:: Selcouth 2(01)7 ::
Disclaimer© Masashi Kishimoto
#MerakiUntukTenten
(Hydrangea)
Story by:
Ran Megumi
( u/5123801/Ran-Megumi )
Nova Irmawati
( my. /UiNb/lamE1ThfpI )
Plot by:
Yamanaka Tenten
( u/7263817/yamanaka-tenten)
Husni Uchiha
( u/7717684/Husni-Uchiha )
Warn: Mohon maaf jika ada kesalahan yang luput kami koreksi ^-^
Happy Reading!
Ujung mata pisau berhasil tertancap di sebuah dart board 17 inci di sebuah dinding. Papan tersebut tak tergantung seorang diri. Potret seorang pria maskulin yang berpose dengan setelan musim panasnya, sudah terlihat koyak di beberapa bagian.
Derap langkah berat menggema di depan kamar bercahaya minim itu. Sesaat kemudian suara knop pintu terbuka, seusai hembusan napas berat melarikan diri dari tubuhnya.
"Dia bukan gadis yang kau cari," kata seseorang yang berdiri di ambang pintu tersebut.
Tak ada tanggapan lain, selain ketidakacuhan dan tawa yang terdengar merendahkan.
"Akan kubuktikan. Dan selama itu terjadi, jangan pernah kau muncul di hadapannya. Kau mengerti?!"
Kalimat terakhir bernada perintah itu, dilontarkan secara tegas oleh Naruto, sebelum akhirnya pria itu membalikkan badan dan membanting keras pintu kamar Sasuke.
"Sudah kulakukan."
Clep! Satu lagi pisau menancap pada bagian dahi Naruto. Tidak pernah ada satupun kebohongan yang terlontar dari Sasuke. Walau itu adalah kenyataan yang paling pahit sekalipun. Termasuk ketika Uzumaki itu berkata, untuk tidak menjamah wanitanya.
Pukul 12 tengah malam. Lolongan anjing milik keluarga Fubuki begitu gaduh, nyaris membuat Sasuke enggan menyusup untuk yang ketiga kalinya dalam minggu ini. Air menggenang di sisi kanan dan kiri jalanan, hasil dari hujan deras yang menyelimuti Distrik Ota satu jam yang lalu.
Tangan Sasuke erat mencengkeram kemudi. Tak ada ekspresi apapun selain tampang datar yang sudah sering muncul di permukaan wajahnya. Dia duduk di belakang kemudi, mempersiapkan peralatan perangnya, dan berharap lolongan beberapa anjing keluarga Fubuki berhenti, agar nantinya tak memancing kegaduhan yang tidak diinginkan.
Topi hitam sudah menutupi area kepalanya, windbreaker jacket juga telah menutup penuh area tubunya. Suhu malam ini begitu dingin, menurun tiga tingkatan dari dua hari yang lalu. Setidaknya itulah yang baru saja didengar telinga Sasuke melalui radio van bertuliskan 'Manggo Squash' yang ia tumpangi. Niat dan tekad yang bulat, kamuflase yang benar-benar direncanakan secara matang. Menumpangi foodtruck milik seseorang untuk mengintai. Pemuda gila mana lagi yang akan melakukannya.
Sudah empat jam sejak pemuda itu menghentikan mobilnya. Juga setengah jam lamanya dirinya menunggu peliharaan keluarga Fubuki sedikit tenang. Ponsel di saku pintunya berdering dan berbunyi ratusan kali. Jangankan menerima panggilan tersebut. Matanya terus saja berkonsentrasi pada sebuah pintu rumah di ujung jalan yang tidak juga dibuka oleh penghuninya.
Matanya menyalang terang. Penantiannya malam ini tak berakhir sia-sia. Seorang gadis baru saja masuk kedalam rumah tersebut. Meski dari jarak 15 meter, namun mata Sasuke dengan jelas melihat tubuh kuyup itu terbirit-birit memasuki rumah.
Punggung Sasuke bersandar kemudian. Dengan senyum kemenangannya, ia merapatkan jaketnya dan menurunkan posisi topinya. Untuk beberapa saat kedepan, Sasuke akan tidur sebelum alarm pukul dua pagi di ponselnya berbunyi. Bungsu Uchiha itu tak pernah menyesal menunggu dan menunggu hanya untuk memandangi gadis itu tidur hingga pukul empat pagi nanti.
Selcouth 2(01)7
Sebuah kursi di salah sudut ruangan berderit gaduh. Seorang pria bermata bening duduk di atas kursi tersebut sembari menunggu kedatangan seseorang yang mengantarkan pesanannya. Tentu saja, hanya berselang beberapa menit, gadis berambut cokelat berjalan ke arahnya. Membawa serta nampan dan segelas Coffe Ice di atasnya.
"Silahkan,"
Naruto melemparkan senyum khasnya. "Terimakasih ... Andai semua pelayan cafe di dunia ini seperti kau. Mungkin aku akan lebih memilih membeli cafe daripada membeli rumah untuk tempat tinggalku."
Pukulan ringan mendarat tepat di atas rambut berpomade itu. Lantas Tenten duduk tepat di depan Naruto. Untuk sesaat gadis itu menyematkan rambutnya kebelakang telinga. Dan adegan itu tak pernah luput dari pandangan Naruto.
"Tidak biasanya kau membiarkan rambutmu tergerai. Apa akan ada sesuatu yang penting hari ini?" tanya pemuda itu.
"Hn ... Tidak," Tenten menggeleng.
Pemuda bergelar S.H itu berpangku tangan sembari menyesap kopinya.
"Tidak ada apapun. Kecuali gadis pemalas yang bangun terlalu siang dan tak sempat mengeringkam rambutnya," ujarnya.
Naruto mengangguk paham. Tangannya lantas beringsut merapatkan jas. Tatapannya lurus menyorot sesuatu dari wajah Tenten yang seharusnya tidak berada di sana.
"Kantung matamu..."
Tenten menggeleng pasrah, "Ya... Seperti buah plum di musim panennya bukan?"
"Bagaimana bisa?" tanya Naruto lagi.
"Entahlah. Akhir-akhir ini, kurasa aku tidak bisa tidur dengan nyenyak."
"Alasannya?"
"Setiap kali aku mencoba meletakkan kepalaku dan berusaha memejamkan mataku, sesuatu memintaku untuk tetap terjaga sepanjang malam," ujarnya.
"Apa itu buruk bagimu?"
"Aku tidak yakin. Tapi alam bawah sadarku mengatakan, bahwa seseorang sedang berusaha membawaku kembali ke masa laluku."
Deg!
Andai organ jantung letaknya berada di luar tubuh, mungkin kini organ tesebut sudah terlempar bermil-mil jauhnya dari meja bundar bergaya klasik tempatnya merapatkan kedua tangannya.
"B-bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?"
Bahu Tenten mengedik serempak. "Temanku yang mengatakkanya ketika melakukan terapi dasar padaku tadi siang."
"Dan ... Hasilnya?"
"Aku tidak yakin. Tapi kurasa aku memiliki sesuatu yang berkaitan dengan orang lain. Hanya saja aku tidak ingat," bibir Tenten mengerucut manja.
Dalam diam pemuda bersungut kucing itu bungkam di tempat. Tubuhnya beku dengan segumpal kecemasan memborgol gerak batinnya. Seliter keringat dingin mulai membasahi area wajahnya. Dalam hati, dirinya berharap, Tenten tak akan pernah mengingat masa lalunya.
Di meja yang lain, Lee tengah disibukkan dengan tamu-tamu di sore hari selagi rekannya izin sebentar untuk istirahat. Tangannya membawa sebuah nampan berisi secangkir Espresso, menghampiri meja yang hanya berjarak tiga meter dari tempat Naruto dan Tenten berada.
"Selamat menikmati kopimu," kata Lee.
"Terimakasih."
Untuk sesaat pemuda berambut mangkuk itu bergidik ngeri, dikala matanya melihat seringai tajam membingkai wajah pucat itu.
Festival Tsukimi di hari ke 15 bulan kedelapan. Tampak kursi-kursi rotan terihat rapih berjajar di sebuah bangunan atap sekolah. Beberapa orang dewasa berada di sana, menyiapkan tempat senyaman mungkin untuk para anak didiknya agar dengan leluasa dapat melihat secara jelas kecantikan bulan purnama dengam mata telanjang. Sementara itu, di masing-masing kelas, Walikelas terlihat membagikan sebuah kertas kecil berisi nomor bangku agar tidak ada insiden perebutan bangku oleh sesama murid.
Lonceng besar di atas menara sekolah berbunyi lantang. Tanda bahwa festival akan segera dimulai. Secara bergiliran, siswa dan siswi sekolah dasar dengan teratur berbaris di depan kelas untuk satu persatu keluar menuju atap.
Dimulai dari siswa dan siswi kelas enam yang terlihat begitu kompak berjalan melewati kelas-kelas lain dan sukses menyita perhatian para adik kelasnya yang tak sabar menunggu giliran.
Salah satu dari murid-murid teladan itu adalah seorang bocah kecil, bermata madu dengan semburat pink di kedua pipinya, berambut cepol yang acap kali menampakkan sikap riangnya. Tanpa beban, kaki kecilnya melangkah ringan mengikuti Gurunya. Hingga ketika sampai di sebuah kelas yang berjarak empat ruangan dari kelasnya, langkahnya melambat secara konstan. Memperhatikan baik-baik seorang bocah yang duduk di sudut ruangan dengan senyuman cerianya.
Kedua pipinya matang seketika itu juga, saat dirinya menyadari kotak bekal berwarna biru di tangan bocah tersebut sudah kosong, tak bersisa sedikitpun, selain remah tepung roti yang sebelumnya membalut beberapa potong udang.
Nagoya, provinsi Aichi, sebuah kota kecil yang cukup termasyur di telinga para warga sipil di Jepang. Kota kecil dengan posisi kepadatan penduduk yang cukup stabil. Juga sebuah tempat penuh kenangan bagi Tenten, sekaligus saksi bisu tertariknya bocah kelas enam pada adik kelas yang berbeda dua tahun darinya.
"Sasuke!" seru seseorang dari belakang Uchiha itu.
Sorot mata Tenten berhenti saat itu juga. Perasaan canggung menyeruak masuk membelunggu hatinya, tatkala sekilas kedua manik berbeda warna itu bertemu pandang.
Tenten kecil mencoba kembali ke jalannya. gadis kecil itu nyaris saja menabrak langkan jika saja seorang temannya tak menarik tubuhnya dengan segera.
Selcouth 2(01)7
Cahaya sabit meruncing cemerlang di atas langit. Berpendar di tengah keheningan, berkawan bunyi hewan malam yang tak henti-hentinya bersahutan. Angin dari arah barat, membawa kembali kenangan beberapa tahun silam. Membangunkan sepasang kelereng madu yang bersembunyi di balik kelopak berkantung mata.
Si penikmat robusta, si penggemar potongan harga, dan gadis si pecandu senja, yang tengah telentang, menggulirkan kedua matanya bak seekor serigala kelaparan yang mengincar rusa berbobot 20 pons. Tangannya sibuk meraih apapun di sampingnya, sementara kedua kakinya tergosok bersamaan, menaikkan suhu tubuh yang ikut rendah berkat terpaan pendingin udara.
Pukul sepuluh lebih dua puluh empat menit. Entah berapa lama dirinya terpejam. Yang pasti saat ini tengkuknya terasa ditimpa tiga kilo daging mentah, yang membuatnya tak sanggup untuk sekadar mendongak, untuk melihat tempat macam apa yang menelannya dengan keadaan tangan terikat. Gelapnya ruangan nyaris sepekat tinta, jika tidak ada lampu LED dari mesin dingin berderu itu, ia mungkin akan berpikir bahwa dirinya telah buta.
Ranjang besinya berderit. Tanda bahwa ia sudah menyadari kepanikan menjalari setiap inci tubuhnya. Keringat dinginnya tak lagi dapat bersembunyi di balik permukaan kulitnya. Napasnya tercekat saat menyadari tubuhnya diikat. Apa yang telah terjadi padanya? Terakhir yang Tenten ingat adalah, dirinya sedang menyelesaikan tugas di perpustakaan bersama teman-temannya; sambil sesekali mengumpat karena Asisten Dosen sialan tersebut lagi-lagi menempatkan deadline tugasnya esok hari. Apa mungkin ini adalah hukuman balasan telak dari umpatannya?
Cklek!
Gema yang berasal dari suara knop tersebut berhasil membawa kembali setengah kesadarannya yang menguap. Matanya mempertajam pandangan, dikala sesuatu hidup bergerak di sana.
Figure itu tak juga memperlihatkan irasnya. Kedua kaki berbalut jeans itu berdiri seratus senti di depan pintu dengan mata mengarah pada tubuh gadis tak berdaya di depannya.
"Bisa kau lepaskan. Ini menyakitkan." ujar Tenten berusaha setenang mungkin.
Gadis itu mungkin sudah banyak menelan ilmu kejiwaan selama masa kuliahnya. Tapi Dosennya yang sering membolos itu tak pernah menunjukkan kinerja di lapangan. Tak heran jika Tenten kini sangat-sangat tidak siap mental untuk kemungkinan terburuknya.
Sosok gelap itu masih bungkam. Perlahan tubuhnya beranjak mendekat. Sebuah pemantik keluar, menjadi intro dari sebuah pertemuan penuh drama. Benda tersebut menyala tepat di depan wajah Tenten, hingga pada akhirnya wajah itu terlihat. Seorang pria, bermanik tajam dengan sorotan mata yang dalam, menggelar senyum terbaiknya di hadapan Tenten.
"Seperti yang kuduga. Kau tak pernah berubah... Kakak kelas."
To Be Continued...
Yuhuuuu~ Sudah masuk hari kedua ... Yey! X"D
Apa kabar kalian? Sebelumnya mau mengucapkan terimakasih untuk yang berbaik hati meninggalkan review :"3… Kita terharu... Huhuhuhu T^T
Dan buat yang sudah menebak pertanyaan kemarin, congratz buat yang jawab Saskeh~ X"D
Wokeh~ bagi yang penasaran dengan kelanjutannya akan segera di update besok. See you guys ^_^/
Nb: Untuk review yang kebetulan log in semua, bisa cek PM kalian masing-masing ya /chuuu
