Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto – Intimidate © barapanda

Warning: AU, OOC, teacher-student, age gap, plot-rush, third's POV, et cetera, don't like don't read!

(remake dari fanfiksi "Little Girl" punyaku sebelumnya, storyboard agak berubah)

.

Chapter 2: Tertekan

.

Hyuuga Hinata hanya mengeluarkan kotak bento-nya dengan lesu. Bel istirahat telah berdering beberapa saat yang lalu, dan semua teman-temannya segera bergerombolan keluar kelas—ada juga beberapa anak yang masih tinggal di kelas, tampak tak peduli. Hinata melayangkan pandangannya sekilas, dan mendapati tiga-empat anak saja yang tersisa. Sebagian ada yang masih tertidur di balik lipatan tangannya, ada yang cuek dan duduk di pojokan kelas sambil mendengar musik, ada juga yang baru saja mengeluarkan sekotak bento dari dalam tasnya.

Sesaat, Hinata mulai berseri-seri.

Mungkin saja kali ini ia bisa makan bento bersama teman sekelasnya itu. Dalam hati ia mencoba meyakinkan dirinya untuk mulai bangkit dari bangkunya dan menghampiri temannya itu lalu mengajaknya makan bersama. Namun, ketika akhirnya Hinata hendak berdiri, dilihatnya temannya itu sudah berlalu menuju pintu menyusul teman-temannya yang lain yang menunggu di ambang pintu.

Seketika, Hinata kembali terduduk lesu.

Tampaknya, kali ini ia masih harus memakan bento-nya sendirian.

Hinata membuka tutup tempat bekalnya dan memandang isinya dengan tidak berselera. Meskipun hidangan yang disiapkan oleh ibunya berpenampilan menarik dan rasanya yang tak perlu dipertanyakan lagi, tetapi bagi Hinata, jika hanya dapat memakannya sendiri, maka apa nikmatnya? Rasanya hambar.

Dengan terpaksa, ia mulai melahap makanannya perlahan. Seraya merenungi nasibnya di tahun pertama SMA-nya, Hinata merasa bahwa pergaulan di SMA terasa lebih rumit. Di mana anak-anak remaja semakin egois dan hanya mau berteman pada orang-orang tertentu saja, lebih mementingkan urusan mereka sendiri. Dan sejujurnya, Hinata tidak ingin berprasangka buruk dulu, hanya saja… entah mengapa semenjak dirinya mulai mendapat pelajaran tambahan di jam terakhir olahraga, beberapa temannya mulai memandangnya sinis. Sampai saat ini ia sendiri masih bingung.

Mengapa mereka tampak tidak suka bila ia mengikuti pelajaran tambahan? Bukankah itu tidak menyenangkan? Olahraga itu melelahkan, apalagi jika dapat jam ekstra karena kelemahannya. Selama waktu tambahan itu, Hinata merasa bahwa gurunya agak sedikit menekannya untuk bisa dalam segala materi yang diajarkan—sedikitnya pun sesuai standar. Mungkin maksud gurunya itu cukup baik, tetapi Hinata merasa tidak senang akan hal itu.

Terutama jika guru olahraganya adalah Uchiha-sensei.

Ini bukan perkara penilaian subjektif karena punya pengalaman buruk dengannya—oh ya, mungkin saja itu sedikit benar. Hinata baru bertemu dengannya saat di sekolah ini. Tidak di luar sekolah, ia rasa. Namun, beberapa kali pertemuan diajar olehnya, Hinata mulai merasakan sesuatu yang tak nyaman saat bersama gurunya.

Apalagi jika hanya berdua saja.

Bagi Hinata, berada dengan Uchiha-sensei itu bagaikan siksaan batin. Ia harus merasakan jantungnya berdesir mengerikan yang membuatnya mulas. Dan ia harus mengalihkan pandangannya ke arah yang lain untuk menghindari tatapan tajam sang guru. Apalagi ketika disuruh mengulangi gerakan-gerakan yang diajarkan namun belum bisa dikuasai oleh Hinata, terus-menerus. Hinata merasa aneh, dan ia juga merasa gurunya jadi terlihat aneh.

Entah mengapa ia bisa merasa begitu. Semakin lama dipikirkan, semakin takut pula ia pada gurunya, dan sensasi yang dirasakannya setiap kali berada bersama Uchiha-sensei membuatnya kembali berjengit.

Mungkin saja ia agak takut pada gurunya itu.

Jadi, mengapa teman-temannya tampak tidak senang saat ia bersama Uchiha-sensei?

Apakah karena mereka menyukainya dan tidak senang saat Hinata bersamanya atau karena mereka tidak senang melihat dirinya kesulitan dan tertekan selama mengikuti jam tambahan?

Ah, ia rasa pernyataan pertama lebih masuk akal. Lagipula, sejak kapan teman-teman di kelasnya mulai peduli padanya?

Bel sekolah kembali berdering, menandakan waktu istirahat telah usai. Hinata menatapi isi bento-nya yang masih tersisa sepertiganya. Melihat teman-teman sekelasnya mulai berangsur memasuki kelas, Hinata pun segera membereskan bento tersebut dan mulai menyiapkan buku.

Sebelum kemudian ia pun teringat bahwa pelajaran berikutnya adalah olahraga.

Dilihatnya bahwa teman-teman perempuannya tampak bersemangat berjalan keluar menuju ruang ganti. Sementara Hinata begitu enggan untuk keluar dari kelas dan berada di lapangan olahraga lagi.

Jika hanya untuk menemui dirinya yang tersiksa jika harus ditinggal sendirian terus saat jam pelajaran hendak berakhir.

Namun, karena ia merasa bahwa waktu terus bergulir, Hinata pun juga menyusul tanpa minat.

.

.

Materinya masih bola basket, namun kali ini adalah memasukkan bola ke keranjang basket.

Ini bagian tersulit bagi Hinata. Terutama faktor fisiknya yang tidak mendukung.

Mungkin jika dibandingkan, boleh jadi Hinata adalah anak termungil di kelasnya. Dan tentu saja juga yang terpendek.

Hinata hanya menatap miris melihat tiang keranjang basket yang dirasanya bisa setinggi pohon kelapa. Mungkin saja dua atau tiga kali dari tinggi Hinata. Melihat hal itu, rasanya tipis sekali harapannya untuk bisa memasukkan bola ke sana. Apalagi tenaga dorongannya juga lemah.

Ini menyedihkan. Dan sudah pasti ia akan mendapat jam tambahan lagi nantinya di akhir pelajaran.

Hinata memandangi gurunya yang sudah mulai menerangkan beberapa cara memasukkan bola dan juga letak-letak poin yang didapat dari posisi melempar. Dengan sigap, dilihatnya Uchiha-sensei mulai mengangkat bolanya di depan wajahnya, lalu bersiap mendorong bola itu dengan tangkas hingga akhirnya bola itu melambung dan… masuk dengan sempurna di keranjang tersebut.

Terlihat mudah memang jika gurunya yang melakukan.

Namun tidak dengannya.

Ingin sekali Hinata mengubur dirinya sendiri dan bersembunyi. Apalagi ketika gurunya mulai memberi aba-aba pada setiap murid agar mencoba mempraktekkannya juga. Dilihatnya beberapa anak laki-laki sangat antusias mengambil bola dan segera memperagakan kembali gerakan tadi, sementara yang perempuan tampak membincangkan sesuatu dan hanya sekadar menatapi tiang keranjang basket dengan bola yang hanya berada di pelukan mereka saja.

Hinata tidak melakukan apa-apa selain menyamarkan diri di antara kerumunan temannya yang kurang tertarik pada materi tersebut.

Lalu, mereka semua mulai berpencar. Berdiri di beberapa titik dan bersiap melempar masuk bola. Hinata hanya bergerak ke sana-sini menghindari teman-temannya. Namun, lapangan semakin ramai, dan akan tampak mencolok sekali bila ia berdiri di pinggir lapangan. Jadi, Hinata hanya sekedar memungut bola yang bergulir liar setelah gagal dimasukkan lalu sekedar memantulkannya saja.

Salah seorang teman laki-lakinya yang berdiri tak jauh dari Hinata mulai melempar bola ke arah keranjang bola, dan saat itu Hinata sedang membungkuk mengambil bola saat bola basket milik temannya itu sudah melambung dan ternyata menabrak papannya—terpantul entah ke mana hingga akhirnya semua sadar bahwa bola itu mengarah ke Hinata yang baru saja bangkit berdiri, dan tanpa ada yang sempat memperingatinya, bola basket tersebut sudah menabrak kembali belakang kepala Hinata secara mendadak yang membuat Hinata berjengit kaget lalu tersungkur jatuh.

Membuat semua perhatian teman-teman sekelasnya teralihkan.

Begitu juga guru olahraganya.

Sontak, Uchiha Itachi segera berlari menghampiri Hinata dan mendapati dirinya sudah memejamkan matanya erat menahan rasa sakit. Kepalanya pasti terbentur keras, dan rupanya, kedua lutut Hinata juga tergores hingga berdarah akibat terhentak jatuh tadi. Itachi mengamati kondisi Hinata yang cukup menyedihkan, dan tanpa pikir panjang, akhirnya ia pun segera menggendong Hinata dan membawanya ke ruang kesehatan—setelah sebelumnya memberitahu murid-muridnya untuk berlatih sendiri sementara dirinya mengantar Hinata.

Hinata tak begitu menyadari situasi yang terjadi setelah kepalanya terbentur tadi. Dan tiba-tiba saja dirinya sudah didudukkan di atas ranjang secara perlahan. Pandangannya masih sedikit berkunang-kunang, lalu tubuhnya sedikit didorong untuk bersandar pada bantal yang sudah diposisikan dengan baik. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Hinata merasakan sebuah tangan yang menyentuh lutut kirinya dan juga sesuatu yang dingin pada bagian lutut yang terasa nyeri.

Segera memposisikan tubuhnya untuk duduk tegap—meskipun kepalanya masih pusing—Hinata melihat siapa yang sedang mengobati lukanya ini.

Dan menemukan sosok yang tak pernah diduganya.

Uchiha-sensei.

"Ukh… sensei?"

Hinata berkata ragu-ragu. Entah kenapa melihat guru yang paling ingin dihindarinya ini sedang merawat lukanya membuatnya merasa tidak enak.

"Ah, Hyuuga-san. Maaf, aku mau membersihkan darahnya dulu. Terlalu sakit?" ujar Itachi mengalihkan atensinya dari luka di lutut Hinata ke wajahnya. Hinata segera menghindari tatapan gurunya dengan memandangi tirai yang tersibak di ruang kesehatan.

"Tidak… um, maaf saya telah merepotkan." Hinata masih menatapi benda yang lain sementara dirinya merasa bahwa tatapan gurunya masih tertancap padanya. Kakinya yang disentuh oleh tangan Itachi pun tiba-tiba terasa kaku.

Akhirnya Itachi kembali memfokuskan perhatiannya pada luka yang sudah mulai mengering, seraya berkata, "Shizune yang bertugas di sini sedang ada urusan dengan bagian tata usaha. Jadi untuk sementara aku yang akan mengurusmu."

Hinata tak tahu apakah ia menangkap nada keberatan atau sesuatu yang lain pada ucapan gurunya. Namun, begitu menyadari bahwa ia kembali terjebak dalam kondisi berdua saja dengan guru yang paling ingin dihindarinya itu, membuat Hinata kembali merasakan gelenyar tak nyaman yang membuatnya mulai gemetar.

Hingga terasa sampai kakinya. Tentu saja juga sebelah kaki yang sedang digenggam Itachi.

Itachi menyadari keanehan yang terjadi pada Hinata, namun memilih untuk mengabaikan sejenak dan kembali merawat luka tersebut.

Setelah dirasanya bahwa darah pada lukanya sudah mulai berhenti mengalir, Itachi mengambil kapas dan meneteskan cairan antiseptik di sana—sebelum ditempelkannya untuk menutupi bekas luka tersebut. Ia juga mengambil perekat agar kapasnya tidak terlepas. Sesaat, didengarnya Hinata kembali berjengit, tetapi tak memrotes pada apa yang dilakukannya.

Suasana terasa begitu senyap. Itachi masih terpaku pada kursinya begitu selesai mengobati luka Hinata, tampak memikirkan sesuatu. Sementara Hinata merasa semakin canggung karena gurunya itu masih menyentuh kakinya meskipun sudah selesai mengobatinya. Beberapa detik terasa cukup menyiksa batin Hinata yang semakin lama semakin tertekan pada kondisi ini—hingga akhirnya Itachi angkat bicara.

"Hyuuga-san."

Yang dipanggil pun seketika berjengit dan tersentak, dengan bahu yang kemudian berdiri kaku. Dipandanginya Itachi sedang menatapi kapas yang menutupi luka Hinata tadi dengan pandangan tak tertebak.

Hinata ragu apakah ia harus menyahuti gurunya atau tidak. Namun, sepertinya mulutnya agak enggan untuk bersuara kali ini.

Itachi juga terlihat tidak begitu mempermasalahkannya, lalu kemudian kembali mengatakan sesuatu yang tak diduga Hinata sama sekali.

"Bisakah kau memberitahuku penyebabmu merasa begitu tak nyaman saat sedang bersamaku?"

Hinata terperangah mendengar hal itu.

Ditambah lagi dengan tatapan Itachi yang kemudian merambat menuju wajahnya. Menatap mata Hinata langsung.

"Apa yang mengganggumu?"

Hinata membelalak bingung menanggapinya. Tidakkah gurunya itu menyadari bahwa ia telah menelantarkan tugas mengajar di lapangan? Dan kenapa malah menanyakan sesuatu yang mengganggunya?

Ya, bagaimana mungkin Hinata mengatakan bahwa segala penyebab dan yang mengganggunya selama ini adalah sang guru itu sendiri. Keberadaannya saja sudah memberi efek hebat padanya, dan Hinata tak ingin mengungkapkannya dulu. Namun, tatapan gurunya yang terasa tajam di matanya membuat Hinata gelisah di tempatnya.

Apa maksudnya…?

Merasa bahwa Hinata tak akan merespon pertanyaannya, Itachi kembali mengalihkan pandangannya pada lutut Hinata yang terluka, mengamatinya sejenak, lalu tiba-tiba memajukan wajahnya dan menyentuhkan bibirnya pelan pada lutut Hinata yang tak tertutupi kapas.

Sontak, napas Hinata tertahan dan seketika rasa panas merambati wajahnya.

Apa ini…?

Dan entah berapa lama waktu yang terlewatkan selagi Hinata mencoba menggerakkan tubuhnya yang begitu kaku dan lumpuh seketika saat berkontak fisik dengan Itachi. Hinata masih memandang tak percaya pada gurunya yang masih menempelkan bibirnya di lututnya, dan tak berapa lama kemudian, akhirnya menjauhkan wajahnya juga.

Mengamati bagaimana reaksi Hinata barusan, Itachi memandangnya dengan pandangan yang sulit diterka, dan kondisi Hinata semakin menjadi-jadi pusingnya. Kepalanya yang kembali berdenyut dan wajahnya yang panas… juga lututnya. Berbagai kelebatan di pikiran Hinata membuatnya seperti anak kelainan mental yang kesulitan bicara.

Sementara Itachi, setelah menekuri seluruh gerak impuls yang dihasilkan Hinata, kemudian bangkit berdiri dari kursinya dan berkata, "Semoga lututmu segera sembuh. Tampaknya hari ini kau tidak akan mengikuti pelajaran olahraga sampai selesai dulu, tidak juga dengan jam tambahan," lalu Itachi mengulurkan tangannya ke bagian belakang kepala Hinata seraya mengusapnya sekilas, "dan kuharap benturan tadi tidak sampai mengganggu pikiranmu."

Tanpa menghiraukan seberapa hebat tremor yang dialami Hinata, Itachi kemudian beranjak pergi dari ruang kesehatan. Meninggalkan Hinata sendirian bersama semua perasaan mengerikan yang dialaminya.

Setelah beberapa waktu dan usaha yang dibutuhkan Hinata untuk menenangkan dirinya secara batin, akhirnya ia pun memposisikan dirinya kembali untuk berbaring—dengan gerakan kaku, dan tanpa sekali pun untuk berani menyentuh lututnya yang juga disentuh oleh guru olahraganya tadi.

Hinata pun terpuruk di balik selimut dengan kepalanya yang juga semakin berdenyut nyeri.

Apa pun itu, Hinata benar-benar ingin berjauhan dengan Uchiha-sensei.

.

.

.

Bersambung

.

A/N: Jika di chapter 1 menggunakan third's POV dari sudut Itachi, sekarang dari sudut Hinata. Kurasa aku akan menulisnya secara bergantian seiring kemajuan plot nanti. Aku mengangkat karakter Hinata yang penggugup di sini. Benar-benar didominasi oleh karakternya yang kurang percaya diri itu. Menurutku itu cukup menarik untuk dibahas, dan bukan berarti Hinata punya gangguan mental ya. Tadi itu hanya metaforanya saja.