Beauty and The Beast
Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye
Main Cast:
Kim Jaejoong
Jung Yunho
Support Cast:
Kim Junsu
Shim Changmin
Kim Heechul
Yesung
Genre: Romance, fluff(?)
Warning: Genderswitch for uke! Cerita pasaran, aneh, dsb
DON'T LIKE? DON'T READ THEN!
LIKE? ENJOY READING^^
.
.
.
Yunho merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah benda persegi panjang kecil berwana putih.
"Ponsel?" Yoochun mengerutkan kening tak mengerti.
"Terlempar saat bertabrakkan tadi."
Yoochun terdiam. Berpikir. "Jangan bilang kalau...?"
"Ne, ini milik Hero." smirk menghiasi wajah tampan Yunho.
.
.
CHAPTER 2
.
.
Seorang yeoja berkacamata, dengan rambut panjang yang digelung rendah menjadi dua bagian dan poni Dora yang menutupi keningnya, tengah asyik menikmati makan siangnya dalam diam.
Wajahnya bersih tanpa riasan apapun –kecuali bedak tentunya. Dan sejauh mata memandang, tidak ada satupun perhiasan baik asli maupun palsu yang terpasang di tubuhnya.
Pakaiannya sangat sederhana. Sebuah sweater biru muda yang kedodoran dipadu dengan celana jeans panjang. Ditambah sepasang sepatu kets putih yang membungkus kakinya dan juga sebuah ransel hitam besar yang menempel dengan manis di punggungnya.
Well, penampilannya cukup cupu untuk ukuran anak kuliahan dan wanita berusia 20 tahun.
Tapi seperti itulah Kim Jaejoong. Yah, setidaknya disini.
"Eonni!"
"Noona!"
Jaejoong sedikit tersentak kaget mendengar sebuah lengkingan lumba-lumba dan teriakkan nyaring yang memecahkan gendang telinga. Semua orang yang berada di kantin menoleh ke arah sumber suara. Merasa terganggu.
"Kim Junsu, Shim Changmin! Kalian berniat membuatku pergi ke dokter THT, eoh?" tanya Jaejoong sarkastik, menatap dua tersangka yang balik menatapnya tanpa rasa bersalah.
"Mianhae.." jawab mereka innocent.
"Aish, lupakan." Jaejoong meneruskan makannya, mencoba mengabaikan berpasang-pasang mata yang menyadari keberadaanya dan memandangnya dengan pandangan 'eh, itu si culun'.
"Ah, aku lapar. Aku beli makanan dulu, noona. Ayo Duckbutt."
"Ya!"
Jaejoong hanya mengangguk tak peduli saat Changmin –dengan menyeret Junsu yang mengomel-ngomel tak jelas, beranjak dari kursinya menuju counter makanan.
Jaejoong kembali menikmati makannya dalam diam. Sudah sekitar 10 menit sejak kepergian duo MinSu ketika tiba-tiba seisi kantin menjadi berisik. Jaejoong yang penasaran pun mengedarkan pandangannya dan akhirnya matanya tertumbuk pada LCD TV besar yang berada di kantin dimana seorang yeoja bertopeng tengah tersenyum manis kearah kamera.
"Dasar bodoh. Tak tau saja yeoja yang sedang mereka kagumi dan bicarakan ada disini sekarang. Ya kan, noona?"
Jaejoong mengalihkan pandangannya dan menatap Changmin yang sudah duduk manis dengan sepiring penuh makanan di depannya. Jaejoong mengabaikannya dan tetap melanjutkan makannya.
"Ya! Tiang! Kenapa kau meninggalkanku?!" Junsu datang dan meletakkan nampannya di meja sambil berkacak pinggang.
"Salahmu jalan saja lelet seperti bebek!"
"Mwo?!"
"Aish, bisakah kalian diam? Kalian membuat mood makanku hilang." Jaejoong mengaduk-ngaduk makanannya sambil menggembungkan pipinya imut. Tapi tentu saja hanya Changmin dan Junsu yang menyadari keimutan Jaejoong.
Changmin yang hendak membalas Junsu langsung bungkam. "Mian, noona. Apa kau masih memikirkan ponselmu yang hilang itu?"
Wajah Jaejoong berubah murung. Dia jadi ingat kejadian kemarin saat ponselnya tidak ditemukan sekembalinya dia dari KBS building. Lebih tepatnya pasca dirinya bertabrakan dengan Jung Yunho. Salahkan dia yang terburu-buru pergi tanpa menyadari benda mungil itu sudah tidak ada lagi di genggamannya.
"Kalau yang noona ceritakan benar adanya sudah pasti ponsel itu terjatuh saat noona bertabrakan dengan orang itu."
"Dan besar kemungkinan juga telah diambil orang, eonni."
Jaejoong memang sudah bercerita pada mereka perihal ponselnya yang hilang saat mereka bertandang ke apartemennya semalam. Dia juga menceritakan kronologi kejadiannya –well, kecuali bagian dia bertabrakan dengan Jung Yunho yang ia ganti dengan 'seorang pria'.
Kemarin, tepat setelah Jaejoong masuk mobil dan mendapati ponselnya tidak ada, dia dan Heechul bergegas kembali ke dalam gedung dan mencarinya di tempat-tempat yang sebelumnya di lewati Jaejoong –termasuk tempatnya bertabrakan dengan Yunho, namun tak membuahkan hasil. Mereka bahkan sudah meminta bantuan security untuk mencarinya tapi tetap saja nihil.
Berulang kali dia menghubungi nomornya, namun tidak aktif.
"Ottoke?" lirih Jaejoong menggigit bibirnya, mengundang tatapan iba dari Changmin dan Junsu. Bukan ponsel yang menjadi masalahnya. Bisa saja dia membeli ponsel baru, tapi tidak dengan kartu memorinya. Tidak dengan data-datanya yang telah ia simpan lebih dari lima tahun. Belum lagi semua foto-fotonya dari saat menjadi 'Kim Jaejoong' hingga menjadi 'Hero'.
Ah, mungkin kalian penasaran. Siapa Hero sebenarnya? Well, Hero adalah dirinya. Lebih tepatnya Hero adalah nama panggungnya dalam dunia hiburan.
Dunia hiburan? Yeah, dia adalah seorang rookie –pendatang baru. Dia baru saja memulai debutnya sekitar tiga bulan yang lalu. Bisa dibilang konsep yang diusungnya sangat berani, berbeda dari yang lain dan beresiko, tetapi ternyata responnya sungguh luar biasa.
Pertama kalinya dalam sejarah dunia hiburan Korea Selatan, ada sebuah perusahaan yang dengan beraninya mengorbitkan artis tanpa identitas. Tak ada yang tahu siapa nama aslinya, usianya, asalnya, pendidikannya, serta semua hal yang berhubungan dengannya. Dan yang terpenting adalah tak ada satupun orang yang tahu bagaimana rupanya, karena ia selalu mengenakan kacamata hitam atau topeng andalannya tiap tampil di depan umum.
Yang publik tahu hanya satu, mereka bisa memanggil yeoja idol itu dengan nama Hero.
Dan sekarang bisa kalian bayangkan bagaimana jadinya bila ponselnya yang hilang ditemukan oleh orang tak bertanggung jawab? Karir yang baru saja ditapakinya bisa hancur.
"Satu-satunya cara adalah membeli ponsel baru, eon." Junsul memberi solusi.
"Mudah mengatakannya, Su." Jaejoong mulai memakan makanannya tanpa selera.
"Salahmu sendiri noona, ber-selca tak kenal tempat menggunakan kostum Hero. Rumit begini kan jadinya," sembur Changmin, membuat Jaejoong lagi-lagi menggembungkan pipinya.
"Mian."
"Tumben sekali pangeran itu berangkat."
"Huh?" Jaejoong dan Changmin menatap Junsu tak mengerti.
"Itu." Dengan dagunya, Junsu menunjuk dua orang namja yang baru saja memasuki kafetaria. Membuat tempat yang telah bising oleh kemunculan Hero di TV itu menjadi tambah bising dengan kehadiran namja itu.
"U-Know Yunho, eoh?" ujar Changmin melihat objek yang dimaksud Junsu. Wajah Jaejoong memerah melihat namja tampan bermata musang itu tengah tergelak bersama sahabatnya, Park Yoochun. Bayangan kejadian kemarin kembali berputar di kepalanya membuatnya tanpa sadar menunduk dan menatap dadanya.
Blush. Wajahnya tambah memerah.
"Setelah ini kau sekelas dengannya kan, eonni?"
"..."
"Eonni?"
Jaejoong tersentak dan buru-buru mendongak. "N-ne?"
Junsu menatapnya aneh. "Kau sakit, eon? Wajahmu memerah."
Jaejoong menyentuh wajahnya. "Ah, aku tidak apa-apa. Hanya saja hawa saat ini sangat panas ya," jawabnya sambil tersenyum gugup. Junsu yang pada awalnya memang tak menaruh curiga hanya mengangguk membenarkan.
"Ne, hari ini memang panas."
"Tadi kau bertanya apa?" Jaejoong menyambar jus strawberrynya dan mulai meneguknya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Ah, bukankah eonni ada kelas dengan Jung Yunho setelah ini?"
Jaejoong tersedak. Astaga, dia lupa.
.
..GJ..
.
Penjelasan Lee Dongwook, dosen muda mata kuliah Bahasa Inggris sama sekali bagaikan angin lalu di telinga Jaejoong. Bukan karena dia mengantuk atau malas mendengarkan. Bukan sama sekali. Tapi melainkan karena namja yang tengah duduk di sebelahnya membuat dirinya tidak bisa berkonsentrasi.
Kenapa dari sekian banyak tempat kosong namja ini memilih duduk di barisan paling belakang dan tepat di sampingnya? Well, dia tidak akan secanggung ini jika saja 'kejadian' kemarin tidak terjadi.
Jaejoong melirik Yunho diam-diam. Namja bermata musang itu tampak tampan dengan kacamata minus dan headphone yang melingkar di lehernya. Sesekali dia menggigit bolpoinnya dan mengetuk-ngetukan benda itu ke bukunya. Wajah seriusnya saat memperhatikan penjelasan dosen membuat ketampanannya menjadi berkali-kali lipat.
Jaejoong meneguk saliva-ya. Tak bisa dipungkiri dia menyukai namja ini. Tapi menyadari perbedaan yang begitu besar diantara mereka berdua, membuatnya lebih memilih untuk diam dan mengubur perasaannya dalam-dalam.
Jaejoong dan Yunho bukanlah satu angkatan. Jaejoong masih dalam semester ketiganya sedangkan Yunho sudah memasuki semester ketujuh. Kesibukkan Yunho sebagai seorang penyanyilah yang membuat kuliahnya sedikit terbengkalai hingga harus mengulang beberapa mata kuliah di semester bawah, termasuk Bahasa Inggris bersama kelas Jaejoong.
"Tugas untuk minggu depan, bentuklah kelompok yang terdiri atas dua orang. Cari novel dengan genre seperti yang sudah saya jelaskan dan carilah unsur intrinsik serta ekstrinsiknya. Di meja saya, paling lambat satu jam sebelum kelas dimulai."
Kelas langsung bising begitu Mr. Lee –begitulah panggilan Dongwook, keluar kelas. Jaejoong yang tengah memasukkan buku catatannya terperanjat ketika tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
"Mau sekelompok denganku?" Yunho tersenyum.
Demi Tuhan ingin rasanya Jaejoong meleleh saat itu juga.
"N-ne?"
"Kau belum dapat kelompok, kan? Bagaimana jika denganku?"
Belum sempat Jaejoong menjawab, segerombolan yeoja menghampiri mereka berdua. Well, lebih tepatnya menghampiri Yunho.
"Oppa, maukah kau berkelompok denganku?"
"Denganku saja, oppa."
"Andwe. Aku lebih pintar dari mereka, oppa. Bagaimana kalau denganku?"
"Kau akan bersamaku. Benarkan, oppa?"
"Ani! Kau tak boleh dengannya, oppa. Denganku lebih baik."
"Tentu saja oppa lebih memilih aku!"
Para yeoja itu mulai memperebutkan dengan siapa Yunho harus berkelompok, membuat namja yang menjadi objek mereka hanya bisa memijit pelipisnya pusing.
"Maafkan aku, ladies. Tapi aku sudah berkelompok dengan yeoja ini." Dengan santai Yunho merangkul pundak Jaejoong, membuat Jaejoong menunduk malu sekaligus menghindari tatapan tajam yeoja-yeoja di depannya.
"Mwo? Kim Jaejoong? Kau tak salah pilih, oppa?" tanya salah satu dari mereka yang bernama Jessica tak terima. Mereka menatap jijik Jaejoong.
"Sama sekali tidak. Nah, kami permisi dulu." Yunho menyeret Jaejoong meninggalkan kelas, menghiraukan umpatan-umpatan kesal di belakang mereka. Setelah berada di luar, Yunho melepaskan tangannya dari Jaejoong. Mereka berdua lalu berjalan bersama sepanjang koridor.
"Jadi, namamu Kim Jaejoong?" Yunho membuka percakapan.
"Ne," lirih Jaejoong. Dia menatap lurus ke depan, berusaha tidak menoleh ke arah Yunho. Entahlah, dia terlalu malu.
"Kim Jaejoong, ya... boleh aku minta nomormu? Kita satu kelompok, kan?"
Eh? Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia menatap Yunho yang juga tengah menatapnya. Dia baru saja akan membuka mulutnya saat tiba-tiba dia teringat jika ponselnya hilang. Dia menggigit bibirnya bingung sebelum akhirnya memberi Yunho nomor ponsel Heechul.
"Oke. Aku akan menghubungimu jika aku ada waktu kosong dan kita bisa mengerjakan tugas itu bersama-sama."
Jaejoong mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Aku duluan, ne? Aku masih harus melakukan gladi resik untuk penampilanku nanti. Jangan lupa nonton, oke? Sampai jumpa."
Jaejoong mengamati punggung Yunho yang makin menjauh. Dia menangkup kedua pipinya yang memanas.
"Omo."
.
..GJ..
.
"Hhhh~ lelahnya..." Yunho meneguk minuman isotoniknya cepat sementara asistennya dengan sigap mengelap keringat di wajahnya dengan tissue.
Malam ini dia diundang sebagai bintang tamu dalam sebuah acara konser K-pop yang bertaburan para rookie untuk menyanyikan tiga buah lagu. Lagu pertama baru saja dia bawakan dan itu cukup menguras tenaganya.
Yunho memainkan ponsel putih di tangannya. Ditatapnya benda itu lekat-lekat. Lagi-lagi wajahnya memerah. Aish, dia mengusap wajah tampannya kasar. Kenapa tiap melihat benda ini dia jadi ingat kejadian nista itu?
Beruntung Hero tidak bisa datang dalam acara ini, sehingga dia tidak perlu merasa canggung seandainya mereka bertemu di sini. Meski dari lubuk hati yang terdalam dia sangat ingin melihat yeoja misterius itu.
Yunho menghela nafas panjang, menatap ponsel di tangannya dengan pikiran berkecamuk. Apa Hero sedang kebingungan mencari ponselnya sekarang? Sebenarnya bisa saja dia mengembalikan ponsel itu, tetapi rasa penasaran akan isinya membuatnya menjadi sosok egois.
Yah, walaupun keingintahuannya harus ia pendam sementara karena ponsel malang itu kini rusak.
"Hyung," panggil Yunho. Yesung yang tengah sibuk dengan i-Padnya hanya menggumam sekilas.
"Hm."
"Bisa kau bawa ponsel ini untuk diperbaiki?"
Kali ini Yesung mendongak, menatap artisnya tak mengerti. "Ponselmu rusak?"
"Ne." Yunho menyerahkan ponsel itu pada Yesung yang makin mengerutkan keningnya.
"Sejak kapan kau punya ponsel seperti ini? Gantungan gajah ini... Ya, kau yakin ini ponselmu?" Yesung menatapnya curiga pasalnya ponsel itu memang terkesan feminim.
"Itu pemberian adikku, hyung... Tentu aku harus memasangnya, kan?" jawab Yunho kalem. Yesung tak berkata-kata lagi walau sebenarnya dia masih tak percaya.
"Baiklah."
.
..GJ..
.
Hari sudah menginjak malam saat Hero berjalan terburu-buru menuju mobil sesampainya ia di basement, menghiraukan Heechul yang tampak kesusahan mengikutinya.
"Ya! Bisakah kau berjalan lebih pelan? Aish," gerutu manajer Hero itu.
Hero baru saja menyelesaikan sebuah photoshoot untuk W Korea magazine yang bertemakan sweet and natural. Choi Seunghyun, namja yang berpartner dengannya kali ini sempat menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, hanya saja ditolak dengan halus olehnya.
"Konsernya sudah berjalan satu jam yang lalu dan aku sudah terlambat, eonni. Dia memintaku untuk menontonnya." Hero menghempaskan tubuhnya di jok belakang mobil yang empuk, diikuti oleh Heechul yang duduk di sebelahnya.
"Dia mengatakan itu hanya untuk basa-basi, Joongie."
"Terserah, yang penting aku ingin menontonnya."
Heechul hanya mendesah panjang melihat kekeraskepalaan artisnya. Tak ada yang disembunyikan Jaejoong darinya, oleh karena itu ia tahu jika yeoja yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu menyukai penyanyi seniornya, Jung Yunho.
Tempat konser K-pop berlangsung tampak ramai saat Jaejoong bersama Junsu dan Changmin tiba di sana. Junsu dan Changmin? Well, awalnya mereka berdua cukup shock saat tiba-tiba tadi siang Jaejoong mengajak mereka menonton konser itu dan bahkan meminta mereka mencari tiketnya.
Demi makanan Changmin dan duckbutt Junsu, mereka berdua merasa menjadi orang terbodoh di dunia karena tidak menyadari perasaan kakak tertua mereka itu.
Wajah Jaejoong berseri-seri saat di penghujung acara Yunho keluar dan mulai melakukan performance-nya. Berbeda dengan wajah masam Changmin yang masih ingin melihat girlband Miss A tampil.
"Omo, dia sungguh tampan. Bagaimana menurutmu, Su-ie?"
Junsu menatap Jaejoong yang duduk di sampingnya. Wajah putih itu tampak dihiasi semburat merah, membuatnya semakin indah dan menggemaskan. Tanpa sadar Junsu tersenyum.
"Ne, dia sangat tampan. Sangat cocok bersanding denganmu yang cantik, eonni."
"Su-ie!" Jaejoong menepuk lengan Junsu keras. Wajahnya memerah sempurna.
Junsu tertawa kecil, membuat Jaejoong mempoutkan bibirnya. Dia kembali menghadap depan, menatap namja tampan yang tampak sexy dengan gerakan dance-nya. Suasana makin panas karena para yeoja di sekitarnya tak berhenti menjerit-jerit histeris.
Jaejoong tersenyum dengan mata yang berubah sendu. Tuhan, dia tahu ini tidak mungkin, tetapi bolehkah untuk kali ini saja dia berharap?
.
.
.
To be continue...
Omo, ga nyangka aq bisa update ff ni ;)
Jeongmal gomawo buat yg udah komen di chap sebelumnya, kalian penyemangatku ^^/
Ada yg bilang chap kemarin membingungkan.. semoga ini udh jelas yah :)
Note: Jaejoong adalah nama yg kutulis saat Jaejoong menjadi Jaejoong alias dirinya sendiri, sedangkan Hero adalah nama yg kutulis saat Jaejoong menjadi Hero sang idol. Supaya para reader lebih mudah membayangkan^^
