Sepertinya tidak ada yang bisa lebih menganggu Sakura daripada ini. Bangun di pagi hari dengan badan berpeluh dan kantung mata yang cukup jelas. Jika bisa, ia hanya akan membalikkan bantalnya untuk menghindari mimpi buruk seperti yang dipercaya orang-orang. Yang nyatanya tidak bekerja sama sekali.

"Ngghhh..."

Haruno Sakura. Pilihan yang tepat untuk tidur siang sampai sore, karena inilah saat istirahat yang menyenangkan di mana mimpi-mimpi buruk itu tidak menghampiri pada siang hari. Persis seperti hantu. Namun kini ia sedikit menyesal, efek jarang tidur siang membuat kepalanya pusing setelah bangun. Ingatkan Sakura untuk mengundang paramedis yang bisa mengubah mimpinya seperti mengganti channel di televisi.

Setelah menelan dua pil anti pusing, tubuhnya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Suhu sepertinya sudah mulai naik, padahal masih awal musim panas.

Musim panas ya? Ino pasti sedang membuat daftar apa saja yang akan dilakukan selama musim ini. Seperti tahun lalu, ia dan Sai pergi ke Okinawa –siapa gadis yang tidak senang pergi ke sana? Terlebih dengan sang kekasih? Dan benar saja, beberapa teman bergosip Ino sangat iri ketika mata mereka melihat deretan foto mesra gadis itu bersama Sai.

"Dasar Ino," Sakura berhenti mengeringkan rambutnya ketika kakinya terantuk benda itu. Ah, iya, Sakura baru ingat ia mulai membaca halaman pertama di buku itu, inilah yang membuatnya terbawa kegiatan bernama 'tidur siang.'

Sakura memungut novel bersampul biru langit itu. Lucu, padahal banyak yang menginginkan novel ini mengingat tidak murah harganya. Ino pasti benar-benar serius ingin membuatnya merasakan jatuh cinta lagi.

Bibirnya tersenyum, ia bukan tipe penghancur hati sahabatnya. Sakura akan berusaha menghargai Ino.


UNDER THE SAME SKY

Disclaimer : Naruto by Masashi K

Under The Same Sky by Sora KK

Enjoy!


Chapter 1 : Kenyataan Lebih Mengerikan Daripada Mimpi

Bibir Haruno Sakura mengerucut. Matanya memincing tidak suka. Ia bahkan tidak ingat sudah membaca judulnya baik-baik –atau setidaknya dengan pikiran jernih.

"Tidak, justru mimpi lebih mengerikan daripada kenyataan."

"Ada masalah apa, Sakura?" Haruno Mebuki menyodorkan piring penuh nasi beserta lauk yang lengkap. Gadis yang dimaksud memalingkan wajahnya dari novel dan menghela napas berat.

"Ibu... sudah kubilang, aku bisa mengambilnya sendiri," sahutnya.

"Habisnya Sakura fokus sekali sih membaca bukunya," Mebuki tersenyum khas. "Ibu tidak ingat kau punya buku itu."

"Ini novel remaja dari Ino, genre romance. hadiah ulangtahun yang spesial bukan?" Sakura memutar matanya bosan, nada gadis itu terdengar sarkastik.

"Akhirnya anak Ibu yang kaku ini ingin cari pacar ya? Sakura selalu baca buku rumit sekarang, kupikir Sakura tidak minat dengan cinta," Mebuki terdengar sangat antusias, ia mendadak menjadi pendengar yang baik. Sakura hanya bisa mengangkat alisnya, apa benar ia sekaku itu sekarang?

Gadis itu tersenyum dan mendengus, "Apa Ibu tak ingat dulu selalu mengomeli nilaiku yang jelek?"

"Eh, kapan?"

Amnesia mendadak, ide yang bagus, ibu.

Sakura menghela napas yang sengaja dibunyikan dan menyender di kursi dengan tidak elit. Ia mulai peduli lagi ketika mendengar suara kursi yang bergesekan dengan lantai. Ah, ini pasti wangi khas Sasori setelah mandi.

"Sakura-chan? Kau kenapa, sih?" nada menganggu Sasori membuat gadis itu menjadi enggan menjawab.

"Tidak apa-apa, Sasori."

Ctak!

"Aduh! Sakit tahu!"

"Sudah berkali-kali kubilang, tambahkan suffix nii, niichan, atau niisan di belakang namaku!" pria bernama Sasori itu berdecak tak suka melihat Sakura yang masih saja sibuk memegangi kepalanya yang sakit. Memang sudah dari kecil Sakura tidak pernah memanggilnya 'kakak' hanya gara-gara Sasori terlalu imut untuk dijadikan kakak, alasan macam apa itu?

Tapi benar, mereka terlihat seumuran walaupun Sasori lima tahun lebih tua daripada Sakura.

"Kalian mau Ibu menghancurkan meja makan ya?" suara Mebuki berubah menjadi berat dan mengerikan disetiap suku katanya. Matanya berkilat tajam dan tubuhnya mengeluarkan warna kegelapan, tidak salah lagi, aura itu!

"Hiii...! Ti-tidak, Bu!" jawab mereka bersamaan.

Mebuki mendadak berubah menjadi bak malaikat, walaupun di mata anak-anaknya senyum itu tetap menyiratkan kilatan mengerikan. Begitulah tingkahnya ketika melihat Sakura dan Sasori bertengkar.

"Ehm. Ngomong-ngomong, apa Sasori ambil cuti kantor selama musim panas?"

"Tidak Bu, sayang sekali," pria berambut merah itu pun mulai mengambil makanan. "Musim panas bukan alasan untuk tidak bekerja, mungkin hanya saat golden week."

Mebuki hanya bisa menggelengkan kepala, matanya beralih ke Sakura, "Jadi, besok Sakura mulai kerja di tempat Kakashi 'kan?"

Sakura mengangguk pasrah. Ia memilih untuk tidak berdebat lagi dan menghabiskan makanannya, mencuci piringnya di sink dan beranjak keluar ruang makan dengan membaca buku biru itu di sepanjang langkah kakinya.

"Buku apa itu?"

"Ah, kau tidak tahu ya. Sakura itu mulai membaca novel romance!" sahut Mebuki dengan gaya gadis SMA yang bertemu idola sekolah.

Sasori membelalakkan mata, "Ha-ha, tidak mungkin."

-skk-

"SAKURAAA!" si pemilik suara toa Ino Yamanaka menghampiri gadis berambut pink yang tengah duduk di bangku, berkencan dengan buku barunya.

"Berisik, Ino," Sakura menutup bukunya. Ia tercengang ketika melihat barang bawaan Ino yang tidak bisa dibilang sedikit. Di sampingnya, Sai berdiri dengan wajah ramah seperti biasa.

Si Haruno berbisik, "Jangan bilang kau mengajak Sai."

Ino menggeleng, "Dia cuma membawa tasku saja, Sakura sayang. Kau cemburu ya?"

Sakura berguman 'oh' dan kembali duduk di bangkunya dengan tenang. Ia membuka satu lembaran lagi. Ah, buku lain saja bisa ia habiskan dalam satu hari. Kenapa yang ini tidak?

Musim panas sepertinya sudah tiba sepenuhnya. Sakura bersyukur, memasuki musim yang panas ini, perlahan mimpi buruknya juga memudar seperti tertiup angin. Memang Sakura lebih suka kenyataan dengan membuka mata daripada tidur ditemani mimpi buruk. Tuhan meyakinkan Sakura bahwa Dia masih sayang padanya.

"Hey, Sakura," Ino tersenyum, Sai tidak lagi di sampingnya dan mereka sudah menduduki kursi nyaman shinkansen menuju Odaiba.

"Aku senang kau mulai baca buku itu," lanjutnya, mengacungkan jempol dan nyengir lebar. Ini pertama kalinya Ino senyum selega itu –senyum lainnya terhitung mencurigakan. Tapi untuk Sakura, melihat sahabatnya sesenang itu ia juga ikut senang.

"Aku akan berusaha menyelesaikannya," Sakura tersenyum.

-skk-

Ah, tidak. Ceritanya selalu melenceng dari perkiraaan Sakura, sebagai mantan anak SMA yang menyukai komik shoujo, dahinya selalu mengeriyit antara bingung dan tidak suka. Ia tidak tahu mengapa cinta bisa serumit itu dalam novel yang ia tekuni sekarang. Huh, awal yang bagus untuk sebuah cerita. Entah kenapa, ia lebih suka matematika yang langsung pada intinya dengan rumus yang sudah ditentukan.

Seseorang menurunkan novelnya, "Sudah makan malam, Sakura?"

Suara baritone itu berasal dari Hatake Kakashi, paman Sakura. Pria berambut perak dan memakai masker itu menatap keponakannya dalam diam, menunggu respon Sakura.

Oh ayolah, Paman Kakashi. Aku bahkan belum menyelesaikan bab pertama. Setidaknya itulah yang dikeluhkan gadis Haruno itu. Ia akhirnya hanya mengangguk dan meninggalkan lobi menuju restoran yang jadi satu dengan penginapan.

Ne, sepertinya kau mulai tertarik pada novel itu ya, Sakura?

Kakashi kembali membaca bukunya seusai makan malam yang cukup mewah itu. Bahkan bisa Sakura bayangkan, ia hanya bisa memakan ini sebulan tiga kali. Namun gadis itu juga tak mau tertipu, ia sangat tahu tabiat pamannnya.

"Mulai besok kau bisa bantu aku ya, Sakura-chan. Kau tahu 'kan, musim panas selalu banyak tamu yang datang," Sakura hanya mengangguk malas mendengarnya, sepertinya ia akan menyesal mengiyakan ajakan ibunya untuk bekerja di sini. Dan pada saat itu pula pemilik suara toa datang.

"Sakuraaa!" ia melambaikan tangan. Tepat waktu, Ino.

"Paman, ini Ino temanku. Ia akan membantuku juga," Sakura memperkenalkan teman pirangnya yang disambut hangat oleh Kakashi. Ino membungkuk hormat.

"Aa, bagus sekali Sakura-chan!" bahkan matanya terlihat berbinar. Pria paruh baya itu mempersilahkan Ino duduk sebelum memulai pembicaraan lagi.

"Nah, kalian bisa mulai mengurus GYM, ruang rekreasi, dan onsen," pria perak itu mulai menyebutkan satu-persatu apa yang harus dilakukan –sukses membuat mata Sakura terbelalak. Paman satu ini memang cerdas dalam menyuruh babu.

Sakura hampir menyemprotkan jus yang diminumnya, "Astaga!"

Ino juga mulai memasang wajah pucat, ia bahkan tidak berselera dengan milkshake coklat yang baru saja datang.

"Oh, jangan lupa kolam renang. Ada tim nasional yang menyewanya," Kakashi menganguk-angguk.

"Paman, kau harus menggajiku besar untuk ini."

-skk-

Srek, srek.

"Sakura..."

"Berhentilah merengek, Ino," gadis bermarga Haruno itu menghentikan kegiatannya, sedangkan yang dipanggil Ino memangku dagunya pada ujung sikat. Kilatan mata birunya sangat menjelaskan bahwa ini membosankan.

"Aku sudah membuat rencana liburan kita, Saku," ia melanjutkan. "Dan kau tidak bilang kalau kolam renangnya sebesar ini!"

Sakura mengeluarkan jari telunjuknya, "Pertama, aku juga baru tahu."

"Kedua, ini kolam renang indoor, kau seharusnya bersyukur kita tidak kepanasan sekarang," ia melanjutkan kegiatannya kembali. "Ketiga, kau sudah deal denganku."

"Tapi kita seperti kena hukuman!" keluh Ino. Sakura terlanjur malas menanggapi lagi, ia memilih mengeluarkan energinya untuk menyikat dasar kolam. Beruntung bukan hanya mereka berdua yang membersihkannya, masih ada pekerja lain yang ikut membantu.

Kolam renang yang sedang mereka bersihkan sekarang memang cukup kotor untuk dipakai, maklum, kolam ini hanya dipakai saat musim dingin dan awal musim semi. Namun nampaknya karena disewa mereka harus benar-benar memastikan semuanya siap dipakai.

Akhirnya setelah berjam-jam bergelut dengan sikat menyikat, mereka berdua bisa meneguk minuman kaleng dingin yang ada di sepanjang lorong penginapan. Sakura menghela napas, masih ada satu tempat yang belum dibersihkan. Kakashi menambah satu daftar lagi tempat yang harus diurus –lapangan olahraga.

Biasanya di musim panas begini, lapangan olahraga hanya dipakai saat malam hari. Tidak ada yang mau repot-repot menghitamkan kulit mereka dan dehidrasi –kecuali jika ingin. Untuk itu, Sakura dan Ino hanya cukup mengumpulkan alat yang selesai digunakan, kemudian membawanya ke penyimpanan. Mungkin ini pekerjaan yang cukup ringan dibanding yang lain.

Sakura melirik jam tangan pink-nya, "Ini sudah jamnya, ayo ke lapangan."

-skk-

Area olahraga ternyata masih ramai dipenuhi orang-orang berkeringat. Mereka semua masih asik dengan olahraga masing-masing, ada basket, tenis dan badminton. Jarak dari lapangan satu dengan lainnya lumayan jauh, sedangkan lapangan basket paling ujung dan hanya menyediakan satu ring –semacam street basketball.

Pada akhirnya Ino dan Sakura harus menunggu di bangku pinggir lapangan basket sembari menghabiskan minuman kaleng yang belum sempat dihabiskan. Mata emelard Sakura melirik Ino yang sedang berbinar entah kenapa.

"Ya ampun, Sakura! Kalau begini aku sudah dari tadi di sini terus!"

Sakura berhenti menempelkan bibirnya di ujung kaleng, "Memang kenapa?"

"Di sini penuh dengan cowok keren! Kyaaa!" oh, cukup sudah. Sakura lama-lama tidak sanggup lagi menahan malu karena suara toa Ino. Yang bisa ia lakukan hanyalah menjitak kepala pirangnya, sekuat mungkin.

"Ino!" si pirang mengaduh, sepertinya ia harus memeriksakan kepalanya ke dokter nanti.

"Bisakah kau pelankan suaramu? Kau tidak ingat punya pacar ya."

"Habisnya, aku suka cowok atletis. Sai juga begitu kok," Ino menjulurkan lidahnya, mengejek Sakura. Kau tahu Ino, gadis musim semi ini bahkan lebih senang berkencan dengan buku.

Tiba-tiba dua orang pemuda menghampiri mereka, "Kalian mau main basket bersama kami?"

Sakura mendongak, "Maaf tapi kami –"

Mata emelard-nya terbelalak. Tidak mungkin...

Pemuda itu mengangkat alisnya bingung, begitu pula pemuda yang ada di sebelahnya. Detik kemudian pemuda pertama juga membelalakkan matanya seperti Sakura, "AH, KAU, PINK!"

Sakura memutar bola matanya sarkastik, "Aku punya nama, Naruto."

Pemuda pirang jabrik bernama Uzumaki Naruto itu mengerucutkan bibir tak suka, "Setidaknya tambahkan suffix senpai di belakang namaku."

"Uso! Kalian saling kenal?" Ino berlonjak dan bangun dari tempat duduknya. Naruto mengangguk-angguk setuju, sedangkan Sakura menggeleng. Dua pendapat yang berbeda itu membuat Ino dan satu pemuda misterius sweatdrop.

Naruto mulai merengek seperti anak kecil, "Kau jahat sekali, Sakuraaaa~"

"Bercanda. Habisnya Naruto-senpai memanggilku pink," kini Sakura memincingkan matanya tajam ke arah Naruto.

Ino berdehem, "Kau tidak mengenalkanku padanya?"

"Ah, aku Uzumaki Naruto," pemuda beriris biru itu nyengir lebar, "Dan dia Gaara."

Pemuda berambut merah di samping Naruto membungkuk hormat, ia tersenyum sekilas. Sepertinya Ino akan jatuh cinta jika ia tidak punya pacar, Gaara terlihat sangat sopan, tampan dan tipe pacar ideal.

"Yamanaka Ino desu!" seru Ino dengan semangat. Gadis pirang itu melirik Sakura, dan segera menepuk keras punggungnya karena gadis pink itu diam saja. Tentu saja Sakura menatap tajam Ino sebelum membuka suara.

"Haruno Sakura," ucapnya singkat.

"Wah, Sakura-chan sekarang jadi dingin ya. Seperti menghadapi Sasuke kedua, ha-ha," canda Naruto. Ketika nama itu disebut, telinga Sakura mendadak panas. Oh Tuhan, seharusnya ia tak usah datang ke lapangan kalau ujungnya bertemu seniornya yang bermulut ember ini.

Ino memecah keheningan, "Eh, Naruto-san, tadi kau bilang mengajak kami bermain basket?"

Naruto mengangguk dan menunjuk dua teman di belakangnya, "Ya, kami tadi main berempat. Mungkin akan asik kalau three on three 'kan?"

Sakura mengikuti arah yang ditunjuk Naruto, ia baru ingat di mana ada Naruto pasti di situ ada Sasuke juga. Namun akhirnya ia bisa menghela napas lega ketika tak menemukan rambut raven khas di antara mereka. Tuhan masih menyayangimu, Sakura, tenangkan dirimu.

"Ayo, Sakura!" Ino mulai menyeret tangan Sakura.

"Tapi aku payah dalam olahraga apapun, kau tahu sendiri 'kan, Ino?" ucap gadis musim semi itu di tengah langkah mereka menuju lapangan.

"Terlambat, Sakura," ucap Ino ketika mereka sampai di depan ring basket.

"Tenang saja, Sakura-chan. Aku atau Gaara bisa mengajarimu. Gaara itu paling jago basket, lho!" sahut Naruto.

"Kau terlalu berlebihan, Naruto," ucap Gaara sembari menangkap bola yang dilemparkan salah seorang pemuda tadi, kemudian menyodorkannya ke Sakura. Ia tersenyum sekilas.

"Kau pasti akan suka. Tidak ada salahnya mencoba," lanjut pemuda itu.

Sakura pun akhirnya mengangguk dan mengambil bola yang disodorkan Gaara. Naruto mengambil satu bola basket lagi untuk mengajari Ino, gadis pirang itu bilang juga payah dalam basket –walaupun ia suka olahraga.

"Oh ya, sebelum itu perkenalkan, mereka Utakata dan Rock Lee, teman sekampusku," ucap Naruto. Ino yang paling bersemangat untuk masalah ini, sedangkan Sakura seperti biasanya.

Mereka semua pun mulai saling mengajari selama 15 menit sebelum memulai pertandingan sebenarnya. Tentu saja keempat pemuda itu mengimbangi permainan Sakura dan Ino yang masih amatir. Lambat laun kedua gadis itu pun mulai menikmati alur permainan.

"Sakura, passing ke mari!" Utakata yang satu tim dengan Sakura berseru. Gadis itu tersenyum dan mengoper bola dengan semangat. Hanya saja, sayangnya tidak tepat sasaran.

Bola itu melambung sangat jauh dan berakhir dengan menyakitkan di salah satu kepala rombongan mahasiswa berseragam di sana. Rombongan itu pun terlihat kacau karena lemparan super Sakura. Berdoa saja semoga Sakura tidak dituntut setelah ini.

"Biar kuambilkan," Gaara menawari.

"Tidak, biar aku saja!" seru Sakura yang sudah berlari menuju rombongan itu. Tubuhnya yang dibalut T-shirt dengan celana pendek sudah terlihat semakin basah karena keringat dinginnya. Semakin mendekat semakin terdengar suara perempuan yang marah-marah.

"Maaf. Aku yang melempar bola itu."

Perempuan berambut merah dan berkacamata itu menatap sinis Sakura, atau bahkan lebih dari itu, "Apa yang kau lakukan, hah!?"

Sakura meringis, ia melirik gerombolan gadis dan beberapa pemuda yang sedang mengelilingi korban. Itu pasti sakit, "Aku benar-benar minta maaf. Ini kecelakaan."

"Ya, ini kecelakaan yang sengaja kau buat! Kau kira minta maaf saja cukup!?" gadis berambut merah itu terus-terusan mengomel. Terang saja, ini membuat urat di dahi Sakura mulai terlihat.

"Biarkan aku minta maaf padanya langsung, ok? Kenapa kau sangat marah, Nona?" ujar Sakura dengan nada sarkastik. Ia bersumpah untuk berdoa agar tidak bertemu dengan gadis yang sangat cerewet seperti ini.

"Kau tidak tahu bola itu mengenai siapa, ya!?" Sakura mulai mengabaikan omelan gadis itu. Mata emelard-nya hanya fokus ke satu titik tepat di belakang gadis rambut merah.

Gadis itu berbalik, "Ah, Sasuke-kun! Kau tidak apa-apa?"

Tuhan benar-benar sayang padanya.

Mari kita luruskan. Pemuda yang dipanggil Sasuke itu tepat berdiri di hadapan Sakura dengan background gadis-gadis yang menatapnya sinis. Auranya sangat dingin. Namun segera diruntuhkan Sasuke dengan senyuman tipisnya. Sakura akan membunuh siapapun yang sudah memutar balikkan otak Sasuke hingga seperti ini.

"Aku baik-baik saja, Karin," ia mengangguk, tersenyum lagi. Kemudian tatapan Sasuke beralih ke Sakura, menyeringai. Gadis musim semi itu terjengit seperti melihat hantu. Ini bahkan lebih mengagetkan daripada hantu!

Wajah Sakura memanas, badannya benar-benar tidak mau diajak kompromi sekarang. Ia tidak pernah melihat Sasuke yang ini, tidak dalam kenyataan!

"Ma-maaf," akhirnya hanya lidahlah yang masih mau menuruti perintah otak Sakura.

"Tidak perlu minta maaf," Sasuke mendekat dan berbisik. "Kita anggap ini impas."

Baiklah, siapapun pengarang novel itu. Kau benar, kenyataan ini lebih mengerikan daripada mimpi!

To Be Continue


Footnote:

Nii: panggilan kakak laki-laki.

Shinkansen: kereta api super cepat.

Komik shoujo: komik percintaan.

Senpai: senior.

Uso: bohong, biasanya juga bisa dipakai untuk 'tidak mungkin.'

Desu: partikel untuk bahasa Jepang formal.

Writer's Note:

Halo, ini udah update kilat ya! Shankyuu minna-san yang udah review dan baca chapter kemarin! Wanna review? *again?*