II. 10 Years Later...

Dear Ino,

Maaf aku baru bisa menulis sekarang. Aku sedang sangat sibuk. Maksudku, tentu saja aku memiliki waktu untuk mengirim email untukmu tapi aku tidak terbiasa dengan email. Aku lebih menyukai surat. Memang tidak praktis, tapi berkirim surat menyenangkan kan? Jangan banyak protes karena aku tahu, diam-diam kamu selalu menunggu surat dariku.

Oh, kali ini aku ingin bercerita tentang kafe yang baru-baru ini aku kunjungi. Tempatnya di daerah Ginza, Roppongi Hill tepatnya, (ya, masih di dekat Omotesando, kalau kamu tidak hapal denah Tokyo) tempat yang katanya sering di datangi para selebriti! Aku datang bersama temanku dan kami sangat menyukai suasana di dalam kafe, ah andai saja kamu ada di sini!


Aku menghentikan gerakan tanganku yang tadinya tengah menulis surat untuk sahabatku di Fukuoka, Ino. Sejak pindah ke Tokyo setengah tahun yang lalu aku rajin mengirimi surat dan foto pada Ino. Sahabatku itu selalu bermimpi untuk dapat datang ke Tokyo tapi ia tidak pernah mendapat kesempatan. Saat ia mendengar rencanaku untuk pindah ke Tokyo ia tampak sangat iri dan membuatku berjanji untuk sering-sering menghubunginya.

Aku menghela napas dan menyandarkan pundakku di kursi di belakangku.

Aku sangat merindukan Ino. Juga teman-temanku yahg lainnya dan keluargaku di Fukuoka. Mereka mendukung keputusanku untuk menerima tawaran pekerjaan di Tokyo tapi aku juga tahu mereka mencemaskanku. Ini adalah pertama kalinya aku hidup sendirian dan jauh dari keluargaku, terlebih lagi di tempat yang berjarak hampir seribu kilometer dari rumah. Sebelumnya aku tidak pernah menduga kalau suatu saat aku akan pindah ke kota ini.

Tokyo...

Aku menatap surat yang tergeletak di hadapanku. Aku memohon maaf pada Ino dalam hati karena aku tidak bisa menyelesaikan surat itu sekarang dan mengirimkannya besok, saat ini tiba-tiba aku kehilangan keinginan untuk menulis. Ada banyak hal yang berkecamuk di kepalaku malam ini dan aku tidak bisa memaksakan diriku untuk menulis sesuatu untuk sahabatku itu. Aku yakin, Ino akan mengerti. Ada banyak yang terjadi padaku dan aku tidak ingin menyusahkan dan membuat cemas sahabatku itu dengan menuliskan tentang hal-hal buruk yang menimpaku belakangan ini.

Sudah sepuluh tahun sejak hari itu. Aku tidak menyangka kalau waktu akan berjalan secepat ini. Saat itu kami berdua masih sangat muda. Aku banyak belajar setelah itu. Kini aku sudah lebih dewasa dan paham bahwa manusia memiliki kencenderungan untuk berubah. Fisik, sifat, dan perasaan manusia, semua bisa berubah. Semua akan berubah.

Aku beranjak dari kursiku dan menghempaskan diri di tempat tidurku yang ada di sebelah meja tulisku.

Sepuluh tahun...

Aku memejamkan mataku.

Aku merindukannya...


Saat suara alarm berbunyi nyaring memenuhi ruangan pagi harinya kepalaku terasa sangat sakit. Dengan tubuh lemas aku berguling ke sisi lain empat tidur untuk mematikan jam alarm yang terus menjerit-jerit nyaring menyakitkan kepalaku memaksa otakku untuk kembali bekerja. Hari ini aku tidak boleh terlambat karena harus menyiapkan salinan bahan untuk rapat dewan direksi.

Aku menggeliat selama beberapa saat sebelum bangkit dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan mencuci wajahku.

Perjalan ke kantor memakan waktu 15 menit jalan kaki dan 25 menit naik kereta dan stasiun di pagi hari bukanlah tempat favoritku. Pada saat-saat seperti ini aku mengutuk kenapa aku harus tinggal di kota besar seperti Tokyo. Aku tidak perlu berdesak-desakan di kereta saat masih tinggal di Fukuoka. Waktu berjalan seperti lebih lambat dan aku memiliki cukup waktu untuk bernafas dan berpikir. Tapi di Tokyo, semua serba tergesa-gesa. AKu tidak bisa membuang waktu semenit pun untuk melamun atau aku akan tertinggal. Ini berlaku untuk segala macam hal. Termasuk dalam urusan pekerjaan.

Aku bangun lebih awal hari ini sehingga aku bisa sedikit lebih santai namun pada hari-hari lain tidak jarang aku harus berlari menuju stasiun dan berebut masuk ke kereta.

Aku melewati segerombolan remaja putri di pintu masuk stasiun. Masih ada cukup banyak waktu sebelum jam pelajaran seharusnya dimulai melihat pakaian olah raga yang mereka kenakan, aku menduga bahwa mereka berangkat lebih awal untuk latihan pagi di klub olah raga yang mereka ikuti. Aku tersenyum melihat mereka, teringat beberapa tahun lalu saat aku masih seusia mereka, anak-anak berusia belasan tahun itu tampak asyik membicarakan drama televisi yang mereka tonton semalam. Aku mendengar beberapa potong percakapan mereka.

"...dan kamu harus lihat bagaimana dia menyelamatkan Inoue! Uwaaaaah, itu adegan paling seksi yang pernah aku lihat!"

"Dia juga aktor terseksi yang pernah ada!"

"Aku setuju!"

Aku tersenyum simpul mendengar percakapan mereka. Gadis-gadis muda itu tampak antusias dengan apa yang mereka bicarakan. Aku tahu siapa yang sedang mereka bicarakan, aku juga tahu drama apa yang sedang mereka bicarakan. Aku memiliki banyak waktu luang di malam hari mengingat aku tinggal sendirian dan tidak punya banyak teman. Aku menghabiskan waktuku dengan menonton drama di TV atau membaca buku. Meskipun ada beberapa drama yang kutonton dengan alasan khusus.

Aku harus setuju dengan gadis-gadis itu. Semalam di drama itu ia memang tampak sangat seksi.

Berada di dalam kereta lebih awal dari seharusnya membuatku mendapat tempat duduk. Meskipun harus bangun lebih pagi tapi aku tidak perlu berdiri dan berdesak-desakan di dalam kereta. Sayangnya tidak setiap hari aku bisa terbangun pagi. Hari ini, aku terpaksa mengorbankan jam tidurku demi datang ke kantor lebih awal dan menyelesaikan tugasku untuk menyiapkan bahan untuk rapat direksi hari ini.

Aku melihat jam tanganku dan tersenyum.

Masih ada cukup waktu.

Atasanku saat ini masih muda dan menyebalkan. Kalau kali ini aku sampai melakukan kesalahan, ia pasti tidak akan memaafkanku. Meskipun aku tahu aku memang salah, tiap kali ia memarahiku rasanya aku ingin menampar wajahnya. Oh tentu saja aku tidak akan pernah benar-benar menamparnya, selain karena ia memiliki banyak penggemar di antara para pegawai wanita yang akan merebusku hidup-hidup kalau aku sampai melukai wajahnya, aku juga dapat dipastikan kehilangan pekerjaanku tepat pada detik telapak tanganku menyentuh pipinya. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini dan aku akan bersabar sebisaku menghadapi atasanku yang menyebalkan hanya agar tidak kehilangan pekerjaan ini.

Aku menarik napas.

Paling tidak hari ini Nara-san tidak perlu memarahiku.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan... Nara-san memang keterlaluan tapi jangan diambil hati," Tenten, teman sekantorku mencoba menghiburku saat kami makan siang bersama, "paling tidak semua masih bisa teratasi..."

Aku mengerutkan dahiku dan mengerucutkan bibirku. Aku mengerti bahwa temanku itu berusaha menghiburku tapi itu tidak cukup untuk meredakan kekesalanku. Aku tidak menyangka bahwa hari ini akan berakhir seperti ini. Aku telah melakukan semuanya sebaik yang aku bisa dan aku tidak pernah sengaja melakukan kesalahan, seharusnya atasanku itu mau mengerti.

"Tapi ia tidak perlu semarah itu kan?" Kataku, meskipun dalam hati aku cukup mengerti alasan mengapa atasanku itu marah padaku. Aku memang salah dan aku mengakuinya tapi membentakku di depan umum? "Ia telah mempermalukanku di depan semuanya!"

"Ya, tapi kita semua tahu seperti apa Nara-san kan?" Kata Tenten beralasan, "Lagi pula, Sakura, kamu memang salah memasukan data untuk rapat kan?"

Aku menangguk.

Hari ini meskipun sudah datang lebih awal, aku tetap saja menerima teriakan dari Nara-san. Penyebabnya adalah karena aku salah memasukan nomor di data-data yang akan dibagikan sebagai bahan rapat. Kelihatannya masalah sepele tapi Nara-san marah besar padaku.

Aku menarik napas dan menatap cangkir berisi teh dingin di hadapanku.

"Mungkin aku memang tidak cocok bekerja di Tokyo," gumamku.

Di kota besar seperti Tokyo, kesalahan kecil seperti ini tidak akan diberi toleransi sama sekali. Kita dituntut untuk tidak melakukan kesalahan sama sekali. Aku mengerti semua ini untuk keprofesionalitasan dalam bekerja tapi orang sepertiku yang lahir dan besar di sebuah kota kecil di selatan jepang, hal seperti ini terkesan jahat sekali. Aku menyesal dan telah meminta maaf, tapi itu tidak akan memperbaiki apa pun. Ini hanya bisa menjadi pelajaran untukku agar tidak mengulang kesalahan yang sama kali ini. Paling tidak aku beruntung karena kali ini aku masih diberi kesempatan. Nara-san bisa saja memecatku detik itu juga. Jadi seharusnya aku merasa bersyukur karena ia hanya meneriakiku di depan pegawai lainnya.

Tenten menggelengkan kepalanya, "Jangan berkata seperti itu... Ah daripada itu, apa kamu menonton drama semalam?"

Aku tersenyum sekilas, aku tahu Tenten mencoba mengalihkan pembicaraan tapi sejujurnya itu bukanlah alternatif pembicaraan yang aku inginkan. Bagaimanapun aku menghargai usaha gadis itu untuk menghiburku, aku pun mengangguk.

"Bukankah Naruto Uzumaki terlihat sangat seksi semalam?"

Aku hanya tertawa kecil.

Tentu saja ia terlihat sangat menawan semalam. Ia selalu terlihat tampan bagiku sejak dulu.


Aku mencegat sebuah taksi di depan kantorku malam itu. Nara-san menahanku untuk bekerja memperbaiki semua kesalahan yang telah kulakukan hari ini seusai jam kerja dan aku harus tertahan di kantor sampai larut. Kereta terakhir telah berangkat sepuluh menit yang lalu dan aku tidak memiliki pilihan lain selain naik taksi. Ongkos taksi di malam hari nyaris dua kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan di siang hari. Ini adalah salah satu hal yang aku benci dari kota besar seperti Tokyo, tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Aku terlalu lelah untuk berjalan kali selama satu jam untuk menuju apartemenku.

Supir taksi itu menanyakan alamat tujuanku dan aku menyebutkan alamat apartemenku sambil menambahkan pada supir tersebut untuk sebisa mungkin mengebut karena aku sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Besok pagi aku masih harus bekerja dan aku tidak boleh datang terlambat atau Nara-san akan menggunakannya sebagai alasan untuk lagi-lagi memarahiku di hadapan orang banyak.

Jalanan di malam hari tampak sepi dan lengang. Sebagian besar toko telah tutup menyisakan toko 24 jam, karaoke bar dan beberapa tempat hiburan malam lainnya. Ternyata jalanan di Tokyo pun sepi di malam hari. Salah satu sisi lain kehidupan Tokyo yang berbeda dengan bayanganku. Kupikir, Tokyo adalah kota yang terbangun selama dua puluh empat jam penuh. Aku menatap ke luar jendela sambil bertopang dagu, oh, tapi ada banyak hal yang tidak sesuai dengan bayanganku sejak aku pertama kali menginjakan kakiku di Tokyo.

Aku memejamkan mataku dan mencoba untuk mengingat-ingat alasanku saat akhirnya memutuskan untuk pindah ke Tokyo, jauh dari teman-teman dan orangtuaku. Ya, alasan mengapa aku menerima tawaran untuk bekerja di Tokyo tidak lain adalah dirinya. Aku ingin bertemu lagi dengannya.

Aku ingin bertemu.

Aku ingin bertemu.

Ingin bertemu.

Ingin...

Terdengar suara rem berdecit nyaring dan tubuhku terhempas ke arah depan. Lamunanku buyar seketika dan kepalaku terasa pusing saat mobil yang kutumpangi berhenti mendadak. Aku memegangi kepalaku yang terantuk sandaran kursi di hadapanku saat supir taksi yang kutumpangi dengan panik menoleh ke arahku dan menanyakan keadaanku. Kepalaku terasa sakit dan jantungku berdegup kencang, aku juga nyaris menggigit bibirku sendiri tapi selain itu, aku baik-baik saja.

"Aku tidak apa-apa," kataku sambil mencoba mengembalikan detak jantungku seperti biasanya, "ada apa?"

"Seseorang melompat ke depan mobil, tapi aku berhasil menghindarinya," kata supir tersebut sambil buru-buru melepaskan sabuk pengamannya untuk mengecek keadaan orang yang nyaris ditabraknya itu.

Aku menunggu beberapa detik untuk menenangkan diri sebelum kemudian ikut keluar dari mobil untuk melihat keadaan orang tersebut. Saat aku keluar dari mobil,supir taksi itu tengah berjongkok di hadapan seorang pria muda yang terduduk di aspal. Aku berjengit. Dalam hari aku bertanya-tanya apakah orang tersebut tengah mabuk atau di bawah pengaruh obat bius. Atau mungkin ia memang sengaja ingin bunuh diri... Dengan ragu-ragu aku melangkah mendekat.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya supir taksiku pada pria tersebut.

Pria itu menggeleng, "aku tidak apa-apa," suaranya terdengar serak tapi ia tidak terdengar mabuk, aku menghela nafas lega dan memberanikan diri untuk melangkah mendekat "tapi tolong bawa aku pergi dari sini!"

"Ah, tapi aku membawa penumpang," kata supirku, nada suaranya terdengar berhati-hati kalau-kalau ini adalah salah satu modus kejahatan baru.

Pria itu tiba-tiba mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahku, "kumohon ijinkan aku menumpang, aku harus pergi dari sini..."

Kata-kata pria itu terhenti di tenggorokannya saat mata kami bertemu pandang. Aku terdiam. Aku mengenali wajah itu. Suara itu... Ia pun tampak mengenaliku, terbukti dari matanya yang membulat tidak percaya dan bibirnya yang perlahan terbuka namun gagal untuk mengeluarkan kata-kata apa pun. Aku mengenalinya bahkan di kegelapan malam seperti ini. Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu. Aku tidak akan pernah melupakan mata berwarna biru itu.

Akhirnya ia menemukan suaranya yang sempat hilang, "Sakura..."

Aku menelan ludah. Tenggorokanku yang mendadak kering terasa sakit.

"Naruto..."


Oh ya, Ino... Apa kamu sering menonton drama Selasa malam di NTV? Bagaimana menurutmu?

Menurutku setelah sepuluh tahun ada banyak hal yang berubah darinya. Bukankah begitu?

Ino, apa menurutmu dia masih mengingatku?


.

TBC

.

Author's Note:

Hai, Recchi lagi di sini.

Aku rasa nggak banyak ya yang membaca cerita ini... :D mungkin karena ceritanya membosankan dan tidak menarik. Tapi sekali lagi saya suka menulis cerita dengan genre slice of life seperti ini. (Yang kata sebagian orang, tidak romantis).

Bagi yang membaca saya ucapkan terimakasih. Meskipun kalian tidak meninggalan review, saya tetap berterimakasih :D

Recchi