Disclaimer : I do own this plot, but not the character
.
.
An IchiRuki Fanfiction
Tittle : Not With Me
Genre : Angst/Romance / Action / Tragedy (maybe)
Rated : M (for save)
Author : Nakki Desinta.
.
.
Part II
.
.
Byakuya menatap kosong pada dinding ruang rapat dewan, dia selaku pimpinan rapat membuat para peserta rapat menunggunya. Suara General Admin Kuchiki Textile, Hisagi Shuuhei, menggema di otak, dan hatinya.
"Presdir, Ibu Kuchiki pingsan, sekarang sedang dibawa menuju rumah sakit terdekat."
Jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ia berusaha menarik napas panjang-panjang, namun paru-parunya tidak pernah menyatakan cukup untuk membantu jantungnya agar berdetak normal. Dia mendengar Hisagi Shuuhei kembali menyebut namanya, berulang kali, sayangnya pikiran Byakuya sedang terbang pada sosok adiknya yang beberapa minggu belakangan ini jadi lebih kurus, jadi lebih pucat, terlihat lebih rentan dan ringkih. Dia menyadari bahwa benteng pertahanan Rukia suatu saat akan runtuh. Desakan para tetua untuk memintanya menikahi calon suami yang mereka pilih untuk dapat segera meneruskan garis silsilah keluarga Kuchiki telah membuat Rukia sampai pada batasnya.
Seberat itukah beban yang harus kau tanggung, Rukia?
"Presdir?" untuk kesekian kalinya Hisagi Shuuhei memanggilnya, panik terdengar jelas dari nada suaranya.
"Aku mengerti," desah Byakuya datar. Suaranya datar, sedatar raut wajah dingin yang ia pasang.
"Ketua?" Kurotsuchi Mayuri sebagai sekretaris rapat, menunggu lanjutan rapat setelah interupsi telepon sang pemimpin rapat.
"Rapat hari ini ditunda hingga besok, keputusan untuk melanjutkan usulan menambah armada dan senjata untuk militer angakatan darat perlu pembahasan lebih lanjut dengan Menteri Pertahanan. Rapat dibubarkan." Byakuya beranjak dari kursi mewahnya, menarik napas panjang sebelum melangkah keluar ruang rapat, meninggalkan bisik-bisik bertanya dari para peserta rapat mengenai keputusannya yang mendadak menunda rapat.
Langkah kaki sang kepala keluarga Kuchiki itu tidak lagi mencerminkan pengendalian diri yang biasa ia tunjukkan dengan mudah. Pacu jantungnya memaksa langkah kakinya bergegas menuju area parkir, tidak lagi menuggu sopir untuk mengantarnya, ketidaksabaran mendesaknya untuk tidak mengulur waktu lagi.
Mobil terbaru keluaran BMW itu harus menerima pelampiasan cemas Byakuya. Pedal gas diinjak terlalu kuat hingga mesin mobil menggerung keras, menjadikan ban berdecit keras melewati gerbang parkir, memaksa petugas parkir menaikkan palang pembatas tanpa meminta kartu parkir sama sekali ke pengemudi mobil berwarna silver highgloss itu.
.
.
.
Hisagi meletakkan gagang telepon dengan wajah berkerut, kedua alisnya hampir bertemu saat ia memandang Hinamori yang berwajah sama dengannya.
"Kenapa?" tanya Hinamori heran.
"Presdir terdengar agak aneh," bisik Hisagi yang kemudian kembali mengingat jeda lama dalam pembicaraan singkat mereka. Seolah Pak Presdir tidak sedang bicara dengannya untuk beberapa saat, dan dia baru agak lega saat mendengar dua kata singkat yang cukup menggambarkan secara keseluruhan bahwa dirinya telah menyampaikan informasi yang seharusnya.
"Semoga Ibu Rukia baik-baik saja," gumam Hinamori dalam sorot mata kosong. Perhatiannya teralih saat pesawat teleponnya berdering, dan dia kembali pada aktivitas utama pekerjaannya.
Hisagi berjalan meninggalkan front office, dan ponselnya berdering saat ia hendak naik lift. Sebaris nama dengan contact detail Sekretaris Matsumoto tertera di layar ponselnya, segera saja di menyentuh layar ponselnya.
"Kau sudah mengabarkan Presdir?" tanya Ran, napasnya tidak teratur seperti habis balap lari.
"Sudah. Bagaimana keadaan Ibu Rukia?"
"Masih di UGD. Dokter masih memeriksanya."
"Tolong kabari aku jika ada informasi lebih lanjut," ucap Hisagi sungguh-sungguh.
Ran hanya berdehem untuk menyatakan persetujuannya.
Sambungan telepon ditutup, Hisagi melihat barisan angka yang menunjukkan jumlah lantai dalam gedung, setiap lampu menyala berganti dengan angka yang lebih besar urutannya. Pikirannya berjelaga ke adik angkat dari Presdir yang baru saja ia hubungi. Dia tidak menyangka bahwa Rukia akan sampai pada kondisi seperti ini karena beban dari keluarganya.
Bertahanlah, kami berdo'a untuk kesehatan Anda.
.
.
.
Semua orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit menggunakan baju berwarna putih, mengaburkan pandangan Byakuya yang berusaha mencari papan petunjuk yang membimbingnya menuju ruang UGD, dan untungnya sekretaris Rukia, Matsumoto Rangiku, selalu menggunakan baju mencolok, sehingga Byakuya dengan cepat menemukannya di antara pola pakaian yang sama, sehingga ia memperpendek waktu untuk sampai ke ruang UGD.
"Selamat siang, Pak!" Ran membungkuk dalam untuk memberi hormat padanya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Byakuya tetap menjaga ketenangan diri.
Ran terpejam sesaat sebelum menoleh ke bagian dalam ruang UGD, mendapati dokter masih berkutat di dalam, dan belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar cepat.
"Kekurangan nutrisi, hanya itu indikasi tercepat yang bisa disimpulkan dokter. Sekarang masih dilakukan pemeriksaan mendalam," jelas Ran dengan wajah sendu bersedih, sorot matanya menolak membalas tatapan petinggi Kuchiki itu, tidak ingin melihat sorot dingin di mata seorang kakak yang seharusnya luar biasa cemas mendapati adiknya tiba-tiba masuk rumah sakit.
Ran tidak pernah ragu dengan gelar Kuchiki Bertangan Besi yang diberikan para anggota dewan dan para kompetitior bisnis untuk pria berumur 35 tahun ini, tapi ia juga tidak berharap pria ini bisa setenang gunung es di kutub, bahkan nyaris tanpa ekspresi saat menanyakan keadaan Rukia.
Byakuya mendekati pintu ruang UGD, melihat bagian dalam ruangan yang tertutup tirai, tapi tidak seluruhnya, dia masih bisa melihat suster yang bergerak cepat menyodorkan jarum suntik dan botol infus untuk dokter di seberangnya.
"Apa ada masalah berat di kantor?" tanya Byakuya, memecah kesunyian di antara mereka.
Ran menggeleng cepat. "Anda tahu penyebab utama kondisi drop Rukia, jadi saya tidak akan menjawab lebih jauh." Ucapan Ran cukup untuk mengakhiri pembicaraan, dan menghadirkan kembali sunyi di antara keduanya.
Dua jam berlalu, dan akhirnya Rukia di keluarkan dari ruang UGD. Rukia terkulai lemah tak sadarkan diri dengan jarum infus menembus tangannya, cairan berwarna bening itu menetes sedikit demi sedikit memasuki pembuluh darahnya.
"Kami akan pindahkan pasien ke ruang rawat di lantai 5," ucap suster yang mendorong kereta ranjang Rukia, tatapannya penuh hormat dan kekaguman saat melihat wajah tampan tak bercacat milik Byakuya. Sang pemilik ketampanan mengangguk samar membiarkan suster melangkah sambil mendorong kereta tempat tidur. Byakuya tidak mengawal pemindahan, dia tidak akan melakukannya kecuali Rukia telah sadar. Rukia masih terpejam tenang dalam hembusan napas teratur, jadi dia tidak akan meletakkan terlalu banyak cemas pada kondisinya sekarang.
Mata elang miliknya beralih pada dokter yang baru keluar dari ruangan, sementara Ran mengekor suster untuk memindahkan Rukia ke ruang rawat.
"Pak Kuchiki, ada hal yang harus saya bicarakan dengan Anda. Silahkan," ucap dokter sebelum Byakuya sempat mengeluarkan satu katapun.
Langkah keduanya lambat dan perlahan menuju sebuah ruangan di ujung koridor dengan tulisan 'dokter Ishida Uryuu, SpBS'. Dokter berambut biru lurus itu mempersilahkan Byakuya duduk di kursi seberang mejanya, sementara ia mengambil segelas minuman dari kulkas kecil di sudut ruangannya. Segelas air mineral tersaji di hadapan Byakuya sebelum pria itu duduk di kursinya sendiri.
"Saya menggantikan dokter Unohana yang sedang off. Maaf jika Anda bertanya-tanya mengapa dokter spesialis bedah syaraf seperti saya menangani adik Anda. Sebagai jawaban untuk Anda, saya hanya pengganti untuk hari ini." Dokter mendorong bagian tengah kacamatanya naik menggunakan jari telunjuknya.
Byakuya memejamkan mata sesaat, mengerti dengan penjelasan sang dokter sepenuhnya.
"Yang harus saya bicarakan dengan Anda adalah kondisi pasien. Kekurangan nutrisi adalah penyebab penurunan daya tahan tubuhnya, tetapi selain itu masih ada faktor lain yang menjadikan kondisi pasien lebih lemah."
Cemas yang menyiksa itu kembali menyerang Byakuya. Dia tidak bisa terima jika dokter mengatakan bahwa adiknya yang selalu tegar itu tengah mengidap penyakit berat seperti kanker ataupun tumor atau sejenisnya. Tapi ia bersabar hingga dokter melanjutkan penjelasannya.
"Ada janin yang sudah berumur dua minggu dalam kandungannya."
Kata-kata dokter Ishida tiba-tiba saja sulit untuk ia nalarkan. Otak cerdas seorang Kuchiki Byakuya perlahan membeku, seluruh selnya memberontak, menolak bekerja sesuai perintah dari empunya. Waktu berlalu, dokter Ishida seolah memberi jeda dalam pembicaraannya untuk memberi peluang pada sang bangsawan untuk mengatur emosinya sebelum bereaksi lebih jauh. Akhirnya kesunyian itu selesai dengan reaksi minim dari bangsawan berambut lurus sebahu itu. Byakuya membalas sorot mata menenangkan dokter yang jauh lebih muda darinya itu.
"Pasien perlu isitrahat ekstra, asupan gizi serta nutrisi yang tepat untuk dapat menjaga kondisi tubuh dan janinnya. Masa awal tiga bulan ibu hamil adalah masa-masa berat di mana sang ibu harus menyesuaikan pola sang anak dalam kandungan, untuk itu harus ada perhatian dari orang-orang terdekat."
Byakuya masih belum sadar sepenuhnya dari keterkejutannya sendiri, dia masih berkutat dengan pikirannya sendiri.
Rukia sakit.
Bukan sakit karena penyakit berat yang membahayakan nyawanya, tapi lebih buruk dari itu.
Janin. Seorang calon bayi ada di perut adiknya.
Anak siapa itu? Ichigokah?
Lalu bagaimana jika para tetua mengetahui hal ini? Mereka akan semakin memojokkan Rukia, mereka akan semakin mendesaknya menikah lebih cepat untuk menutupi kehamilan yang akan menjadi aib tersendiri bagi keluarga bangsawan Kuchiki. Merupakan aib besar jika seorang wanita Kuchiki tidak bisa menjaga dirinya dari hawa nafsu untuk berhubungan badan dengan lawan jenis.
"Pak Kuchiki?"
Byakuya menggeleng cepat, membuang pikiran-pikiran lain yang semakin kejam memasuki otaknya.
"Aku mengerti, dokter Ishida. Lakukan yang terbaik untuknya," sahut Byakuya yang kemudian beranjak dari kursinya, melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang berwarna putih monoton, matanya menekuri lantai yang berpola mozaik. Rumit, serumit pemikirannya saat ini.
.
.
.
Dua hari kemudian Rukia membuka matanya, kantung hitam di bawah matanya sudah menghilang, wajahnya kembali berwarna cerah, sinar di kolam violet gelapnya pun kembali seperti semula. Dia memandang ke sekelilingnya, dan mendapati ingatannya tidak memiliki record mengenai tempat ini. Langit-langitnya berwarna putih, temboknya kombinasi antara keramik hijau cerah dengan cat dinding berwarna putih, dan saat ia melihat tiang infus di sisinya, ia sadar seketika di mana ia berada.
"Rukia? Apa yang kau rasakan?"
Rukia menggeleng, mengenali suara Ran dengan cepat.
Ran meraih bahu Rukia yang bergerak naik, hendak duduk di kasur rumah sakit. Bibir merekah Ran meringis sedih saat menyentuh tulang di bahu Rukia yang begitu menonjol, tidak ada daging atau lemak sama sekali yang melapisi tulang tersebut. Prihatin, namun ia tidak bisa banyak membantu jika beban pikiran Rukia tidak pernah berkurang.
"Apa kata dokter?" Rukia melirik jarum infus yang di lem ke tangannya agar tidak bergeser saat ia bergerak.
"Penyakit sebagaian besar warga Etiopia!" sahut Ran dengan bibir mencibir, bersungut-sungut kesal melihat sahabatnya tidak sungguh-sungguh menjaga diri.
"Busung lapar? Aku kena busung lapar?" celetuk Rukia yang hampir tertawa, karena dia mengira Ran pasti sedang bercanda.
"Kekurangan nutrisi! Kau benar-benar tidak mau mendengar nasihatku! Lihat sendiri akibatnya!" tambah Ran, lebih sewot kali ini. Habisnya dia sayang sekali pada sahabatnya ini, dia ingin berguna dan ikut menjaga Rukia sebagai balas jasa semua pertolongan dan solidaritas yang selalu Rukia berikan padanya sejak mereka SMP.
"Maaf, Bu Sekretaris Ran yang baik hati..." canda Rukia sambil cekikikan, dan melihat tawa Rukia, cemberut di wajah Ran terhapus seketika.
"Dasar..." Ran menepuk lengan Rukia pelan.
Tok! Tok!
"Ada kunjungan?" tanya Rukia heran.
Ran mengendikkan bahu. "Kemarin Hisagi dan tim kantor lain sudah datang menjenguk kok! Sayangnya kau masih belum sadar, jadi kemungkinannya kecil mereka datang lagi hari ini."
Alis berwarna hitam indah milik Rukia berkerut mempertanyakan kedatangan tamu yang tidak diundang. Dia membiarkan Ran berjalan mendekati pintu dan menarik pintu hingga terbuka lebar, menunjukkan sosok elegan dan bersahaja Kuchiki Byakuya dalam jarak pandang kedua wanita penghuni ruang rawat.
"Kakak?" gumam Rukia setengah kaget.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Byakuya yang melangkah masuk, mengabaikan anggukan kepala Ran ketika memberi salam tanpa kata.
Ran hanya mengendikkan bahu asal, tidak heran kalau salamnya tidak dibalas. Siapa yang tidak kenal sikap egois seorang Kuchiki Byakuya, karena itu ia mengirim pesan 'aku tinggal dulu' lewat sorot matanya, meninggalkan Rukia berdua saja dengan kakaknya.
"Aku baik, baru bangun dari tidur panjang," jawab Rukia yang membenarkan posisi selimut dan bantal untuk menyandarkan punggungnya. Dia agak berjengit kaget merasakan tangan kakaknya membelai rambutnya yang jatuh ke depan, menyisirnya perlahan ke belakang. Jujur saja, ini pertama kali kakaknya menunjukkan perhatian lebih dari sekedar orang yang saling mengenal.
"Jaga dirimu, Rukia. Aku tidak tahu bagaimana aku harus bertanggungjawab pada Hisana nanti karena tidak bisa menjagamu," gumam Byakuya purau, kepalanya tertunduk dalam penuh penyesalan, tergambar jelas beban di hatinya yang begitu berat.
"Kakak tidak perlu cemas. Aku baik-baik saja, dan Kak Hisana tidak akan menuntut apa-apa. Kakak sudah terlalu baik padaku, dia pasti bangga memiliki suami seperti kakak," tutur pemilik rambut sehitam rambut Byakuya itu, wanita itu tersenyum memberi kelegaan pada Byakuya.
Byakuya menengadahkan wajahnya, pandangannya bertemu dengan sorot mata sendu Rukia. Gemuruh keraguan dan tidak tega dalam hatinya tak mampu lagi ia bendung, bukan karena ia tidak sanggup menahannya, tapi karena ia tidak ingin melihat kesedihan Rukia bertambah lagi. Karena itu ia sudah seperti mayat hidup berjalan semenjak keluar dari ruang rapat dewan pagi ini, ia tidak bisa menyampaikan kabar tidak baik ini pada Rukia.
Byakuya tidak bisa membayangkan kesedihan yang mungkin akan berlarut-larut ada dalam diri Rukia. Duka kehilangan adalah pedih mendalam yang tidak akan mudah terhapus, persis seperti saat ia kehilangan Hisana dari hidupnya. Tempat itu kosong, selamanya tetap kosong dan akan menjadi tempat berduka untuknya seumur hidup.
"Ada apa, Kak?" Rukia cukup cerdik mengetahui ada hal yang ingin dikatakan kakaknya, karena wajah Byakuya berkerut halus di beberapa tempat, menunjukkan kerja otaknya begitu keras.
"Rukia..." Byakuya meraih tangan kanan Rukia, menggenggamnya erat sementara matanya meminta perhatian kolam kelam berwarna violet gelap itu. "Ada kabar baik untukmu," lanjut Byakuya yang akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memperlambat ataupun memperpanjang ketidaktahuan Rukia. Ia takut akan membuat Rukia benci padanya jika nanti Rukia mendengar semuanya justru dari orang lain, bukan dirinya langsung. Namun jika nanti Rukia tetap akan membencinya setelah mendengar semua kenyataan ini, ia pun rela. Duka seseorang bisa membuat akal sehat berbalik sedemikian rupa, karena itu ia akan menerimanya.
"Apa itu, Kak?" cerah di wajah Rukia berbinar hingga mewarnai matanya.
Rukia menarik sudut-sudut bibirnya, merasa tidak sabar menunggu kabar baik, dan mungkin saja kabar baik itu tentang kepulangan Ichigo.
"Kau hamil."
Rukia terkesiap, tangannya terlepas dari genggaman Byakuya karena desakan untuk menekap mulut dengan kedua tangannya. Gelombang bahagia di hatinya mengembang sebesar-besarnya. Dia menyentuh perutnya, dan seketika itu saja air mata menetes dari pelupuk matanya. Kebahagiaan kerena mengandung, mengandung anak Ichigo. Ini akan menjadi hadiah besar untuk Ichigo saat kepulangannya nanti, kebahagiaan mendapatkan buah cinta mereka berdua.
"Tim K2I juga sudah pulang dari tugas mereka," lanjut Byakuya yang merasakan dadanya semakin sempit oleh ketakutan.
"Benarkah?" pekik Rukia jauh lebih senang mendengar tim yang Ichigo pimpin sudah pulang dari tugas, dia tidak sabar untuk bertemu Ichigo. "Mereka berhasil?" kejar Rukia kegirangan.
Byakuya mengangguk, tetap memasang topeng tak berperasaan yang selalu ia andalkan.
"Syukurlah... Kapan mereka pulang? Kenapa Ichigo belum datang menjengukku? Apa dia tidak tahu aku sakit karena memikirkannya?" Rukia terus berkicau, tidak memperhatikan raut wajah kakaknya yang semakin kaku.
Byakuya tidak tega merusak kebahagiaan yang jarang sekali ia lihat di wajah Rukia, ia tidak bisa, dia akan menghancurkan adiknya hingga kepingan jiwanya yang terkecil. Lalu kenapa harus dia yang menyampaikan? Apakah seumur hidup ia harus menjadi algojo yang selalu menyampaikan berita buruk pada Rukia?
"Kak?" Rukia meredam kebahagiaannya sedikit, dan melihat kakaknya yang tetap bungkam.
"Mereka pulang kemarin, dan... Dari empat puluh orang yang berangkat, hanya 20 orang yang kembali. Kolonel Kurosaki..."
Byakuya tidak mampu melanjutkan kalimatnya lagi, tangannya reflek meraih bahu Rukia, membawa wajah yang tiba-tiba dipenuhi kengerian itu masuk dalam pelukannya.
"Kau tidak berbohong, Kak?" gumam Rukia nyaris tidak terdengar, suaranya hilang bersama kebahagiaannya. Sekujur tubuh Rukia gemetar, duka itu amat sangat mengguncangnya. Matanya terpejam, mengingat senyum Ichigo saat memberikan salam hormat padanya, dan berjanji akan kembali. Dia telah berjanji dengan segenap jiwa raganya untuk kembali. Lalu kenapa?
Tangis, dan rintihan dari mulutnya meneriakkan luka yang ia derita di lubuk hatinya terdalam, tempat di mana ia menempatkan Ichigo bersama seluruh cinta dan kasih sayangnya sebagai penopang hidupnya.
"Tubuhnya hancur terkena granat. Prajurit Kira yang melihat kejadian itu. Tepat setelah mereka melumpuhkan musuh, granat meledakkan tempat Kolonel Kurosaki bersembunyi." Nada dalam suara purau Byakuya begitu jelas, sedih.
"Tapi... tapi... Pernikahan kami, cinta kami, anak kami... Ini tidak mungkin..." Tangan mungil Rukia merenggut jas Byakuya, sementara Byakuya memeluknya erat-erat.
"Maafkan aku... seharusnya aku melakukan sesuatu untuk mencegah Kolonel Kurosaki pergi," tambah Byakuya, ikut menyalahkan dirinya yang tidak bisa mencegah kesedihan ini menyerang adiknya. Dia akan menyalahkan dirinya seumur hidup jika memang itu bisa mengurangi sedikit saja kesedihan adiknya. Adik yang sangat ia sayangi.
"Ichigo... Ichigo... Kenapa kau tidak menepati janjimu?" Rukia menangis meraung-raung, sesak dan sakit di dadanya tidak mampu ia pendam lagi, hingga air matanya terus mengalir tanpa henti, mendampingi rintihannya yang terus melafalkan nama pria yang ia cintai itu.
Sekarang semua sudah hilang, harapan untuk melewati hari-hari yang lebih bahagia setelah ini hanya menjadi angan-angan yang tidak pernah terwujud, harapan itu hangus menjadi batu nisan yang bertuliskan nama pria terkasihnya. Rasa sakit itu menyerang pertahanannya yang terakhir sebagai seorang Kuchiki Rukia. Semua ketegaran yang selalu ia agung-agungkan untuk menghadapi segala macam beban tidak lagi ia butuhkan jika ketegarannya hanya berakhir duka yang mengantarnya pada jenazah Ichigo.
Ia mencintai pria itu. Sangat. Tidak ingin kehilangan, dan sekarang apa yang ia sangat takutkan benar-benar terjadi. Melihat pria itu terbaring tak bernapas dalam liang kubur dengan iring-iringan upacara kenegaraan. Dia ingin kembali merasakan sentuhan hangat pria itu, rasa cintanya, belaiannya, jemarinya yang kasar, tubuhnya yang keras dan berisi, kecupan yang selalu menyadarkannya bahwa ia dicintai dan diharapkan. Mengobati seluruh rasa sakitnya sebagai Kuchiki yang tidak diinginkan, membuat seutuh dirinya sebagai seorang wanita yang dicintai.
"Aku tidak bisa, Ichigo... Teganya kau melakukan hal ini padaku... Apa yang harus aku katakan pada anak kita nanti...?"
Rukia terus menangis hingga saat ia tidak mampu lagi menahan perih di hatinya, ia membawa kesedihannya dalam ketidaksadaran yang membimbingnya melihat wajah Ichigo di alam bawah sadarnya. Ichigo yang berpakaian lengkap sebagai seorang tentara pembela negara, tersenyum dan memberi hormat padanya.
"Aku mencintaimu. Aku cinta padamu dan negeriku. Aku akan berkorban apapun untuk keduanya, karena itu banggalah padaku. Kau wanita yang ku pilih untuk mendampingi hidupku, mendampingi seorang pejuang yang mungkin saat tua nanti akan mengandalkanmu untuk merawatku. Kuchiki Rukia, kekasihku..."
Rukia menjulurkan tangannya, mengiba agar Ichigo tidak pergi, tapi seperti apapun ia berteriak pria berambut sewarna matahari itu tidak pernah berbalik atau menahan langkahnya, pria itu tetap menjauh hingga sosoknya mengabur dari pandangan.
.
.
.
.
Lima tahun berlalu sejak upacara pemakaman Kolonel Kurosaki Ichigo. Tangis keluarga, kerabat, rekan, dan kekasih mengiringi upacara yang berlangsung dalam keheningan itu. Taburan bunga berwarna putih mewarnai gungukan tanah merah basah waktu itu, dan sekarang telah berubah menjadi rerumputan hijau berhias batu nisan terukir indah.
Rukia meletakkan bunga krisan di dekat batu nisan, menatap sebaris nama yang lengkap dengan jabatan, gelar dan nama keluarga itu. Luapan air mata itu masih saja memaksa untuk menetes sekalipun sudah lima tahun berlalu.
Aku mencintaimu, Ichigo.
"Rukia?"
Wanita bertubuh mungil itu berbalik, mendapati kakaknya berjalan mendekatinya, menunggunya menyelesaikan acara berkabung yang selalu ia lakukan secara formal setiap tahunnya di tanggal yang sama. Ia terus melakukannya sekalipun pada kenyataannya ia selalu berkabung dalam malam-malam menjelang tidurnya.
"Bunda?"
Wanita dengan rambut panjang sepunggung itu berjongkok, menunggu seorang anak dengan rambut berwarna orange menyala, mata berwarna hazel, rahang kurus, semua tentang anak itu selalu mengingatkannya pada Ichigo, namun anak itu mewarisi sikap kalem dan tenang Rukia yang begitu kental, sehingga Kurosaki Ichigo kecil terlihat begitu lembut dalam balutan seragam sekolah taman kanak-kanak.
"Haru, sudah beli bunga untuk ayah?" tanya Rukia. Anak itu mengangguk menjawabnya dan memeluknya begitu erat, seolah sedang ikut menguatkan bundanya untuk tidak bersedih lagi. Anak itu tidak juga melepaskan pelukannya, dia malah mengecup rambut bundanya lama.
"Bunda jangan menangis lagi. Ayah pasti sedih kalau lihat bunda menangis seperti ini," bisik anak itu seraya melepaskan pelukannya. "Ada Haru, Haru akan menjaga bunda menggantikan ayah," lanjutnya dengan tangan menangkup wajah bundanya.
"Anak baik..." Rukia membelai rambut Haru, lalu mendaratkan kecupan ringan di dahinya.
"Kita pulang sekarang?" tanya Byakuya seraya meraih tangan keponakannya.
"Tunggu, Paman Bya..." Haru mengambil setangkai bunga lili dari saku seragamnya. Bunganya sedikit rusak karena ia memeluk bundanya tadi, tapi ia tetap tersenyum bangga sambil meletakkan bunga berwarna ungu itu di dekat bunga krisan bundanya. "Ayah, bunda selalu menangis setiap malam. Haru tidak bisa menghibur bunda, tapi Haru berjanji akan jadi anak baik dan membuat bunda bahagia. Ayah juga harus membantu Haru membuat bunda bahagia. Tolong minta malaikat-malaikat baik selalu mengiringi bunda. Haru akan dapat nilai terbaik tahun ini dan membuat ayah bunda bangga, karena Haru anak ayah dan bunda."
Rukia kembali memeluk anaknya, begitu erat, dia tidak bisa menahan kebahagiaan dan kesedihan yang menderanya di saat yang sama. Dia senang masih bisa memiliki Haru yang menyinari hari-harinya, mengobati kepedihan yang tidak juga hilang akibat kepergian Ichigo. Di sisi lain ia sedih karena sebuah tempat di hatinya kosong karena ketiadaan Ichigo.
Dia anak kita, Ichigo. Dia baik, persis sepertimu. Pujilah aku, aku sudah membesarkan anak kita dengan baik. Aku berjuang sendirian untuk membesarkan buah cinta kita karena aku mencintaimu. Hanya dirimu.
Rukia menghapus air matanya dan menegakkan badan, mengarahkan Haru untuk meninggalkan makam ayahnya. Haru berbalik dan melangkah keluar dari area pemakaman dengan menggandeng lengan bunda dan pamannya. Senyum cerah sang matahari terukir di wajahnya.
.
.
.
Taman kanak-kanak nasional Soul Society, di sanalah tempat Haru bersekolah. Setiap harinya ia berangkat dan pulang di antar bundanya, sekalipun bunda adalah sosok wanita bisnis yang terkenal tidak punya waktu, tapi bunda selalu meluangkan waktu untuk bersamanya, setiap saat selalu hadir, bukan sekedar sebagai bunda, tapi juga sebagai figur ayah yang tidak pernah Haru miliki sejak ia membuka mata di dunia ini.
Bel pulang berbunyi, sang pembimbing meminta para muridnya membereskan buku dan peralatan mereka untuk berjalan ke area parkir untuk menunggu jemputan atau naik bis sekolah.
"Haru, tadi bunda kamu telepon, datang agak terlambat. Haru mau menunggu atau naik bis sekolah?" Isane -wanita pengasih dengan rambut berwarna ungu lembut- yang merupakan guru pembimbing di kelas Haru, menghampiri anak berambut orange menyala yang tengah celingukan mencari bundanya.
"Haru tunggu saja, Bu. Kasihan bunda nanti, sudah datang tapi tidak bertemu," sahut anak itu seraya melangkah menuju taman di sisi gerbang sekolah. Kaki mungilnya melangkah cepat mendekati ayunan yang berwarna campuran antara warna merah, kuning dan biru.
"Kalau begitu Haru tunggu di sini ya, ditemani Pak Security," tambah Isane.
Haru mengangguk dalam, tersenyum lebar pada security sekolah yang memarkir mobil-mobil lain yang akan menjemput siswa lain. Kakinya menjejak tanah penuh-penuh dan mulai mendorong badan ke depan, mengayun badannya seiring gerakan rantai ayunan.
Dia menyenandungkan lagu pelan, tersenyum sendiri saat mengingat kertas nilai di tasnya yang akan ia tunjukkan pada bunda nanti, dari lima materi ia hanya mendapat satu nilai B, semuanya dia dapat A. Dia akan menjadi yang terbaik di kelas.
"Hallo, adik kecil..."
Haru mengerem kakinya seketika, anak itu melihat seseorang yang duduk di ayunan tepat di sebelahnya. Dari postur badan dan suara yang ia dengar, sepertinya orang ini laki-laki, karena orang ini berpakaian rapat sekali. Jacket berwarna cokelat, lengkap dengan topi dan mata hazel Haru sempat melihat perban yang membalut sebagian besar wajah pria itu. Dari keseluruhan wajah hanya tersisa mata kanan dan sebagian bibir yang tidak tertutup.
"Paman siapa?" tanya Haru polos.
"Oh, aku tidak sengaja mampir. Aku ingin melamar menjadi petugas kebersihan di sekolah ini," jawab suara berat itu, dalam nada suaranya tersirat pedih yang tidak bisa disadari anak sekecil Haru.
"Paman bisa bersih-bersih?" lanjut Haru, dan pria tadi tersenyum, tapi langsung disembunyikan dengan menundukkan kepala.
Haru melihat sejumput rambut pria tadi yang mencuat dari bagian belakang ujung topi, berwarna orange menyala, seperti warna rambutnya.
"Kenapa paman tertawa?" tanya Haru sambil cemberut.
"Melihat warna rambutmu mengingatkanku pada seseorang," jawab sang paman.
"Bunda bilang rambut sepertiku jarang, dan seumur hidupnya ia hanya menengal satu orang yang berambut sepertiku," sahut Haru bangga.
"Siapa orang itu?"
"Ayahku!" jawab Haru lantang, dia terlihat begitu senang menyebut ayahnya. "Bunda bilang ayah adalah pejuang terbaik, gugur di medan perang untuk membela negara. Bunda sangat sayang pada ayah. Tapi..." Haru kecil menunduk dalam, jemari mungilnya mencengkram rantai ayunan begitu keras.
"Kenapa?"
"Bunda masih sedih sejak kepergian ayah, terus menangis tiap malam, tidak ada yang mau menolong bunda selain paman Bya. Waktu itu aku juga pernah mendengar bunda di sebut Pelacur oleh Paman Kouga. Aku tidak mengerti apa artinya, tapi wajah bunda begitu sedih saat itu. Memangnya Pelacur apa artinya sih paman? Aku tidak berani tanya ke bunda, aku takut bunda menangis lagi..."
Pria tadi turun dari ayunannya, berlutut di hadapan Haru dan tangannya terjulur ragu menyentuh puncak kepala Haru, membuat anak yang belum berumur genap lima tahun itu mendongak, dan Haru menemukan mata paman yang masih terlihat itu berwarna cokelat muda, atau sama dengan warna matanya?
"Kau anak pintar. Kata itu tidak baik disebutkan untuk wanita. Bundamu adalah wanita terhormat yang baik, tegar dan mampu berjuang untuk orang yang ia cintai. Jagalah bundamu, Haru."
Haru kaget paman ini mengetahui namanya. "Paman tahu namaku?" cicitnya senang.
"Itu!" paman tadi menunjuk sebaris nama di bagian kanan dada seragamnya yang bertuliskan Kuchiki Haru.
"Oh, iya... Pantas saja..." Haru tertawa sambil menggaruk kepalanya.
"Senyummu mirip sekali dengan Rukia..." gumam paman tadi, seraya membelai pipi Haru penuh sayang.
Haru bingung paman ini mengetahui nama bundanya, dia ingin bertanya tapi tidak menyuarakannya saat matanya kembali melihat warna mata yang serupa dengan matanya. Dia sama sekali tidak merasa asing dengan paman ini, tidak merasa takut seperti yang seharusnya. Bu guru Isane selalu mengingatkan semua anak untuk tidak bicara dengan orang asing, tapi Haru tidak merasa takut sama sekali saat melihat paman ini, waktu melihat wajahnya yang diperban separuhpun anak ini tidak merasa takut.
"Jagalah bundamu. Dia pantas untuk bahagia," bisik sang paman seraya berdiri.
Angin musim gugur berhembus kencang saat sang paman menegakkan badan, angin membawa topi yang ia gunakan, terbang, terlepas dari kepalanya. Dia panik dan hendak mengejar topinya, tapi langkahnya terhenti saat melihat bayangan kecil di sampingnya.
"I-Ichi..go?" gagap sebuah suara yang melihat rambut berwarna orange panjang hingga mencapai bahu, dibiarkan tergerai sementara wajah sang pemilik tertutup perban hingga sulit untuk dikenali.
.
.
.
Perasaan rindu dan sayang dalam hatinya telah menuntunnya untuk melihat anak yang telah bertahun-tahun ia perhatikan. Buah hati miliknya dan Rukia.
Ia tahu ini adalah dosa besar dalam kesempatan kedua hidupnya. Dia selamat dari ledakan granat, terlontar hingga sepuluh meter dari tempat kejadian. Seorang warga Hueco Mundo, wanita bernama Riruka merawatnya dan mengenalinya sebagai salah satu pejuang yang telah membela desanya. Ledakan granat telah membakar sebagian besar badan serta wajah kirinya, mata kirinya tidak lagi berfungsi, kakinya patah, sementara peluru bersarang di bahu kanannya. Dua tahun dia berada di desa Hueco Mundo untuk memulihkan diri, dan saat ia sembuh sepenuhnya, ia tidak berani kembali sebagai seorang Kolonel Kurosaki.
Dia tidak ingin melihat sorot mata jijik di mata Rukia saat melihat wajahnya yang sekarang, tubuh tak berfungsinya sekarang. Dia tidak lagi setegap prajurit negara, dia sendiri berusaha mengubur harapannya untuk bersama Rukia lagi.
Dua tahun kemudian ia kembali, mendengar kabar bahwa Rukia memiliki anak. Anak yang saat ia lihat tidak mampu ia ragukan lagi adalah buah hati mereka. Rukia membesarkannya sendirian, tidak pernah membiarkan pria manapun melamarnya, menanggung malu dan duka dikucilkan keluarga sendiri. Rukia pun terus mengunjungi makam yang bertuliskan namanya, menangis dalam kesendiriannya.
Selama setahun penuh Ichigo melihat pemandangan menyedihkan itu, terus mengutuk dirinya karena telah menyebabkan kesedihan mendalam pada Rukia, tapi ia juga tidak ingin Rukia terluka lebih dalam saat melihat pria yang ia cintai telah menjadi seorang yang cacat.
Tapi akhirnya ia memberanikan diri untuk bicara dengan buah hatinya. Ia ingin melihat lebih dekat dirinya sendiri. Haru, anak yang begitu mirip dengannya, dan dia tidak bisa menahan diri untuk mendengar suara tenang, polos dan bersahaja buah hatinya yang begitu mencerminkan seorang Kuchiki.
Ia mendengar cerita dari mulut anaknya sendiri, bagaimana bunda yang ia sangat sayangi selalu menangisi ayahnya. Rasa bersalah itu semakin menggrogotinya saat ia mendengar wanita yang sangat ia cintai disebut Pelacur oleh orang tak bermoral bernama Kouga.
Keinginan untuk menghajar Kouga terkikis ketika melihat senyum di wajah anak itu begitu mirip dengan Rukia, kelembutan yang dipancarkan mata berwarna hazel itu sangat berbeda dengan kesan semangat yang biasa ia tularkan pada anak buahnya. Haru, perpaduan dirinya dan Rukia yang begitu nyata.
"Jagalah bundamu. Dia pantas untuk bahagia," bisiknya seraya berdiri, menurunkan tangan yang hendak meraih bahu anak itu, ingin memeluknya sepenuh hati dan menyatakan rasa sayangnya pada anaknya, tapi ia tahu ini akan sangat aneh bagi anak yang baru pertama kali bertemu seorang paman asing, karena itu ia mengurungkan niatnya. Saat tangannya kembali ke sisi tubuhnya, Ichigo merasakan derita yang amat sangat karena tidak bisa mencurahkan rasa sayangnya.
Dia menatap lagi wajah sendu Haru, tidak rela meninggalkannya pergi.
Tiba-tiba angin berhembus kencang ke arahnya, menerbangkan topinya, membuka penyamaran yang berusaha ia pertahankan untuk menyembunyikan dirinya. Tepat di saat ia hendak berbalik, ia mendapat serangan di jantungnya. Seseorang berdiri tidak jauh darinya, dan tanpa perlu melihat siapa orangnya, hatinya telah dengan sendirinya menyadari. Degub jantung yang tak beraturan ini hanya akan terjadi jika berada di dekat satu orang wanita, wanita yang diakui hatinya.
"I-Ichi..go?"
Tubuh tentara itu membeku saat melihat wanita dalam benaknya menjadi wujud nyata dan berdiri di hadapannya, melangkah semakin dekat, dan dia baru mengerjap ketika sepasang tangan yang sangat ia kenal itu menyentuh rahangnya, mengembalikan pandangan yang sempat ia alihkan. Satu matanya yang normal masih mampu menikmati kecantikan yang tak pernah berubah, tatapan cinta yang tak pernah berkurang, bahkan kelembutan yang tak pernah pudar untuknya.
Dia tidak menemukan tatapan jijik sama sekali, tidak ada kebencian, sesal, dan amarah dari sepasang mata violet gelap itu. Seharusnya dia sadar bahwa Rukia tidak akan pernah memberikan sorot mata seperti ketakutannya selama ini. Rukia adalah wanita berhati bersih yang akan selalu mencintainya dengan tulus. Rasa bersalah, rindu, cinta, sayang, bahkan jijik pada diri sendiri, bercampur dalam dadanya, membuatnya tidak tahu harus bagaimana bersikap, membuatnya mendadak bisu dan keterbelakangan mental.
"Bun-" ucapan Haru tertahan saat melihat bundanya mendadak menangis. Ia melihat bergantian paman yang tadi dengan bundanya.
"Kau benar Ichigo?..."
Rukia membelai alis Ichigo, berpindah ke pelipis, dan ke bawah mata hingga mencapai perban yang membebat sisa wajah Ichigo.
"Kenapa?"
Ichigo membiarkan Rukia meraih ujung kait perbannya, mengendurkan lilitan perban di wajahnya hingga bentangan perban itu terlepas seluruhnya dan terjatuh di rerumputan.
"Bunda..." Haru melompat dari ayunan dan merengek, matanya membulat besar menunjukkan ketakutan yang amat sangat. Anak itu langsung berlari memeluk kaki bundanya, menyembunyikan wajahnya dari pemandangan yang membuatnya takut.
Ichigo mendapati hatinya sakit, ketakutan Haru adalah mimpi buruk untuknya. Ia tidak ingin dibenci dan dijauhi anaknya sendiri karena cacat yang ia derita, ia tidak ingin. Ia terluka begitu dalam karena cacat ini. Ketakutannya benar-benar telah meluluhlantakkan semua keteguhan hatinya.
"Haru, ini ayahmu..." gumam Rukia, membelai puncak kepala buah hatinya, memberi keberanian untuk Haru melihat wajah ayahnya sendiri.
"Aku takut..." desis Haru yang tetap menyembunyikan wajahnya di kaki bundanya.
"Sudahlah, Rukia..." gumam Ichigo, menjaga sakit di ulu hatinya naik ke matanya, karena belakang matanya sudah panas terbakar, dia tahu dia sudah di batas pertahanannya untuk meneteskan air mata. Dia tidak ingin menakuti Haru lebih lama lagi. "Inilah penyebab aku tidak ingin muncul di hadapanmu. Ketakutan itu terus menghantuiku. Aku tidak ingin orang yang aku cintai takut saat melihatku," bisik Ichigo yang kemudian tertunduk.
Rukia menyentuh permukaan kulit yang tidak rata dan berwarna merah muda, seperti kulit terkelupas dan dipaksa tumbuh lagi, dari pelipis kiri, pipi kiri, hingga sebagian dari bibir Ichigo seperti lumer ke rahangnya. Dia menyentuh semua bagian, tidak ada ketakutan yang ia rasakan saat menyentuhnya, justru kerinduan yang amat sangat menyesakkan hatinya.
"Aku mencintaimu. Aku rindu padamu, kenapa kau melakukan ini padaku? Kau tidak tahu betapa aku tersiksa menangisi kepergianmu? Aku menangisi nisan bertuliskan namamu tiap tahun. Tapi kenapa? Jika kaku masih hidup, kenapa kau tidak kembali?" cecar Rukia yang meneteskan lagi air mata bahagianya. "Lagipula takut atau tidak, aku yang memutuskan, bukan hakmu! Kau melakukan hal bodoh! Kau bodoh!" Rukia memukul bahu Ichigo kuat, membuat pria itu mundur satu langkah, karena Rukia memukul tepat mengenai lukanya.
"Kau selalu memukul tempat yang tepat," kekeh Ichigo sambil meringis memegangi bahu kanannya.
"Bahumu kenapa?" tanya Rukia seraya menghapus air matanya.
"Resiko peperangan. Aku belum sempat mengeluarkan pelurunya, karena sibuk sembunyi," canda Ichigo, ingin terlihat lucu tapi malah membuat air mata Rukia kembali menetes. Sontak Rukia meraih pinggang Ichigo, memeluknya erat, kembali merasakan hangat tubuh pria ini, lalu dia berjinjit mengecup bibir Ichigo, merasakan permukaan kasar bibir pria itu, tapi karena itu ia justru bersyukur bisa merasakannya, yang terpenting dari semuanya adalah Ichigo masih hidup.
Ichigo membatu saat merasakan sapuan bibir yang begitu hangat dan lembut semurni mata air yang membasuh dahaganya. Dia memiringkan wajah dan seketika sadar bahwa ia tidak bisa terlepas dari wanita ini, selamanya tidak akan pernah bisa.
"Bunda..." Haru lagi-lagi merengek, meminta bundanya segera pergi, menjauh dari paman berwajah mengerikan yang menurutnya sama monster dalam film animasi yang pernah ia tonton bersama temannya.
Rukia sontak menjauh dari Ichigo. Wajahnya berubah merah merona saat menatap wajah yang sangat ditakuti Haru. Rukia tersenyum lembut seraya berjongkok, merengkuh bahu buah hatinya, menatap matanya langsung.
"Haru, ayah masih hidup. Ayah sakit, karena itu seharusnya Haru menjaga ayah, bukan malah menjauhi ayah."
Haru terdiam sejenak, ekor matanya menangkap sosok paman asing buruk rupa di seberangnya. Dia mengenali warna rambut dan mata yang sama persis dengannya itu, dan tidak ragu lagi bahwa ia adalah ayah yang katanya sudah meninggal. Tapi wajahnya...
"Itu benar ayah? Jadi ayah bukannya meninggal tapi sakit?" ulang Haru, mengembalikan tatapannya pada bunda tercintanya.
Rukia menjawab dengan anggukan lembut meyakinkan.
Bagi Haru, yang tidak pernah mengenal sosok ayah dalam hidupnya, ia sangat merindukan ayah hadir dalam hidupnya, menjemputnya sekolah seperti yang dilakukan ayah teman-temannya yang lain. Bisa membanggakan diri betapa hebatnya ayahnya yang baik, mengajari PR-PRnya, mengajaknya jalan-jalan, dan memberikan hadiah saat ia mendapat nilai baik. Tapi kalau ayah yang ia punya seperti monster...
"Tapi Haru takut..." rengek bocah itu lagi.
"Haru. Haru tidak ingin punya ayah? Mungkin Haru takut melihat sakit ayah, tapi nanti Haru akan terbiasa. Bunda senang sekali jika Haru bisa menyayangi ayah seperti Haru menyayangi bunda," tutur Rukia perlahan.
Ichigo bangga sekali melihat kelembutan di diri Rukia, karena berkat kelembutannya itu ia bisa membesarkan Haru dengan baik.
"Kalau dibawa ke dokter, Ayah bisa sembuh kan?" tanya Haru tetap dengan mata takut menatap ayahnya.
Ichigo berjongok, sengaja menunjukkan wajah mengerikannya pada Haru. Dia sadar sepenuhnya bahwa anak kecil adalah makhluk paling jujur, jika takut mereka akan takut, jika suka mereka akan suka, dan karena itu ia tidak ingin menjanjikan hal muluk yang bisa menyakiti Haru nantinya.
"Haru... Jika Haru tidak ingin melihat ayah, ayah bisa pergi. Anggap kita tidak pernah bertemu, tapi Haru harus percaya kalau ayah akan selalu menjaga bunda dan Haru," bisik Ichigo yang tidak ragu lagi untuk memeluk buah hatinya.
Haru berjengit kaget, tapi tidak memberontak karena dengan cepat sang pria berambut orange panjang itu melepas pelukannya.
"Ichigo, jangan..." Rukia menggeleng cepat.
"Rukia, aku tidak akan pergi, tapi aku juga tidak bisa tinggal jika hanya membuat anak kita takut..." gumam Ichigo seraya berbalik, meninggalkan jejak air mata Rukia yang kembali basah. Hatinya terluka begitu parah, dia tidak bisa tinggal jika hanya akan melihat ketakutan itu di wajah Haru, di wajah buah hatinya sendiri. Cacat. Dia membenci cacat ini seumur hidupnya.
"Ichigo..." rintih Rukia yang lalu menekap wajahnya, menyembunyikan air mata yang terus menetes.
Haru melihat air mata bunda yang selalu ia takutkan. Ia tidak ingin melihat bunda menangis, dia bahkan berjanji untuk membuat bunda bahagia. Sekarang ayah sudah kembali, bunda bisa tersenyum lagi, tapi ayah malah pergi. Dia tidak ingin bunda menangis, tapi dia juga takut melihat wajah itu. Bunda yang sangat ia sayang... Ayah yang ia inginkan, tetapi berwajah...
"Ayah!" Haru menarik ujung jacket yang mampu ia raih, berhasil menghentikan langkah sang ayah.
"Jangan pergi, jangan buat bunda sedih lagi. Haru janji akan jadi anak baik, Haru tidak akan nakal, Haru tidak akan bilang wajah ayah seram, Haru mau punya ayah seperti teman yang lain!" Haru berteriak keras hingga suara kecilnya persis tikus kecil yang sedang mencicit.
Ichigo berbalik, berjongok untuk melihat Haru, melihat dirinya berada dalam bola mata anak polos itu. Ichigo menyadari sepenuhnya rasa sayang anak ini pada bundanya hampir mengalahkan rasa sayangnya sendiri untuk Rukia. Anak ini bisa memaksa dirinya agar bundanya bahagia, dan dia melihat jiwanya sendiri tertanam dalam tubuh siswa taman kanak-kanak ini.
"Kau tahu?" bisik Ichigo seraya memegang bahu anaknya. "Kau sudah mengalahkan ayah. Kau lebih tegar, lebih keras hati, dan lebih mencintai bunda. Kau adalah pimpinan tertinggi bagi Kolonel Kurosaki..." desis Ichigo sambil tersenyum.
Haru tidak begitu mengerti kalimat ayahnya, tapi dia senang sekali saat mendengar kata bahwa ia lebih mencintai bundanya.
"Terima kasih, Haru." Ichigo memeluk anaknya begitu erat, meluapkan rasa sayang yang ia tahan selama bertahun-tahun. Haru merasakan hangatnya pelukan seorang ayah, merasa senang bisa berada dalam dekapan tangan kekar seorang ayah.
"Siap memberi perintah, Komandan?" tanya Ichigo lantang.
Haru yang pernah melihat upacara-upacara resmi yang dihadiri paman Bya, langsung meniru salah satu adegan dalam ingatannya. Dia berdiri tegap dan mengangkat tangan kanannya, memberi hormat.
"Siap!" ucapnya, sontak membuat Ichigo dan Rukia tertawa.
Ichigo membawa buah hatinya dalam gendongannya, memeluk Haru begitu erat sementara tangan yang lain ia ulurkan untuk membawa Rukia ikut masuk dalam dekapannya.
"Aku mencintai kalian," bisik Ichigo seraya mengecup dahi Rukia dan Haru bergantian.
Mereka tertawa bersamaan, membagi kebahagiaan yang tertunda selama lima tahun lamanya.
"Rukia?"
Wanita yang mendengar namanya disebut menoleh ke sumber suara dan baru teringat kalau ia mengajak kakaknya untuk menjemput Haru hari ini. Ketegangan menguar saat mata dingin Byakuya melihat Ichigo yang tengah menggendong Haru dan memeluk Rukia.
"Kolonel Kurosaki? Kau masih hidup?" gumam Byakuya seraya mendekat untuk memperjelas pandangannya. Matanya hampir tidak mengenali saat melihat luka bakar yang merusak sebagian besar wajah kolonel itu.
"Ya, Pak. Saya masih hidup. Maaf jika Anda menyesalinya Pak Ketua Dewan," jawab Ichigo yang kembali merasa bersalah. Dia melihat kemarahan mengilat jelas di kedua mata jernih pria bangsawan itu, dan dia tidak menghindar jika memang pria itu hendak menyiksanya karena telah membuat adiknya menderita.
"Paman Bya! Haru sekarang punya ayah. Ayah sakit bukannya meninggal, Paman Bya." Suara riang Haru mengacaukan emosi yang sudah terbangun dalam hati Byakuya, senyum bahagia di wajah keponakannya itu seketika meluluhkan keinginannya untuk menghajar Kolonel kurang ajar itu dengan tangannya sendiri. Kemarahannya semakin pudar mendapati senyum yang sudah lama sekali tidak ia lihat di wajah pucat Rukia. Dia tidak akan merenggut kebahagiaan ini lagi dari adik tersayangnya. Tidak akan mengizinkan para tetua kembali mendesak Rukia, karena kebahagiaan Rukia hanya ada di tangan Kurosaki Ichigo.
"Kolonel Kurosaki, ku kira kita perlu bicara banyak nanti..." gerutu Byakuya dengan gigi beradu meredam amarah.
"Siap, Pak Ketua Dewan!" sahut Ichigo sambil memberi hormat setelah melepas rangkulannya di bahu Rukia.
Sontak Haru dan Rukia kembali tertawa melihat sikap Ichigo, sementara Byakuya sendiri kehilangan pertahanan diri, dia tersenyum mendapati kebahagiaan itu kembali utuh. Keyakinan serta keteguhan hati Rukia untuk tetap mencintai Ichigo, untuk tidak menikah lagi ataupun menempatkan pria lain di posisi yang telah ditinggalkan oleh perwira itu, telah membuatnya meraih keutuhan kebahagiaan keluarga yang selama ini hanya mampu menjadi angan-angan kosongnya. Kebahagiaan yang memang seharusnya menjadi milik Rukia.
Cinta yang terpisah itu kembali menyatu, mewujudkan harapan para insan yang berpegang teguh padanya.
"Apakah kau akan bertugas lagi setelah ini?" tanya Rukia.
"Aku tidak tahu. Yang harus kau tahu, aku tetap mencintaimu dan negaraku. Tapi sekarang harus ditambah satu orang lagi..."
"Siapa?" alis Rukia berkerut dalam, benih cemburu mulai berjatuhan di hatinya.
"Haru."
Rukia dan Ichigo tersenyum bersamaan, sementara Byakuya mendengar pembicaraan mereka dari belakang.
Hisana, ku kira sekarang sudah saatnya aku merenggangkan otot sedikit. Rukia sudah mendapatkan kembali kebahagiaannya. Aku harap kau tersenyum lega di atas sana.
.
.
.
Owari
.
.
.
Author Cuap-cuap:
Terima kasih untuk semua review. Saya akui ide ini sangat sederhana, dan mudah ditebak. Namun saya mencoba kembali mengaktifkan mode fiction dalam benak saya. Silahkan review, dan mohon berikan masukan, kritik serta saran untuk perbaikan saya.
Jujur saja saya suka sekali dengan sosok Haru dalam fiction ini, anak ini berhati lembut seperti Rukia namun memiliki wajah setampan Ichigo. Tidak dapat Ichigo, dapat Haru juga nggak apa-apa deh! #dilemparin panci
Sekali lagi terima kasih banyak untuk :
Crystalline Arch : Terima kasih untuk salutnya ^_^ Mengenai ending, saya sudah sajikan di chap ini. Bagaimana menurut Anda?
Guest 4ever: Terima kasih sudah mampir. Nggak papa kalau skip bagian tempurnya, berdarah-darah sih ya? Saya juga ngeri waktu membentuk plotnya dalam benak saya sendiri. Tapi chap ini ndak ada tempur-tempurnya kok, he he he
Naruzhea AiChi : Terima kasih ^_^. Saya hormat juga! Saya senang sekali jika deskripsi saya bisa membuat Anda merasakan ketegangan di medan perang yang sebenarnya.
Purple and Blue: Jalan ceritanya menarik? Terima kasih! #nari-nari kegirangan. Saya sudah update, semoga tidak mengecewakan.
Hisahito: Arigatou :-) Saya tetap semangat untuk melanjutkannya berkat Anda. Hwaiting!
Owwie Owl: Sudah dibaca belum, Da? Mohon maaf kalau mengecewakan, tapi judul ini saya ambil karena saya merasa ini cocok. Terima kasih sudah mampir ^_^
lolaDony: Ichi mati? Jawabannya ada di chap ini, sudah dibaca kan?
Kurousa Hime: Terima kasih, saya jadi tersanjung #Dilempar ke dasar bumi. Mengenai ide... itu muncul begitu saja saat saya berada di malam menjelang hari kemerdekaan. Aneh ya? Tapi saya hanya berpikir membuka sedikit nasionalisme dalam fiction tidaklah buruk, jadilah fiction ini. Lalu... Mengenai promosi ajang IFA, saya sangat berterima kasih, tapi... mohon maaf saya belum bisa... #pundung di pojokan. Saya sempat diajak juga sebelumnya, tapi sekali lagi saya merasa belum berdedikasi sebaik itu untuk FF. Tapi saya tetap dukung 100%, bahkan 200%. Semoga fanfiction Indonesia semakin maju! Ciayo!
Aika Licht Touichi: Deg-degan ya? Semoga sekarang nggak lagi, kan sudah baca endingnya...Arigatou & Ganbatte juga untuk kamu ^_^
Voidy: Apa kabar? Terima kasih sudah mampir. Mengenai konflik... Saya tidak mengedepankan konflik memang, jadi gomenasai kalau kurang terasa gregetnya #nyengir lebar. Genre tragedy saya ambil dari kematian beberapa karakter waktu peperangan, bukan kematian Ichi sih, tapi Voidy-san sudah nebak plotnya #pundung di pojokan. Emmm, penggalian karakter ya? Sepertinya ilmu saya belum sampai kesitu, Voidy-san. Nanti ajari saya ya? Mau kan? Ya? Ya? :)
Reiji Mitsurugi: Wah, Reiji-san datang review... Saya senang sekali. Lima belas ribu kata itu tepat setelah saya mengetik ending penutupan, tapi setelah saya edit masih harus ditambal sana sini, jadi tambah lagi deh, makanya saya buat jadi two shots. Terima kasih atas pujiannya, saya jadi malu #blushing berat. Yah, typos memang penyakit saya sejak dulu, ada yang jual nggak obatnya? #dihajar massa. Lalu mengenai kata-kata yang nggak baku, maukah Reiji-san memberi tahu kepada saya? Saya memang lemah dalam hal ini.
Nyia : Aku sudah update nih, semoga tidak mengecewakan ya.
Dani Reykinawa : Iya ya? Lama sekali rasanya saya tidak menulis, sampai otak dan tangan ikut kaku, he he he. Terima kasih sudah mampir Dani-san. Nasib Ichigo bisa kita lihat di chap ini.
Akhir kata... sampai bertemu lagi di karya-karya selanjutnya Guys.
Terima kasih & Salam Hangat
:-:-:Nakki:-:-:
28 September 2012
