuhyun tahu Yesung berniat sopan padanya karena mereka tetap orang asing yang baru mengenal.
"Tapi—,"
"turuti atau aku takkan mandi sore ini!"
Kristal sipit itu membola lucu, "nanti kau bau kalau begitu!"
"Kau menghinaku?" sergah Kyuhyun. Yesung mengelak, "Aniya! Hanya jika kau tak mandi, badanmu akan terasa tak nyaman."
Kyuhyun mengangguk main-main, "Jika kau tak mau ku rengeki sepanjang malam karena tubuhku gatal, apa susahnya memanggilku Kyuhyun?" Ia bersikeras.
Bibir mungil itu terpout imut, memilih menghela nafas panjang juga mengangguk. "selain pengatur kau juga begitu pemaksa, Kyuhyun-ah."
Senyuman tampan sarat kemenangan tertoreh dari bibir penuh Kyuhyun. salah jika Si manis itu beranggapan akan menang jika itu beradu kekeraskepalaan dengan master kepala batu, Cho Kyuhyun.
Yesung lebih memilih kembali meneruskan langkahnya, dan Kyuhyun bersantai menyambutnya. Lama-lama, tipe tamu seperti itu harus dibumi hanguskan dari semesta. Menjengkelkan!
"Ayo mandi!"
Telak tangan mungil itu terkulai tepat di depan Kyuhyun yang malah cengo. Sekejap mata. Setelah detik berikutnya seringai menyebalkan terpatri di parasnya.
"kau sedang berusaha menggodaku, Nyonya Yesung?"
"Ya! hanya cepat mandi sebelum petang! Dan aku tak cukup bernafsu dengan tubuh penuh lukamu itu, Tuan Cho!"
Seringai itu makin melebar, "jauh meleset dari pikiranku, kau begitu agresif ternyata. kukira kau polos juga kekanakan!"
Yesung memutar bola matanya bosan, "ada disaat di mana aku berlaku sebagai seorang dewasa berumur 25 tahun yang pernah menikah dan mempunyai suami." Memelan di akhirnya, yang membuat Kyuhyun bisa melihat gurat aneh di mata indah itu. kesedihan.
"Ah, sudahlah! Terserah kau mau mandi atau tidak, aku kesal!" tiba-tiba Kyuhyun melihat pipi itu bertambah tembam dikarenakan digembungkan oleh empunya. Mengapa moodnya begitu susah ditebak? Ajaib.
"Hei! Kau harus memapahku! Aku sedang tak baik!" Kyuhyun berseru tak terima begitu Yesung malah berbalik meninggalkannya. Benar-benar kesal ternyata.
"masa bodo! Kau yang bau, kau yang akan merasa gatal, bukan aku! Dan kukira kau memang tak pernah baik!"
"Aishh!"
Dengan terpaksa, Kyuhyun bangkit. Yesung benar-benar meninggalkannya. Tinggalah ia kembali bersusah melangkah.
"Ya, Yesungie! ayo kita mandi bersama~!"
Oops! Kyuhyun bukannya sedang mencoba menaikkan rate untuk ceritanya kali ini, anggap saja hanya typo!
.
.
.
Setiap kata tak melulu menjadi sebuah definisi terbenarnya. Dan setiap kalimat tak juga menjadikannya sebuah pengertian yang paling mendekati fakta.
Yesung menarik hidung Kyuhyun gemas, yang membuat si tampan itu mengaduh.
"kenapa kau sangat menyebalkan, tuan?! Bisa-bisanya kau mandi begitu lama? Perempuan saja tak mampu memecahkan rekor sampai selama itu."ledeknya. Kyuhyun masih mengusapi hidungnya yang memerah, mendengus.
"balas dendam itu masih legal!"
Kyuhyun beraksi. Kedua tangannya menarik kedua sisi bongkahan pipi chubby menggemaskan milik Yesung yang membuat namja manis itu bereaksi.
"Aww~! Itu sakit, Kyu!"
Kyuhyun tertawa renyah, tawa yang jarang Kyuhyun tampilkan kepada yang lain. Hanya Yesung.
"kau kira hidungku yang merah ini bukan suatu bentuk rasa sakit? Mengenai pertanyaanmu, itu karena aku tampan. Jadi namja tampan, berhak melakukan apapun juga." sangkalnya narsis. Yesung hanya mencibir.
"Kau berlebihan."
Setelahnya, keduanya memilih tertawa terbahak. Tak ada yang lucu, hanya saling memandang ekspresi wajah masing-masing menimbulkna frasa yang menyenangkan.
"Lelahnya~!"
Keluh Yesung seraya meregangkan otot-ototnya yang kaku. Kyuhyun hanya diam memandangi.
"Yesung,"
"Kyuhyun,"
Kyuhyun mendelik kesal, "kau mempermainkanku?"
Yesung menatapnya santai seraya terkekeh samar, "memang aku mengatakan aku akan mempermainkanmu sebelumnya?"
Kyuhyun memilih tak membalas, namun selanjutnya ia memantapkan hati untuk sekedar mengakrabkan diri. "Sudah seminggu aku di sini. Kau tak berniat mengusirku?"
Yesung menengok, "apa itu harus? Jika iya, baiklah. sesuai permintaanmu, mulai besok, segera enyah dari rumahku!"
"Ya! mana bisa begitu? Aku tamu di sini. Dan tamu adalah raja!" jawab Kyuhyun sebal. Sebelumnya ia selalu berlaku dingin dan seenaknya, entah kenapa, seminggu terakhir kepribadiannya seakan tengah terkoyak.. menjadi begitu berbeda juga melunak. Karena Yesung lagi?
Si manis terlihat acuh, memilih menyandarkan punggungnya bersisihan dengan Kyuhyun di penampang ranjang.
"Ya..tamu. Tamu merepotkan, tapi juga membuat rumah ini kembali berwarna." Yesung menerawang. Hening itu merambati, dan Kyuhyun tak begitu menyukainya.
"Yesung," panggilnya seraya kembali menikmati pahatan indah wajah Yesung dari samping.
"hmm,"
"kau tak menyesal menikah muda dan akhirnya ditinggal mati oleh suami yang bahkan baru satu bulan sah menjadi suamimu?" mulai Kyuhyun. ya, bukankah sudah kubilang jikalau Yesung itu tipikal individu yang terbuka? Termasuk dengan masalalunya sendiri.
Yesung bergeming lalu ikut memandang Kyuhyun, "kenapa kau selalu menanyakan penyesalan padaku? Tidak! Aku tidak menyesal. Yang aku sesali kini adalah fakta bahwa aku terlalu terbuka dalam menceritakan semuanya. aku jadi tak punya rahasia bahkan di depanmu yang baru satu minggu ini kukenal." Celoteh Yesung, namun jauh di dalam mata sabit itu, Kyuhyun menemukan kegetiran yang samar oleh bias keceriaan.
Diam lagi, dan Kyuhyun rasa ia memang sudah mulai tak bisa betah dengan kehampaan. Namun melihat Yesung yang mulai memejamkan mata, yang Kyuhyun tahu tak niat karena memang tempat tidur Yesung terbaru adalah sofa ruang tamu. Sedang kamarnya mutlak disabotase sementara oleh Kyuhyun yang entah bagaimana masih selalu mengaku jikalau keadaannya belum juga membaik.
"Yesung,"
Kyuhyun kembali berucap lirih. Manik hazelnya terpenjara pada bingkaian ayu wajah indah tanpa cela milik namja manis di sampingnya itu yang Kyuhyun sadari begitu mencandu untuk di nikmati keelokannya setiap saatnya.
"jangan terlalu sering memandangiku, aku hanya takut kau bisa jatuh cinta padaku."
Ringan Yesung berucap, Onyx sipit itu perlahan terbuka. Posisinya coba ia benahi, kini menjadi duduk bersila sambil tangannya memijat-mijat pangkal lengannya sendiri tanpa tahu apa yang diucapkannya bisa tentu terjadi.
"Yesung,"
"ini sudah kali ketiga, Kyu."
Yesung hanya bergumam, memilih acuh juga masih memijati tangannya sendiri.
"Yesung," Kyuhyun berucap dalam. matanya difokuskan tetap pada si manis di depannya.
"Ya?" kini Yesung mendongak, tersenyum kecil menanggapi.
"bagaimana jika ketakutanmu terjadi?" imbuh Kyuhyun sungguh-sungguh.
Yesung memiringkan kepalanya bingung, "apa?"
"ketakutan bahwa kini aku mungkin benar-benar sudah jatuh cinta padamu."
.
.
.
Bukan waktu yang membentukmu menjadi pribadi buruk, namun keadaan dapat memberitahumu bagaimana menjadi baik.
Kyuhyun tahu benar jika negara tempatnya menapak, Korea, bukanlah penganut ulung faham feodalisme. Perbudakan juga penjajahan bukan style dari negara yang kini menjadi pusat mata dunia. namun dirasanya, mengapa seorang manis bernama Yesung itu terlalu fakir kepada segala bentuk yang mengekang. Mutlak. Tanpa secuil pun rasa ingin menghindar.
Yesung dan Siwon itu korban keegoisan kedua orang tua mereka terdahulu. Perjodohan konyol yang masih saja ada di masa jauh dari purba kini. Dan keduanya sepakat untuk menikah dengan embel-embel tetap menjadi anak berguna dan juga tak durhaka. Dan karena perjodohan terlaksana jauh sebelum mereka mengerti apa itu dunia.
Apa artinya?
Cinta ada karena biasa, kasih timbul menebal karena rasa syukur yang berlebihan.
Mereka adalah dua anak semesta yang sungguh patut diawetkan minimal di museumkan sebagai komunitas langka.
Siwon mencintai Yesung, dan Yesung yang begitu terobsesi menjadi istri yang berbakti di masa depan dengan suka cita menyambutnya, hingga ikrar itu terucap di depan Yang Teragung, Tuhan.
Sebulan setelahnya, Bulan madu yang harusnya dipenuhi segala bentuk romantisme juga percikan kasih, berubah menjadi sebuah realitas ironi yang juga tak ingin terendus sebelumnya.
Semua keluarganya tewas dalam kecelakaan pesawat yang membawanya ke kampung halaman, Cheonan untuk menghabiskan sisa masa bahagia sebagai bentuk kebaktian sebelum Si pengantin baru benar-benar direlakan untuk mandiri.
Begitu cepat hingga kelabu itu menghampiri manakala mendapati hanya ia yang masih tetap diberi kehidupan disaat semuanya terlelap menuju ruang keabadian. termasuk sang yang baru saja menjadikannya menyandang predikat seorang istri hampir genap sebulan lamanya. Semuanya hilang.. jadinya membisu.
Dan lagi-lagi sebagai seorang yang begitu tersugesti menjadi penurut, Yesung tertuntut untuk bertahan tak peduli jikalau sebatang kara itu tersemat untuknya. Karena Choi Siwon itu pengecualian. Dan selama ia masih diberi hidup, sebisa mungkin Yesung ingin membuat semuanya bangga dari Surga, terkhusus untuk yang paling terkasih, Suaminya, Choi Siwon.
"kita lihat sampai sejauh mana peri kecil dari surga itu mampu mematahkan kutukan Tuhan terhadap panglima iblis tak tahu diri ini."
Dan Kyuhyun sadar, ia tak boleh menyerah apalagi takluk terhadap yang namanya kekurang beruntungan.
Kau tak ingat, bahkan dia seorang Cho!
.
.
.
Sebenarnya Cinta itu apa?
Apa cinta itu bisa membuat seorang menjadi pengikut aliansi berkedok kanibalisme yang akut?
Kyuhyun bertopang dagu. Di sebelahnya, Yesung dengan damai terlelap. Dengkuran halusnya merdu, teratur bagai melodi khas di telinga Kyuhyun.
Dan Kyuhyun pun dapat tersenyum karenanya.
Gemas melihat bongkahan pipi montok juga berisi milik Si manis itu. rasanya ingin mencibilnya, meraupnya sampai tak sisa dan itu yang menjadikannya berfikir; apa sekarang selain iblis, ia juga seorang kanibal?
Membuatnya kembali begitu gemas saat fantasinya melayang ke kejadian beberapa saat sebelum semuanya menjadi bisu. Dimana pernyataan cintanya ditanggapi begitu biasa oleh Si yang begitu membuatnya tergoda itu. ini menjengkelkan.
Yesung hanya menanggapinya kelewat santai seraya berucap, "ada di sebelah mana sisi menarikku? Bahkan aku tak merasa cukup memiliki secuil darinya."
Ditanya bagaimana arah kelanjutannya, Yesung memilih mengangkat bahunya ringan juga kembali berkata, "aku begitu patuh kepada takdir Tuhan. jikalau berjodoh, aku menerima dengan sepenuh hati."
Yesung adalah lain.
Ribuan kosakata yang indah-indah belum benar-benar bisa mewakili penggambaran untuknya yang memang lebih daripada invers dari indah.
Merengkuh pinggang ramping pemilik surai legam itu seraya berbisik halus, "semoga kita berjodoh.. dan Siwon juga akan mendoakannya dari surga sana."
Baginya, di sini, Choi Siwon lah yang paling tidak beruntung! Mianhae, Siwon-ssi~
.
.
.
Kyuhyun tahu Yesung itu suka angka delapan. Katanya karena tak berujung lekuknya. Pengharapan juga pada kebahagiaan yang juga inginnya tak ada batas.
Delapan hari Kyuhyun terdampar di sana, bersama yang ia selalu sebut dalam hati sebagai peri kecil titipan Tuhan itu. Kyuhyun menyukainya, yang membuatnya tak pernah mau enyah dari situ, atau minimal mengaku jikalau dirinya sudah tak lagi butuh perawatan karena hakekatnya, seratun plus tiga persen kondisi tubuhnya sudahlah dapat difungsikan dengan begitu baik.
Lalu mau alibi apa lagi?
Kyuhyun itu punya bakat terpendam lain disisi kegemarannya dalam metode pembangkangan. Ia mahir ber-akting. Dan tak tanggung-tanggung, bakat naturalnya itu ia salah gunakan untuk mengelabuhi para maid di mansionnya dulu, Mr. Cho Sang ayah tak luput menjadi objek pembuliannya.
Ah mengingat sang ayah, Kyuhyun jadi rindu. Tapi ia bukan tengah dalam masa perubahan menjadi pujangga berhati selembut pasir laut yang pudar tergerus ombak milik samudra.
"Kyu, kau ingin aku masakan apa?"
Kyuhyun terkesiap, matanya bersiborok menyapu sekeliling dan menemukan dirinya masih terlentang manis bergelungkan selimut sewarna daun maple yang hampir rontok. Keemasan.
Pasti Yesung tengah kembali berkutat dengan penggorengan juga saudaranya yang lain. Seminggu lebih berada di dekat namja manis itu, membuat Kyuhyun semakin terpana melihat kemampuannya di bidang memasak yang cukup fantastis dikalangan manusia bergender pria yang lain.
Kyuhyun tersenyum miring, "Aku tidak bisa berjalan, Yesung! kau harus memapahku. Aku ingin mencuci muka sejenak!" imbuhnya berseru.
"kau berbohong, aku sangat tahu itu! memar di kakimu sudah hilang sejak tiga hari yang lalu! berlakulah menjadi baik, Kyu!" Yesung balas berteriak. Kyuhyun manyun dalam kamar. Ah, alibinya benar-benar tak lagi bisa masuk akal. mudah terdeteksi kini.
"Kakiku tiba-tiba kram, Yesung! berhenti memasak sejenak, hanya kemari dan bantu aku!" Kyuhyun tak patah arang, ia kembali mencoba.
"jika kau terus membual, aku jamin nanti tak ada jatah piring untukmu, bahkan sesuap nasipun. kau dengar?"
Suara Yesung tetaplah merdu dalam kondisi apapun, dan Kyuhyun terlanjur mencintai suara itu terlebih sang pemilik.
"baiklah, aku akan mencoba sedikit menjadi penurut kali ini. namun, aku minta hidangan spesial hari ini, kau tahu.. genap delapan hari aku di sini. Dan itu suatu hal yang perlu dirayakan." Sejenak Kyuhyun berdiri, mulai membenahi bajunya yang tersingkap, melongok perlahan dan benar saja, Yesung tengah terampil berkutat dengan yang namanya dapur juga memasak.
"yang enak ya sayang, selagi itu aku mandi dulu~!"
Sejurus kemudian, Kyuhyun terpogoh berlari begitu mendapati Yesung mendelik seraya mengacungkan teflon padanya.
"Dasar gila!"
Mereka tak pernah sadar, jika tali takdir semakin terpendar untuk menyatukan keduanya. Takdir itu penurut 'kan?
.
.
.
TBC
.
.
.
Yeah, it's me yang dulunya pakai pen name 'something' (Cloudy10413) dan dengan pen name ini, yaa.. tambah saklek emang. Tapi, saya menyukainya.. kekee
Problem kecilnya baru muncul di chapter 3 yg emang udah kelar saya bikin. Tapi ga sekarang ya di publishnya. Nunggu responnya dong, di setiap aksi harus ada reaksi, iyakan?
So?
.
.
.
Warm kiss & deep hug,
~KyuYeWon JJANG!~
