I'm Sorry

.

.

ㅇㅅㅇ

.

.

Starring : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Xi Luhan, etc.

Pairing : Chanbaek, Hunhan, etc.

Category : Boys Love/YAOI/Shounen-Ai/BxB

Genre : Hurt/Comfort, Romance

Length : Chaptered

Rate : T

.

.

Malingjemuran_brb94 Present

.

.

Dua tahun yang lalu,

Rumah sakit KyungHee,

06:14 AM

"T-tapi hyung.. kumohon, sembuhkan sepupuku," lirihan seorang pemuda pale berusia 16 tahun dengan seragam sekolahnya memenuhi gendang telinga dokter dihadapannya. Sehun—pemuda itu menatap sang dokter dengan matanya yang berkaca-kaca dan alisnya yang bertautan. Berharap bahwa tatapan matanya bisa membuat dokter itu menyelamatkan sepupunya, Park Chanyeol.

Dokter dengan nametag 'Kim Joon Myeon' itu menghembuskan nafasnya panjang. Ia bisa merasakan kesedihan yang dialami Sehun. Bagaimanapun juga, Joon Myeon adalah dokter pribadi keluarga besar Park sejak 10 tahun yang lalu. Dan ia cukup dekat dengan Sehun dan Chanyeol.

"Aku juga ingin menyelamatkannya, Sehun-ah.. Tapi aku tak bisa, tumor itu bahkan sudah merenggut penglihatannya. Sepertinya, kita hanya bisa berdoa kepada tuhan agar Dia berbaik hati mengangkat tumor itu—"

"KAU PIKIR HANYA DENGAN BERDOA SAJA BISA MEMBUAT SI BRENGSEK ITU SEMBUH HA?! TIDAK BAJINGAN!" teriakan Sehun memotong ucapannya.

Sehun tahu, itu sangat keterlauan. Apalagi ditambah dengan kata-kata makian. Tapi ia tak bisa menahan untuk tidak meneriaki dan memaki Joon Myeon ketika wajah sembab dan mata yang menyorotkan kesedihan yang mendalam milik Baekhyun melintas dibenaknya.

Sehun mengusap wajahnya kasar. Ia menyesal meneriaki Joon Myeon, tapi tidak mau meminta maaf. Demi boneka rillakumma milik Chayeol, Sehun itu harga dirinya tinggi—sangat. Jadi Joon Myeon hanya bisa memaklumi karena ia tahu sesungguhnya Sehun menyesal telah meneriaki dan memakinya.

Walau sebenarnya ia juga ingin membalas teriakan dan makian Sehun dan satu bogem mentah untuk tambahannya.

"Sehun, selain berusaha kita juga harus berdoa. Bagaimanapun, sekarang kita hanya bisa menunggu kejaiban datang dari-Nya. Jadi kumohon, berhentilah berkata kasar dan bertaubat agar doamu didengar dan dikabulkan," ceramah Joon Myeon. Sebenarnya ini bukan hanya ceramah, tapi juga sindiran supaya lelaki dihadapannya tidak lagi melontarkan kata-kata kasar yang membuat orang lain ingin menjotosnya.

Dan Sehun merasa harga dirinya sedikit turun gara-gara ceramahan pria tua itu.

Oh, ayolah Sehun, ini bukan saatnya memikirkan harga dirimu yang kelewat tinggi.

Sehun hanya bisa menggeram tertahan menahan segala yang ada didalam hatinya lalu duduk di kursi tunggu depan ruang operasi. Joon Myeon melakukan hal yang sama. Hanya saja, jika pemuda pale itu menundukkan wajahnya sembari mengaitkan kedua tangannya—terlihat seperti sedang berdoa, pria dengan jas dokter itu menyenderkan kepalanya dan sedikit menengadah sembari menutup matanya. Kentara sekali bahwa keduanya sedang frustasi dan kelelahan.

Untuk beberapa saat kedepan, kedua lelaki itu terdiam. Yang satu sibuk dengan hatinya yang bergemuruh ketika wajah sembab Baekhyun melintas dibenaknya, yang satunya sibuk dengan kepalanya yang berputar-putar karena sangat sulit menemukan cara untuk menyelamatkan Chanyeol.

Akhirnya, Joon Myeon membuka suara sembari menatap Sehun dengan wajah sedikit sumringah. "Begini saja, bagaimana jika kita mengirim Chanyeol ke Jerman? Kudengar salah satu rumah sakit disana memiliki peralatan yang paling baru. Yang bahkan baru diluncurkan sekalipun,"

Sehun mengangkat kepalanya yang menunduk. Terlihat dari kerutan di dahinya ia sedang berpikir. Sebenarnya, ia akan langsung mengiyakan dengan tegas setelah mendengar penjelasan Joon Myeon. Tapi sekali lagi, wajah sembab Baekhyun terlintas di benaknya. Sungguh ia tidak akan tega melihat wajah itu lagi. Itu membuat hatinya terluka.

Lantas, apa yang harus ia lakukan? Menanyakan dulu kepada Baekhyun? Hell, BIG NO! Yang ada Sehun akan kena jotos dari Baekhyun karena tidak memberi tahu tentang penyakit Chanyeol yang sebenarnya bisa dihilangkan itu. Plus bogem mentah dari Chanyeol karena Baekhyun pasti menangis. Selain itu, ia juga tak mau membuat Baekhyun membencinya gara-gara hal ini.

"Sehun, bagaimana?" Joon Myeon kembali bertanya. Ia berharap bahwa Sehun menyetujui usulannya dan membuatkan jadwal untuk Chanyeol menjalani perawatannya. Juga mempercepat segala sesuatunya sebelum terlambat.

"Akan kupikirkan, hyung," putus Sehun akhirnya. Ia sudah memutuskan untuk menanyakannya terlebih dahulu kepada pamannya—ayah Chanyeol yang sedang berada di Amerika beberapa bulan terakhir. Jika beliau setuju, maka Sehun pun setuju.

Dan senyum Joon Myeon berganti menjadi senyum sendu. "Karena ayahnya, ya?" Joon Myeon benar-benar mengetahui kalau Park Chansung—ayahnya Chanyeol adalah orang tua yang cukup menyayangi anaknya. Tapi jika sesuatu terjadi pada anaknya dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, Chansung akan berpikir beberapa kali terlebih dahulu. Chansung sungguh mencintai uangnya.

Sehun menghela nafasnya. Lalu menyahut pertanyaan yang dilontarkan Joon Myeon sedangkan matanya menatap kosong lorong rumah sakit.

"Ya, Chansung Ahjussi sulit dibujuk."

Setelah itu, ingatannya menerawang mengingat bagaimana pamannya begitu kejam membiarkan Chanyeol kecil berada ditangan penculik karena penculik tersebut meminta tebusan sebesar seratus juta won sedangkan ia tak rela uangnya yang sangat ia cintai jatuh begitu saja ke orang lain.

Tapi tanpa mereka ketahui, Chanyeol yang didalam ruangan mendengar percakapan mereka berdua dengan telinga tajamnya dan tangan yang mengepal erat.

Chanyeol jadi benar-benar membenci dirinya sendiri.

.

.

ㅇㅅㅇ

.

.

Baekhyun masih setia menangis di kamarnya, ia sungguh mengutuk Sehun yang tak memberi tahu bahwa Chanyeol memiliki tumor otak. Ia juga mengutuk calon mertuanya—Park Chansung yang tak memberikan sepeserpun untuk membiayai kemoterapi Chanyeol. Dan juga, ia mengutuk Chanyeol yang malah membuat Baekhyun membencinya dengan akting perlakuan-perlakuan buruk padanya.

Saat Baekhyun masih menangis dan mengutuk orang-orang, terdengar suara ketukan pintu dan suara rendah Sehun dari luar. "Baek, kumohon. Keluarlah, barang satu kali hanya untuk makan saja,"

Sehun kira, Baekhyun setidaknya mau berhenti menangis walau masih tak mau makan beberapa hari terakhir. Tapi nyatanya, tangis Baekhyun malah semakin pecah dan nyaris seperti teriakan frustasi. Luhan—sepupu Baekhyun ikut mengetuk pintu dan membujuk Baekhyun. Sebenci apapun Luhan kepada Baekhyun, ia tetap tidak tega jika Baekhyun berada di posisi semengenaskan ini.

"Baek, kumohon. Makan ya, sekali saja," suara Luhan terdengar menyiratkan kesedihan seolah ia juga merasakan apa yang Baekhyun rasakan.

"Hyung, ting–hiks–galkan aku sen–diri. Kumohon.. hiks," Baekhyun menolak dan meminta Luhan juga Sehun meninggalkannya saja. Ia menyeret langkahnya ke arah tempat tidur yang biasa ia tempati bersama Chanyeol. Ia membaringkan diri disana dan melanjutkan tangisnya yang semakin pilu.

Dan yang membuatnya menangis semakin pilu ialah ia ingat lagi kenangan bersama Chanyeol yang selalu memeluk dan menyayikan lulaby ketika ia tidak bisa tidur.

Baekhyun ingat Chanyeol pernah mengatakan bahwa mereka akan menikah di Belanda lalu menetap di Paris dan memiliki 2 orang anak.

Baekhyun ingat Chanyeol pernah menatapnya dengan tatapan memuja ketika mereka melakukan pergerumulan panas.

Baekhyun ingat Chanyeol pernah berjanji akan selalu menjaganya apapun yang terjadi.

Baekhyun ingat betapa manisnya perlakuan Chanyeol ketika Baekhyun sakit.

Dan kenangan itu terjadi diatas tempat tidur ini.

Hatinya sungguh terluka mengingat ia malah membenci Chanyeol ketika sedang dalam keadaan sekarat, bukannya merawat dan menyemangati Chanyeol supaya mendapat semangat untuk melanjutkan hidupnya dan melaksanakan mimpi-mimpi mereka.

Baekhyun juga membuat Chanyeol mendapat kematiannya lebih cepat.

Karena Baekhyun berciuman panas dengan rival Chanyeol—Kai di ruang kelas dan bahkan menarik Kai ke hotel terdekat—untuk melanjutkan kegiatan mereka ketika ia melihat Chanyeol menatapnya dingin sarat akan kesedihan dan kebencian di mulut pintu.

Jika ia berada di posisi Chanyeol, maka ia akan serangan jantung dan mati di tempat.

Sedangkan Chanyeol masih bisa menahan rasa sakit di otaknya—karena tumor dan rasa sakit di ulu hatinya—karena Baekhyun.

Lama-kelamaan, tangis Baekhyun mengecil dan diganti dengan isakan-isakan kecil lalu hilang. Baekhyun tertidur sembari memegang surat dari Chanyeol dan wajah sembab sarat kesedihan, penyesalan, keterlukaan, dan kefrustasian.

.

.

ㅇㅅㅇ

.

.

SORRY GUE TELAT OMAYGAT, TELAT BANGET.

Abisnya, si bobi (bukan bobby iKon)-gue panggil ntu guru laknat bobi, botak biadab hehe- ngeribetin idup gue mele-" Peulijeu, masa gue disuruh bikin self-art tapi pake titik sih, mana harus 4jt titik lagi. Jadi gue ngerjain ntu tugas biadab dulu baru ngerjain ini ff. Aslian, gue ngerasa bersalah karena nggak sesuai yang gue janjiin. Ya segitu dulu deh ya bacotan gue. Btw, gue lagi mabok SVT esp. Joshua n Jun. Plus The8 karna dia ganteng banget pas MAMA kemaren yasalam.