Warning(s)!

Shounen-AI, OOC, Alternative Universe, miss typo(s), GAJE, dll.

Rated: T

Genre(s): Friendship/Romance

Pairing: U. Sasuke x U. Naruto

.

NARUTO © Mashashi Kishimoto

.

Itsumo Anata to
by: Hikarii Hana
Special for Fujoshi Independence Day #3

.

Summary: Sekolah baru, kehidupan baru, dan...AKU yang baru SUDAH DIMULAI. Aku tak akan terikat dengan kehidupan lamaku lagi. Aku akan memulainya dari awal lagi. Ya, dari awal.

.

.

Don't Like? Don't Read!

Enjoy!

.

.

Chapter 1

"Kau kalah," kata Kak Neji datar.

Aku bisa mendengus kesal dibuatnya. Dengan beringas, aku membalik tubuhku, ia langsung saja melepas lilitan dan injakannya kepadaku. Aku memandang Kak Neji dengan kesal. Lalu berdiri dengan cepat. Kubersihkan bajuku dari debu-debu di ruangan sialan ini.

"Ck, aku nggak peduli," kataku mencoba menutupi rasa maluku karena kalah untuk yang kedua kalinya. HELL NO?

Lalu, aku berjalan ke arah Kak Neji dan berhenti saat berada di samping Kak Neji. "Terserah kau mau memasuki-ku ke klub ekskul apa," kataku sebal.

Lalu, dengan kesal dan diiringi tatapan anak-anak di ruangan tersebut aku pun berjalan keluar dari ruangan tersebut.

'Aku benci! Hari ini SANGAT SIAL!' batinku kesal. Nggak berniat menambah kesialanku, aku pun langsung berjalan pulang.

Dan, lagi-lagi, aku tak menyadari bahwa ada seseorang yang mengawasiku.

.

~oOo~

.

Chapter 2

Tsunade POV

"Aku pulang!"

"Selamat datang kembali," jawabku.

Kulihat Naruto, cucuku tersebut baru pulang. "Dari mana?" tanyaku padanya.

Bukan maksud mengekangnya, tapi aku hanya khawatir pada cucu semata wayangku ini. Karena kemarin ia pulang lama sebab ia berkelahi dengan berandalan dari sekolah tetangga.

"Dari sekolah lah, Nek. Kak Neji mengajakku berkeliling untuk mencari ekskul yang ingin kuikuti," jawabnya. Aku pun mengangguk kecil. Sedikit bersyukur juga karena ternyata kekhawatiranku padanya tidak terjadi.

Kulihat ia menaiki tangga, yah~ pasti ke kamarnya. Dengan segera, aku yang tadi sedang menonton di ruang tengah langsung pergi ke dapur. Biasalah, sebagai seorang nenek yang baik bagi cucunya yang telah menjadi anak yatim-piatu, aku harus menyiapkan makanannya, walau terkadang aku merasa terbalik,ck…

Tak beberapa lama, cucuku satu itu turun dari kamarnya dengan menggunakan kaos hitam dengan celana pendek putih. Kali ini ia tidak memakai headband anehnya itu, fiuh~ itu lebih baik.

Aku duduk di salah satu kursi, diikuti dengan Naruto. "Selamat makan," kataku padanya dan mulai menikmati menu makanan yang kubuat ini.

Tapi, kenapa tidak ada jawaban dan gerakan dari si pirang itu?

Kulirik dia sekilas sambil tetap memakan makananku. "Ada apa, boy?" tanyaku saat ia melihat datar ke menu makanan di meja makan ini. Dia membalas tatapanku padanya.

"Nek, sekali-kali menunya ramen, 'napa?" sungutnya padaku, sedikit digembungkan pipinya yang memang tembem itu—tanda kesal. Ck, kebiasan dari kecilnya itu sulit dihilangkan. Padahal sudah SMA masih saja, ckckckck..

Aku menghela nafas. "Diam. Dan, makan saja makananmu itu, boy," kataku tegas. Ia hanya memajukan bibir bawahnya dan mulai memakannya dengan tidak ikhlas. 'Dasar.'

Beberapa menit kami di meja makan dan aku pun akhirnya selesai menikmati makan siangku yang telat ini. Aku meminum segelas air putih yang ada di depanku sambil kutatap Naruto yang sedari tadi belum juga habis—setengah pun belum.

Sedikit mengernyitkan dahi saat kutatap tangannya yang susah menggerakan sumpit dan sedikit membiru itu. "Ada apa dengan tanganmu?" tanyaku setelah selesai meneguk habis air minumku.

Ia memandang tangannya, lalu dengan susah payah menyuapkan sesumpit nasi ke mulutnya. "Nggak. Tadi, aku berkelahi dengan Kak Neji," katanya santai setelah menghabiskan nasi di mulutnya.

Aku menghela nafas lelah. "Kenapa kali ini, boy? Bukannya sudah kubilang, jaga kelakuanmu," kataku.

Bocah pirang di hadapanku ini hanya diam. Ia dengan santai tetap memakan makanannya walau dengan susah payah. "Ini bukan salahku juga, Nek. Aku kan hanya bilang kalau aku tidak berminat dengan ekskul judo-nya soalnya gaya bertarung Uzumaki Naruto-ku ini lebih hebat," jawabnya.

'Hah?' batinku heran. Aku membetulkan posisi dudukku supaya nyaman, kuangkat kaki kananku ke kursi. "Boy, kau sudah kelewatan. Sikapmu, tingkahmu ini memalukan. Kenapa kau sebegitunya ingin merubah dirimu menjadi seperti ini, hm? Jadilah dirimu sendiri, boy. Itu lebih baik," jelasku padanya. Aku tahu, mungkin sudah ratusan kali aku berkata seperti itu kepada bocah ini, dan aku pun tahu dengan sangat jelas bahwa hanya penolakan yang kudapat, seperti…

"Sudahlah, Nek. Nenek sendiri sudah tahu 'kenapa'. Ini jalan hidupku yang kupilih. Kuharap Nenek nggak terlibat dalam urusanku," katanya geram.

'Sudah kuduga,' batinku lelah.

Aku pun beranjak dari kursi yang kududuki dan berjalan kembali ke ruang tengah. "Aku berharap kau sadar kalau kau sudah berbuat salah, boy," kataku padanya, datar.

.

~oOo~

.

Naruto POV

'Huft…akhirnya aku pulang juga dari NERAKA JAHANAM ini!' batinku sarkatis.

Aku berjalan di sepanjang koridor kelas sepuluh. Dalam setiap langkah kakiku yang ingin cepat-cepat meninggalkan neraka ini, aku selalu melempar tatapan sinis ke orang-orang yang kulewati dan tak sedikit dari mereka yang langsung pergi atau pun membalas tatapanku dengan tatapan sinis. Tapi, who's care? Aku hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini. Pergi ke tempat sepi untuk mendinginkan kepalaku. Sungguh! Hari ini amarahku sudah mencapai ubun-ubun.

Hei! Siapa yang nggak naik darah, coba? Masa cuma nggak ngerjain tugas, aku disuruh untuk membersihkan seluruh gudang sekolah? Unbelivebel!

Rasanya ingin kucekik guru wanita berambut ikal dengan mata merah yang aneh itu. Huh! Sial!

"Na… Naruto,"

Tiba-tiba langkah kakiku yang kuhentak-hentakan dengan tergesa-gesa langsung berhenti saat kudengar ada suara seseorang yang memanggilku. Aku pun langsung menolehkan kepalaku ke asal suara tersebut.

Kulihat di situ ada seorang gadis berambut indigo yang sedang membungkukan tubuhnya sambil mengulurkan sebuah surat berwarna biru langit dengan motif….err, love?

"Apa?" tanyaku padanya. Tasku yang sedari kupanggul di bahuku langsung kutenteng.

Kulihat dia menegakan tubuhnya, lalu menatapku dengan malu-malu. "I-ini! Mo-mohon terima su…su-surat ci…ci…cintaku ini!" katanya dengan wajah yang sudah sangat memerah.

'Su-surat…CINTA!'

Mataku langsung terbelalak kaget. Kurasa wajahku sedikit memanas karena ulahnya. 'Aduh! A-aku bingung. Aku tahu dia Hyuuga Hinata, teman sekelasku yang baik. Ta-tapi aku nggak su— cinta dia…' batinku panik.

Mataku tidak fokus. Berulang kali aku menatap dia, suratnya, dia, suratnya, dia, suratnya, dia, surat— ARGGHH! MASA BODOH!

"E-eherm… Maaf, Hinata. Aku tak bisa," kataku sok cool. Padahal aku ingin lari dari sini!

Hei! Baru kali ini aku ditembak seorang gadis. Apalagi gadis itu cantik, pintar, dan baik hati. Walau aku sebenarnya suka ma dia, tapi cuma sebagai teman~

Kulihat raut wajahnya yang sedih. Aduh! Aku nggak tega lihatnya. Rasanya ingin lari beneran.

Tapi, bukannya pergi, aku mengusap kepalanya pelan. "Ta-tapi, terima kasih," kataku padanya sambil sesegera mungkin pergi dari situ.

Rasanya aku semakin jantan! Hehehe… Buktinya, aku nggak lagi lari! Huh! Dasar Nenek. See? Keputusanku untuk berubah menjadi Uzumaki Naruto itu TIDAK SALAH!

Tapi, belum sempat aku keluar dari sekolah ini. Aku langsung dihadang oleh seorang gadis berambut pink—yang kuketahui bernama Sakura dan beberapa orang yang tidak kukenal bersamanya.

Aku berusaha menghindari gadis sok kuasa ini. Aku lagi nggak minat cari masalah, ingin ke tempat nongkrong rahasiaku untuk mendinginkan kepala.

Tapi, si gadis sok kuasa bersama dua teman lelaki dan dua teman wanitanya terus menghadangku. Dengan ketus aku pun bertanya, "apa maumu!"

Sakura menatapku tajam. "'Apa maumu?' Heh!" ulangnya. Lalu dengan tiba-tiba kurasakan sakit dan panas yang menimpa wajahku.

SHIT! APA-APAAN DIA MENINJUKU SEGALA!

"Apa-apaan kau?" tanyaku pada gadis sok ini. Kalau aku nggak ingat dia ini seorang wanita… HABIS SUDAH!

Kulihat setelah meninjuku, ia dan kawan-kawan nggak jelasnya itu pergi dari hadapanku sambil berkata, "balasan karena sudah menolak Hinata mentah-mentah."

"Cih!" Aku membuang ludahku ke sembarang tempat.

Cuma segitu aja? Hei! Aku juga nolaknya baik-baik, tahu! Aku masih punya tata karma untuk seorang wanita! Dasar sial!

Dengan langkah yang semakin kuhentak-hentakan aku pun keluar dari sekolah ini. Kubalik tubuhku menatap gerbang sekolah dengan tulisan 'Konoha Senior High School ini'. "Dasar NERAKA!" hinaku pada sekolah sial ini. Nggak peduli walau ini sekolah punya Nenek. Aku terlanjur sial dapat bersekolah di sekolah brengsek ini.

.

~oOo~

.

"Wuah!"

Bruuk!

Aku tersenyum senang dengan lebar, sesekali aku pun tertawa senang. Ini semua karena aku sekarang berada di tempat ini, danau yang berada beberapa meter dari kompleks perumahan tempat Nenek tinggal.

"Hahahahaha…" tawaku riang. Sungguh! Di sini, entah kenapa bebanku terasa hilang. Melihat mentari yang bersinar cerah terpantul di air danau yang bersih, merasakan angin sepoi-sepoi, melihat dedaunan yang terkadang berjatuhan,… AH! Pokoknya semua pemandangan yang terlihat mataku di sini SUNGGUH MENAKJUBKAN!

"Heh! Bocah, kau sudah gila ya tertawa sendiri?"

Aku yang mendengar suara berat tersebut langsung berdiri dari tempatku berbaring. Senyum lebarku yang sempat terpoles di wajah tan-ku langsung berubah sangar. Aku menatap sinis beberapa orang lelaki yang ternyata adalah murid dari SMA sebelah yang sempat kuhajar habis-habisan dua hari yang lalu. Aku masih sangat ingat, waktu itu mereka yang memulainya… aku nggak tahu kenapa, tapi hal itu sangat merepotkan, cih!

"Ada apa?" tanyaku ketus.

Kedelapan pria itu hanya tertawa nggak jelas di hadapanku. 'Cih! Tawanya bikin tanganku gatel aja,' batinku kesal.

Mereka lalu menatapku dengan bengis. "Woy! Bocah! Kami hanya menuntut balas atas apa yang kau lakukan ke kami!" bentak salah satu mereka yang berkumis, sepertinya ia pemimpin genk aneh ini.

Aku hanya tersenyum sinis. "Hei! Apa kau nggak salah? Seharusnya aku yang menuntut balas, bego! Kalian yang seenak udel bulukan kalian mengeroyokiku," kataku sinis dengan senyum kemenangan yang langsung terpampang di wajahku saat melihat mereka menggeram marah. Hahahha… Adu mulut saja masih kalah denganku. LEMAH!

Tak beberapa lama, pria berkumis—pemimpin mereka langsung berteriak, "SERANG!" Dan saat itu juga ketujuh anak buahnya besertanya langsung maju untuk menyerangku.

Pertarungan ugal-ugalan ini pun tak terelakan. Walau ini adalah pertarungan yang nggak adil yaitu 1 VS 8, tapi aku nggak kenapa-kenapa. Malah dengan mudahnya aku menghindari dan menangkis segala serangan mereka.

Tentu saja, aku nggak cuma menghindar dan menangkis. Kalau aku hanya begitu, sudah pasti…cepat atau lambat akulah yang kalah. Maka dari itu, jika ada kesempatan aku membalas serangan mereka dengan kekuatanku yang nggak bisa diremehkan ini. Hey! Aku kan cucunya Nenek Tsunade yang punya tenaga super aneh itu.

Kulihat dua diantara mereka berdelapan sudah berhasil kulumpuhkan. Sempat tersenyum lebar melihatnya.

Haa… Naruto bego! Kau lengah!

DUAGHH! Brukk! Bruukk! Bruukk!

"Uhuukkk! Uhukkk!" Aku jadi terbatuk-batuk karena mereka secara keroyokan memukul tubuhku di saat aku lengah.

Hal itu terus berlangsung, sampai-sampai aku merasa bahwa aku akan menyusul kedua orang tuaku di surga.

'Hei! Naruto bego! Memangnya kau bisa masuk surga! SADAR, BODOH! Kau mempunyai banyak dosa! NERAKA adalah tempatmu!'

Aku tersenyum sinis. Nggak kupedulikan lagi tendangan, pukulan yang sedang melanda tubuhku dengan bertubi-tubi. Kututup mataku secara perlahan. 'Ayah… Ibu… Maafkan aku, ya. Kita tetap nggak bisa bersama, ternyata,' batinku sedih. Nggak kusadari bahwa air mataku mulai mengalir. Huft… memalukan.

Tiba-tiba, samar-samar kudengar suara orang yang berteriak…

"Hei!"

Mataku terbuka sedikit dan kulihat seseorang berambut raven menghajar murid-murid dari SMA sebelah yang menghajarku tadi dengan bengis, kulihat sudah ada yang tersungkur tak berdaya. 'Sepertinya dia hebat, hahaha… Sudahlah, mataku be-rat….' Lalu aku pun pingsan dalam keadaan babak belur.

.

~oOo~

.

Sasuke POV

"Haa…"

Dengan perlahan, aku mengancingkan kembali kemeja putih yang dipakainya setelah sebelumnya mengobati luka memar di perut dan dadanya. Headband yang biasa dipakainya kuletakan manis di bufet sebelah tempat tidurku, sedangkan jubah hitam nggak jelasnya kugantung di tempat topi-topi koleksiku kugantungkan.

Aku menatap remaja pirang yang sedang terti— Oke! Terbaring di kasurku karena ia pingsan. Remaja pirang ini kuselamatkan dari anak-anak berandalan dari SMA sebelah sekolah kami.

Ia adalah Namikaze Naruto, seorang murid SMP yang dulu merengek menangis di hadapanku karena ia dituduh sebagai orang pencuri. Aku yang merasa iba saat itu padanya, memberinya sebuah headband—yang ternyata sampai sekarang masih dipakainya. Padahal headband itu adalah barang yang diberi seorang pemilik toko mainan secara cuma-cuma karena waktu itu aku selalu singgah ke tokonya.

Tapi,…itu dulu.

Sekarang, dia adalah Uzumaki Naruto. Seorang remaja bebal yang tak tahu aturan. Aku tak tahu kenapa ia bisa seperti ini padahal menurutku dulu dia adalah seorang cengeng yang… manja?

Entahlah. Tapi, aku tahu…dia terpaksa menjadi seperti ini. Bukannya sok tahu, tapi mata sapphire-nya yang sukses menarik perhatianku itu sangat jelas menunjukannya.

Walau ia memandang tajam, remeh, sinis…orang-orang di sekitarnya. Tapi, aku selalu melihat—walau sedikit— kesepian dan kesedihan di dalam mata sapphire tersebut. Hal itu selalu membuatku harus memperhatikannya ke mana pun ia pergi.

Kedengaran seperti penguntit, hn? Terserah. Aku hanya ingin tahu 'mengapa' dan aku juga ingin…

…melindunginya.


Kulihat Naruto menggeliat-liat resah di tempat tidurku. Aku pun segera tersadar dari kegiatan mengelus-elus rambut pirangnya.

Kutatap lekat wajah tan-nya yang tidak hanya dihiasi dengan luka garis seperti kumis kucing yang sudah di situ sejak sebelum aku mengenalnya, tapi juga telah dihiasi dengan memar biru.

Kulihat ia mulai membuka kelopak matanya secara perlahan sampai akhirnya iris sapphire terlihat jelas di sana. Matanya masih menatap kosong, lalu bergerak tidak menentu.

"Ugh!" erangnya sambil memegang kepalanya. Ia memejamkan matanya, lalu dibuka kembali. Saat pandangan mata kami bertemu, ia dengan buru-buru mendudukan tubuhnya dan menatap ke arahku tajam.

"Di mana aku?" tanyanya ketus. Aku pun hanya memutarkan kedua bola mata onyx-ku dan menyenderkan punggungku ke sandaran kursi yang kududuki. "Rumahku, lebih tepatnya di kamarku," kataku datar.

Kulihat ia mengernyitkan dahinya. "Rumahmu?" tanyanya.

Aku pun hanya diam karena kupikir dia belum butuh jawabanku karena ia sibuk melihat sekeliling kamarmu dengan tatapan…heran? Tak percaya? Kagum? Entahlah, aku tak begitu mengerti.

Lalu, dia kembali menatapku. "Ka-kau Uchiha Sasuke, kan? Murid beasiswa di kelasku?" tanyanya. Aku hanya diam. "I-ini beneran rumahmu?" tanyanya lagi.

Aku hanya mendengus geli, tanpa menjawabnya lagi. "He…i! Kau pasti bercanda, kan? I-ini pasti rumah majikanmu a-atau…"

"Dobe," kataku datar. Padahal dalam hati aku sangat geli melihat kelakuannya. Entah ke mana sifat berandalannya itu. See? Sudah kuduga, ia hanya terpaksa.

Kulihat ia menggembungkan pipinya. Kesal, kah? Entahlah. Tapi, aku tahu itu kebiasaannya karena aku selalu memperhatikannya… tanpa ia ketahui, tentu saja.

"Hei, aku nggak 'dobe' seperti katamu, Teme jelek! Aku hanya tak percaya. Bukannya kau murid beasiswa? Kenapa sekaya ini? Kamarmu saja lima kali besar kamarku di rumah Nenek Tsunade," katanya ketus. Ia tak sadar bahwa telah keceplosan mengatakan ia adalah cucu Nona Tsunade.

Aku hanya mendengus geli mendengarnya. Oh, tapi aku tidak terkejut bahwa ia adalah cucu sang kepsek sekaligus pemilik sekolah. Ingat, aku orang yang selalu 'memperhatikannya'.

"Masih ngomong kalau kau nggak 'dobe'?" tanyaku padanya yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari mata sapphire-nya. "Murid beasiswa belum tentu miskin, Dobe," lanjutku.

"What! Hei! Beasiswa kan untuk murid cerdas yang nggak mampu, Teme! Jelas saja aku menganggap kau itu miskin!" kelitnya.

"Kau memang 'dobe'."

"Jangan bilang aku 'dobe', Teme!"

"Kalau kau berhenti memanggilku 'teme'" jawabku sambil berjalan menuju lemari es kecil yang ada di kamarku.

"Hei! Tapi, kenyataannya kau memang 'teme', Teme! Kau itu 'teme' karena dengan seenak rambut pantat ayammu menerima beasiswa! Padahal kau sekaya ini! Aku yakin kau mampu membeli sekolah kalau mau," katanya sambil berjalan ke arahku yang sedang meneguk segelas susu.

Kulirik dia yang terkadang merintih kesakitan saat berjalan ke arahku. "Ini bukan milikku, Dobe. Yang kaya itu orang tuaku. Kau tahu? Mencari uang satu yen saja aku tidak bisa," kataku datar. "Kau duduk saja, kakimu terkilir ternyata," lanjutku.

Ia hanya menurut dan duduk di sofa panjang yang berada di depan home teater milikku. "Mau minum apa?" tanyaku padanya. "Nggak usah, thanks," jawabnya sungkan.

Tapi, aku tak menurutinya. Aku malah membawa segelas susu dan memberikan kepadanya. Sempat terjadi aksi perdebatan, tapi itu nggak berlangsung lama karena akhirnya dengan terpaksa ia menerima susu itu.

Aku pun berjalan ke arah bufet kecil di samping tempat tidur king size-ku. Kuambil minyak kayu putih yang terletak di dalam salah satu lacinya. Lalu, aku pun kembali ke tempat Naruto duduk. Aku duduk di sebelahnya.

Tanpa persetujuan darinya, aku memegang kakinya tersebut dan menariknya ke pangkuanku sehingga Naruto berada dalam posisi duduk menghadapku. "Hei!" protesnya padaku.

"Diamlah."

Dengan perlahan, aku menggulung celana panjangnya hingga selutut. Lalu kupegang kaki bawahnya tersebut. "Sshh…" ringisnya.

Aku pun langsung menuangkan minyak di tangan kiriku, lalu dengan lembut kuoleskan ke kaki tan-nya yang anehnya…mulus dan nggak berbentuk seperti kakiku itu. Padahal kaki ini sering digunakan untuk berlari dan menendang orang.

Setelah selesai mengoleskan minyak kayu putih di kakinya. Aku pun langsung memijitnya perlahan. "Auch! Akh! Sa-sakit," ringisnya.

Aku hanya memutarkan kedua bola mataku. "Jangan cengeng," kataku datar. Kemudian, memulai pemijitan dan pembenaran agar kakinya nggak terkilir lagi.

Kudengar ringisan kesakitannya makin keras. "Sakit, Teme! Sudah, cukup! Cukup!" rengeknya padaku.

Karena malas, aku pun nggak memijitnya lagi dan membiarkannya menarik kakinya. Ia menatap tajam ke arahku sambil mengelus-elus kakinya yang baru kubenarkan itu.

"Seharusnya kau mengucapkan 'terima kasih', Dobe," kataku.

"Jangan harap!" ketusnya. Aku pun hanya mendengus geli dibuatnya. Ternyata benar, ia berubah hanya terpaksa, kan? Sifat nggak mau kalahnya masih sama seperti dulu.

.

~oOo~

.

Naruto POV

Sudah sekitar beberapa jam aku berada di rumah, tepatnya kamar Uchiha Sasuke ini. Si murid beasiswa di kelasku yang ternyata orang yang SANGAT kaya.

Aku nggak tahu kenapa aku bisa berlama-lama di sini dan malah bermain PlayStation bersama si Teme—sebutanku ke Sasuke ini—, padahal sedari tadi aku ingin pulang. Tapi, aku nggak mengelak bahwa aku merasa nyaman dan ingin terus berada di dekatnya. Padahal di kelas, aku nggak pernah bertegur sapa dengan Teme.

Ohh… satu lagi yang membuatku bingung. Entah kenapa, 'Teme-Dobe' ini seperti familiar di telinga dan lidahku. Entah kenapa walau aku tidak terima dipanggil 'dobe' oleh Teme, ta-tapi… aku nggak muna kalau sebenarnya aku merasa nyaman dengan sebutan-sebutan itu.

'Game Over'

"Aih~ Teme sialan! Aku kalah lagi!" gerutuku sambil tiduran di karpet tebal berwarna biru tua miliknya. "Kau sudah pro kan? Ngaku!" kataku ketus. Sungguh! Aku nggak terima karena telah 15 kali main,… 15 kali KALAH! Shit!

"Kau saja yang 'dobe'," jawab Teme yang duduk di sebelahku yang berbaring. Aku hanya menggembungkan pipiku, kesal. "Huh! Aku jadi malas untuk main," kataku.

Sejenak, kami terdiam.

Tapi tiba-tiba Teme membuka suaranya. "Hei!"

"Apa?" tanyaku tanpa menoleh ke arahnya, toh Teme juga bertanya sambil asyik main PlayStation sendirian.

"Aku hanya mau bertanya," lanjutnya.

"Tanya apa?"

"Sesuatu yang penting."

Aku mendengus kesal. "Penting? Apa?"

"Tapi, nanti kau berubah jadi aneh loh," lanjutnya yang sukses membuatku mengernyitkan dahi, heran.

"Tanya apa sih? Udah deh, nggak usah basa-basi. Langsung aja," kataku ketus sambil memejamkan mataku dan menggunakan tanganku sebagai bantalan.

"…"

"…"

"…"

"…"

"…"

'Kok nggak ada jawaban?' batinku heran.

Kubuka satu mataku hanya untuk mendapatkan wajah Sasuke yang berada sangat dekat denganku. SANGAT DEKAT!

KAMI HAMPIR BERCIUMAN, 'TTEBAYO!

Bukannya spontan berteriak dan sesegera mungkin menjauh darinya,… aku malah terpaku dengan mata yang terbelalak. Aku nggak tahu kenapa, tapi aku seperti dihipnotis oleh mata onyx milik Teme.

"Kenapa kau berubah..."

'Apa? Apa maksud pertanyaannya itu?' batinku bingung. Aku melihat ada semburat kekecewaan dan kemarahan di wajahnya. Ta-tapi, kenapa? Apa sebabnya? Aku sangat-sangat bingung.

'APA MAKSUDMU, TEME BODOH!'

Ingin sekali aku berteriak seperti itu. Tapi, entah kenapa lidah ini terasa kelu. Tidak, bukan hanya lidah…. Sekujur tubuhku terasa kelu… tak bisa kugerakan.

Setelah beberapa ia terdiam setelah berkata nggak jelas. Saling beradu mata denganku. Kulihat ia memejamkan matanya, tapi hanya sebentar… Ya, sebentar. Karena detik berikutnya ia berkata hal yang sangat nggak kuduga.

"Kenapa kau berubah, Namikaze Naruto?"

End of Naruto POV


Sasuke POV

Kutatap nanar Naruto yang sekarang sedang menatapku dengan tatapan penuh kebencian.

Setelah aksi tatap-menatap dengan jarak yang cukup dekat. Setelah pertanyaan yang—mungkin—tabu untuknya terlontar dari mulutku. Remaja pirang dengan mata yang menyatukan langit dan bumi itu langsung mendorongku keras dan…

…Beginilah kami sekarang, saling adu tatapan tajam.

"Siapa kau?" tanyanya padaku. Akhirnya bibir yang sering menyunggingkan cengiran sinis itu melontarkan kata-kata juga.

"Hn. Kau nggak ingat?" tanyaku padanya.

Ia memincingkan matanya kepadaku. "Memangnya kau ini siapa?" tanyanya lagi.

Aku menghela nafas lelah. 'Dia memang nggak ingat,' batinku sedikit kecewa. Kupejamkan mataku sejenak. Lalu, dengan perlahan kubuka mataku dan kembali menatapnya tajam.

"'Jangan cengeng! Kau ini lelaki, bukan? Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Do-be..'" ucapku.

End of Sasuke POV


Naruto POV

"'Jangan cengeng! Kau ini lelaki, bukan? Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Do-be..'"

Mataku langsung terbelalak kaget. Entah kenapa kepalaku mendadak pusing dan nyeri atas perkataan Sasu-teme tadi.

Dengan sekuat tenaga kuremas kepalaku. Sakit… sangat sakit… Kepalaku seperti ingin meledak, rasanya.

Tiba-tiba sekelebat ingatan muncul di pikiranku…

Flash back

"Naruto, ayo traktirin kami coklat itu~ kami temanmu kan?"

Seorang anak berambut pirang yang memakai seragam SMP, menatap beberapa temannya dengan tatapan bingung. "Lho? Kenapa nggak beli sendiri? Janjinya kan kita mau main sama-sama? Kok malah aku yang traktirin coklat?"tanya bocah SMP yang diketahui bernama Namikaze Naruto itu.

Teman-temannya itu langsung memandang Naruto dengan tatapan tajam. "Kami temanmu! Apa salahnya sih sekali-kali menraktir teman? Kau kan kaya," kata salah satu temannya, Suigetsu.

"Tapi, Sui… Aku kan sudah menraktir kalian es krim kemarin? Dua hari yang lalu aku juga sudah menraktir taiyaki. Kemarin-kemarinnya juga. Kenapa aku lagi?" tanya Naruto polos. Sedikit tidak rela, jika ia harus menraktir teman-teman barunya terus-menerus.

"Huh! Dasar pelit!" kata temannya yang lain, seorang gadis bernama Tayuya. "Mulai sekarang, jangan deka—"

"Iya! Baik-baik. Aku akan membelikannya. Tunggu 'ntar, ya," kata Naruto dengan segera. Ia tidak mau jika teman-teman barunya ini meninggalkannya lagi. Sungguh! Sudah cukup ia ditinggal seorang teman hanya karena alasan yang menurutnya…kurang masuk diakal?


Si bocah pirang itu sibuk memilih-milih coklat di sebuah minimarket. Tangan tan-nya sibuk memilah-milah coklat yang dirasa enak dengan harga yang pas untuk ukuran uang saku anak seusianya.

'AH! Akhirnya dapat~' batin Naruto riang. Dengan cepat, ia pun menuju ke kasir untuk sesegera mungkin membayarnya.

"So-sore, Paman Kabuto. Aku mau beli ini," kata Naruto takut-takut. Memang, ia sudah mengenal seorang kassa di depannya, karena Naruto sering ke minimarket ini. Kebetulan juga,…dulu, almarhum ayah dan ibunya adalah teman orang yang ada di hadapannya.

"479 yen," kata seorang berambut kebiruan dengan kacamata di wajahnya. Tak dihiraukannya sapaan hangat dari sang Namikaze tunggal ini.

Naruto pun hanya membalas dengan cengiran seadanya yang khas. Ia merogoh kantung saku belakang celananya.

'Lho?'

Naruto memandang bingung. Dirogohnya lagi kantung saku belakangnya yang lain. 'Lho? Mana dompetku?' batinnya bingung sekaligus khawatir.

Dengan kepanikan, ia pun meraba setiap kantung saku di pakaiannya. Tak lupa dengan ransel yang setia di punggung mungilnya juga diobrak-abriknya untuk mencari dompet hitam bergambar rubah orange miliknya.

'Mana? Di mana? Dompetku mana?' batinnya panik. Sudah beberapa kali dicek setiap tempat di tas-nya yang kiranya dapat membuat dompetnya terselip. Tapi, hasilnya…

NIHIL.

"Eherm… Bisakah kau segera membayarnya dan pergi dari sini?" tanya Kabuto kepada Naruto dengan malas."Masih ada pelanggan yang ingin membayar," lanjutnya.

Naruto memandang Kabuto ngeri dan bersalah. "Ma-maaf, Paman. Se-sepertinya aku nggak jadi membeli coklat-coklat itu deh," kata Naruto takut. Ia sedikit menundukan kepalanya dan terkadang melirik-lirik Kabuto dengan perasaan takut dan bersalah.

"Kenapa?"

"Ka-karena… Ternyata dompetku nggak ada, Paman," jawab Naruto. "Pa-dahal tadi di sekolah ada loh, Paman. Sepertinya ketinggalan ata—"

Tanpa disadari Naruto terlebih dahulu, Kabuto langsung saja menarik lengan Naruto keluar dari minimarket tempatnya bekerja. "Nggak usah pakai banyak alasan, ya, Idiot. Kau pikir aku nggak tahu, kalau kau hanya berpura-pura supaya aku iba—dan 'Oh! Ini, ambil untukmu saja biar Paman yang belikan'," kata Kabuto dengan mimik mukanya yang sarkatis. "JANGAN HARAP."

Naruto pun didepak dari minimarket tersebut

"Dasar pencuri cilik! Masih kecil sudah mencuri, besar jadi apa, hah! Orang tuamu pasti juga orang nggak benar!" bentak Kabuto. "Ohh.. Aku baru ingat. Kedua orang tuamu kan memang nggak benar. Ibumu pelacur murahan! Ayahmu koruptor! Heh! Pergi sana dan jangan kembali!"

Naruto yang mendengar itu langsung membelalakan matanya."IBUKU BUKAN PELACUR! AYAH JUGA BUKAN KORUPTOR! MEREKA ORANG BAIK-BAIK!" tangis Naruto pecah.

"Oh, ya? Buktikan."

"A—" Lidah Naruto terasa kelu. Ia hanya bisa menangis tanpa suara.

"Tak bisakan? Pergi sana!" bentak Kabuto. Kemudian, ia pun kembali memasuki minimarket tempat ia bekerja. Naruto?

Ia dengan lesu dan masih dengan tangis yang sekarang mulai dihentikannya pergi kembali menuju teman-temannya yang ada di taman kota.


Naruto melihat dari kejauhan bahwa teman-temannya sedang sibuk bermain. Dengan lesu, ia pun menghampiri teman-temannya tersebut.

"Teman-teman… Maaf, coklatnya nggak bisa kubeli, dompetku hilang," kata Naruto lesu. "Kapan-kapan saja, ya?" tanya Naruto dengan senyum miris.

Teman-temannya langsung berhenti bermain. Bersamaan, mereka menatap Naruto. "Apa kau bilang?" tanya Tayuya.

"Iya, dompetku hilang. Maaf, kapan-kapan sa—"

"Bohong."

Naruto menatap salah satu temannya yang berbadan gembul, Jiroubo. "Aku serius."

"Nggak percaya. Tadi aja kamu bisa bayarin iuran kas kami. Masa sekarang?" kata Suigetsu, tak percaya.

"Ta-tapi—"

Tiba-tiba, Tayuya dengan kasarnya mendorong Naruto hingga jatuh ke tanah berumput yang mereka pijaki. "Naruto! Dasar Bodoh! Pelit amat sih jadi orang! Sudah! Kami tak mau lagi berteman denganmu! Dasar anak yatim sok kaya!"bentak Tayuya.

Ia nggak menyadari bahwa hati Naruto sangat sakit mendengar perkataan yang terlontar dari bibir ranum gadis tersebut. Lalu, tanpa menghiraukan Naruto yang mulai menangis, mereka langsung pergi menjauhi Naruto.

"Dasar anak yatim!"

"Anak pelacur!"

"Hahahaha… Kau bukan teman kami lagi!"

Dan, tanpa Naruto ketahui, —mantan— teman-temannya tersebut berbisik sambil terkikik-kikik sadis. "Khekhekhe… Dasar bodoh."

"Benar, anak yang sangat bodoh."

"Dompetnya kita ambil aja nggak nyadar, hahaha… Tapi, syukurlah. Hebat kau Tayuya! Bisa membuat anak jahanam itu nggak berteman lagi ma kita, cih!"

"Khekhekhe… Tentu saja."


Hari mulai menjelang sore, tapi Naruto masih betah saja di taman kota padahal taman tersebut sudah sepi sejak beberapa menit yang lalu. Ia duduk di salah satu ayunan yang diikat di salah satu pohon besar. "Hiks…Kenapa semua menghinaku? A-apa salahku?" isaknya pelan.

"I-ibu juga bukan pelacur. Kenapa semua menghinanya? Kata Nenek Tsunade, ibu hanya dijebak, hikss…"

"A-ayah juga sama. Ke-kenapa semua pada salah paham? Me-mereka nggak tahu apa-apa. Hiks..Hikss.. A-ayah, Ibu…hikss.."

Naruto terus saja terisak dalam kesendiriannya. Tanpa tahu ada seorang bocah yang memperhatikannya sedari tadi. Tiba-tiba…

"Hei, kenapa kau menangis?"

Naruto tersentak kaget. Dengan spontan, ia mendongakan kepalanya…hanya untuk mendapatkan sepasang mata onyx yang sedang menatapnya kasihan. Tapi, bukannya menjawab pertanyaan yang dilontarkan bocah lelaki yang berambut raven di hadapannya, ia malah menundukan kepalanya kembali, takut dihina kembali.

Bocah raven yang sepertinya seumuran dengannya itu mengernyitkan dahinya. Lalu, dengan perlahan mengusap rambut pirang Naruto.

Kaget. Naruto langsung mendongakan kepalanya. "Ka-kau tidak me-membenciku? Ti-tidak menghinaku?" tanya Naruto takut-takut.

Alis bocah raven itu terangkat sebelah. "Kenapa harus?"

Naruto menundukan kepalanya kembali. "E-entahlah," jawabnya. "Ta-tapi, semua teman-temanku dan beberapa orang yang kukenal menyebutku… a-'anak pelacur', 'anak yatim', 'anak koruptor'"lanjut Naruto, tanpa sadar air matanya yang mulai mongering, mengalir kembali.

Bocah berambut raven itu menatap iba Naruto. Ia mengelus rambut pirang Naruto dengan lembut. Tapi, sedetik kemudian sang bocah raven dengan mata onyx-nya yang tajam dengan –agak— kasar mengangkat dagu Naruto. "Jangan cengeng! Kau ini lelaki, bukan? Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Dobe," kata bocah raven itu, tegas.

Naruto tersentak kaget. Ia melirik ke arah lain. Tak mau mata sapphire-nya yang sembab bertemu pandang dengan mata onyx yang menatapnya tajam. "Ja… Ja-jangan panggil aku dobe, Teme!" bentak Naruto, akhirnya.

"Kau nggak tahu betapa sakitnya di sini." Naruto meremas dadanya. Lalu, dengan mata yang mulai menangis, ia kembali menatap mata onyx sang bocah raven. "'Dikhianati', 'dihina', 'dicaci', 'dijauhi'…SEMUANYA! Kau nggak tahu dan NGGAK AKAN PERNAH TAHU!" teriak Naruto. Ia merasa tak sanggup lagi menahan segala uneg-uneg di hatinya.

"Siapa namamu, Dobe?"

Naruto menatap bocah tersebut berang. "Kenapa kau malah menanyakan namaku, Teme! Apa maumu?"

Bocah raven itu mendesah pelan. "Jawab saja. Siapa namamu?" tanyanya lembut.

Naruto sedikit luluh dengan nada bicara sang bocah yang ada di hadapannya. "Na… Namikaze Naruto," katanya sambil menundukan kepalanya.

SET!

Naruto mendongakan kepalanya. Dengan perlahan, ia memegang dahinya yang diselimuti sesuatu. "A-apa ini?"

"Itu headband, pakailah. Jadilah lelaki yang kuat. Jangan terus menangis hanya karena hal nggak penting seperti itu. Jika kau merasa benar, jangan takut untuk bersuara," kata bocah raven itu lembut. Ia mengelus-elus kembali rambut pirang Naruto.

"Nah. Aku pulang dulu, ya, Dobe," kata si bocah raven itu. Ia mulai menjauhi Naruto yang sedari tadi duduk di ayunan.

Naruto membelalakan matanya. Entah kenapa, ia langsung berdiri dan menggenggam tangan si bocah yang menasehatinya itu. "Tu-tunggu,Teme," katanya. Si bocah raven menghentikan langkahnya dan menatap Naruto. "Hn."

"A-apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Naruto dengan menundukan kepalanya. Si bocah raven menatap Naruto bingung.

"…"

"…"

"..Hn, mungkin."

Naruto mendongakan kepalanya. "Benarkah?" tanya Naruto penuh harapan. "Hn."

"A-apa itu artinya kita teman?"tanya Naruto lagi. Harapannya untuk sesegera mungkin menemukan 'teman sejati' ingin sekali terkabul pada bocah raven ini.

Berpikir sejenak, si bocah raven langsung menjawab, "tentu."

Naruto tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dan memeluk teman barunya yang menurutnya adalah seseorang yang akan menjadi teman sejatinya. "Te-terima kasih, Teme! Hikss…." Tanpa sadar air mata Naruto jatuh kembali.

Si bocah raven hanya bisa tersenyum tipis. "Dasar cengeng." Ia langsung mengusap lembut air mata yang mengotori pipi tan Naruto.

Dan tanpa Naruto tahu, sebenarnya bocah raven tersebut tidak akan muncul di hadapannya lagi, setidaknya dalam jangka waktu dekat. Karena sebenarnya bocah raven tersebut pindah ke kota sebelah dengan alasan perusahaan sang Ayah yang telah berkembang pesat.

Dan Naruto pun menganggap bahwa 'Teme' adalah orang yang sama saja dengan orang-orang di sekitarnya ini. Ia pun harus menjalani kehidupannya yang sulit kembali. Malah, SEMAKIN sulit.

Sempat sakit akibat trauma selama satu tahun lamanya. Dan tanpa sadar Naruto pun menutup dirinya dan berubah menjadi seperti sekarang. Berubah menjadi seorang…

UZUMAKI NARUTO.

End of Flash back


Aku menatap Teme dengan tatapan nggak percaya. Kepalaku masih berdenyut-denyut sakit, tapi nggak kuhiraukan lagi.

"Ka… Kau?"

"Sudah ingat?" tanya Teme.

"Ka.. Kau… Teme? Te- teme yang waktu itu...?" tanyaku lagi, masih nggak percaya. "Hn."

Terpaku sejenak. Aku kembali memundurkan dudukku menjauhi dirinya. Kugelengkan kepalaku kasar. "Tidak! Bre-brengsek! Ka.. Kau sama saja dengan mereka!" bentakku padanya.

Sesak. Sesak sekali rasanya dadaku ini. Ingin sekali kuteteskan air mata yang mendesak sedari tadi ini. Ta-tapi... Jangan bodoh, Naruto! Kau seorang UZUMAKI NARUTO sekarang!

Karena nggak dapat seperti dulu, seperti aku yang dulu…yang hanya bisa menangis, menangis, dan terus menangis.
Tanpa kusadari, aku pun berdiri dan menerjang Sasuke. Kupukul sekuat tenaga pipi porselen-nya tersebut, membuncahkan semua rasa kesal, gembira, sedih, kecewa, marah…yang menumpuk di hatiku. Nggak peduli bahwa hal itu menyebabkan sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah karena terkoyak tinjuanku.

Buagghh!

"Brengsek! Sialan!" cercaku padanya.

Tinjuan-tinjuan terbaik milikki terus melayang di udara, menanti pendaratan yang kasar di wajah datar tersebut. Muak! Aku muak dengan wajahnya! Kenapa dia tidak merasa bersalah sedikit pun? Kenapa dia tidak membalas pukulanku… Oke! Ia menangkis pukulanku, tanpa niat membalas.

Buaghh! Dug! Dug! Duagghh!

Kali ini kakiku pun ikut bermain dalam irama kasar yang kulampiaskan untuk membuncahkan sesuatu di hatiku yang ingin meledak…untuk mengalihkan diriku dari kegiatan menangis, dan menangis terus. Untuk menunjukan bahwa aku telah berubah… BERUBAH MENJADI LEBIH KUAT.

"Apa maumu, hah, Teme!! Ke mana saja kau selama ini!" bentakku padanya sambil terus melayangkan tinjuan dan tendangan ke arahnya.

Sasuke hanya menatapku datar sambil terus menangkis dan mengelak dari seranganku padanya yang bertubi-tubi. Apa maunya? Apa dia kira dia lebih hebat dariku? Heh! Lihat saja nanti!

Aku dan Sasuke terus beradu jotos tanpa mengindahkan kamar Sasuke yang kelewat mewah ini yang mulai berantakan akibat gerakanku yang beringas. Aku terlalu bernafsu untuk mendaratkan pukulanku yang kedua di wajahnya. Yah~ sejak pukulan pertamaku yang kulayangkan padanya tanpa persiapan yang dilakukan olehnya, pukulan mautku ini nggak ada yang mengenainya lagi.

"JAWAB AKU, BRENGSEK!" teriakku padanya.

Bukannya semakin lelah, aku malah semakin ingin meninju wajahnya yang tetap berekspresi datar tersebut. "Kau tahu, sebenarnya esok hari setelah pertemuan kita, aku sekeluarga memang akan pindah," jawabnya. "Itu semua karena perusahaan ayahku yang mulai berkembang pesat," lanjutnya lagi.

DUG!

Aku mengarahkan tendanganku ke wajahnya dan sukses ditahannya kakiku yang terbalut celana panjang sekolah itu. Aku menggeram marah dengan posisi kakiku yang masih dipegang oleh Sasuke di depan wajahnya. "Lalu? Sama saja kan! Kau pembohong! Kau nggak pernah jadi temanku!" bentakku. Kuakui aku sedikit miris dengan kata-kata yang kulontarkan. Karena ternyata harapanku untuk memiliki teman sejati nggak pernah terkabul. Bahkan di saat aku merasa telah menemukannya, harapan itu harus jatuh kembali. Ini membuatku lebih sakit.

Aku menarik kakiku kasar dan dengan bersamaan itu, aku pun langsung bersiap mengarahkan tinjuku ke arahnya, tapi…seperti yang sudah-sudah, gagal.

"Saat liburan, aku selalu ke sana untuk bertemu denganmu, Dobe," jawabnya. Ia tetap menangkis semua seranganku yang kulancarkan dengan bertubi-tubi kepadanya. "Tapi, aku nggak pernah menemukanmu. Sehingga beberapa bulan yang lalu, aku berhenti untuk ke kota itu," lanjutnya.

Aku menggeram kesal. Entah ada apa, mungkin dia lengah…tendanganku berhasil telah mengenai pinggang kirinya. "Ukh!"

"Pembohong…" kataku sambil menundukan kepalaku. "KAU BOHONG!" teriakku sambil melancarkan kembali seranganku. "Kau nggak tahu apa-apa, Teme! Kenapa kau nggak mencariku? Kenapa kau nggak bertanya dengan yang lain? Kenapa, hah? Kenapa sebegitu susahnya bagi orang kaya sepertimu mencari keberadaanku! KENAPAAA!"

Sungguh! Aku nggak yakin, air mata ini masih bisa kubendung. Hei, turuti aku, Air mata sialan! Kau milikku! Kenapa kau seenaknya! Jangan keluar, BODOH!

Di saat aku lengah, di saat perhatianku tidak terlalu fokus untuk menyerang seorang brengsek yang ada di hadapanku… Tanpa kuketahui, Sasuke meninju perutku dengan keras.

BUAGHH!

"Uhukk! Uhukk! Uhukk!"

Aku terbatuk-batuk nyeri sambil memegangi perutku yang seperti terbakar itu. Rasanya aku ingin muntah.

Tapi, rasa nyeri dan mual itu langsung tergantikan dengan perasaan hatiku yang marah serta jantungku yang kaget. Sasuke, di saat aku masih meratapi pukulan ngilunya di perutku, dengan segala kebrengsekannya, ia menjatuhkan diriku dalam posisi terlentang di tempat tidurnya dan menindihku.

Wajahku memerah dengan spontan. Kutatap mata onyx-nya yang serasa nggak bersalah itu dengan tatapan paling keji yang pernah kumiliki.

"Apa lagi maumu, hah! Bisakah sekarang aku pergi saja dari sini dan nggak pernah lagi bertemu denganmu, Teme!" tanyaku padanya. Bukan maksud menghindarinya karena aku merasa terpojokan dengan posisi ini… Yah, kuakui itu 50% benar, tapi alasanku yang utama adalah… menunggu waktu yang tepat untuk MENGHABISINYA! Kalian ingat? Tenagaku sudah terkuras habis selama dua hari ini. Setidaknya, aku butuh waktu satu hari penuh untuk memulihkannya.

Kulihat Teme seperti tidak mempedulikanku. Aku yang semula diam dengan tatapan kejiku sambil memegangi perutku yang kurasa ergh.. semakin lebam ini, langsung berusaha mendorong dirinya yang menindihku. Tapi, sia-sia. Jangankan menjatuhkannya ke lantai, berhasil menggesernya pun tidak.

Mata onyx itu terus saja menatapku intens. Menatap mata sapphire milikku yang memberikan tatapan keji sebagai balasannya. Walau harus kuakui, aku merasa saat menatap mata tersebut, ada perasaan… tenang yang menyelimutiku?

Aku diam, hanya menatapnya dengan bengis. Ia juga diam. Tapi, nggak lama setelah itu, ia mulai memecahkan keheningan yang sempat tercipta.

"Aku tahu kau marah karena kau merasa aku sama saja dengan orang-orang di sekitarmu dulu," katanya. Ia menyingkirkan kedua tanganku yang ada di dadanya, yang kugunakan untuk mendorong tubuh itu tadi.

Ia menghela nafas. Kututup mataku sekilas saat kurasakan nafasnya itu menerpa wajahku. "Tapi, kau harus percaya, aku nggak pernah pernah meninggalkanmu. Aku… kita… akan terus bersama. Memang benar, sepertinya aku terlalu bodoh karena nggak memanfaatkan kekayaan orang tuaku untuk mencari keberadaanmu saat itu. Aku minta maaf," kata Sasuke lagi. Kulihat wajahnya sedikit menyesal saat menjelaskan itu padaku.

"Tapi, itu semua… mungkin, karena aku terlalu panik karena nggak dapat menemukanmu," lanjutnya lagi. "Dan saat kau berdiri di depan kelasku saat itu. Kau nggak tahu, betapa gembiranya diriku, Naruto. Walau,…aku merasa aneh…."

Tubuhku sedikit terlonjak saat mata onyx Sasuke tiba-tiba menatapku tajam. Terlihat kilat marah di wajahnya yang belum pernah kulihat dari Sasuke.

"Sekarang katakan, Dobe. Kenapa kau berubah? Kenapa kau menjadi 'Uzumaki Naruto' yang brengsek? Kau tahu, aku nggak suka. Di mana 'Namikaze Naruto' itu?" tanyanya dengan desisan tajam.

Entah kenapa, aku yang sudah nggak pernah merasa takut apa-apa lagi, kecuali Nenek Tsunade, malah menjadi takut dengan orang yang menindihku ini. Kurasakan tatapan tajam terus mengarah kepadaku, membuatku harus melirik ke arah lain.

"Na-namikaze Naruto telah 'mati'," jawabku singkat.

Dan aku pun harus merasakan cengkraman tangan Sasuke di kerah seragam sekolahku saat menjawabnya dengan seperti itu. "Kenapa? Kenapa dia mati?" tanya Sasuke geram.

Aku menggenggam erat tangan kanan Sasuke yang mencengkran kerah seragamku dengan kedua tanganku. Aku merasakan memori-memori kenangan masa lalu yang buruk kembali terngiang, membuat rasa nyeri kembali menyerang kepalaku. Ugh! Aku nggak suka ini. Aku benci! Ingin kulupakan semuanya! Aku nggak sanggup mengingat itu semua!

Tapi, aku hanya bisa memejamkan mataku erat. "K-…ehk! Kau nggak tahu, Teme! Namikaze Naruto itu bocah sialan! Bocah lemah yang hanya bisa menangis, menangis, dan menangis! Bocah kesepian yang nggak tegar menjalani hidup! Aku muak dengan dia! Aku jijik! AKU BENCI JADI NAMIKAZE NARUTO!" teriakku untuk mengeluarkan semua uneg-uneg yang muncul kembali di hatiku. Kegelapan yang semula ingin kulenyapkan, malah terus muncul sampai permukaan. Ini membuat hatiku kembali sesak, sesak, dan sesak.

Kepalaku seperti mau pecah, hatiku seperti akan hancur, jantung seperti akan koyak. Tapi, semua itu dapat kembali normal, kembali seperti semula, kembali tenang, karena… kecupan hangat yang mendarat lembut di keningku yang tertutupi poni pirangku ini.

Cup!

Sontak saja, mataku langsung terbelalak lebar akan sengatan aneh yang langsung menyerang perutku bersamaan dengan kecupan lembut di keningku yang berlangsung selama beberapa menit tersebut.

Perlahan-lahan Sasuke mulai menjauhkan bibirnya dari keningku, ia menatapku lembut dan…penuh kasih sayang?

"Kau nggak perlu muak dengan dirimu sendiri, Naruto," katanya pelan sambil mengusap-usap kepalaku seperti sewaktu dulu. Aku masih menatapnya dalam diam.

Ia tersenyum lembut kepadaku. "Jika kau menjadi 'Uzumaki Naruto', semua orang malah semakin menjauhimu. Jadilah dirimu sendiri. Jadilah seorang 'Namikaze Naruto' yang kuat dan tegar, mulai sekarang. Aku janji, aku akan selalu berada di sampingmu…bersamamu…selamanya," katanya pelan. Ia memeluk tubuhku yang ada di bawahnya.

Kehangatannya, kelembutannya, bahkan tinjuannya…membuatku sadar. Aku hanya menganggukan kepalaku kecil sambil membalas pelukannya dengan erat. Tanpa sadar, lagi-lagi kecengenganku kembali…menangis di dalam dekapannya. Ck, memalukan.

"Kau janji, hm? Kau akan bersamaku mulai sekarang, kan? Kau benar-benar menjadi sahabatku…teman sejatiku kan, Teme?" tanyaku dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti di pipiku. Oh, My God, aku sangat menggelikan kali ini. Kenapa aku bisa menjadi lemah seperti ini?

Kurasakan Sasuke mengelus-elus rambutku, membuatku menutup mata untuk lebih merasakan saat-saat di mana aku merasa nyaman di dekapan Sasuke-teme.

"Hn. Lebih dari sekedar sahabat," katanya sambil mengecup pipiku lembut. "Ngerti?"

Aku yang mendengarnya hanya bisa tertawa dalam tangisku. Menangis dalam hangat tubuhnya. Hangat tubuhnya yang selalu memberikan kenyamanan buat diriku. Oke, cukup sudah perbuatanku yang menggelikan ini.

Aku mengusap bekas air mataku. Tangisku sudah berhenti, tapi kehangatan ini nggak akan kulepaskan begitu saja. "Mungkin, besok aku akan lebih memperbaiki sikapku, Teme," kataku padanya. "Hn."

Aku semakin mengeratkan pelukanku dan menenggelamkan kepalaku di bahunya. Menghirup aroma khas tubuh Sasuke-teme yang membuat pusing di kepalaku sedikit demi sedikit menghilang. "Tapi, aku masih ingin memakai marga ibuku ini, Teme. Bolehkah?" tanyaku padanya.

Kurasakan Sasuke-teme mengacak-acak rambutku pelan. Ia mengangkat wajahnya untuk mempertemukan pandangan kami. "Tentu saja. Aku hanya ingin kau nggak merubah dirimu terlalu over, Dobe," kata Sasuke sambil mengecup keningku kembali.

Dan…
Aku tahu, hari-hariku nggak akan menghasilkan kenangan buruk lagi. Karena dengan bersama Sasuke-teme, orang yang paling kusayang –atau mungkin kucintai— saat ini, kami akan membuat kenangan indah bersama. Kenangan indah yang sangat banyak sampai kami bosan. Kenangan di mana hanya Aku dan Sasuke-teme yang akan merasakannya. Kenangan yang akan mengubur mimpi burukku selama-lamanya.

Terima kasih, Sasuke-teme. Aku memang kuat, namun rapuh…tapi kau lah yang menjadi penyokongku.
Dan, bolehkah aku beranggapan, kisahku yang diawali dan dijalani dengan buruk….akan berakhir dengan bahagia nantinya? Happily ever after?

Hahhaa… Sasuke-teme, I love you so much.

.FIN.

.

.

#merinding

Kok chap duanya jadi gini? Kok endingnya jadi gini! Sudah telat! Begini pula hasilnya… =="

ARRGHHH!

Sudahlah, maafkan aku… (_._)
Aku mengerjakan ini terburu-buru karena aku juga mengalami masa-masa ulangan yang berat di sekolah, ukh! Gara-gara ini juga aku telat publish! Ohh.. jangan lupakan Tousan yang dari kemarin-kemarin menolak mengisi modem karena nanti aku malah main-main bukan belajar! Huh!
Ulangan sialan! Aku nggak nyangka pas masuk tgl 7 itu tgl 8 dan seterusnya ulangan mulu, ck.. Nasib-nasib… Sudahlah, huft…

Terima kasih telah membaca fict ini dari awal hingga akhir. Thank you so muach! :* #jduakk!

Sebenarnya, aku agak ilfil ma ni fict dan ragu untuk update chap duanya karena—OHH! SANGAT MELENCENG DARI RENCANA SEKALI!

Tapi, kalo misalnya sangat sesuai rencana…sesuai banget ma video ending Naruto Shippuden yang 'Michi to You All', bisa nggak pantes untuk FID.. (udah telat banget woy!)
So, jadilah seperti ini… Dan untuk janjiku yang nggak membuat OGN..Ini masih nggak OGN, kan? Iya, kan? *o*

Aih~ pokoknya maafkan aku dengan segala kekurangan fict ini~~

Akhir kata…

Mind to Review?

.

Special Thanks:
Zurue Pink-chan yang bersedia membantu di chap satu

Dan para reviewer di chap 1…
hatakehanahungry
sasunaru4ever
ChaaChulie247
Chary Ai TemeDobe
hihihi
Namikaze Trisha
ttixz lone cone bebe
Natsume Yuka
Rose
J
Monkey D eimi
Kelinci Merah
DesyFujoYaoi
Devangel Heavaell
tsukihime akari

And You! :)