Chapter 2
Selama beberapa menit, aku hanya bisa bertatapan mata dengan Naru dan tidak bisa mempercayai kalau Naru sedang berada di Jepang saat ini. Aku bisa merasakan tangan seseorang di tanganku dan aku menyadari kalau Ilora sedang menatapku dengan tatapan khawatir. Melihat kekhawatiran di wajah Ilora itu, aku langsung memutuskan untuk meninggalkan Naru dan berjalan mengikuti Ilora dengan perlahan.
"Taniyama-san?" panggilan seseorang membuat langkahku terhenti dan aku segera menolehkan kepala ku hanya untuk melihat Lin-san sedang berdiri di belakangku.
"Lin-san!" panggil ku dengan semangat dan aku langsung berlari ke arah Lin-san dengan sangat cepat.
Aku langsung memeluk Lin-san dengan sangat erat karena aku sangat merindukan Lin-san yang sudah aku anggap sebagai ayah ku sendiri. Saat aku melihat Naru di belakang Lin-san, aku langsung melepaskan pelukan ku dan segera berjalan ke arah teman-teman ku. Begitu aku sampai di mobil Ilora, aku baru menyadari kalau Ilora dan Aurora sedang menatapku dengan tatapan bingung dan juga khawatir di wajah cantik mereka.
"Ada apa?" tanya ku dengan khawatir.
"Kami yang harusnya menanyakan pertanyaan itu padamu, Mai" balas Aurora dengan sedikit kesal dan aku hanya bisa menundukkan kepala ku karena ketakutan.
"Cukup, Aurora" ucap Ilora dengan tenang "Kami hanya ingin kamu lebih terbuka kepada kami, Mai" jelas Ilora sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.
"Maafkan aku" gumam ku perlahan.
"Ya sudah, aku hanya ingin mengatakan kepada kalian kalau kita sudah mendapatkan sebuah kasus baru" ekspresi wajah Ilora langsung terlihat sangat senang dan aku serta Aurora langsung memperlihatkan ekspresi senang di wajah kami.
~Naru's P.O.V~
Aku tidak pernah mengira kalau aku akan bertemu dengan Mai lagi di bandara. Rambut coklatnya sudah tumbuh hingga menyentuh punggungnya dan Mai terlihat lebih dewasa. Tentu saja, lima tahun sudah berlalu dengan sangat cepat. Saat aku melihat Mai sedang memeluk Lin dengan sangat erat, sesuatu di dadaku langsung terasa sangat sakit dan aku tahu kalau Mai sudah menyadari kehadiran ku karena dia langsung melepaskan pelukannya.
'Aku atau Gene, huh?' tanya ku kepada diriku sendiri saat Mai pergi bersama dengan teman-teman barunya 'Aku benar-benar bodoh' ucap ku dengan kesal.
'Senang kamu sudah menyadari kesalahanmu, Noll' suara Gene tiba-tiba muncul di dalam pikiran ku dan itu berhasil menambah kekesalan ku.
'Bisakah kamu pergi dari pikiran ku, Gene?' tanya ku dengan kesal 'Dan kenapa kamu masih ada di dunia ini? Bukankah aku sudah menemukan tubuhmu?' tanya ku dengan tenang.
'Oh, itu karena aku masih ada urusan di sini' jawab Gene dengan bahagia dan perasaan ku langsung berubah menjadi tidak enak.
'Urusan apa?' tanya ku dengan serius.
'Rahasia~' balas Gene sambil tertawa kecil dan hubungan telepati kami langsung terputus.
"Gene lagi?" tanya Lin dengan tiba-tiba dan aku hanya menganggukkan kepala ku dengan perlahan.
Lin adalah satu-satunya orang yang mengetahui kalau Gene belum tenang dan masih berada di dunia ini. Aku tidak bisa mengatakan berita Gene ini kepada kedua orang tuaku karena aku tidak mau mereka kembali bersedih lagi. Aku juga tidak mengatakan apapun tentang berita Gene ini kepada Madoka karena aku tidak mau dia bisa memberitahukan berita Gene ini kepada kedua orang tuaku tanpa dia sadari.
"Gene bilang dia masih memiliki urusan di sini" jelas ku dengan tenang dan aku bisa melihat seringai di wajah Lin.
"Kenapa kamu menyeringai, Lin?" tanya ku dengan serius, tetapi aku tidak mendapatkan jawaban dari Lin yang masih menyetir mobil dengan tenang.
Walaupun begitu, aku mendapat perasaan kalau Lin sudah mengetahui urusan apa yang sedang Gene tunggu dan aku memutuskan untuk membiarkan hal itu. Aku segera mengeluarkan handphone ku dengan tenang dan langsung menghubungi semua anggota SPR yang sama seperti dulu untuk menanyakan apakah mereka ingin bekerja di SPR lagi. Aku sedikit terkejut, walaupun tidak aku perlihatkan, saat aku tidak bisa menghubungi nomor lama Mai.
'Tentu saja dia mengganti nomor nya' pikir ku sambil mematikan handphone ku dan suasana di dalam mobil langsung berubah menjadi sepi.
Sesampainya di gedung SPR yang lama, aku bisa melihat dua buah mobil sedang terparkir di depan gedung SPR. Saat aku membuka pintu SPR, aku dan Lin langsung disambut oleh anggota Tim SPR yang lama seperti Takigawa-san, Matsuzaki-san, Brown-san, Hara-san, dan Yasuhara-san. Melihat tim lama, aku berusaha untuk menahan senyuman yang berusaha untuk muncul di wajahku, tetapi aku kembali merasa sedih saat aku menyadari kalau Mai tidak bersama dengan Tim SPR lagi.
"Aku sudah mendapatkan sebuah kasus baru" ucap ku dengan tenang.
"APA!?" teriak Takigawa-san dengan sangat keras "Tapi Naru, kamu baru saja kembali ke Jepang dari Inggris" jelas Takigawa-san dengan serius.
"Kamu tidak perlu berteriak seperti itu, dasar biksu bodoh!" bentak Matsuzaki-san dengan kesal dan aku langsung menarik napas dalam-dalam saat perkelahian di antara biksu dan pendeta wanita di Tim SPR dimulai.
Saat itu juga, aku baru menyadari kalau Hara-san tidak mendekati ku seperti dulu dan aku juga melihat warna merah di pipi Hara-san yang putih. Aku merasa sedikit lebih tenang saat aku menyadari kalau Hara-san sudah bertemu dengan pria yang dia sukai. Sudah lelah dengan perkelahian Takigawa-san dan Matsuzaki-san, aku langsung menutup buku, yang berada di tangan kanan ku, dengan sangat kuat sehingga menimbulkan suara yang cukup keras untuk menghentikan pekelahian yang sedang terjadi di dalam gedung SPR.
"Kalau kalian ingin bersikap seperti seorang anak kecil," suhu di ruangan langsung menurun dengan sangat cepat "Aku minta untuk kalian keluar dari sini dan memulai perkelahian kalian di depan umum" perintah ku dengan serius.
Setelah tidak ada yang berbicara lagi, aku langsung duduk di sebuah kursi dan segera membuka buku ku lagi dengan tenang. Kasus SPR kali ini berada di Desa Kifu dengan beberapa kejadian seperti barang-barang berpindah tempat sendirinya, listrik di rumah mati dengan sendirinya, serta sosok bayangan hitam dengan mata berwarna merah darah yang terlihat di atas atap rumah.
"Saya pikir itu hanya masalah biasa" gumam Hara-san perlahan "Saya belum pernah melihat bayangan hitam seperti itu" gumam Hara-san dengan pelan.
"Aku ingin kalian datang ke sini jam setengah tujuh dan kita akan segera berangkat ke Desa Kifu bersama-sama" ucap ku dengan tenang dan aku segera berjalan ke kantorku.
Keesokan harinya, aku senang karena semua orang bisa datang tepat pada waktunya dan kami segera berangkat ke Desa Kifu dengan dua mobil. Aku, Lin, dan Yasuhara-san di mobil SPR, sedangkan Takigawa-san, Matsuzaki-san, Brown-san, dan Hara-san berada di dalam mobil milik Takigawa-san. Begitu kami masuk ke daerah Desa Kifu, aku bisa merasakan kalau sesuatu akan terjadi kepada Tim SPR dan aku merasa sangat kesal karena aku tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi kepada kami semua.
"Ada apa?" adalah kalimat pertama yang aku tanyakan saat kami sampai di rumah korban dan Hara-san terjatuh ke depan dengan sendirinya.
"Saya merasakan sesuatu yang mengerikan di rumah ini" gumam Hara-san sambil berusaha untuk berdiri.
Melihat hal itu, aku segera memutuskan untuk menemui pemilik rumah dan aku hanya memperlihatkan ekspresi serius di wajahku saat seorang anak perempuan, yang mungkin berusia sekitar 13 tahun, membukakan pintu rumah untuk Tim SPR. Mata perempuan itu, yang berwarna coklat, memperlihatkan amarah yang tidak bisa aku jelaskan dan anak perempuan itu langsung membukakan pintu untuk Tim SPR dengan ketakutan.
"Kurorin, apa yang terjadi?" tanya seseorang dengan tenang dan seseorang itu adalah seorang laki-laki berambut kuning yang berusia sekitar 17 tahun.
"Tim SPR yang dipanggil oleh Li Mei-san sudah datang" gumam anak perempuan di pintu dengan gugup.
"Kalian adalah familiar, ya kan?" tanya Lin dengan tiba-tiba dan dua orang di depan kami langsung menghilang dengan sendirinya.
Saat itu juga, seorang wanita, yang mungkin berusia sekitar 26 tahun, keluar dari sebuah ruangan dan ekspresi terkejut langsung terlihat di wajah wanita itu. Saat wanita itu mengetahui siapa kami, dia langsung memperkenalkan diri sebagai pemilik rumah dan klien dari kasus SPR kali ini yang bernama Li Mei-san. Aku dan Tim SPR sedikit terkejut saat kami mengetahui kalau ada tim lain yang akan bekerja sama dengan Tim SPR dan tim itu bernama Tim Stars.
Begitu Tim SPR memasuki ruang keluarga, kami langsung disambut oleh tiga wanita yang sangat aku kenal. Salah satu dari ketiga wanita itu memiliki rambut hitam yang menyentuh punggung dengan mata pink nya yang memperlihatkan keseriusan di dalamnya. Sedangkan wanita yang lain memiliki rambut pirang sebahu dengan mata hijau nya yang memperlihatkan keceriaan di dalamnya.
Untuk wanita yang terakhir, dia memiliki rambut berwarna coklat dengan mata yang berwarna coklat kemerah-merahan. Rambut coklat wanita itu, yang cukup tebal, diikat menjadi satu dalam ikatan yang tidak terlalu tinggi dan wanita itu juga menggunakan kacamata berbingkai tipis yang berwarna hitam. Ekspresi terkejut terlihat sangat jelas di wajah wanita ketiga dan begitu juga dengan semua anggota SPR, kecuali aku dan Lin karena kami cukup pandai untuk menyembunyikan ekspresi kami.
"SPR?" tanya wanita ketiga dengan gugup.
"Mai? Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tidak bergabung dengan Tim SPR lagi? Siapa mereka?" tanya semua anggota SPR di waktu yang bersamaan.
"Kami adalah sahabat baik Mai" jelas wanita pertama dengan serius "Nama saya adalah Shiranawa Ilora, ketua dari Tim Stars" ucap Shiranawa-san dengan tenang.
"Nama saya adalah Lynne Aurora, wakil ketua dari Tim Stars" lanjut wanita kedua, Lynne-san, dengan semangat.
"Kalian pasti sudah mengenalku, ya kan, SPR?" tanya Mai sambil tertawa kecil "Nama saya adalah Taniyama Mai, anggota dari Tim Stars" lanjut Mai dengan sopan.
