Another Choice
Summary: Maylene mengira dirinya telah berhasil lari dari pekerjaan lamanya sebagai pembunuh profesional yang tidak mengenal belas kasihan. Namun ketika rekan-rekan pembunuhnya yang dulu mengejarnya, pilihan apa yang ia punya? / "Lari bukanlah pilihan, Maylene." / RnR please.
Pairing: Sebastian Michaelis x Maylene
Genre: Romance & Suspense
Disclaimer: all characters belong to Yana Toboso-sensei. I don't own the characters no matter how beautiful or handsome they are, except the OCs. (RONALD KNOX AND CIEL PHANTOMHIVE! Omg, I wish you two were mine :')*slapped by Lizzy*)
Warning: geje, slight pairing, OC, khayalan tingkat kabupaten (?), hasil karya author yang lupa check-up ke RSJ.
Happy Reading~
.
.
.
Maylene mencoba mengabaikan Sebastian kemudian berlari menjauh. Ia berhasil membuat jarak cukup jauh dari Manor namun tidak dari Sebastian, karena Sebastian menggenggam tangannya erat dan mengikutinya. Maylene mendesah kemudian bertanya, "Bagaimana kau bisa—?"
"Menemukanmu?" Sebastian balik bertanya kemudian tertawa kecil. "Mudah. Tuan Muda memintaku mengawasimu, dan aku hanya melakukan apa yang ia perintahkan."
Maylene menghela napas kemudian menyentakkan tangannya paksa dari genggaman Sebastian. Tangannya tidak bisa lepas. Menyadari bahwa ia tidak bisa kabur, ia memaksakan diri menatap Sebastian.
"Lepaskan aku," katanya dingin. Sebastian menaikkan sebelah alisnya.
"Oh? Haruskah?" Sebastian malah mempererat genggamannya, membuat Maylene kesakitan. Maylene mengerang dan memejamkan matanya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Maylene lalu menggigit bibir untuk menahan erangan.
"Kau ikut ke Manor bersamaku."
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Aku takut kau harus," bisik Sebastian, menarik Maylene supaya telinga gadis calon ex-maid tersebut sejajar dengan bibirnya. Bulu kuduk Maylene merinding mendengar hembusan napas teratur yang menerpa telinganya. "Kalau Tuan Muda sudah menyuruhku begitu, aku harus melaksanakannya bahkan dengan taruhan nyawaku. Pertanyaannya adalah, haruskah kau bersikeras melawan perintah Tuan Muda dan membiarkanku mematahkan beberapa dari ratusan tulangmu hanya untuk membawamu kembali ke Manor?"
"Kau... tidak mengerti..." Maylene mencoba berbicara dengan normal. "Aku harus... melarikan diri... dari mereka... sebelum mereka melukai... Tuan Muda..."
Sebastian menatap Maylene yang pandangan matanya memancarkan kekeraskepalaan kemudian menghela napas. "Rupanya kau sulit diyakinkan. Aku terpaksa harus mengambil jalan kekerasan."
Maylene memalingkan wajah, menolak menatap langsung mata Sebastian.
"Bunuh saja aku."
"Tentu, suatu hari nanti," jawab Sebastian dingin dengan senyum yang dipaksakan. "Tapi tidak sekarang."
Keheningan yang mencekam meliputi mereka berdua. Maylene menggigit bibirnya sampai terluka kecil demi menahan erangan. Seorang pembunuh, apalagi yang profesional sepertinya, tidak boleh memperlihatkan sedikit pun tanda-tanda kelemahan. Itu sudah menjadi kebiasaannya dari dulu sebelum datang ke Manor, tapi—
Sebutir peluru berdesing di telinganya, menggores pipinya. Darah mengalir dan gadis tersebut tersentak. Ia tidak menduga akan terjadi serangan mendadak.
Baik dia maupun Sebastian menoleh ke arah peluru datang. Dengan kemampuan matanya, ia melihat banyak sosok bersembunyi di balik pohon. Hatinya mencelos dalam perasaan dingin ketika ia menyadari bahwa Manor sudah berada dalam pengawasan mereka.
"Kita tidak punya waktu!" bisiknya cepat dalam ketakutan sembari melepaskan sembari melepaskan tangannya dari Sebastian yang terkejut dan memaksa butler tersebut menatapnya. "Dengarkan aku! Kembalilah ke Manor, lindungi Tuan Muda. Aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka. Kalau beruntung, aku terbunuh dan mereka menjauh dari sini. Mengerti? Pergilah!"
Kedua mata Sebastian melebar dalam shock. Beruntung kalau terbunuh?
Maylene tidak berharap Sebastian menjawab, melainkan langsung pergi untuk menghadapi musuh-musuhnya. Musuh-musuh yang seharusnya dimusnahkan dari dulu.
Tapi ia tidak ingin melarikan diri. Ia akan membiarkan dirinya terbunuh, karena ia tidak mau ditarik kembali menjadi pembunuh. Ia tidak mau lagi melihat kerabat atau teman dekat korban yang dibunuhnya menangis karena kehilangan, dan ia tidak mau melihat Ciel atau teman-temannya terluka karena dirinya.
Ia menghela napas. Keluarga Phantomhive akan kehilangan satu-satunya maid-nya malam ini.
Tapi bukankah Sebastian bisa membantu Ciel mencari yang lain?
Apa tindakan ini cukup mulia untuk dilakukan?
Baru saja ia mengeluarkan pisau untuk menghalau pengejarnya agar tidak mendekati Manor, seseorang menangkapnya dan menyampirkannya ke bahu. Ia benci mengakui ini, namun ia memejamkan mata dalam kepasrahan, berpikir kalau itu adalah hari terakhirnya melihat Ciel... Bard... Finny... Tanaka...
Sebastian...
Sebastian?
"Itu bukan hal yang bijaksana untuk dilakukan, Maylene."
Maylene membuka matanya dan menyadari ia telah diseret—atau, yang lebih halus, dibawa—pergi dari pertempuran yang dinantikannya, oleh butler loyal keluarga Phantomhive, Sebastian.
Maylene memberontak dan memukul-mukul punggung Sebastian. "Lepaskan aku, bodoh! Kau tidak mengerti! Apa kau mau Tuan Muda terancam?!" teriak Maylene di antara bunyi desing peluru yang hampir mencapai mereka. Sebastian mendengus mendengarnya.
"Aku tidak memiliki niat satu pun untuk menempatkannya dalam bahaya, dan tidak pula berniat untuk membiarkanmu tewas dalam pertempuran tak berguna ini. Perintah Tuan Muda sudah amat jelas; ia memerintahku untuk mengawasimu. Aku tidak akan bisa mengawasimu jika kau bertempur, atau yang lebih parah, sengaja bunuh diri di sana," tukas Sebastian sebal menghadapi kekeraspalaan maid satu itu. Maylene memutar bola matanya.
"Bukankah lebih baik kauserahkan aku kepada mereka, demi keselamatan Tuan Muda yang selalu kaujunjung tinggi itu?" tanya Maylene ketus.
"Mungkin," jawab Sebastian lambat-lambat sementara ia mempercepat larinya menuju Manor. "Tapi perintah awalnya tetap berlaku. Lagipula, aku tidak dapat membiarkan baik Tuan Muda ataupun para pelayannya dalam bahaya terlalu lama."
Maylene mendengus, tahu kalau ucapan Sebastian tadi sama benarnya dengan satu tambah satu sama dengan empat, namun ia membiarkan keadaan di antara mereka tenggelam dalam keheningan sambil merenungkan tindakannya dan kata-kata Sebastian. Rasa bangga memasuki hatinya, hanya terganggu dengan kebingungan yang melandanya ketika ia melihat sosok-sosok pengejar mereka berhenti berlari dan seperti ditarik mundur oleh pemimpin mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Sebastian, memerhatikan bahwa Maylene menjadi diam. Maylene menggeleng.
"Aku tidak mengerti. Mereka menarik diri, mundur dan berhenti mengejar kita."
"Mungkin mereka memutuskan lebih baik tetap berada dalam kegelapan dan menimbulkan ketidakpastian," terka Sebastian masuk akal. Maylene tidak begitu yakin namun pada akhirnya setuju. Gadis itu mengawasi sosok-sosok yang kemudian menghilang satu per satu di balik pepohonan. Ia harus yakin akan memberitahu Finny bahwa hati-hati ketika berjalan-jalan di taman Manor, kemudian sebuah pemikiran menyedihkan muncul di otaknya. Ia mendengus.
"Ada apa?"
"Tidak. Aku hanya berpikir... biasanya aku dapat dengan mudah merasakan kehadiran orang dengan nafsu membunuh di sekitarku." Maylene mendesah. "Rupanya kemampuan berharga itu telah tumpul karena terlalu lama hidup damai."
Sebastian meliriknya sejenak, lalu sadar ia hanya bisa melihat paling jauh ke punggung Maylene karena dia dihadapkan ke belakang dan sang butler mendekap kakinya. Posisi yang cukup konyol untuk membicarakan hal yang serius.
Sebastian menepis pikiran aneh di kepalanya sambil berusaha mencari topik pembicaraan lain. "Kau tahu? Bard mengatakan hal yang sama persis seperti itu beberapa waktu yang lalu."
"Oh ya? Mungkin karena kami berada di situasi yang hampir-hampir sama."
Sebastian merasakan gejolak aneh di perutnya yang tidak ada hubungannya dengan posisinya yang sedang menaiki tangga cepat-cepat. Sebelumnya ia berhasil menutup pintu jalur keluar pelayan dan menguncinya. Sekarang, tujuan utamanya adalah membawa gadis ini ke hadapan Tuan Muda dan memperingatkan sisa pelayan di Manor tentang bahaya yang menanti di luar.
Setelah sampai, ia mengetuk pintu kamar Ciel dengan perlahan sambil berbisik, "Tuan Muda?"
Tidak ada jawaban. Menghilangkan pikiran buruk dari kepalanya, Sebastian menurunkan Maylene tanpa melepas genggaman tangannya kemudian mengetuk lagi. "Tuan Muda?"
Masih tidak ada jawaban. Sebastian membuka pintu, Maylene mengikuti di belakang. Setelah mereka berdua masuk dan Sebastian menutup pintu, terdengar sebuah suara mengancam dan sebuah revolver yang diisi dari tempat tidur.
"Siapa itu?"
"Sebastian Michaelis, my Lord."
Ciel keluar dari balik selimut sembari menghela napas lega, kemudan matanya menjadi awas begitu melihat Maylene. "Sebastian, kau tidak bilang kau membawanya ke sini," kata Ciel. Sebastian hanya diam, itu bukan pertanyaan, maka ia tidak berkewajiban menjawab. Ciel pun mengalihkan pandangannya. "Maylene, apa yang kaulakukan dengan pakaianmu?"
Wajah Maylene merona merah kemudian Sebastian menjawab untuknya. "Dia berusaha kabur tadi. Saya mengawasinya—seperti yang Anda minta—dan berhasil... mencegahnya," jawab Sebastian dengan senyum licik terpampang di wajahnya. Maylene membuang muka, sebal karena Sebastian menyembunyikan fakta bahwa butler tersebut hampir mematahkan pergelangan tangannya dan menyampirkannya ke bahunya TANPA memikirkan pelecehan seksual.
Ciel menatapnya tidak percaya. "Dan kau memutuskan untuk pergi lagi, Maylene? Sudah kubilang, meski aku tidak menjamin keselamatanmu di sini—"
"Keselamatan Andalah yang perlu dibuat jaminan, Tuan Muda," potong Maylene. Ia tahu sungguh tidak sopan bila memotong pembicaraan orang lain, namun ia tidak memiliki waktu banyak. Ia berjalan menuju gorden dan membukanya sedikit untuk mengintip ke luar. "Kita diawasi."
"Bagaimana bisa?"
"Mungkin Peter sudah memberi tahu tempat saya berada."
Maylene berkata dengan nada datar tanpa pernah melepaskan tatapan matanya dari balik jendela, namun ekspresinya menegang. Sebastian mengawasinya dengan ekspresi sedatar dan sekaku yang biasa. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Apa Anda punya rencana?" tanya Maylene memecahkan keheningan, tetap tanpa mengalihkan pandangan dari luar. Ciel menatapnya sebentar kemudian menyilangkan lengan.
"Apa maksudmu?"
"Apa Anda punya rencana?" ulang Maylene. "Anda tidak bisa mengharapkan mereka dalam status tidak aktif selamanya. Mau tidak mau mereka akan bergerak. Dan pada saat itu terjadi, apa yang Anda lakukan?"
Ciel terdiam. "Mau tidak mau kita harus melawan."
"Bagaimana caranya?"
"Kautahu apa yang harus kaulakukan."
Menahan emosinya, Maylene menghela napas kemudian mencengkeram gorden jendela. "Anda tidak tahu apa yang Anda katakan, Anda—"
"Pembicaraan ini," kali ini Ciel-lah yang memotong, "terlalu berat untuk dilakukan pada jam dua dini hari. Sebaiknya besok, kau, Sebastian, Finny, Bard, dan Tanaka datang ke ruang kerjaku. Jam sepuluh. Mengerti?"
Maylene berbalik, menatap sorot mata Ciel yang memaksa, kemudian menghela napas. "Semua keputusan berada di tangan Anda, my Lord."
Baru saja Maylene berjalan dan memegang kenop pintu, Ciel menambahkan, "Dan, Sebastian? Pastikan Maylene tetap berada di kamarnya sampai pagi."
"Yes, my Lord." Sebastian membungkuk. Maylene mendengus dan berjalan keluar, diikuti oleh sang butler.
Setelah yakin Sebastian dan Maylene sudah agak jauh dari kamar tidurnya, Ciel membuka lacinya lagi dan menyimpan revolvernya. Ketika ia berhasil memasukkannya, tangannya terantuk sebuah benda kayu yang keras.
Semata-mata karena penasaran, ia meraih benda keras yang telah menghalanginya tersebut kemudian mengamatinya. Benda itu adalah pigura foto berukuran 20 x 10. Di dalam foto tersebut tersenyumlah enam orang sambil memandang balik kamera. Keenam orang tersebut, adalah Alexis, Francis, dan Elizabeth Midford; serta dirinya sendiri dan kedua orang tuanya.
Foto tersebut paling tidak sudah berumur lebih dari tiga tahun.
Sambil tetap memasang ekspresi datar, ia melepaskan bingkai fotonya dan mengeluarkan lembaran foto lain yang tersembunyi di belakangnya. Foto tersebut adalah foto yang diambil beberapa bulan yang lalu. Kali ini, foto tersebut memuat gambar beberapa orang yang lain dari foto yang pertama. Foto dirinya sendiri, Sebastian, Maylene, Finny, Bard, dan Tanaka di depan Manor. Lebih tampak seperti keluarga daripada foto sebelumnya.
Ciel berusaha keras menyembunyikan senyum.
-x-
Keesokan paginya, Maylene sudah siap bekerja dengan seragam maidnya yang biasa. Untuk berjaga-jaga, Sebastian mengunci kamarnya semalam. Namun maid tersebut tidak dapat memejamkan matanya untuk tidur.
Ia menghela napas kemudian memandang bayangannya lagi di cermin. Semua terlihat sempurna, hanya saja...
Tunggu. Ada yang kurang. Penglihatannya lebih tajam dari biasanya, apa yang..?
Ah. Ia tidak mengenakan kacamatanya.
Rasa panik mengepungnya. Ia tidak pernah mengerjakan tugas-tugasnya sebagai maid tanpa mengenakan kacamatanya. Setelah mencari-cari di setiap sudut kamarnya selama lebih dari satu jam, ia terpaksa menerima bahwa kacamatanya lenyap.
Ia keluar dari kamarnya kemudian berlari-lari kecil menuju tangga utama Manor. Karena penglihatannya lebih tajam dari biasanya, ia kesulitan memperkirakan jarak dan berkali-kali terserimpet kakinya sendiri. Mengutuk kebodohannya karena meninggalkan kacamatanya di sembarang tempat, ia mempercepat jalannya agar bisa cepat sampai di tangga utama, namun—
SRETT!
BRUKK!
"Argh!"
"Maylene? Ini kau?"
Maylene membuka sebelah matanya, setelah tanpa sengaja terserimpet lagi dan menabrak siapapun yang berada di depannya. Anehnya, ia tidak terkejut ketika mendapati lagi-lagi ia berada dalam 'cengkraman' Sebastian, yang hampir ditabraknya sampai jatuh. Wajahnya memerah seketika. Apa sih yang merasukinya?
Lebih dari lima milyar orang ada di dunia ini. Kenapa harus Sebastian yang ditabraknya?
"Maylene?" tegur Sebastian lagi dan lagi. "Kita punya tugas untuk dikerjakan."
Maylene langsung melompat menjauh dari Sebastian sambil berpura-pura membersihkan bajunya. "Maafkan aku, Sebastian."
Yah, ia kembali pada ritual awalnya. Meminta maaf terus menerus, dan berakting bodoh.
Sebastian menyadari ada yang aneh pada wajah Maylene. Ia menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang terjadi, Maylene? Kacamatamu ke mana?"
"Justru itulah yang ingin kutanyakan," tukas Maylene tanpa bisa mengubah nada bicaranya. "Kemarin aku meninggalkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurku. Seharusnya itu tetap berada di sana, namun pagi ini ketika aku bersiap-siap, aku baru sadar bahwa kacamataku menghilang."
"Begitu." Sebastian menggunakan tangan kanannya yang bebas dari troli untuk memegang dagunya. "Kau masih bisa bekerja hari ini?"
"Kurasa begitu. Konsekuensinya adalah mungkin aku akan lebih sering menabrak benda-benda hari ini."
"Aku mengerti. Kupikir aku akan meminta Bard atau Finny untuk menemanimu bekerja juga meminta Tuan Muda untuk mengganti kacamatamu."
"Terima kasih."
Pembicaraan mereka dilakukan dengan nada datar dan terdengar biasa, namun mata mereka saling menatap dengan tatapan waspada. Sesekali Maylene mengalihkan tatapan ke luar jendela, di mana ia merasa ada orang-orang yang mengawasinya. Sebastian memahami arti tatapan Maylene, kemudian ia berkata, "Tuan Muda ingin sarapan di ruang kerjanya pagi ini. Kau, Bard, Finny, dan Tanaka dibebastugaskan." Dengan suara yang lebih rendah ia menambahkan, "Panggil mereka untuk ikut datang ke sana."
"Aku mengerti." Maylene membungkuk singkat dan berjalan dengan lebih berhati-hati. Ia melanjutkan perjalanannya menuju tangga. Ketika ia sampai, ia tidak melihat adanya tanda-tanda akan ketiga rekan kerjanya.
Mungkin mereka berada di dapur, pikirnya masam sambil berbalik. Ia mengetuk pintu dapur tiga kali. "Bard? Finny? Kalian di sana?"
"Maylene?"
Pintu terbuka dan tampaklah wajah Finny yang terlihat cemas. Setelah pemuda tersebut melihat Maylene, wajahnya menjadi cerah. "Maylene, silakan masuk! Apa yang terjadi semalam? Sebastian memang menyebut-nyebut soal kau memutuskan untuk pergi, tapi itu tidak benar kan?"
Berat bagi Maylene menjawab pertanyaan tersebut sekaligus memandang wajah inosen Finny, namun pada akhirnya ia menjawab walaupun singkat. "Dia benar."
Sejenak keheningan menguasai suasana di antara mereka bertiga.
"Bah." Bard menyalakan rokoknya yang lain. Dengan hati-hati ia meniupkan asapnya agar tidak dihirup Finny dan Maylene. "Kau ternyata tidak sepintar yang kuduga, Maylene."
"Apa maksudmu?" tanya Maylene dengan nada suara yang ia harap tidak begitu terdengar menantang.
"Maksudku ternyata kau begitu bodoh sampai mengira bahwa tidak ada yang bisa melindungimu di sini."
"Bukan itu tujuanku kabur."
"Jelaskan apa maksudmu."
Maylene merasa ingin meledakkan dapur dengan amarahnya, namun ia hanya mengangkat bahu. "Kau tidak akan mengerti."
"Maka jelaskan dengan lebih baik agar aku bisa mengerti."
"Aku tidak bisa."
Bard mengerutkan kening. "Apa tidak lebih mudah bagimu untuk langsung menjelaskannya saja tanpa harus beradu argumen denganku?"
"Itu tidak penting," Maylene beralasan, kemudian segera mengganti topik. "Sebastian menyuruhku untuk meminta kalian agar datang ke ruang kerja Tuan Muda."
"Apa ini tidak terlalu pagi?" Kali ini Finny yang bertanya. Maylene mengangkat bahu.
"Aku tidak tahu. Soal itu, Sebastian dan Tuan Mudalah yang memutuskan."
"Yah, kurasa kita tidak punya pilihan. Finny, ayo," ujar Bard sambil beranjak dari kursinya. Ia berjalan seperti biasa ke arah pintu, kemudian berhenti ketika ia melewati Maylene. Ia mengacak rambut merah keunguan maid tersebut lalu menambahkan, "Kadang-kadang melihatmu tanpa kacamata itu cukup baik, Maylene."
Warna merah muda kembali muncul di pipi Maylene.
~To Be Continued~
A/n
Konnichiwa~
Nezumi (no Onee-chan) desu.
Yah~ *ngulet* Akhirnya penpik geje ini sampai di chappie 2. Aku bangga. :"
Asal mula penpik ini adalah ketika seniorku Ayano menantangku membuat penpik SebasMaylene. Awalnya ribet, berhubung penpik SebasMaylene itu dikit (banget) dan saya kekurangan inspirasi.
Maka lahirlah penpik geje ini. Siapa mama-papanya? Saya dan lappie. Bangga deh. *meledakkan diri*
Lebih bangga lagi aku waktu tau penpik ini setidaknya telah mendapatkan empat review dari senior-senior dalam bidang Kuroshitsuji tercinta.
So, keep read and review please! I won't know who wants me to continue writing and who wants me to stop unless the readers share their thought about it ^^
(Note: if you make this fic as a favorite, or follow it, I owe you one .)
THANK YOU TO:
SILENT READERS
UZUKA MICHAELIS (BIASANYA SAYA JUGA SUKA SEBASCIEL, TAPI LAGI NGGAK MINAT YAOI =.=)
IDA-SAN (UPDATED!)
FRANKIEZCRAZY (AKU JUGA –MANTAN- FUJOSHI!)
AND GUEST (MAKSUDNYA APA XD MAYLENE KAN MEMANG HEBAT DAN CIEL MEMANG BIJAKSANA :b)
Nah, sekarang,
Mind to RnR?
