Always Connected by naminazeela
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Naruto x Hinata, Sasuke x Sakura, and other
Genre : Friendship and Romance
Warning : AU, typo mungkin, penempatan tanda baca tidak sesuai, OOC mungkin, mainstream, terlalu banyak percakapan dan kekurangan lainnya.
Summary :
Setelah setahun bersama di kelas 1-1, kini mereka harus berpisah kelas di tahun kedua mereka. Akankah persahabatan mereka tetap terjalin?/Kita akan tetap saling terhubung,'kan?
My First Fic
Enjoy~ :)
Chouji kembali mengambil keripik kentang yang masih tersisa di dalam tasnya. Keripik kentang yang tadi sudah ditamatkan oleh Lee, sedangkan Neji dan Gaara hanya bisa menganga melihat Lee memakan sesemangat itu. Sedih juga, serasa diberi harapan palsu oleh Chouji. Sudah dipastikan di kelas ini tidak ada yang menyenangkan, termasuk menyelamatkan uang saku mereka.
"Chouji, sebelumnya kau bilang kau sudah kenyang." Lee yang berada tepat di samping kiri Chouji dan di depan Neji memandang Chouji dengan mata bulatnya yang semakin bulat. Bukan, dia bukan ingin meminta keripik kentangnya Chouji lagi. Dia hanya menarik kembali pemikirannya tadi kalau Chouji bisa kenyang, ternyata itu tidak akan pernah ada di kamus manapun.
"Rasanya tidak menyenangkan kalau tidak ada yang mengganjal mulutmu." Jawab Chouji lalu membuka bungkus keripik kesayangannya.
Neji dan Gaara? Hanya berharap sang wali kelas cepat masuk.
"Ohayou, minna!" Suara gebrakan pintu terdengar di telinga murid-murid kelas 2-1. Guru macam apa yang membanting pintu saat memasuki kelas?
"Hey, dimana semangat masa muda kalian?!"
Oh, iya ada. Maito Guy.
Kalau begini 'kan baik Neji maupun Gaara, tidak akan berharap ada wali kelas yang masuk.
"OHAYOU, GUY-SENSEI!" Lee mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu melambaikan tangannya ke arah Guy. Guy yang melihatnyapun bangga 'anak'nya ada di sini.
"Lee! Ternyata kau ada di kelas ini, nak!"
"Tentu saja, sensei! Kita tidak akan pernah terpisahkan!"
'Siapapun, tolong skip bagian ini!' Neji membatin histeris.
"Sensei, bisa kita mulai perkenalannya?" Gaara akhirnya mengangkat suara karena murid lainnya hanya menatap lelah drama di hadapan mereka saking biasanya disuguhkan adegan seperti ini.
Guy yang sedari tadi hanya berdiri di depan kelas dan bertatapan rindu dengan Lee akhirnya tersadar. "Ehem…" Batuk kecil untuk menghilangkan kecanggungannya. "Baiklah, apa belum ada yang mengenal sensei?"
Hening.
"…"
Guy memandang seluruh anak didiknya yang ada di kelas ini. Ekspresinya sama saja, datar, sekalipun itu Chouji yang diam-diam menyantap keripik kentangnya. Hanya ada Lee yang terlihat bersinar.
"Namaku Maito Guy. Guru olahraga kalian sama seperti saat kalian kelas 1. Tahun ini aku mengajar di kelas 2. Dan aku menjadi wali kelas kalian! Jadi, mohon kerjasamanya, ya!" Guy mengangkat jempolnya tinggi-tinggi.
Merasa tidak ada respon Guy kembali menurunkan tangannya. Dia juga bingung mau bicara apa lagi melihat ekspresi semua muridnya ini. 'Murid kurang ajar.' Pikir Guy geram.
"Baiklah kita langsung saja membentuk struktur organisasi kelasnya, ya. Ada yang mau mencalonkan diri menjadi ketua kelas?"
"…"
Guy sweatdrop di tempat. "Baiklah, Lee-"
"Tidak, sensei!"
Semua murid menoleh ke arah suara. Ternyata orang itu tidak mempunyai alis, maksudku, berambut merah maroon dan memiliki lingkaran mata seperti panda.
Gaara tiba-tiba celingak-celinguk sendiri entah apa yang dipikirkannya. Sekarang atensinya tertuju pada Neji. "Neji, sensei! Dia yang akan menjadi ketua kelas! Benarkan?!" Ucapnya semangat. Neji menatapnya horror, mana mau dia menjalankan tugas semerepotkan itu.
"Apa maksudmu, bodoh?!" Neji berbisik sambil tetap menatap Gaara seseram mungkin.
"Sudahlah terima saja! Kau mau Lee yang menjadi ketua kelas?!" Gaara balas berbisik.
"Tapi kenapa harus aku?!"
"Karena hanya kau yang cocok!"
"Kenapa tidak kau?! Bukannya cita-citamu menjadi wali kota?!"
"…"
Chouji yang ada di depan mereka berdua melotot. 'Benarkah Gaara bercita-cita seperti itu?' Batin Chouji prihatin.
Lee, Guy, dan murid-murid yang lainnya hanya bisa memandangi mereka berdua cengok. Neji dan Gaara terlihat sedang membahas sesuatu. Setelah sekian lama berbisik, akhirnya Gaara berdiri.
"Aku yang menjadi ketua kelasnya, Guy-sensei."
Gaara mengeluarkan suara paling keren miliknya, sekalian tebar pesona. Dan benar saja, murid-murid wanita di sana memekik tidak jelas sambil berkata. "Setuju, sensei!"
Guy bungkam, harapannya menjadikan murid kesayangannya ketua kelas pupus sudah. Tapi mau bagaimana lagi, keputusan terbanyak yang harus diambil, 'kan? Walau hanya siswinya saja yang setuju.
"B-baiklah. Sudah ditetapkan Gaara ketua kelasnya. Jadi Gaara, kau yang selanjutnya mengatur organisasinya. Aku ada urusan." Ucap Guy memberikan cengiran terbaiknya pada Gaara dan cengiran perpisahan kepada Lee sebelum meninggalkan kelas.
Gaara menghela nafas pasrah untuk kedua kalinya hari ini. Berkorban sedikit untuk kelas tidak apa-apa 'kan? Daripada kelas ini akan 'tamat' di tangan Lee. Nantinya juga dia kalau jadi walikota memiliki tanggung jawab besar. Eh, benar jadi walikota?
Pemuda beriris jade itu maju ke depan kelas lalu mengambil spidol di atas meja. Dengan badan yang disandarkan pada meja guru dan kaki yang ditekuk sebelah. "Jadi, siapa sekretarisnya?"
Semua wanita di sana pun mengangkat tangannya.
'Poor Matsuri.' Batin Neji.
Pemuda pencinta anjing itu masih dag-dig-dug tidak karuan. Shino benar-benar hebat dalam urusan merusak jantungnya. Saat Kiba iseng meraba-raba kolong mejanya, dia malah menemukan semacam kotak kecil transparan yang atasnya terbuka. Saat melihat isinya Kiba langsung memekik kaget. Wajar saja, di dalamnya terdapat serangga koleksi Shino yang selalu dibawanya kemanapun. Dan saat ditanya Shino hanya menjawab, "Aku kira itu mejaku." Kiba sangat mengakui itu jawaban terkonyol yang pernah dilontarkan oleh Shino. Dan Kiba spontan berteriak "Kukira otakmu sepintar Shikamaru!" yang dengan sukses membuat Shino pundung di pojokkan.
"Kupikir Shino sedang merajuk, Kiba-kun." Kekasih dari pemuda itu memandang Shino khawatir. Kiba melirik sekilas ke arah Tamaki lalu ke arah Shino.
Kiba sebenarnya sudah biasa, Shino 'kan memang ngambekan.
"Sebentar lagi juga baikan. Tidak akan berlangsung lama, Tamaki-chan." Jawab Kiba sambil menyisir rambutnya dengan tangannya, entah apa tujuannya. Mungkin biar lebih tampan.
Tamaki tertawa kecil melihatnya. Kiba yang heran langsung menoleh. "Kenapa tertawa?"
Gadis itu tertawa lagi. "Tidak, Kiba-kun lucu."
Kiba menoleh begitu saja dibilang lucu oleh Tamaki. Melihat ekspresi gadisnya itu membuatnya merasa berada di awang-awang.
Bunga-bunga cinta bermekaran.
Tenten menghela nafasnya. Melihat adegan di hadapannya kadang membuatnya iri. Beginilah nasib orang yang menyandang predikat jomblo setelah sekian lamanya. Untungnya Tenten masih memiliki banyak teman sesama jomblo. Kalau tidak mungkin bisa dipastikan Tenten adalah jomblo paling mengenaskan yang dikelilingi oleh pasangan-pasangan yang tengah dilanda asmara.
"Sudahlah, cukup berbunga-bunganya." Gadis bercepol dua itu memandang bosan sepasang kekasih di hadapannya. Mungkin saja kalau Tenten hanya diam sedari tadi mereka akan masuk ke tahap selanjutnya.
Kiba yang sedang berbunga-bunga karena habis dibilang lucu oleh sang kekasih menatap Tenten kesel. 'Cewek ini memang menyebalkan.' Batin Kiba tidak senang.
"Kalau kau iri bilang saja. Oh, ya. Kau harus merubah penampilanmu lebih feminim sedikit. Neji tidak akan mau dengan gadis tomboy sepertimu." Ucap Kiba.
Tenten yang mendengarnya tiba-tiba saja wajahnya memerah. Antara marah karena tidak terima dibilang gadis tomboy –walau itu memang kenyataannya– dan malu karena tiba-tiba saja Kiba menyebut-nyebut nama Neji.
"A-apa maksudmu?!" Tenten berhasil melayangkan protesnya sesaat sebelum seorang wanita paruh baya memasuki kelas mereka.
"Ohayou, minna." Sapa sang guru cantik tersebut.
"Ohayou, sensei." Jawab seluruh murid serentak.
Wanita cantik itu berjalan dengan anggun ke mejanya, menaruh tas yang selalu dibawanya lalu duduk di bangkunya. "Baiklah. Di sini saya yang akan menjadi wali kelas kalian. Mungkin sebagian dari kalian ada yang belum mengenal saya. Nama saya Yuuhi Kurenai, guru seni yang akan menjadi wali kelas kalian." Ucap Kurenai. 'Tak berselang lama wanita itu kembali berbicara. "Saya akan langsung menunjuk ketua kelasnya. Inuzuka Kiba?"
Kurenai mencari sang pemilik nama setelah melihat nama itu di daftar absensi siswa. Alis pemuda pemilik nama itu terangkat. "Eh, aku?"
"Ya, kau. Aku serahkan selanjutnya kepadamu. Semuanya, tolong hargai Inuzuka-san sebagai ketua kelas, ya. Guru ada rapat, jadi aku harus segera pergi." Ucap sang guru lalu mengucapkan salam perpisahan dan kemudian keluar kelas sebelum Kiba sempat melayangkan protesnya
Ya, kalau begini Kiba tidak dapat menolak. Siap-siap saja kelas ini berakhir dengan indahnya di tangan Kiba.
"Selamat, ya, Kiba-kun." Tamaki tersenyum senang mengetahui kekasihnyalah yang menjadi ketua kelas mereka.
Kiba sebenarnya keberatan menjadi ketua kelas, pasti tugasnya banyak dan tanggung jawabnya juga besar. Tapi kalau disenyumin oleh Tamaki setiap hari 'kan dia bakal semangat.
"Selamat, ya, Kiba-kun." Kiba mendelik ke arah seseorang yang meniru nada bicara kekasihnya, siapa lagi kalau bukan Tenten. Gadis paling menyebalkan menurut Kiba. Pasti Tenten tidaklah senang Kiba yang menjadi ketua kelasnya. Hanya berstatus teman sekelas saja Tenten sudah sebal sendiri, apalagi sekarang sebagai ketua kelasnya. Tenten tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Kalau kau tidak senang, pergi ke kelas Neji sana." Ujar Kiba sinis. Pemilik rambut coklat itu langsung dihadiahi jitakan di kepalanya.
"Kenapa kau selalu membahas Neji?! Memangnya sudah pasti aku menyukainya?!"
"Cih. Dari gayamu saja aku sudah tahu."
Tamaki hanya memandangi bergantian kedua orang yang tidak pernah akur itu. Hah, mau bagaimana lagi. Dilerai juga tidak ada gunanya.
Sedangkan Shino? Dia merajuk lagi karena Kiba yang terpilih menjadi ketua kelas. Shino 'kan juga mau.
"Apa sebegitu buruknya? Kurasa tidak, itu wajar saja jika seorang gadis menyukai laki-laki." Ucap gadis bercepol empat itu tidak setuju.
Selama ini, sih, Temari tahunya Sakura benar-benar menyukai Sasuke. Kalau dilihat dari perjuangan gadis itu dari semasa mereka masih menduduki bangku sekolah menengah pertama, Temari sudah bisa menebak kalau Sakura benar-benar tulus. Hanya saja Sakura terlalu frontal, menunjukkan terang-terangan kalau dia menyukai Sasuke.
Entahlah kalau Ino. Temari masih belum bisa menyimpulkannya.
Tapi kalau disuruh memilih, Temari lebih setuju hubungan Sasuke dengan Sakura. Gadis itu sudah berjuang sangat keras, 'kan? Sasuke sangatlah bodoh kalau menolak gadis yang sudah sekeras itu berusaha mendapatkan pujaannya, begitulah yang dipikirkan Temari. Memangnya mengejar seseorang itu mudah? Kalau dilihat dari semua rintangan yang dilalui Sakura –termasuk Ino- saja gadis itu masih bisa bertahan, sudah dapat dipastikan seberapa besar gadis itu mencintainya.
"Kau yakin kedua orang itu benar-benar menyukai Sasuke? Mana ada orang yang secara terang-terangan menunjukkan rasa sukanya seperti itu, seperti Hinata misalnya." Tanya Shikamaru sambil menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya.
"Jangan samakan Hinata dengan Sakura atau siapapun. Setiap orang 'kan penyampaiannya berbeda. Menurutku itu wajar, apalagi orang itu tidak punya urat malu seperti Sakura dan Ino." Pendapat Temari sambil tertawa renyah.
"Kau juga tidak punya urat malu." Ujar lelaki jenius itu yang langsung mendapat tatapan kau-ingin-cari-mati?! dari Temari. "Eits… iya-iya. Aku 'kan hanya bercanda."
Tatapan Temari tiba-tiba berubah sendu. 'Kalau saja aku memang seperti Sakura, sudah dari dulu aku mengungkapkan perasaanku padamu.' Batinnya prihatin dengan dirinya sendiri.
Gadis berambut coklat di samping Temari menghela nafasnya. Membiarkan 'pasangan' yang dianggapnya paling serasi itu mengemukakan pendapatnya masing-masing. Lagipula untuk apa membicarakan kisah cinta orang? Temari dan Shikamaru saja belum berani mengungkapkan perasaannya masing-masing.
"Selamat pagi, semua."
Perbincangan mereka semua terhenti saat guru mereka sudah tiba di kelas. Guru yang selalu membawa rokoknya kemana saja itu menyandarkan tubuhnya di meja guru.
"Aku wali kelas kalian. Namaku Sarutobi Asuma. Mungkin sebagian sudah ada yang tahu, aku guru fisika. Sekian perkenalannya." Jelas Asuma singkat. "Untuk ketua kelasnya…bagaimana kalau kau, Shikamaru?"
Shikamaru mengangkat wajahnya saat mendengar namanya disebut. "Kenapa harus aku?"
"Setahuku kau murid terpintar di angkatan ini. Jadi, mungkin kau bisa menangani kelas ini dengan baik. Kuharap kau mau."
Shikamaru menghela nafasnya. Tahun lalu di kelas satu juga dia menjadi ketua kelas dengan alasan yang sama –karena mendapat nilai tertinggi saat test masuk. Walaupun menurutnya itu merepotkan, mau tidak mau Shikamaru harus menerima nasibnya sebagai ketua kelas.
Pemuda berambut seperti nanas itu menoleh ke arah Sasuke meminta pendapat. Sasuke hanya mengendikkan bahunya. Lalu ke arah Matsuri, gadis itu tersenyum mengiyakan. Selanjutnya Temari, perasaan Shikamaru tidak enak. Dan benar saja, Temari menatapnya seakan-akan berkata 'Kalau kau tidak mau, aku akan membunuhmu.'
"Baik, sensei." Shikamaru akhirnya mengiyakan permintaan Asuma. 'Ya, daripada dibunuh Temari dengan kipas besarnya.'
Temari langsung tertawa dengan jahatnya yang langsung juga diberi tatapan heran dari seluruh murid di kelas itu.
"Ck, merepotkan." Dengus Shikamaru sebal.
"Baiklah, Shikamaru. Kuserahkan padamu." Asuma keluar kelas begitu saja setelah berkata seperti itu.
"Wah, senangnya. Shikamaru menjadi ketua kelas lagi." Ucap Matsuri tersenyum lebar.
"Ya, dan aku mencalonkan diriku sebagai sekretarismu lagi, Shikamaru." Temari berucap yang langsung membuat Shikamaru menelan ludahnya.
'Matilah aku.'
Dan Sasuke hanya mampu menggelengkan kepalanya. 'Shikamaru yang malang.'
Semua murid di kelas 2-4 hanya memangku wajah bosan. Kenapa? Karena guru yang dinanti-nantikan sejak tadi tidak kunjung datang.
"Aku bertaruh kalau wali kelas kita Kakashi-sensei lagi." Ucap Sakura lemas.
Ino mengangguk setuju. "Kurasa kau benar."
Naruto menghela nafasnya mendengar ucapan Sakura. Tidak bisa membayangkan dua tahun di bawah naungan Kakashi bersama buku terlarangnya. 'Tidak apa-apalah dengan Kakashi-sensei lagi. Yang penting ada Hinata. Hehehe…' Naruto tertawa dalam hati.
"Kau kenapa, Naruto?" Tanya Sai heran melihat Naruto tertawa sendiri.
Manik biru laut Naruto melirik Sai lewat sudut matanya. "Kenapa denganku?" Tanya Naruto ketus. Masih kesal dengan Sai.
"Kau baru saja tertawa sendiri tadi." Sai menatap Naruto polos yang membuat Naruto makin kesal, apalagi ditambah kenyataan dia baru saja tertawa sendiri tadi.
"Aku tidak ingat aku tertawa sendiri." Ucap Naruto kemudian menenggelamkan kepalanya di antara dua tangannya, berusaha menutup telinga agar tidak mendengar apa yang akan Sai katakan setelah ini.
"Sudah kuduga kau gila, Naruto."
Untung Naruto sudah menutup telinganya.
"Sstt… Hinata." Panggil Sai.
Naruto yang samar-samar mendengar Sai memanggil Hinata menajamkan pendengarannya.
"Ada apa, Sai-kun?" Suara lembut itu mengalun dengan indah di telinga Naruto. 'Cih, apa itu Sai-kun?' Inner pemuda pirang itu tidak senang Hinata menambahkan embel-embel –kun di belakang nama Sai. Padahal kalau dipikir-pikir Hinata memang menggunakan suffix –kun untuk semua lelaki yang sudah dekat dengannya.
"…"
"…"
Naruto mengernyitkan keningnya dalam diam, kenapa tidak dilanjutkan perbincangannya? Pemuda yang dilanda penasaran itu mengangkat wajahnya, memandangi bergantian Hinata dan Sai yang juga sedang memandangi Naruto lekat. Naruto mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Tanya Naruto.
"Apa maksudnya, 'apa itu Sai-kun'?" Sai balik bertanya membuat Naruto heran.
'Apa suara hatiku terdengar?' Pikir Naruto heran.
Tunggu, kalau tadi saja Naruto tertawa dalam hati dan tidak sadar kalau dirinya benar-benar tertawa, berarti…
"Apa aku mengucapkannya?!" Sai dan Hinata hanya diam, bingung apa maksud 'apa aku mengucapkannya' yang sudah jelas Naruto ucapkan.
'Oh, Kami-sama. Jangan sampai aku juga mengucapkan apa yang aku batinkan pertama tadi.' Batin Naruto sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tentu saja yang ini tidak terucap oleh Naruto.
Sai dan Hinata semakin tidak mengerti ada apa dengan Naruto.
"Baiklah, aku yang akan mengurusnya!" Sakura tiba-tiba saja bangkit sambil menggebrak mejanya yang sukses membuat seisi kelas tersentak kaget.
Gadis berambut sewarna bunga musim semi itu maju ke depan kelas dengan langkah kaki yang tidak elit. Ino menutup sebelah wajahnya dengan satu tangan, apa Sakura tidak bisa lebih feminim sedikit saja?
"Karena wali kelas kita tidak datang-datang, aku yang akan mengurusnya. Siapa yang ingin mengajukan diri sebagai ketua kelas?" Sakura berucap galak di depan kelas. Mungkin sudah tidak tahan lagi menunggu wali kelasnya.
Dan seperti biasanya, tidak ada yang mengangkat tangan.
"Baiklah akan aku pilih kandidatnya." Sakura mengambil spidol yang tersedia di atas meja guru lalu menulis nama Naruto di papan tulis.
Naruto yang melihatnya tentu saja tidak terima. "Hey, Sakura-chan! Kau yakin menulis namaku? Kelas ini bisa hancur, lho, berada di tanganku."
Sakura menoleh mendengar perkataan Naruto. 'Benar juga, kelas ini bisa hancur kalau ketua kelasnya Naruto.' Pikir Sakura.
Gadis itu membalikkan badannya mencari seseorang yang kira-kira pantas untuk dijadikan kandidat. Sekilas Sakura melirik Sai, tapi itu tidak akan jauh beda dengan Naruto. Sepasang emerald indah Sakura menatap seseorang di ujung kelas. "Kau, yang di sana. Siapa namamu?"
Pemuda yang ditunjuk oleh Sakura tersentak kaget mendengarnya. "Aku? Aku tidak mau. Kenapa tidak kau saja? Kupikir kau bisa bertanggung jawab."
"Aku setuju!" Ino tiba-tiba saja mengeluarkan suaranya.
"Hey, kau ini apa-apaan? Aku ini perempuan, ketua kelas itu harusnya laki-laki." Tolak Sakura. Apa kau tidak sadar semua tatapan di kelas seperti menyiratkan sifatmu-memang-seperti-laki-laki, eh, Sakura?
"Siapa bilang seperti itu? Ketua OSIS saja bisa perempuan. Masa' ketua kelas tidak bisa?" Sanggah Ino tegas. Ino tiba-tiba saja bangkit dari duduknya. "Siapa yang setuju jidat –ehm, maksudku Sakura ketua kelasnya?"
Pemuda yang ditunjuk Sakura tadi mengangkat tangannya paling bersemangat. Diikuti oleh murid yang lainnya perlahan-lahan. Dan hasilnya seisi kelas mengangkat tangannya. Ino tersenyum puas.
Gadis berambut pink itu menghela nafasnya. Ini akan menjadi berat, Sakura.
"Baiklah. Aku yang akan menjadi ketua kelasnya." Ujar Sakura pasrah. "Dan kau Hinata menjadi sekretarisnya."
Hinata tersentak saat namanya disebut. Namun akhirnya gadis itu mengiyakan. "H-ha'i."
Tiba-tiba saja pintu kelas terbuka, menampakkan pria bermasker berambut silver yang memegang sesuatu di tangannya.
"Apa yang kau lakukan di sana, Sakura?" Tanya pria bernama Kakashi itu.
Seisi kelas sweatdrop. Perkiraan Sakura ternyata tepat kalau wali kelas mereka adalah Kakashi-sensei. Dan wali kelas mereka datang tepat setelah organisasi sudah terbentuk.
"Aku ketua kelasnya, sensei." Ucap Sakura tanpa berekspresi, masih dalam mode sweatdrop.
"Jadi kalian sudah membentuk organisasi? Bagus sekali. Kalau begitu aku hanya tinggal perkenalan-"
"Ahahaha…" Sakura tertawa renyah. "Tidak perlu Kakashi-sensei. Semua murid di sini pasti sudah mengenal sensei, iya, 'kan teman-teman?" Sakura menatap seisi kelas dengan senyum paksanya yang paling lebar. Semua murid menganggukan kepalanya.
"Ah, itu lebih bagus lagi. Sebentar lagi ada rapat, aku harus segera pergi. Kuharap kau menangani kelas dengan baik, Sakura." Ucap Kakashi terakhir kalinya sebelum meninggalkan kelas.
"Selamat bersenang-senang dengan bukumu, sensei!"
"Tamaki-chan! Ingin menghampiri kelas yang lain?"
Saat ini sudah waktunya istirahat. Jadi Tenten mengajak Tamaki menghampiri teman wanitanya yang lain. Kalau di kelas ini terus 'kan bosan, yang dilihat wajah Kiba lagi.
"Boleh, ayo, Tenten-chan!" Ujar Tamaki semangat. Dia tidak sabar ingin menceritakan pada yang lain kalau kekasihnya menjadi ketua kelas. Ceritanya bangga, gitu.
Ngomong-ngomong tentang Kiba, Tamaki sempat melihat wajah kekasihnya itu tampak muram. Tapi dia urungkan niatnya untuk bertanya karena Tenten sudah menariknya duluan.
Tenten dan Tamaki berjalan ke kelas 2-3. Namun saat sudah sampai di sana mereka malah mendapati kelas tersebut sudah tidak ada muridnya sama sekali. Jadi mereka berlanjut berjalan ke kelas 2-4 dan menemukan semua teman-temannya sudah berkumpul di sana.
"Hinata-chan!" Tamaki berteriak senang mendapati sahabatnya masih duduk di tempatnya dan seketika langsung memeluk Hinata. "Kita tidak sekelas lagi. Aku merindukanmu."
"Kita 'kan bisa bertemu di luar kelas, Tamaki-chan." Hinata membalas pelukan Tamaki.
"Oh, hanya Hinata yang dirindukan. Kami tidak. Cukup tahu, ya, Tamaki." Temari berujar sinis, pura-pura marah pada Tamaki.
Tamaki malah semakin mengeratkan pelukannya. "Aku juga merindukan kalian, kok. Tapi lebih merindukan Hinata-chan, dia 'kan yang paling normal."
Ow, Tamaki tengah membuka pagar kandang singa.
Tapi untungnya mereka sudah biasa dibilang seperti itu. Jadi, ya, mereka menerimanya dengan lapang dada.
Naruto yang sedang menyaksikan aksi peluk-memeluk Tamaki dan Hinata menopang dagunya. "Enak, ya. Tinggal nyosor gitu meluknya. Aku 'kan juga mau meluk Teme."
Tentu saja itu bohong. Naruto 'kan maunya meluk Hinata.
"Menjijikkan. Pergi sana!" Ucap Sasuke geli.
Naruto langsung pundung. Ditolak seperti itu rasanya seperti ditolak gadis, padahal Naruto belum pernah menyatakan perasaannya pada siapapun. "Ini 'kan kelasku." Gumamnya lirih. Coba saja bayangkan kalau kau diusir oleh orang lain di kelasmu sendiri.
BRAK!
Kira-kira seperti itulah bunyinya.
"Hello! Kiba datang!"
Naruto yang mendengar nama Kiba langsung semangat. Kalau Kiba pasti tidak akan menyakiti hatinya seperti Sasuke. "Yo, Kiba! Naruto di sini!"
Dan di sinilah Tenten mulai merasa dia harus segera pergi dari sini. Kiba, dipertemukan dengan Naruto.
"Ah, bagaimana kalau kita ke kantin? Aku sudah lapar, nih." Tenten langsung saja menarik tangan Sakura dan Matsuri keluar kelas. Dan dengan kekuatan jiwa laki-lakinya Sakura dan Matsuri tidak dapat memberontak.
Kiba yang melihatnya jadi geram sendiri. Kenapa sih Tenten sepertinya begitu membencinya? Apa salahnya? "Kau harusnya menghormati ketua kelasmu!" Namun semuanya terlambat, Tenten berhasil keluar kelas bersama dua pendampingnya.
"Kau menjadi ketua kelas, Kiba?" Tanya Shikamaru sangsi.
"Ya, begitulah. Kurenai-sensei yang tiba-tiba memilihnya. Aku hanya bisa menerimanya saja." Jelas Kiba.
"Begitu, ya. Aku juga menjadi ketua kelas lagi. Itu tugas yang merepotkan. Apalagi sekretarisnya…" Shikamaru melirik sebentar ke arah Temari memastikan kalau gadis itu tidak akan mendengarkan pembicaraannya. "…perempuan itu lagi."
"Maksudmu Temari?" Tanya Naruto.
Shikamaru hanya menganggukan kepalanya singkat.
"Bukankah itu bagus? Kau bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengannya, bukan?" Tanya Sai yang dari tadi hanya menjadi pendengar setia pembicaraan mereka.
Tiba-tiba saja wajah Shikamaru memerah. Sungguh, sangat tidak Shikamaru sekali. "Ya, uhm…tapi kalau harus disiksa setiap hari dengannya itu 'kan merepotkan. Kau seperti tidak tahu perempuan saja."
Tapi kalau disiksanya dengan gadis yang kau sukai, beda lagi ceritanya.
"Ketua kelasku saja Sakura-chan." Naruto berucap enteng.
"Sakura? Kenapa bisa?" Sasuke kembali mengeluarkan suaranya.
"Ya, begitulah. Tanyakan saja langsung pada orangnya." Jawab Naruto sambil memperhatikan raut wajah Sasuke. 'Kok ada yang beda, ya?'
Ino hanya bisa memperhatikan sekelilingnya. Hinata dan Tamaki masih bercengkrama sedari tadi, Temari sudah menyusul Tenten dan lainnya. Jadi dengan terpaksa dia mendengar percakapan anak lelaki yang sama sekali tidak asyik menurutnya.
"Hinata, Tamaki. Aku ke kantin duluan, ya." Ujar Ino pada kedua sahabatnya itu. Namun tangannya tidak sengaja menyenggol pulpen yang ada di mejanya.
"Ish… pakai jatuh segala." Ino menggumam kesal, ia langsung berdiri dengan menghentakkan sebelah kakinya dan berniat mengambil pulpennya.
Saat Ino membungkuk untuk mengambil pulpennya, tiba-tiba saja ada tangan lain yang juga menyentuh pulpennya.
Orang itu…
"Sai?"
Sepasang aquamarine dan onyx itu saling berpandangan mengagumi keindahan mata lawan mainnya masing-masing.
"Ow…" Pekik Kiba dan Naruto melihat adegan di depannya. Shikamaru dan Sasuke hanya melihatnya datar. Berasa sedang melihat tayangan di televisi yang sering ditonton oleh ibunya.
Ino langsung saja mengambil miliknya dan segera berdiri. "Ehm… terimakasih sudah berniat mengambilnya. Ahh… aku harus segera ke kantin. Jaa…" Ino memberikan senyuman termanisnya lalu segera melenggang pergi.
Sedangkan Hinata dan Tamaki hanya tersenyum kecil melihatnya. Kalau dilihat-lihat mereka cocok juga, ya? Sama-sama tidak pernah berpikir dulu kalau mau bicara, hihihi…
"Kalau yang aku lihat di televisi, biasanya yang seperti itu sebentar lagi jadian." Kiba tertawa lebar setelah mengatakannya.
"Kita tinggal menunggu traktirannya saja." Timpal Naruto ikut tertawa juga.
Sai malah memamerkan senyum palsunya. "Jomblo sepertimu memang hanya menunggu traktiran saja, Naruto."
Naruto kembali pundung di tempatnya. 'Aku lagi yang kena.' Batin Naruto meratapi nasibnya. Jomblo itu 'kan nasib.
Tapi kalau kau berusaha, nasib bisa diubah, bukan?
Kelas tiba-tiba saja hening. Hanya tersisa tujuh orang di dalam kelas itu. Semuanya saling berpandangan seolah-olah berkata 'Kok, sepi?'
Karena suasana tiba-tiba berubah canggung, Tamaki mengajak Hinata menyusul yang lain ke kantin.
"Kiba-kun, aku ke kantin duluan, ya." Ucap gadis itu pada sang kekasih. Kiba hanya menganggukan kepalanya. "Ayo, Hinata-chan!"
Namun tiba-tiba saja Naruto menyenggol buku yang terletak di mejanya membuat Hinata terpekik kaget. Dengan kalimat datar, "Eh, jatuh," beserta badannya yang mulai terangkat Naruto berniat mengambil bukunya sambil diam-diam melirik Hinata.
Shikamaru dan Sasuke yang tidak peka dengan modus yang dilancarkan Naruto pun spontan mengambil bukunya, disertai juga oleh Naruto yang mengira bahwa Hinatalah yang akan mengambil bukunya.
"Ow…" Kiba langsung memekik dengan kencang melihat adegan di depannya. "Apakah ini yang dinamakan cinta segitiga?"
Kiba tertawa lebar melihat tatapan polos Shikamaru dan Sasuke serta ekspresi kecewa dari Naruto. Hinata yang memang tadinya sudah berniat mengambil buku Naruto hanya memandangi ketiga orang yang sedang bertatapan itu, begitu pula dengan Tamaki.
"Kita hanya tinggal menunggu traktirannya saja." Kini pemuda berkulit pucat di sebelah Kiba berujar sembari tersenyum puas dapat membalaskan dendamnya.
Pemuda pirang yang sudah kesal itu dengan tidak sopan menarik bukunya dari genggaman Shikamaru dan Sasuke. Duo jenius itu hanya berpandangan tidak mengerti apa yang terjadi dengan Naruto.
'Sialan yang berkata dua orang itu jenius. Hanya hal seperti itu saja tidak peka, cih.' Umpat Naruto dalam hati. Kenapa hari ini banyak sekali yang membuatnya kesal?
Sesegera mungkin Naruto menaruh bukunya kembali di mejanya dan dengan cepat merangkul bahu Hinata. Gadis yang diperlakukan seperti itu hanya menoleh kaget dengan balutan rona merah di kedua sisi wajahnya.
"Tamaki, Hinatanya aku bawa, ya!" Teriak Naruto tanpa mempedulikan pekikan protes dari Tamaki.
"N-naruto-kun, kita mau kemana?" Tanya Hinata gugup karena saat ini Naruto sedang merangkul bahunya. Hinata hanya merasa risih saat siswa dan siswi lain menatap mereka dengan tatapan menggoda karena dikira pasangan baru.
"Kau maunya kemana? Ke kantin? Ke perpustakaan? Ke halaman belakang? Atau ke toilet juga boleh." Jawab Naruto enteng sambil tetap menatap lurus ke depan, tidak memperhatikan wajah Hinata yang sudah memerah sempurna sekarang.
"K-ke t-toilet?" Gumam Hinata pelan. Kalau diperhatikan sih wajah Naruto tidak menunjukkan ia mau melakukan 'sesuatu'. Tapi wajar saja 'kan kalau Hinata berpikir kemana-mana? Maksudnya, apa yang akan gadis pikirkan ketika lawan jenisnya mengajaknya ke toilet?
Dan, oh. Semoga saja Neji tidak mendengar, ya, Naruto.
TBC
Aku updatexD
Ada yang tau kenapa aku bikin kiba tenten berantem terus?.-.
Bales review dulu yah..
Lyon Vastia : review kamu baru nyampe udah aku ganti ko yang salah^^ kan udah dikasih tau temen aku:p makasih udah baca dan review^^
Misti Chan : duo kiba naruto, ya? kasih tau ga, yaxD kalo disatuin nnti berisikxD aku jg meleleh nihhxD masa sih? ahh jadi ngefly:p makasih udah baca dan review^^
muttaqinozil : sudah kulanjut^^
quilazla : sudah ya^^
Gakarian : terimakasih^^ hmmm, kalo ada shikatemanya gabakal bosen koxD terimakasih sudah menunggu dan mereview^^
kyoka : terimakasih^^ sudah kulanjut yaa…
mc-kyan : untuk saat ini belum ada ya sasusakunya._. tenang chapt depan aku fokus sasusaku koxD hmm disini terjawab ga matsuri sama siapa?xD gabakal aku delete ko, terimakasih sudah baca dan mereview^^
ssl : hmm gimana ya, agar konfliknya ringan aja nntinya^^ btw kalo ga-je gausah dibaca ya^^
isabellastefani64 : aku sama sekali ga berniat jadiin fic komedi sihxD tapi kalo readers terhibur aku seneng:) aku jga naruhinalovers ko hehe, tapi saat ini aku fokus friendshipnya dulu ya^^ terimakasih sudah membaca dan mereview^^
lavender sapphires chan : iya nih semangat direview sama kamu^^ tau yah ko naruto bisa gombal gitu? hahaha terimakasih reviewnya^^
Yami No Be : sudah kulanjuut^^
Yurika-chan : terimakasih^^ sudah kulanjut yaa…
gaara-bias : authornya juga kece#plak hehexD makasih ya reviewnya^^
Byakugan no Hime : gabakal aku sia-siakan ko^^ terimakasih sudah mereview^^
mxtcha : jujur aja aku sama sekali ga berniat mengemis review atau menulis demi review, aku nulis untuk dibaca, jadi kalo readersnya banyak aja aku seneng^^ tapi maaf kalau kamu terganggu, aku hanya author pemula yang mencoba memasuki dunia perfanfican:' jadi aku memang butuh review untuk masukan.. tapi aku mengerti maksud review kamu^^ terimakasih banyak, ya^^ aku gabakal kek gitu lagi dan menghargai karyaku ko^^
noviitakarai : terimakasih^^ aku juga suka banget naruhina^^ tunggu pair canon lainnya yaa^^
Sasusaku lovers? tunggu chapt depan^^
