" Apa yang terjadi kepadaku ? " Gumam Luna yang baru siuman sambil menengok ke luar jendela .
" Tadi kamu jatuh pingsan tuh , untung aja kamu nggak terluka gara-gara Rafael ... " Jawab Ishak
" Rafael ? Dia itu siapa ? " Tanya Luna
" Rafael itu Treasure Hunter yang menjadi incaran Lost Lands Jungle Raider Unit karena kasus perampokan , pembantaian rakyat sipil , pembunuhan binatang yang dilindungi , terorisme dan masih banyak lagi " Jawab Ishak
" Lost lands jungle raider itu apa ? " Kata Luna
" Lost lands jungle raider itu adalah unit tentara yang dikhususkan untuk misi-misi di hutan seperti menggerebek markas pemberontak , membebaskan sandera dan masih banyak lagi " Kata Ishak
" Aku sebenarnya ditugaskan untuk mengawasi markas Treasure hunter yang diduga melakukan tindakan kejahatan yang barusan kusebutkan tapi sepertinya setelah aku menemukan Rafael sepertinya misiku akan sulit dan sebuah perang besar mungkin akan terjadi . " Kata Ishak
" Hah ! Perang ! " Luna mulai ketakutan ketika Ishak mengatakan tentang perang
" Tenanglah , aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencegah perang berkobar . Warga sipil sepertimu takut perang kan ? " Kata Ishak
" Ada apa ini ? Luna ngapain kau tiduran di kasurnya Yui ? Dan kenapa ada Lost lands jungle raider di sini ? " Tanya seorang fire mage yang masih mengantuk dan melap kacamatanya
" Cewek ini pacarnya tewas dalam serangan keroyokan preman yang bersenjata tajam dan dia jatuh pingsan , kalau kau tidak mengizinkan dia beristirahat di sini maka aku akan memindahkannya sekarang " Kata Ishak
" Okay aku biarkan dia beristirahat dulu , eh iya tadi kau ngomong apa sama dia sampai ketakutan gitu ? " Tanya roy
" Aku tadi bicara tentang kemungkinan perang yang bisa terjadi dalam misiku untuk memusnahkan gerombolan Treasure hunter jahat , tenang saja Luna , itu cuma perang kecil antara Lost lands jungle raider dengan sindikat Treasure hunter jahat itu . Nggak ada warga sipil yang terluka dalam perang itu " Kata Ishak
" Kayaknya di luar akan ada badai salju tuh , masuk aja ke sini " Kata Roy
Ishak kemudian membuka pintu rumah Roy lalu masuk ke kamarnya Yui
" Tolong jangan ngomong soal perang di depan Luna deh , sebenarnya dia itu trauma dengan perang . Jika mau bicara tentang perang sebaiknya kita bicarakan saja di belakang " Kata Roy
Kemudian Roy dan Ishak pergi ke dapur belakang rumah , Ishak duduk di kursi yang berada di dapur itu
" Ceritanya begini , 5 tahun lalu sekelompok mafia yang dikenal sebagai Dead-Lies menginvasi kota ini . Mereka membunuh walikota , menghancurkan kepolisian , Merampok dan melakukan kejahatan lainnya yang mengerikan . Banyak Mage terbaik di kota ini yang tewas karena ulah mereka dan salah satunya adalah Papanya Luna , dia tewas tepat di depan keluarganya sendiri dengan cara yang mengerikan . Pada saat itu Guild Black Rose masih ada di Citadel dan tepatnya Luna masih berumur 10 tahun . Selain itu Luna harus kehilangan sahabat-sahabatnya sendiri dengan cara yang mengerikan , Dead-lies membunuh mereka seakan-akan mereka itu cuma boneka kapas saja . Diinjak-injak , perutnya dikosongkan , ditusuk-tusuk seperti boneka voodoo dan masih banyak lagi " Kata Roy
" Totalnya ada berapa korban dalam kejadian itu ? Dan berapa jumlah korban yang berhubungan dengan Luna ? " Tanya Ishak
" Menurut perhitungan koran lokal jumlah korbannya sekitar 253 orang dan kebanyakan laki-laki dewasa , Kalau yang berhubungan dengan Luna sih emm ... 10 atau 11 orang ya ? Coba kuingat , Nah ada 10 orang " Jawab Roy sambil mikir
( Sementara itu di ruangan utama )
" Duuh kenapa sih TV ini susah banget dikecilkan suaranya " Gumam Yui kesal sambil memencet-mencet tombol volume di Tv itu
" Yaahh kok malah tambah besar sih volumenya " Yui tambah kesal
" Selamat siang pemirsa , Kali ini seorang pemuda tewas di depan kekasihnya setelah diserang oleh orang tidak dikenal . Saksi mata mengatakan bahwa dia tewas di depan kekasihnya dan ada tentara yang berusaha melindunginya akan tetapi .. " Suara TV membesar sampai terdengar ke dapur
( Dapur )
" Eh iya 11 orang , ngomong-ngomong itu siapa yang mati ya ? " Tanya Roy yang mendengar suara TV sambil ngacir ke ruangan utama
" Saksi mata ? Aku dan Luna kan saksi matanya , nggak mungkin ada orang lain yang melihat kejadian itu " Kata Ishak kaget
Kemudian Ishak menaruh ranselnya dan ikutan ngacir ke ruangan utama
" Ya ampun ... Timmy ? " Kata Roy
" Kayaknya aku sudah ngomong dari tadi deh " Kata Ishak
" Aku lupa omonganmu tadi , maklumi aja aku kan kadang-kadang suka pelupa " Balas Roy sambil memerhatikan acara
TV
" Saksinya ternyata pemilik rental DVD yang di depan gang itu , aku tidak menyangka . Hey Wartawan TV tunggu aku ! " Ishak kemudian berlari keluar dari rumahnya Roy
" Kakak gimana nih sama TV-nya " Kata Yui
" Coba kecilkan saja , maklum itu TV sudah ada disini selama 9 tahun " Kata Roy
Yui kemudian berusaha mengecilkan volume TV-nya , setelah volumenya naik turun akhirnya volume TV sudah sedikit lebih kecil
" Jangan ganti saluran TV-nya , nanti ada Ishak " Kata Roy
" Ishak itu siapa ? " Tanya Yui
" Ishak itu yang barusan ngomong sama kakak tadi kan " Kata Roy
( sementara itu di kamarnya Yui )
Luna masih menangis ketakutan karena terbayang-bayang akan kemungkinan perang yang dikatakan Ishak ...
Kemudian Yui masuk ke kamarnya
" Kakak Luna lagi sakit ya kak ? " Tanya Yui
Luna tidak menjawab pertanyaan Yui
" Tolong jangan ganggu dia , dia lagi sedih tuh " Sahut Roy
Kemudian Yui keluar dari kamarnya ...
Author Note of this chapter
Dat ending of this chapter ... I feel weird now ...
