.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Fantasy/Action/Humor/Hurt-comfort
Warning : T rate/Typo(s)/Au/Short multi chapter
Main Pair : SasoSaku/Slight SasuSaku
Story by Akatsuki Ren
.
Dear Vampire
Chapter 1
.
Semenjak kejadian itu setiap sepulang sekolah Sakura selalu mengeluarkan uneg-unegnya kepada Sasori. Siapa yang sangka pemuda angin-anginan itu ternyata adalah pendengar yang baik dan bisa dengan mudah berempati kepadanya. Sakura juga selalu bisa merasa jauh lebih tenang setelah bercerita pada Sasori. Perlahan-lahan dia mulai bisa melupakan Sasuke, tapi sekarang dia mendapatkan masalah besar! Ya, dia kembali jatuh cinta tapi kali ini dia jatuh cinta pada Sasori!
"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang Ino? Aku bingung!" Sakura seperti biasa selalu curhat pada Ino mengenai masalahnya, terutama hal yang berhubungan dengan asmara.
"Aku ini heran denganmu. Belum ada sebulan kau putus dari Sasuke, tapi kau sudah jatuh cinta lagi dan parahnya kau jatuh cinta pada orang yang sering kau jadikan tempat curhat! Itu namanya pelarian, jidat!" balas Ino pajang lebar sambil menoyor jidat Sakura dengan jari telunjuknya yang lentik.
"Tapi... Aku tidak bisa menolaknya! Dia baik dan perhatian. Dia juga bisa sangat mengerti keadaanku!" Sakura cemberut menjelaskan alasan yang membuatnya bisa jatuh hati pada Sasori.
"Itu hanya perasaan suka sesaat! Setelah sadar kalau kau tidak mencintainya, kau pasti akan meninggalkan dia," sambar Ino sarkastik dan yakin kalau Sakura hanya sekedar iseng pada Sasori.
"Tapi itu tidak benar!" balas Sakura yang tidak terima kalau perasaannya pada Sasori dibilang hanya sekedar iseng.
"Tidak benar bagaimana? Dia hanya berada disaat yang tepat saat kau galau!" Ino memang benar. Sasori memang memberikan perhatian yang lebih disaat dia memang sedang membutuhkannya. Tapi, bukan itu alasan dia menyukai Sasori. Justru karena dia dapat melihat sosok lain dari Sasori itulah yang membuatnya terpikat.
"Selain itu, memangnya kau sanggup menjalin hubungan jarak jauh? Aku berani taruhan kau belum kenal sepenuhnya dengan Sasori. Iya 'kan?"
JLEB! Pertanyaan Ino benar-benar tepat mengenai sasaran dan menyadarkan dirinya kalau dia benar-benar bodoh. Selama ini Sakura memang belum pernah menanyakan apa-apa perihal Sasori, karena dia terlalu sibuk bercerita mengenai dirinya dan Sasuke juga kekesalannya saat putus dari Sasuke (oke, itu hanya hanya cerita lama).
"Kenapa kau diam, Sakura? Apa sekarang kau sudah sadar kalau yang kubilang itu benar?" Ino menatap heran ke arah Sakura yang tiba-tiba saja jadi diam dan berpikir mungkin gadis keras kepala itu sudah mengerti.
"Kau benar juga Ino! Terima kasih sudah mengingatkan aku!" gadis itu malah tersenyum lebar seperti baru saja menemukan sesuatu yang berharga.
"Hah?" Ino hanya bisa menganga melihat kelakuan Sakura yang benar-benar aneh sejak dia mendeklarasikan perasaannya sudah berpindah ke Sasori.
"Aku harus cepat-cepat pulang dan berbicara pada Sasori. Aku harus tahu gadis seperti apa yang dia sukai juga hal apa saja yang menarik menurutnya!" Sakura bergegas keluar dari dalam kelas meninggalkan Ino yang masih bengong.
"Astaga. Ternyata dia tidak mendengarkanku sama sekali... " Ino hanya bisa menarik napas dalam-dalam melihat watak teman masa kecilnya itu.
"Sudahlah. Pokoknya aku gak mau ikut campur kalau dia sampai ada masalah dengan Sasori," gumam Ino yang merasa jengkel karena semua ucapannya tidak ada yang melekat di otak Sakura.
Gadis berkuncir satu itu segera merangkul tasnya dan hendak keluar kelas untuk menyusul Sakura. Tapi niatnya itu terhenti setelah ia melihat Sasuke sedang berdiri tepat di depan pintu kelasnya.
"Sasuke? Sejak kapan kau ada di sana?" tanya Ino yang sama sekali tak menduga akan menemui pemuda itu pada jam-jam pulang sekolah.
"Sejak lima menit lalu," balas Sasuke datar seperti biasa.
"Kau kemari bukan karena ingin bertemu dengan Sakura 'kan, Karena dia baru saja keluar kelas." Ino menatap Sasuke dengan tatapan menginterogasi. Dia yakin pasti Sasuke memiliki alasan lain untuk berdiri di depan pintu kelas sendiri dengan mimik wajah seserius itu.
"Ada yang harus dibicarakan. Kemungkinan besar 'yang lain' sudah ada di sana sekarang." Pemuda itu kemudian membalikkan badan dan berjalan menjauhi kelas. Ino yang sepertinya sudah tahu maksud dari perkataan Sasuke langsung mengikuti pemuda itu dari belakang.
Malamnya Di Kediaman Haruno...
Sementara itu Sakura kini sedang asik berada di dalam kamarnya sambil menikmati secangkir teh hangat dengan ditemani laptop pink-nya. Gadis belia yang tengah kasmaran itu sedang tersenyum-senyum sendiri di depan layar laptop. Untung saja kelakuannya tidak dilihat oleh orang lain. Kalau sampai itu terjadi mungkin orang-orang akan menanyakan kewarasan gadis itu.
Sakura saat ini sedang berbicara melalui inbox dengan Sasori. Yah, pemuda itu memang selalu bisa dia hubungi pada malam hari dan mumpung malam minggu, dia berencana untuk ngobrol sampai pagi dengan Sasori dan menginterogasinya sepuas hatinya.
PinkyHead : Sasori, apa kau pernah jatuh cinta?
RedHead : Tidak.
PinkyHead : Lalu, berarti kau belum pernah pacaran?
RedHead : Pernah.
PinkyHead : Kau belum pernah jatuh cinta tapi sudah pernah pacaran? Berapa kali?
Sakura nyaris tak percaya ternyata pemuda yang disukainya lebih berdarah dingin dibanding dengan Sasuke. Jujur saja meskipun Sasuke bersikap dingin tapi dia selalu menjaga perasaan orang lain. Jadi kalau dia tidak suka dengan seorang perempuan, dia akan menolaknya atau akan memutuskannya (hal yang terjadi padanya dulu).
RedHead : 4 kali.
PinkyHead : Diantara mereka tidak ada yang kau cintai?
RedHead : Tidak.
PinkyHead : Kenapa?
Sakura sukses dibuat penasaran dengan rasa ingin tahu yang menggebu.
RedHead : Memangnya kenapa?
Putus sudah urat kesabaran Sakura. Sasori balik lagi jadi menyebalkan! Kemana sikap gentle yang dimiliki pemuda itu saat ia sedang sedih? Kalau tak ingat laptop itu dibelinya dari uang tabungannya selama tiga tahun, mungkin saat ini juga laptop itu sudah terkapar di lantai.
PinkyHead : Kau menyebalkan!
RedHead : Terima kasih
Sakura menggeram kesal. Kenapa Sasori suka sekali menggodanya seperti ini? Padahal dia sedang bertanya dengan serius tapi pemuda itu menanggapinya dengan bercanda. Sakura mogok chatting. Dia diam sejenak untuk menunggu respon dari Sasori.
RedHead : Kau marah?
PinkyHead : Sudah jelas, tak perlu ditanya!
RedHead : Oh, ya sudah. Aku log off saja, ya?
PinkyHead : Kenapa kau senang sekali membuatku marah?
RedHead : Tapi aku tidak pernah membuatmu menangis' kan?
Sakura terhenyak membaca tulisan balasan dari Sasori. Dia merasa pemuda itu mencoba untuk merayunya? Hahaha. Sasori memang benar-benar aneh. Cara merayunya pun juga aneh. Katakan saja, dia tak berbakat ngegombal!
PinkyHead : Sasori berapa umurmu?
RedHead : 19 tahun tapi banyak orang yang bilang aku ini seperti anak umur 15 tahun.
PinkyHead : Aku jadi penasaran seperti apa wajahmu? Aku ingin lihat kau itu seperti apa.
RedHead : Hn.
PinkyHead : Kau curang. Kau sudah melihat fotoku di facebook tapi kau sama sekali tidak memasang fotomu di facebook.
RedHead : Aku tidak suka di foto.
PinkyHead : Kenapa?
RedHead : Ya, tidak suka. Tidak ada alasan.
PinkyHead : Kalau begitu gambarkan rupamu seperti apa? Aku ingin tahu...
RedHead : Banyak yang bilang kalau wajahku seperti anak-anak dan... agak manis...
Sakura tertawa membaca kata terakhir yang ditulis Sasori. Manis? Astaga, dia jadi semakin penasaran ingin tahu seperti apa wajah Sasori. Apa pemuda itu benar-benar manis atau dia hanya sekedar mengada-ada hanya karena ingin menarik perhatiannya.
PinkyHead : Sasori, memangnya seperti apa gadis yang kau suka?
Sakura akhirnya memberanikan diri juga menanyakan perihal kriteria gadis yang disukai Sasori. Siapa tahu dia masuk ke dalam kriteria dan bisa berjodoh dengan pemuda itu? Hahaha. Rasa-rasanya dia jadi terlalu berharap begini.
RedHead : Aku suka perempuan yang lebih dewasa dariku. Yah, setidaknya dua tahun di atas umurku.
PinkyHead : Kenapa kau menyukai perempuan yang lebih tua?
Sakura tak bisa menahan diri untuk tak bertanya. Dia benar-benar merasa aneh kenapa pemuda seperti dia menyukai gadis yang lebih tua darinya? Jujur saja dia kurang bisa menerima prinsip Sasori yang seperti itu. Baginya laki-laki yang harus lebih tua dari perempuan, bukan sebaliknya.
RedHead : Secara pemikiran mereka pasti jauh lebih matang dan aku lebih membutuhkan perempuan yang dewasa.
PinkyHead : Lalu, bagaimana denganku?
Pertanyaan itu ditulis oleh Sakura secara spontan. Masa bodo dengan apa yang akan dipikirkan Sasori setelah ini. Dia sudah terlanjur bertanya dan penasaran. Dia harus maju terus pantang mundur, layaknya seorang pejuang.
RedHead : Hm...
Ada jeda dari kalimat Sasori. Sepertinya pemuda itu sedang berpikir di sebrang sana dan hal itu membuat Sakura menjadi tidak sabar. Apa susahnya menjawab pertanyaan seperti itu?
Sementara Sakura tengah menunggu jawaban dari Sasori. Di tengah kota Konoha terjadi kekacauan yang diakibatkan oleh mahkluk-mahkluk dari dunia bawah. Sasuke, Ino, Naruto, Kiba dan Shino tengah bertarung melawan mahkluk-mahkluk penghisap darah itu agar tidak mengganggu penduduk Konoha.
"Kita berpencar! Naruto, kau dan Kiba pergi ke kanan. Shino dan Ino kalian kejar yang lari ke arah kiri. Sementara aku akan menghadapi yang ada di sini." Sasuke memerintahkan teman-temannya untuk mencari vampir-vampir itu secara terpisah untuk memudahkan.
"Anak kurang ajar! Beraninya kau meremehkan kami!" ujar salah satu vampir kepada Sasuke yang secara terang-terangan mau melawan mereka sendirian.
"Akan kubuat kalian menyesal telah berani masuk ke dalam Konoha!" Sasuke mengeluarkan sebuah pedang bercahaya biru dari balik punggungnya. "Matilah kalian!" ucapnya seraya maju menerjang 3 vampir yang berdiri di depannya.
.
.
Kembali lagi ke Sakura. Gadis itu mulai mengetuk-ngetuk keyboard-nya pelan. Jenuh menunggu jawaban dari Sasori yang sudah berlalu sekitar 5 menit lalu.
RedHead : Kau itu...
Sakura membulatkan kedua emerald-nya dengan antusias.
RedHead : Cerewet.
Jleb! Sakura tertohok.
RedHead : Manja.
Jleb! Jleb! Kata-katanya tepat mengenai sasaran. Dia memang manja, so?
RedHead : Keras kepala.
Jleb! Jleb! Jleb! Oke, Sakura kembali menampar dirinya secara mental. Dia memang keras kepala. Tapi apa hanya dia satu-satunya mahkluk yang keras kepala di dunia ini?
RedHead : Sok tahu!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Sakura tak bisa mangkir lagi. Dia memang sok tahu, meskipun kadang ucapannya benar, tapi kadang salah juga sih.
RedHead : Menyebalkan dan..
PinkyHead : Sudah cukup, aku mau tidur. SELAMAT MALAM!
"Apa tidak ada hal bagus dariku yang dia lihat?" dengus Sakura dalam hati.
Tidak mau melihat balasan dari Sasori yang begitu pedih dan menusuk hatinya lagi. Gadis itu buru-buru mengucapkan selamat malam dan mengakhiri perbincangan mereka malam itu.
"HUAAAAA SASORI KEJAMMMM!"
Pada malam itu, Sakura sukses meratapi nasib dan semua ucapan-ucapan yang ditulis oleh Sasori (yang notabane sedang menjadi incarannya) terus terngiang dalam benak dan otaknya. Taruhan, malam itu dia tak akan bisa tidur.
Sementara Sasori, pemuda bejad yang dengan blak-blakan mengutarakan semua sifat Sakura tampak tertawa kecil di dalam kamarnya. Dia sepertinya puas melihat reaksi Sakura tadi.
" ... Dan kau menarik... " Sambung pemuda itu berbicara pada dirinya sendiri sambil tersenyum tipis.
TBC
