Disclaimer: Harry Potter by J.K. Rowling
Warnings: AU! NON-MAGIC! SLASH! OOC! IF YOU DON'T LIKE, PLEASE DON'T READ
Rated: T
Pairings: DMHP, TRHP
Genre: Drama, Romance
Happy reading!
…
You are My Cinderella
By:
Keira Luna
Chapter 1
…
Hampir dua jam sudah Harry dan ribuan peserta tes lainnya berkutat dengan berlembar soal yang disajikan petugas pengawas ujian. Seperti halnya peserta lainnya, Harry berkeinginan kuat untuk bisa terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di Hogwarts University, khususnya Hogwarts School of Bussiness. Harry kemudian melangkah menuju meja pengawas untuk mengumpulkan lembar jawabannya. Ia sudah mengecek seluruh jawaban berikut kelengkapan identitasnya tadi. Dengan penuh percaya diri, ia melangkah keluar dari ruangan ujian diikuti tatapan berpasang-pasang mata yang tercengang menatapnya. Bagaimana tidak? Harry menyelesaikan soal-soal tersebut satu jam lebih awal dari jadwal yang ditentukan. Bukannya ia ingin menyombongkan diri, tapi mau bagaimana lagi? Dengan diberkahi otak yang encer, tentu mudah baginya untuk menjawab soal-soal itu dengan cepat.
Harry berjalan pelan melintasi koridor panjang yang dihiasi pilar-pilar bangunan yang megah dan kokoh. Harry berhenti sesaat untuk menikmati sinar matahari. Jarang-jarang ia bisa bebas berkeliaran di luar manor seperti ini. Karenanya ia ingin memanfaatkan kesempatan langka ini dengan sebaik-baiknya. Ia kembali meneruskan langkahnya yang sempat terhenti sambil mengamati pemandangan di sekitarnya. Saking terlarutnya ia dengan pemandangan di sepanjang koridor yang tepat bersebelahan dengan taman kampus itu, Harry tidak lagi memperhatikan jalannya.
BUKK!
Kembali, Harry dengan sukses menabrak seseorang untuk yang kedua kalinya hari ini. Ia mengumpat sendiri dalam hati karena kecerobohannya ini. Ia baru saja akan bangkit dari jatuhnya saat emeraldnya melihat sebuah tangan yang telah teracung tepat di depan wajahnya. Dengan bantuan tangan itu, Harry dapat dengan mudah bangkit dari jatuhnya. Ia bermaksud ingin mengucapkan terima kasih pada penolongnya. Tetapi ucapannya terhenti seketika di tenggorokannya saat emeraldnya kembali beradu pandang dengan kedua manik safir yang ia temui pagi tadi.
"Ah, kita bertemu lagi di sini," ujar si pria memulai percakapan namun tetap menatap lurus emerald Harry.
"Oh, um, Hai!" sapa Harry kikuk. "Ah, maaf aku menabrak Anda lagi," ujar Harry sopan. Ia benar-benar malu saat ini. 'Bagaimana bisa aku menabrak orang yang sama dua kali?' batinnya menjerit.
"It's okay," ujar si pemuda ramah. Ia lalu mengacungkan tangan kanannya pada Harry. "Aku rasa kita belum mengenal satu sama lain. Namaku Tom Riddle, tak keberatan jika aku tahu namamu?" tanyanya sopan sambil-tetap-menatap emerald Harry.
Harry segera menyambut tangan Tom sebelum memperkenalkan dirinya sendiri. "Harry Potter," ujarnya lembut seperti berbisik.
Tom menyunggingkan senyum terindahnya bagi pemuda imut yang berada di hadapannya saat ini. "Em, tak keberatan jika kita makan siang bersama?" tawar Tom.
Hampir saja Harry mengiyakan tawaran Tom sebelum inner kecil Harry berteriak menyadarkannya. 'Ingat Harry, jangan menerima tawaran orang lain begitu saja!' teriak batinnya. Ia tak akan mudah melupakan perkataan Cecilia begitu saja. Cecilia selalu mengingatkannya untuk lebih berhati-hati pada orang asing yang baru ia kenal. Perkataan itu ada benarnya juga. Ia tak mau diculik lagi seperti kejadian yang menimpanya saat ia berumur sepuluh tahun dulu.
"Um, maaf. Sebenarnya aku ada keperluan lain," tolak Harry halus. Ia bisa melihat gurat kekecewaan yang terpatri jelas pada wajah pemilik mata safir itu. Harry benar-benar merasa bersalah karenanya.
"Tak apa. Bagaimana kalau lain kali? Kebetulan sepupuku juga kuliah di fakultas ini. Jadi mungkin kita akan sering bertemu," ucapnya menghibur diri. Lagi-lagi ia tersenyum melihat anggukan Harry.
"Baiklah, see you next time, emeralds!" ujarnya.
"See you…" ujar Harry sebelum ia melangkah menjauhi tempat dimana Tom berpijak.
Tom sendiri tidak beranjak dari tempatnya setelah kepergian Harry. Kedua matanya masih dengan setia memandangi punggung Harry sampai ia menghilang di balik bayangan pintu gerbang fakultas. Meski kini si pemuda berambut raven tak ada lagi di hadapannya, entah mengapa wajah si raven masih terpatri dengan jelas di benak Tom. Lalu sebuah senyuman tulus pun tersungging di wajahnya lagi.
I'm like a fool when you smile, you're like a pretty doll when I look at you
My heart beats so fast, my everyday will become happy because of you*
"Aku baru tahu jika Lord Riddle ternyata suka tersenyum sendiri," ujar sebuah suara baritone dari arah belakang Tom.
"Ah, dokter Snape…" ujar Tom setelah ia menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok yang ada di belakangnya.
"Tak perlu terlalu formal, Tom. Kita tidak sedang menghadiri pesta Ratu," ejek si dokter lagi. "Lalu, katakan padaku, hal apa yang membuatmu tersenyum sendiri seperti itu? Aku tidak melihat satupun hal yang lucu di sekitar sini," ujar si dokter lagi.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," ucap Tom. Dokter Snape baru akan memngatakan sesuatu namun dipotong begitu saja oleh Tom. "Bagaimana kalau kita ke ruanganmu tuan dokter?" tanyanya sambil menarik sebelah tangan sang dokter. Dokter Snape pun hanya bisa pasrah melihat tingkah laku kekanakan pemuda tampan yang ada di hadapannya, pemuda yang tak lain keponakannya sendiri.
…
Siang hari di musim panas seperti ini benar-benar terik. Harry bisa merasakan sengatan panas matahari di seluruh tubuhnya ketika ia berjalan menuju pemberhentian bus terdekat. Berulang kali ia membasuh keringat yang mengucur di dahinya dengan kedua belah tangannya. Bibir dan kerongkongannya terasa sangat kering. Langkahnya pun semakin lama semakin melambat. Benar-benar hari yang melelahkan. Bukk! Harry tak sengaja menabrak seseorang—lagi. Ia kembali mengumpat dalam hati, merutuki dirinya sendiri yang benar-benar ceroboh. Masa iya dia menabrak seseorang tiga kali dalam sehari?
"Ah, maafkan aku nyonya… maaf…" ujarnya sambil menolong wanita yang jatuh tersungkur di jalan akibat ulahnya. Kedua mata si wanita menatapnya dengan pandangan kosong dari balik bingkai kacamatanya, seakan-akan jiwanya telah pergi kabur dari tubuhnya sendiri.
"Nyonya, kau tidak apa-apa?" tanya Harry memastikan. Ia mengarahkan telapak tangannya tepat di depan wajah si nyonya lalu menggerak-gerakannya. "Nyonya? Kau baik-baik saja?"
"ISTANA!" jerit si nyonya tiba-tiba. Kedua tangan kurusnya mencengkeram lengan Harry erat-erat. Harry menggerakkan tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari cengkraman si nyonya aneh.
"ISTANA… PANGERAN… DAN PESTA! YAH, AKU MELIHATNYA! AKU MELIHATNYA!" seru si nyonya lagi. Kali ini dia tak lagi mencengkram lengan Harry, melainkan menari-nari tak jelas di hadapannya. Dia berputar-putar, melompat, dan bernyanyi girang. "Kau akan bertemu dengan sang pangeran, anak muda! Sang pangeran!" serunya lagi lebih keras. Wanita itu lalu beranjak meninggalkan Harry sambil tertawa terbahak-bahak sehingga orang-orang yang kebetulan melintas di jalan itu memandanginya. 'Istana? Pangeran?' batin Harry. Ia tak mengerti apa yang dikatakan si wanita aneh yang ia tabrak tadi. Apa itu semacam ramalan? Hm… ia tak pernah bertemu peramal ataupun diramal, sehingga ia tak tahu banyak tentang hal itu. 'Apa jangan-jangan wanita itu gila?' batin Harry lagi. Mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi benaknya, Harry kembali melangkahkan kakinya menuju pemberhentian bus terdekat, tentu saja dengan perjuangan berat melawan teriknya mentari.
'Satu belokan lagi Harry, satu belokan lagi!' Harry coba menyemangati dirinya sendiri. Berjalan melawan sengatan matahari tanpa pelindung ataupun sebotol minuman benar-benar menguras tenaganya. Ia yakin ia akan pingsan di tempat jika ia disuruh berjalan lebih dari ini. Ia melangkahkan kakinya lambat-lambat meski pemberhentian bus telah tampak di depan mata. Namun tiba-tiba…
BUK!
Oh ayolah, demi apapun yang ada di bumi ini! Harry rasanya ingin membenturkan kepalanya ke tembok. Lagi-lagi ia menabrak seseorang di tengah jalan. Astaga! Apa ini yang dinamakan lelucon kehidupan? Harry hanya bisa menghela nafas panjang. Untuk keempat kalinya tubuh kurus mungilnya mencium jalanan. 'Apa lagi yang lebih buruk dari ini?' batinnya sarkastis.
"Hey kau! Kau tidak apa-apa?" ujar sebuah suara.
Harry kembali menghela nafas panjang. "Aku tidak ap—" ia terdiam. Tubuhnya kaku seakan mati rasa. Lidahnya kelu, tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Harry tercengang melihat sesosok pria yang ia tabrak. Rambut platinanya, mata silver kebiruannya, wajahnya yang sempurna, dan kulitnya yang pucat menggoda. Jika dibandingkan dengan ciptaan Tuhan manapun, sosok di hadapannya ini tiada tara, masterpiece! Hah, Tuhan benar-benar tidak adil!
"Hey! Kau tidak apa-apa?" tanya sosok itu lagi. Ia membantu Harry—yang masih dalam keadaan trans — bangkit dari jatuhnya. Harry hanya bisa mengangguk. Ia masih belum berada di alam sadar sepenuhnya. Manik silver kebiruan itu benar-benar mampu menghipnotis dirinya.
"Um, hey kau. Maukah kau membantuku?" tanya si pirang agak tergesa-gesa.
"Membantumu?" Harry tak yakin. Yah, ia memiliki firasat aneh akan apa yang akan dilakukan oleh pemuda pirang di hadapannya ini.
"Iya! Seumur hidup aku akan sangat berterima kasih padamu jika kau mau membantuku!" ujarnya lebih cepat. Matanya bergerak liar ke segala arah seakan-akan ada sesuatu yang mengawasinya.
"Kau mau aku berbu—"
Harry tidak sempat meneruskan kata-katanya saat pria di hadapannya dengan secepat kilat merengkuh tubuhnya dalam sebuah pelukan. Belum lagi si pria yang dengan semena-mena menyurukkan kepalanya di antara leher kiri Harry. Hey ini pelecehan seksual!
"Apa… yang… engh… kau lakukan idiot!" ucap Harry sembari berusaha melepaskan tubuhnya dari cengkraman lengan kekar si pirang.
"Kau ini apa tidak bisa tenang sedikit? Kau 'kan sudah setuju untuk membantuku!" seru si pirang marah.
Kemarahan Harry memuncak. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak tahu malu! "Hey, lepaskan sekarang juga atau aku akan teriak!" desis Harry tepat di telinga kanan si pirang.
Anehnya, si pirang malah terkekeh pelan. "Akan kulepaskan kalau orang-orang berbaju hitam itu sudah pergi…" ujarnya.
Harry memutar bola matanya. 'Hari ini benar-benar hari tersialku!' rutuknya dalam hati. Ia lalu memeluk pinggang si pirang, mengikuti skenario yang dibuat secara tiba-tiba oleh si pirang sementara manik emeraldnya menyapu setiap sudut jalanan mencari keberadaan orang-orang yang berbaju hitam.
"Hey kau… Mereka, maksudku orang-orang berbaju hitam itu berjalan mendekati kita" bisik Harry. Ia dilanda rasa panik ketika ia melihat wajah sangar mereka. "Hey kau mau bagaimana?"
Si pirang terdiam sesaat di bahu Harry. "Kalau seperti ini maka kita harus… lari!" serunya yang langsung berlari sambil menarik paksa tangan Harry. Hampir saja tubuhnya sukses membentur jalanan jika si pirang tidak menyokong dirinya dengan sebelah lengannya.
"Itu dia!" seru seorang pria bertubuh kekar yang dibalut dalam pakaian hitam. Ia dan kawanannya langsung berlari menyusul Harry dan si pirang.
"Ayo cepat sedikit!" seru si pirang sambil menyentak tangan Harry. harry pun mempercepat langkahnya menyamai langkah si pirang. Mereka terus berlari sampai mereka tiba di sebuah gang sempit yang kumuh. Harry tidak tahu apa yang akan dilakukan si pirang. Nafasnya terengah-engah, bajunya basah kuyup akibat keringat yang mengalir keluar tubuhnya. Langkah mereka pun terhenti tepat di ujung gang. Si pirang kemudian berjalan pelan ke arah sebuah pintu besi yang sudah karatan lalu mengetuknya tiga kali. Daun pintu itu terbuka sedikit, menampakkan sepasang mata yang memandang si pirang terkejut. Harry tak dapat mendengar apa yang dikatakan si pirang pada seseorang yang di balik pintu. Ia hanya melihat orang itu mengulurkan sebuah kunci yang diterima dengan senang hati oleh si pirang.
"Ayo pergi," ujarnya santai pada Harry.
"Apa maksudmu?" seru Harry jengkel.
Si pirang kemudian membuka pintu bagasi yang tepat bersebelahan dengan pintu karatan yang usang tadi lalu mengeluarkan sebuah sepeda motor. Ada dua helm yang yang bertengger di dekat sepeda motor itu, satu untuk Harry dan satu lagi dipakai oleh si pirang. Harry menerima helm itu dengan bimbang. Ia curiga dengan kelakuan si pirang yang misterius. Belum lagi dengan orang-orang berpakaian hitam yang mengejar mereka. 'Apa jangan-jangan dia ini teroris ya?' batin Harry menjerit.
"Heh! Kenapa tak dipakai?" suara si pirang mengejutkan Harry dari lautan pikirannya. Si pirang berjalan mendekati Harry, mengambil helm dari tangannya dan segera memakaikannya pada Harry.
"Ayo cepat naik!" perintah si pirang. Kaku, Harry menaiki motor itu. sedikit kesulitan dikarenakan badannya yang tak cukup tinggi untuk pria seumuran dirinya.
"Pegangan yang erat…" kata si pirang pelan dari balik helmnya.
"Ap— Uah!"
Sepeda motor itu melaju di atas kecepatan normal. Harry memaki-maki si pirang dalam hati, setelahnya tak lupa ia berdoa agar Tuhan tetap menaruh belas kasihan padanya sehingga memberikannya kesempatan hidup sekali lagi. Tanpa mengindahkan si raven yang memanjatkan doa-doa di belakangnya, si pirang dengan semena-mena mengemudikan motornya seakan ia tak membawa satu penumpangpun di belakangnya.
"Ah! Awas!" teriak Harry ketika ia melihat orang-orang berbaju hitam yang mengejar mereka tadi. Pegangannya pada tubuh si pirang semakin kencang ketika si pirang malah menambah kecepatan motornya. Harry menyandarkan kepalanya pada punggung si pirang, memilih untuk memejamkan matanya rapat-rapat dan—kembali—memanjatkan doa pada yang maha kuasa.
Sepeda motor itu melaju kencang di jalanan. Menyalip kendaraan di sekitarnya, akhirnya mereka tiba di sebuah taman yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Si pirang menuntun motornya ke bagian taman yang dekat dengan sebuah kolam kecil.
"Heh! Sudah sampai!" serunya pada si raven di belakangnya. Ia sudah membuka helmnya namun tak bisa turun dari motor karena pelukan si raven yang terlalu erat.
"Sud- sudah sampai?" tanyanya. Harry memperhatikan keadaan sekelilingnya. Pelan, ia melepaskan pelukannya dari tubuh si pirang dan turun dari motor itu. "Hah… hah… hah… terima kasih Tuhan," desisnya pelan. Ia lalu mengarahkan pandangannya pada si pirang. "Hey, kau!" teriaknya. "Kita ada dimana? Mereka tadi siapa?" tanyanya tak sabar.
Si pirang terdiam sejenak. "Di taman. Mereka tadi… ehm, mereka tadi penagih hutang," jawabnya. Ia menyadari kilat tak percaya dari mata emerald itu. Menghela nafas, ia kembali memakai helmnya dan menaiki motor. "Aku antar kau ke rumahmu. Anggap saja ucapan terima kasih," ujarnya dingin tanpa menatap Harry sedikitpun.
Harry benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benar-benar pemuda yang tak tahu malu! Tak bisakah ia berterima kasih dengan cara yang lebih sopan? "Kau!" teriaknya marah sambil mengacungkan jari telunjuknya pada si pirang.
Si pirang meliriknya tajam. "Terima atau kau pulang sendiri!" desisnya.
Harry menghela nafas menyadari keadaan yang tak berpihak padanya. Jika saja ia tahu dimana mereka berada, ia tak'kan mau menerima tumpangan dari si pirang yang menyebalkan ini! 'Tuhan, kuatkan aku!' batinnya dalam hati sebelum ia memakai helmnya dan memposisikan dirinya di belakang si pirang. Dan motor itupun melaju kencang—lagi.
…
Gerbang Utama Potter Manor
Motor yang dikendarai oleh si pirang kini telah sampai di Potter Manor. Tak jauh darinya, Harry berjongkok di semak-semak, punggungnya naik-turun tak karuan. Ia muntah. Kasihan, si pirang turun dari motornya dan mengelus pelan punggung Harry.
"Kau tak pernah naik motor sebelumnya?" tanyanya.
Harry cengo. Bukannya mengkhawatirkan kondisinya, si pirang ini malah menanyakan sesuatu yang membuat rambutnya berdiri karena menahan marah. Tanpa menjawab pertanyaan si pirang, Harry merapikan pakaiannya dan berjalan meninggalkan si pirang.
"Hey kau! Kau tinggal di sini?" teriak si pirang.
Harry menoleh. Ia mengangguk dan melanjutkan langkahnya tanpa memperdulikan si pirang yang masih menatapnya.
"Bye, emeralds…" ujar si pirang lembut sebelum mengendarai motornya meninggalkan manor itu.
Harry tentu saja tak mendengarnya. Ia tetap meneruskan langkahnya sampai ia tiba di pintu utama manor.
"JADI INI YANG KAU LAKUKAN JIKA AKU TAK ADA DI RUMAH?"
Tubuh Harry berjengit. Ia kenal betul teriakan ini. Takut-takut, ia memandang ke sumber suara dan mendapati wajah pamannya yang merah keunguan. Hal ini benar-benar di luar dugaan. Seharusnya pamannya tiba minggu depan dari Australia. Crap! Hari ini benar-benar hari sialnya. Ia hanya berharap ia tetap hidup begitu ia melihat pamannya yang berjalan mendekatinya sambil mengepalkan tangannya erat.
*) diambil dari lirik lagu CN Blue-LOVE Girl
Bersambung
AN: Hai hai hai! Kei di sini!*teriak kegirangan. Hah… maaf updetan yang satu ini lama sekali. Maklum, chap ini ditulis sambil curi-curi waktu buat ngerjain makalah. Oh ya, di chap kemarin, Kei buat Tom punya mata safir, ga apa-apa kan? Ga tau kenapa Kei ngehayalinnya gitu. Maaf deh bagi yang ga suka. Jadi, gimana menurut kalian chap yang ini? Semoga tidak mengecewakan kalian. So review...
