Heloww..
I'm Comeback nih..
Sebenarnya FF ini cuma aku buat 1 chapter, tapi yah.. Karena kesalahanku yang tidak mencantumkan kata Complete, jadinya aku bikin aja deh. Hehehee.. Sorry kalo nunggu lamaaaa banget. Hehehe..
Capcusss.. \^^/
.
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Sunshine Becomes You
Chapter 2
BY : Abyyoana
.
.
.
Beberapa tahun kemudian
Disebuah pemakaman yang terletak dipinggir Konoha, terdapat sepasang manusia dengan warna rambut yang sama tetapi berbeda usia. Mereka berjalan mendekati sebuah nisan. Sang anak yang membawa tiga tangkai bunga matahari hanya diam mengikuti langkah kaki ibunya. Akhirnya, mereka berhenti disebuah makam.
"Ne-ji Hyu-uga. Kaa-chan, ini makam siapa? Apakah ini orang spesial yang Kaa-chan katakan?"kata sang anak setelah mengeja nama makam didepannya sambil menunduk.
"Iya, Ini adalah makam Pamanmu, Himawari-chan."jawab ibunya.
"P-paman?!"Sang anak yang bernama Himawari terkejut sambil melihat ibunya yang sedang tersenyum.
"Iya, sekarang letakkan bunga yang kamu bawa itu, sayang."
"Uhm."Himawari mengangguk dan berjongkok menaruh setangkai bunga yang ia bawa.
"Apakah Paman akan menyukai bunga ini, Kaa-chan?"tanyanya.
"Tentu saja Hima-chan. Dia punya nama yang sama dengan bunga matahari. Dia pasti akan sangat senang, apalagi bunga ini diberikan olehmu."jawab ibu sang anak sambil menunduk menyejajarkan dirinya dengan anak perempuannya.
"Benarkah?"
"Uhm. Tentu saja. Ayo berdoa dulu."kata sang ibu sambil berjongkok didepan makam dan mengatupkan tangannya. Himawari melakukan hal yang sama.
Setelah selesai berdoa, sang ibu menoleh melihat anaknya yang sedang membaca nisan yang ada disekitarnya.
"Hima-chan, ayo kita pergi."kata sang ibu sambil berdiri.
"Kemana Kaa-chan?"tanya Himawari sambil berlari mendekati ibunya.
"Nanti kamu juga akan tahu, sayang."katanya sambil mengelus pelan Himawari.
"Hehehee.. Aku akan mengajak kakak lain kali."kata Himawari sambil tersenyum lebar. Sang ibu hanya tersenyum kecil.
"Sepertinya itu tidak perlu Himawari-chan."kata seorang laki-laki yang berjalan mendekat sambil menggandeng seorang anak laki-laki.
"Ah.., Konohamaru, ada apa?"kata sang ibu sambil melihat seorang laki-laki yang sedang membawa anak pertamanya itu.
"Hinata-sama, Bolt melakukan keonaran lagi. Padahal dihari yang sepenting ini. Akhirnya, aku disuruh Hokage-sama untuk membawanya kepadamu, untunglah Hinata-sama dan Himawari-chan masih disini."kata laki-laki itu yang bernama Konohamaru kepada sang ibu yang bernama Hinata.
"Uuh, lagi-lagi Nii-chan. Apa lagi sih yang Nii-chan lakukan?"kata Himawari, sang adik sambil menatap sebal ke arah kakaknya.
"Mencorat-coret patung Hokage. Selain itu, ia mencoba melempar sebuah shuriken."jelas Konohamaru, sedangkan si tersangka, Bolt, hanya mendengus sebal.
"Benarkah itu Bolt-kun?"tanya Hinata kepada anaknya.
Bolt hanya mengangguk pelan.
"Baiklah, terima kasih, Konohamaru."
Konohamaru mengangguk dan langsung berjalan pergi.
"Hm, sebelum kau bercerita pada Kaa-chan, lebih baik kau berdoa dulu dimakam Pamanmu." Kata Hinata,
Tanpa menjawab, Bolt berjongkok dan berdoa sebentar didepan makam. Tak berapa lama, ia selesai dan berdiri disamping ibunya.
"Kaa-chan, dimana aku harus meletakan bunga ini?"kata Himawari yang masih membawa dua tangkai bunga matahari.
"Ah, untuk Pamanmu saja, kapan-kapan kita akan datang kesini lagi untuk mengunjungi orang spesial Kaa-chan yang lain lagi."kata Hinata tersenyum. Himawari berlari kecil dan meletakan bunganya disamping bunga yang tadi telah ia letakkan.
"Nah, sekarang, ayo kita pergi ke tempat yang sangaat indah. Kaa-chan yakin kalian akan betah disana."ajak Hinata sambil menggandeng tangan kedua anaknya.
"Ayoo..!"kata Himawari dan Bolt bersemangat.
.
~SUNSHINE BECOMES YOU~
.
"Ne, Kaa-chan. Masih berapa lama lagi kita berjalan kaki?"tanya Himawari yang sudah mulai kelelahan.
"Kalau Himawari-chan udah capek, ayo, Kaa-chan gendong."kata Hinata sambil berjongkok. Himawari yang sudah kelelahan hanya bisa menurut.
"Huh, baru jalan sebentar saja, Hima-chan udah minta gendong."kata Bolt dengan nada mengejek.
"Memangnya Nii-chan gak capek apa?"tanya Himawari yang sudah berada dalam gendongan Hinata.
"Tentu saja tidak, aku kan kuat, ga kaya Hima-chan." Kata Bolt sambil berjalan dan menjulurkan lidah. Himawari hanya memutar bola matanya.
"Bolt-kun, sudah belajar melompat kan? Mau mencobanya sekarang?"tanya Hinata.
"Bolehkah? Nanti aku bisa dimarahi lagi."kata Bolt dengan mata berbinar-binar.
"Tidak, selama Kaa-chan terus ada didekatmu."kata Hinata tersenyum dan memandang wajah anaknya yang seolah-olah tidak percaya.
"Bolt-kun, siap?"tanya Hinata yang sudah dalam posisi ancang-ancang.
"Uhm, siap!"kata Bolt bersemangat.
HAP
Mereka melompati satu persatu atap rumah dengan Hinata yang memimpin jalan. Bolt terlihat sangat senang dan bersemangat. Sedangkan Himawari yang pertama kali mengalaminya hanya berteriak-teriak kesenangan.
"Aaaaaaaa! Aku belum pernah mengalami ini seumur hidupku! Ini adalah HARI TERBAIKKU!"teriak Bolt dengan girang.
Hinata hanya tersenyum mendengar perkataan Bolt. Setidaknya, ia telah menghibur anak sulungnya itu.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah padang rumput dibalik bukit Hokage. Tempatnya agak jauh dari perkotaan dan terpencil, tapi masih berada dikawasan Konoha.
"Waaaahh.. Indah sekali.. Kaa-chan, turunkan aku.."kata Himawari sambil berlari kecil menuju guguran bunga sakura. Sedangkan Hinata hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku anak bungsunya. Lalu ia melihat sekelilingnya sambil berjalan menuju danau. Tidak ada yang berubah setelah beberapa tahun yang lalu. Batin Hinata.
"Kaa-chan."
"Hm? Ada apa Bolt-kun?"tanya Hinata sambil melihat Bolt yang menunduk.
"Terima kasih. TERIMA KASIH KAA-CHAN!"teriak Bolt sambil berlari dan memeluk Hinata secara tiba-tiba.
Hinata hanya tersenyum lebar dan membalas pelukannya.
"Tidak masalah, nah, sekarang, ceritakan masalahmu sehingga kamu mencoret-coret patung Hokage lagi." Kata Hinata sambil duduk dan mencelupkan kakinya ke danau setelah melepas alas kakinya.
Bolt ikut mencelupkan kakinya sambil menggerak-gerakannya dan mulai bercerita panjang lebar. Hinata hanya diam mendengarkan sambil sesekali memperhatikan anak bungsunya yang berlari-larian menangkap kupu-kupu dan serangga yang berlalu-lalang.
"Dan akhirnya aku disuruh oleh Tou-chan untuk membersihkan kembali patung hokage, kemudian ia pergi untuk menghadiri rapat bodoh itu."kata Bolt dengan wajah cemberut.
"Bolt-kun, kamu tahu kan apa yang kamu perbuat itu salah? Lagipula, Tou-chan sudah diangkat menjadi Hokage, mau tak mau ia harus melindungi seluruh warga desa. Apalagi, menjadi Hokage adalah cita-citanya sejak kecil."kata Hinata.
"Iya, aku tau aku salah, Kaa-chan. Tapi Tou-chan memang sudah keterlaluan. Masa ia tidak memperdulikan keluarganya dan lebih memilih untuk mengerjakan berkas-berkas bodohnya itu?"kata Bolt membela diri.
"Bolt-kun, Tou-chan adalah pemimpin desa, sudah selayaknya ia menganggap seluruh warga desa sebagai keluarganya sendiri yang harus ia lindungi. Terkadang, ia tidak bisa menjadi ayahmu saja, Bolt. Kamu harus mencoba untuk memahaminya. Kamu adalah seorang ninja, kan?"kata Hinata.
"Iya. Kaa-chan berkata persis seperti yang Tou-chan katakan padaku tadi."kata Bolt sambil memandang kakinya yang basah.
"Kau tahu Bolt? Ayahmu juga melakukan hal yang sama denganmu."
"Benarkah?" Bolt terkejut dan melihat wajah Hinata yang sedang menatapnya tersenyum.
"Uhm, bedanya, kalau kamu melakukan ini untuk mendapatkan perhatian dari ayahmu, Tou-chan melakukan hal ini untuk mendapatkan perhatian warga desa."
"Ha? Kenapa?"
"Dulu, sebelum Tou-chan masuk ke akademi, ia selalu hidup sendirian dan tidak diperhatikan karena Kyuubi yang ada didalam tubuhnya."
"Kyuubi? Kurama-san? Tapi kenapa?"
"Iya, saat itu, Kurama-san masih tidak dapat dikendalikan dan dapat keluar sewaktu-waktu jika Tou-chan sangat marah. Ia juga tidak punya kerabat ataupun teman. Ia iri dengan orang-orang disekitarnya yang memiliki orang tua dan teman. Maka dari itu, ia mencoba berbuat onar untuk mendapatkan perhatian warga desa."
"Lalu, kenapa Kaa-chan tidak mendekatinya waktu itu?"
"Kaa-chan sudah mencoba, tapi Tou-chan hanya berkata jika Kaa-chan mungkin akan mengolok-oloknya, sama seperti yang dilakukan orang-orang padanya."
"Jahat sekali."
"Itu tidak apa-apa, lagipula, Tou-chan udah bahagia dengan kehidupannya sekarang, jadi, lain kali, jangan diulangi lagi, ya Bolt?"
"Ha'i. Kaa-chan tidak menghukumku?"tanya Bolt takut.
"Tidak jika kamu bisa melempar shuriken dengan benar. Aku dengar tadi kamu juga hampir melempar shiruken kan?"tanya Hinata tersenyum.
"Tapi, aku masih belum bisa."
"Kalau begitu, mau Kaa-chan ajarkan?"
"Benarkah? Terima kasih Kaa-chan."
CUP
Bolt mencium singkat pipi tembem ibunya sehingga Hinata sedikit memerah dan segera berdiri dan memakai alas kakinya. Benar-benar mirip denganmu, Naruto-kun.
"Ayo, Kaa-chan, aku udah ga sabar..!"teriak Bolt.
"Iya."Hinata berdiri dan memakai alas kakinya dan berjalan menuju Bolt yang sudah siap dengan kunai ditangannya dan berdiri didepan pohon sakura sebagai sasarannya.
.
~SUNSHINE BECOMES YOU~
.
"Bagus, Bolt-kun. Kaa-chan rasa Bolt-kun udah bisa melemparnya dengan benar."
"Nii-chan sudah bisa melempar shiruken.. Hebat."kata Himawari yang dari tadi melihat latihan kakaknya itu sambil bertepuk tangan.
"Hehehee.. Susah juga, ya."
"Tidak apa, jika latihan terus menerus, Bolt-kun pasti bisa."kata Hinata.
"Yosh! Aku pasti akan jadi lebih kuat.!"teriak Bolt.
"Tapi kau tidak lebih kuat daripada kami."kata seseorang dengan tiba-tiba dari arah belakang mereka.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
Dan akhirnya bersambung lagi..~~
Ga tau apa yang merasukiku dan akhirnya jadi deh FF seperti ini..
Lagi banyak ide, dan akhirnya jadi campur aduk begini.
Maaf ya sekali lagi kalo aku punya banyaaaaaak banget TYPO, OOC, dan lainnya.
REVIEW YA PARA READERS..~!
