Disclaimer: Always Kubo Tite's, not mine! *Uki hanya memiliki fanfic gaje ini*
Warning: Romance (g berasa), Drama (g mutu), Humor (garing), Jelek, Salah2 ketik, OOC (bertebaran), Gombalizm
Rated: Uki masih setia pasang T
...
Terkadang jika kita mengingat masa lalu, bukan hanya kenangan indah, kenangan menyebalkan pun juga akan ikut teringat! Apalagi kalau mengingat awal-awal bagaimana kami bisa berhubungan. Ichigo benar-benar sosok yang tidak ingin kudekati! Aku malas berurusan dengannya. Eh? Kalian bilang Ichigo baik padaku? Nanti dulu! Masalah Shiba-senpai itu masih ada kelanjutannya!
...
"Rukia-chan!"
'Ckk..' rasanya ingin aku menghajarnya, tapi Momo-chan menahan kepalan tanganku.
"Ada apa, Senpai?"
"Kenapa kemarin kau tidak datang ke perpustakaan? Aku menunggumu, kau tahu!"
"Maaf, Senpai, aku tidak bisa datang."
"Kalau begitu apa jawabanmu? Kau setuju kan untuk jadi pacarku?"
"Maaf. Tapi tidak terimakasih." Yah.. aku ingat aku memberi penekanan pada kata 'terimakasih'.
"Tidak? Bukannya kau suka padaku sejak kelas 1? Ayo katakan!"
'Apa-apaan sih dia?'
"Tidak lagi, Senpai."
"HEI! APA MAKSUDNYA DENGAN TIDAK LAGI? POKOKNYA KAU HARUS JADI PACARKU!"
"Senpai, tapi aku tidak lagi suka padamu." Beraninya memaksaku? Aku tahu dia begitu ngotot karena taruhan 3000 Yen itu, dan aku benar-benar ingin menghajarnya jika saja Kira dan Momo-chan tidak sedang menahanku mati-matian saat itu!
"KAU TAHU TIDAK ADA GADIS YANG MENOLAKKU SEBELUMNYA! KAU INI PACARKU!" Tuh kan, mengingatnya saja sudah membuatku menghajar bantal kesayanganku! Bisa-bisanya dia bicara begitu. Kami tidak berbicara di tempat yang sepi, tapi di koridor! Bisa kalian bayangkan situasinya? Kami jadi tontonan orang!
'Si bodoh ini!' Aku tidak bisa lagi menahan emosiku.
"AKU TAHU SENPAI MENEMBAKKU DEMI UANG 3000 YEN KAN? KENAPA TIDAK DEMI UANG 300 YEN SAJA JIKA SENPAI MAU! PUNYA HAK APA SENPAI MEMAKSAKU? MEMANGNYA SENPAI PIKIR SENPAI ITU SIAPA?" hahaha.. aku meledak.
"KAU-"
"Jam istirahat sudah berakhir, Senpai. Kuchiki, dari tadi aku mencarimu."
Eng ing eng.. Ichigo muncul dengan sok keren.
"SIAPA KAU? INI BUKAN URUSANMU!"
"Siapa bilang tidak ada? Ada kok. Kuchiki kemarin tidak menemui senpai karena dia mencariku."
"APA?"
'Dia membelaku?' Dalam hati aku sempat kagum padanya tapi rasa kagum itu kusesali dalam waktu beberapa detik kemudian.
"Yah.. dia tidak menemui senpai demi bertemu denganku. Maaf saja Senpai, yang disukai Kuchiki sekarang itu aku. Dia datang untuk menembakku. Kuchiki, maaf ya? mengenai masalah yang kemarin itu, aku tidak bisa jadi pacarmu. Kita baru kenal, bagaimana jika kita berteman saja, ok? "
DOOONGG~
Apa-apan dia itu! Yang benar saja! Kapan aku datang menembaknya? Kapan? Bikin tambah kesal saja! Dan dia mengatakan itu dengan entengnya? Hello?
...
Try Me!: Please, Stay Away
Yah karena ribut-ribut di koridor itu, tersebar kabar bahwa aku menolak Shiba-senpai demi mengejar Ichigo. Hingga kelulusan anak kelas 3, aku tidak pernah lagi bertegur sapa dengan Shiba-senpai *siapa juga yang mau?*. Akibatnya gosip itu terus bertahan.
Pokoknya, sisa tahun keduaku di SMP kujalani dengan menebalkan telinga gara-gara gosip yang tidak jelas siapa yang pertama kali menyebarkannya. Aku sempat bertekad untuk menemukan pelakunya dan memberinya 'hadiah'. Tapi ah sudahlah. Gosip itu pudar dengan sendirinya karena ada gosip baru yang lebih hangat.
Apalagi kalau bukan gosip bahwa aku telah jadian dengan Ichigo. Awal tahun ketigaku, diawali dengan gosip teranyar. Artis idola saja mungkin tidak pernah mengalaminya. Hebatkan? Begitu santernya, gosip ini menyebar hingga telinga anak-anak kelas 1 bahkan jadi pembicaraan di ruang guru.
"Rukia-chan, jujur saja deh. Benarkan kalau kau sudah jadian dengan pentolan Trio Kurosaki?"
"Ran-chan! Aku tidak jadian dengannya!"
"Bohong tuh. Buktinya hari pertama semester, kalian kompak terlambat dan berduaan di laboratorium IPA ketika sekolah usai."
"Kami dihukum untuk membersihkan tabung-tabung kaca di laboratorium! Bukan bermesraaan!"
"Apa benar? Kalian kan kompak terlambat lagi hari ini. Manisnya, janjian terlambat supaya bisa bermesraan~"
"Kami tidak janjian!"
"Sudah deh. Kuakui seleramu lumayan juga. Tenang, pacarmu tidak akan kuganggu. Eh, pangeranmu datang tuh."
"Kuchiki, lama sekali! Hari ini kita disuruh membersihkan kandang kelinci kan? Jangan mangkir!"
'Ugh!'
...
"Kuchiki-senpai benar jadian dengan Kurosaki-senpai ya?"
'Tolong hentikan!' hari itu aku terus mendapat pertanyaan yang serupa. Rata-rata yang bertanya padaku adalah anak kelas 3 dan 2 yang sudah lama menyukai Ichigo. Aku tidak menyangka bahwa Ichigo punya lumayan banyak penggemar, saat pertama kali kenal lho! Kalau sekarang sih, jangan tanya deh.
Waktu itu aku berpikir keras, apa sih yang membuat mereka menyukai Ichigo? Orang yang sering bolos untuk tidur di bawah pohon ginko, bicara suka seenaknya dan terkadang berkelahi. Melihat rambutnya yang oranye itu saja sudah membuat guru BP mengejarnya. Apalagi kalau mengingat tingginya waktu itu. Dunia sungguh tidak adil. Ichigo bertambah tinggi saat liburan, sedangkan aku hanya bertambah tinggi 2 cm. Waktu kami kelas 3, selisih tinggi kami adalah sekitar sejengkal lebih. Huh!
Meski aku terus menyangkal, gosip itu makin menjadi *kalau sekarang sih, aku cuek saja tuh*. Semua itu karena sikap kami –ralat, sikapku yang terbawa olehnya. Biarpun aku sudah bertekad untuk tidak meladeni setiap ucapannya, tetap saja ujung-ujungnya aku kembali bertaruh dengannya. Objek yang jadi bahan taruhan kami pun banyak. Waktu itu, kami bisa bertaruh tentang siapa pemenang pertandingan bola, soal apa yang akan muncul di ujian, hingga hukuman apa yang akan kami terima jika besoknya kami kembali terlambat.
...
'Lagi-lagi..'
Kutemukan paku payung pada sepatuku. Di SMP lah, untuk pertama kalinya aku merasakan apa yang disebut dengan 'penggencetan'. Waktu itu, 'penggencetan' adalah aib yang sering ditutupi oleh pihak sekolah. Meski aktifis dan pemerhati pendidikan sekarang terus vokal akan masalah ini, tapi kalau melihat berita di mass media, 'penggencetan' tetap terus ada *tradisi kali ya..?*.
Waktu itu aku berfikir, 'Apa salahku?'. Hahaha.. tapi bisa kalian tebak kan? Ichigo. Yang menggencetku, bisa dipastikan adalah para penggemarnya. Padahal kan bukan mauku! Jika tak salah ingat, hingga semester pertama hampir berjalan setengahnya, aku terus mengalami penggencetan. Sengsara? Tentu!
...
Sore hari setelah kami menyelesaikan hukuman, kami pulang bersama. Eh bukan sengaja lho! Kebetulan saja kami sama-sama bermaksud mampir ke toko buku dulu. Sekali lagi, KEBETULAN!
Aku ingat, sore itu aku berfikir untuk menjauh dari Ichigo. Hanya menjalani hukuman berdua saja aku sudah digencet seperti itu, apalagi jika sampai ada yang melihat kami pulang bersama-sama seperti ini. Entah apa yang akan terjadi besok.
"Kau kenapa? Sakit?"
"Tidak kok."
"Nih." Ichigo menawariku sekotak susu strawberry.
"Buat apa?"
"Supaya kau cepat tambah tinggi. Lihat saja tinggimu, sama dengan anak kelas SD."
"GRRR~! Ichigo! jangan jadikan tinggi badan sebagai lawakan!"
"Tapi kenyataannya kan seperti itu, Rukia?" Yup! Ichigo memanggilku dengan nama depanku. Kalau tidak salah setelah kami menjalani hukuman membantu Muguruma-sensei menfotokopi soal ujian untuk anak kelas 2, Ichigo untuk pertama kalinya memanggil nama depanku. Katanya 'Kita kan sudah jadi partner telat, wajar dong saling panggil dengan nama depan?'
"Ichigo, lihat awan itu. Mau taruhan tidak? Sore ini pasti hujan." Aku mengajaknya taruhan. Aku tahu sore ini akan turun hujan, dari ramalan cuaca tentunya. Aku sangat yakin kalau Ichigo tidak tahu.
"Tahu dari mana? Aku tidak mau bertaruh hari ini"
"Oh yeah? Takut?"
"Tidak. Siapa bilang aku takut?"
"Yakin? Cuma penakut saja yang tidak mau bertaruh. Takut kalah lagi ya? "
" Ckk... Ok! Aku bertaruh sore ini tidak akan hujan."
"Yang kalah harus mematuhi perintah yang menang. Deal?"
"Deal!"
Kami sama-sama ke toko buku, selain itu kami juga keliling pertokoan. Aku lupa kenapa aku sampai keliling dengan Ichigo. Yang kuingat adalah Ichigo sedang mencari bibit bunga. Akhirnya hujan pun mulai turun saat matahari sudah hampir terbenam. Kami terpaksa berteduh di depan sebuah toko yang tutup. Kulihat ada seorang nenek yang juga ikut berteduh.
"Ini. Silahkan," aku memberikan payungku padanya. Nenek itu sempat ragu.
"Terimakasih. Kau masih SD tapi dewasa ya?"
"Bu-bukan-" Si nenek sudah pergi.
"Hahahaha.. tuh kan gara-gara tinggi badanmu, kau dikira anak SD," Ichigo tertawa. Itu adalah untuk pertama kalinya aku melihatnya tertawa puas.
"Jangan tertawa!"
"Hahaha... perutku sakit..."
"Taruhan kita masih berlaku kan?"
"Yeah.. kau menang."
"Karena aku yang menang, kau harus memenuhi permintaanku!"
"Katakan saja. Apa permintaan anda, Tuan Putri?"
"Aku minta kau jaga jarak denganku. Jangan bicara yang tak perlu denganku. Jangan sok akrab denganku."
"..."
"Kau mengerti?"
"Ngerti kok! Perjanjian adalah perjanjian. Kalau begitu aku pulang duluan. Dah."
"Hey! Tunggu dulu!" aku menarik tangannya. Wajahnya sedikit terkejut.
"Katanya aku disuruh menjauhimu. Bagaimana sih?"
"Tapi kan hujannya masih deras! Kau bisa sakit!"
"Bilang saja kau takut ditinggal sendirian di sini."
"Siapa bilan-"
"Ya deh. Kutemani hingga hujan reda."
Untuk pertama kalinya aku merasa canggung karena berdekatan dengan seseorang. Aku yang memintanya untuk menjauh, tapi aku juga yang menahannya pergi.
"Besok aku akan berusaha untuk tidak berdekatan apalagi berurusan denganmu. Jadi besok kau jangan telat, Rukia."
"Kok aku? Kau yang harusnya jangan terlambat!"
"Aku memang langganan telat kok! Jadi kau jangan ikutan telat!"
"Kenapa kau yang malah mengaturku!"
Esoknya, aku tidak terlambat. Aku berusaha agar tidak terlambat dan menjauhinya. Dan aku berhasil. Aku tidak terlambat dan berurusan dengannya. Aku tidak pernah lagi bicara maupun bertaruh dengannya. Jika berpapasan pun, Ichigo cuek. Lalu beredar kabar bahwa kami putus *putus dari mana? Jadian juga tidak!*. Awalnya aku sempat kesal tapi berkat itu, aku tidak lagi jadi sasaran penggecetan. Aku bisa kembali bernafas lega, bahkan bisa memulai 'pendekatan' dengan cowok lain. Kehidupan sekolahku damai hingga semester pertama berakhir...
...
"Malasnya~ kenapa kita harus jadi panitia sih?"
"Ran-chan, ini kan terakhir kalinya. Tahun depan kita tidak akan berpartisipasi lagi sebagai murid kan?"
"Tapi aku malas Rukia-chan. Kenapa harus ditentukan dengan undian?"
"Sudahlah. Permisi. Maaf kami terlambat." kubuka pintu ruang OSIS.
"Wakil dari 3-3 akhirnya datang juga! Karena panitia sudah lengkap! Kita mulai rapat panitianya!" Ketua OSIS mulai menulis di papan tulis. Aku dan Ran-chan mengambil tempat duduk di depan, meski Ran-chan sedikit tidak setuju. Mau bagaimana lagi? Semua tempat duduknya sudah penuh sih. Memang nasibmu Ran-chan, hihihi...
"Rukia-chan! Itu di sana!" Ran-chan menunjuk pada seseorang yang tertidur di pojok belakang ruangan. Kulihat Ichigo tertidur dengan kepala di atas meja. Kenapa sih kami jadi bersama-sama lagi?
"Wah Rukia-chan, kalian memang jodoh."
"Ran-chan!"
"Ehem..ehemm.. Bisa kita lanjutkan?"
"Ma-maaf"
"Ichigo-senpai! Jangan tidur!" si ketua melempar kapur dan berhasil mengenai kepala Ichigo.
TAK!
"Sakit tau! Huaemm- lho? Rukia? Kok kau di sini?"
Bersambung..
Buatnya agak buru2 mungkin agak aneh. Thanks banget atas reviewsx.. Yang mo komen, kritik or ngasih flame silahkan..
RnR!
