.Akhirnya diriku update juga dari sekian lama mengutang ini fic abal dan gaje ini,
.Terima kasih kepada orang-orang yang mendukung saya dengan review-annya untuk segera update chapter ini: AnnKei,Saqee-chan,Lhynhatake,vaneela,Agusthya,KairinMeilin,Sukie 'Suu' Foxie,dan YamanakaemO
.Mohon maaf atas keterlambatan (sangat) saya meng-update. Semoga di chapter ini, saya berharap tidak membuat kalian kecewa.
Oke guys. Happy reading. DON'T LIKE DON'T READ.
.
Disclaimer: Om Masashi Kishimoto
.
Rated: T
.
Pair: Ino, Shikamaru,Sai
.
I Miss You
.
Next.. Chapter 2:
"Maaf apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Shikamaru heran. Ino pun tersentak akan pertanyaan Shikamaru. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari pelukan Shikamaru yang tadi menangkapnya. Ia lupa bahwa ia sedang dalam keadaan menyamar sekarang. Saatnya diberaksi.
"Ah... kurasa tidak." Katanya melempar senyum manisnya. Tapi bodohnya Ino telah melempar senyum itu, senyum khas seorang Yamanaka Ino yang membuat Shikamaru semakin mencurigainya.
"Tapi kau tadi menyebut namaku... bagaimana kau tau namaku?" tanya Shikamaru selidik.
"Tentu aku mengenalmu, kau kan artis terkenal, Nara Shikamaru." Kali ini Shikamaru menghela napas. Kalau dipikir-pikir memang benar juga alasan gadis itu. Agrr... bodohnya ia menanyakan hal itu kepada gadis di depannya ini.
"Kau bukannya salah satu dari wartawan tadi?" tanya Shikamaru santai. Ino mengangguk pelan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Ino menatap Shikamaru heran. Apakah dia ingin aku mewawancarainya? Batin Ino
"Maksudmu?"
"Sudahlah lupakan." Kata Shikamaru lalu duduk di bangku taman dan langsung memejamkan mata. Ternyata dia tidak berubah, batin Ino. Ino memutarkan badan berniat pergi untuk mencari Sai. Padahal ia tahu, ini adalah kesempatan yang bagus untuk mewawancarainya akan tetapi entah mengapa iya belum ingin tugasnya cepat selesai.
Krekk..
"Aduhh..." Tiba-tiba Ino jatuh ketanah, padahal baru saja ia berjalan satu langkah dari tempat ia berdiri tadi. Shikamaru yang mendengar rintihan Ino pun membuka matanya.
"Oi... kau tidak apa apa?" dengan nada datarnya
"Ah.. aku tidak apa apa kok... aduh." Shikamaru memutar bola matanya, melihat Ino yang berusaha berdiri.
"Sini aku bantu... merepotkan."
"Eh..." tiba-tiba Ino merasa tubuhnya melayang dari permukaan tanah. Shikamaru menggendongnya kembali kedalam pelukannya, yang membuat Ino dapat mencium aroma maskulin dari lelaki yang dulu... tidak.. bukan dulu tapi selamanya hingga sekarang yang selalu ia sayangi, itu semua membuatnya teringat kembali akan masa-masa mereka dulu. Tak terasa rona merah tipis mewarnai pipi mulusnya.
Shikamaru menggendong Ino menuju sebuah kolam jernih dengan air mancur yang indah. Lalu ia meletakan Ino di pinggir kolam dan melepas sepatu Ino.
Plung.
Suara air saat Shikamaru memasukan kaki Ino ke dalam kolam. Ino mengigit bibir bawahnya.
"Tahanlah! Rasa sakitnya hanya sebentar." Ino mengangguk mengerti.
Beberapa detik kemudiam ia merasakan nyaman dikakinya walaupun masih terasa sedikit sakit. Ino malah memainkan kakinya di dalam air.
Hening.
.
.
Keheningan terjadi di antara mereka berdua. Ino benci hal ini. Ayolah dia adalah gadis periang. Dia benci keheningan.
"Hmm... Shikamaru-san..-"
"Shikamaru... panggil aku dengan nama itu."potong Shikamaru. Ino pun hanya tersenyum mendengarnya.
"Baiklah... Shikamaru... sampai berapa lama kau akan duduk diam sambil tidur disitu?" kata Ino terkekeh. Berlahan mata Shikamaru terbuka. Lalu menatap Ino datar.
"Sampai kau mau beranjak dari situ dan kau mau kuantar pulang." Kata Shikamaru santai. Sontak Ino kaget mendengarnya lalu terkekeh.
"Bukankah kau tak suka hal yang merepotkan?" tatap Ino selidik. Shikamaru mengenyitkan dahinya. Bagaimana dia tahu? Batin Shikamaru. Tapi dia berusah menyembunyikan keheranannya dengan memasang muka datar.
"Aku hanya ingin bertanggung jawab atas kakimu itu. Aku tadi yang menabrakmu jadi aq hanya ingin bertanggung jawab. Walaupun aku tau itu adalah hal yang merepotkan." Kata Shikamaru yang tak selalu lepas dari kata 'Merepotkan' alanya.
"Tapi aku rasa kau tak perlu melakukan hal itu. Aku bisa pulang sendiri." Katanya tersenyum. Sungguh sebenarnya ia inggin sekali Shikamaru mengantarnya pulang, tetapi itu sama saja membongkar identitasnya sebagai Ino Yamanaka yang sedang ia sembunyikan sekarang.
"Hmm... kalau itu maumu baiklah." Shikamaru bangkit dari duduknya. Mata Ino pun tertuju pada lelaki tegap itu.
"Aku harus pergi sekarang sebelum para wartawan itu datang. Dan maaf..." Ino menatap mata onxy itu
"..."
"Aku belum tau siapa namamu nona?"
"Oug aku I.. Itana Yorou."
"Yorou? Marga yang aneh?" Ino hanya dapat mengangkat bahu atas perkataan Shikamaru.
"Well... bagaimana pun Itulah margaku." Sungguh kali ini rasanya ia ingin tertawa melihat akting bagusnya.
"Baiklah Itana... aku-.."
"Shikamaru-kun~.." tiba-tiba muncul gerombolan terlihat dari jauh memanggil namanya
"Shikamaru-san kau disitu ya." Kata salah satu dari mereka yang melihat Shikamaru.
"Gawat.. aku harus pergi." Tanpa pamit Shikamaru pun langsung pergi meninggalkan Ino. Ino pun terkekeh melihat sikap Shikamaru. Kasihan dia padahal, Inolah yang menyuruh Shikamaru menerima tawaran menjadi seorang aktor.
-Flashback-
"Jadi apakah anda mau?" tanya seorang sutradara kepada Shikamaru.
"Huaah... Kurasa aku tidak tertarik." Jawab Shikamaru setelah menguap lebar, sutradara yang mendengarnya pun menundukan wajahnya, tanda bahwa ia sedang kecewa.
"Ah... tidak kok paman, pacarku ini akan menerima tawaran anda." Shikamaru yang mendengarpun membelalakan matanya yang awalnya tinggal 5 watt terbuka seketika. Wajah sang sutradara itu pun terlihat gembira.
"TIDAKK! AKU TIDAK MAU INO!." Katanya dengan nada penekanan disetiap kata. Lalu menutup matanya kembali.
"Ayolah Shika... lagian kalo kau mau kau tidak akan bermalas-malasan lagikan. Kau akan mendapatkan kegiatan yang dapat membuat tubuhmu beraktifitas. Dan kau tidak akan lemas lagi akibat kau selalu tidur setiap saat." Keluh Ino.
"..." tak ada respon dari Shikamaru. Ia tetap memejamkan matanya. Hah~ aku harus cari cara lain, batin Ino.
" Shikamaru... kau tau bukan dari dulu aku ingin menjadi artis tapi ayah tak membolehkanku..."
"..."
"Karena aku tak bisa melakukannya... setidaknya orang yang kucintai bisa mewujudkan impianku itu, aku juga ingin kau masuk TV sebagai seorang aktor yang merupakan pacar dari seorang gadis bernama Ino Yamanaka." Ino mendekatkan dirinya ke Shikamaru lalu menyenderkan kepalanya diatas dada bidang Shikamaru.
"Dan aku akan bangga sekali kepadamu karena kau dapat melanjutkan impianku." Entah mengapa Shikamaru mersakan seperti tersihir oleh kata-kata Ino barusan. Ia pun menganggukan kepala. Ino tersenyum. Ternyata usahannya membujuk, atau lebih tepatnya merayu Shikamaru itu berhasil.
Sutradara yang melihat pun ikut bergembira akan jawaban pasti dari Shikamaru, "Terima kasih, Nona Ino dan Tuan Shikamaru."
-End Flashback-
Ino tertawa geli mengingatnya. Apa lagi saat mengingat bahwa tak ada orang yang tau bahwa ia adalah pacar Shikamaru hingga ia putus kecuali Sai.
"Kau ini aneh. Kau yang menyuruhku untuk menjadi seorang aktor agar orang-orang tau kaulah pacarku. Tapi kau malah ingin menyembunyikannya. Kau memang merepotkan, Ino." Kata-kata Shikamaru saat mendengar bahwa Ino tak Ingin orang-orang tau bahwa ia adalah pacar dari Shikamaru. Dan Ino pun hanya menjawabnya dengan cengiran kecil.
"Kau dari mana saja Ino? Aku mencarimu." Kata Sai yang tiba-tiba menghamburkan lamunannya.
"Ah... kau Sai, maafkan aku membuatmu susah." Kata Ino tulus. Sai tersenyum.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting aku sudah menemukanmu." Kata Sai terdengar lembut.
"Terima Kasih." Ucap Ino.
"Kakimu kenapa?" tanya Sai yang baru sadar akan kaki Ino yang ada di dalam air.
"Hehehe... kecelakaan kecil." Katanya dengan cengiran tanpa dosa. (?)
Sai hanya mengeleng-geleng. Dan akhirnya mereka pulang dengan keadaan Ino digendong di punggung Sai. Dan juga membantu Ino membawa barang-barangnya yang utung saja sedikit. Sai benar-benar terlihat sebagai pembantu Ino. Well, itu semua hanya dia lakukan untuk orang yang ia cinta selama ini secara diam-diam. Ino Yamanaka.
-I Miss You-
ino menjatuhkan badannya di atas kasurnya yang empuk. Dia tak menyangka bahwa ia bisa bersama Shikamaru, berdua saja dengan waktu yang bisa di bilang cukup lama. Dan di waktu itu pula secara tidak sengaja ia dapat merasakan kehangatan yang sudah lama ia rindukan.
"Shikamaru-kun." Ucapnya pelan. Sesaat mukanya memerah hanya dengan menyebut namanya. Tuhan sebesar inikah cintaku padanya?, batin Ino.
Tiba-tiba ia kembali teringat akan pekerjaan yang telah ia tunda tadi.
"Besok aku harus segera menyelesaikan semuanya." Besok adalah hari dimana akan diadakannya acara di Hotel Star Konoha yang merupakan pesta ulang tahun Temari, seorang artis yang merupakan salah satu alasan mengapa ia memutuskan Shikamaru dan pastilah Shikamaru hadir di acara itu. Walau ia tak suka, ia harus melakukan hal itu. Dia harus menyelesaikan tugasnya secepatnya atau dia akan di pecat. Besok adalah hari ujian yang berat baginya.
-I Miss You-
Keadaan hotel sangatlah ramai. Pesta di selenggarakan di tepi kolam renang yang berada di dalam hotel tersebut. Ino pun masuk bersama Sai dengan samaran yang sebelumnya ia kenakan. Ino mencari di mana Shikamaru berada, tetapi Shikamaru tak ada di sekitar sini. Sesaat kemudian Shikamaru muncul bersama Temari dengan ekspresi yang tak bisa diartikan. Mereka datang dari dalam hotel. Ino membuang muka melihatnya.
Sai yang melihat sikap Ino, ia langsung mengenggam tangan Ino. Ino mengangkat wajahnya menatap Sai yang tersenyum tulus kepadanya. Ino pun membalas senyumannya. Lalu kembali menghadap Temari yang berjalan ke atas panggung untuk memulai acara. Para wartawan pun berdatangan, membuat Ino semakin sulit mendekati Shikamaru.
"Bagaimana perasaan anda terhadap Nona Temari?"tanya para wartawan. Wajah Shikamaru tampak lesu melihat betapa banyak wartawan yang berdatang dan memberinya pertanyaan yang sangat malas untuk ia jawab.
"Biasa saja. Dia hanya patner kerjaku." Jawabnya singkat
" Apakah anda akan memberikan kado spesial untuknya?"
"Hmm... aku tidak tau." Jawabnya lagi. Jawaban yang membuat semua wartawan menatapnya heran. Ayolah jangan tatap aku seperti itu, batin Shikamaru frustasi.
"Apakah anda pernah menjalani kasih sayang dengan seorang wanita." Tanya salah satu wartawan yang sempat Ino dengar. Ino pun menyimak semua jawaban Shikamaru dari pertanyaan wartawan lain.
"Pernah." Semua orang terkejut begitu pula dengan Temari dan Ino.
"Benarkah... Siapa gadis itu?"
Shit! Wartawan sialan, batin Ino. Kami-sama semoga saja Shikamaru tidak membukanya di depan orang sebanyak ini.
"Aku tidak bisa memberi tau kalian semua." Ino menghela napas lega mendengar jawaban Shikamaru. Lalu menyimak kembali perkataan Shikamaru selanjutnya. "Hubungan kami sekarang sudah berakhir. Tetapi entah mengapa aku merasakan bahwa ia selalu ada di sampingku, walaupun sudah lama kami tak saling tatap muka."
Ino tercekat mendengar jawaban Shikamaru.
"Shikamaru..." ujarnya pelan.
"Bagaimana kabar mantan anda saat ini? Apakah anda mengetahuinya?"
Shikamaru menggeleng menjawab pertanyaan itu.
"Aku tak tau bagaimana kabarnya. Tapi aku yakin dia pasti baik-baik saja tanpa aku disisinya. Entahlah sudah sekian lama aku tidak bertemu dengannya disini aku selalu merindukannya. Tapi aku tak tau apakah ia juga merindukanku." Pernyataan panjang secara lancar keluar dari mulut Shikamaru dengan jelas. Ia tersenyum tipis saat mengucapkannya. Ino yang mendengar pun, matanya mulai berkaca-kaca.
Rindu...aku rindu sekali kepadamu, jawabnya dalam hati. Yang tak mungkin di dengar Shikamaru. Entah mengapa hatinya terasa sakit mendengar perkataan Shikamaru. Perkataan yang membuktikan bahwa Shikamaru masih mencintainya. Bukan malah senang, tetapi itu membuat Ino merasa bersalah kepada Shikamaru.
"Dan aku ingin ia tau bahwa aku mencintainya dan selalu menunggunya." Kata terakhir yang di ucapkan Shikamaru.
Tes.
"Hiks." Suara kecil dari tangis Ino. Entah mengapa membuat para wartawan dan Shikamaru melihatnya. Ino merasa dirinya teracam akan identitasnya.
"Itana?"
"Maaf menganggu kalian." Ino segera pergi meninggalkan tempat dimana tadi ia berada. Shikamaru yang melihat Itana (Ino) menangis rasanya ingin sekali mengejarnya kalau tidak Temari menahannya untuk tetap disitu.
"Ikut aku!" kata Temari. Mau tak mau Shikamaru mengikuti Temari setelah ia melihat jalan yang tadi di lewati Ino pergi. Entah mengapa ia merasa tidak asing dengan suara gadis itu saat ia menangis tadi. Gadis itu menangis sama seperti suara seseorang yang dia kenal. Tapi ia tak tau siapa.
-I Miss You-
ino terus berlari sambil menangis hingga ia tak tau ia sekarang berada di mana. Sesaat ia berhenti di sebuah balkon yang di bawahnya terlihat kolam renang yang di gunakan untuk pesta.
Drrt...Drrt...Drrt
Hp Ino bergetar. Ino segera mengambil hp-nya dari saku celananya.
"Halo Sai.."
"Halo Ino... kau dimana? Tadi kau kenapa pergi begitu saja?" tanya Sai khawatir.
"Aku tidak tau aku dimana. Tapi aku berada di balkon diatas kolam renang. Cobalah kau berdiri di sisi kolam renang!" Sai yang mendengar pun segera berjalan ke sisi kolam renang. Ino yang diatas pun melihatnya.
"Coba kau lihat ke atas." Sai pun mendongakkan kepalanya, terlihat Ino yang sedang tersenyum menampakkan gigi putihnya.
"Hai Sai." Katanya melambaikan tangan ke bawah. Sai tersenyum dah menghela napas lega. Lalu menutup hp-nya.
"Turunlah Ino!" kata Sai. Yang di jawab anggukan kecil dari Ino.
Ino pun segera berjalan mencari tangga turun, tapi entah mengapa ia ingin jalan-jalan di balkon ini sebentar saja. Di balkon itu terdapat banyak sekali pintu kamar yang di dalamnya pasti sangat mewah. Ino berjalan melewati pintu demi pintu. Dan tanpa di sengaja ia melihat sekilas bayangan disalah satu kamar yang pintunya terbuka. Ia pun penasaran akan bayangan siapa yang di dalam.
Deg.
Jatung Ino berhenti berdetak. Pintu terbuka lebar. Di depannya terlihat jelas Shikamaru sedang berciuman dengan Temari.
Tes.
Air mata turun membasahi pipinya dengan deras. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Shikamaru." Seru Ino. Shikamaru pun menarik badannya dan menjauhkan dirinya dari Temari karna tau ada orang yang melihatnya.
"Itana... kenapa kau disini?" Shikamaru berjalan mendekat ke Ino.
"Kau bohong." Ino berjalan mundur.
"Kau kenapa?"
"Kau bohong... aku benci..." Ino semakin menangis menatap Shikamaru.
"Shika... dia siapa?" Ino terus berjalan mundur hingga bersandar di pagar yang sepertinya akan lepas. Shikamaru masih menatap Ino heran. Ia tak asing dengan raut wajah itu. Tiba-tiba ia sadar akan sesuatu.
"I...Ino... kau kah itu?" tanya Shikamaru mendekat. Ino pun semakin berjalan mundur tetapi tertahan oleh pagar, ia bersender di pagar itu membuat pagar itu tak kuat menahan beban.
Crekk.
"INOO!" teriak Shikamaru
Shikamaru membelalakan mata begitu pula dengan Temari. Tiba-tiba Ino jatuh dari balkon itu karna pagar sudah tak tahan menompang tubuhnya. Ino kaget dan berteriak, membuat Sai kembali menoleh ke atas.
"I...Ino." mata Sai pun terbelalak melihat Ino jatuh.
BYUURRRR...
.
.
TBC
Bagaimana? baguskah? jelekkah?
aku rasa ini lebih jelek dari chapter sebelumnya. Yang ini hancur malah.
Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan yang sangat lama ini.
Mohon harap maklum karna saya sibuk akan ujian saya. dan maaf apabila banyak typo, peletakkan kata, atau hal lain yang salah karna saya tak sempat meng-edit
Arigatou minna yang sudah membaca.. tolong beri saya kritik dan saran.. semua akan saya terima dengan lapang dada.
Di mohon untuk...
R
E
V
I
E
W
