GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN – Chapter 2 of 2 (END)

Characters : Akashi Masaomi, Akashi Seijuurou dan chara lainnya

Disclaimer : Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Warning : Abal, aneh, hanya imajinasi, kayaknya ada typo, OOC, ada OC mohon maaf bila ada kesamaan ide.

A/N : Hola minasan! Saya update lagiiiii!

Summary : Kalau kau diberi satu kesempatan lagi untuk mengulang hidupmu, bisakah kau memanfaatkannya dengan baik tanpa mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya?

DON'T LIKE DON'T READ


Masaomi berjalan dalam keheningan, entah dimana. Tempat serbaputih, tanpa ada satupun orang atau objek lain selain dirinya. Dimana ini? Bukannya tadi dia berada di pemakaman putra sematawayangnya? Sekarang, kenapa dia bisa berada di sini?

"Akashi Masaomi."

Sebuah suara entah milik siapa memasuki gendang telinganya.

"Siapa kau?" tanya Masaomi, "Tunjukkan dirimu padaku."

"Aku hanyalah pembawa pesan. Tanpa wujud, tanpa raga."

"Mau apa kau?" tanya Masaomi.

"Bagaimana rasanya, kehilangan putramu sendiri?" tanya suara itu, "Menyedihkan bukan? Kau kehilangan satu-satunya pewaris keluargamu yang paling kompeten."

"Diam kau," Masaomi menggigit bibir bawahnya, mengingat kejadian … tadi?

"Bukannya putramu meninggal karena dirimu? Yang terlalu berambisi akan kesempurnaan? Yang terlalu mendamba kemenangan?"

"Diam."

"Sekarang ini, kau tinggal sendirian. Siapa yang akan menemanimu di masa tuamu? Tahukah kau, kaulah yang merusak nama Akashi, nama kebanggaanmu, karena tidak berhasil menjaga putramu sendiri?" suara itu terasa makin dekat, namun entah dimana. "Lihatlah, bagaimana kemenangan dan kesempurnaan yang kau puja membawa petaka bagi keluargamu, bagi putra sematawayangmu."

Masaomi hanya diam.

"Kau sadar bukan, saat itu putramu sedang tidak mampu karena baru merasakan kekalahan, hasil didikanmu yang selalu menomorsatukan kemenangan? Kau lihat bukan, betapa pucat dan kurusnya dirinya? Tapi, kenapa kau tidak menghentikannya?" suara itu nampak berputar di sekeliling telinga Masaomi, "Bukankah sebenarnya kau amat menyayanginya? Kenapa kau susah sekali menunjukkan kasih sayangmu? Apa karena perlakuan yang dulu juga kau terima, sehingga kau menjadi manusia dingin seperti ini?"

Bibir Masaomi bergetar, "Ya, aku menyayanginya. Aku sangat menyayagi putraku."

Suara itu nampak tertawa pelan, "Menyayanginya sebagai apa? Sebatas penerusmu, atau benar-benar anakmu? Anak yang selalu kau nantikan bersama mendiang istrimu?"

"Anakku, sebagai putraku!" jerit Masaomi, "Aku ingin dia kembali, aku ingin dia hidup, aku ingin bersamanya! Aku menyesal, kenapa aku tidak pernah bisa berubah sejak dulu? Aku sadar saat itu dia sedang sakit, tapi kenapa aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang mebuatnya meninggalkan tugasnya?!" Masaomi jatuh terduduk, "Aku menyesal, sungguh …. Aku ingin putraku kembali padaku!" napas Masaomi nampak memburu.

"Baiklah, kau punya satu kesempatan," ucap suara tersebut, "aku melihat penyesalan yang sungguh-sungguh padamu. Akan kuberi satu kesempatan lagi."

Satu kesempatan?

"Kau akan bertemu putramu kembali, namun, jika kau tidak berhasil menjadi pribadi yang lebih baik, hal yang sama akan terulang, dan tidak akan kembali lagi."

"Benarkah? Aku, bisa bertemu Seijuurou kembali?"

Terdengar suara hembusan lembut, "Ya."

Detik berikutnya, kembali kegelapan menelan kesadaran seorang Akashi Masaomi.


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -

"Tuan Besar! Tuan Besar!"


Masaomi tersentak dan bangun. Meneliti ruangan tempatnya berada. Ruangan dengan rak buku menjulang, satu set meja lengkap dengan komputer, dokumen perusahaan ... tidak salah lagi, ini kamar kerjanya.

Tapi kenapa? Bukankah tadi dia berada di tempat putih entah di mana?

"Maafkan saya Tuan Besar. Tapi, Anda tertidur sambil menangis. Saya khawatir, jadi saya membangunkan Anda," ucap Tanaka sambil menuangkan secangkir teh, "Silahkan diminum Tuan Besar, saya harap, teh ini bisa menenangkan pikiran Anda."

Menangis? Masaomi meraba pipinya. Ah, cairan hangat itu turun di sana. Disekanya dengan tangan. Sudah berapa lama dia tidak menangis? Setahun? Dua tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? Sejak kapan?

Aroma Teh Earl Grey yang tehidang membuat pikiran Akashi senior itu rileks, diteguknya sekali sambil mencoba menggali informasi. Oke, putranya sudah meninggal dan dimakamkan di samping makam Sang Istri, kemudian dia pingsan lalu berakhir pada sebuah tempat putih antah berantah, diceramahi oleh sosok tak kasat mata tentang semua perlakuannya selama ini. Yang sudah dibutakan oleh sebuah kata 'sempurna'. Sosok tak kasat mata itu mengatakan bahwa Masaomi masih bisa memperbaiki dirinya sekali lagi.

Sekali lagi ...

Kepala Keluarga Akashi itu tersentak dan menyambar ponsel di atas meja. Dipelototinya tanggal yang tertera di sana.

17 Desember XXXX, pukul 22.03 waktu setempat.

Masaomi terhenyak, dia kembali.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah itu mimpi yang meperlihatkan masa depannya yang suram? Tapi, kenapa terasa nyata? Atau memang dia sudah berada di sana dan kembali pada masa sekarang? Waktu paralel? Time travel?

Entahlah.

Satu nama terlintas di kepalanya.

Dalam –entahlah, mimpi itu, Seijuurou telah kembali dua menit yang lalu. Buru-buru dia keluar, menyisakan Tanaka yang menatapnya bingung.

Masaomi menyusuri mansion dengan perasaan kacau, jika memang dia telah kembali, seharusnya Seijuurou masih ada, masih hidup. Setibanya di hall utama, dia berpapasan dengan pemilik rambut merah yang tidak lain adalah putranya sendiri.

Akashi Seijuurou masih hidup.

"Tadaima, Otou-san."

"Okaerinasai," sejujurnya Masaomi ingin menangis, "Bagaimana pertandinganmu?"

Dilihatnya sang putra memalingkan wajah sejenak, namun sedetik kemudian kembali menatapnya, "Gomenasai, Otou-san. Kami ... dikalahkan Seirin. Skor kami 105-106."

Adegan selanjutnya, Masaomi akan menampar pipi putra sematawayangnya dan mengatakan bahwa Seijuurou telah mempermalukan Keluarga Akashi dengan satu kekalahan. Dia berhasil menang di Inter-High, tapi kalah pada Winter Cup, pertandingan yang dianggap sepele oleh Masaomi. Kemudian, Pemimpin Akashi Corp itu akan mengusir sang putra dan mengatakan tidak ingin melihat wajahnya.

Sebelumnya.

"Sou ka," hanya kata itu yang terucap di mulutnya, "Pergilah ke kamarmu dan bersihkan tubuhmu. Kita bisa bicara nanti."

"Ha'i, Otou-san."

Sepeninggal Seijuurou, Masaomi menghela napasnya. Hatinya terasa ringan, berbanding terbalik dengan ... saat itu, ketika emosi menguasai dirinya. Rasa pedas pada telapak tangannya tidak terasa. Ah, dia melupakan sesuatu. Jika waktu ini memang kembali, maka seharusnya sekarang Seijuurou sedang sakit. Ditekannya sederet nomor pada ponsel, menghubungi seseorang dan meminta pada seorang maid untuk membuatkan semangkuk bubur, serta meminta sebaskom air hangat lengkap dengan handuk kecil.


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -


Akashi muda telah selesai membersihkan dirinya. Kepalanya makin berdenyut-denyut, dan sendinya makin ngilu, nyaris saja tubuhnya bercinta dengan lantai kalau tidak segera bertopang pada tembok. Ceh, kenapa di saat begini dia harus sakit segala. Dia tahu pasti, liburan adalah waktu bagi sang Ayah memberinya pendidikan akan perusaahan yang tidak main-main. Siap tidak siap, pewaris tunggal ini harus menerimanya.

Diambilnya termometer dari dalam kotak P3K pribadi, lalu mulai mengukur suhu tubuh sendiri.

38,6 derajat.

Whoa!

Sang Emperor menghela napas, dia benar-benar sakit dan butuh istirahat. Mencuri waktu, Seijuurou memutuskan berbaring sejenak. Remaja itu menarik selimut dan meraih remot demi menghangatkan ruangan. Sialnya, benda laknat itu tidak bisa dipakai saat seperti ini. Haah, padahal baru enam bulan dia meninggalkan kamarnya.

Tubuh Seijuurou panas dan dingin saat bersamaan, dan perutnya meronta minta makan. Namun, karena rasa lelah yang mendominasi, pemilik marga Akashi itu jatuh terlelap. Tidak lama setelahnya, Masaomi dan Tanaka masuk ke dalam kamar tanpa sepengetahuannya. Suhu dingin menyapa kulit mereka, kenapa Seijuurou tidak menyalakan pemanas?Akashi senior medekati sang putra yang tidur dengan wajah memerah dan napas yang tidak beraturan dan tinggal satu-satu. Disentuhnya kening berhiaskan helaian merah warisan darinya dan sang Istri.

Panas.

Putranya pasti kedinginan. Sekali lagi, kenapa dia tidak menyalakan pemanas? Masaomi meraih remot dan menekannya. Tidak berfungsi. Baterainya habis atau pemanasnya rusak?

"Tanaka, ada apa dengan pemanas di ruangan ini?" tanya Masaomi.

"Maafkan saya, Tuan Besar. Pemanas kamar ini rusak sejak kemarin, saya sudah menghubungi beberapa teknisi namun mereka belum bisa datang," ucapnya sambil membungkuk, "Maafkan saya, saya siap menerima hukuman, Tuan Besar."

Biasanya Masaomi akan marah besar. Tapi, dia sudah bertekad mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Dihembuskannya udara hangat dari hidung, mencoba mengendalikan diri.

"Begitu ya, apa boleh buat," ucapannya membuat sang Butler senior tersentak, "Buka lemari Seijuurou dan aku minta tolong cari jaket dan kaus kakinya yang paling tebal, bawa kemari," titahnya.

Apa? Minta tolong? Butler yang paling lama mengabdi itu tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Nampaknya, dia butuh pembersih telinga.

Masaomi mendengus geli melihat ekspresi Butler kepercayaannya, "Ada apa denganmu? Cepatlah, Seijuurou bisa kedinginan."

"Ha-ha'i, Tuan Besar," Butler itu menunduk dalam dan bergegas membuka lemari dan mencari apa yang diperintahkan.

Setelah menyerahkan yang diminta, Kepala Keluarga Akashi itu membuka selimut yang dikenakan replikanya, sontak membuat sang pemilik makin menggigil dan terbangun.

"Tubuhmu panas sekali, suhu kamarmu juga sangat dingin. Kau bisa bangun sebentar untuk memakai kaus kaki dan jaketmu?" tanya Masaomi.

Seijuurou hanya mengangguk, matanya terasa kabur dan kepalanya melayang. Siapa? Ayahnya kah? Nyata? Mimpi kah? Setelah kaus kaki dan jaket selesai dipakai, kepala Akashi muda itu terasa makin sakit, terlihat dengan caranya mengerutkan dahi. Dengan lembut, sang Ayah membaringkan kembali putranya.

"Jangan lama-lama sakit, Sei. Cepat sembuh, kau tidak mau 'kan, menghabiskan liburan musim dingin hanya dengan berbaring?"

Untuk kedua kalinya, Tanaka butuh pembersih telinga.

Sei?

Itu panggilan Nyonya Shiori dulu, sebagai panggilan sayang bagi Sang Emperor, diingatnya juga, Nyonya Shiori-nya dulu meminta agar Tuan Besar-nya memanggil seperti itu namun ditolak. Ada apa ini?

Ponsel Tanaka bergetar, dia memohon diri untuk menjawab panggilan.

"Tuan Besar, Dokter Miyatani sudah tiba."

Masaomi mengangguk, "Tolong suruh dia kemari segera. Dan tolong beri tahu pada maid agar makanan Sei dibawa kemari juga."

Tiga kali, ada yang punya pembersih telinga untuk Tanaka?

Jujur saja, Masaomi tahu Butler kepercayaannya itu bingung dengan tingkahnya sekarang. Ah, dia tidak mau ambil pusing, pura-pura tidak tahu saja. Toh, kalau dia cerita juga tidak akan ada yang percaya.

"Kenapa denganmu hari ini Tanaka? Kau banyak bengong."

"M-mochika arimasen, Tuan Besar, saya segera melaksakannya!" Tanaka berlari keluar ruangan.

Masaomi tersenyum geli, kemudian beralih lagi pada putranya, "Sabar sebentar lagi ya, Sei."


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -


Dokter Miyatani menutup selimut hingga mencapai batas leher putra sematawayang Akashi Masaomi. Setelah sebelumnya mengecek suhu tubuh, tekanan darah, reaksi pupil, detak jantung dan mengambil sampel darah sang Tuan Muda.

"Bagaimana?" tanya Masaomi.

"Aku masih belum bisa menyimpulkan, kemungkinan dia terkena tifus," katanya, "Hasil tes darahnya akan aku bawa ke laboratorium, besok siang hasilnya akan keluar. Untuk sementara aku akan meresepkan obat untuk penurun demam, pereda nyeri, dan antibiotik."

Masaomi mengangguk, "Baiklah, terimakasih."

Dokter keluarga Akashi itu menatap dengan pandangan agak bingung melihat sikap Masaomi yang berbanding terbalik dengan biasanya. Seingatnya, dia tidak pernah sepeduli ini dengan putra tunggalnya itu. Serasa ingin bertanya, namun memilih diurungkan.

"Baiklah, aku permisi dulu."

Bertepatan dengan keluarnya Dokter Miyatani, seorang maid datang dengan membawa baki dorong berisi makanan untuk sang Emperor yang tengah terbaring sakit. Mangkuk berisi bubur hangat dengan segelas air kini telah berpindah ke tangan Kepala Keluarga Akashi.

Mulanya, pria paruh baya itu bingung dengan makanan yang ada dihadapannya. Dicobanya mengingat-ingat, menggali kenangan jauh di masa lalu, ketika mendiang istinya masih ada bersamanya.

"Sei, bangunlah sebentar. Kau harus makan," suara berat Masaomi bergema di gendang telinga remaja berambut scarlett tersebut.

Sejujurnya, sang pewaris tunggal itu tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Akhirnya, Seijuurou yang setengah sadar membuka mulutnya perlahan. Bubur hangat itu masuk ke dalam rongga mulutnya, mengunyahnya sekali-dua kali dan menelannya. Karena rasa lapar yang menggerayang, secara refleks mulut itu membuka lagi. Dengan hati-hati, Masaomi kembali menyuap sang putra.

"Jangan terlalu cepat, nanti perutmu kaget."

Tanaka yang setia berdiri di belakang sang Tuan Besar merasa sangat terharu. Semenjak kelahiran sang Emperor, tidak pernah sekalipun dia melihat pemandangan dimana Seijuurou menerima kasih sayang yang pantas dari Ayah kandungnya sendiri. Tidak pernah sekalipun Tanaka melihat Masaomi duduk dan mengkhawatirkan kondisi Seijuurou sebelumnya. Kecuali saat ini. Dilihatnya sang Tuan Besar duduk sambil menyuapi putra sematawayangnya –meski canggung- dengan hati-hati.

Rasanya, demam Seijuurou cukup tinggi, sehingga remaja itu sesekali mengerang kesakitan dan memberikan tanda-tanda bahwa dia akan muntah. Namun, matanya selalu tertutup. Tidak berniat menampakkan sepasang iris crimson warisan Ibunya.

Bubur dalam mangkuk tidak kunjung habis, meski barang setengah. Sang Emperor tidak mau membuka mulut, perasaan mual terus menggerayanginya. Sang Ayah membantunya meminum air dan beberapa vitamin, lalu merapikan selimut.

"Apa, Tuan Muda akan baik-baik saja?" tanya Tanaka.

Masaomi mengangguk, "Tentu, karena dia anakku."

Tangan besar Masaomi yang mulai keriput itu bergerak turun membelai mahkota merah warisan Shiori-nya dengan sayang. Berapa lama dia tidak menyentuh putranya lagi? Lima tahun? Sepuluh tahun? Betapa waktu terlalu cepat berlalu.

KRIIIIIIIIIINGGGGGG.

Suara alarm di atas meja belajar yang mengaung cukup mengagetkan Masaomi dan Tanaka. Segera Butler kepercayaan keluarga Akashi itu mematikan dengan sigap. Rupanya, jam laknat itu turut mengganggu istirahat sang Emperor. Terbukti, kini mata crimson yang tadinya tak sudi nampak, kini terlihat. Nampak lelah dan buram, bak kehilangan cahaya. Sangat terlihat, tubuh Seijuurou yang bergetar saat mencoba bangun dari kasur, entah untuk apa.

"Apa yang kau lakukan? Tubuhmu panas sekali, kau harus istirahat," tangan besar Masaomi menahan tubuh putranya agar tidak bangkit, "kembalilah berbaring."

"Tuan Muda, sebaiknya Anda beristirahat saja," ucap Tanaka.

Entah Seijuurou benar-benar tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan atau tubuhnya sudah ter-setting program bahwa dia harus bangun dari kasurnya saat alarm itu berbunyi, Seijuurou tetap berusaha bangkit.

"Sei, sudahlah. Bangun saja kau sempoyongan. Sebaiknya kau kembali berbaring," ucap Masaomi sambil terus memegang bahu anaknya, "apa yang kau inginkan?"

Tanaka menampilkan ekspresi sedih, "Tuan Besar, alarm barusan tanda agar Tuan Muda bangun dan belajar."

Masaomi menoleh, seolah berkata maksudmu?

"Setiap hari, jika saya lewat depan kamar Tuan Muda untuk mengecek jendela di lorong, saya selalu mendengar suara alarm ini. Tidak lama kemudian, lampu kamar Tuan Muda akan menyala. Beberapa kali saya masuk, dan melihat Tuan Muda belajar dari malam hingga pagi," jelasnya, "saya selalu memintanya tidur kembali, namun selalu ditolak."

Masaomi membawa putra sematawayangnya ke dalam dekapan. Diingatnya –entahlah- mimpi yang dialaminya. Saat ini, Seijuurou tengah mati-matian melawan rasa sakit sendi dan kepalanya demi mempelajari bisnis untuk menunjang dirinya sebagai pewaris. Dengan kondisi setengah sadar begini, sungguh luar biasa seorang Akashi Seijuurou mampu menyerap ilmu yang dipelajarinya.

Seijuurou nampak sedikit memberontak karena langkahnya terhenti di tempat. Kesadarannya masih buram, dia nyaris tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Apa ini? Kenapa Otou-san-nya ada di sini? Pria paruh baya itu tidak akan pernah datang ke kamarnya hanya karena dia sakit.

"Sei, dengarlah. Ini aku, Otou-san-mu. Lupakan dering barusan, tubuhmu lemah dan panas sekali. Dengarkan aku, kembalilah tidur," bisik Masaomi.

Sepertinya hal tersebut memang manjur, terbukti sekarang Seijuurou kembali terkulai dengan mata yang tertutup rapat. Dengan perlahan, Masaomi membaringkan tubuh kecil Seijuurou dan menyelimutinya hingga batas leher. Ah, baru kali ini Masaomi melihat putranya dalam kondisi seperti ini. Tunggu, apa sebelumnya juga pernah? Selama hidupnya, sudah berapa kali Seijuurou sakit tanpa perhatian darinya?


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -


Sesuai janji Dokter Miyatani, hasil tes darah Seijuurou keluar, lebih cepat dari perkiraan. Melalui telepon pagi ini, Seijuurou didiagnosa tifus. Masaomi hanya menghela napas, dan mengatakan akan menyerahkan bagimana baiknya pengobatan Seijuurou pada Dokter kepercayaan keluarga Akashi tersebut. Dokter Miyatani mengiyakan dan berkata sedang dalam perjalanan menuju kediaman Akashi.

Usai menutup telepon, Masaomi merenung. Apa sebenarnya yang terjadi kemarin? Dia bermimpi, atau itu kenyataan dan dia kembali ke masa lalu untuk memperbaiki diri dan keadaan? Jujur saja, dia benar-benar bingung dengan keadaan yang sudah dilaluinya. Menggelengkan kepala, Masaomi berjalan menuju kamar anaknya.

Tidak ada yang berubah sejak semalam. Ruangan ini nampak lebih dingin beberapa derajat. Seijuurou masih berbaring dengan wajah yang merah, dan nampak raut kesakitan terpancar dalam tidurnya. Tangan besar Masaomi bergerak untuk mengganti kain kompres di kepala putranya, di saat yang bersamaan, manik ruby itu membuka.

"Ohayou, Sei," sapa Masaomi.

Seijuurou merasa bingung dengan keberadaan Ayahnya. Sejak kapan dia mau menyapa seperti itu? Kenapa sejak kemarin rasanya Ayahnya selalu berada di sampingnya?

Tanpa menjawab, netra merah itu mengerling ke arah jendela, mendapati hari telah berganti.

Hah? Sejak kapan? Sial, dia masih belum menyelesaikan buku bisnisnya.

Saat kompres dingin itu menyentuh dahi, Seijuurou menatap Masaomi yang duduk di sisi kasur. Dulu, Ibunya yang akan melakukan hal tersebut. Kenapa semua ini terasa ganjil? Separah itukah demamnya hingga dia bermimpi yang tidak-tidak.

"Kau tidak bermimpi Sei," tangan Masaomi membelai helaian merahnya, "Ini benar-benar Otou-san-mu."

Ah, Seijuurou serasa ingin menangis.

"Dokter Miyatani bilang, kau terkena tifus," ucap Masaomi, "Kau harus istirahat. Tidak usah memikirkan apapun."

Seijuurou ingin berkata, namun terasa sulit. Tenggorokannya terasa kering.

"Ah, aku lupa," Masaomi meraih botol air di nakas, "Minumlah dulu."

Dengan hati-hati, dibantunya Seijuurou untuk menenggak air hangat tersebut. Setelah selesai, kembali dibaringkannya. Tepat setelah kepala Seijuurou menyentuh bantal, pintu kamar diketuk dari luar.

"Masuk," ucap Masaomi.

Pintu terbuka, dan menampilkan Tanaka, "Tuan Besar, Dokter Miyatani sudah tiba."

Kepala keluarga Akashi itu mengangguk, "Tolong suruh dia kemari."

Tanaka memohon diri.

Dokter Miyatani kembali memeriksa kondisi sang Emperor, "Suhu tubuhnya lumayan tinggi, tekanan darahnya juga rendah. Aku yakin, sejak semalam, mungkin beberapa kali Seijuurou mengalami diare."

Masaomi mengangguk.

Dokter kepercayaan keluarga Akashi tersebut menghela napas, "Jujur saja, aku meyarankan agar Seijuurou di rawat inap di rumah sakit," kalimat yang membuat jantung Masaomi berdegup dengan kencang, "Tapi melihat ekspersimu, aku yakin, kau tidak ingin anakmu dibawa kesana."

"Ya, kau benar," suara lemah Masaomi, mengingat –entahlah- mimpi semalam dan kematian Istrinya.

"Aku sudah menduga kau akan menjawab begitu," ujar Dokter Miyatani, "Baiklah, Seijuurou bisa dirawat di sini, tapi, kuharap kau bisa memperhatikannya. Jangan biarkan dia banyak bergerak atau berpikir keras dan menjaga asupan gizinya," titah sang dokter membuat Masaomi menghela napas lega. "Dan satu lagi, sebaiknya dia dipindahkan dari sini. Suhunya terlalu dingin."

Masaomi tersenyum kecil, "Tenang saja, aku akan memperhatikan itu," ucap Masaomi.

Dokter Miyatani mengangguk, meski ada secuil hal yang menurutnya ganjil. Sejak kapan Akashi Masaomi selembut ini?

"Baiklah, untuk jaga-jaga, aku akan menginfusnya dulu. Untuk pencegahan agar dia tidak mengalami dehidrasi."

Tanaka masuk sambil membawa tiang infus. Dengan terampil, Dokter Miyatani memasangkan jarum infus di tangan kiri Seijuurou, membuat remaja itu terbangun karena merasakan setitik rasa sakit di tangannya.

"Sudah selesai. Selain antibiotik, pereda nyeri, dan penurun demam yang kuresepkan semalam, aku akan menambahkan resep untuk vitamin dan pereda mual," ucap Miyatani, "Pastikan dia beristirahat dan makan walau sedikit-sedikit. Hati-hati, infusnya lepas," Dokter Miyatani memakai jaketnya, "Aku permisi dulu."

"Baiklah, terimakasih," Masaomi membungkukkan badan, membuat sang Dokter dan Tanaka yang melihatnya terperangah.

"Uh, baiklah. Jaga dia baik-baik. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku."


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -


Tanggal 20 Desember XXXX

Seijuurou mengalami kemajuan, walau tidak banyak. Demamnya sudah mulai turun, dan tidurnya mulai nyenyak. Walau masih merasa mual dan muntah beberapa kali, setidaknya dia sudah mau menghabiskan tiga perempat dari makanannya. Pemilik netra ruby itu juga mulai tidak mengawang-awang lagi, dan menjawab semua pertanyaan Ayahnya.

Dan tentu saja, Masaomi selalu berada di sampingnya.

Jujur saja, Seijuurou merasa sangat bahagia. Setiap kali dia membuka matanya, dia akan melihat sang Ayah duduk di kursi di samping kasurnya. Ayahnya yang membantunya berganti baju, memapahnya ke toilet, dan menyuapinya jika nafsu makan Seijuurou menurun. Sebuah pengalaman yang tidak pernah didapatinya sepanjang usianya.

Namun, bukan berarti Masaomi merasa lega begitu saja. Hari ini, hatinya sangat was-was, jangan sampai kejadian dalam –entahlah- mimpinya terulang kembali. Untuk itu, kepentingan Akashi Corp cabang Nagano dia serahkan pada asistennya, membuat sang asisten kebingungan, karena tidak pernah sekalipun sang pimpinan utama akan menyerahkan tugas tersebut dengan alasan putra sematawayangnya sakit.

Masaomi bertekad berubah menjadi lebih baik. Untuk dirinya, dan untuk putranya.

Kaki bersepatu coklat itu menyusuri lorong, ketika matanya menatap ke arah jendela, tangannya nampak membawa sebuah kotak yang dipegangnya dengan hati-hati. Salju sudah turun sejak enam jam yang lalu. Suhu terasa lebih dingin dari kemarin. Kembali diingatnya kejadian dalam –entahlah- mimpinya itu. Saat ini, dia tengah berada di Nagano, dan Seijuurou sedang kedinginan dalam tumpukan salju yang mebuat jantungnya berhenti dan … meninggal dunia.

Masaomi menggelengkan kepala. Tidak, anaknya masih hidup. Putranya masih bersama dengannya. Dia tidak akan membiarkan sang Kapten Rakuzan itu meninggal begitu saja. Seijuurou masih muda, jalan hidupnya masih panjang untuk sekedar meninggal dalam tumpukan salju akibat kelalaian dirinya sebagai Ayah.

Kembali dilangkahkan kakinya menuju kamar Seijuurou. Entah mengapa, dirinya tidak pernah bosan menyambangi kamar tersebut, bahkan untuk sekadar memastikan Seijuurou tidur atau menyeka keringat putranya atau mengganti kompresnya. Tangan besar itu mengetuk pintu sebentar kemudian masuk ke dalam. Pemandangan yang tersaji membuatnya menghela napas.

Tuh 'kan. Kompres Seijuurou kini berada di sisi kepalanya dan selimutnya tersibak. Kepala Keluarga Akashi itu menghela napas, kalau anaknya tambah sakit bagaimana? Diletakkannya kotak yang dibawanya di atas nakas. Saat hendak menutup selimut, dilihatnya bulir keringat pada wajah dan beberapa bagian tubuh putranya. Diambilnya termometer, dan mengukur suhu tubuh Seijuurou.

37,8 derajat.

Terdengar getaran Smartphone Seijuurou yang diletakkan di nakas. Beberapa chat dan e-mail sudah masuk ke dalam. Sebagian besar pesan yang terpampang adalah ucapan selamat ulang tahun dan ucapan semoga lekas sembuh untuk sang mantan Kapten Generasi Keajaiban. Meski ada juga beberapa file OSIS dan file untuk pembahasan strategi Basket yang terlampir melalui e-mail. Masaomi harap, putranya tidak melihat e-mail itu untuk beberapa waktu. Bisa gawat kalau hal tersebut menjadi pikiran anaknya, Seijuurou akan tambah lama sembuh.

"Hnnggghh …" Seijuurou mengerang dan membuka mata.

"Ah, maaf sudah membangunkanmu, Sei."

Seijuurou menggeleng pelan, lalu membuka dua kancing atas piyamanya.

"Kenapa? Merasa sesak?" pertanyaan terlontar dengan dominasi khawatir.

Kembali Akashi muda itu menggeleng, "Tidak, aku hanya kepanasan."

Masaomi tersenyum, membantu Seijuurou duduk dan menyeka bulir keringat putranya sebelum menurunkan sedikit suhu pada pemanas ruangan darurat yang dibeli olehnya kemarin.

"Sepertinya, kotak masuk pesanmu sangat banyak," ucap Masaomi, "Kau punya banyak teman rupanya. Kalau keadaanmu sudah lebih baik, balaslah mereka."

Seijuurou tersenyum, "Tentu. Mereka semua teman yang baik."

"Sei, Otou-san sudah melihat semua nilai rapormu," ucap Masaomi, "Sepertinya kau kembali meraih nilai yang terbaik ya? Prestasimu untuk ekstrakulikuler juga sangat bagus. Kau masih tahun pertama, namun sudah menjadi Ketua OSIS, Kapten Basket SMA Rakuzan, wakil ketua ekskul Kendo," kepala keluarga Akashi itu tertawa, "Pasti kau juga ketua dalam kelasmu, ya 'kan?" Masaomi menatap wajah anaknya, "Otou-san bangga padamu."

Seijuurou tersentak. Apa ini? Ayahnya memujinya? Tidak pernah selama ini dia mendengarnya. Ini kali pertama. Hal yang membuat dadanya berdesir dan menimbulkan bulir pada sudut kedua matanya.

"Hei, hei. Kenapa kau menangis?" Masaomi menghapus air mata tersebut dengan jarinya.

"Aku tidak menangis. Aku … aku hanya merasa bahagia."

Masaomi mengecup puncak kepala Seijuurou, "Ah iya. Hapir saja lupa."

Masaomi membuka kotak yang tadi dibawanya, rupanya, sebuah kue ulang tahun berbentuk kotak berukuran sedang, lengkap dengan ucapan selamat yang terpampang di permukaannya. Lilin dengan angka 1 dan 6 tersisip di dalam kotak sebelum dipasang oleh Masaomi.

"Hari ini ulangtahunmu, bukan?" tanya Masaomi sambil menyalakan lilin dengan korek yang dikeluarkan dari sakunya, "Kau sudah bertambah besar, Sei."

Kembali air mata Seijuurou mengalir. Tuhan, semoga ini bukan mimpi. Semoga ini benar-benar Ayahnya. Jika ini mimpi, tolong jangan pernah bagunkan dia lagi.

"Hei, ayolah. Tidak ada orang yang akan menangis di hari ulang tahunnya bukan?" Masaomi membantu Seijuurou untuk duduk dan menyusun bantal di punggung anaknya, "Hari ulang tahun, seharusnya kau tidak boleh bersedih."

Seijuurou mengangguk dan menghapus air matanya.

"Happy birthday Seijuurou,

Happy birthday Seijuurou,

Happy birthday Dear My Son,

Happy birthday to you."

Kembali nyanyian Ayahnya membuat dada Seijuurou berdesir. Sulit, sulit sekali menahan air matanya yang kembali ingin keluar.

"Hora, jangan menangis. Buat permohonan, dan tiup lilinnya, hati-hati, jarum infusmu lepas."

Seijuurou memejamkan mata.

Tuhan, semoga kasih sayang Otou-san-ku bukan mimpi. Semoga dia tetap menyanyangi dan mengakuiku. Dan semoga aku bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Untukku, Otou-san-ku, dan semua orang disekitarku.

Netra ruby itu membuka dan Seijuurou meniup lilin yang menyala.

Masaomi bertepuk tangan. Ah, jadi begini rasanya merayakan ulang tahun seorang anak. Selama istrinya hidup, Masaomi selalu menolak ikut bergabung dalam pesta yang Shiori buat untuk Seijuurou dengan alasan sibuk. Namun kali ini, dia sendiri yang melakukannya, menikmatinya.

Setelah menyuap Seijuurou dengan kue ulang tahunnya –hanya tiga suap, sebab sang Emperor masih merasa mual, dan ikut mencicipi sedikit bagaimana rasa kue ulang tahun karena penasan, Masaomi kembali membaringkan Seijuurou, yang kemudian berbaring miring menatap dirinya.

"Tidak pusing berbaring miring begitu?"

Yang ditanya hanya menggeleng, membuat Masaomi memutar bola matanya. Dengan lembut, diletakkannya kain kompres kembali ke kening sang putra. Lalu mengusap helaian merah Seijuurou dengan sayang.

Tentu saja pemilik Emperor-Eye itu merasa nyaman dengan perlakuan yang diterima. Menyenangkan sekali rasanya diperhatikan oleh Ayah sendiri. Memiliki waktu privasi yang tidak pernah dimiliki sejak dulu bersama Ayahnya. Dengan gestur malu-malu, pewaris tunggal Akashi Corp itu mengulurkan tangan kirinya. Akashi senior melejitkan alis tatkala tahu maksud tindakan darah dagingnya. Disambutnya tangan itu, dan diremasnya perlahan.

"Kau masih manja juga ya, Sei?"

Kekehan kecil sebagai afirmasi, "Otou-san, boleh aku bertanya?"

"Tentu, apa itu?"

"Maafkan aku jika terdengar lancang," Seijuurou terdiam, "Apa yang sudah terjadi padamu Otou-san? Tidak biasanya Otou-san membiarkanku tidur seharian dan menjagaku seperti ini, bahkan memberi perhatian yang … sebenarnya kuinginkan sejak dulu."

Pertanyaan yang sebenarnya sangat menusuk.

Masaomi menepuk kepala bermahkota merah anaknya, "Tidak ada," dustanya, "Aku hanya ingin membangun kembali hubungan kita, Sei. Aku ingin menjadi orangtua yang baik untukmu. Sudah terlalu banyak yang kutuntut darimu tanpa pernah kubalas sekalipun."

Hening.

"Kau, tidak keberatan bukan?" tanya Masaomi.

Seijuurou menggeleng, "Tentu tidak. Aku malah sangat bahagia. Arigatou, Otou-san."

Masaomi mengelus rambut putranya, "Kau tidak perlu mengatakan itu," katanya. "Kalau kau sudah merasa lebih sehat lagi, temuilah teman-teman SMP-mu dulu, atau undang mereka main kemari. Otou-san ingin berkenalan dengan mereka," Masaomi mengembangkan senyuman. "Lalu, kita pergi dan berdo'a di makam Ibumu bersama-sama. Okaa-san-mu pasti senang dengan kedatangan kita."

Seijuurou tersenyum, "Ha'i, Otou-san. Aku sudah tidak sabar menunggu untuk pergi bersamamu ke makam Okaa-san. Kita belum pernah ke sana bersama."

Masaomi mengangguk, "Ya. Tapi sebelumnya, kau harus sembuh dulu."

Kekehan kecil kembali mengalun dari mulut pucat Seijuurou.


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -


Tahun sudah berganti beberapa jam yang lalu. Sekarang, matahari di tahun baru bersinar dengan cerah, memberi sedikit kehangatan pada pagi yang dingin.

Masaomi berjalan melintasi lorong, berbading terbalik dengan sebelumnya, langkahnya kini terasa ringan, entah kenapa. Biasanya, pria paruh baya tersebut selau memiliki langkah berat seolah lelah dengan semua kenyataan yang harus dihadapinya. Kaki bersepatu coklat tersebut berdiri di depan sebuah pintu yang beberapa hari ini selalu di sambanginya. Diketuknya beberapa kali, sebelum masuk ke dalam.

Dilihatnya Seijuurou yang duduk bersandar pada kepala kasur dengan memakai kaus lengan panjang turtleneck abu-abu, meski selimut menutupi anggota gerak bawahnya, Masaomi tahu bahwa putranya mengenakan celana training panjang. Sebuah buku bisnis terbuka di pangkuan Akashi muda itu. Wajahnya masih pucat, namun sudah terlihat lebih segar. Senyumnya mengembang saat mengetahui siapa yang masuk ke kamar.

Berbanding terbalik dengan Seijuurou yang sumringah melihat sang Ayah, Akashi senior itu menghela napas saat melihat pemandangan yang disuguhkan Seijuurou padanya. Bergegas dihampirinya sang putra dan duduk di kursi samping tempat tidurnya.

"Bagaimana keadaanmu, Sei?" tanyanya lembut.

"Aku sudah lebih baik, Otou-san," jawabnya.

Kembali Masaomi menghela napas, "Yokatta, demo … meski sudah merasa lebih baik, bukan berarti kau bisa langsung memaksakan dirimu belajar," Masaomi menarik buku bisnis yang dipegang anaknya dan meletakkan di nakas sampingnya, "Jangan memaksakan diri dulu."

"Aku sudah tidak apa-apa Otou-san, sungguh."

Kedua tangan Masaomi menangkup di pipi Seijuurou, lalu meraba kening dan leher sang putra, "Nah, nah, kau masih hangat. Dokter Miyatani juga mengatakan padaku, meski kau sudah membaik dan infusmu sudah dilepas, kau masih harus istirahat," Akashi senior itu mengelus helaian merah replikanya, "Jadilah anak baik dan menurut saja."

"Ha'i, Otou-san."

Tidak lama kemudian, seorang maid datang membawa kereta dorong berisi makanan di atasnya. Masaomi menerima senampan makanan yang disodorkan sang maid sebelum maid tersebut memohon undur diri.

Semangkuk sup tofu kesukaan Seijuurou terhidang bersama semangkuk nasi yang sedikit lebih lembek, telur gulung sebagai lauk, serta sebotol air. Cukup untuk sarapan. Tak lupa bungkusan obat yang harus dikonsumsi demi menunjang kesembuhan sang Tuan Muda.

"Kau pasti bosan makan bubur terus," komentar sang Ayah, "Ada apa? Kau suka, bukan?" tanya Masaomi.

"Ya, ini makanan kesukaanku," jawab Seijuurou.

Masaomi mengangguk. Tepat ketika Seijuurou hendak mengambil nampan makanan, tangan besar Masaomi menahannya, "Kau cukup duduk manis saja di sana, Otou-san akan menyuapimu."

"Eh? Tidak perlu, Otou-san. Aku sudah lebih baik dan bisa makan sendiri. Otou-san tidak perlu repot-repot menyuapiku," tolak pemilik mata ruby itu dengan halus, "Lagipula, apa Otou-san sendiri sudah sarapan?"

Masaomi mengangguk, "Sebelum kemari, Otou-san sudah makan duluan," tangan besar Masaomi mengusap mahkota merah Seijuurou. "Sudahlah Sei, kau masih sakit. Biar Otou-san menyuapimu."

Jujur saja, Seijuurou bingung dengan tingkah laku Ayahnya beberapa hari terakhir ini. Dia merasa, yah, Masaomi berusaha memanjakannya. Padahal, biasanya Akashi senior itu tidak menyukai yang namanya memanjakan anak. Berbeda dengan sekarang. Seijuurou nampak heran saat melihat Ayahnya itu menyodorkan sesendok nasi dengan kuah sup ke hadapannya.

"Kenapa Sei? Kau harus makan."

Dengan gerakan kikuk, Seijuurou menerima makanan dengan mulutnya. Suapan demi suapan diterima pemilik Emperor-eye tersebut dengan sukacita. Meski gerakan Ayahnya terkesan kaku, namun Seijuurou dapat merasakan kehangatannya. Kehangatan seorang Ayah yang selama ini selalu dinantikannya.

Nafsu makan Seijuurou semakin membaik, atau karena menu hari ini adalah makanan kesukaannya, semua sarapannya ludes tak bersisa. Ditenggaknya obat-obat yang harus diminum demi menunjang kesembuhan. Pipi Seijuurou nampak bersemu kemerahan, pertanda dirinya sudah merasa lebih hangat.

"Arigatou, Otou-san. Aku sudah selesai. Gochisousama."

Masaomi mengangguk, kemudian menumpukkan piring di atas nampan di nakas. Ditatapnya sang putra, kemudian menangkupkan kedua tangan pada pipi Seijuurou, mengecup sayang kening anaknya dan membawanya dalam dekapan.

"Otou-san?"

"Sebentar saja."

Seijuurou tidak menolak, membiarkan Otou-san-nya melakukan apa yang diinginkan, membuat pemilik Emperor-Eye ini merasa nyaman dalam pelukan Otou-san-nya. Untuk pertama kalinya. Jadi begini ya, rasanya dipeluk dengan kasih sayang. Akashi muda itu berharap hal tersebut bukanlah mimpi. Jika iya, dia tidak sudi untuk bangun lagi.

"Akashi Seijuurou," panggilan tersebut membuat pewaris tunggal Akashi Corp mendongak.

"Doushite, Otou-san?" tanyanya.

Masaomi menghela napas, "Maukah … kau memaafkan Otou-san-mu ini? Otou-san yang tidak pernah memperhatikanmu?"

"Kata siapa? Otou-san membesarkanku selama ini, dan selama aku sakit, Otou-san selalu di sampingku," Seijuurou melepas pelukan, "Jadi, kenapa berkata seperti itu?"

Masaomi terhenyak. Setelah semua perlakuan pada putranya itu, Seijuurou masih bisa mengatakan bahwa dia tidak bersalah? Berkali-kali dia meninggalkan Seijuurou sendiri, tidak pernah menanyakan kabarnya, selalu menuntut kesempurnaan tanpa membalas.

"Tapi, Sei, selama ini Otou-san han–"

"Sudahlah, Otou-san," potongnya, "Yang berlalu biarkan saja berlalu. Kalau mengatakan siapa yang bersalah, maka aku juga punya salah. Aku tidak selalu bisa memenuhi keinginan Otou-san. Contohnya saja, baru-baru ini, Rakuzan yang kupimpin tidak berhasil menang."

Masaomi menggeleng keras, "Tida-tidak. Sudah cukup, Sei. Otou-san sudah dibutakan oleh kata 'sempurna'. Otou-san tidak ingin kau berakhir sama seperti Otou-san, kau cukup jadi dirimu sendiri."

"Ha'i, Otou-san."

Kembali Akashi senior itu menghela napas, "Jadi, bisakah Otou-san kembali menjadi Otou-san-mu? Lalu memperbaiki semua masa lalu kita?"

"Otou-san, dari dulu, sekarang hingga nanti, Otou-san-ku hanya satu, "Seijuurou tersenyum, "Dan nama Otou-san-ku adalah Akashi Masaomi."

Air mata Masaomi akhirnya meleleh, kembali membawa tubuh kecil itu dalam dekapan. Akashi muda melingkarkan tangan pada punggung Sang Otou-san, menikmati kehangatannya. Kehangatan yang selalu diinginkannya.

"Arigatou, Sei," Masaomi mengecup puncak kepala anaknya, "kau memang putra kebanggaanku satu-satunya."

Seijuurou tersenyum, "Ha'i, arigatou Otou-san."


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -

TAMAT


EPILOGUE


Tiga bulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Semuanya berjalan seperti biasanya. Seijuurou sudah kembali ke Asrama Rakuzan di Kyoto, dan Masaomi tetap menjalankan perusahaannya. Meski kali ini, hubungan antara Ayah-anak itu sudah jauh lebih baik.

Hari ini, usai memimpin rapat OSIS, niat untuk kembali ke kamar dan berpacaran dengan buku tersayang dibatalkan oleh Akashi muda, lantaran sebuah panggilan yang membuatnya mengayunkan kaki menuju lobi asrama. Di sana, ada beberapa anak lainnya yang mendapat kunjungan, sekadar duduk, menunggu seseorang untuk pergi bersama dan lainnya. Setelah celingukan beberapa saat, didapatinya seseorang yang amat dikenalinya melambai padanya.

"Okaeri, Otou-san."

Akashi Masaomi tersenyum dan merentangkan tangan, "Pelukan untuk Otou-san-mu?"

Kekehan kecil mengalun keluar dari bibir Seijuurou sebelum memeluk Ayahnya.

"Kenapa Otou-san ada di sini? Bagaimana meeting-nya?" tanya Seijuurou setelah melepas pelukan.

"Sudah selesai, karena jadwal Otou-san kosong sampai hari Senin, Otou-san memutuskan kemari untuk bertemu denganmu. Lagipula, tempatnya juga dekat dari sini."

"Kalau tahu begitu, sebaiknya aku saja yang mengunjungi Otou-san."

Masaomi menggeleng, "Sekalian Otou-san melihat-lihat sekolahmu. Ahya, sekarang baru jam 11, kenapa sudah banyak siswa Rakuzan yang keluar jalan-jalan? Bukankah ini masih hari Jum'at?"

"Kami pulang cepat hari ini karena ada rapat guru, mumpung besok juga berturut-turut tanggal merah hingga hari Minggu, makanya banyak siswa yang memutuskan keluar jalan-jalan."

"Lalu, kenapa kau masih memakai seragam?"

"Aku baru selesai memimpin rapat OSIS untuk membahas Festival Rakuzan dalam dua minggu ke depan, dalam rangka hari ulang tahun SMA Rakuzan. Kalau sempat, Otou-san datang saja. Aku yakin, fastivalnya akan sangat meriah."

Masaomi terkekeh mendengar undangan putranya, "Baiklah," berpaling pada Butler-nya, "Tolong catat itu, Tanaka. Kebetulan dalam dua minggu ke depan aku akan pergi ke Kyoto lagi."

Tanaka mengangguk dan menulis dalam memonya.

Kembali Masaomi menghadap putranya, "Kau tidak latihan basket?"

Seijuurou menggeleng, "Tidak. Latihan kami dijadwalkan nanti sore."

"Sou ka, " ucap Masaomi, "Sepertinya putraku ini sibuk sekali."

Pemilik manik ruby itu tersenyum, "Yah, lumayan."

"Tapi Sei, kau makan teratur 'kan? Jangan malas minum vitaminnya. Istirahatmu cukup? Kau juga masih harus belajar 'kan?" tanya Masaomi bertubi-tubi, "Otou-san tidak ingin kau sampai sakit lagi karena kelelahan."

"Tenang saja Otou-san. Aku sudah mengatur semua jadwalku dengan baik. Kegiatan belajarku tidak akan terganggu karena OSIS, basket dan pelatihan kendo. Aku tetap bisa beristirahat, makanku juga baik. Otou-san tidak perlu khawatir," ucap Seijuurou.

Masaomi mengangguk-angguk paham.

"Sei," tegurnya.

"Ha'i?"

"Ada yang kau inginkan?"

"Eh?"

Masaomi tersenyum, "Apa saja. Katakan pada Ayah. Kau ingin bola basket baru? Ingin jalan-jalan? Makan siang di restoran? Katakan saja."

Seijuurou tersenyum, "Arigatou Otou-san, tapi, aku tidak menginginkan apa-apa. Otou-san memperhatikanku saja aku sudah sangat bahagia."

"Ayolah, tidak usah malu-malu, apapun yang kau inginkan akan Otou-san kabulkan."

Seijuurou terdiam sejenak, memikirkan sesuatu. "Sebenarnya, aku punya permintaan."

Wajah Masaomi berseri, seolah sebuah permintaan anaknya sama penting dengan berhasilnya proyek yang dibuatnya sebulan lalu. "Ya, katakan. Apa itu?"

"Bisakah Otou-san datang dan menonton pertandinganku besok? Pertandingan final Kyoto Cup di stadion XXX pukul 7 malam?" tanya Seijuurou sambil menyerahkan sebuah pamflet berisi keterangan final Kyoto Cup.

Wajah Masaomi berkerut saat menerima pamflet tersebut, "Final? Sudah final?"

Seijuurou menganggguk, "Ya. Kami berhasil masuk final."

"Sejak kapan?"

"Kami dinyatakan masuk final kemarin malam, setelah melawan salah satu SMA di Kyoto."

"Berapa hari pertandingannya berlangsung?"

"Dengan final besok, seminggu."

Hening.

"Kenapa kau tidak mengatakannya dari hari pertama? Tanaka! Kau dengar itu 'kan? Tolong catat dengan baik bahwa jadwalku besok adalah menonton pertandingan Sei sampai tuntas. Hubungi nomor tadi, aku mau tribun VIP, pesan juga untuk dirimu dan semua yang ikut denganku!"

"Baik Tuan Besar, segera laksanakan!" ucap Tanaka dan langsung undur diri.

Masaomi memandang putranya, menuntut jawaban.

"Ah, Otou-san sedang ada rapat penting, mana mungkin aku meminta Otou-san datang. Otou-san pasti juga lelah setelah rapat seharian," ucap remaja berambut scarlett itu.

Masaomi menghela napas, "Padahal seharusnya kau bilang saja," katanya, "Otou-san belum pernah melihatmu bertanding sebelumnya."

"Gomenasai, Otou-san."

"Ma, setidaknya Otou-san akan melihat penampilanmu dan Tim-mu besok malam," tangan besar Masaomi menepuk lembut mahkota merah putranya, "Pastikan kau mencetak angka untuk Rakuzan."

Seijuurou mengangguk, "Pasti."


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -


Pukul 7 malam, waktu setempat.

Stadion XXX sudah penuh dengan penonton. Termasuk Akashi Masaomi dan pelayannya yang duduk di tribun VIP. Pemimpin Akashi Corp itu sibuk melihat-lihat isi stadion dengan antusias, meyelami dunia kesukaan putra tunggalnya. Ketika komentator mulai menyuarakan tim lawan yang akan bertanding melawan Rakuzan, Masaomi mulai sibuk dengan kamera dan handycam yang dibawanyan ("Ingat, rekam putraku dan timnya yang bagus dan banyak!").

"Baiklah, kita sambut tim kedua. SMA Rakuzan!"

Sorak-sorai penonton membahana saat pemain berseragam biru-putih itu keluar menuju lapangan. Tentu saja, Masaomi juga ikut bertepuk tangan saat melihat putranya yang paling pendek diantara teman setimnya itu keluar paling awal sebagai kapten.

"Kenapa putraku pendek sekali?" gumamnya.

"Ada apa, Tuan Besar?" tanya Tanaka.

"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya merasa antusias saja."

Tanaka tersenyum.

Pewaris tunggal Akashi Corp itu meneliti penonton yang ada, sampai akhirnya, dia menemukan yang dicari. Tidak sulit menemukan sang Ayah. Ayolah, siapa yang memakai setelan lengkap untuk menonton pertandingan basket selain Akashi Masaomi?

Menyunggingkan senyum, Seijuurou berlari kecil menuju bawah tribun dimana dia bisa menyapa sang Ayah, diikuti pandangan mata anggota tim-nya.

"Pantas Sei-chan terlihat bahagia hari ini," ucap Mibuchi, "Otou-channya datang untuk mendukung."

"Baru kali ini aku melihat ayah Kapten datang menonton," ucap Kotarou, "Pakaiannya luar biasa."

Sementara anggota tim saling melempar komentar, Akashi Seijuurou berbincang sesaat dengan sang Ayah.

"Otou-san, terimakasih sudah mau datang. Tanaka-san, Aira-san, Madoka-san juga."

Masaomi memperbaiki letak kacamatanya, "Seorang Akashi selalu menepati janji, bukan?" ucapnya, "Otou-san sudah menepati janji, kali ini, tepati janjimu dan perlihatkan padaku bagaimana kau mencetak angka, Sei."

Seijuurou mengangguk, "Ha'i, Otou-san."

"Seijuurou," belum selesai Akashi muda itu membalik badan, sang Ayah memanggil sehingga kembali dia menatapnya, "Ganbatte na."

Dada Akashi muda itu berdesir bahagia, "Ha'i. Arigatou."

Pertandingan berlangsung dengan Seijuurou yang masih bisa mendengar suara teriakan Masaomi, Tanaka, dan dua maid menyemangati dia dan Rakuzan. Ketika dia berhasil mencetak angka pertama untuk Rakuzan, Seijuurou dapat mendengar teriakan Ayahnya yang berhasil membakar semangatnya. Sampai ketika Rakuzan dinyatakan sebagai pemenang Kyoto Cup, dan menerima medali serta piala bergilir, Seijuurou tetap melihat senyuman sang Otou-san dan antusiasmenya untuk pertama kali.

Arigatou, Otou-san. Ini kunjunganmu yang membuatku bahagia.


- GIVE ME A CHANCE TO BE YOUR FATHER AGAIN -

TAMAT BENERAN


A/N : Akhirnya selesai jugaaaa ~~~~ Ah, lega rasanya. Terimakasih untuk semua reader yang mau menyempatkan diri membaca cerita saya. Arigatou gozaimasu!

Salam

Adnida Kia Rahid


Balasan review :

halseey

Hehehe, terimakasih halseey-san yang sudah menunggu. Sekarang saya sudah meng-update lanjutannya. Selamat menikmati

KeishuTsuki

Waduh, jangan menangis KeishuTsuki-san, sekarang Akashi Seijuurou sudah kembali lagi

Kareena Dean

Waduh, siapa itu? Akashi Masaomi ataukah Akashi Seijuurou? Hehehehe. Saya sudah update lagi, terima kasih sudah mau menunggu

ichirisa

Hehe, Akashi sudah kembali kok ichirisa-san. Terimakasih sudah mau membaca

emilia chika

Iya, ini lanjutannya sudah update

mimaii

Hahahaha, itu mimpi atau kenyataan hayooo? Lanjutannya sudah update, terimakasih sudah mau menunggu