Disclaimer : cerita ini punya Rafiz Sterna. Semua tokoh yang muncul milik Masashi Kishimoto.
Warning : OOC, AU, garing, typos, dan lain-lain.
Chapter 2 : Anak Baru
.
.
.
Hari ini akan menjadi salah satu hari, awal Impressive Person mendapatkan masalah.
.
.
.
Tibalah saat. Dimana tangan Tuhan ikut campur sebelum sifat dan kekuasaan mereka semakin menjadi-jadi.
.
.
.
Kelas berjalan seperti biasa. Aku berusaha mengalihkan pikiranku bahwa aku tidak pernah sekelas dengan manusia yang bernama Sasuke dan 1 sekolahan dengan 3 makhluk lain yang merupakan manusia ter-absurd yang pernah ku temui dikehidupanku.
Anko sensei masuk ke kelas sesuai jadwal biasa di pagi ini masih dengan usahanya menempatkan make up setebal mungkin guna membohongi dunia mengenai umurnya yang tak terbilang muda. Hari ini mimik wajahnya sedikit berbeda dari kemarin-kemarin. Karena ekspresi wajahnya terlalu bahagia untuk manusia seumurannya yang sudah tentu memiliki segunung masalah.
Anko sensei mengabarkan berita untuk kelas kami dengan pengantar yang cukup dramatis.
"Kalian akan dapat teman baru. Dia pindahan dari Paris, Prancis. Orang tuanya adalah pengusaha sukses. Dan kakak perempuan-nya adalah seorang pemain violin dunia. Keponakan dari pengusaha game terbesar di negara ini. Namanya Sabaku Gara. Mari kita sambut, Gara."
Perempuan di kelas ini, termasuk aku, langsung terpana, terhipnotis, ternganga-nganga dan bahkan mungkin bisa saja meleleh ketika melihat makhluk tampan bernama Gara ini. Tampan. Kulitnya tidak seperti orang luar negeri yang aku perkirakan karena dia berasal dari Paris dan namanya tak lazim di pakai jika dia memang berasal dari negeri itu.
Kulit Gara putih pucat namun terang dan bersih. Badannya tinggi, tidak terlalu berisi tapi tidak kurus kering mirip pecandu narkoba seperti Naruto, meski Naru bukan pecandu narkoba.
"Gaara, Anko sensei. Bukan Gara,"
Bisiknya pelan pada Anko sensei memperbaiki kesalahan nama yang di lakukan guru barunya. 'Ada huruf A ekstra dinama itu,' batin Gaara berucap. Namun Anko sensei berpura-pura tak mendengar.
"Nah, anak-anak sekarang kita dengarkan Gara memperkenalkan dirinya."
Ujar Anko sensei lembut. Sesuatu yang terdengar tak biasa pada guru yang terbiasa meneriaki muridnya. Anko sensei agaknya terpesona sejak Gaara didaftarkan di sekolah ini. Entah karena ketampanannya atau karena dia berasal dari keluarga yang kaya raya.
"Hai~,' kata Gaara sambil mengangkat tangannya sebatas telinga. "Maaf, koreksi sebelumnya. Perkenalkan, Sabaku Gaara. Gaara dengan huruf A double bukan dengan satu huruf A. Aku anak kedua. Kaa-san dan Tou-san tinggal di Paris karena perusahaan ada di sana. Tapi anak perusahaan ada juga di sini, jadi Tou-san sering ke Jepang. Aku tinggal bersama Jii-san di Tokyo, karena kakak perempuan-ku melanjutkan study ke Austria. Sebelum sekolah di sini aku bersekolah di Austria menemani kakak perempuan. Itu saja, cukup deh. Semoga kita bisa menjadi teman yang baik di sini."
Gaara tersenyum, manis.
Tiba-tiba terdapat sekumpulan lebah di kelasku. Semua Perempuan begitu berisik membicarakan tokoh baru, Gaara. Walaupun hanya berbisik saja, mereka mampu menciptakan polusi suara yang cukup mengganggu telinga.
Entahlah, aku tak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Mungkin terpesona akan ketampanan Gaara yang look a like pangeran yang dideportasi dari kerajaan langit. Atau mungkin membicarakan kemungkinan bagaimana keadaaan Impressive Person setelah kedatangan orang baru yang kemungkinan akan menjadi buah bibir dan mungkin mengalahkan kepopuleran geng yang sudah berkuasa sejak awal kedatangan mereka.
Sedangkan para laki-laki menatap Gaara dengan raut wajah tak terbaca. Termasuk Sasuke. Apa yang tengah ada di pikirannya? Melihat calon duri dalam menggenggam 1 sekolahan dibawah kibar nama Impressive Person. Gaara jelas akan menjadi buah bibir di sekolah, sedikit banyak akan mempengaruhi popularitas mereka. Apa yang akan mereka lakukan terhadap Gaara? Sebuah tindakan yang ekstrim? Apakah itu? Layak untuk di tunggu.
Kawanan lebah perlahan menghilang ketika Anko sensei mulai meneriaki mereka guna melawan bisingnya kelas dengan komando untuk diam dan tenang. Sepertinya Anko sensei mulai lupa dengan karekter yang ingin dia tunjukkan ke Gaara, guru yang lemah lembut dan baik hati.
"Sudah! Jangan ribut! Baiklah anak-anak. Apakah ada yang ingin bertanya kepada Gaara?"
Ada begitu banyak tangan yang teracung ke udara. Oh, kepopuleran mulai merayapi Gaara rupanya, dimenit ke-20 dia berada di sekolah baru ini.
"Boleh minta nomor ponselnya?"
Karin, si pemain cinta meneriakkan pertayaan yang ingin diajukannya sejak dia menatap Gaara. To the point. Sok penting sekaligus mencari perhatian yang dihadiahi oleh teriakan satu kelas dan hanya ditanggapi senyum tipis Gaara.
"Gaara-san, kakak perempuannya yang pemain biola itu sudah punya pacar?"
Itu Kiba, dasar laki-laki gatel. Playboy kelas wahid seantero sekolahan.
"Gaara, suka musik apa? Aku suka Jason Mraz dan Rihanna."
Dengan senyum tersungging lebar, Ino bertanya dan puluhan pertanyaan lain –yang tak penting- tak terdengar tertelan teriakan lain yang berebut mencapai pendengaran Gaara. Dan Anko sensei kehilangan kendali untuk mempertahankan dirinya dalam peran sebagai sensei yang baik hati, lembut cantik jelita dan tak banyak tanya.
Gaara memegangi kepalanya yang tak terasa gatal sebelum akhirnya mulai bicara.
"Pertanyaan kalian banyak sekali. Nanti sambil jalan saja aku jawabnya, aku kan sekolah di sini. Kalian bisa menanyainya kapan-kapan saja. Tapi tidak rombongan seperti ini."
Populasi dikelasku mulai terperosok makin dalam ke dalam pesona seorang Gaara.
"Yang aku ingat saja yang aku jawab sekarang. Keluarga ku berkomunikasi dengan bahasa Jepang meski Tou-san dan Kaa-san tinggal di Paris. Karena jarang ke Paris, aku malah lebih menguasai bahasa Inggris. Pacar belum punya. Nomor ponsel, nanti aku berikan. Soal kakak perempuanku, dia memang tidak punya pacar, namun sudah bertunangan dan bulan depan akan menikah di Austria, makanya aku pindah ke Korea. Soal Jii-san, beliau memang direktur perusahan game terbesar, memang tidak punya anak, tapi cucunya bukan hanya aku saja, jadi aku bukan yang paling di sayang. Terakhir, soal hobi, aku suka cosplayer tokoh perempuan."
Gaara tersenyum lagi.
Namun seluruh kelas bergeming. Kalimat terakhirnya membuat seluruh kelas di lingkupi kesunyian. Menggemparkan. Si keren, tampan, dan kaya ini ternyata mempunyai penggemar cosplayer anime, tokoh perempuan.
.
.
.
Terbukti di beberapa jam berikutnya di sekolah, Gaara bertingkah seperti tokoh perempuan di anime yang sering aku lihat ditelevisi. Berjalan dengan anggun, senyum seadanya, dan menggunakan manner seorang putri kerajaan. 'Aku tengah memerankan Lucy Heartfilia, tokoh Fairy Tail itu loh.' Mau dijelaskan seperti apapun aku tak tahu.
Sial, wajahnya yang sepertinya terlalu pucat ditambah rambutnya yang terang benderang itu malah mendukung aksinya. Terlintas dibenakku, merasa gagal sebagai sosok peremuan nyata yang sepertinya kalah populer dari yang palsu.
Sebenarnya, berat hati ini mau percaya. Bisa saja kan itu suma akal-akalan anak baru. Siapa tau dia sengaja. Barangkali dia adalah anak orang sinting yang tidak pernah ada sekolah hendak menerimanya karena ternyata dia adalah psikopat yang punya 10 kepribadian yang bisa berganti setiap jam, salah satunya adalah jati dirinya adalah seorang cosplayer. Padahal sebenarnya itu kepribadian jejadian miliknya.
Apa?
Aku kan hanya berspekulasi.
Tapi, semua itu cuma perkiraan yang mampir selama 5 menit. Semua selesai ketika Gaara memberikan alamat akunnya setelah diminta -atau bisa dikatakan dipaksa memberikan- makin gegerlah semuanya. Di sana terlihat foto-foto, bagaimana seorang Gaara berpose selayaknya tokoh kartun dengan wig panjang yang sukses membuatku merinding. Dia laki-laki, tapi kenapa bisa begitu cantik?
.
.
.
Bagaimanakah reaksi Sasuke and the gank, Impressive Person?
.
.
.
Mari kita saksikan percakapan mereka pada suatu malam sepulang dari bioskop. Tanpa pacar, tidak ada penggemar, tidak ada fans, tidak ada pengikut. Hanya mereka berempat. Ini adalah rapat rahasia. Menyangkut masalah gawat darurat.
.
.
.
"Dia jelas kaya. Dan sepertinya lebih kaya dari Naruto."
Suara Karin memenuhi ruangan. Tersirat nada kekhawatiran di dalamnya. Jelas Karin khawatir, dia bahkan lupa memasang suffix dibelakang nama Naruto.
"Itu jelas, tak perlu di sebutkan lagi. Ayahnya memiliki induk dan anak perusahaan. Sedangkan Tou-san nya Naruto hanya direktur anak perusahaan."
Suara Sasuke menegaskan. Sedangkan Naruto agak gelisah di tempat duduknya. 2 porsi burger dan 2 cup ramen sudah dihabiskannya sepanjang pertemuan ini.
"Anak baru itu pakai mobil apa ke sekolah?"
Pertanyaan Karin yang langsung di jawab oleh Neji, pemilik jaringan gosip terpercaya di sekolah ini. "Dia, Gaara hanya pakai motor balap. Nggak pakai mobil kayak kita, mungkin malas." Karin terbelalak tak percaya, untuk seorang anak orang kaya seperti ini tak pakai mobil agaknya mustahil.
"Apa mungkin dia tak menyimpan mobil?" Ucap tak yakin Naruto menyampaikan pemikirannya. Yang kemudian di tanggapin cepat dengan oleh pecinta pink.
"Tidak. Dia punya. Setelah melakukan penyelidikan, memang ada 3 mobil di garasi rumahnya. Mercedess e-class, audi berwarna putih dan satunya Ferarri."
"Kupikir dia sengaja." Sasuke angkat bicara.
"Dia tidak ingin terlalu teridentifikasi sebagai orang kaya dan diklasifikasikan kesana. Tidakkah kalian perhatikan? Dia menolak dikatakan bersekolah di Prancis dan menyebut dirinya menemani kakak perempuannya di Austria hanya sementara walaupun sempat bersekolah di sana, menolak dikatakan istimewa karena status Jii-san nya, ke sekolah hanya menggunakan motor. Apa lagi jika bukan kesengajaan?"
"Dan yang paling menyakitkan, dia penyuka cosplay!"
Karin mengucapkannya dengan nada kecewa yang jelas dan ketiga temannya menimpali dengan nada sedih yang sama.
"Jadi bagaimana? Mengabaikan dia? Anak baru itu terlalu populer untuk diabaikan. Hari ini adalah hari ketiganya di sekolah dan dia sudah mendapatkan 12 surat cinta, bro~"
Nada keputusasaan serta iri mencuat dari Naruto yang jelas-jelas merasa tersaingi sebagai nominasi laki-laki penerima surat cinta terbanyak musim lalu.
"So, kita ambil dia atau abaikan dia?"
Sasuke memandang semua membernya, member Imperssive Person yang terancam ke eksistensiannya.
Naruto mengangkat tangan pertama, "Kita masukkan dia kedalam geng kita tapi perlahan dan pasti kita paksa dia untuk meninggalkan hobi yang mengerikan itu. Bagaimana?"
Tanpa di komando semua satu suara, "Sepakat!"
.
.
.
TBC
.
A/N :
Mohon kritik dan sarannya atas pengerjaan ff ini.
Terima Kasih.
*bow
