Come Back Although isn't Easy
Genre : Hurt, Drama
Rate : T+
Pairing : SasuNaru as Maincast.
Length : Twoshoot
Chapter : 2/2
Warning : Yaoi (always)
Summary : Sasuke dan Naruto yang selama empat tahun belakangan hidup sendiri dengan melupakan masa lalu,tiba-tiba dipertemukan dalam lingkup salahan besar yang telah diperbuat Sasuke di masa lalu membuatnya mengalami kekacauan hebat;dia mutlak membutuhkan kata maaf dari Naruto agar terbebas dari penderitaan akibat tekanan SasuNaru twoshoot. Wanna read? RnR please ;)
BGM : 너에게& 봄by Davichi
maaf ya aku upload ulang cause ada yg belum aku edit..:3
Flashback on:
"Kau berhasil menyingkirkannya?"
Wanita berambut pink itu mengendikkan bahu sambil menatap ke arah lain. "Aku memberinya obat tidur dan diam-diam merecokinya pil untuk menggugurkan kandungannya."
"Dan itu berhasil?"
"Ya," katanya dengan nada tegas. Kepalanya menoleh demi menatap lawan bicaranya yang duduk tenang di sofa di hadapannya. Jemarinya yang bergerak membelai dagunya yang lancip seolah tengah menimbang sesuatu. "Dokter yang sudah kusiapkan langsung membantunya mengeluarkan janin itu. Naruto tidak tahu jika aku yang menggugurkan kandungannya. Yang dia tahu, bayinya mati karena kehabisan air ketuban. Dia percaya dengan alasanku."
"Bagus sekali. Satu masalah sudah selesai, Kawan," pemuda itu tertawa dengan suara jahat. "Bayi yang tidak diharapkan memang merepotkan. Aku akan melakukan hal yang sama seperti itu jika kekasihku yang hamil."
Pemuda itu termenung sebentar memikirkan segala yang berkelebat dalam otaknya. Kepalanya mengangguk kendati pandangannya menyiratkan kekosongan nyata."Keputusanku sama sekali tidak salah. Aku sudah menyuruhnya menggugurkan anak itu tapi dia terus menolak."
Wanita yang membantunya malah mengangguk tanda setuju. "Lagi pula, kau masih terlalu muda untuk punya anak."
"Ngeri kalau membayangkan aku sudah dipanggil tousan saat umurku baru di awal dua puluhan, lagipula mana ada pemuda yang bisa hamil" Pemuda bermata onyx itu bangkit dan menoleh, bergidik sebentar lalu tertawa.
Diikuti oleh temannya. Mereka berdua terbahak menertawakan angan-angan yang dirasa amat menjijikkan. Menghiraukan satu orang yang diam-diam menguping sambil menahan gejolak kemarahan serta kesedihan yang siap menyembur tanpa kontrol. Perasaan muak menyeruak dalam aliran darahnya, mendidihkan amarahnya yang berkumpul dalam benak. Keberaniannya menggumpal, menyuruh kaki-kaki mungilnya melangkah melewati pintu.
Dan tubuh mungilnya disambut oleh pandangan penuh keterkejutan dari dua setan yang ada di ruangan tersebut.
"S-sebaiknya, aku pergi Sas-suke-kun," Wanita berkaos pink buru-buru keluar dari sini, meninggalkan pemuda berambut biru raven dalam kecemasan saat akan menghadapi orang yang dicintainya.
Dan mendadak, suasana dalam kamar berukuran enam kali enam meter ini diselimuti oleh ketegangan nyata. Pemuda mungil yang berdiri sekitar tiga langkah di hadapan lelaki itu, kini mulai melangkah mendekat. Mata sappire yang dibanjiri air mata yang menggantung pada pelupuk mata, sekali pun tidak mengedip manakala mencoba menampar kesadaran lelaki itu dengan sorot matanya. Kesedihan jelas terpampang pada wajahnya, kerut-kerut dalam muncul pada dahinya. Dia terdiam dalam ketenangan mengancam sementara lelaki yang berdiri tepat di hadapannya kini mulai bergelut dengan akal sehatnya.
Naruto tidak peduli. Karena begitu dia merasa ini sudah saatnya, sebelah tangannya terangkat dan tamparan kuat melayang menghantam sebelah pipi Sasuke.
"Di mana otakmu?" Suara Naruto yang bergetar samar terdengar memecah keheningan. Air mata benar-benar mencoba memberontak dari pucuk kelopak matanya.
Sasuke mengerjap sekali; mungkin baru tersadar dari efek tamparan yang diterimanya. Dewa batinnya mengatakan jika Narutosudah mendengar semuanya. Rencananya yang busuk. Naruto sudah mendengarnya.
"Bagaimana bisa kau melakukannya?, jika kau jijik kenapa dulu mau menikah denganku. Aku kecewa denganmu Uchiha Sasuke" Naruto mendesis dengan suara yang benar-benar tidak terkontrol—penuh getar menyesakkan yang melecut dadanya. Dia nyaris mendeguk memilukan, namun semuanya terhalang oleh amarahnya.
"Nar-naru," Sasuke maju selangkah. Dua tangannya terulur dan mencoba merengkuh pundak mungil kekasihnya. Tetapi Naruto menghindar dari sentuhannya; dan hal itu amat menyakiti Sasuke. Lidahnya mencoba bergerak melontarkan suatu alasan, namun dia sadar betul jika segala alasan yang tercipta di dunia tidak akan mampu menolongnya. Seluruh kata-kata yang ada dalam pikirannya mendadak menguap, Sasuke tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali satu hal. "A-aku bisa jelaskan," ujarnya terbata.
Naruto menggeleng, membuang pandangan saat setitik air matanya jatuh menelusuri pipinya. "Kau bukan manusia, Sasuke," sahutnya saat tangannya jatuh pada perutnya yang rata. Perutnya yang telah rata—tanpa janin yang seharusnya meringkuk tenang di sana.
Anaknya. Benih yang ditanam Sasuke dan atas izin Kami-sama bisa tumbuh di dalam rahimnya. Gumpalan darah berumur tiga bulan yang berada dalam raganya. Ternyata sekarang sudah tidak ada. Naruto kehilangan bayinya. Bukan karena kehabisan air ketuban seperti apa kata Sasuke, tetapi karena ayah kandungnya yang membunuhnya.
Sasuke yang membunuhnya.
Sasuke yang membunuh anak mereka.
"Maafkan aku, Naruto," Sasuke mengatakannya dengan terbata. Pandangannya yang dipenuhi kilat perasaan bersalah mulai tertutupi oleh kabut ketakutan; khawatir jika orang yang amat dikasihi serta dicintainya akan pergi meninggalkannya karena semua rencana busuknya. "Maafkan aku. Maafkan aku."
Sekali lagi, Naruto menggeleng sedangkan kakinya bergerak mundur menghindari rengkuhan lengan Sasuke. "Kau monster brengsek!" jeritnya, terlalu memekakkan telinga hingga membuat Sasuke terperanjat. Kedua tangan kurus Naruto terangkat, telapaknya menangkup pipinya yang basah karena air mata. Tangisannya yang memilukan terdengar amat menyedihkan, berderu penuh keprihatinan bercampur amarah yang meluap."Kau tidak punya hati!" tambahnya.
Akal sehat Sasuke membenarkan apa yang diteriakkan Naruto padanya, namun mulutnya tidak sanggup mengatakan pengakuan. Hal keji memang baru saja dilakukannya, dan semuanya sudah terlanjur. Sasuke telah melakukannya, Naruto sudah tidak hamil lagi. Janin itu sudah dikremasi oleh orang-orang suruhan Sasuke. Semuanya sudah tidak berbekas. Bahkan abunya mungkin sudah lenyap ditelan angin atau pun dilarutkan air.
Sasuke tidak pernah tahu apa yang terjadi pada abu janin anaknya.
Naruto terus menangis keras sambil menangkup wajahnya, air mata mengucur deras dari pucuk matanya. Menetes-netes tanpa henti seolah kantung air matanya sedang diperas habis-habisan. Rasa sakit yang merayapi dadanya terasa amat menyika, melumpuhkan keseluruhan otot-ototnya. Sendinya sudah melembek seperti jelly, Naruto tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis seperti sekarang.
Sisi hatinya mulai menyerukan kata 'pergi' dengan amat lantang. Suara makian dalam benaknya kian mendominasi, terdengar keras dan semuanya ditujukan pada Uchiha Sasuke yang ada di hadapannya. Sekali lagi, Naruto berusaha mundur namun Sasuke tetap berusaha mendekatinya.
Naruto benar-benar ingin pergi. Sebelum dia berlari meninggalkan apartemen ini, terlebih dahulu dia menghimpun tenaganya dan mengatakan sesuatu."Tidak-punya-hati," katanya penuh penekanan, teramat susah payah karena tenggorokannya terasa amat perih. Setelahnya, Naruto berbalik dan pergi dari sini.
Meninggalkan Sasuke dengan penyesalan-penyesalannya yang tidak berguna.
Flashback off :
OoO
Air mata meluncur begitu saja dari sudut mata Naruto saat dia membuka kelopak matanya. Pandangannya menangkap sebuah plakat nomor pintu sebuah apartemen, tetapi Naruto tak kunjung mengarahkan jemarinya untuk menekan tombol bel.
Ingatan masa lalu tiba-tiba datang dan mengganggunya hingga sedemikian rupa; mengusir segala pemikiran positif yang selama ini coba dibangunnya demi melupakan Sasuke. Keteguhannya untuk tidak menatap Sasuke mulai goyah dan terasa amat rapuh. Dendamnya masih memercik sepanas bara, namun raut penuh rasa bersalah yang didapatinya di wajah Sasuke seminggu lalu—saat pemuda itu berkunjung ke apartemennya—mampu menjelma menjadi air es yang mengancam memadamkan baranya.
Naruto tidak mungkin merasa kembali goyah setelah empat tahun berusaha hidup baik-baik saja. Berulang kali dia meyakinkan diri jika kehadiran Sasuke tidak berdampak. Dan semuanya memang berhasil—sebelum lelaki itu datang pada pagi hari itu dan mengajaknya bertengkar untuk mengingat segala yang ingin dilupakannya.
Memikirkan perasaannya, secara naluriah, Naruto mundur selangkah sementara pegangannya pada berkas yang digenggam dua lengannya mengerat. Naruto menatap berkas-berkas yang ada padanya; wakil ketua di divisinya menyuruhnya untuk mengantarkan berkas-berkas ini ke apartemen Sasuke.
Sudah seminggu ini Sasuke beralasan sakit dan tidak masuk kantor. Dan karena berkas yang ini tidak bisa dikirim melalui email dan harus ada bubuhan tanda tangan asli dari Sasuke, maka salah seorang di divisinya harus rela untuk mengantarkannya.
Dan sialnya, Naruto yang terpilih untuk tugas semacam itu.
Naruto menelan ludah saat berusaha meneguhkan perasaannya, perlahan-lahan tangannya terangkat dan jemarinya menekan tombol. Satu kali saja, lalu dia menunggu selama lima belas detik penuh dan tidak ada sahutan. Bel kembali ditekan tetapi responnya masih tetap sama; tidak ada jawaban melalui interkom. Naruto kembali memencet bel hingga beberapa kali tetapi tetap tidak ada sahutan.
'Apa yang dilakukan Sasuke di dalam? Apa dia tidak mau bertemu lagi denganku sehingga tidak sudi membuka pintunya?'
Naruto baru saja akan berlega hati saat pemikiran itu muncul dalam kepalanya. Tubuhnya baru saja akan berbalik demi meninggalkan apartemen itu. Namun, akal sehatnya memperingatkan jika kedatangannya kemari hanya untuk mengantarkan berkas yang berhubungan dengan pekerjaan. Dan seharusnya Naruto mampu untuk bersikap profesional seperti sebelumnya.
Karena pemikiran itu, Naruto urung untuk pergi. Kini, tatapannya jatuh pada deretan papan tombol elektronik. Otaknya sedang memikirkan suatu kombinasi angka; pemikirannya diikuti oleh tarian dari jemarinya yang membentuk kombinasi dari tanggal lahir Sasuke.
'230790.'
Kunci keamanan otomatis itu menyuarakan protes; nadanya naik-turun dan ada tulisan 'Password tidak dikenali' yang berkedip-kedip. Seketika Naruto terdiam sebentar, kembali berpikir demi mendapatkan angka kombinasi yang tepat. Bayang-bayang wajah Sasuke melayang dalam benak, mencoba memikirkan sederet angka yang mungkin akan dianggap istimewa oleh Sasuke.
Sederet angka istimewa.
'Tanggal lahirku?' Naruto tersentak oleh suara hatinya sendiri. Dadanya baru saja disengat oleh perasan aneh sehingga jemari-jemarinya bergetar hebat. Ketika Naruto dan Sasuke masih diikat tali percintaan di masa lalu, Sasuke selalu menggunakan tanggal lahir Naruto untuk dijadikan password.
Dan itu semua terjadi di masa lampau. Apakah ada kemungkinan jika Sasuke masih menggunakannya? Kendati diliputi perasaan tidak percaya sekaligus ragu, Naruto mengarahkan jemarinya menuju papan tombol. Lantas suara denting halus terdengar beberapa kali.
'101090.'
Papan tombol itu menulis kata 'Password diterima' dan suara denting yang lebih panjang menyambut terbukanya kunci pintu itu. Amat menyentak hingga membuat Naruto terlunjak ke belakang karena saking terkejutnya. Sambil mencoba menenangkan detak jantungnya, perlahan, dia mulai mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Apartemen mewah dengan suasana terlalu tenang dan mencekam. Minimalis dan didesain dengan amat cerdas untuk tiap sudutnya. Setelah melewati lorong sempit yang menghubungkan pintu keluar, Naruto disambut oleh ruang tamu yang didekor sedemikian rupa. Sofa chesterfield yang berwarna merah marun ditata berhadap-hadapan dan dipisahkan dengan meja kaca. Dibawah kaki sofa itu, lantainya dibalut oleh permadani bercorak rumit yang tampak lembut. Rak kayu mahoni menggantung di atas nakas-nakas yang mengisi pojok-pojok ruangan. Berbagai macam hiasan dinding yang sebagian besarnya didominasi keramik serta kristal berjejer di sana. Di suatu sisi, ada jendela besar yang ditutupi tirai putih tembus pandang. Jendela yang mungkin menumpahkan pemandangan jalanan besar yang memang nangkring di depan gedung apartemen ini.
"Uchiha-san?" Naruto berusaha memanggil demi menunjukkan kesopanan. Panggilannya terus terulang hingga beberapa kali namun keheningan menjadi penjawab tunggal dalam ruangan ini. Pandangan Naruto terus mengedar, kini kakinya melangkah mendekati sebuah pintu berpelitur cokelat. Ketukan melayang dari jemarinya yang tertekuk, berulang-ulang namun tidak ada jawaban.
Oleh sebab itu, Naruto memutuskan untuk memutar knopnya. Mengintip ke dalam lantas tubuhnya yang mungil meluncur masuk dengan amat hati-hati.
Kamar Uchiha Sasuke?
Naruto baru akan menyimpulkan seperti itu saat pandangannya secara sekilas mendapati ada sebuah ranjang. Namun, perhatiannya diinterupsi oleh keberadaan bingkai-bingkai foto yang menggantung pada dindingnya. Potret masa lalu saat dua orang yang jadi objek utama masih saling mencintai. Sepasang kekasih yang diliputi kebahagiaan menjadi titik fokus kameranya; diabadikan dengan amat sempurna oleh bidikan lensa kamera lantas dicetak dalam sebuah media kertas.
Dan Sasuke masih menggantungnya di dinding kamar kendati hubungan mereka sudah selesai empat lalu. Diam-diam, ruang sempit di celah dada Naruto dipenuhi gemuruh menggelegak yang dipenuhi kerinduan.
Waktu itu, mereka masih bahagia.
Mereka masih bersama mengikat janji setia.
Mereka masih tertawa tanpa beban.
Mereka masih saling mencintai.
Mereka masih ..,
Perasaan rindu yang coba ditahan mati-matian oleh Naruto akhirnya meretak hingga keseluruhan rindu itu tumpah ruah memenuhi pikirannya. Ingatan masa lalu yang menyedihkan sekaligus membahagiakan timbul-tenggelam dengan amat susah payah. Kebahagiaan itu mendominasi hingga akhirnya Naruto menangis saat menatap foto-foto yang memuat wajahnya di kamar ini.
"Maafkan aku, Naru."
Naruto tersentak hebat saat mendengar suara serak menginterupsi deru tangisnya yang menyedihkan. Perlahan-lahan, pemuda itu menarik tangannya yang semula menangkup wajah dan memutar tubuhnya. Pandangannya yang dihalangi oleh kabut air mata mendapati sosok Uchiha Sasuke dengan wajahnya yang sepucat mayat, berdiri sekitar lima langkah di depan tubuhnya.
Sasuke yang berusaha mati-matian untuk tetap tampak tegar kendati bibirnya yang pasi itu bergetar samar. Wajahnya dipenuhi gurat lemah dan terluka, bercampur dengan rasa bersalah yang tetap sama seperti empat tahun lalu ketika mereka berpisah setelah pertengkaran itu. Laki-laki itu mencoba mendekat lagi, dengan langkah tidak pasti dan tubuhnya yang menjulang hampir oleng. Namun untungnya, dia berhasil mengendalikan keseimbangannya dan berakhir berhadap-hadapan dengan pemuda mungil yang dikasihinya.
"Aku memang monster yang tidak punya hati," katanya susah payah. Berkali-kali berdehem demi membersihkan tenggorokannya yang terasa perih. Bola matanya onyx memancarkan sinar ketulusan yang tidak tergantikan; meluluhkan perasaan dendam kesumat yang selama ini dipendam oleh Naruto. "Aku dulu memang monster. Tetapi untuk sekarang, aku bukan lagi seperti itu."
Naruto menggigit bibir demi menahan isakan yang mendesak akan keluar dari mulutnya. Air mata kembali menggenang di pelupuknya dan mengaburkan pandangan. Pertahanannya perlahan mulai leleh seperti es.
"Aku akan berubah untukmu, Naru," kata Sasuke meyakinkan. Dua tangannya terangkat dan telapaknya jatuh menghantam sisi pundak Naruto; menyebarkan impuls panas yang tidak terelakkan. "Percayalah padaku."
"Kalau kau memang sebaik ini," Naruto berucap di sela serangan gelombang perasaannya. "Kenapa kau mampu membunuh anak kita? Aku terus berpikir untuk melupakan kesalahanmu, tetapi aku tidak bisa. Aku membencimu dan karenanya aku tidak bisa mencintaimu lagi."
Sasuke menggeleng susah payah, fokus pandangannya mulai kabur dan menghilang. "Aku menyesal," ujarnya. "Sungguh. Aku menyesal,"
Tanpa aba-aba, Sasuke menarik tubuh Naruto dan memeluk pemuda mungil itu dalam dekapan sepihaknya. Dalam hati dia mendesah lega manakala merasakan sengatan listrik yang amat diharapkannya tujuh tahun belakangan. Lengannya yang berotot melingkar begitu erat mengungkung tubuh mungil Naruto, menyebarkan getar penuh rasa takut kehilangan yang amat kentara. Dadanya naik-turun tidak beraturan, dan samar-samar penyesalan itu terealisasikan sebagai tangis memilukan dari Sasuke.
"Aku mencintaimu, Naruto," katanya sambil meremas kepala bagian belakang Narutto. "Aku masih sangat mencintaimu seperti dulu."
"Kenapa kesalahanmu teramat besar, Sasuke?" Naruto ikut meneteskan air mata. "Kenapa sulit sekali memaafkanmu?"
"Aku bisa lebih gila dari ini jika kau meninggalkanku lagi," kata Sasuke. "Kembalilah, Naru."
Naruto menggeleng ketika ingatannya dihantam oleh kalimat-kalimat jahat yang didengarnya dari Sasuke empat tahun silam. Akal sehatnya memperingatkan dengan kejam, terus meneriakkan kata monster sehingga naruto merasa pusing. Perasaan dan akal sehat memang selalu bertolak belakang.
"Tidak," bibir tipis Naruto yang bergetar akibat menahan luapan perasaan akhirnya bergerak demi mengatakan hal itu. Dia mencoba melepaskan diri dan menghindari ungkapan-ungkapan yang mungkin membuatnya menjadi semakin lemah. "Lepaskan aku."
"Aku sungguh mencintaimu."
"Lepaskan aku!"
Akibat teriakan yang dilayangkan Naruto, Sasuke terpaku selama beberapa saat. Dengan gerakan amat tidak rela, tubuhnya beringsut mundur demi melepaskan pelukannya. Matanya yang basah kini dipenuhi sorot terluka; berusaha disembunyikan mati-matian tetapi dia gagal melakukannya. Penolakan yang menyakitkan memang menggerogoti perasaannya. Tetapi, Sasuke tidak boleh tampak lemah.
Tidak boleh selama dia berhadapan dengan naruto.
"Maaf," kata Sasuke. Lalu tubuhnya berbalik menghampiri ranjang, duduk di sisinya sambil menangkup kepalanya yang mulai berdenyut dihantam ingatan buruk. Pandangannya kembali buyar, mengabur perlahan-lahan akibat rasa sakit di kepala.
Naruto menatap Sasuke dalam keterdiamannya—sedikit banyak mulai merasa bersalah ketika menyadari intonasi bentakannya. Sasuke tampak kacau, sebelum mendapat bentakan pun, Sasuke sudah tampak kacau luar biasa. Rasa bersalah itu menggerogoti hati nurani Naruto, menuntun kaki-kakinya yang mungil untuk menapaki lantai demi mendekati Sasuke.
"Maafkan aku," Naruto berhenti sekitar tiga langkah tepat di samping Sasuke yang meringkuk di sisi ranjang. Kerut-kerut dalam mulai muncul di dahi saat gelagat aneh dilayangkan oleh Sasuke. "Kau baik-baik saja?"
Seulas senyuman terlukis di belah bibir Sasuke yang pucat ketika gendang telinganya ditembus oleh pertanyaan itu. Kepalanya meneleng ringkas, sorot pandangnya yang lemah terarah tepat menampar kesadaran Naruto. "Kau kemari untuk mengantarkan berkas?" tanyanya saat tanpa sengaja mendapati suatu amplop cokelat besar yang dipeluk penuh protektif oleh Naruto.
"Oh," Naruto tersentak akibat kalimat itu. Seketika itu juga dia mengulurkan berkas yang sedari tadi ada pada genggamannya. "Y-ya."
"Kita terbawa suasana," Sasuke menerima berkas itu dan meletakkannya di nakas secara serampangan. Tanpa sengaja, pinggiran berkasnya menyenggol sesuatu yang ada di nakas; menyebabkannya oleng dan jatuh menghantam lantai.
Keduanya menoleh ke sumber suara, mendapati berbutir-butir benda bulat-pipih berwarna putih tulang berceceran di lantai. Sasuke terkesiap dan bersiap untuk mengambil botolnya demi menyembunyikannya. Tetapi, Naruto itu bertindak lebih cepat sehingga Sasuke kehilangan kesempatan untuk menyembunyikan semuanya.
"Pil anti depresi?" Naruto bertanya dengan alis bertaut resah setelah membaca label yang melingkupi botol obat itu. "Kau membutuhkannya?"
Sasuke membuang pandangan, masih mempertahankan senyuman di bibirnya. "Ya, amat membutuhkannya agar aku bisa tidur nyenyak," ungkapnya. Tangannya bergerak merebut botol itu dari genggaman Naruto lantas melemparkannya begitu saja ke arah tempat sampah yang berada tepat di samping nakas.
"Kau .., mengalami depresi?" Naruto bertanya lagi, ditanggapi dengan anggukan lemah dari Sasuke. "Sejak kapan?"
"Entahlah," Sasuke memutuskan untuk merahasiakannya.
Naruto memandang botol bekas itu di tempat sampah, lantas kembali memandangi wajah pucat Sasuke. Perasaan sedih datang bergulung-gulung menyerbu dada saat mengingat apa yang baru diketahuinya; bahwasana Sasuke mengalami depresi dan berusaha menutupinya dari semua orang.
Sewaktu Naruto melepaskan diri dari Sasuke setelah mengetahui tindakan tidak bermoral yang telah dilakukan lelaki itu, Naruto memang mengalami tekanan hebat. Namun pada saat itu, dia sama sekali tidak membutuhkan pil. Semua masih bisa diatasi oleh terapi-terapi ringan yang rutin dilakukannya. Dokter melarang Naruto menenggak pil karena depresi yang melandanya bukanlah jenis depresi yang mampu memutus salah satu sarafnya.
Dan sekarang, Naruto baru mengatahui jika Sasuke menenggak pil anti depresi agar bisa pergi tidur?
"Sasuke, sejak kapan kau mendapatkan pil seperti itu?"Naruto bertanya dengan desah lembut yang mengejutkan. Sorot matanya melunak, tampak dipenuhi kekhawatiran nyata.
"Jangan khawatir, Naru," Sasuke mengatakannya dengan nada rendah. "Semuanya bukan karenamu."
"Bagaimana aku bisa percaya?"Naruto tampak siap menumpahkan air matanya. "Kenapa kau tidak mengambil langkah untuk terapi?"
"Tidak ada yang peduli jika aku mengambil terapi atau pil ini," Sasuke melengkungkan bibir. Perasaannya menghangat kala mendapati gurat kecemasan di wajah pemuda impiannya. "Jangan pedulikan aku."
"Aku benci padamu, Sasuke," kelopak mata Naruto terpejam demi menghalau air matanya yang akan tumpah ruah. "Aku sangat .., membencimu," kalimatnya terputus akibat deguk samar yang mencambuk tenggorokannya. Air mata merembes keluar dari sela kelopak matanya yang tertutup rapat. "Sangat membencimu."
"Aku tahu," sahut Sasuke ringan, sementara salah satu tangannya terangkat demi membelai pipi Naruto yang basah nan lengket. Jemarinya mengusap jejak air mata itu, menghapusnya dengan gerakan amat lembut yang menenangkan. "Kau berhak membenciku."
Kepala Naruto bergerak ke kanan dan ke kiri, menggeleng kuat demi mengusir beribu kalimat dalam benak yang penuh kontroversi. Batinnya yang mengatas namakan perasaan, berteriak dan menyuruhnya untuk bertindak tanpa memerdulikan akal sehat. Kata maaf memang sulit sekali dikatakan; namun benaknya sendiri sudah mengatakannya berulang kali. Naruto menghirup napas panjang lalu tangannya melingkari leher Sasuke; memeluk lelaki itu dan menangis lagi di pundaknya.
"Aku membencimu. Kau monster tidak punya hati," racau Naruto kacau balau. "Tetapi kenapa aku mencintaimu? Kenapa kau mengikatku?"
Sasuke duduk tertegun oleh pernyataan tidak terduga yang didapatkannya dari Naruto. Deklarasi yang menyangkut-pautkan cinta, ditujukan padanya setelah berulang kali menegaskan kata benci. Mendadak, keseluruhan tubuh Sasuke terasa kaku akibat afeksi nyata yang menciptakan getar menyenangkan. Bahu Naruto yang bergetar kini bersandar pada dadanya, wajah Naruto bersembunyi di ceruk lehernya. Dan yang lebih baik lagi, pemuda itu memeluknya dengan amat erat.
"Kenapa aku mencintai monster sepertimu?" Naruto masih menyanyah tidak keruan sambil mencengkeram erat-erat sisi bahu tegap Sasuke. Degukan yang melandanya menyebabkan dagunya terantuk tengkuk Sasuke berulang kali. Lalu tangisannya masih berlanjut, seolah dia berniat membasahi kaus yang dikenakan Sasuke dengan air matanya yang mengalir deras dari pucuk matanya. "Aku mencintaimu, Sasuke. Aku mencintai orang yang membunuh anakku sendiri."
Sasuke langsung melingkarkan lengannya pada tubuh Naruto, membalas pelukan pemuda mungil itu dan menepuk kepala bagian belakang Naruto dengan amat lembut."Maaf karena tidak bisa berpikir jernih dan memutuskan untuk membunuh anak kita di masa lalu," ujarnya dengan nada bergetar. "Maaf karena terus menyakiti dan menyusahkanmu."
Naruto menggeleng kuat-kuat, kini mencoba meredam isakan dengan menempelkan mulutnya pada pundak Sasuke. "Cukup sampai di sini saja," katanya tidak berdaya. "Aku tidak mau kau semakin menderita."
"Terimakasih," Sasuke memejamkan mata demi menghalau titik air mata yang menggenangi kelopak matanya. "Aku mencintaimu."
"Sekiranya aku juga begitu," Naruto melepas pelukannya dan menatap wajah Sasuke lekat-lekat. Tangannya yang nyaris beku akibat luapan perasaannya menangkup pipi tirus Sasuke; manik sappirenya menari-nari gelisah menatap wajah Sasuke. "Aku juga mencintaimu."
Aku mencintaimu.
Sehun, aku mencintaimu.
Sehun-ah, kau mencintaiku, 'kan?
Aku hamil.
Apa yang akan kau lakukan pada anak kita, Sasuke?
Sasuke baru saja dihantam oleh ingatan berengsek yang selama ini selalu berkelebatan menggangu pikirannya. Secara naluriah, dia mendorong bahu Naruto hingga menyebabkan pemuda itu nyaris terjatuh. Raut kesedihan dan kelegaan pada wajah Sasuke kini tergantikan oleh gurat penuh ketakutan. Alur napasnya tiba-tiba menjadi tidak teratur, dadanya naik-turun susah payah demi mengisi paru-parunya dengan oksigen. Pandangan Sasuke dipenuhi sorot antisipasi, sepenuhnya menghiraukan Narutoyang terheran di tengah tangisnya yang menderu.
"Sas-suke?" Naruto berusaha mendekat dan mencari tahu apa yang terjadi pada Sasuke.
Sasuke mengacuhkan panggilan Naruto. Kini tubuhnya meluncur menghampiri nakas meja; menginjak butir obat-obatnya yang masih tercecer di lantai. Tangannya yang gemetar mencoba menarik nakas dan mengubek isinya.
"Sasu- sasuke? Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?" Naruto diliputi ketakutan saat menyaksikan Sasuke dengan amat gelisah mencoba menemukan sesuatu di laci. Matanya membeliak penuh keterkejutan manakala Sasuke menggenggam botol obat yang lain, menumpahkan isinya dan mencoba menelan beberapa pil sekaligus. "Sasuke!" Naruto menjerit dan mencoba menahannya.
Sasuke melirik Naruto penuh permintaan maaf, menyentak pemuda itu dengan amat kasar agar bisa membebaskan diri dari rasa sialan yang serasa akan membunuhnya. Matanya terpejam sesaat sebelah tangannya bergerak melempar pil-pil itu memasuki mulutnya. Giginya bergemelatuk ketika rahangnya mencoba bergerak menggerus obat penuh rasa pahit itu.
Naruto yang melihat tindakan Sasuke kini mundur beberapa langkah, berlari keluar kamar untuk menghampiri dapur. Dia meraih sebuah gelas dan menuang air dari teko kaca dengan amat serampangan. Dua lututnya yang menggigil ketakutan mencoba menuntun tungkainya untuk melangkah menuju kamar.
"Minum," Naruto mengatakannya saat tubuhnya sudah sampai di dekat Sasuke; tangannya mencoba mengarahkan pinggiran gelas itu tepat ke mulut Sasuke yang terkatup. Lelaki itu menerima suapan air minum yang disodorkan Naruto, tenggorokannya dialiri liquid menyegarkan yang mampu menghilangkan rasa pahit yang disebabkan obatnya.
Sasuke didera oleh rasa kantuk luar biasa setelah meneguk air minumnya. Tubuhnya terasa lemas dan Naruto menyadari hal itu. Dengan amat hati-hati, Naruto itu menuntun Sasuke untuk berbaring di ranjang. Sasuke yang dilanda pukulan hebat akibat ingatan buruk masa lalunya kini mulai terbuai oleh efek yang ditimbulkan pilnya. Kesadarannya melayang-layang kendati Naruto berada tepat di sebelahnya—tengah menatapnya dengan amat sendu.
Sasuke ingin mengangkat sebelah tangannya, ingin meyakinkan Naruto jika dirinya baik-baik saja kendati tiap malam dia memerlukan pil anti depresi. Dia sungguh ingin melakukannya; namun keseluruhan ototnya sudah melemah. Yang bisa dilakukannya hanya diam sambil mengatakan hal-hal dengan nada lemah. Samar-samar, dia mendengar isakan lembut yang coba ditahan oleh Naruto. Pemuda mungil itu bernapas dengan amat susah payah selagi jemarinya yang sehalus beledu membelai pipi pucat Sasuke.
Menyedihkan sekali. Naruto tidak tega untuk menatap Sasuke yang tampak begitu lemah jika berada di atas ranjang. Berbeda saat dirinya menemukan Sasuke sedang berada di kantor—dengan dibalut setelan jas elegan dan melempar tatapan tegas sepanjang detik berjalan. Sasuke yang ada di sini hanya seonggok tubuh yang memerlukan terapi rutin demi mengurai kekusutan sarafnya. Dia butuh bantuan besar agar bisa terbebas dari penderitaan ini.
"Aku tidak akan membiarkanmu tersesat dalam penyesalan seperti sebelumnya, Sasuke. Bangkitlah karena aku ada di sini," Naruto menghela napas saat menyaksikan Sasuke nyaris terlelap setelah menelan pilnya.
"Aku memutuskan untuk kembali padamu dan bangkit demi membebaskan diri dari dendam itu," Naruto menautkan kesepuluh jemari mereka dan memberi remasan lembut menenangkan. "Jadi, kau juga harus bangkit sama sepertiku. Mulailah terapimu, aku akan menemanimu. Kau mencintaiku, 'kan?"
Sayup-sayup, Sasuke mengangguk manakala kesadarannya hampir direnggut paksa oleh paraldehida, zat penenang, yang berakumulasi dalam darahnya. "Aku sangat mencintaimu, Naru," balasnya begitu lemah dan tidak berdaya. "Seperti dulu," ujarnya dengan nada amat rendah hingga menyamai sebuah bisikan.
"Aku juga," Naruto menyandarkan kepala pada lengan kokoh Sasuke dan ikut memejamkan mata; mencoba menyingkirkan ingatan buruk yang pernah menodai masa lalunya. Tautan jemarinya semakin mengerat, menyatakan jika dirinya tidak akan sudi untuk pergi dari sisi lelaki itu. "Ayo kembali bangkit dan bersama demi masa depan kita yang baru, Sasuke. Tidak ada masa lalu. Karena aku sudah melupakan kesalahanmu."
END
Akhirnya udah end dan semuanya bahagia dengan cepaaat :') yg tanya masalah SasuNaru ampe naru-chan marah udah dijawab dichapter ini .. Nah, terimakasih buat semua readers yang udah berkenan buat baca+review+klik fav/foll, ya ;) thanks juga buat yang mau setia nungguuu hehe love you so much deh :3
Oh, ya. Buat readers yg pengen minta sequel ff ini, blm gue pikirin XD hehe..sorry guys tapi entah nanti lhooo
Kalo gitu, sampai jumpa di ff lainnya ya. Jangan lupa tinggalkan review hehehe {}
