Takkan Kulepas

Sinopsis: Kyoya Hibari bukanlah herbivora yang takut akan perpisahan. Tetapi, bertemu dengan seorang remaja yang selalu tersenyum sendu dapat merubah segalanya. 1827 –AU-

Bab 2: Alasan.

"Reborn!" Giotto belum pernah merasa sesenang sekarang pada saat penasehat utamanya pulang dari misi panjang di Italia. Ia langsung menghampiri pria tinggi berjas sangat rapi dengan fedora yang serasi. "Ada apa?" Reborn bertanya pada muridnya yang terlihat terlalu senang dengan kepulangannya. Biasanya, si pemuda pirang itu akan langsung menggerutu dan memintanya untuk cepat-cepat mengambil misi lain.

"Dia… Tsunayoshi…" Giotto memejamkan mata untuk menenangkan diri. Reborn langsung terlihat tertarik. Tsunayoshi Sawada adalah seorang yatim-piatu yang dia temukan di tengah peperangan mafia. Orang tuanya terkena tembakan nyasar dan meninggal di tempat. Reborn menemukan Tsuna yang masih berumur tujuh tahun menangis sambil dipeluk ibunya yang sudah meninggal.

"Ada apa dengan bocah itu?" Reborn tertawa kecil. "Dia… kabur…" Giotto menjawab dengan hati-hati.

Reborn terkesiap selama beberapa detik, tetapi langsung kembali tenang. "Lalu? Apa yang dia ambil?" Ia bertanya sambil menyeruput kopi yang sejak tadi dipegangnya. "Bagaimana kau…?" Giotto bertanya. "Bocah itu tidak akan pergi tanpa membawa apappun." Reborn menjawab singkat. Tentu saja dia kesal, tetapi dia tidak akan menunjukkannya.

"Dia membawa data-data tentang peristiwa 'Hujan Badai'." Giotto menjawab, tetapi terlihat tidak mengerti mengapa Sawada yang begitu patuh dan imut dapat melakukan sesuatu yang begitu gila seperti mencuri data milik organisasi Vongola-nya.

"Tsuna…" Reborn bergumam pelan. Ia menggertakkan gigi-nya. "Apa yang harus kita lakukan, Reborn?" Giotto bertanya. Pertanyaan yang begitu sering ia layangkan pada Reborn. "Tsunayoshi adalah pengumpul informasi yang handal. Ia tahu banyak soal Vongola. Lebih banyak dari sebagian besar anggotanya malah" Si pemuda pirang terlihat begitu menyesal. Seandainya… seandainya dia dapat mencegah Tsuna…!

"Tsuna mungkin agak lamban dalam berpikir," Reborn menaruh kopinya di meja dan menyilangkan tangannya. "Tapi dia tidak bodoh. Aku akan mencarinya. Jangan biarkan siapapun kecuali orang-orang penting tahu tentang kepergiannya. Bilang saja dia ada misi atau apa." Reborn menundukkan kepalanya untuk berpikir.

"Aku akan mencarinya," Reborn berkata singkat.

"Reborn, apa kau gila?" Giotto terlihat begitu terkejut. Mencoba mencari Tsunayoshi Sawada, pengumpul informasi dan mata-mata terhebat di Vongola, bagaikan mencari jarum di tengah jerami. Remaja yang terlihat begitu imut dan… rapuh itu kadang terlihat begitu normal sehingga tidak banyak orang yang dapat menemukannya jika ia memutuskan untuk bersembunyi.

"Aku tidak gila. Dan, siapa yang paling mengerti dia di Vongola? Aku yakin tidak ada yang mengerti dia seperti aku mengerti dia." Reborn menjawab dengan nada percaya diri yang membuat Giotto merasa agak kesal. Dia sendiri juga dekat dengan Tsuna, tetapi dia tidak pernah mengerti si remaja mungil seperti Reborn mengerti dia.

Tsuna adalah eksistensi yang sangat disayangi oleh semua orang di Vongola. Namun, selepas dari senyumannya yang selalu terlihat sendu dan tertahan, tidak ada lagi yang mereka ketahui.

Reborn mengetahui alasan kenapa Tsuna memiliki senyum yang begitu memilukan hati. Oleh karena itu semua orang mengakui bahwa Tsuna menyukai Reborn lebih dari semua orang.

"Aku juga-!"

"Tidak bisa."

Giotto menggertakkan giginya. Tetapi Reborn tidak terlihat terganggu. "Kau adalah bos. Kau akan tinggal disini dan memastikan tidak ada orang lain selain aku dan mungkin sahabat-sahabatmu tahu bahwa Tsuna kabur dari Vongola. Jika orang-orang tahu… kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?" Reborn menatap mata Giotto dengan sorotan mata tajam.

Giotto menghela napas panjang. "Ya," Jawabnya setelah mendapatkan kembali ketenangannya. "Ya, aku mengerti." Giotto mengangguk, tetapi suaranya masih terdengar kesal.

"Sudah seharusnya." Reborn menyeruput kopinya lalu berdiri. "Mau kemana kau?" Giotto bangkit dan bertanya. "Bukan urusanmu, Gio-bodoh." Reborn meninggalkan kantornya tanpa basa-basi lagi.


"Hey, Reborn, kau tahu kota Namimori?"

"Memangnya kenapa dengan kota itu, Tsuna-bodoh?"

"Jangan panggil aku bodoh…"

"Aku bisa memanggilmu apa saja yang aku mau, Tsuna-bodoh."

"Hmm. Kota itu adalah kota kelahiranku. Satu-satunya tempat yang kuingat dengan jelas dari kehidupanku sebelum aku bertemu denganmu."

"Eeeeh? Aku ingin kesana suatu saat nanti."

"Ke-kenapa?"

"Aku ingin tahu kota seperti apa yang dapat membesarkan seseorang menjadi sebodoh kau ini, Tsuna."

"Ja-jangan panggil aku bodoh!"


Kyoya dengan santai menyandarkan bahunya ke jendela rumahnya. Ia memperhatikan bulan purnama dengan sorot mata dingin. Sejak ia bertemu dengan si herbivora lemah yang bernama Tsunayoshi Sawada dua hari yang lalu, pikirannya tidak pernah bisa tenang.

Nama Tsunayoshi Sawada sendiri tidak terdapat di data penduduk Namimori yang dimilikinnya. Walaupun Kyoya menilai bahwa si remaja berambut cokelat itu mungkin adalah pengembara dilihat dari pakaian yang digunakannya, ia tetap merasa kesal.

"Kyo-san…"

Kyoya melirikkan matanya ke arah bawahannya, Tetsuya Kusakabe. Pria berambut regent itu adalah adik kandung manajer yang bekerja di restoran favorit Kyoya. "Pengumpul informasi yang anda minta sudah tiba." Ia mengumumkan dengan nada suara formal. Kyoya menyeringai dan bergegas mengambil tonfa yang sudah lama tidak ia gunakan. Ia berjalan menuju ruang tamu dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.

Tetsuya menghela napas, ia tahu bahwa Kyo-san pasti akan merusak barang-barang jika bertemu dengan 'dia'. Tetapi, ia tetap membukakan pintu.

"Yo, Kyoya!"

"Aku akan menggigitmu sampai mati, bronco."

Dalam seketika meja tamu dan beberapa matras terlempar dari tempat asalnya. "Hey, hey, hey! Begitukah cara seorang murid menyambut guru yang sudah dua tahun tidak ditemuinya?" Bronco tertawa kecil sambil menangkis serangan tonfa milik Kyoya dengan cambuknya. "Aku tidak pernah menganggapmu guru, bronco." Kyoya berkata dingin, tetapi sorot matanya penuh keinginan untuk bertarung.

"Sayang sekali, tapi aku tidak kesini untuk bertarung denganmu, bukan?" Bronco mengayunkan cambuknya ke pipi Kyoya yang langsung memar. Kyoya menerjang bronco dengan tonfa-nya, tetapi gagal karena bronco langsung mengayunkan cambuknya dengan kuat ke arah tonfa Kyoya hingga keduanya terpental. Bronco langsung mengejangkan cambuknya dan mendorong Kyoya hingga jatuh, bronco langsung menggunakan cambuknya untuk mengamankan leher Kyoya. "Masih terlalu cepat untukmu dapat mengalahkanku. Tapi, kau berkembang. Apa kau latihan terus di Tokyo?"

Kyoya tidak menjawab. Bronco tertawa lalu bangkit untuk duduk. "Jadi, apa maumu?" Ia bertanya sambil menerima teh yang Tetsuya sodorkan setelah keributan yang terjadi. "Apa yang kau inginkan dari Dino Cavallone, sang penjual informasi?" Dino menambahkan dengan bangga. "Data tentang seseorang." Jawab Kyoya singkat. Ia juga mengambil teh yang disiapkan oleh Tetsuya.

"Petarung?"

"Bukan, penduduk sipil."

"Hmm? Jarang kau meminta data tentang penduduk sipil. Biasanya kau lebih meminta tentang petarung-petarung kuat." Dino terlihat tertarik. "Bisa atau tidak. Hanya salah satu dari jawaban itu yang kubutuhkan." Kyoya menjawab dingin. "Tentu saja bisa. Apa yang kau ketahui dari penduduk sipil ini? Sejak kau meminta data, itu berarti kau tidak tahu banyak, bukan?"

"Hanya nama," Kyoya menyeruput tehnya lalu meletakkannya di lantai. "Hmm?" Dino semakin penasaran dengan identitas penduduk sipil yang dicari muridnya yang bisa dibilang haus darah setiap waktu.

"Tsunayoshi Sawada."

Dino hampir memuntahkan tehnya. "Kenapa?" Kyoya bertanya tajam. Ia juga menyadari reaksi Dino yang begitu janggal. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa." Dino menggosok mulutnya yang basah dengan sapu tangan berwarna oranye terang. "Bisa kan?" Kyoya bertanya lagi. "Ya, tentu saja." Dino bangkit untuk berdiri.

"Kyoya," Dino yang tadinya sudah beranjak untuk pergi menoleh ke arahnya. "Sebaiknya kau tidak berbuat apa-apa bahkan setelah kau tahu siapa dia sebenarnya." Dino terlihat serius, sesuatu yang jarang Kyoya lihat.

"Sebaiknya kita tidak bertemu lagi, Hibari-san."

"Bukan urusanmu, bronco." Hibari beranjak dari ruang tamu dengan ekspresi kesal. Ia menyadari dari reaksi bronco yang terlihat mengenali Tsunayoshi Sawada tadi. Bukan urusan bronco, bukan urusan siapapun jika Kyoya ingin bertemu dengan si remaja bermata cokelat hangat itu.


Dino melompati pagar rumah muridnya dan berjalan meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa langkah, Dino menoleh dengan ekspresi gelisah.

"Ada urusan apa Kyoya dengan orang Vongola?"


Selesai~

Reviewnya boleh boleh~ Flame-nya boleh~ terserah deh~

~Chiri-tan