Chapter 2

Senyum manis terlukis dari bibir tebalnya. Ia melangkahkan kakinya riang menuju sekolah.

"Jongin ah.."

Sesorang memanggilnya dari belakang. matanya membulat terkejut. ia mengeratkan pegangannya pada pegangan tas ransel yang menempel ditubuhnya. Matanya bergerak gelisah. Ia tak suka kondisi ini. apa ia bersalah lagi? apa lagi kali ini? hatinya bertanya-tanya.. Namun ia tak menemukan jawabannya.

'oh ia ingat...kemarin chanyeol hyung memilih pulang bersamanya.' lirihnya.

Oh sehun semakin mendekat, Jongin panik... ia mundur perlahan. Sehun yang melihatnya hanya mengernyit tapi tidak mengeluarkan suara apapun. Tepat satu meter jarak mereka, Jongin berbalik dan segera berlari kencang. Sehun yang melihatnya hanya terdiam bodoh.

Sedikit lucu namun ia tersenyum kecut. Jongin pasti takut padanya. Bukan salah jongin sebenarnya. Sehun pun sadar akan hal itu.

" Jalan masih panjang " gerutunya lirih.

.

.

.

Jongin sampai di sekolah dengan terengah-engah, ia terus berlari setelah sehun mendekatinya tadi. Ia hendak masuk kelas

'oh tidak.' batinya

Di pintu kelasnya sehun dan gank sedang berbincang. Oh baaimana mungkin laki-laki itu ada disana? ah nampaknya jongin kupa bahwa sehun selalu menggunakan mobil ketika berangkat, jadi sekencang apapun Jongin berlari, laki laki itu pasti sampai lebih dulu.

Jongin membeku ditempat ketika selurih mata sehun n gank memandangnya. 'oh tidak, ini buruk.' batinya.

Ia mundur perlahan lahan, sehun dan gank nya juga maju ke arahnya perlahan. ketika ia berbalik hendak berlari ia merasakan seseorang menarik tangannya.

'buruk' batinnya.

Ia segera menghempaskannya dan berlari sekuat tenaga menuju ke dalam toilet dan menguncinya.

Jongin lelah, ia sudah tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Apakah kediamannya belum cukup? Ia merasa begitu takut saat ini.

Jongin akan lebih memilih mereka menyiksanya secara fisik. Bukan dengan kata kasar menyayat hati. Hatinya terasa sangat sakit ketika mereka membuka bibirnya.

' I dont deserve this world' batinnya.

Tapi jongin juga terlalu takut untuk membunuh dirinya. Jongin takut tidak akan bisa ke surga dan menyusul kedua orang tuanya.

Fakta yang mungkin tidak diketahui orang lain. Jongin adalah pewaris perusahaan pastery ternama milik keluarganya.

Sayangnya, ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil saat usianya 5 tahun. Sejak itu Jongin selalu sendiri. Kado terakhir orang tuannya adalah boneka krong yang telah dibuang oleh sehun dulu.

selama ini ia tinggal dengan beberapa maid dirumahnya. Ia hanya punya satu paman yang kini sibuk mengurus usahanya sendiri sembari sesekali memantau perusahaan milik keluarga Jongin. meski tidak dekat, Jongin tahu bahwa pamannya adalah orang baik.

semua kegiatan jongin dilaporkan kepada sang paman oleh kepala maid di rumahnya. awalnya sang paman sempat terkejut dengan perubahan Jongin yang menjadi pendiam, namun setelah lama tidak mendapatkan jawaban, sang paman memilih untuk menyerah bertanya.

.

.

.

.

Jongin bukan penakut sebenarnya, tapi ia benar benar tidak mau berurusan lagi dengan Sehun dan teman temannya. Ia sudah menuruti perkataan sehun dan teman temannya untuk menjauhi mereka. Jongin juga sudah tidak pernah berisik lagi terhadap mereka

Tapi kenapa mereka seperti selalu mencari masalah dengannya?

Jongin membasuh wajahnya di wastafel. Ia mendengar bel masuk berbunyi. Seharusnya mereka sudah tidak ada disana lagi. Ia membuka pintu toilet perlahan, betapa terkejutnya melihat sehun dan teman temannya di depan pintu toilet. Jongin memasang ekspresi tenang,namun jantungnya berpacu cepat. Mengira-ngira hinaan apalagi yang akan diterimanya. Setelah menunggu selama satu menit semua masih terdiam. Jongin memberanikan diri untuk berjalan melewati mereka.

GREP

Seseorang memegang tangannya.

'Ini buruk' pikir jongin. Ia memejamkan matanya siap menerima segenap hinaan yang mungkin akan mereka tujukan padanya.

"maaf"

ucapan itu terdengar tulus. Jongin pikir ia berhalusinasi karena ketakutannya. Namun setelah lama menunggu ia tak kunjung ia mendengar sumpah serapah yang biasa sehun tujukan untuknya.

"Jangan tegang begitu Jongin ah.. ayo masuk kelas" ini ucapan seorang xi Luhan. Pria yang dulu selalu menjahilinya berlebihan.

Jongin ingin kabur namun tidak bisa. Tangannya masih dipegang oleh sehun. Ia hanya bisa menurut terhadap mereka saat ini. Ia tidak ingin membuat masalah lagi dengan mereka.

Sehun masih menarik tangan jongin menuju kelas mereka. Jongin hanya mampu pasrah menurut.

.

.

.

Jongin berharap pelajaran hari ini tidak segera berakhir, ia tidak mau berurusan dengan sehun dan teman-temannya lagi. Namun harapan Jongin tinggalah harapan, bel istirahat berdentang kencang ditelingannya. Ia sungguh tidak ingin beranjak dari bangkunya.

Beberapa teman sekelas Jongin memandang aneh dirinya karena sehun dan teman temannya mendekati dirinya yang duduk diam dibangkunya.

"Hei Jongin-ah, ayo ke kantin bersama.." ujar kyungsoo kalem.

Jongin hanya menggelengkan kepalanya.

"Hei jangan seperti itu, itu tidak asik kau tahu…" Ujar Luhan

'Hei jangan begitu, tidak asik'

Kalimat itu terasa sangat familiar ditelinganya, seolah itu adalah alarm yang membangunkanya setiap pagi. Mereka sedikit terkejut karena Jongin bangun tanpa paksaan apapun dari bangkunya.

'awal yang baik' pikir Sehun.

Mereka berjalan beriringan menuju kantin sekolah, mendapatkan tatapan penasaran dari sebagian besar murid karena tidak biasanya seorang Jongin yang pendiam dan penyendiri berjalan diantara gerombolan flower boy sekolah.

Sebenarnya mereka mengagumi paras manis dan kalem Jongin, namun karena ketidakmampuan dirinya untuk berkomunikasi membuat teman sekolahnya enggan mendekatinya. Ditambah lagi kabar pembulian yang semasa sekolah dasar yang dialami Jongin oleh beberapa 'preman sekolah' semasa ia duduk di bangku sekolah dasar membuat mereka enggan berurusan dengan Jongin.

Oh,.. tentunya tidak ada yang tahu siapa 'preman sekolah' yang mereka maksud. Yah,. Mungkin hanya sang 'preman sekolah' dan Jongin yang tahu. Teman-teman sekolah dasar Jongin telah memilih untuk menutup rapat mulut mereka, karena mereka sendiri juga tidak tahu penyebab Jongin menjadi 'bisu' hingga sekarang.

Suasana kantin masih ramai seperti hari biasanya, oh tidak. Tampaknya suasana itu kini menjadi hening begitu sehun dan teman-temannya memasuki kantin. Jongin masih menundukan kepalanya. Mereka mengajak Jongin duduk dibangku yang mereka patenkan milik mereka. Tubuh Jongin sebenarnya sangat tegang. Sudah lama sekali ini tidak terjadi, kini terulang lagi. Kilasan memori semasa sekolah dasarnya berkelebatan dalam pikirannya. Mendesak airmatanya untuk lolos dari mata cantiknya. Namun, ia sudah berjanji untuk tidak menjadi cengeng lagi. Mati-matian ia menahan airmatanya dengan menunduk. Jongin tidak memperhatikan sekelilingnya. Ia tersentak ketika tray makan siang untuknya tersaji dihadapannya.

"Tak"

Suara kyungsoo yang meletakkan tray makan siang Jongin terdengar mengagetkan Jongin.

"Selamat makan.." ujar mereka ribut.

Sehun masih senantiasa memperhatikan gerak gerik Jongin.

Jongin mengambil sumpit hendak mengambil sayur dalam tray nya.

"Hei,.. bukan begitu caranya Jongin-ah, apa perlu ku ajari?" suara Xi Luhan mengagetkan Jongin.

'bukan begitu caranya,.. apa perlu ku ajari ha?'

Kalimat itu terus berputar dikepala Jongin seperti kaset rusak, ia menaruh sumpitnya menundukan kepalanya ke arah tray, hudungnya sudah hendak mencapai nasi di traynya. Ia mulai membuka mulutnya.

Sehun dan seluruh teman-temanya terkejut dengan apa yang dilakukan Jongin. Saking terkejutnya mereka tidak mampu berkata apapun.

"Jongin apa yang kau lalukan?" Suara Chanyeol terdengar lantang menghentikan Jongin.

Chanyeol segera berlari dan menangkup wajah Jongin yang menunduk. Air mata jongin tampak jelas menganak sungai. Ia menangis tanpa suara, tubuhnya tiba-tiba berguncang hebat, ia menggigit bibir bawahnya kuat untuk mencegah isakan yang hampir lolos dari bibirnya. Chanyeol segera memeluk tubuh Jongin sembari menepuk-nepuk punggungnya.

Sehun yang melihat airmata jongin merasakan dadanya sakit, perih seperti ada belati yang menyayatnya.

"Kalau tujuan kalian mendekati Jongin hanya untuk menyakitinya lagi, lebih baik kalian tidak pernah muncul dihadapannya lagi." Suara Chanyeol terdengar rendah dan dingin sangat mengancam.

Mengembalikan kesadaran sehun dan teman-temannya dari keterkejutan yang melanda.

"Tap- suara Kyungsoo terpotong oleh kalimat Chanyeol.

"Hei … kalian semua ingin tahu siapa 'preman sekolah' yang membuat jongin seperti ini?" Chanyeol bersuara lantang dan tegas. Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya. Memohon Chanyeol untuk berhenti dan tidak melanjutkan kalimatnya. Ia bahkan menarik tubuh Chanyeol untuk pergi. Namun, tidak seinci pun tubuh chanyeol berpindah.

Murid-murid lain tidak ada yang berani membuka suara, namun dari tatapan mata mereka mengatakan bahwa mereka ingin tahu.

"Mereka, para pangeran sekolah yang kalian agung-agungkan inilah 'preman sekolah' yang membuat Jongin seperti ini. Jadi silahkan saja bagi kalian yang ingin mengagungkan mereka setelah ini. Dan perlu kalian tahu, jika kalian membuat masalah dengan Jongin. Kalian berurusan denganku." Setelahnya chanyeol membawa jongin keluar dari kantin.

Kepergian chanyeol dan jongin dari kantin membuat murid mirid lain mulai berbisik-bisik memandang takut pada sehun dan teman-temannya.

"Apa, apa aku melakukan kesalahan?" Luhan bertanya tidak yakin.

"Dasar bodoh.." ujar Kyungsoo

"Kau tidak ingat?" tanya Yixing.

"Apa?" Luhan bertanya bodoh.

" Kau pernah memaksanya makan bekalnya seperti anjing ketika di sekolah dasar rusa bodoh, apa kau ingat? Ia ditertawai oleh seluruh sekolah karena makan seperti anjing. Kau bahkan memaksanya dengan menahan kepalanya. Setelah hari itu, ia tidak pernah lagi membawa bekal ke sekolah. Bahkan ia tidak mau ke kantin sekolah hingga lulus sekolah dasar." Ujar kyungsoo panjang.

Sehun memegang erat sumpitnya. Ia ingin marah. Tapi ia lebih marah pada dirinya sendiri. Jadi ini penyebab tingkah aneh Jongin tadi. Jongin pasti masih menganggap mereka masih membenci jongin dan ingin terus membully nya.

Brak

Sumpit dalam genggaman Sehun patah, Luhan hanya menatap ngeri padanya. Tapi ia tidak mengeluarkan suaranya.

"Kita jelaskan pada Jongin dan Chanyeol sekarang." Setelahnya mereka berjalan menuju kelas.

Namun, tidak nampak lagi Jongin dan Chanyeol bahkan tas Jongin juga sudah tidak ada.

'Apa masih ada kesempatan untukku?' tanya Sehun dalam hati

.

.

.

Jongin duduk dalam diam di samping kemudi. Chanyeol melajukan mobilnya perlahan. Ia meminta ijin mengantar jongin pulang kepada guru piket sekolah. Setelah kejadian tadi.

"Kau ingin makan ice cream dulu Jongin-ah?" tanya chanyeol.

Jongin hanya menggeleng pelan.

"Mau berjalan-jalan lebih dulu?"

Jongin masih menggeleng.

"Kau mau langsung pulang?" Chanyeol memandang sedih Jongin.

Jongin hanya menganggukan pelan kepalanya.

"Baiklah" ujar Chanyeol.

.

.

.

keesokan harinya Sehun segera berangkat lebih pagi ke kelas, ia ingin segera meminta maaf pada Jongin. Meski meminta maaf bukanlah gaya sehun tapi ia merasa harus meminta maaf dengan cara yang benar saat ini.

Kelas masih sepi saat sehun sampai, teman-temanya juga belum datang. Ia menunggu dalam tenang. Hingga semua teman-temanya datang bahkan hingga bel masuk berbunyi sosok Jongin tidak muncul. Bangku diujung depan dekat jendela nampak kosong tanpa penghuninya. Sosok pria manis yang jarang tersenyum. Sehun merasa miris mengingatnya.

Bel istirahat berbunyi, sehun segera berlari menuju kelas Chanyeol. Nyatanya Chanyeol tidak ada disana. Ia mengikuti kompetisi hari ini hingga esok hari. Sehun sedikit frustasi kini. Kyungsoo hanya mengusap bahunya pelan.

Luhan nampak merasa bersalah, terlihat dari wajahnya yang gusar.

"Kita harus ke rumahnya sepulang sekolah."

"Kau tahu tempatnya?" Tanya Luhan.

"Ne" Ujar sehun.

.

.

.

Mulut Luhan, Yixing, dan Baekhyun nampak terbuka lebar begitu mereka sampai di depan gerbang rumah Jongin.

Jongin sama sekali tidak terlihat dari golongan kaya, namun rumah ini membuktikannya.

"Apa kita tidak salah rumah?" tanya Luhan.

Kyungsoo memutar matanya malas.

Sehun turun dari mobil dan menuju penjaga gerbang rumah Jongin.

" Maaf anda mecari siapa?" tanya sang penjaga.

"Kami teman Jongin." Ujar Kyungsoo.

" Maaf, tapi tuan muda sedang tidak ada di rumah. Kalian bisa menitipkan pesan kepada saya atau hubungi tuan muda sendiri."

"Kapan Jongin akan kembali?" tanya sehun.

"Saya tidak tahu, Tuan muda pergi bersama Tuan Kim semalam."

" Baiklah terima kasih." Ujar Kyungsoo.

Mereka kembali ke dalam mobil.

Sehun masih gusar, nampak jelas dari raut wajahnya.

'Kumohon beri aku kesempatan Jongin-ah' lirihnya dalam hati.

TBC

anyoeng hasimnika,...

saya kembali,.. mohon maf lama karena ada beberapa kendala.

terima kasih kepada semua reviewer cerita saya,... review anda sangat membantu imajinasi saya untuk memunculkan ide baru.

oh ya,. ada yang bertanya di chap satu ningung antara balkon dan kelas. Latar pertama adalah balkon kamar Jongin, sementara sehun memandangi dari dalam mobilnya. sementara latar kedua adalah dalam kelas. Jadi sudah berbeda lokasi dan berbeda waktu.

Terima kasih.

semoga tidak bosan dengan cerita saya,...

Saya memang sengaja hanya mendalami tema angst, hurt, comfort, family, romance.

Kamsahamnida