Konbanwa minna~ (^O^)/
Sakura's here!
Sebelumnya Sakura akan menyampaikan pesan Author yang berterima kasih udh nyempetin mampir ke Fict nya.
Author senang sekali kalian keliatan antusias sama ceritanya.
Arigatougozaimasu~ n(ToT)n
~Balasan Reviews~
Sebelumnya maaf ya karna reviews kalian entah knp ga bs dibuka di website aslinya,
setiap dibuka selalu tulisannnya 'No Review" kan KZL.
Jadi Sakura pake email buat baca nya, maaf kalau ada yang ga kebales atau kebaca, kalian bisa PM lgsg aja ke Author~
Baiklah Sakura akan balas reviews kalian~
mira chaya 1 : hwe Author senang sekali atas reviews mu, kamu org pertama yg post review ke Fict ini, selamaatt~ \\(^O^)/
Kimmy Ranaomi : iia kasihan ya hidup aku *Poor Sakura* harus ketemu si pantat ayam itu, liat aja aku nggak akan menyerah. *Hmph
Meong nbuyung : Woahh~ tau banyak tentang kitchen? he he
Kita lihat ya nanti siapa-siapa yang ikut Hot kitchen dan siapa yg ikut Cold kitchen. he he
Wah Pranciss sih Sakura tau, kalo Italy gmna? bukannya terkenal sama pasta and pizza nya?
Mitsuo Miharu : arigatou gozaimasu~ (^O^)/
GaemSJ : mirip ga yaaa~ *sweat* he he
Guest : Hwe aku juga maunya ga ada prsaan lg sama si pantat ayam. Aku akan fokus ke pekerjaan dn masa depanku mulai sekarang! *spirit*
OOC? theee hee iia aku ga ceroboh kan? (iya kan?)
Sasara Keiko : hy Sasa-chan, Sakura's here. (^o^)/
Iia Sakura akan sampaikan ke Author untuk go easy ke Sakura ya DX
YOktf : Sakura juga mauuuu XD
wowwoh geegee : thee thee iia kita comeback setelah membantu avatar mengalahkan negara api *PLAK*
BTC? uwoooo kapan tu? duh~ Author sepertinya ga memberitahu ku.
Bandung girl : wuah Bandung juga? Author skrg sudah jadi mahasiswi di ENhaii~
Oh ya dapat salam dari Author, (^O^)/
White's : Konbanwa, neechan~ (^v^)o
Yattaa ikuti terus ceritanya yaaaa~
Suzuki michiyo : emmm... kenapa orang tuaku meninggal ya? *Amnesia*
Entahlah terserah Author tuh mau nyeritain atau ga~ *lirik Shera*
suket alang alang : iia ada beberapa setting dan adegan yang diambil dr drakor, cma Author sih lg pusing tuh buat nyari celah ide barunya biar ga mirip bgt. HA HA
Kyuaiioe : Gaara-kun udh ketularan Sasuke yang kejam T^T
Trafalgar Rika : Hay, Rika-chan. Sakura's here. (^o^)/
Pasta? ahhh biar Author aja yang jawab kalau masalah itu, ha ha *Sakura kabur*
Kimiarraso : Ehh? *blush* Ga-Gaara suka sama aku? *lirik Gaara*
Ayola Authooorrrrrrr~ ToT
Lukyta-chan : iya gitu? kalau gtu crita kali ini jelas beda dong, settingnya aja beda.. thee hee hee~
Naanuu : apa haiooo~
Ah, bisa jadi bisa jadi *loh?
Zeedezly claucindtha : iia ntr naksir aku baru tau rasaa *hmph
Fiiyuki : lemonnya berkurang tuhhh *lirik Author*
khu khu khu tunggu aja ada kok nanti adegan yang FRESH LEMON asli, sabar yaa~
Maychia : iya apa enggak yaa... mau dijawab ga nih, thor? *lirik Author*
Hmphhh nanti bias Shera aja yang jawab di akhir cerita yaa~
AAAlovers : iia Gaara-kun berubah sejak negara a-*PLAK*
T^T
Dalfa Lailatul : Karin-neechan? hmm... kita liat aja ya nanti~ he he
Silent reader : omaygat ternyata selama ini kamu silent reader~ ha ha
Yah gimana ga ngedumel, aku kan kaget T^T
A-tan : nebak bolehh~ nanti dibuktiin sndiri ya tebakannya bener atau enggak, ha ha XD
Aerizna Yuii : alurnya? okeii... settingannya tetep beda kan~ ^o^
Pinktomato : nama yang bagus~ xD
okeiii salam kenal dan keep reading ya~
Ayuniejung : iya gtu? first time ya? semoga ga mengecewakan~
wah suka atau benci ya? atau 2 2 nya? he he
Exofujo12 : iia Gaara udh ketularan sadisnya Sasuke T^T
Cherryma : Uwoooo Ce-chan \\(^o^)/
Sakura's here! we all miss u so much~
Luca Marvell : Pasta? hmmm... lets see in next chaps ya~ he he
Loverecipereview : wuah namanyaaa ha ha
Yah Sakura juga berharap ga gagal lagi~ T^T
Enghh~ iya, kita belom menikah. *sweat* he he
Sami-chan : Konbanwa, Sa-chann~~ \\(^O^)/
We miss you~ 3 Pasta apa bukan yaaaa~ he he
d3rin : Gaara jatuh padaku? O.O uwoooo ga kuats~
Horyzza : cerita yang lebih mature? contohnya? hmm.. okei akan kusampaikan ke Author nya. *tulis di note*
Herawaty659 : cieehh my honey katanya~ *lirik Gaara* *Gaara buang muka*
coretan hikari : yeyyy~~ \\(^O^)/ Arigatou udh review~
iia Author bilang dia kuliah di Enhaii... ha ha
ganbatte, ne~
MaayuGumi-chan : ye ye la la la la, syukurlah kalo kamu suka intronya~
iia Gaara mulai terlihat kekejamannya di Fict ini.
Mantan? yeah begitu lah *lirik Sasuke*
Lovely Sakura : Konbanwa~ Sakura's here! ^o^)/
Author pasti inget lahhh~ ha ha
Namanya juga mantan, pasti sikapnya gtu. Apalagi udh 8 tahun ga ketemu.
Balikan ga yaaaa *blush*
Secretadmirer : wuahhh pengagum rahasia? nama yang bikin GR... ha ha
okeii, arigatou ne~
Harukichi Watari : okeiii, arigatou ne~ (^o^)/
Eysha CherryBlossom : Emergency Couple tuh katanya, thor *lirik Author*
ha ha sepertinya Author belum mau membahasnya. Sabar yaa~
ChiTao : ha ha ga nuduh kok, kan di awal udh ada warning kalo diambil dr drakor juga~
masalah apa drakor itu biarlah menjadi rahasia perusahaan yaaa~ he he
Haha Hikaru : waw? ha ha
Guest : apa yaa... msa si? ha ha *palingin muka*
Arigatou ne~
My Angelic Angel : Arigatou, nee~ (^o^)/
Achi : iya gtu? okei tetep ikuti ceritanyaa~
rikha-chan : wk wk iia Gaara emang udh sadis ketularan Sasuke.
Apple pie : he he masa si? ah itu lebih baik jd rahasia perusahaan aja.
okeeeeeiii inilah akhir dari balasan reviews, fuwaaa kita ga nyangka bakal menarik minat kalian sampai bgni, kirain kita udh dilupain T^T
Makasih atas kesabaran dan kesetiaannya ya~ We will try our best to success this Fict.
Arigatou, nee~
Salam, Sakura.
~Enjoy Reading~
Disclaimer Characters © Masashi Kishimoto
Disclaimer Story © Shera Liuzaki
.
.
A story with a girl being loved by lot of guys (May be)
WARNING! OOC, GAJE, ABAL, TYPO, DAN KAWAN-KAWANNYA.
.
.
Shera Liuzaki, present :
.
.
"LOVE RECIPE"
.
.
Recipe 2
.
.
Enjoy Reading
.
.
Tok tok tok
Sakura mengetuk pintu Chef Room dengan hati-hati.
"Permisi~"
"Masuk."
Perlahan Sakura masuk ke dalam, ia menutup kembali pintu sebelum menghadap sang Chef. Gaara nampak tak mengalihkan pandangan dari buku-buku di hadapannya, meskipun kini Sakura berdiri dengan canggung di sana. Nampaknya Gaara sama sekali tak memedulikan kehadiran Sakura, membuat Sakura semakin gugup saja.
"Anoo~ maaf atas keterlambatan saya hari ini, Chef."
Gaara masih tak menghentikan kegiatannya, namun setidaknya kali ini ia merespon Sakura. "Mulai besok, kau tak perlu datang lagi."
"Eh?"
Kini Gaara menatap Sakura, tatapan tajam dan mengintimidasi. "Kau tak perlu lagi datang ke sini."
"Tapi… bagaimana dengan sertifikat kelulusanku?"
"Sertifikat kelulusan? Tak perlu repot-repot karna kau sudah gagal. Sekarang kau boleh pergi."
"Apa? Tapi…"
"SUDAH KUKATAKAN KAU BOLEH PERGI!"
Mendengar Gaara membentaknya tentu saja Sakura kaget, ia menundukkan kepalanya. Tangannya gemetar, tapi ia berusaha menahannya. Ia gagal? Yang benar saja, bahkan ia belum memulai apapun, apa yang akan dikatakannya pada Karin saat pulang nanti. Kenapa Tuhan selalu memberikannya takdir yang kejam.
"Jangan datang lagi ke tempat ini, kau tak memiliki apa yang harusnya dimiliki oleh seorang Chef."
Sakura masih berusaha menahan perasaanya, namun ia juga tak ingin menerima keputusan Gaara begitu saja. Kalaupun harus gagal, setidaknya biarkan ia mencobanya. Biarkan ia memulai sesuatu yang meski berujung pada kegagalan, setidaknya itu membuatnya 'mati secara terhormat'.
"Kenapa?" Gaara menatap Sakura yang menundukkan kepalanya. "Apa karna aku bukan berasal dari universitas ternama dan tidak lulus dengan nilai terbaik?"
"Aku tak peduli kau berasal dari mana, aku hanya tak suka orang yang tak bertanggung jawab!"
"Bagaimana bisa anda tahu seseorang itu bertanggung jawab atau tidak saat anda bahkan belum mengenalnya?"
"Kau meragukan penilaianku?!" Gaara bangkit dari kursinya, ia mendekati sosok Sakura. "Sudah cukup bicaranya, aku masih memiliki banyak pekerjaan, keluar dari sini."
Sakura terdiam sejenak, bibir bawahnya digigit, berusaha menahan emosinya. Mendadak ia berlutut di depan Gaara, membuat pemuda merah itu mengerutkan dahi menatapnya. Ia sudah bukan Sakura yang dulu lagi, yang akan pulang dengan air mata. Ia sudah berjanji pada dirinya dan pada Karin bahwa ia akan menjadi Chef yang hebat.
"Kumohon… aku harus lulus. Apapun yang terjadi aku harus lulus, berikan aku kesempatan sekali lagi."
Gaara mendengus, "Memang apa yang membuatmu percaya diri bahwa aku akan meluluskanmu?"
"Kerja kerasku. Aku akan berjuang keras."
"Kerja keras saja tak cukup! Kau harus disiplin! Chef bukanlah jenis pekerjaan untuk orang yang tak bisa menghargai waktu."
Sementara Sakura sedang berjuang, tanpa sengaja Sasuke lewat ruangan itu. Ia mendengar isakan Sakura di dalam sana. Rasa penasaran kini memaksanya untuk melakukan sesuatu yang disebut 'menguping'. Sambil memperhatikan sekitar—memastikan tak ada yang melihatnya—ia membuka pintu itu perlahan.
Sasuke bisa melihat sosok Sakura yang berlutut di depan Gaara. Sosok mereka tak begitu jelas terlihat dari pandangannya, ia harus mendongakkan kepala untuk memperjelas sosok mereka. Sasuke merasa aneh, posisi mereka seperti… hm… blowjob? Astaga, Sasuke.
'Apa yang sedang mereka lakukan?'
"Aku sudah berjuang, aku lulus test ujian masuk dengan jujur. Aku sudah memberikan segalanya untuk bisa sampai di sini, dan aku tak akan melepaskannya begitu saja. Aku harus lulus dari sini."
Mendengar ucapan Sakura, kini Sasuke membulatkan matanya. Dari nada bicaranya, Sasuke bisa memastikan kalau Sakura sedang menangis. Jangan remehkan daya ingat Uchiha ya, meskipun sudah berlalu 8 tahun, tapi ia masih bisa memastikan suara tangisan Sakura.
Sakura berusaha menahan tangisannya, tangannya gemetar, kakinya pegal karna berlutut, tapi itu semua tak sebanding dengan kerja kerasnya selama ini. Gaara masih menatapnya tanpa berkomentar, pemuda itu menghela nafas dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Baik." Sakura menganggukkan kepalanya, Gaara yang melihatnya menaikkan alis. "Anda boleh mengeluarkan saya, tapi tolong pecat saya sesuai dengan prosedur yang berlaku. Kemudian saya akan ikut test masuk lagi, lagi, dan lagi sampai saya lulus dari sini."
DHEG
Melihat keteguhan Sakura, Gaara terdiam. Ia bisa melihat permata emerald yang menantangnya. Meskipun sudut mata itu terlihat berlinang, namun Gaara tak menemukan keraguan di sana. Sementara Sasuke yang mendengarnya juga kaget, atas keberanian Sakura menantang Chef yang sangat galak itu.
Gaara menyipitkan matanya, ia memijat pelipisnya dan menggeleng. Dengan satu tarikan nafas panjang, ia kembali menatap Sakura.
"Aku mengerti, kau akan kuberikan satu kesempatan lagi."
Mendengarnya membuat mimiK wajah Sakura berubah, matanya yang sayu kini menunjukkan sinarnya. Gaara bersiap untuk kembali ke meja kerjanya, namun ia merasa sesuatu menahan kakinya. Dan benar saja, kini Sakura sedang bergelayutan di sebelah kakinya.
"Arigatou~ Arigatou~" ucap Sakura sambil mengeratkan pelukannya pada kaki Gaara.
"A—apa yang kau lakukan?!" Gaara terlihat kalut, ia mengedarkan pandangannya seolah memastikan tak ada orang yang melihatnya di sana.
Sasuke juga tak kalah terkejutnya, melihat Sakura yang tiba-tiba bersujud dan memeluk kaki Gaara. Setahunya, Sakura tak akan melakukan hal serendah itu untuk mempertahankan dirinya. Atau mungkinkah Sakura yang sekarang sudah bukan yang dulu lagi?
Merasa kesal melihat adegan peluk-memeluk kaki itu, Sasuke mengerutkan dahinya. Entah kesal karna Sakura tak jadi dikeluarkan, atau karena hal lain—yang ia sediri tak ingin memikirkannya lebih jauh.
"Cih, menyebalkan." pemuda itupun berlalu pergi meninggalkan lokasi.
Gaara masih berusaha melepaskan tangan Sakura pada kakinya, ia menggerak-gerakkan kakinya dengan cepat seolah seekor lintah sedang menempel di sana.
"Hentikan, lepaskan!" perintah Gaara yang kemudian di turuti oleh Sakura.
"Go—gomenasai."
Sakura bangkit perlahan, ia menundukkan tubuhnya berulang-ulang sambil mengucapkan terima kasih. Sementara Gaara nampak salah tingkah sambil membersihkan pakaiaannya. Gaara menatap ke sana kemari, mencari cara untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia pun kembali pada kewibawaannya.
"Ingat! Sekali lagi kau membuat kesalahan, aku tak akan memaafkanmu."
"Saya mengerti, Chef~"
"Kalau begitu kau boleh pergi sekarang."
"Baik, arigatou Chef~"
Dengan sekali anggukan, Sakura berpamitan keluar ruangan. Setelah Sakura keluar, Gaara mengela nafas panjang. Nafasnya nampak berat, sepertinya pemuda ini menahan nafas untuk beberapa saat tadi. Gaara menggelengkan kepalanya, baru kali ini ia mendapati trainee Chef yang seperti itu.
-ooOoo-
Sakura kembali ke ruang kerjanya, karna semua sedang makan siang di café, Sakura pikir ia bisa mendapatkan ketenangan seorang diri. Nyatanya, saat baru 3 langkah memasuki ruangan, ia langsung mendapati sesosok raven yang mencuat duduk sambil menyeduh kopinya.
"Haaaahh~"
Melihat Sakura yang mengehela nafas panjang setelah melihatnya tentu itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk Sasuke. Pemuda itu memperhatikan sang gadis yang dengan lemas duduk di meja kerjanya. Sakura langsung merebahkan kepalanya di atas meja.
"Hey, apa yang kau lakukan di Chef Room tadi?"
Pertanyaan Sasuke tak ditanggapi oleh Sakura, gadis itu malah memejamkan matanya dan berpaling ke arah yang berlawanan. Sasuke semakin dibuat kesal, pemuda itu memutar kursinya dan menghadap Sakura.
"Kenapa kau harus berada di sini? Bukankah lebih baik kau belajar memasak dulu di rumah? Aku tak percaya kau benar-benar lulus test."
"Hentikan, Sasuke. Aku sedang tak mood untuk berdebat denganmu."
Ting!
Perempatan urat terukir di dahi Sasuke, ia menaikkan sebelah alisnya. Berani sekali Sakura membantah ucapannya. Tak lama setelah itu, pintu kembali terbuka. Menampilkan sosok gadis pirang yang tersenyum melihat Sasuke menatapnya, sementara Sakura tak berubah dari posisinya.
Sepertinya Sasuke memiliki suatu ide, "Hm, Yamanaka-san." mendengar Sasuke memangilnya, Ino menoleh. "Apa kau sudah makan siang? Kudengar ada café enak di dekat sini."
Sakura yang semula memejamkan matanya, kini membukanya—meskipun baik Sasuke maupun Ino tak bisa melihatnya.
"Belum, boleh saja." Ino menjawabnya sambil tersenyum, ia melirik sosok Sakura. "Haruno-san, apakah kau ingin ikut makan bersama kami?"
'Apa?!'
Baik Sasuke maupun Sakura sama-sama terkejutnya. Perlahan Sakura menaikkan kepalanya, ia berpikir sesuatu. Dengan gerakan canggung ia merapikan rambutnya sebelum memalingkan wajah menatap mereka. Sakura bisa melihat Sasuke yang mengerutkan dahi seolah melarangnya, tapi bukan Sakura kalau menurut begitu saja.
Ino masih menunggu jawabannya, dan Sakura menatapnya sambil tersenyum.
-ooOoo-
Suasana yang berat dan cangung membuat makanan seenak apapun dan tempat semewah apapun nampak tak nyaman. Seperti sekarang ini, tiga orang trainee Chef yang sedang beristirahat dan berniat menikmati makan siangnya nampak kurang semangat. Meskipun seorang gadis berambut pirang—salah satu diantara mereka—terlihat nyaman-nyaman saja, tapi tidak untuk dua orang di sampingnya itu.
"Mau pesan apa?" tanya sang pelayan.
"Aku ingin sup jagung, cherry cake, dan cherry juice." jawab Sakura dengan cepat. Sang pelayan mencatatnya dalam note.
"Hm… aku ingin fried rice dan orange juice ya." Ino menyerahkan daftar menu kepada sang pelayan. "Oh ya, tolong pisahkan tomatnya."
"Kau tak suka tomat?"
Ino menggeleng menjawab pertanyaan Sasuke, "Aku tak terlalu suka, aku lebih menyukai buah-buahan manis."
"Ah, benar juga. Kalau begitu aku akan pesan yang sama." Sasuke menganggukkan kepalanya sambil melirik Sakura. "Buah-buahan memang bagus sekali untuk tubuh."
Sakura yang mendengarnya hanya mendecih meremehkan.
"Apanya yang 'Ah, benar juga.'? Kau bahkan sangat tergila-gila dengan benda merah berair itu kan?" gumam Sakura lirih.
Mereka saling terdiam untuk beberapa saat, sampai makanan mereka datang. Sambil makan pun nampaknya mereka tak banyak bicara. Antara Sasuke dan Sakura hanya saling bertukar pandangan tak suka dan pura-pura tak melihat. Sementara Ino hanya diam menikmati hidangannya.
"Biar aku yang bayar makanannya." Sasuke bangkit dan beranjak menuju kasir.
Ino mengangguk sambil tersenyum. Kini tertinggal Sakura dan Ino di sana, sementara Sakura sedang menyelesaikan cherry cake-nya, Ino nampak memperhatikannya. Sepertinya gadis itu memiliki sesuatu yang ingin dikatakan.
"Eum… Uchiha-san ramah ya." Sakura langsung menoleh mendengarnya. "Awalnya kupikir ia orang yang sulit didekati, tapi nyatanya ia yang sepertinya mendekatiku. Wajahnya juga lumayan, bagaimana menurutmu, Haruno-san?"
Sakura dengan susah payah menelan kue di tenggorokannya. "Tunggu… jangan katakan kalau kau tertarik padanya?"
"Memang kenapa? Ada yang salah dengan itu? Oh, apakah Uchiha-san memiliki kekasih sekarang?"
"Aku tak tahu soal itu." Sakura menundukkan kepalanya, namun ia tiba-tiba bangkit kembali. "Tapi biar kuberitahu, dia itu tak seperti apa yang kau katakan barusan. Sifatnya sungguh bertolak belakang, dia itu sangat menyebalkan. Dia juga suka mengatur dan mengomentari orang lain. Meskipun dia baik di depanmu, aku yakin dia memiliki maksud tersembunyi."
Mendengar Sakura yang terlihat menceritakan Sasuke dengan semangat, Ino sampai melongo. Gadis pirang itu bahkan tak diberikan kesempatan untuk sekedar bertanya. Ino melirikkan matanya ke samping.
"Sepertinya… kau cukup dekat dengannya, Haruno-san?"
"Eh?!" kembali Sakura dikagetkan oleh ucapan Ino. "Tidak, tidak! Kami sama sekali tak saling mengenal. Sama sekali."
"Tapi tadi kau bercerita seolah kau sudah mengenalnya sejak lama."
"Itu…Itu hanya perkiraanku saja."
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Sasuke terlihat telah selesai dan datang menghampiri mereka.
Ino menggeleng sambil tersenyum, mereka pun bersiap untuk pergi dan kembali ke KGR karna sebentar lagi jam makan siang mereka segera berakhir. Diam-diam Sakura mengehela nafasnya, kali ini mungkin ia akan berterima kasih pada Sasuke karna telah melepaskannya dari intimidasi pertanyaan Ino.
Baru saja dipuji sedikit, lihat saja kini pemuda raven ini mendekati Sakura yang berjalan di belakang Ino. Ia membisikkan sesuatu yang cukup untuk membuat Sakura membatalkan niatnya berterima kasih.
"Hey, siapa bilang kau boleh pergi? Bayar dulu makananmu. Aku hanya membayar bagianku dan Yamanaka." sambil mengucapkan itu, Sasuke menyeringai puas. "Jaaa Ne~"
Sakura hanya bisa menganga tak percaya, benar-benar sepertinya hubungan mereka tak bisa melangkah maju barang sedikit saja. Sakura pun kembali ke kasir untuk membayar makanannya—sambil merutuki Sasuke dengan mantra-mantra mematikan miliknya.
-ooOoo-
Istirahat telah selesai, kini saatnya masuk ke tahap selanjutnya. Gaara dan asistennya terlihat berdiri di hadapan keenam para trainee Chef .
"Bagus, kali ini tak ada yang terlambat." ucap Gaara, mendengarnya Sakura jelas-jelas merasa tersindir. "Aku akan memberikan tugas pertama untuk kalian, dengarkan baik-baik!"
"Baik, Chef!"
"Langkah pertama untuk menjadi Chef adalah mengetahui kemampuan diri sendiri. Setiap Chef memiliki keunikannya sendiri, aku ingin tahu seperti apa kemampuan kalian."
Sambil menunggu sang Chef melanjutkan kalimatnya, para trainee nampaknya cukup gugup. Mereka pun tak bisa menatap langsung ke mata Gaara, entah karna takut atau memang Gaara memelototinya seakan melarang mereka menatap matanya secara langsung.
"Dalam 1 jam, buatkan aku makanan andalan kalian. Perolehan point akan dimulai dari sini, dan biar kuingatkan sekali lagi… Kalian adalah tim! Satu orang membuat kesalahan, maka itu akan mempengaruhi point yang lainnya."
Gaara nampak berkacak pinggang, sementara asistennya menambahkan sesuatu dalam datanya. Sang Chef mengerutkan dahi melihat anak buahnya saling bertukar pandangan dan berbisik-bisik.
"Apa jawaban kalian?!"
"Ba—Baik, Chef!"
Seakan mendengar suara peluit yang datang entah dari mana, mereka bergegas menuju tempatnya. Di suatu bagian terdalam dari Konoha Grand Restaurant, ada sebuah ruangan yang di-design khusus untuk uji coba atau latihan. Biasanya ruangan itu digunakan untuk menguji resep-resep baru sebelum ditambahkan pada menu utama. Gaara memang biasa mengalih-fungsikannya menjadi tempat untuk menguji para trainee.
"Temari, bagaimana dengan data yang kuminta?"
Sang asisten mendekati Gaara, "Semuanya sudah diletakkan pada meja kerja anda, Chef."
"Bagus, bagaimana dengan keadaan dapur utama?"
"Masalah yang terjadi bulan lalu masih belum reda, tapi sisanya berjalan seperti seharusnya, Chef."
Gaara mengangguk-angguk, ia kembali memperhatikan satu per satu para trainee yang nampak sibuk mengolah masakannya masing-masing. Beruntung KGR merupakan restoran berbintang 5, jadi setidaknya bahan dan peralatan yang disediakan cukup memadai untuk mereka membuat apapun yang mereka inginkan. Kecuali kalau mereka memang tak memiliki keahlian.
Meskipun hanya mengamati, tapi Gaara tak sekedar berkeliling melihat-lihat kerja mereka saja, ia juga memberikan penilaiannya. Temari juga ikut berkeliling mencatat hal-hal yang dibutuhkan Gaara untuk memberikan penilaian nanti.
Waktu semakin berjalan, entah makanan seperti apa yang akan mereka sajikan kepada Gaara. Tapi yang perlu mereka tegaskan di sini adalah, mereka harus bisa membuat Gaara setidaknya mengatakan 'lumayan'. Atau minimal tak ada satupun dari mereka yang akan membuat point mereka terpengaruh.
-ooOoo-
Dheg dheg dheg
Inilah saat puncaknya, penilaian atas hasil kerja keras mereka selama 1 jam. Hidangan yang diletakkan di hadapan masing-masing mewakili kreasi mereka. Gaara berdiri di depan mejanya, matanya mengintrogasi mereka satu per satu.
"Aku akan mulai penilaiannya."
Semuanya membenarkan posisi berdiri mereka dan mengepalkan tangan dengan erat.
"Pertama…Uzumaki Naruto."
"Baik." mendengar namanya dipanggil, membuat Naruto gugup. Namun ia pun dengan hati-hati membawakan masakannya ke hadapan Gaara.
Semangkok penuh mie dengan berbagai bahan terlihat menghiasi di sana. Gaara memperhatikannya, seolah mencari celah yang bisa dikritiknya. Naruto semakin gugup karna ia menjadi orang yang pertama.
"Apa ini?"
"Itu Pork Lo Mein, Chef." jawab Naruto. "Mie atau spagety yang diolah bersama dengan daging sapi, saya juga mengkreasinya dengan saus bawang Bombay dan cincangan udang."
Sambil mendengarkan Naruto menjelaskan komposisi bahan-bahan yang ia buat, Gaara menyendok masakannya. Naruto meneguk ludahnya menantikan komentar Gaara. Ekspresi Chef satu ini benar-benar tak bisa ditebak, tapi Naruto bisa melihat dahinya mengkerut. Mungkinkah masakannya tak sesuai target.
Gaara meletakkan sendoknya, sepertinya ia akan memulai komentarnya.
"Tadi kau bilang kau mengkreasinya menggunakan saus bawang Bombay dan cincangan udang?"
"Iya, Chef."
"Kreasimu tak berhasil." rasanya sangat 'nyeess' saat Gaara mengatakan hal itu. "Seharusnya kau tak perlu lagi mencampur daging udang pada sausnya. Kalau kau memang ingin menambahkan udang, buat saja potongan-potongan kecil dan letakkan di pinggir. Itu lebih baik."
Naruto mengangguk, Gaara memberikannya kode untuk membawa kembali masakannya. Dengan cekatan Naruto mengambil kembali mangkok Pork Lo Mein-nya. Sebenarnya Naruto tahu kalau dalam ujian kali ini ia tak boleh coba-coba, kalau saja ia tak mencoba menambahkan udang dan membuatnya seperti biasa, mungkin Gaara akan menyukainya.
"Selanjutnya, Yamanaka Ino."
Ino menarik nafas dalam sebelum membawa masakannya ke hadapan Gaara. Kali ini Ino mempersembahkan sebuah makanan yang terlihat berwarna-warni dan sangat cantik. Tapi meski begitu, belum tentu Chef kita ini akan menyukai sesuatu yang 'cantik'.
"Ini adalah Fruit Pudding. Mungkin ini terlihat simple, tapi saya menambahkan sesuatu di dalamnya." jelas Ino sambil tersenyum.
Gaara menyendok pudding itu dan mencicipinya. Saat sedang mengunyahnya, ia mendapati sebuah rasa asing meleleh dalam mulutnya. Ia juga melihat pudding yang dipotongnya terlihat mengeluarkan sebuah lelehan berwarna putih.
"Saya memasukkan yogurt yang telah dicampur dengan susu manis di bagian tengahnya. Karna bahan utama pudding itu adalah jeruk dan strawberry, saya rasa yogurt dan susu akan membuat rasanya menjadi sedikit manis."
Tuk
Sendok diletakkan di sana, Ino masih menunggu komentar Gaara. Meskipun terlihat percaya diri dengan kreasinya, namun Ino juga tak kalah gugupnya dengan trainee yang lain.
"Tak buruk." Ino melebarkan senyumannya. "Meskipun yogurt dan milknya tak tercampur dengan baik, tapi itu ide yang bagus."
"Terima kasih, Chef."
Ino mengambil kembali hasil masakannya, meski mendapat sedikit kritik, setidaknya hasilnya tak begitu buruk. Setidaknya Ino bisa menutupi kekurangan masakan Naruto sebelumnya, mungkin ini bisa mengubah mood Gaara untuk mencicipi masakan selanjutnya.
"Akasuna Sasori."
"Ya." Sasori membawa sebuah piring dan sebuah mangkok kecil ke hadapan Gaara.
"Bruschetta?" Gaara langsung bisa menyebutkan nama masakan Sasori, nampaknya itu bisa jadi point yang mengurangi penilaian.
Tapi Sasori hanya tersenyum sambil mengangguk. "Tepatnya Italian Bruschetta. Resepnya hampir sama seperti Bruschetta pada umumnya, hanya saya menambahkan lebih banyak red wine vinegar dan membuat breadnya setengah matang. Itu agar tekstur bread dapat menyerap mayonnaise dengan baik."
Karna Sasori sudah memotong-motong Bruschetta dengan potongan 'one-bite', itu membuat Gaara mudah memakannya. Nampaknya Gaara juga menyukai ide Sasori itu, Gaara mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menghabiskan sepotong Bruschetta buatan Sasori.
"Bruschetta yang sengaja dibuat setengah matang? Mencoba sesuatu yang baru? Bagus juga, hanya saja lebih baik kau mengurangi komposisi mayonnaisenya, kalau terlalu banyak akan mempengaruhi rasa keseluruhan."
"Baik, Chef."
Sasori kini mundur dan membawa makanannya. Gaara mengedarkan pandangan, sudah setengah dari trainee yang telah diujinya. Dan sampai sejauh ini tak ada yang membuatnya sampai berdecak kagum, apakah kemampuan mereka memang 'beyond imagination'.
"Hyuuga Hinata."
"Hai'"
Hinata melirik Naruto di sebelahnya, pemuda itu menganggukkan kepala meyakinkan kekasihnya. Hinata menghela nafas sebelum ia membawakan masakannya ke hadapan Gaara.
Gaara bisa mencium aroma pedas yang kuat dari masakan Hinata. Warna merah yang merekat di mangkok hidangan Hinata entah mengapa membuat Gaara mengerutkan dahinya. Reaksi sama yang didapatkan Naruto sebelumnya, apakah masakannya juga akan menurunkan mood sang Chef?
"Ini…?" Gaara menggantungkan kalimatnya sambil meraih sendok.
"Tteokbokki. Itu adalah masakan Korea, syukurlah saya menemukan bahannya di sini. Tapi… karna chili pepper bisa buruk untuk hidung yang sensitive, saya menggantinya dengan cabai biasa. Ka—karnanya banyak potongan cabai yang tak tercampur dengan rata."
Semua trainee bisa mendengar suara gugup Hinata, membuat mereka ikutan gugup juga. Gaara hanya memenuhi setengah sendoknya untuk dicicipi, ia juga tak habis memakan satu potongan. Hal ini sedikit membuat Hinata kecewa, ah, sepertinya tak sedikit. Cukup membuatnya kecewa.
"Aku tak bisa merasakan bumbu lain selain pedas, tapi bagaimanapun ini memang ciri Tteokbokki." hanya komentar itu yang terlontar dari mulut sang Chef.
Hinata membungkukkan tubuhnya dan membawa kembali masakannya. Kini tersisa Sasuke dan Sakura. Mereka yang—entah kebetulan atau memang takdir—bersebelahan, saling bertukar tatapan. Saling melirik dengan tatapan mengejek. Kalau mereka menampilkan hasil yang cukup baik, maka semua bisa bernafas lega.
"Uchiha Sasuke."
Tanpa pikir panjang Sasuke segera membawa hidangannya ke meja Gaara. Lain dari trainee-trainee sebelumnya, Sasuke membawa piring bertingkat 3 dan segelas green tea. Gaara terdiam, Sasuke menempatkan posisinya berdiri di hadapan Gaara.
"Afternoon England Tea Set."
Tak ada penjelasan, tapi Sasuke tahu kalau Gaara bisa menebak apa yang dibuatnya itu. Hanyalah kue-kue kering dan beberapa bronish cake tersusun menjadi 3 tingkat. Juga aroma segar secangkit Green Tea hangat menambah selera. Gaara menganggukkan kepalanya seolah mengatakan 'lumayan juga'.
Gaara mencomot sepotong kue brownish dan mengunyahnya hati-hati, sepertinya ia ingin memastikan teksturnya dibuat sesempurna penampilannya. Tak lupa ia juga menyeduh Green Tea yang tersedia di sana. Sasuke menjadi satu-satunya yang membuatkan minuman pendamping, mungkin itu yang membuat Gaara akan memberikannya nilai tambah.
Sasuke menunggu Gaara menyelesaikan hidangannya. Gaara kini meletakkan kembali cangkir tea itu, ia menatap Sasuke dalam diam.
"Kau pernah tinggal di Inggris?"
Mendapat pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba, membuat Sasuke bingung harus menjawab apa. Trainee yang lainnya juga nampak saling berbisik-bisik di belakang sana. Sementara Sakura mengetahui jawabannya, ia hanya memperhatikan punggung Sasuke.
"Iya, Chef. Saya belajar di Inggris selama 8 tahun."
"Pantas saja, Afternoon Tea Set milikmu sangat mirip dengan yang ada di Inggris. Kau sudah cukup lama juga di sana." Sasuke membungkukkan tubuhnya, masih belum bisa memastikan itu adalah sebuah pujian. "Tapi sayangnya, ini terlalu monoton."
"Monoton?"
"Susunan, tekstur, rasa, semuanya khas Inggris. Justru karna sangat mirip, aku tak merasakan sensasi baru di lidahku. Seperti memakan masakan yang sama namun dibuat oleh orang dan tempat berbeda."
Setelah mengatakan komentar itu, Gaara mengisyaratkan kepada Sasuke untuk kembali dan membawa makanannya. Sasuke membungkukkan tubuh memberikan penghormatan kemudian kembali ke tempatnya. Akhirnya sampai juga pada giliran Sakura, sesaat Sasuke melirik gadis itu. Ia menaikkan sebelah alisnya dan membisikkan sesuatu. 'Good Luck'.
"Terakhir…Haruno Sakura."
"Iya."
Sakura menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya. Ia membawa makanannya ke meja Gaara. Sesaat setelah melihat apa yang dihidangkan Sakura, entah mengapa tiba-tiba Gaara menjaga jaraknya. Seolah kaget, membuat Sakura jadi bingung. Gadis itu berdiri sambil membenarkan posisinya.
"Itu…"
Gaara mengambil sepotong daging segar dan membalutnya dengan bumbu. Pemuda itu segera mengunyahnya, bahkan karna saking cepatnya, sekilas ia terlihat seperti langsung menelannya. Mereka hanya terdiam, namun Gaara nampak memalingkan wajahnya.
Semua jadi bingung, Sakura hanya menghidangkan Sashimi kepada Gaara. Kenapa seolah-olah Sakura memberikan sesuatu yang tak layak? Padahal menurutnya ia sudah menampilkan ikan segar dengan baik, seluruh trainee juga berpendapat sama. Mereka tak mengerti mengapa sang Chef menunjukkan raut ketidaksukaannya.
"Bagaimana, Chef?"
Tanpa banyak bicara, Gaara memberikan kode kepada Sakura untuk kembali ke tempatnya. Masih dengan tanda tanya besar, Sakura membawa kembali sashiminya. Sasuke meliriknya, ia sendiri tak mengerti mengapa Gaara bersikap seperti itu. Padahal ia juga tak menemukan hal yang ganjal di sashimi milik Sakura.
-ooOoo-
"Fuwaa~"
Selesai berperang dengan batin menghadapi tekanan dari Gaara, mereka nampaknya kelelahan. Naruto nampak merenggangkan otot-ototnya, Hinata yang tak jauh dari sana pun menghampiri kekasihnya dan memijatkan pundak Naruto. Sasuke dan Sasori juga terlihat memasuki ruangan kerja.
"Ini baru hari pertama, kurasa kita harus membiasakan diri dengan tekanan itu untuk bisa bertahan di sini." lanjut Naruto sambil menikmati pijatan Hinata.
"Eum… tapi, Naruto-kun~" Naruto mendongakkan kepala menatap Hinata. "Apa masakanku memang sepedas itu?"
Naruto berpikir sejenak, "Kurasa tidak. Masakanmu sanagt enak, Hinata-chan~"
"Naruto-kun~"
Oh well, satu-satunya pasangan diantara mereka ini sepertinya tak tahu tempat dan waktu yang tepat untuk mengumbar kemesraan mereka. Padahal semua sedang berkumpul di sini, mereka tak malu? Yah meskipun tak semuanya, karna Sakura nampak belum datang.
"Hm, jadi… Uchiha-san, kau pernah belajar di Inggris?" Ino menempatkan dirinya duduk di kursi sambil menatap Sasuke.
Sasuke menoleh, mendapati seluruh pandangan menuju padanya. "Hm, yeah. Begitulah."
"Wuah hebat sekali." pemuda kumis kucing itu terlihat bersemangat. "Pantas saja kau bisa membuat Afternoon Tea Set sesempurna itu. Kurasa diantara kami kaulah yang memiliki point tertinggi."
Sementara semua sedang memuji kehebatan Sasuke dan menanyakan caranya membuat tea yang baik, sepertinya Sasori menyadari ada seseorang yang tak hadir di sana.
"Ngomong-ngomong dimana Haruno-san?"
Berkat pertanyaan Sasori, kini mereka menyadarinya. Semua saling bertukar pandangan dan mengangkat bahu. Sasuke juga tak melihatnya, mungkinkah ia cukup terpuruk akan sikap Gaara? Ah, kenapa juga ia harus mengkhawatirkannya.
"Oh ya, kau lihat ekspresi Chef saat mencicipi hidangan buatan Haruno -san?" Naruto tiba-tiba menjadi profokator. "Sepertinya masakan Haruno-san sangat buruk sekali. Chef terlihat seperti ingin muntah! Aku penasaran…sebenarnya seperti apa rasa sashimi yang dibuat olehnya."
"Kurasa bukan itu masalahnya, lagipula sekilas sashimi buatan Haruno-san tak terlihat buruk." ujar Hinata.
"Mungkin karna Chef memang tak menyukai sashimi." Ino memberikan pendapatnya.
Naruto sepertinya menyetujui pendapat Ino, "Benar! Pasti begitu! Itu bisa jadi pelajaran untuk kita, jadi point kita tak akan berkurang."
"Tapi kalau memang benar Chef tak menyukai masakan Haruno-san, apakah itu berarti point kita juga akan terpengaruh."
"Ah, benar juga." Ino terlihat berpikir. "Bisa bahaya kalau itu jadi mengurangi point kita. Karna Chef meminta kita menjadi tim, akan sangat merugikan kalau salah satu dari kita terus-terusan membuat kesalahan."
Semua mengangguk-angguk setuju. Sasuke hanya diam tak menanggapinya. Perlahan ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan. Meskipun diam saja, tapi sepertinya Sasuke cukup terganggu dengan mereka yang membicarakan Sakura. Lagipula sekarang ini Sakura sedang tak berada di sana, akan sangat buruk sekali membicarakan seseorang dari belakang.
Saat keluar, ia melihat sesosok bayangan merah muda berlari menjauh. Sesaat sepertinya Sasuke menyadari siapa pemilik bayangan itu.
"Sakura?"
-ooOoo-
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu yang diketuk, Gaara masih terlihat santai sambil membaca bukunya sambil menyeduh segelas coklat panas.
"Masuk." sahutnya.
Pintu itu terbuka perlahan, menampilkan sesosok bayangan merah muda yang masuk. Tanpa menolehnya pun Gaara tahu, tapi ia memilih untuk diam seolah tak memperhatikan. Sakura menutup kembali pintu itu sebelum ia berdiri di depan Gaara.
"Apa yang kau inginkan?"
"Anoo… masalah sashimi buatan saya tadi… gomensasai." Sakura membungkukkan tubuhnya.
Akhirnya Gaara kini beralih menatap Sakura di hadapannya, ia menutup bukunya dan meletakkannya di samping. Sakura masih menundukkan wajahnya, rasa takut itu masih ada. Gaara pernah mengatakan kalau ia membuat kesalahan sekali lagi, maka ia akan tamat.
"Bukan salahmu." mendengar itu, mendadak Sakura mendongakkan kepalanya. "Aku hanya tak suka makanan mentah."
"Benarkah?" Gaara menjawabnya dengan angukan ringan. "Syukurlah~ kupikir aku sudah melakukan kesalahan lagi. Jadi itu artinya… apakah aku tak akan memperngaruhi point yang lain?"
"Yang kau khawatirkan itu pointmu atau point mereka?"
Sakura terdiam sesaat, "Keduanya sama-sama penting, tapi seandainya aku tak bisa berguna untuk orang lain, setidaknya aku tak ingin mempersulit mereka."
Suasana kembali menghening. Gaara bisa melihat ekspresi lega di wajah Sakura. Seling waktu lama, mendadak suasana jadi canggung. Sakura teringat sesuatu, ia mengeluarkan sebuah bingkisan kecil dan menyerahkannya kepada Gaara.
"Apa ini?"
"Kudengar… anda menyukai Black Forest." Sakura memalingkan wajahnya berlawanan arah. "Ini hanya ucapan terima kasih karna telah memberikanku kesempatan sekali lagi. Arigatou."
"Kau tak sedang menyuapku, kan?" sahut Gaara sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak, tidak!" Sakura menjawab dengan cepat. "Sungguh, aku tak bermaksud seperti itu. Ini benar-benar murni hanya sebagai ucapan terima kasih. Lagipula aku membuatnya dengan bantuan Temari-san."
"Temari?" sekarang Gaara jadi tahu asal sumber informasi Sakura mengenai kesukaannya pada black forest.
"Eum… kalau begitu, saya permisi."
Gaara mengangguk, setelahnya Sakura pergi meninggalkan ruangan. Pemuda merah itu memperhatikan bungkusan kecil yang dibawakan Sakura, ia meraihnya. Mengamatinya, dan menghela nafas sambil tersenyum kecil sebelum meletakkannya kembali.
Sementara itu, di luar sana, Sasuke melihat Sakura yang baru saja keluar dari Chef Room. Pemuda itu mengamati Sakura yang kian menjauh, ia berdiri di depan ruangan Gaara. Sakura nampak keluar ruangan sambil memegangi wajahnya, ia juga terlihat bersemangat. Mungkin saja terjadi sesuatu diantara mereka. Sasuke mengamati pintu ruangan itu dalam diam. Sepertinya ia memikirkan sesuatu.
Akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan Gaara lalu membukanya perlahan. Gaara yang bahkan belum sempat untuk mempersilahkannya masuk, kini menatapnya dengan tatapan dingin.
Namun Sasuke tak bergeming, ia telah membulatkan tekadnya. Sasuke membungkukkan tubuh untuk memberikan penghormatan, sekilas ia melihat bungkusan kecil di atas meja Gaara. Sasuke sudah bisa menduganya, bisa jadi itu pemberian Sakura. Hal itu semakin menguatkan keyakinannya mengenai hal yang akan dikatakannya pada sang Chef.
"Apa yang kau inginkan?"
"Maaf mengganggu, Chef. Tapi ada sesuatu yang benar-benar ingin saya sampaikan."
Gaara menatapnya seolah mengizinkannya untuk melanjutkan. Tatapan mata Sasuke nampak serius, ini benar-benar sesuatu yang membuat seorang Uchiha serius. Tapi siapa sangka kalau hal ini akan jadi ujung tombak nasib Sakura selanjutnya. Saat Sakura mencoba untuk keluar dari cangkangnya, kenapa bayangan masa lalu selalu mengikutinya dan memaksanya untuk mundur.
"Saya ingin Haruno Sakura diberhentikan dari tugas ini."
-To Be Countinued-
~Behind The Scene~
Sakura : Apa?! Kau mau mengeluarkanku? Astaga kau jahat sekali Sasuke~ T^T
Bukannya kau senang bertemu denganku?
Sasuke : . . .
Gaara : . . .
Author : . . .
Ah sudahlah abaikan saja mereka. *sweatdrop*
Hy minnaa~ konbanwa (^O^)p
Wuah sebelumnya Shera ga nyangka masih banyak yang inget dan baca Fict Shera~
Apalagi reviews nya ampe nembus angka 40an T^T, ARIGATOU GOZAIMASU~
Terima kasih atas kesabaran dan kesetiaan kalian~
Oh ya Shera mau nanya apa cma Shera yang pas liat reviews kalian di website nya muncul tulisan 'no reviews'?
Atau FFn emang lagi error?
Dan... ada lagi yg perlu Shera sampein,
maafkan keterbatasan dan ketidakmampuan Shera kalau nantinya Shera ga bisa membalas reviews kalian personal sperti hari ini. T^T
Shera senang banyak yg reviews, tapi kalau angka reviews mencapai 60an waktu Shera akan habis untuk balas reviews aja. Jadi mohon maaf banget.
(Sepertinya Shera butuh asisten, ha ha)
Meski begitu, can you please still leave a mark (review)?
See you next chap!
Keep Trying My Best!
Shera Liuzaki
