DAuthor: Shfllyy3424

Title: { CHaptered} Trust me! I'm Sorry part 2

Genre: GenderSwitch, Romantic, Drama, SchoolLife, OOC(Out Of Character, beda banget sama aslinya!)

Rating: Teen, PG-13

Cast:

Do Kyungsoo (Exo K D.O or Dio)

Kim Jongin (Exo K Kai)

Other cast:

EXO K's Other Member

SM's Member

Cari sendiri

Ps: KAISOOO LOPELOPE walau saya harus pusing, kenapa KaiSoo -_- kenapa harus bangKai wkwk.

Desclaimer: All cast belong to their self and god. PLOT IS MINE ATHIYA064! Kesamaan tempat dan nama hanya sebuah rekayasa ataupun kebetulan!

Contact me on:

fb: athiya almas

wp: .com

Cerita ini hanya untuk yang menyukainya. Kalo gak suka jangan dibaca ya, DON'T BE A PLAGIATOR! TIDAK TERIMA BASH… this is just my imagination. RCL please^^

Happy reading

'Diselimuti akan rasa penasaran membuatku selalu merasa harus untuk menatapmu, keceriaan dan kepribadianmu mengusikku. Aku ingin suatu saat nanti kau menyadariku, menyadari bahwa ada orang bodoh yang semakin bodoh karena hanya bisa termangu menatapmu.'

Kyungsoo menatap amplop berwarna biru laut di tangannya, lalu mengabaikannya. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana surat itu sampai ke tangannya? "Jiejie.." suara Kyungsoo membuyarkan lamunan gadis China berkulit putih yang sedang duduk di atas kursi meja belajarnya. "Jiejie sedang apa?" tanyanya.

"Aku sedang bingung, seminggu lagi prom night. Tapi aku tidak tahu harus memakai baju seperti apa, dan aku bahkan kalah dibanding Xiumin, Baekhyun dan Luhan. Oh bahkan Tao yang hanya anggota organisasi sepertimu sudah menentukan pakaian apa yang akan mereka kenakan." Kyungsoo tersenyum, "Memang jiejie jadi pergi dengannya?" Kyungsoo sedikit memberi kode pada imbuhan 'nya' Lay terlihat malu.

"Habis, kalau tidak dengan dia jiejie pergi dengan siapa?" Lay berdalih. "Ahahah, jiejie di dahimu tertulis 'aku berbohong' dengan sangat jelas. Lagipula kenapa kalian harus malu-malu sih? Suho oppa itu tampan lho, mantan ketua OSIS lagi, pintar lagi." Kyungsoo memanas-manasi Lay. "Aish, berhenti membahas si pendek itu." Kyungsoo terbahak, hingga amplop biru di tangannya terjatuh.

"Amplop? Surat dari siapa?" tanya Lay, Kyungsoo mengangkat bahunya. "Entahlah, surat kaleng biasa." Lay hanya mengangguk. "Kau sudah memutuskan akan pergi dengan siapa?" Kyungsoo menggeleng. "Kurasa aku tidak akan ikut acara itu." 'Apalagi karena Kai adalah salah satu anak selain anak kelas tiga yang wajib datang.' Tambah Kyungsoo dalam hati.

"Kyungsoo, jiejie tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan mulai awal liburan kemarin. Tumben sekali kau jarang ke sekolah, biasanya saja meski hari libur kau akan memilih di sekolah. Kau mau cerita sesuatu?" Kyungsoo menghela nafas berat. "Kurasa memang aku tidak bisa menyembunyikannya. Selama ini hanya Luhan jie yang tahu, aku takut semua orang akan menjauhiku." Lay menatap Kyungsoo iba, "Memang ada apa? Seberapa berat Kyungie?"

"She's a ma-ma-ma-machine.." Lay terlonjak ketika ponselnya berbunyi. "Kyungie tolong ponselku di sebelahmu." Kyungsoo mengambil ponsel layar sentuh milik Lay, dan karena ada panggilan masuk maka layar ponsel itu menyala menampilkan gambar layar ponsel Lay. Di foto tersebut tampak seorang lelaki memeluk pundak Lay mesra, mereka tertawa berdua ke arah kamera. "Ehem, yang katanya tidak tertarik dengan si pendek eh fotonya bareng haha." Lay buru-buru merampas ponselnya. "Aigoo kau ini."

"Hao?" sapa Lay, kemudian ia mengangguk. "Baiklah, Kyungsoo juga sedang ada di rumahku. Kalian datang saja." Lay mengakhiri panggilannya, Kyungsoo menatap penuh tanya. "Xiumin, Baekhyun dan Tao." Kyungsoo mengangguk, di antara mereka berlima yang paling muda adalah Kyungsoo dan Tao. Mereka juga sama-sama anggota organisasi, namun Kyungsoo tidak terlalu dekat dengan Tao karena kendala bahasa.

Beberapa saat kemudian, kamar Lay menjadi ramai. "Sst, sekarang dengarkan cerita Kyungsoo dulu." Pecah Lay ketika teman-temannya ribut. Kyungsoo menunduk dalam, memori itu terputar kembali. "Kami tidak akan menceritakannya pada siapapun, jangan memendam masalah itu bila masih ada kami." Baekhyun mengelus rambut Kyungsoo.

"Mungkin setelah ini, kalian akan menjauhiku." Cicit Kyungsoo, Xiumin menggeleng. "Aku mengenalmu dan Lay paling lama di antara Baekhyun dan Tao. Aku tidak mungkin menjauhimu begitu saja, kami tahu kepribadianmu Kyungsoo." Yang lain menyetujui.

"Aku.. aku baru saja diperkosa, aku bukan orang baik-baik lagi.." Kyungsoo menangis, Lay melebarkan matanya. "MWOYA?" ia terkaget. "Siapa yang berani melakukannya?" sambung Lay lagi setelah Kyungsoo terlihat takut. "A-anak kelas satu jie. Aku takut.. aku takut mereka mengecapku sebagai gadis murahan, aku benar-benar tidak bisa melawan saat itu. Aku ketakutan dan sendirian, aku takut semua orang akan membenciku."

"Anak kelas satu? Berani sekali jie." Meski lebih muda beberapa bulan, Tao tetap menghormati Kyungsoo. Ia meremas telapak tangannya membuat wajahnya terlihat lebih seram, seseorang apsti akan langsung tumbang bila terkena pukulan Tao –sang atlet Wu Shu- "Hiks, bagaimana.. aku takut."

"Kita tidak membencimu, justru kita khawatir denganmu Kyungie. Bagaimana bisa kau mendiamkannya? Harusnya kau bawa saja ia ke kantor polisi, jangan bilang kau tidak melaporkannya?" Kyungsoo menggeleng menjawab pertanyaan Baekhyun. "Tidak mungkin, ia sahabat Sehun." Kyungsoo langsung menutup mulutnya yang keceplosan.

"Sahabat Sehun?" Xiumin membeo. "KAI?" jerit Lay, Baekhyun dan Tao bersamaan setelah berhasil menyimpulkan sahabat yang benar-benar sahabat dari si datar dan dingin Oh Sehun. Dengan terpaksa Kyungsoo mengangguk lagi. "SI KKAMJONG ITU? BERANI SEKALI!" Xiumin tampaknya ikut marah, sudah lama ia tidak menyukai lelaki berkulit gelap itu.

"Jiejie.." Kyungsoo terisak, Baekhyun cepat-cepat memeluk gadis dengan mata lebar itu. "Gwaenchana, masih ada kami. A-apa kau maaf, hamil?" Kyungsoo menggeleng. "Aku tidak tahu." Lay mengelus dada, ia benar-benar merasa kasihan dengan adik kelas sekaligus sahabatnya itu. "Seseorang harus memberi si Kkamjong itu pelajaran." Bisik Xiumin.

.

..

"Kyungsoo!" Kai berlari melihat gadis yang pernah ia lukai memasuki gerbang sekolah, ia yang biasanya sering terlambat dan malas bangun pagi hari ini –hari pertama masuk setelah libur- adalah orang pertama setelah Geum ahjussi yang memasuki sekolah. Ia berlari mengejar Kyungsoo yang sama sekali tidak menoleh padanya, ia heran bagaimana Kyungsoo bisa masuk sendirian tanpa bersama Sehun, Luhan atau teman-temannya yang lain.

"Minggir!" ia mendorong beberapa murid, tidak menyangka langkah kecil Kyungsoo bisa membuat gadis itu hilang dengan cepat. "Nice weather Jongin!" Kai terpaksa menoleh setelah tidak menemukan Kyungsoo dan merasa seseorang menahan lengannya. "Hai tiang." Ucapnya acuh meski seseorang di sampingnya itu duduk di kelas akhir rasanya ia merasa tidak perlu untuk menghormatinya, jadi Kai memanggilnya tanpa embel-embel hyung, gege atau semacamnya, berusaha melepaskan genggaman telapak tangan Kris yang mencengkram lengannya. "Hmm, Jongin sudah lama sekali aku tidak bermain-main denganmu bukan?"

Kai mendesis, ia malas kalau menghadapi orang setengah bule itu. "Apa maumu?" tanya Kai tajam, Kai pernah mempermalukan Kris pada acara dance battle dadakan, ia mengejek Kris dan memanas-manasi lelaki dengan tinggi di atas rata-rata tersebut untuk melawannya. Tentu saja Kris kalah menghadapi seorang dancer kelas atas sepertinya, dan semenjak itu Kris sangat membencinya. Dan kemudian ada lomba debat bahasa Inggris tingkat sekolah, Kris dengan tega mendaftarkan Kai secara diam-diam dan otomatis Kai hanya bisa mati kutu ketika berhadapan dengan Kris, apalagi itu baru babak awal. Kai yang notabenenya sangat buruk dalam berbahasa Inggris selalu kalah menghadapi Kris, dan membuat semua orang mencemoohnya mengatakan ia terkenal hanya mengandalkan wajah saja dengan otak yang tidak berisi. Lagipula siapa yang akan menang melawan ahli bicara dan orang yang merupakan seorang foreigner dalam debat bahasa Inggris?

"Bagaimana kalau kita bertanding?" tawar Kris, Kai memutar bola matanya. "Berhentilah bermain-main bule, aku tahu kau hanya berusaha mencurangiku lagi kan?" Kris tersenyum –atau lebih tepatnya menyeringai- "Tidak, kali ini kita tidak bertanding dalam hal yang hanya seseorang dari kita ahli di dalamnya. Kita bertanding saja di hal yang kita berdua sama-sama ahli." Usul lelaki tampan itu pada Kai. "Untuk apa aku harus melakukannya?"

"Oh come on Jongin! Berhenti bersikap kau pandai dalam hal apapun, bukankah tantangan itu menarik bagi lelaki huh?" Kai benar-benar ingin membekap mulut orang Kanada di sampingnya itu dengan sepatunya. Atau sekedar bermain-main dengan gunting rumput dengan Kris, gara-gara Kris ia tidak dapat mengejar Kyungsoo lagi. "Baiklah, aku turuti." Jawab Kai pada akhirnya, seringaian Kris bertambah lebar. Ia melepaskan cengkramannya dari lengan Kai.

"Turnamen basket, tanggal 27 besok. Itu adalah event akbar pertama setelah masuk sekolah ini, aku tahu dulu waktu SMP kau adalah ketua basket benar kan?" Kai menggeram dalam hati, ia memang ketua basket dulu tapi itu dulu waktu SMP. Dan juga, ia menjadi ketua bukan karena ia piawai bermain basket, ia dipercaya karena dari dulu Kai adalah lelaki idola di sekolahnya, lagi-lagi Kai merutuki ketenarannya akibat wajah saja. Kai mahir dalam bidang tertentu saja seperti menari dan juga rap. "Kris, rap lebih imbang bagi kita untuk ditandingkan." Kai tidak terima dengan turnamen basket sialan itu. "Haha, aku memang jago rap Jongin. Tapi, pertandingan rap? Itu sama sekali tidak mengasyikkan kau tahu."

"Mengapa aku harus melakukan semua ini? Melawanmu? Bukankah kau tidak senang melawanku karena kau benci padaku?" Kai emosi, Kris hanya tertawa mengejek. "Memang, tapi bermain-main denganmu jauh lebih menyenangkan Kai. Oh, sebenarnya kau tidak harus melakukannya sih.. ini kan hanya sebuah tawaran, tapi ya aku tidak segan-segan untuk membocorkan apa yang terjadi di perpustakaan di awal liburan."

Kai tersentak, rahangnya menegang. "K-Kau.." Kai menghembus nafasnya, "Well, mungkin kau lupa aku masuk dalam jajaran anak-anak yang dipercaya untuk mengurus rekaman CCTV. Kau mungkin lupa kalau di setiap ruangan di kelas ini terdapat CCTV bukan? Brutal Jongin dan si lemah Kyungsoo, hmm berita yang cukup bagus. Apalagi kalau sampai satu sekolah ini tahu kalau si Kyungsoo yang polos itu memiliki tubuh yang indah." Kris memelankan suaranya, namun nadanya benar-benar membuat Kai terbakar amarah.

"Brengsek!" Kai menarik kerah Kris kasar. "Hold on." Kris menyingkirkan tangan Kai. Dalam hati lelaki berkulit tan itu menyesal, ia lupa kalau ada CCTV yang merekam mereka, tidak lebih tepatnya karena ia mabuk maka akal sehatnya menguap entah ke mana. "Sepertinya itu saat yang membuatku terkejut, ketika liburan datang aku memutuskan untuk berkunjung ke sekolah dan mengembalikan buku ke perpustakaan namun aku menemukan robekan baju dan kancing-kancing baju yang tersebar. Aku juga menemukan gelang berinisial 'Kai' dan buku bernama 'Do Kyungsoo' di perpustakaan. Dan hal itu membuatku penasaran melihat apa yang terjadi di tempat itu sebelumnya."

Rasa kesal masih merayapi Kai, namun lelaki itu sedikit bersyukur. Setidaknya, Kris tidak menyebarkan berita itu secara langsung. "Aku mau menurutimu, pertandingan basket atau apapun itu." Ucap Kai pada akhirnya lagi, "Well, tidak kusangka seorang Kim Jongin benar-benar melindungi ketenarannya ya? Baiklah, selamat berjuang Kkamjongie." Kris meninggalkan Kai seorang diri, beberapa orang memandang dua lelaki tampan yang baru saja berdiri dengan jarak yang sangat dekat dan juga berbisik.

'Aku tidak perduli dengan popularitasku, aku hanya tidak mau membuatnya semakin terluka. Aku tidak mau menambah beban hidupnya dan membuatnya semakin malu. Aku mau ia masih bisa melanjutkan hidupnya dengan normal meski aku melukainya..'

. . .

"Kalau aku memenangkan pertandingan itu, tolong hapus atau sembunyikan rekaman CCTV itu." Pinta Kai dengan sangat, saat ini keduanya sedang berada di lapangan indoor sekolah mereka. "Baiklah, tapi jika kau kalah.. kau bisa mendapati kehancuranmu saat itu Kai." Kai langsung berbalik, Kris tertawa kecil. Sebenarnya Kris sudah menyingkirkan rekaman pada hari itu, dan rekaman itu secara aman berada di tangannya tanpa mungkin akan ketahuan oleh pihak lain.

.

..

"Park Chanyeol!" lelaki yang tingginya sebelas-dua belas dengan Kris itu menoleh menatap Kai yang mengatur nafasnya sehabis berlari. Chanyeol mengalihkan pandangannya dari makanan lezat dalam porsi jumbo yang belum selesai ia nikmati. 'Dukk!' Kai meringis saat mendapati sebuah kamus yang cukup tebal mendarat manis di kepalanya.

"Aku hyungmu! Duduklah, jangan mengganggu acara makanku." Chanyeol mengisyaratkan Kai agar duduk di sebrangnya, dengan sabar Kai menunggu si tiang kedua itu makan. Beberapa saat kemudian makanan berporsi besar itu tandas dan bersarang ke perut Chanyeol, segera Chanyeol meneguk coke yang ia beli dan dengan penuh gaya ia melambungkan kaleng kosong bekas cokenya dengan indah, dan beberapa saat kemudian terdengar suara kalau kaleng itu masuk ke dalam tong sampah dengan sempurna.

"Wow, yang barusan itu threepoint haha." Chanyeol tertawa lebar, membuat deretan gigi rapinya yang putih bersih terlihat dengan jelas. Kai berdecak pelan, ia tahu kalau Chanyeol adalah over playful and the happiest person in this world. Namun sisi baik Chanyeol yang tidak Kai miliki adalah, pertama Chanyeol sangat tinggi, kedua Chanyeol berkulit putih dan yang ketiga tentu saja Chanyeol hampir sama mahirnya dengan Kris dalam bermain basket. "Baiklah, kau mau minta tolong apa? Oh wow, Byun Baekhyun melirikku! Astaga ia cantik sekali." Rahang Chanyeol turun sedikit, memperlihatkan bagian dalam dari rongga mulutnya yang terlihat sangat tidak elit.

"Diamlah dan tutup mulut besarmu itu hyung, kau memalukan." Kai tidak habis pikir bagaimana bisa seseorang yang menjadi idola memiliki tingkah seperti Chanyeol, oh tentu saja terkadang Chanyeol memang sangat tampan. "Jadi, apa yang bisa kubantu?" Chanyeol hafal dengan kebiasaan Kai, tidak bakal lelaki itu bakal datang padanya bila tidak ada urusan khusus. "Seminggu ini, aku akan berlatih basket denganmu. Apapun itu, sempatkan waktumu untuk melatihku! Kumohon, apapun akan kuberi padamu hyung!" seru Kai, namun suaranya masih dipelankan –ia bukan seseorang dengan kehebohan tingkat dewa seperti Chanyeol-

"Hey, hey, hey! Kau mengacaukan jadwalku begitu? Lalu kau kira aku harus berhadapan dengan bola bundar berwarna orange dan berlatih bersamamu setiap hari begitu? Kau kira aku pelatih NBA? Tidak-tidak, aku butuh waktu untuk privasiku Kai." Elak Chanyeol sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Hyung! Privasimu hanya untuk berkencan dengan si ByunByun itu, memang kau punya setumpuk jadwal penting ketika di rumah? Kumohon, seminggu saja!"

"Sopan sedikit bila menyebut nama kekasihku, baiklah seminggu akan kutemani kau berlatih. Tapi hanya satu jam setiap harinya bagaimana? Dan izinkan aku membawa Baekhyun bersama haha. Lagipula, ada angin apa kau ingin berlatih basket? Bukankah kau juga lumayan lancar bermain basket?" Kai menggeleng. "Tidak ingin sekedar lancar hyung, aku ingin jadi pro! Sampai aku bisa mengalahkan seorang Wu Yi Fan!" Kai menggebu-gebu, Chanyeol tersedak meski ia tidak mengunyah atau meminum apapun.

"Mwoya? Kau bermimpi atau kau mabuk? Kau tahu, aku bahkan sering sekali kalah darinya. Dan kau yang ujuk-ujuk mak bedundung (?) ingin jadi pemain ahli berharap mengalahkan si naga itu? Menghayal sekali.." Chanyeol mencibir, "Tidak ada yang tidak mungkin hyung, kau tinggal membimbingku hingga aku jago. Urusan Kris adalah nomor terakhir."

"Oh yeah, whatever. Good luck Kkamjong!" ucap Chanyeol cuek. "Lapangan indoor, sepulang sekolah." Kai bangkit meninggalkan Chanyeol yang merubah ekspresinya, "Seharusnya selain si hitam dan seseorang yang tidak berhidung mancung, Si Kkamjong itu punya julukan lain. Si bodoh.."

.

..

Kai menghentak kakinya, karena disibukkan dengan masalahnya dan si tower berjalan ia jadi lupa dengan tujuannya mencari Kyungsoo. Dan lupa dengan tujuannya yang satu lagi, Kai mencari sesuatu dalam tasnya. "Kuharap kau mengerti." Lalu menyelipkan sesuatu berwarna aquamarine itu ke sebuah loker.

Tiba-tiba ia menangkap bayangan seseorang yang sedang tidak ingin ia temui pada saat ini, Kai mendecih. "Jonginnie~" orang itu memeluk Kai lembut. "Kenapa noona ada di sini?" Hyorin tersenyum, ia menebar pesona pada beberapa adik kelasnya. "Aku rindu padamu, ayo kita keluar!" Kai menautkan alisnya. "Rindu? Memang ada sesuatu yang perlu kau rindukan di diriku? Maaf noona aku sibuk, dan terlalu sibuk untuk sekedar memperhatikan orang yang tidak aku kenal sepertimu." Kai pergi, Hyorin melotot.

"Aish, Jonginnie kenapa kau seperti ini sih? Oh ayolah Jongin, tidak mungkin kau tidak menyukaiku kan?" 'Over confident.' Ejek Kai dalam hati. "Kau bisa menilai sendiri dari ekspresiku noona, dan aku pergi." Kai meninggalkan Hyorin yang mencak-mencak secara heboh di tempatnya. "Argh! Susah sekali mendekati anak kelas satu itu ya Tuhan, apa aku kurang cantik?" gerutu Hyorin, ia memang terobsesi pada Kai semenjak melihat lelaki itu tampil di atas panggung dengan keren. Dan Kai tentu saja terganggu dengan gadis yang tidak ia kenal mengaku-ngaku dekat dengannya.

"Kau di sini? Aku mencarimu sedari tadi." Kai langsung berbinar mendapati objek yang ia cari-cari sedang berdiri di hadapannya, gadis dengan rambut hitam itu menunduk. Ia tidak mungkin berteriak mengusir Kai karena sedang ada di area sekolah. "Jongin, pergi.." bisik Kyungsoo, Kai terdiam. Ia hendak memeluk Kyungsoo namun pasti tidak mungkin ia lakukan, tapi ia tidak mungkin diam. "Dengar, kumohon dengarkan aku!" pinta Kai. Kyungsoo menggeleng dengan cepat, "Sudah kubilang hentikan Kai. Hyorin unnie melihatmu di sana." Kyungsoo baru saja akan berbalik.

"Ya! Kkamjong! Masih berani kau mendekati Kyungsoo hah?" Xiumin datang, Kai jadi terkejut dengan gadis imut namun begitu buruk ketika mengamuk. Xiumin datang dengan kekasihnya Chen, Chen hanya diam dan mengikuti kekasihnya itu. "Err, Xiumin sunbae." Sahut Kai, ia tidak terlalu dekat dengan gadis itu meski satu club dance dengannya. "Menjauh, sekarang!" Kai mundur satu langkah dari Kyungsoo. "Sekali menyentuh Kyungsoo, maka kau akan merasakan bagaimana rasanya menelan sebilah pedang anggar!" semprot Xiumin. Kai meneguk liurnya ngeri, Chen tertawa tanpa suara dan Kyungsoo bisa bernafas lega karena Xiumin datang tepat waktu.

Lalu Xiumin menggandeng Kyungsoo dan Chen pergi dari hadapan Kai, "Yaish! Susah sekali untuk menyakinkan aku tidak bermaksud buruk!" Kai menendang dinding, lalu mengumpat karena merasa kesakitan.

. . .

"Chanyeol hyung, fokus please. Aku harus cepat bisa!" Kai uring-uringan pada lelaki penuh semangat di depannya, ia minta Chanyeol datang agar Chanyeol mengajarinya, bukannya melihat Chanyeol berekspresi nanti-dulu-aku-ingin-memeluk-Baekhyun-tercinta-yang-super-seksi-ini. Kalau bukan dengan jaminan Kris tidak akan menyebarkan rekaman itu, Kai tidak bakal susah-susah ingin belajar basket.

"Kau latihan saja sendiri, beres kan?" Kai yakin ia pasti menderita hipertensi karena seharian ini ia ingin memarahi semua orang, termasuk boneka berjalan kesayangan Chanyeol dengan mulut tajamnya itu. "Kalau aku bisa sudah kulakukan dari tadi noona." Desis Kai, 'Ya Tuhan, kuatkan hatiku. Ini sebagai rasa tanggung jawab dan rasa penyesalanku ya Tuhan.' Batin Kai menjerit.

"Baiklah, ayo berlatih." Chanyeol mengalah, ia tidak tega melihat wajah melas Kai. "Coba masukkan bola itu ke ring, asal jangan main kasar! Aku masih ingin berkencan dengan wajah mulus ini." Chanyeol bergaya seolah-olah ia adalah model coverboy paling laris saat ini, membuat Kai berambisi untuk meluruskan rambut keriting Chanyeol dengan paksa.

Detik demi detik berlalu, Kai masih terus berjuang walaupun hari itu kekuatannya hanya sebesar 3 banding 10 dengan Chanyeol. "Please Kai, kau tahu betapa buruk dirimu? Ayo berusaha, aku seperti menghadang anak SD yang tidak pernah mengerti bagaimana cara memasukkan bola ke ring. Rileks saja, dan anggap ring itu adalah sesuatu paling penting yang harus kau gapai! Jangan loyo seperti ini." Chanyeol menasehati, Kai tidak dapat menerima. "Kau terlalu tinggi Chanyeol!"

"Whoo, kau bilang aku terlalu tinggi? Lalu bagaimana dengan si naga berjalan itu? Apakah ia pendek? Jangan berkata yang tidak masuk akal, pertama kuasai emosimu dengan baik. Katamu si alis tebal itu memiliki mulut sampah? Lalu sekarang aku kau bilang menyebalkan? Itu semua karena kau tidak mampu mengatasinya, anggap saja omongan kami angin lalu. Kuasai dirimu sendiri, itu hal yang paling penting. Dan jangan pernah kehilangan fokusmu barang sebentar saja."

Kai mengatur nafasnya, benar juga. Ia terlalu cepat marah dan melupakan segalanya, ia diam terkadang Chanyeol yang slengekan ternyata bisa jadi dewasa juga. "Hmm, kita coba lagi." Dan kemudian suasana sedikit membaik, Kai mulai bisa berkembang dan beberapa kali memasukkan bolanya ke dalam ring. Sedikit demi sedikit ia bisa belajar dari Chanyeol, bagaimana lelaki itu menguasai diri, tekhnik mengecoh, dan tekhnik menyerang dengan cepat.

Baekhyun memperhatikan Kai yang bersungguh-sungguh dengan sedikit senyum, entah apa yang dipikirkan gadis imut itu. 'Ku harap yang kami lakukan benar.' Kata Baekhyun dalam hati. Chanyeol sesekali mencuri pandang dengan Baekhyun, dibalas dengan senyuman tulus Baekhyun yang membuat Chanyeol merasa udara bertambah panas.

Kai terdiam sesaat, ia sudah lebih baik dari sebelumnya. Kemudian ia menatap sekitar, sampai ia mendapati Kyungsoo bergandengan dengan seseorang –yang ia kenali sebagai mantan ketua OSIS- kalau tidak salah namanya Suho. Mereka bergandengan dengan cukup dekat dan dari sela-sela pandangannya Kai dapat menangkap siluet Kyungsoo yang tertawa bahagia, bukan tangisan atau ketakutan seperti yang selalu ditunjukkan gadis itu padanya.

Ada sesuatu yang bereaksi secara tidak wajar di dadanya, rasa sesak yang menghimpitnya. Ia terus bertanya bagaimana bisa Kyungsoo dekat dengan Suho? Tanpa ia tahu kalau Suho adalah kekasih Lay, tanpa ia tahu kalau Kyungsoo tidak mungkin mencintai orang yang lebih ia anggap kakak daripada kekasih. "Kai awas!"

Brukk!

Bola basket hasil lemparan Chanyeol mengenai Dahi Kai dengan keras, kepala Kai langsung berdenyut hebat. "Ups, aku kan bilang jangan kehilangan fokus." Ucap Chanyeol yang kaget, tiba-tiba Kai limbung. Badannya merosot ke tanah secara tiba-tiba.

"Kkamjong! Ya!" Chanyeol berteriak, dan sepertinya Kai benar-benar pingsan dengan wajah yang sedikit pucat. "Astaga, ada apa dengannya?" mau tak mau Chanyeol membopong Kai ke UKS diikuti Baekhyun.

. . .

'Aku mengejarmu, namun tak semudah kelihatannya. Bahkan hanya untuk menangkap bayang-bayangmu saja rasanya begitu susah. Tapi aku takkan menyerah secepat itu, aku akan bertahan hingga akhir. Aku akan berusaha untukmu.'

"Surat kaleng lagi?" Kyungsoo mengendikkan bahunya. Lay menatap Kyungsoo, "Si Kkamjong mungkin?" Kyungsoo menggeleng cepat. "Jangan membahas dia jie." Lay hanya mengangguk. "Minggu besok turnamen basket, minggu besoknya lagi prom night." Ucap Lay sambil mengingat-ingat. "Aku tidak terlalu perduli." Jawab Kyungsoo.

"Tapi aku jadi perduli pada turnamen itu, katanya di akhri pertandingan ada pertandingan spesial antara si ketua basket super tampan si Kris itu dengan Kai." Mata Kyungsoo melebar. "Hah? Jiejie tidak sedang bercanda kan?" tanya Kyungsoo. "Tuh kan kau tertarik juga."

Kyungsoo menggeleng ngeri, membayangkan Kris yang saat ini sedang ada something dengan Tao sahabatnya itu melawan Kai. Tubuh bidang dan tinggi Kris serta permainan indahnya namun yang tak jarang berubah kasar. Kai mungkin saja berada dalam bahaya? 'Tapi, apa peduliku?' batinnya bergejolak.

"-Kan?" Kyungsoo tersentak, ia mendongak menatap Lay. Ia hanya menangkap imbuhan di akhir kalimat Lay saja. "Maaf, jiejie bilang apa barusan?" tanyanya. "Kau tidak sedang khawatir dengan Kai Kan?" ulang Lay lagi, Kyungsoo menggeleng lemah. "Entahlah, aku ingin duduk sejauh mungkin dari Tao. Karena aku tahu ia akan mendukung Kris sementara aku tidak tahu akan mendukung siapa?" jujur Kyungso0. "Wah, ternyata kau benar-benar tertarik sampai membayangkan kau akan pergi menonton pertandingan itu." Ucap Lay.

.

..

"Minggir!" usir Sehun dengan suara pelan namun tajam. Kai menggeleng, dari kemarin ia masih tetap duduk di bangku yang biasa ia duduki dengan Sehun. Namun kemarin Sehun izin karena harus mengantar Luhan ke rumah sakit karena terserang alergi. "Sehun, ini bangkuku dan aku akan duduk di sini." Balas Kai. "Ya memang, tapi bukankah aku bilang aku tidak bisa percaya padamu lagi? Aku tidak bisa dekat denganmu lagi, dan kau harus mengerti itu." Jawab Sehun.

"Oh, atau mungkin aku saja yang pergi. Zelo! Aku duduk bersamamu." Dan Sehun pergi, Kai heran ia lelah sekali menghadapi semua ini. Mereka marah pada Kai dan mereka juga pergi meninggalkan Kai. Lelaki tampan itu memijat pangkal hidungnya, ia kemarin sampai harus tumbang padahal hanya terkena lemparan Chanyeol. Dan ia tidak mau semakin lemah lagi, ia harus melindungi rekaman aktivitas antara dirinya dan Kyungsoo malam itu!

.

Kai melangkah dengan berjingkat, ia mendapati gadis yang membuatnya gila beberapa hari ini sedang duduk sambil menatap lurus pada laptopnya. Wajah itu, wajah yang membuat Kai tenggelam di dalamnya, sepasang mata lucu yang mencuri hatinya, hidung mancung, kulit putih yang menawan, dan bibir kissable yang pernah Kai kuasai dulu.

Kai ingin sekali kembali ke masa lalu dan menghapuskan mengapa ia harus mabuk di area sekolah, ia ingin saat itu ia tidak perlu mabuk sehingga kejadian itu tak perlu terjadi. Ia masih ingin Kyungsoo menyambutnya dengan senyuman ketika ia sampai di ambang pintu rumah Kyungsoo. Ia seribu kali akan memilih Kyungsoo hanya mengenalnya sebagai sahabat Sehun, bagaimana Kyungsoo bersikap lembut dan menyiapkannya serta Sehun masakan-masakan yang lezat. Ya, Kai yang dulu hanya sebuah lelaki naif yang baru mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang, ia memang mengeluarkan cara-cara konyol untuk mendekati Kyungsoo. Semua masih dalam batas wajar, bagaimana ia beralasan untuk menginap di rumah Sehun sambil berlatih dance atau sekedar tanding game. Padahal sebenarnya, ia datang untuk melihat Kyungsoo dari kejauhan.

Ia iri, mengapa ia tidak menjadi adik angkat Kyungsoo seperti Sehun. Ia merasa Sehun hampir seperti sister-complex dan ia iri, ia ingin Kyungsoo seperhatian itu padanya. Namun, akal gelapnya mengganggu semua rencananya itu.

Sesak, dulu Kyungsoo yang menatapnya dengan lembut dan senyuman sekarang telah lenyap. Sekarang hanya ada Kyungsoo yang akan berusaha kabur setiap melihatnya, hanya ada Kyungsoo yang menangis melihatnya, hanya ada Kyungsoo yang selalu berkata bahwa ia membenci Kai.

TBC!

Yup, tbc lagi. Review please ;A; kira-kira si Kai mau ngapain yak? Aww kesan badboynya Kris sama Slengekannya Chanyeol dapet banget wkwkwk.