"Kita Sempurna"
Kita saling menatap dan saling mengasiani diri kita sendiri. Kita terpojok dan berada di bagian tersisih dari ujung dunia. Kita mulai berjalan, saling menghampiri. Lalu berkata "Aku ada di sini, untuk memelukmu, melengkapimu."
Naruto milik Masashi Kishimoto
Cerita ini hanya fiktif dan murni buatan saya
Saya hanya meminjam karakter Naruto dan tidak mendapatkan keuntungan berupa materi dari hal ini.
...
Happy Reading!
Pagi ini Konoha dilanda gerimis setelah semalam Tuhan merahmatinya dengan hujan yang begitu hebat. Sakura sedang duduk di teras belakang rumahnya. Tubuhnya dibalut sweeter kuning cerah yang hangat dan celana panjang katun biru muda. Matanya memandang hangat sekaligus redup, terlihat gamang dan kosong, tapi sebuah senyum terlukis di wajahnya. Dia memang tidak menyukai hujan semalam, tapi dia menyukai gerimis pagi ini. Suara tik..tik.. yang pelan, dan rasa dingin menyejukan dari udaranya selalu membuat Sakura merasa nyaman dan tenang.
Sasuke datang dengan senampan sarapan dan duduk di sampingnya. Sakura menoleh dan memberinya sebuah senyuman meskipun tak menatap fokus padanya. Perlahan hidungnya menghirup nafas panjang.
"Waw, apa ini omelet? Aku sangat suka omelet buatanmu Sasuke-kun, asalkan kau tidak menambahkan tomat ke dalamnya..hehehe"
Sasuke menatapnya sejenak dengan sebuah senyum kecil di bibir, lalu mengetuk pelan piring dua kali dengan sendok sebagai tanda untuk Sakura. Sakura tersenyum lagi, kemudian menyamankan posisinya untuk lebih menghadap Sasuke.
Sasuke mulai menyendok omelet itu lalu menyuapkannya pada Sakura setelah meniupnya perlahan. Sakura membuka mulutnya lebar-lebar dan mengunyahnya dengan penuh rasa puas, mulutnya sudah siap untuk memberikan banyak pujian pada suaminya.
"Ini luar biasa Sasuke-kun, omeletmu selalu enak sekali! Aku bahkan rela membayar untuk memakannya seandainya kau tidak mau memasakannya dengan gratis untukku, untung saja kau mau!"
Sakura tertawa lagi di sela-sela sarapannya, Sasuke hanya menatapnya dan tersenyum kecil, hal yang jarang di dapatkan orang lain. Sayang sekali Sakura tak bisa merasakannya meskipun dia berhasil mendapatkannya.
Suapan demi suapan terus masuk ke dalam mulut Sakura hingga omelet itu habis. Sasuke manata piring kosong itu dengan rapi di atas nampan, Sakura sudah sangat hafal dengan suaranya jadi dia sudah mengerti dengan apa yang Sasuke lakukan sekarang.
"Sasuke-kun hari ini aku minum susu setengahnya saja ya, aku sudah merasa kenyang."
Sasuke menyerahkan segelas penuh susu pada Sakura dan Sakura mengembalikan gelas dengan isi yang tinggal setengah setelah meminumnya. Sasuke meraih gelas itu dan meminum sisa susunya lalu meletakannya dengan rapi di atas nampan dan membawanya dengan hati-hati untuk di cuci.
Sakura kembali bersandar pada kursinya. Dia mengernyit saat tidak lagi mendengar suara tik..tik.. gerimis, mungkin karena terlalu menikmati sesi sarapannya dengan Sasuke tadi. Sebuah senyum kembali terpatri di wajahnya, perginya hujan telah meninggalkan bau tanah basah dan udara dingin yang segar. Sakura menghirupnya dengan penuh syukur.
Sasuke datang kembali dan duduk di sampingnya lagi. Sakura menoleh padanya dan Sasuke dengan pelan menggenggam lembut tangan istrinya. Sakura menarik nafas panjang dan bersandar pada pundak suaminya. Matanya masih menatap gamang dan kosong tapi senyuman tak pernah lepas dari wajahnya.
"Sasuke-kun, aku merasa sangat bahagia Tuhan masih mengijinkanku merasakan semua ini."
Sasuke tertegun mendengarnya. Kepalanya sedikit menoleh, melirik pada wajah istrinya yang sedang memejamkan mata. Tangannya memberi sedikit remasan pada genggaman tangan mereka. Sakura membalas remasan tangannya dan mengulas sebuah senyum.
"Aku... sangat bersyukur bisa bertemu denganmu Sasuke-kun, terimakasih.."
Sasuke bisa merasakan sesuatu seakan meremas jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak lebih kencang. Dia tidak tahu harus merasakan apa saat Sakura mengatakan hal itu karena selama ini dia merasa bahwa tidak ada yang patut disyukuri tentang mereka berdua, tentang dirinya. Sasuke merasakan gejolak dalam hatinya dan dia merasa benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, sejenak dia bahkan ingin melepaskan genggaman hangat tangan Sakura. Tapi, semua itu diurungkannya dan dibuangnya jauh-jauh ketika dia melihat senyuman pada wajah Sakura. Sasuke berusaha tenang dan kembali menyadarkan dirinya. Istrinya memang begitu. Berbeda dengannya, istrinya akan selalu tersenyum dan harusnya Sasuke sadar bahwa hal itu juga sudah mulai mempengaruhinya.
.
.
.
AN
Halo..
Maafkan kemalasan saya dan kejelekan mood saya. Malam ini sya kena insomnia lagi. Tidak bisa tidur itu menyebalkan karena terkadang kau pasti akan menemukan hal-hal aneh saat sendirian di tengah malam, dan paginya pasti bakalan kecapekan dan males kerja..
Kembali ke cerita. Bagaimana dengan bagian ini?
Saya selalu ragu untuk membuat cerita bersambung karena sifat pemalas dan moody dan gak pedean saya. Saya membuat bagian ini bukan berati akan melanjutkannya dan membuat sebuah konflik besar dan rumit *meskipun tadi udah kepikiran sih..* Saya menulis karena saya suka, menikmatinya, dan senang jika banyak orang bsa menikmatinnya juga, apalagi yg cerita ini kan ada unsur sosialnya, saya harap ini bisa di jadikan pelajaran buat para pembaca :) Yang jelas, saya sangat berharap semoga kalian bisa menikmati tulisan saya :)
Sekian dari saya, saya mohon kritik dan saran yg membangun untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahn saya dalam menulis. Terimakasih buat para readers, saya gak bsa nahan senyum dan perasaan membuncah lihat review kalian di bagian 1 dan maafkan segala kekurangan tulisan saya, semoga kebahagiaan ada pada kalian semua.
Terimakasih.
saya jga mau minta do'a, tolong do'a in saya biar penyakit saya ini gak benar" ada dan cuma perasaan saya aja. Saya masih sangat kepengin lihat Sasusaku dan anime lain, gak mau keburu ninggalin mereka..hahaha..
Udah deh..sekian aja, masak lebih panjang AN dari pada ceritanya :D *gara" insomnia nih!*
Salam hangat.
Coala :)
