Disclaimer: Anime/manga Kuroshitsuji milik Yana Toboso.
Warning: Anda akan banyak menemukan OOC (mungkin), Typo, dan kata kata yang berantakan. untuk itu, saya butuh KriSar (?) Para reader semua~ Tapi untuk sementara, mohon dimaklumi kejelekan saya dalam membuat FF pertama saya ini ^^"
*Ciel POV*
Kami berjalan kaki, menuju rumahnya. Orang-orang hanya menatapi kami, mungkin mereka hanya keheranan, mengapa pria rupawan yang tak kuketahui namanya itu berjalan denganku yang berbaju lusuh ini? Tapi, aku tidak peduli. Mungkin ini lebih baik, daripada aku harus tinggal di kolong jembatan dan mencuri untuk mencukupi kebutuhan hidup. Oleh karna itulah, sebelumnya aku memutuskan untuk menjawab uluran tangannya.
Tapi aku masih sedikit takut, mungkin saja ia pedofil. Jujur saja, dalam kepalaku muka muka seperti itu bisa saja seorang pedofil. Jika nanti ia mendesakku dan berubah menjadi mode pedofil, Haruskah aku menendangnya dan kabur untuk menyelamatkan diriku? Tapi dia sudah membeliku. Kebebasan diriku, dia yang tentukan. Aargh, aku bingung!
Tap, Tap, Tap… Kami tetap berjalan. Awalnya aku berada di sampingnya, namun sekarang aku berada sedikit jauh di belakangnya. Dia, lelaki ini berjalan cepat sekali. Aku yang kecil ini, tidak mampu menyeimbangkan langkahku dengannya. Dan lagi, ia Nampak tidak sadar bocah yang dibelinya tadi hilang dari sisinya.
Ia menghentikan langkahnya ketika berada di pintu apartemen yang besar. Ia melihat ke sisinya, dan pemuda itu Nampak kaget melihat aku tidak ada. Ia sedikit panik, melihat ke kiri dan kanan. Aku hanya berkata dari belakang, "Aku disini."
Ia menatapku, dan aku hanya membalas tatapannya dengan poker face. Sekarang, ia Nampak lega. Dan mengisyaratkanku untuk maju, mendekatinya. Aku hanya melaksanakannya. Pemilik rambut hitam itu memegang tanganku yang kecil. Sedikit blush Nampak di wajah pucatku, namun kubiarkan dia berlaku sesuka hati. Lalu kami masuk ke apartemen tersebut,
Kriet… pintu kamarnya terbuka dengan lebar. Nampak sebuah televisi yang besar, dan satu kasur. Serta perabotan lainnya yang terbilang cukup membuatku terkagum.
Tapi semua kekagumanku lenyap ketika aku memandang lelaki berwajah pedofil tersebut. Ia menatapku balik, dan aku menjadi takut seketika. Apalagi ketika senyum mesumnya terlukis jelas di wajahnya. Oh! Bulu kudukku merinding seketika.
*End of Ciel POV*
Sebastian Michaelis terdiam seketika memasuki kamarnya. "Apa yang harus kulakukan, sekarang?" bingungnya dalam hati. Ia menatap wajah Ciel, orang yang dibelinya tapi tidak tau harus dia jadikan apa. Anak itu ketakutan, dan Sebastian tau itu. Pemuda rupawan itu hanya tersenyum pada Ciel, dan Ciel semakin takut melihatnya. Sebastian tidak tau bahwa senyum rupawannya diartikan apa di mata sang kelabu tersebut.
Lelaki itu terdiam berpikir, dan mengalihkan pandangan ke Pemuda kelabu itu. Sebastian sudah tau, apa yang harus dia katakan.
"Ciel.. bagaimana kalau kau pergi mandi saja dulu?" Tawar Sebastian. Tapi Ciel mengartikannya sebagai hal lain. Ciel tidak membalas, Ia hanya menjauh sedikit dari Sebastian dan mukanya sedikit merah. Sebastian mengerti arti reaksi Ciel. Ia sedikit tertawa, Lalu berkata,
"Oh, Ciel. Aku bukan pedofil. Jangan takut, kau mandi saja. Tubuhmu kotor, Ciel."
"…Sungguh..? kau bukan pedofil..?" Tanya Ciel, memastikan. Sebastian menjawab dengan mengangguk dan tersenyum.
Rambut kelabu itu mencari cari tempat mandi, dan ia dituntun oleh Sebastian. Sebelum membuka pintu yang membatasi antara ruang luar dan kamar mandi, Ciel berkata, "Tetap saja, kau tidak boleh.. mengintip." Ucap terakhir anak itu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sebastian menahan tawa, dan berujar dalam hati. "Ciel, untuk apa aku mengintipmu? Aku bukan pedofil,", Masih tetap menahan tawanya.
Sebastian Michaelis, entah harus senang atau malu melihat pemandangan yang terlukis indah di depan matanya.. "Doki-doki" di hatinya mungkin menyadarkannya, bahwa ia mungkin adalah seorang pedofil.
Ia menatap lelaki berambut kelabu itu yang telah keluar dari kamar mandinya. Tanpa celana, hanya menggenakan kemeja putih Sebastian yang besar dan menutupi sekujur tubuh bocah itu hampir sampai di lututnya. Lengan panjang kemeja itu hanya menampakkan pergelangan tangan Ciel ke atas.
Hati Sebastian mulai doki-doki. Ia benar-benar akan menjadi pedobear sekarang. "Ciel.. apa kau ingin menggoda imanku?" Ucap Sebastian mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. Walau sesekali, matanya kalah melawan imannya yang ingin menatapi Ciel.
"Bu-bukan! Cuma ini saja yang ada di keranjang baju disana.. celanamu betul-betul kebesaran untukku… jadi.." Elak Ciel dengan muka memerah. Memerahnya itu membuat Sebastian hanya mampu menelan ludah.
"Oh… begitu…" Ujar sang raven pemilik kemeja tersebut. Berpura-pura tidak peduli, namun itu membuatnya terlihat sebagai pedofil. Sesekali, matanya kabur dan melirik Ciel. Dan pandangannya itu… selalu tertuju ke bagian bawah Ciel.
Ciel menyadari arah tatapan Sebastian, dan langsung menutupi bagian bawahnya padahal masih terhalang oleh kemeja kebesaran Sebastian. "Sudah kuduga, kau memang pedobear!" Tuduh Ciel, telak sekali mengenai Sebastian.
"He-hei! Aku bukan pedobear!" Bantah Sebastian walau sempat tertegun beberapa detik. Bantahan itu keluar saja dari mulutnya, padahal dia sendiri berpikir. "Mungkinkah aku betul-betul pedofil?" pikirnya.
Ciel memilih membalas bantahan itu dengan tatapan mata. Tatapan safir birunya bercampur dengan bola mata merah 'pemilik'nya itu. Dalam… dalam… seakan-akan Sebastian merasa mata safir biru itu tengah berkata, "Kau bohong… kau bohong… kau pedofil… pedofil…"
Satu-satunya raven di ruangan itu hanya menutup mata sejenak, dan membukanya kembali. Dengan tatapan pasti, ia berkata pada sang kelabu. "Oke, kau tenang saja. Aku sudah meluruskan pikiranku kembali ke jalan yang benar. Jadi kau tak usah takut padaku,"
Mendengarnya, Ciel hanya bisa sweatdrop. "Meluruskan pikiran? Berarti sebelumnya kau memang…" Pikirannya itu hilang oleh gerakan tangan Sebastian yang menyuruhnya untuk duduk di samping Sebastian. Ciel menurutinya, dengan sedikit ketakutan.
Suasana hening menyelimuti mereka. Menyelimuti Sebastian yang kehilangan topic pembicaraan dan Ciel yang ketakutan. Mereka hanya duduk diatas kasur, diam, seperti orang bodoh. Hanya itu yang mereka lakukan.
Menyadari ini situasi yang tidak mengenakkan, Sebastian memilih untuk angkat bicara terlebih dahulu. Ia mengambil sembarang topik. Setidaknya lebih baik daripada berdiam diri begini, mungkin itu pikirnya.
"Ne, Ciel, kenapa bisa kau dijual?" Tanya Sebastian. Dengan nada lembut khasnya, tentunya. Berusaha tersenyum sambil menatapi Ciel yang tertunduk.
Tapi Ciel tetap tunduk. Seakan-akan kemeja kebesaran yang menutupi kakinya itu lebih menarik ketimbang senyum Sebastian yang sebenarnya bisa bikin author klepek-klepek. Mulutnya hanya menggumam sedikit.
"Itu… Karna…"
Dan Sebastian tau, Ciel enggan menjawabnya. Semua terkuak dari Ekspresi Ciel, dan kepalan tangannya yang makin kuat menggenggam baju kebesaran Sebastian. Sebastian benar-benar menyalahkan dirinya kemudian. Jelas saja, mana mungkin ada orang yang mau dengan gembira menceritakan masa lalu suram miliknya kepada orang lain?
Senyum sang raven yang tadinya berusaha gembira itu dimakan oleh kesedihan dan rasa penyesalan. Senyumnya jadi senyum kesedihan sekarang.
"… Maaf, Kau tak perlu menjawabnya jika kau senggan." Ucap Sebastian sambil memegang salah satu pundak mungil Ciel. Tapi Ciel hanya menggeleng, dan itu membuat Sebastian tidak mengerti. Sampai akhirnya Ciel membuka mulutnya untuk angkat bicara.
"Tidak… mungkin ada baiknya kalau aku menceritakan ini padamu… mungkin."
Pemuda berambut hitam itu menutup laptopnya, dan duduk diatas tempat tidur miliknya yang terbilang besar. Ia lalu menghela nafas, dan menatap ke samping kirinya. Dimana ada seorang anak lelaki berumur 13 tahun sedang tertidur dengan wajah yang menggairahkan iman.
Anak lelaki berambut kelabu itu sedang tertidur nyenyak. Kakinya ia naikkan satu—yang tentu dengan tidak sengaja—sehingga kelihatanlah pahanya yang mulus nan putih itu.
Sebastian hanya menelan ludah lalu memasangkan anak itu selimut. Untung saja author sudah melarangnya untuk tidak melakukan hal yang tidak-tidak. Kalau tidak, mungkin keperawanan (atau keperjakaan? Buat yang cantik ini, perawan aja deh *dor*) bocah cantik bermata safir itu akan lenyap sudah.
Matanya memandangi anak yang tertidur lelap di sampingnya. Sesekali anak itu mengganti posisi tidurnya dengan gaya yang lebih mengguncang iman. Dan, sekali lagi, atas perintah author yang sayang pada Ciel ini, membuat Sebastian harus menahan nafsu. (Auth: Woy Sebas, lu emang beneran pedopil ternyata =_=)
Lelaki dewasa itu mengambil tempat disamping Ciel, lalu membaringkan tubuhnya yang proposional itu diatas kasur. Matanya kembali tertuju ke anak disampingnya. Membuat Sebastian kembali mengingat cerita—atau tepatnya disebut perdebatan?—antara dia dan sang kelabu ini tadi siang.
*Flashback*
"Apa? Sungguh, Ciel?" Sang Raven itu bertanya dengan heran. Sedangkan yang ditanya hanya mengangguk kecil.
Dengan penuh kekejutan, sang raven, Sebastian kembali membuka mulutnya untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini.
"Aku tidak menyangka masa lalumu sesuram itu,"
"Tapi itu kenyataannya."
"Dan kau benar-benar berniat untuk balas dendam? Atas kematian kedua orang tuamu?"
"Ya. Kenapa? Salah, bagimu?" Nada kejengkelan mulai masuk diucapan Ciel kala itu.
Sungguh, Sebastian tidak menyangka anak berumur 13 tahun ini mengalami hidup yang sulit dari kecil. Dan semua tumpahan curhat dari Ciel, mulai menjawab satu persatu pertanyaan dikepalanya.
Ciel adalah anak orangkaya. Ayahnya pemilik perusahan Phantom company yang sudah terkenal di seluruh penjuru dunia, sedangkan ibunya designer ternama. Hidup mereka bergelimangkan harta, tapi mereka tidak seperti orang kaya lainnya. Mereka baik. Mereka tidak sombong. Dan mereka kala itu hidup dengan sangat bahagia—kala itu.
"Urm… Tidak, sih. Tapi… apa tidak lebih baik jika kau merelakannya saja? Toh—"
"KAU TIDAK TAU PERASAANKU!"
Teriakan Ciel memecah percakapan damai mereka. Sementara Sebastian hanya menelan ludah dan lagi-lagi berpikir, Apa aku salah bicara lagi?
"Kau tidak tau…" Ciel memberi jeda diantara ucapannya yang terdengar bergetar. "…Bagaimana rasanya ditinggalkan… Bagaimana rasanya kehilangan…orang yang kau sayangi…"
Mata Ciel berair. Dan itu membuat Sebastian merasa bersalah dan hilang tingkah.
"Kau tidak tau… bagaimana sakitnya… melihat kedua orangtuamu… kh, terbunuh… didepan matamu sendiri… kan?" Pemilik safir kelabu yang siap menjatuhkan air mata itu memaksa untuk melanjutkan kata-katanya. Walaupun saat ini air mukanya sangat menyakitkan untuk dipandang, dan nada suaranya sangat menyedihkan untuk didengar.
Sebastian menatap anak itu dalam. Tuhan, ia betul-betul tidak tau mengapa anak sekecil itu diberi cobaan yang besar. Ia harus rela melihat orangtuanya, yang merawatnya bertahun-tahun itu mati didepannya. Saksi hidup dari kematian orangtuanya yang menggenaskan.
Raven itu mulai bertingkah layaknya orang dewasa seusianya. Ia tau jelas, berkata-kata tidak dapat menghentikan kesakitan hati sang kelabu. Memeluk bocah itu adalah pilihan terbaik yang ada. Hingga Ciel tertidur dalam pelukannya.
"Mama? Papa?" Teriakku memanggil mereka. Baru saja aku meninggalkan rumah sebentar untuk bermain, dan rumahku sudah berbeda dalam sekejap.
Sejak kapan tembok rumahku yang tercat satu warna jadi dua warna? Sejak kapan tembok rumahku warnanya tercampur dengan warna merah?
Sejak kapan rumahku yang tadinya harum jadi bau anyir?
Kenapa para pelayan di rumahku tidur di koridor?
Tapi kenapa mereka semua tidur bersimbah cat merah?
Kenapa dirumahku ada suara tawa nista seseorang?
Kenapa dirumahku ada suara lepas tembakan dan teriakan…
Mama!
Aku berlari melewati pelayan-pelayan pemalas yang tidur ini. Sungguh, aku tidak mengerti apa-apa. Aku yang masih 6 tahun polos ini tidak tau apa yang terjadi.
…Tapi firasatku tidak enak.
DOR.
Lepas tembakan terdengar lagi. Suara itu berasal dari ruang makan yang pintunya menunjukkan sedikit celah.
"Hei, apa dia sudah mati?"
"Khe, sepertinya sudah. Kini dunia telah kehilangan dua orang terkenal. Kh, hahaha."
Dua orang nista disana menjambak rambut panjang kelabu yang sudah terkena warna merah darah. Sedangkan yang diangkat tidak marah atapun memberontak. Hanya diam. Diam dengan bekas tembak di perut dan jantung yang masih mencucurkan darah segar.
Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipar dari kantong baju milik mereka sendiri, dan meletakkannya tepat disamping leher orang yang kukenal.
"Sekali lagi, selamat tinggal~" dan pisau itu membagi dengan kejam badan dan kepala yang awalnya menyatu.
Mataku terbelak ketika badan orang yang kusayangi itu jatuh ke lantai. Dan entah mengapa, airmataku mengalir seketika.
"Mama..?" Ucapku. Kepalaku serasa kosong sekarang. Aku tidak tau harus berbuat apa.
Sedangkan mereka berjalan menuju ke arahku, mengeluarkan pisau, dan mulai memainkan pisau itu di dekat mata kananku.
Hingga akhirnya pandanganku menggelap, dan aku tidak melihat apa-apa lagi.
"AH!" Bola mata safir biru itu terbuka dengan kaget. Dan dengan kaget mendapati dirinya tidur empuk di kasur besar.
"Ung…" Ciel mengucek matanya. "Sial... Aku mimpi kejadian di hari itu," Geramnya.
"Dimana aku…?" Gumamnya. Nampaknya otaknya masih load setengah-setengah.
"Ciel? Kau sudah bangun?" Terdengar teriakan seorang lelaki. Ciel semakin bingung dibuatnya. Lalu pintu dibuka oleh sosok seorang raven.
"…Siapa?" Tanya Ciel dengan sigap mengambil senjatanya; Bantal guling dan bantal kepala.
Sosok raven itu terdiam. "Kh, haha" dan mulai tertawa.
"Kau lupa padaku? Aku Sebastian Michaelis."
Otak Cielpun kembali mengingat Sebastian. Sudah load seratus persen sekarang.
"He. Ciel, cepat mandi. Lalu aku akan membawamu untuk membeli peralatan dan pakaian untukmu," Pintah Sebastian yang kemudian dituruti Ciel.
Ciel berdiri, dan terdiam sejenak. Kemudian menatap Sebastian sambil tersenyum hangat.
"…Terima kasih, Sebastian. Terima kasih dalam berbagai hal,"
…Dan berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan sudah mereka menjalani hidup dengan bahagia.
Mungkin sekarang saatnya Tuhan kembali memberi cobaan pada mereka.
Sebastian dan Ciel berjalan ditengah ramainya kota. Banyak orang berlalu lalang, termasuk mereka.
Mereka bercerita dengan tertawa gembira. Senyum senang selalu tertampang diwajah mereka.
…Dan tak ada yang sadar, bahwa kematian sudah menunggu salah satu dari mereka.
Sebuah mobil berjalan dengan tidak menentu arahnya. Kiri, kanan, kiri, kanan. Hingga mobil itu merusak pembatas jalan, dan menabrak seseorang yang tengah asik bercanda ria didepannya.
"—AWAS!"
Secepat kilat, Seseorang langsung melempar orang yang hampir tertabrak itu menjauh dari bahaya. Sedangkan dia kini yang menjadi korban penabrakan pengemudi mabuk itu.
BRAK!
Darah segar bercucuran kemana-mana. Bau anyir tercium oleh orang-orang yang berada di dekat situ.
"Hei! Ada yang tertabrak!" Teriak orang yang kebetulan lewat. Membuat banyak orang berdatangan ke tempat itu.
Sedangkan sesosok raven terduduk dibelakang kerumunan orang tersebut. Masih tidak percaya yang tertabrak mobil barusan—
—adalah orang yang ia sayangi. Ciel.
Dan dihari ini, Ciel Phantomhive sudah tidak bernyawa lagi. Ciel Phantomhive dinyatakan meninggal—mati ditempat.
Sebastian duduk dikasurnya. Otaknya tidak dapat menerima apa yang terjadi tadi.
Ini mimpi! Tidak, ini nyata. Katakan padaku, kalau ini mimpi!
…Tidak bisa, Sebastian.
Yang mati sudah pasti mati. Orang mati bukan seperti mainan yang jika diperbaiki akan hidup lagi. Tidak, Sebastian.
Kini Sebastian menangis.
Bau anyir darah Ciel masih terasa di penciumannya. Tubuh Ciel yang bergelimang darah masih terfoto dalam ingatannya.
Dan kenyataan bahwa Ciel sudah tiada, juga masih tidak dapat diterima olehnya.
Tapi tumpahan darah itu buktinya. Jantung yang tak berdetak itu buktinya. Ciel yang tidak bernafas itu buktinya.
…Itu bukti Ciel melindungi Sebastian dari bahaya.
Tapi kenapa Ciel? Kenapa bukan orang lain saja yang tertabrak? Atau setidaknya, kenapa bukan dia?
Masih tertunduk dengan airmata yang kadang jatuh, Sebastian tertawa—
"Kh, haha.."—entah karna apa.
"Setiap manusia pasti pernah kehilangan."
Rupanya, karna ia mengingat potongan paragraph yang pernah dibacanya diinternet.
"Kehilangan itu rasanya sakit. Sakit dan susah untuk diterima,"
"Ya. Dan itu terjadi padaku." Gumam Sebastian. Berbicara sendiri
"Tapi, apa kalian tau, makna sebenarnya dari sebuah kehilangan?"
"Apa?"
"Itu adalah cara Tuhan."
"Tch, cara untuk membuat kita galau?"
"Itu adalah cara Tuhan untuk mempertemukan kita dengan takdir yang baru."
Dan kali ini Sebastian terdiam.
"Mendapat apa yang sebenarnya lebih baik untuk kita"
Tetap diam.
"Dan dapat dipastikan,"
"Kapan kau merasa kehilangan, maka bersabarlah,"
"Karna akan datang hal yang baru."
"Baru… eh?"
"Jadi beranilah untuk berkata Selamat tinggal agar dapat kembali mengucapkan Hai untuk hal baru."
"Kh, hal baru?"
"Jangan bertanya bagaimana. Karna Tuhan punya caraNya sendiri."
Dan Sebastian membaringkan dirinya dikasur, lalu dengan pelan mengucapkan hal yang menurutnya susah.
"…Selamat tinggal, Ciel."
—To Be Continued—
Heiyyaaa~~!
Maafkan daku update lama sekaleh~
Maafkan daku juga kalau ceritanya tidak dimengerti~
Apalagi kalau chapter ini tidak bikin kenyang (?) #plak# maksudnya tidak memuaskan
Tapi... Makasih buat reviews dichap sebelumnya ;v; senang saya dapat review~~
Review di chap ini yuk? *tampang anak memelas*
