Previous Chapter:

"Sasori-kun, maaf sepertinya kita tidak jadi kencan... Ayahku akan pulang dari New York hari ini juga, ia ingin aku tetap di rumah menunggunya datang." Wajah Sasori terlihat sedikit kecewa namun aku yakin ia paham kondisiku yang jarang bertemu dengan Ayah secara langsung.

"Baiklah, kuantar pulang ya?" aku hanya mengangguk riang. Entah apa yang membuatku senang hari ini, Sasori kah? Ayah kah? Atau... Si rambut pantat ayam tadi?

.

.

.


"Percayalah, waktu mampu mengubah segala hal. Meskipun hatimu berkata tidak, suatu saat nanti akan datang waktu yang tepat untuk mengatakan iya."


.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

The One and Only

A Naruto Fanfiction by Asakura Ayaka

Chapter 2 : Mission Start

.

.

.

.

Siluet sosok lelaki berambut emo tampak sedang menerima telepon di balkon kamarnya. Ia mendengarkan serius pembicaraan kali ini. Seperti hal yang penting? Tentu saja, karena ini adalah bagian dari tugasnya.

"Ya, aku mengerti. Nampaknya pihak universitas sudah menerima uang suapan." Lelaki itu menerawang langit dan sejenak menutup kedua onyx-nya. "Baiklah, besok malam aku akan menemuinya." Kalimat itu akhirnya menjadi penutup pembicaraan dengan orang di seberang sana.

"Semakin rumit saja... Aku butuh partner." Ia menyentuh layar ponselnya mencari kontak seseorang dan meneleponnya segera.

"….."

"Aku butuh bantuanmu. Kali ini kita bergerak sama-sama."

Lelaki Uchiha itu kemudian merebahkan diri di atas kasurnya. Ia melirik laptop yang menyala di meja belajarnya dan tampak jelas foto seorang gadis bersurai pink sedang duduk di bangku taman. Di samping laptopnya tergeletak kamera DSLR, kunci mobil, dan pistol kesayangannya.

"Haruno... Sakura..."

.

.

#####

.

.

Keesokan Paginya…

"Selamat pagi putriku sayang." Suara pria paruh baya membuat Haruno Sakura terbangun dari tidurnya, ia seperti mendengar suara ayahnya yang sudah lama ia rindukan.

"Ayaaaaahh! Waahh ayah sudah datang, aku rindu sekali ayah. Hehehe... Mana oleh-oleh buatku? Ayah sehat-sehat saja kan?" gadis itu tidak henti-hentinya memeluk erat perut buncit Haruno Jiraiya. Pria itu terus membelai kepala putri semata wayangnya dan ikut duduk di sisi tempat tidur Sakura.

"Ayah sehat-sehat saja. Ayah sudah membelikan banyak barang untukmu, saking banyaknya harus dikirim melalui paket. Bagaimana kuliahmu, Nak?" Pertanyaan itu seperti pertanyaan tabu. Sakura merasa akhir-akhir ini mulai jenuh menggeluti ilmu kedokteran.

"Aku bosan kuliah. Semakin lama terasa makin sulit, yah. Oh iya, mulai lusa aku dan teman-teman akan mengikuti kegiatan pengabdian di desa selama satu bulan. Hari ini kelompoknya akan diumumkan."

Drrrrt Drrrt Drrrrt

Gadis pink itu terkesiap dengan getaran ponselnya sendiri. Segera ia mengobrak-abrik kasurnya dan mengangkat telepon dari sahabatnya, Yamanaka Ino.

"SAKURAAAA! Aku sudah lihat pengumumannya, kita satu kelompok! Haaahh aku senang sekali. Kita dapat kelompok 101!"

"101?"

"Yap. Lokasi pengabdian kita di desa Konoha!" Suara Ino masih terdengar riang di ujung sana

"Aku belum pernah dengar tentang desa Konoha,"

"Huuh, kau ini payah sekali. Hari ini juga kita akan mengadakan pertemuan dengan semua teman-teman dari kelompok 101. Kau harus datang ke kampus!"

"Hmm… baiklah." tak perlu waktu lama untuk menyudahi pembicaraan itu. Sakura segera bersiap mandi dan berangkat menemui Ino yang sudah menunggunya di kampus.

.

.

.

.

"Kelompok 101 ya…" Emerald Sakura menatap iPad nya yang mengakses situs Universitas Tokyo melihat pengumuman kelompok. Ia penasaran dengan siapa saja dirinya akan hidup di desa terpencil nanti. Sakura membulatkan matanya ketika melihat dalam daftar nama anggota kelompok tercantum pula nama... Uchiha Sasuke.

'Uchiha? Mungkinkah... yang waktu itu?' Sakura langsung mengklik nama Sasuke dan muncullah profil data Sasuke. "Uchiha Sasuke. Semester 6. Jurusan Desain Komunikasi Visual." Sakura terus men-scroll ke bawah untuk mengetahui lebih lanjut tentang Sasuke.

"Hey hey hey kau kira ini Facebook Sasuke apa? Mau di scroll sampai bawah pun kau tidak akan menemukan relationship statusnya…" Perkataan Ino sukses membuat Sakura melempar deathglare padanya.

"Ino, kalau bertemu dengannya aku harus bagaimana?" Sakura nampak khawatir sendiri tak ayal membuat sahabat pirangnya ikut bingung.

"Bagaimana apanya? Ya sudah kenalan saja. Cepat atau lambat kita akan tinggal bersamanya kan di desa?"

Saat itu juga sosok pemuda Uchiha itu lewat di depan mata Sakura. Sakura yang melihatnya langsung beranjak mengejar dan memanggilnya. 'Sial. Kenapa dia pakai headset segala sih!' Sakura memutar bola matanya kesal tatkala Sasuke seperti orang tuli.

"Uchiha," ia tidak menoleh.

"Uchiha-san!" masih belum.

"Sasuke-san!" Oh Kami-sama, sebenarnya lagu apa sih yang Sasuke putar?

"Sasuke-kun!" langkahnya terhenti. Ia mendengarnya... dan berbalik badan menatap gadis cantik dengan rambut pink di hadapannya.

'Mati aku! Dia pasti mengira aku sok akrab memanggilnya Sasuke-kun' Sakura langsung gelagapan kala ditatap tajam oleh lelaki datar macam Sasuke. Sementara Ino memperhatikan mereka dari kejauhan tidak berniat mengganggu momen itu.

"Ada apa?" Sasuke bicara sembari melepas headset-nya.

"Emm, tidak. Aku hanya ingin... me-mengucapkan terima kasih minggu lalu kau sudah menyelamatkanku dari kecelakaan di downtown..."

Sasuke terdiam sejenak, ia masih menatap intens Sakura yang perlahan menundukkan kepalanya. Sakura sendiri heran kenapa pandangan Sasuke padanya selalu seperti itu?

.

.

#####

.

.

SASUKE POV

Terima kasih? Sadarkah ia dengan hal yang selama ini kulakukan? "Hn. Itu hanya hal kecil." sahutku sekenanya.

"Kita juga... nanti satu kelompok dalam kegiatan pengabdian di desa Konoha. Kau sudah tahu?" ia bertanya lagi, ya... Aku sudah tahu kita akan satu kelompok bahkan sebelum pengumuman itu keluar di situs Universitas, bodoh.

"Aku belum tahu." dustaku asal.

"….."

Kuperhatikan lagi dirinya, sepertinya dia sangat kikuk menghadapiku. Apa aku terlalu berlebihan padanya? "Namaku Uchiha Sasuke, kuharap kita bisa bekerja sama dalam kegiatan itu." Kuulurkan tanganku dan refleks tangannya yang hangat menyambutku.

"Ah, aku Haruno Sakura. Douzo yoroshiku ne, Sasuke-kun." Cih, percaya diri sekali dia menyebutku dengan suffix 'kun? Ini bahkan pertama kalinya kami berjabat tangan. Kulihat lagi seksama tangannya yang kugenggam, lalu beralih ke wajahnya yang mulus. Haruno Sakura... percayalah aku mengenalmu lebih dari siapapun, bahkan lebih dari kekasihmu itu. Karena kau... adalah targetku.

END SASUKE POV

.

.

NORMAL POV

Sakura melepas genggaman tangan Sasuke, ia sadar baru saja Sasori datang dan memperhatikan mereka berdua. Sasori sedikit kesal memergoki gadisnya tengah bermalu-malu ria di depan lelaki lain, apalagi lelaki itu pernah melakukan aksi heroic bagi Sakura.

"Sedang apa?" tanya Sasori pada Sakura.

"Ah... tidak. Kelasmu sudah selesai? Bagaimana kalau kita makan siang?" Sakura mencoba menghindar dari amarah Sasori karena ia terus menatap tidak suka ke arah Sasuke.

"Baiklah aku ma—"

"Sakura, ikutlah denganku." Sasuke langsung memotong perkataan Sasori, "aku harus menemui ketua kelompok kita, ada baiknya kau juga ikut daripada makan siang dengan orang seperti dia." Sontak Sakura terkejut dengan tingkah laku Sasuke yang seperti menantang Sasori.

Tidak, jelas sekali dia menyindir Sasori.

"Aku..."

"Kau harus menentukan mana urusan yang lebih penting ketimbang urusan pribadi." Sasuke menambahkan.

"….."

"Sasori-kun, maaf ya... aku akan menyusulmu di kantin setelah ini." Mata hazel Sasori membulat sempurna saat mendengar perkataan Sakura. Cepat sekali gadisnya berubah pikiran? Kata-kata Sasuke seakan menghipnotis pikirannya.

Sasuke segera beranjak pergi diikuti Sakura di belakangnya. Tidak mau kalah, Sasori pun menahan lengan Sakura keras. "Jangan terlalu dekat dengan Uchiha itu. Firasatku sungguh tidak tenang." Sasori sengaja mengeraskan suaranya dan membuat Sasuke menghentikan langkahnya sejenak. Sakura mengangguk lesu melihat perang dingin kedua orang itu. Apa yang sebenarnya terjadi?

.

.

.

.

"Sasuke-kun, lihat aku." Sasuke bergeming sesaat melihat Sakura yang menatapnya sendu. "Kenapa kau bicara begitu di depan Sasori? Dia itu kekas—"

"Aku tidak suka caranya memandangku. Asal kau tahu, dia itu—"

"Memangnya kau tahu apa? Dia bahkan tidak mengenalmu sama sekali! Cobalah untuk menghormati hubungan orang lain." Sakura membalas Sasuke yang memotong pembicaraannya. Ia tidak habis pikir mengapa Sasuke berubah jadi begini menyebalkan.

"Cih, lalu kenapa kau memilih ikut denganku? Hanya untuk mengomeliku?" skakmat. Sakura bahkan tidak tahu pasti kenapa ia lebih memilih Sasuke? "Aku lapar. Jangan membuat nafsu makanku hilang." Sasuke menambahkan.

"Aku juga. Tidak ada gunanya berdebat. Kau harus mentraktirku karena sudah membuatku kesal." Sasuke mendengus tawanya mendengar Sakura yang ngambek tidak jelas, 'dia ini lucu sekali' pikirnya.

"Kau yakin mau ikut denganku? Bagaimana kalau ternyata aku ini orang jahat?" raut wajah Sasuke berubah serius. Benar, inilah yang harus Sasuke tanyakan sebelum mengajak seorang gadis pergi makan siang.

"Aku tidak takut denganmu. Sasuke-kun orang yang baik. Iya kan?" Sasuke tersenyum tipis mendengar jawaban Sakura. Ia berjalan menuju parkiran dan membukakan pintu mobilnya untuk.

.

.

#####

.

.

Drrrt drrrt drrtt

Ponsel Sasuke bergetar. Ia langsung mengangkatnya begitu mengetahui siapa peneleponnya. Sakura hanya menyimak perkataan Sasuke sembari memperhatikan jalanan dari dalam mobil.

"Ya, lusa aku berangkat ke Konoha. Malam ini akan ku usahakan."

"…."

"Saat ini tidak bisa, aku mau makan siang."

"…."

"Sudah kuperiksa, semuanya clear."

"…."

"Baiklah, nanti kuhubungi lagi."

TUT TUT TUT…

"Sasuke-kun, kalau sedang mengemudi sebaiknya jangan menerima telepon, itu sangat berbahaya." Sakura mencoba menasehati pria es disampingnya selembut mungkin. "Tadi itu pacarmu ya? Hehe maaf ya aku kepo."

Sasuke tertawa kecil mendengar Sakura yang kelewat polos sekali. Pacar, eh? "Bukan... tadi itu ayah yang sangat protektif dengan anaknya."

"Oh ayah ya, haha ternyata aku salah besar. Kau beruntung, aku jarang sekali ditelepon ayah. Dia selalu sibuk dengan pekerjaan dan klien-kliennya." ujar Sakura halus. "Ngomong-ngomong… memangnya kau ini tidak punya pacar, huh? Jangan bohong ya!"

"Tidak pernah. Aku takut tidak bisa menjaga pacarku nanti."

"Menjaga dari apa? Kau satpam, eh?" Sakura tertawa jahil meledek Sasuke yang nyatanya jomblo.

"Menjaganya dari gangguan orang-orang, menjaga perasaannya, menjaga kesuciannya. Aku belum yakin bisa." aku Sasuke jujur.

Sakura terdiam. Kata-kata Sasuke memang benar. Jarang sekali ada orang berpikir seperti ini. Tapi apa maksudnya tadi menjaga kesucian? Apa Sasuke tipe lelaki yang sulit menahan diri? "Seperti apa tipe gadismu? Mungkin aku bisa membantu?"

"Yang baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung." Sasuke menjawab asal-asalan.

"Aku seriuuus! Haah, susah ya bicara dengan orang tidak peka sepertimu." Sakura merotasikan bola matanya jengah. Sungguh jawaban Sasuke barusan memang tidak serius. Dan lagi Sakura baru menyadari, untuk apa dia peduli dengan tipe gadis Sasuke segala?

.

.

.

.

Di lain tempat lagi, Uzumaki Naruto sedang menggerutu sendiri tatkala partnernya menghilang begitu saja. Kemana si Sasuke sialan itu? "Si Teme mana sih, tadi katanya mau bertemu denganku. Tidak biasanya dia terlambat." Ia mengirim pesan pada Sasuke saking kesalnya menunggu dan alangkah terkejutnya ketika membaca balasan dari Sasuke.

From : Sasuke Teme

Aku lupa ada janji denganmu. Aku sedang makan siang dengan sakura. Kau pulang saja.

"Errrr kurang ajar kau Sasuke! Tahu gini aku pulang saja daritadi. Dasar FBI non professional, sempat-sempatnya makan siang dengan target sendiri, Baka!" tidak lama kemudian masuk lagi pesan dari Sasuke.

From : Sasuke Teme

Jangan mengejekku tidak professional.

"Apaan sih dia ini! Punya indera ke 6 heh?!" Naruto kemudian mengetik balasan pesan Sasuke penuh emosi,

To : Sasuke Teme

Kalau sudah selesai hubungi aku, teme! Awas kau lupa lagi, kita harus buat laporan ke kantor pusat!

"SEEENNDD!"

.

.

#####

.

.

"Haaah kenyang sekali~"

"Hari masih panjang, kau mau kemana lagi?"

"Tidak tahu, pikiranku sedang kacau, sejak tadi Sasori tidak menjawab teleponku. Sepertinya dia marah..." Sasuke pun jadi merasa tidak enak membuat Sakura bertengkar dengan kekasihnya.

"Kau mau aku menjelaskan padanya? Aku bukan tipe yang tidak bertanggung jawab."

"Tidak usah, dia memang begitu. Nanti juga baik sendiri." Sakura menolak halus karena paham tindakan Sasuke justru akan semakin menyulut amarah Sasori nantinya. Apa yang mau mereka bicarakan nanti? Bisa-bisa Sasuke dan Sasori malah terlibat adu jotos.

"Kita ke desa Konoha. Anggap saja ini survey lokasi sebelum kita berangkat lusa." Ajak Sasuke tiba-tiba.

"Mmm… tapi aku tidak yakin ayahku mengizinkan pergi ke luar kota sekarang..." Sakura meremas roknya sendiri. Sebenarnya ia ingin menyetujui ajakan Sasuke, namun ia terlalu takut pada Ayahnya yang jarang memberi izin pergi itu apalagi sampai keluar kota segala. Sadar akan sikap Sakura yang takut-takut, Sasuke pun mengambil ponselnya sendiri dan menanyakan nomor ayah Sakura. Tak lama kemudian ia menelpon dan meminta gadis itu yang bicara.

"Ini, bicaralah."

'Apa-apaan sih dia ini, aku kan bisa menelpon dengan ponselku sendiri!'

"Ha-Halo, Ayah... Ini aku, aku… mau survey ke desa Konoha sekarang, sepertinya malam ini akan pulang terlambat... bolehkah?" Sakura memejamkan kedua matanya berharap-harap cemas.

"….."

"I-Ini nomor temanku, Uchiha Sasuke. Aku pergi berdua saja dengannya."

"….."

"Benarkah?! Waah tumben Ayah baik sekali, ya sudah aku berangkat dulu. Aku akan mengabari Ayah kalau ada apa-apa."

TUUT TUT TUT…

"Ayo kita berangkaat!" Sakura terlihat terlampau gembira, tanpa menyadari apa sebenarnya yang membuat Ayahnya itu dengan mudah memberi izin pergi. Sasuke lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan tol. Gadis di sampingnya tetap bersemangat ingin cepat sampai di desa Konoha. Sasuke sedikit-sedikit juga menjelaskan pada Sakura tentang desa Konoha yang ternyata sangat indah, desa itu bahkan sempat menjadi lokasi syuting film tentang ninja yang terkenal di Jepang.

Tiga jam perjalanan membuat Sakura tertidur pulas dalam mobil. Setibanya di Konoha Sasuke langsung membangunkannya dan mata emerald Sakura dibuat berbinar karena disuguhi pemandangan alam dan bangunan tradisional yang menghiasi setiap sudut desa. "Indah sekali... pasti menyenangkan menghabiskan musim semi di sini… Aku mau jalan-jalan keluar, Sasuke-kun. Kau mau ikut?"

Sasuke mengikutinya dari belakang dengan menggenggam kamera DSLR-nya. Ia tak henti-henti memotret Sakura seakan Sakura adalah pusat perhatiannya. Sakura menyadari rasanya senang juga bersama Sasuke walau lelaki itu amat irit bicara. Mungkinkah perasaannya pada Sasori akan goyah? Karena untuk satu bulan ke depan ia akan bersama Sasuke di desa ini, bukan?

Di padang rumput terdekat, Sakura berbaring di atas rumput sementara Sasuke sibuk berteleponan lagi dengan seseorang. Entah siapa yang menghubungi Sasuke kali ini, tapi semua panggilan-panggilan itu begitu menyiratkan bahwa dia bukanlah orang sembarangan.

"Kuserahkan Sakura padamu. Ini bukan tugas yang sulit, kan?"

"Ya. Saat ini dia sedang bersamaku di Konoha. Tapi bagaimana dengan mereka? Kalau sampai merekamendapatkan Sakura, semuanya bisa berantakan."

"Akan ku urus itu. Kau jangan sampai kehilangan dia, aku sudah membayar mahal misi ini pada FBI."

"Hn. Kau tidak perlu khawatir soal itu."

TUUT TUT TUT…

Sasuke melihat Sakura yang memejamkan matanya menikmati udara sejuk di padang rumput. Perlahan ia mendekatinya dan memperhatikan wajahnya seksama. Tidak tahu apa yang mendorongnya untuk berbuat lebih, ia semakin mendekatkan wajahnya ingin merasakan hembusan nafas gadis itu.

'Sakura...'

.

.

.

To be Continued

.

.

.

Author Note:

chapter 2 sudah selesai! Sudah tau kan siapa sebenarnya Sasuke? Dia memang khusus ditugaskan untuk menjaga Sakura 24 jam! *lebay* tapi disini karakter Sakura kubuat polos bangeet. Chapter berikutnya ada yang mau request scene? Kuusahakan nyambung dengan alur cerita yaaa~ aku cepet kan updatenya, kekekekek yaiyalah secara author nganggur alias libur sampe bulan depan. Setiap abis sahur aku ngetik fic dan pasti ketiduran XD REVIEW PLEAASEEEE…!