Yang Lainnya)
By Galang
Disc:M.Khisimoto.
Genre:Family Friendship.
Rated: K
Main Chara: Uchiha Family.
00000000000000000000000000000000
Chapter 2: Keluarga
Perjalan jauh ditempuh, melewati hiruk pikuk keramaian Kota, dan tak terasa saat setelah menempuh perjalanan yang panjang, mereka masuk di jalan yang kecil.
Terlihat jelas ini jalan masuk perkampungan, sungguh segar udara disini, sejuk, tak seperti dikota yang panas. Begitulah menurut gadis kecil yang duduk dijok belakang Sepeda motor. Beberapa pohon tak luput dari pandangannya, rumah-rumah yang berjejer dan beberapa orang sedang lalu lalang.
Tak terasa Sarada mengukir senyum, pikirnya ini sangat menyenangkan, dan sangat beda dengan Kota yang ia tinggali. Apalagi saat ini ia akan bertemu dengan keluarga Ayahnya, sungguh dirinya sudah tak sabar.
beberapa saat tadi dia sempat tertidur di atas motor, karena kelelahan. Naruto beberapa kali menegurnya, jadi sekarang dia sudah bisa menahan kantuknya sedikit, sebab perjalan mereka yang cukup lama.
"Paman... apakah masih lama? " tanya Sarada sedikit mengeraskan suaranya, sebab jalannya motor membuat Suaranya terdengar kecil saat menyatu dengan angin.
"Tak lama lagi, setelah kita melewati jembatan itu, lalu melewati persimpangan, kita akan sampai di Desa Konoha" ucap Naruto yang fokus membawa jalannya Sepeda Motor.
Sarada hanya diam, dia sudah tak sabar untuk segera turun dari motor ini, jujur saja pantatnya terasa pegal saat harus duduk dijok yang tak empuk, dan gerakannya pun terbatas.
Tak sabar, itulah yang dirasakan Sarada, inginnya segera sampai di Desa Konoha, tapi mau dikata apa, ternyata perjalanan mereka cukup jauh, dan memakan waktu sekitar dua jam. Memang mereka singgah sejenak, tapi itu hanya sekedar mengisi bensin saja, dan kemudian tanpa menunggu lama-lama lagi, mereka langsung melanjutkan perjalanan. kata Naruto hari mulai menjelang malam, dan bahaya jika melakukan perjalanan dimalam hari, bukannya takut akan Hantu, itu semua dari keyakinan orang, siapapun yang percaya akan adanya makhluk Gaib tersebut, pastilah orang itu tak berani melakukan perjalanan begini, apalagi dimalam hari, jalan sunyi. Hanya saja Naruto menghindarinya karena bisa saja ada kendala, seperti misalnya, Ban bocor, motor mogok, mengingat akhir-akhir ini sepeda Motor tersebut sering kali mogok. Dan Naruto tak mau mengambil resiko itu. Makanya ia cepat-cepat dalam perjalanan agar tak menjelang malam. Lagipula saat ini ia membawa anak sahabatnya, dan parahnya sahabatnya itu tak tahu sama sekali jika anaknya ikut bersama dirinya, dapat ia bayangkan wajah Sasuke yang murka itu.
Ketika Motor melewati Jembatan yang panjangnya Seratus meter, kini mereka belok dipersimpangan, dan dapat Sarada lihat sebuah tugu berdiri ditengah-tengah jalan, sehingga membela jalan menjadi dua. Sarada membaca tulisan kapital yang tercetak pada tugu itu.
KONOHA.
yah benar, mereka berdua sudah tiba di Konoha, lihat saja jalan motor Naruto kini melambat, rupanya Desa Konoha seperti sebuah kawasan, terlihat rumput-rumput tinggi berjejer dipinggir jalan, dan setelah itu berdiri Rumah-rumah sederhana, kemudian diganti lagi dengan rumput-rumput itu.
Setelah melewati beberapa Rumah, didepan Nampak jalan yang bercabang, dan Sepeda Motor Naruto memilih jalan yang kanan, di ujuang sana terlihat jalan yang membentang lurus, tak lama setelah menyusuri jalan itu, mereka belok lagi ke arah kanan, sampai mereka memasuki sebuah Halaman rumah.
"Nah sudah Sampai" ucap riang Naruto sembari memarkirkan Motornya dibawa pohon yang rimbun, Pohon tersebut terletak di tengah-tengah halaman.
Sarada pun langsung turun dari Motor, tas ransel yang ia pegang sedari tadi, kini sudah berada dipunggungnya.
Tak lama kemudian keluar seorang Wanita yang begitu cantik dari pintu rumah yang ada dihadapan Sarada, yah cantik menurut Sarada. Wanita itu memiliki surai Indigo sebahu, dan maniknya bagaikan rembulan, mengenakan baju hitam berlengan panjang yang dibaluti Apron berwarna putih, bermotif bunga-bunga,juga mengenakan celan puntung krem.
"Selamat datang... " sambut Wanita tersebut sambil tersenyum ke arah Naruto.
"Nah Sarada, ini istriku, Ibunya Himawari" ucap Naruto pada Sarada, sambil menunjuk ke arah Wanita itu.
"Eh? " Wanita tersebut terkejut ketika menyadari anak perempuan bersama suaminya.
Melihat istrinya bingung, Naruto pun berkata.
"Hinata, ini anaknya Sasuke, namanya Sarada".
"Oh ini yah yang namanya Sarada, wah cantik sekali" ucap Wanita yang bernama Hinata, seraya mendekati Sarada.
"Salam kenal Bibi Hinata" ujarnya seraya membungkukkan badannya.
Hinata memegang tangan Sarada dan kemudian mengajaknya masuk ke rumah sambil berkata.
"Ayo masuk dulu... ".
"Sarada... paman ganti baju dulu yah, setelah itu paman akan mengantarkanmu ke rumah Kakekmu" kata Naruto yang juga mengikuti mereka dari samping.
"Hum" Sarada hanya menganggukan kepalanya, ia hanya mengikuti Hinata yang terus membawanya masuk kedalam rumah.
Saat di dalam rumah, Sarada duduk disofa ruang tamu, ia melihat sekeliling ruangan ini, tak begitu luas, dibandingkan rumahnya pastilah sangat jauh. Sarada mendapatkan tv yang berukuran beberapa inchi didepannya, kemudian di arah kanan ada ruangan yang ia tebak itu adalah dapur.
Hinata kini berada didapur, membuatkan minuman untuk Sarada, dan sesaat ia teringat.
"Ah bukannya Sarada sering menukar barang dengan Himawari? hmm pasti Himawari akan senang bertemu dengannya" gumam Hinata, kemudian dia melangkahkan kakinya ke halaman belakang.
"Himawari... " panggilnya lembut mencari putrinya itu.
Dan tak lama muncullah Gadis kecil yang imut sambil memeluk Boneka beruang berwarna coklat.
"Iya bu! " jawabnya riang, kemudian berlari kecil untuk menghampiri Ibunya.
"Nah ayo kedepan, ada orang yang mencarimu" ujar Hinata seraya mensejajarkan tingginya dengan Putrinya itu.
"Eh? siapa? " tanya Himawari sambil memiringkan kepalanya.
"Ayo ikut ibu" kemudian Hinata menggandeng tangan mungil anaknya itu. Setelah itu ia melepaskannya dan mengambil gelas minuman yang tadi ia buat.
Sesampainya mereka keruang depan, Hinata langsung meletakkan Minuman yang sedari tadi ia pegang ke meja.
"Terima kasih bibi... " ucap Sarada, tapi pandangannya menuju pada seorang anak yang sembunyi malu-malu dibalik pinggang Ibunya.
Seketika Sarada sadar, dan tahu siapa anak perempuan yang sembunyi dibalik pinggang Ibunya itu, yah Sarada melihat Boneka beruang yang dulu miliknya, ada ditangan gadis kecil itu.
"Himawari?... " tanyanya, menatap Hinata, dan Hinata tersenyum dan menganggukan kepalanya sekali.
Sedangkan Himawari masih malu-malu kucing, sembunyi dibalik Ibunya.
Kemudian Hinata mengelus kepala anak perempuannya itu, kemudian mendorongnya pelan agar tak sembunyi terus. Terlihat Himawari agak malu-malu sambil sesekali menatap gadis ber-kacamata yang sedang duduk di sofanya.
"Himawari, apakah kau tahu kakak cantik itu? " tanya Hinata pada putrinya.
Himawari hanya menggeleng pelan, dan menunduk sekilas.
"Himawari, kenapa kau tak memberikanku sesuatu? kita kan biasa menukar barang" ucap Sarada yang sudah berdiri, tak lama kemudian ia mencoba mendekati Himawari.
Tak pernah terpikir bahwa ia akan bertemu dengan teman yang slama ini ia tak tahu bagaimana rupanya, dan Sarada cukup senang. Himawari imut sekali pikirnya, lihat saja pipi tembem itu, Rambutnya yang pendek, sama persis dengan Bibi Hinata.
"Eh?? " Himawari semakin bingung.
"Itu Sarada, yang selalu menitipkan mainan untukmu" terang Hinata ketika melihat raut kebingungan Putrinya.
Saat Sarada hampir mendekat padanya, Tiba-tiba saja Himawari mundur dan langsung sembunyi lagi dibelakang Ibunya.
Sarada heran melihatnya, dan berkata.
"Apa kau malu Himawari? tak apa-apa, ayo sini, aku punya sesuatu untukmu" Kemudian Sarada kembali ke sofa dan mengambik sesuatu dari ranselnya, setelah itu ia kembali mendekat pada Himawari yang masih setia dibalik Ibunya.
"Ini... apa kau suka? kurasa ini cocok untukmu" Sarada memperlihatkan Sweater putih yang tampaknya cocok dengan Himawari.
"Wah itu bagus sekali... nah Himawari, ayo terima pemberian kak Sarada" ucap Ibunya menyuruh Hinawari mendekat pada Sarada.
Perlahan-lahan Himawari mendekat pada Sarada, tapi ia masih menjaga jarak, Namun tangan kirinya yang tak memegang Boneka terulur ingin mengambil pemberian Sarada.
"Himawari! pakai tangan kanan" cepat Ibunya langsung menegur anaknya.
Dan kini Himawari mengganti tangan kanannya untuk mengambil Sweater tersebut, dan tangan kirinya memeluk Bonekanya.
Dapat Sarada lihat tangan mungil itu menerima Sweater pemberiannya. Dan terukir senyum Himawari saat memandang Sweater yang sudah berada ditangannya, tapi kemudian raut wajah Himawari berubah malu-malu lagi saat bertemu pandang dengan Sarada.
Lain dengan Sarada, Sarada memberikan senyuman Manis untuk Himawari.
"Ayo Hima? Bilang apa sama kak Sarada? " Ibunya seakan memberi kode untuk Anak perempuannya itu.
Tapi dengan Cepat Himawari langsung berbalik dan lari meninggalkan Sarada yang masih bingung. Dapat ia lihat dibalik kacamatanya, Himawari masuk kesebuah kamar.
"Aduh... Hinawari! " cegah Ibunya, tapi putrinya sudah keburu masuk ke kamar, dan kemudian Hinata mengalihkan pandangannya menatap Sarada.
"Ah Terima kasih yah sarada, Himawari memang begitu, dia malu bertemu dengan orang baru" ucap Hinata seraya tersenyum canggung.
"Tidak apa-apa Bibi, oh yah apa Himawari sudah sekolah" tanya Sarada mencairkan suasana.
"Hmm belum, mungkin tahun depan akan masuk taman kanak-kanak" jelas Hinata yang kemudian duduk disofa.
Sarada juga duduk disofa, bersebrangan dengan Hinata, Sarada mengambil gelas yang ada dimeja dan meminumnya sedikit.
Terlihat Hinata memperhatikan lekat-lekat setiap gerak-gerik Sarada sambil tersenyum, entah kenapa melihat sosok Sarada seakan membawanya ke masa lalu.
"Eh... " Sarada sedikit canggung diperhatikan begitu, dia sedikit malu, entah kenapa Wanita cantik yang ada didepannya ini memperhatikannya sedari tadi sambil tersenyum.
"Sarada, entah kenapa saat melihatmu, Bibi seakan melihat ayahmu waktu dulu" terang Hinata, kini tatapannya melembut, seakan melihat sosok Sasuke yang kecil pada anak gadis yang ada didepannya.
Sarada sedikit senyum malu-malu mendengarnya, rona merah tercetak jelas dimasing pipinya.
"Hahaha kau ini seperti Sasuke versi perempuan Saja" tawa lembut Hinata kemudian, dia sadari Gadis kecil didepannya ini betul-betul sangat mirip dengan sahabat suaminya itu.
Sarada cukup tahu jika Wanita didepannya ini pasti salah satu teman ayahnya dulu, terlihat saat Hinata menceritakan sedikit masa kecil ayahnya padanya, tak terasa ia seakan akrab dengan Wanita itu.
"Sarada maaf membuatmu menunggu" sebuah Suara yang ia kenal muncul, dan kini ia sudah melihat Naruto sudah mengganti pakaiannya, tapi ia masih memakai celana sebelumnya, jadi hanya baju yang diganti.
"Ayo kita kerumah kakekmu" ajak Naruto yang sudah berdiri didepan pintu.
Sarada bangkit dan berjalan menuju tempat Naruto, tak lupa ia pamit kepada Hinata.
"Apa Sarada akan lama disini? " tanya Hinata yang sudah berdiri dipintu,
Naruto dan Sarada berada tepat dihadapan Hinata.
"Iya bi, aku seminggu disini" jelas Sarada.
"Sering-seringlah kemari" kata Hinata.
Saat Naruto dan Sarada akan pergi, tiba-tiba saja terdengar suara cempreng dari dalam rumah menghentikan mereka.
"Kak Sarada!... " terlihat dari dalam rumah Himawari sedang berlari, dan...
Sarada cukup terkejut melihat Himawari sudah mengenakan Sweater pemberiannya. ternyata sweater itu sangat pas untuk Himawari.
"Himawari? kenapa? " tanya Hinata yang melihat putrinya sudah berdiri didekatnya.
Himawari kemudian menjulurkan kedua tangannya yang memegang sebuah gaun boneka Barbie kecil dihadapan Sarada.
"Himawari, itu kan sudah rusak, lihat bawahannya sudah sobek" tegur Hinata yang tahu putrinya ingin membalas pemberian Sarada tadi.
Tapi Sarada tetap menerimanya dan berkata.
"Nah teri... " belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Himawari sudah berucap dengan cepat.
"Terima kasih kak Sarada" ucap Himawari dengan senyuman.
Sarada cukup terkesima melihat Wajah Imut Himawari, tanpa pikir panjang Sarada langsung memeluk Himawari dengan hangat, sedikit ia tundukan tubuhnya, mengingat Himawari hanya sebatas bahunya.
Himawari pun membalas pelukan Sarada.
"Akhirnya aku bertemu denganmu, terima kasih yah" ucap tulus Sarada, dan dapat ia rasakan anggukan kepala Himawari didalam pelukannya.
Hinata dan Naruto tersenyum lembut melihat kedua anak itu, tak terasa Hinata sedikit menitikkan air mata, ia terharu melihat anak-anak yang sedang berpelukan itu. Karena ia sendiripun tahu,bagaimana persahabatan unik yang terjalin antara Himawari dan Sarada. saat Naruto sering membawa sebuah mainan dari Kota, sudah bisa ditebak kalau itu pemberian Sarada, dan sebaliknya putrinya juga melakukan hal yang sama, saat ayahnya akan ke kota, pastilah Himawari akan menitipkan barang untuk diberikan pada Sarada. Walaupun tak pernah bertemu, kedua anak itu bagaikan sahabat pena yang saling mengirim surat, bedanya mereka saling bertukar benda, seperti mainan misalnya.
o0o
.
.
.
.
.
"Jadi paman mempunyai seorang anak lagi? " tanya Sarada cukup terkejut, pasalnya ia tak pernah tahu jika Naruto punya dua Anak, yang ia tahu hanya Himawari, sebab ketika Naruto datang di rumahnya, Naruto sering mengatakan tentang Himawari.
"Iya, lebih tepatnya dia adalah kakaknya Himawari, kurasa dia seumuran denganmu Sarada" jelas Naruto sambil berjalan pelan.
Mereka berdua saat ini sedang berjalan menuju rumah keluarga Ayahnya, kata Naruto rumah itu cukup dekat, jadi dengan berjalan kaki saja pasti sudah sampai.
"Dia sekolah dimana paman? dan kelas berapa? " tanya Sarada kemudian, pandangannya tak luput dari Naruto.
"Dia sekolah disini, nah kau lihat jalan itu? " ucap Naruto sambil menunjuk jalan yang ada di ujung sana, tepatnya dekat sebuah warung yang sedang ramai.
"Jika kau berbelok kesana, tepatnya disamping Warung itu, kemudian lurus saja, disana ada Sebuah sekolah dasar" jelas Naruto.
Sarada hanya ber 'oh' ria setelah mendengar penjelasan Naruto.
"Dia juga kelas empat, sama seperti dirimu, dan mereka juga sedang libur" tambah Naruto lagi.
Tak banyak obrolan antara mereka, dan tak terasa keduanya sudah sampai disebuah rumah yang Kecil, tapi itu layak untuk ditinggali, rumah itu bercatkan putih pada dindingnya, disebelah pintu yang berwarna biru, terlihat dua jendela disampingnya, nampak rumah ini sudah cukup lama ditinggali, terlihat beberapa catnya yang mengelupas. Dan halamannya sedang saja, dikelilingi pagar bambu, disekitar halaman tertanam beberapa bunga yang mekar.
"Sarada ini rumah Kakek dan Nenekmu" ucap Naruto ketika mereka sampai dipagar bambu itu.
Hati Sarada tercubit saat melihat rumah itu, dia menatap kasihan pada rumah ini, berbeda dengan rumahnya di Kota, sungguh ia tak berniat membedakannya, tapi dia seakan tak sanggup, lebih tepatnya dia seakan tega selama ini. Hidup dirumah yang mewah, sementara Keluarga ayahnya tinggal di rumah yang kecil begini.
Naruto menepuk bahu Sarada, dan berkata.
"Kau lihat orang yang sedang menyiram bunga itu? " tunjuk Naruto pada sosok seorang Wanita yang sibuk menyiram bunga sedang memunggungi mereka.
Sarada melihatnya, Seorang Wanita berambut panjang, dan memakai terusan berwarna biru gelap.
"Itu Nenekmu" ucap Naruto kemudian.
"Temuilah dia... " lanjut Naruto lagi.
Perlahan tapi pasti Sarada mendekati Wanita yang sedang memunggunginya itu, langkahnya terasa berat saat mendekat, rasa haru menyeruak dalam hatinya, tak terasa dibalik kacamatanya, Onyix itu sudah berkaca-kaca.
Tak lama kemudian, Wanita itu berbalik, dan terlihatlah, wajah yang cukup tua dan keriput samar-samar terlihat dikulit wajahnya, tapi itu sama sekali tak menyembunyikan wajah cantik wanita tersebut. Dan Sarada tahu, wanita didepannya ini adalah Uchiha Mikoto.
Sekarang ia tahu, dari mana ia mewarisi rambutnya ini, terlihat warna rambut Wanita itu, meskipun uban sudah nampak pada beberapa helai.
Mikoto cukup heran ketika melihat Anak gadis didepannya, sampai ia bertemu pandang dengan Naruto yang berdiri dekat dari pagar rumahnya,Naruto menganggukan kepalanya sekali ketika ditatapi Mikoto, kemudian dia tatap lagi gadis kecil itu.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok Sasuke kecil pada gadis yang ada didepannya, Yah ia kenal dengan wajah itu, lihat saja wajah anak itu seperti menahan tangis, dan itu mengingatkannya pada anak bungsunya.
Dengan langkah pasti, Mikoto berjalan mendekati gadis kecil tersebut dan berkata.
"Hey gadis cantik..." seraya tersenyum lembut memandang Sarada.
Sarada yang mendengarnya, langsung berlari menghambur pada Wanita itu, dia memeluk pinggang Mikoto erat.
"Hey kenapa menangis? " tanya Mikoto yang mendengar isakan tangis Sarada.
Mikoto lalu menyejajarkan posisinya dengan Sarada, dengan perasaan haru, dia rengkuh tubuh gadis itu erat-erat dan berkata.
"Cucuku... ".
Seketika itu tangis Sarada pun pecah, dia tumpahkan perasaan itu dalam pelukan hangat neneknya, tanpa terasa Mikoto pun juga menangis, entah seperti apa prasaan keduanya, yang pasti kelegaan terasa dihati Sarada saat ini.
"Nenek... hiks... Nenek... " panggil Sarada yang masih sesenggukan.
"Iya Cantik, hiks hiks... " Mikotopun larut dalam tangisan cucunya.
"Cucuku ternyata cantik" tambahnya lagi, dan masih dengan suara yang bergetar.
Naruto menatap lembut pertemuan Nenek dan Cucu itu. dirinya merasakan bahagia, entah kenapa dia jadi teringat dengan Sasuke.
'Seandainya kau melihat ini Sasuke, entah seperti apa ekspresimu' batin Naruto.
Sementara keduanya masih saling memeluk, mengeluarkan air mata, menikmati kehangatan yang diciptakan masing-masing. Mikoto tak menyangka akan bertemu dengan cucunya, yah dia sangat bahagia saat ini, ketika memeluk anak kecil ini, dia jadi teringat dengan Sasuke kecil yang dulu, kala Sasuke terluka, dan menangis, pasti Sasuke akan berlari memeluknya. Tanpa Sadar Cucunya juga mewarisi hal itu pada Sasuke, lihat saja tangis Cucunya ini, sangat persis dengan Sasuke.
"Mikota kau kena... " muncul suara berat dari Dalam rumah, tapi kalimatnya terhenti saat menatap Istrinya memeluk seorang gadis kecil.
'Hn begitu rupanya, jadi itu anakmu yah' batin seorang pria tua yang dikenal Sebagai Uchiha Fugaku.
Mikoto menghentikan tangisnya, dan berbalik menatap suaminya yang ada tepat berdiri dipintu.
"Siapa anak itu? " tanya Fugaku dengan tampang datar.
Sarada memperhatikan pria tua itu, dan ia sudah tebak jika itu adalah Kakeknya, tampak kakeknya begitu lemas, lihat saja tubuhnya yang agak kurus itu. ingin rasanya memeluk Kakeknya, tapi ia ragu ketika menatap wajah datar Kakeknya itu.
"Fugaku, ini cucu kita, Sarada, anaknya Sasuke" ucap riang Mikoto meskipun air mata masih terlihat jelas.
Fugaku hanya diam, menatap intens Sarada. Dan Sarada agak gugup ditatap Kakeknya dengan pandangan seperti itu.
"Kake... " belum selesai ia menyebut Kakeknya, kakeknya malah berkata.
"Hn Selamat datang" kemudian Fugaku berbalik masuk kedalam rumah.
Sarada langsung kecewa karena kakeknya tak menyambut kedatangannya, tapi tanpa Sarada sadari, Fugaku tersenyum tipis sesaat sebelum masuk kedalam rumah.
"Bibi aku pulang dulu yah... " teriak Naruto dari ujung sana, yang sedari tadi diam dipagar.
"Ah apakah kau tak ingin mampir dulu" tanya Mikoto yang sudah berdiri didekat Sarada.
"Ah tidak, aku cuma mengantarkan Sarada saja". dan Saat berkata seperti itu, Naruto langsung pulang.
"Ayo sarada kita masuk" ajak Mikoto pada cucunya itu.
"Iya nek" ucap Sarada seraya menggandeng tangan Neneknya. Sebenarnya Sarada cukup heran, Neneknya tau namanya, dan mungkin Naruto yang memberitahukan pada mereka.
Sarada tampak bahagia sekali, akhirnya ia dapat bertemu dengan keluarga yang sangat ingin ia temui, hari ini banyak kejadian atau hal baru yang ia dapat di Desa ini, yah desa kelahiran Ayahnya.
o0o
.
.
.
.
.
.
.
.
Sarada banyak bercerita pada Neneknya, tentang kehidupan mereka di kota, kabar Ayahnya, dan juga Ibunya. Sarada juga mengatakan bahwa ia akan seminggu disini. Dan itu membuat Mikoto sangat tampak bahagia. ia dengan setia mendengar celotehan cucunya itu, tanpa sadar ia sudah melupakan pekerjaannya didalam rumah saking senangnya.
Sementara Fugaku hanya diam duduk dikursinya, sambil sesekali mendengar obrolan istrinya dengan cucunya. dan sedikit-sedikit ia mempertajam pendengarannya jika Sarada menceritakan kabar Sasuke. Tapi dia tak menanggapinya, dan hanya diam, tapi melihat Mikoto yang tampak antusias mendengarkan Sarada, ia tak tega mau menganggu istrinya itu. Tapi perutnya sudah kelaparan, dan mau tak mau ia pun harus berkata:
"Mikoto sebentar lagi Ithaci akan pulang, sebaiknya kau menyiapkan makanan" tegur Fugaku.
"Ah iya sampai lupa, nah Sarada ayo kita ke dapur" ajak mikoto seraya menggandeng tangan cucunya itu.
Fugaku mendesah pelan, Mikoto benar-benar ingin bersama Sarada terus, mau tak mau dia kembali menegur istrinya itu.
"Biarkan Sarada istrahat dulu... " ucap Fugaku lagi dengan Nada tegas.
Hal itupun mau tak mau membuat Mikoto mendesah kecewa, padahal dirinya ingin lebih banyak mengobrol dengan cucu Cantiknya ini.
"Sarada... " kemudian Fugaku memanggil Sarada.
"Iya kek" Sarada menengok ke arah Fugaku yang duduk tenang sambil menyilangkan kedua tangannya didada.
"Kau sebaiknya mandi dulu, kemudian kita makan malam" ujar Fugaku dengan datar, tapi terkesan tegas.
Entah kenapa mendengar perintah Kakeknya mengingatkannya pada Ayahnya, Kakeknya itu sebenarnya peduli, tapi sayang sekali, Kakeknya kaku dan dingin. Dan Sarada tahu satu hal lagi, dari mana Ayahnya mendapati sifat dingin itu. Jelas saja dari Fugaku kakeknya.
"Baik kek" ucap Sarada kemudian beranjak mengambil tasnya yang ada diruang depan.
Tapi Mikoto masih setia mengekorinya sambil berkata.
"Nah nanti nenek yang memandikan Sarada" Ucap Mikoto tampak senang.
Hal itu membuat Fugaku menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mikoto! biarkan dia mandi sendiri, kau uruslah makan malam" perintah Fugaku lagi yang bingung melihat kelakuan istrinya itu. Tapi setidaknya dia bersyukur, selama ini Mikoto tak pernah berlaku seperti ini. Dia juga bersyukur melihat wajah bahagia istrinya itu.
Mikoto dengan lemas melangkahkan kakinya ke dapur, tak mau membantah apa yang dikatakan oleh Fugaku. Sementara terkikik geli melihat tingkah neneknya itu.
'Mereka bahagia' batin Sarada.
o0o
.
.
.
.
.
.
.
Sarada kini sedang mengganti pakaiannya dikamar Neneknya, kamar ini terlihat biasa saja, ada satu lemari, dan Ranjang yang terletak dipojok.
Sekarang Sarada mengenakan kaos biru, dan celana puntung kain berwarna putih. tak lupa ia memakai bedak. Setelahnya dirasa cukup. Sarada langsung keluar dari kamar dan menuju kedapur.
Dapat ia lihat Neneknya sedang mengatur meja makan, dan dimeja sudah terlihat Kakeknya duduk dengan raut wajah yang datar. Sarada mendekat dan membantu Neneknya, sempat Mikoto melarangnya, tapi Sarada tetap saja membantu. Dan Akhirnya Mikoto pasrah dan menyuruh Sarada menata piring dimeja.
Sementara diluar terlihat seorang pria dengan loyo berjalan memasuki rumah. Sandalnya dipenuhi lumpur, dan baju hitam yang ia kenakkan agak sedikit basah.
Belum sempat masuk, Langkahnya terhenti kala mendengar suara Anak kecil memanggilnya. Pria dengan rambut terkuncir itu menengokkan kepalanya ke asal suara.
"Paman Ithaci! " panggil suara cempreng dari samping rumahnya. Dan terlihat anak perempuan Gemuk berkulit coklat tengah menahan kesal.
"Hai Chocho, ada apa? " tanya Ithaci mendapati Chocho sudah berdiri di halaman sebelah sambil menyilangkan tangannya didada.
"Kau tak mengajakku ke kebun tadi... Huh! " ucapnya dengan Nada kesal.
"Maaf yah, tadi juga hanya ada Boruto dan Shikadai. Jadi lain kali saja yah Chocho" bujuk Ithaci pada anak perempuan itu.
tak lama kemudian terdengar suara seorang Wanita dari dalam rumah.
"Chocho!! ayo sekarang masuk, waktunya makan malam" panggil Suara itu.
"Baiklah, besok pokoknya aku ikut yah" setelah berkata seperti itu, Anak gendut yang namanya Chocho langsung masuk kedalam rumah.
Ithaci hanya menghembus lelah melihat anak tetangganya itu. Sedetik kemudian dia masuk kedalam rumahnya.
"Aku pulang" kata Ithaci dengan malas.
Sementara didapur...
"Itu Ithaci sudah pulang, Sarada ayo kejutkan pamanmu, sana sayang... " suruh Mikoto yang masih mempersiapkan makan malam.
"Hum" ucap Sarada kemudian melangkah pergi menuju ruang depan untuk menyambut Ithaci.
Sarada berlari-lari kecil menuju ruang depan, dan tak sabar ingin melihat seperti apa sosok pamannya itu.
Dan sesampainya diruang depan, dengan semangat ia menyambut Ithaci.
"Selamat datang" Sambut Sarada dengan nada yang riang.
Ithaci yang mendengar suara Anak kecil, langsung menatap Anak itu.
"Siapa kau? " tanyanya datar.
Sarada menampilkan senyuman terbaiknya dan berkata.
"Paman aku Sarada".
"Oh... Anaknya Sasuke?".
Sarada menganggukan kepalanya cepat dan masih sambil tersenyum. dan dalam hati ia sudah menebak-nebak akan bagaimana reaksi pamannya ketika bertemu degannya. Mungkin akan sama dengan Neneknya, apakah pamannya akan menangis sambil memeluknya? tanpa sadar Sarada sudah mengangkat tangannya sejajar dengan dadanya, menanti pelukan dari pamannya.
Perlahan Ithaci mendekat pada sosok anak perempuan yang terlihat jelas mirip Sasuke. Sedikit tinggal beberapa jarak lagi mendekatinya. dan...
Ithaci hanya melewatinya,seakan tak melihat Sarada berdiri didepannya. dengan Santai Ithaci berlalu tak mempedulikan sosok Gadis kecil itu.
Sarada tertegun, Hatinya Sakit seakan ditusuk-tusuk, ia balikkan badannya menatap punggung pamannya itu, Sesak, sakit rasanya dicuek seperti itu.
'Paman? '
Tbc
A/N:haloo man! sy lanjutin fic ini, ah ada yang bertanya, disini umur Sarada berapa, disini Sarada masih 10 tahun. ahahahha makasih yah udah mau baca fic gaje ini. mngkin fic ini stiap up akan lama, soalnya sy fokus tamatin Don't look back dulu.
lah setelah sy baca chap ini, alurnya kecepatan. maka dari itu minna bantu sy yah. supaya lebih baik lagi dalam menulis
yah segitu aja man.. sampai ketemu lagi.
tinggalkan jejak man!
kritik, dan saran, atau Flame. author terima man
