"Argh... Panasnya..." Tampak seorang siswa yang mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangannya. Mencoba untuk mengurangi suhu panas yang berasal dari sang surya.
"Jisung-ah!" Seorang siswa dengan seragam kusut dan wajah yang dipenuhi keringat menghampiri siswa lainnya yang tengah bersender di bawah pohon.
"Ya, Seungmin-ah, bisa tidak kau tidak telat?" Siswa bername tag Jisung memaki-maki siswa dihadapannya, Seungmin.
"Ah... Mian. Tadi aku bertemu dengan rubah kecil di dekat gerbang." Seungmin mengatupkan telapak tangannya, mencoba meminta maaf.
"Sejak kapan kau peduli dengan hewan?" Jisung menatap sinis mendengar alasan Seungmin.
"Kau tidak mengerti! Rubah ini bukan hewan sungguhan Jisung-ah. Dia itu manusia." Ujar Seungmin dengan sedikit antusias.
Jisung mentap jengkel ke arah Seungmin.
"Kau tau, dia sungguh manis dan polos. Aku yakin, kau pasti akan menyukainya. Tapi kau tidak aku ijinkan untuk menyukainya. Karena dia milikku, dan aku lah yang pertama menemukannya." Lanjut Seungmin sembari tersenyum berseri-seri membayangkan dia dapat berduaan bersama dengan orang yang ia temui tadi.
"Aku tidak mau mendengar ocehanmu, Seungmin." Jisung masih mempertahankan ekspresi jengkelnya.
"Aku sungguh lapar. Ayo ke kantin, sebelum waktu istirahat."
Jisung membuyarkan lamunan Seungmin dengan cara menarik kerah belakang kemejanya. Berusaha untuk menggeret laki-laki yang lebih tinggi darinya.
"Ya, Jisung!" Seungmin hanya bisa pasrah digeret-geret seperti karung beras.
.
.
.
Di kantin hanya tampak Jisung dan Seungmin yang sedang makan. Karena bel istirahat belum berkumandang.
Mengapa Seungmin dan Jisung bisa makan dengan santainya di kantin, mengingat sekarang bukan waktunya istirahat?
Jawabannya adalah, mereka sedang membolos.
Hampir setiap hari mereka membolos dari pelajaran.
Menurut mereka, masa muda adalah masa yang pas untuk bersenang-senang.
Walupun sering membolos, kedua sejoli ini sangat pandai dalam pelajaran. Sehingga nilai mereka pun tidak pernah anjlok.
Kelakuannya saja nakal, namun otak mereka sangat encer.
.
.
"Jadi... Ceritakan dengan detail rubah kecil itu. Mungkin dia bisa saja kita jadikan bahan bully." Jisung membuka suara setelah sebelumnya ia dengan khitmat memakan burger chesse miliknya.
"Penasaran heh..." Seungmin membalas dengan menampilkan senyum miringnya.
"Sialan kau!"
Ingin rasanya Jisung melempar wajah sok tampan di hadapannya menggunakan kaleng soda di tangannya.
Sungguh, wajahnya sangat membuat ia jengkel dan menjadi tidak berselera lagi untuk makan.
Seungmin hanya tertawa melihat wajah Jisung yang tampak kusut.
"Hm, yah seperti itulah. Dia siswa yang manis, dan terlihat sangat polos. Ah! Dan jangan lupakan, senyumnya yang hampir saja membuatku khilaf ditempat. Kau tau! Ingin sekali aku membawanya pulang dan tidak ada satupun yang boleh menyentuhnya. Oh sungguh ciptaan tuhan yang sangat indah." Seungmin menjelaskan panjang kali lebar dengan senyum yang terlihat (menurut Jisung) seperti ahjusshi-ahjusshi butuh belaian.
Jujur, Jisung yang mendengarnya jadi semakin penasaran. Karena jarang-jarang temannya bisa tertarik dengan seseorang.
"Lalu?" Tanya Jisung kembali.
"Ada kabar buruk untukku. Dan kabar baik untukmu Jisung-ah." Seungmin menatap sebal Jisung.
Hey! Jisung tidak mengingat pernah berbuat salah hari ini. Dan seharusnya dia yang menatap Seungmin sebal karena harus menunggu laki-laki di depannya kurang lebih 1 jam di bawah teriknya sinar matahari.
Untungnya panasnya tidak sepanas di negara yang sebelumnya pernah ia kunjungi.
"Oh iya, aku belum memberi tahu namanya. Namanya Yang Jeongin. Dia seklas dengan kita, dan teman room mate mu. Aku iri denganmu Jisung-ah!" Seungmin berkata dengan lesu.
"Bertukarlah kamar denganku Jisung-ah, jebal!" Seungmin yang tadinya duduk di hadapannya, kini berpindah kesamping kanannya. Dan tangannya ia katupkan, tanda memohon.
Sepertinya Jisung harus membuat Seungmin pelajaran karena sudah membuat ia kesal hampir seharian ini.
"A-ni-yo!" Senyum kemenangan terlihat di wajah Jisung.
Sebelum Seungmin membalas, bel istirahat mulai terdengar ke seluruh penjuru sekolah.
Jisung dengan gesit meninggalkan Seungmin dan memberi salam perpisahan.
"Thanks infonya Seungmin-ah~ Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengan anak itu. Bye~"
Seungmin hanya terbengong ditinggalkan Jisung.
"Aish... Ya, Jisung-ah!!!" Seungmin berteriak kesal dan mengakibatkan seluruh penghuni kantin menatapnya penasaran.
.
.
.
"Hah... Lelah sekali" Jisung mengipas-ngipas wajahnya yang sedikit memerah. Dan tangan kirinya ia gunakan untuk menggeret ranselnya.
Hari ini hari yang paling melelahkan bagi Jisung.
Saat ia meninggalkan Seungmin di kantin tadi, Byung Bang Chan dan temannya menemukan dirinya yang ketahuan membolos.
Pasti seongsaenim nyentrik itu yang menyuruh ketua osis ini untuk memaksanya masuk kelas.
Demi apa, hal yang paling ia hindari terjadi juga.
Akhirnya dengan berat hati ia menggeret kaki-kakinya menuju kelas, untuk mengikuti pelajaran Park Seongsaenim.
Dan setelah bel pulang, ia lanjutkan dengan ikut kelas musik.
Dia mengambil rap sebagai minatnya, dan suaranya hampir habis karena ngerap sambil sedikit berteriak tadi.
.
.
Beralih dengan Jisung yang sudah sampai didepan kamarnya.
Ia bingung, mengapa pintunya tidak terkunci?
Dan astaga! Peri datang darimana yang telah membersihkan kamarnya?
Jisung melongo memandang kamarnya yang tidak berantakan.
Jisung masih ingat. Sebelum ia meninggalkan kamarnya, baju kotornya seharusnya ada di atas meja belajar dan bukannya berada di keranjang cucian.
1 detik, menatap tidak percaya
15 detik mengerjap mata, bingung
25 detik...
Ia ingat sekarang.
Bukankah ada seseorang yang akan menjadi room matenya?
Hampir saja terlupakan karena efek dari kelelahan.
Tatapan Jisung beralih ke ranjang kasur miliknya.
Dia dapat melihat sesosok yang menutupi dirinya hingga kepala menggunakan selimutnya. Dan hanya menyisakan rambut hitamnya yang menyembul.
Sungguh pemandangan yang sangat menggemaskan.
Jisung mencoba untuk menyibak selimut yang menutupi sosok dihadapannya...
Dan...
.
.
.
"Jisung-ah! Jeongin-ah! Aku berkunjung!!!"
Dengan tidak elitnya, pintu kamar Jisung di dobrak keras oleh Seungmin sembari berteriak kesetanan.
Sehingga hal itu membuat seseorang yang tampak sedang tertidur dengan pulas, kini terbangun karena terkejut.
"Ya bodoh! Bisa tidak mengetuk dulu sebelum masuk? Dan jangan berteriak-teriak bodoh! Disini asrama, bukan kebun binatang!" Jisung membentak si pelaku pembuat onar dikamarnya.
Dan Seungmin hanya terkekeh dan memasang wajah sok polosnya.
"Hm... Nuguseyo?"
Sosok yang berada di kasur Jisung membuka suara.
"Jeongin-ah!!!" Seungmin menerjang tubuh mungil Jeongin sehingga membuatnya limbung dan kembali terbaring di ranjang tersebut.
Jeongin tampak tidak berdaya di pelukan Seungmin. Mungkin efek dari bangun tidur, pikir Jisung.
"Ya, Seungmin bodoh! Kau bisa membunuhnya!" Jisung mencoba melepas paksa pelukan Seungmin. Merasa kasihan dengan Jeongin yang terlihat sulit bernafas.
"Jeongin-ah mianhae. Gwaenchana?" Seungmin bertanya kepada Jeongin saat ia melepaskan pelukannya.
"Gwaenchanayo." Jeongin tampak tersenyum dengan paksa.
"Ck, keluar kau Seungmin! Kau membuat anak ini kesakitan."
"Kan tadi aku sudah minta maaf."
"Keluar dari kamarku Seungmin!"
"Ne, ne, ne. Araseo!"
Seungmin pun beranjak dari kamar tersebut, namun sebelum ia pergi. Ia mengambil kesempatan mencium pipi Jeongin. Dan perlakuan tersebut membuat Jeongin jadi salah tingkah sendiri.
"Dasar bodoh!" Jisung hanya bisa menghela nafas sambil menggerutu melihat betapa mesumnya temannya.
Pandangannya mulai sepenuhnya beralih ke siswa yang dari tadi hanya diam saja.
"Ekhm.." Jisung berdehem pelan, karena tenggorokannya agak sedikit gatal karena kebanyakan berteriak.
"Kau anak baru bukan? Mulai saat ini kita menjadi room mate. Namaku Han Jisung. Kau bisa memanggilku Jisung." Jisung membuka suara dan mulai memperkenalkan diri dengan singkat.
"Annyeong. Namaku Yang Jeongin. Aku kelas 10-1. Sa-salam kenal." Jeongin juga memperkenalkan dirinya. Dan sedikit membungkukkan badannya.
"Jangan terlalu gugup Jeongin-ah. Rileks, rileks." Jisung mulai mencairkan suasana canggung. Terutama Jeongin yang tampak sedikit takut dengan dirinya.
"Ah... Ne." Jeongin tersenyum manis dan memulai kebiasaannya, menggaruk kepalanya.
Jeongin sungguh polos.
Bisa gawat jika ia terus berdekatan dengan Seungmin.
.
.
.
To be continued
Authors note:
Pertama-tama (kaya baca pidato aja), aku mau berterima kasih dengan reader yang mau aja baca ff abal-abal plus gaje ini. Dan maaf aku nyampah ff di fandom Stray Kids. Sebenarnya aku cuman iseng-iseng buat ff fandom ini, ditambah main charaternya Yang Jeongin. Dan entah kenapa malah kebablasan pengen bikin ff terus karena sudah adiktif dengan keimutan Jeonginie.
Oh iya, aku juga ingin berterima kasih dengan reader yang sudah fav, follow dan review ff gaje ini. (Maaf reviewnya gak aku balas karena mager) Khamshamida... /bungkuk hormat.
Dan just info, aku ada buat fanart Jeongin yang aku upload di IG dan Pixiv ku. Kalian bisa cek IG dan Pixiv ku dengan nama @rima_jun. Jangan lupa difollow /ini ceritanya lagi promote/ Yang mau di folback bisa pm di IG. Dan itu juga sebenarnya iseng-iseng bikinnya.
Maaf panjang banget ini authors notenya. Terserah, mau dibaca juga gak papa.
Ok, sekian dan terima Jeongin. /dihajar masa.
