Akhirnya... setelah sekian lama duduk, kelas pun berakhir, padahal ini seharusnya masa orientasi, tapi kenapa belajar? Ah sudahlah, yang penting pulang. Aku tidak melihat Chou hari ini, yah mungkin dia sudah pulang, biarkan saja. Untuk pulang, aku berjalan kaki saja, nanti kalau naik kendaraan umum lagi, bisa kosong dompetku ini lama-lama.
" Hei, Zilong! " Seseorang memanggilku, suaranya agak asing menurutku, tapi rasanya aku pernah mendengarnya. Aku menoleh ke arah suara itu, Alucard menghampiriku dengan motornya. " Kamu pulang jalan kaki? Sendirian saja? " tanyanya. Aku mengangguk, dia tersenyum " Mau ku antar? "
Jantungku berdegup agak kencang dari biasanya, duh, ini kenapa lagi... Nggak, nggak! Aku gak boleh suka sama dia, kami kan sesama laki-laki! " Ng... tidak merepotkan... kan? " tanyaku. " Nggak kok. Naiklah, kebetulan aku bawa dua helm. " dia mengulurkan helm padaku.
Padahal kami baru kenal, tidak, belum sempat menurutku. Kami hanya saling tau nama. Dia sudah mau mengantarku. " Ngomong-ngomong, kamu tinggal dimana? " tanyanya padaku sambil menggas motornya. Aku menyebutkan alamat kos-an ku. " Oh, kamu disana juga? " Aku sedikit terkejut. " H-hah? " Disana juga? " kamu nge-kos di tempat yang sama? Kok belum pernah... ketemu? "
Dia terkekeh, " Tentu saja belum pernah ketemu, aku baru pindah kesana, kemarin. Ayo, naiklah. " Aku naik di motornya. Kira-kira dia di kamar nomor berapa ya? Apa mungkin dia tinggal di kamar Chou dulu, yang persis di sebelahku?
Eh, kok jadi mikir beginian, sih?! Ngapain coba itu dipikirin, kan bukan urusanku. " Kamu nggak biasa naik motor ya? " tanya Alucard padaku. ASTAGA! Aku nggak sadar kalau aku merangkulnya daritadi, " Ng... M-maaf! " Aku melepaskan rangkulan itu perlahan.
" Sebenarnya aku gak keberatan sih kalau dirangkul, daripada kamu jatoh kan? " Aku terdiam sejenak, jantungku berdegup kencang lagi, aku kembali merangkulnya.
Setelah sekitar seperempat jam, kami sampai di kos-an. Jauh lebih cepat daripada kendaraan umum. Motor kan kecil, tidak sebesar mobil taksi maupun bus. Aku segera turun dan mengembalikan helm pada Alucard, " Terima kasih... " kataku singkat. " Sama-sama. " aku sedikit menundukkan wajahku. Ia tekekeh, " Pipimu merah. ".
Aku tak menghiraukan perkataannya yang barusan.
" Kamu biasanya jalan kaki ke univ? "
" Nggak, baru kali ini saja. Biasanya diantar teman, naik motor juga. "
" Oh... haha. Tadi kamu merangkulku erat sekali, kupikir kamu baru pertama kali dibonceng. Tapi mungkin juga aku bawanya ngebut kali ya? "
" Y-ya kamu ngebut... "
" Ini helmnya kamu simpan saja, mulai besok aku antar-jemput. Kita kan sejalan, univ sama, kos-an sama. Mau gak? "
" H-hah? Ng.. y-yaudah. "
Aku mengambil helm itu, dia tersenyum, LAGI. Anjkahfkjeibafkhdahfadnajfdjkabskdbjdkfh... AKU DEG-DEGAN LAGI, AAAAAAHHHH INI KENAPA SIH?! POKOKNYA AKU GA BOLEH SUKA SAMA DIA, TITIK.
" Aku jalan dulu ya. Sampai ketemu besok. " Katanya sambil menginjak gas motor dan berlalu.
Aku segera masuk dan mengunci pintu, aku terduduk di lantai sambil memegang jidatku. Mimpi apa aku semalam?! Kejadian yang barusan terus terbayang-bayang di otakku. Ah! Aku harus melupakannya! Aku harus mencari kesibukan lain agar aku lupa hal yang tadi... Ng... kira-kira Alucard kemana ya?
AH BODOH! KENAPA YANG KUPIKIRKAN MALAH DIA?! Sudah, sudah, Zilong. Pikirkan hal yang lain, yang penting... Papa setuju gak ya kalo aku sama Alu- GOBLOK! MIKIRIN DIA LAGI! Ah, handphoneku bergetar. Mungkin itu SMS dari Papa.
Papa ini selalu ngirim SMS lho, padahal aku sudah pernah mengajari cara pakai media sosial yang ada pesan singkatnya, tapi masih aja ngirim pakai SMS. Eh? Notifikasi dari LINE? " Pesan baru telah diterima " ya, aku selalu mengunci handphone dan seluruh isi aplikasinya dengan sandi, jadi gak ada yang bajakin.
Tumben, papa pakai- H-HAH... I-INI ALUCARD?! KOK DIA BISA DAPAT KONTAKKU?!
" Sore, Zilong. Km lg sibuk? "
" g "
" Blh ngechat sbntr kan? Gpp kan? "
" y "
" Jwbnya singkat amat haha. Km biasany jln ke univ jam brp? "
" 7:15 "
" Ok, bsk kt brngkat jam 7:15 y "
" iy. "
Oh iya, aku belum tau tadi dia kemana, ah tapi tidak usah... tapi aku ingin tau... tapi.. masa sih baru kenal langsung nanya-nanyain kan ... gak sopan, tapi SUMPAH AKU PENGEN TAU DIA KEMANA. Siapa tau nge-date gitu sama cewek, atau apalah, dia kan ganteng, suaranya gitu lagi, mana mungkin single...
" Km ngetik apa kok g slsai2 drtd? "
ASTAGA TERNYATA DARITADI DIA NUNGGUIN. Mau tidak mau, ya harus kubalas...
" Kl blh tau td km kmn? "
" Oh, aku krja ½ hari, agak jauh dr univ sih kntrnya. Knp? "
" Kirain nge-date gt ama pacar. "
AH GOBLOK! KENAPA GW KETIK ITUUUUU SIIIIHHHH!
" Hahaha. Aku g pny pcr. "
Hee?! DIA NGGAK PUNYA PACAR?
" Udh dlu y, bosku bntr lg dtg ksini, lnjut nnti y, ddh. "
" ok. "
Jujur, aku tak menyangka dia nggak punya pacar. Tapi, masa sih? Bisa jadi sih... mungkin dia baru putus, atau gimana gitu... Apa jangan-jangan punya? Tapi gak diakuin? Duh... eh... tapi kan kata papa nggak boleh berprasangka buruk sama orang... APAAN SIH GW NIH?! GW KAN LAKI-LAKI, MANA BOLEH JADIAN SAMA LAKI-LAKI JUGA?! Ng.. tapi gak salah juga sih, kalo orangnya baik gimana? TAPI TETEP AJA GAK BOLEH. H. TITIK.
Aku memasukkan nomor sandi untuk membuka LINE ku. Ah, iya, seharusnya tadi aku nanya darimana Alucard dapat kontakku. Tapi, kurasa aku akan mencari t... Pantas saja, dari groupchat kelas. Groupchatnya untuk saat ini masih bersih sih, tunggu saja beberapa hari lagi, pasti langsung ramai, siap-siap matikan notifikasi. Aku melihat-lihat anggota di dalamnya.
Wah, profil Alucard paling atas. Yaiyalah, namanya dari A. Statusnya ' Nothing lasts forever, we can change the future '. Bijak banget ya ini, nyolong tapi ini mah kayaknya.
Pengen liat berandanya deh... Isinya foto dia semua. Dasar narsis.
Lagi-lagi handphoneku bergetar, tanda pesan masuk di LINE.
Pesan baru dari... Alucard.
" Km udh mkn blm? "
Dia ini perhatian banget deh, baru kenal udh ditanyain beginian. Duh... kok jadi seneng gini sih...
" Blm, nnti aj kn msh sore. "
" Udh jam 8 skrg "
Aku melirik jam di handphoneku, memang benar katanya, sudah jam delapan lewat tujuh menit sekarang ini. Jadi aku melihat foto-foto narsisnya selama berjam-jam.
" Btw, aku udh plg kntr, mau kubliin mkn mlm g? "
Ng... jawab apa ya... ... tapi kalau makan malam kan aku tinggal masak mie instan. Tapi kata papa, kurangi makan mie instan... jadi... ya... gitu...
" Ydh kl km mw beliin. Tp g ngrpotin kan? "
" G kok, km mau kubliin apa? "
" Tsrh. "
" Ydh kubliin, tunggu y "
" y "
Tidak lama kemudian, sekitar lima belas menit, terdengar suara motor. Itu pasti Alucard. Aku bergegas membuka pintu.
" Aku beliin kamu mie kuah di sebrang kantorku, restorannya baru buka. "
" Kok kamu tau aku suka mie? "
" Sebenarnya aku gak tau sih, cuma kuliat di sebrang itu kan resto Cina, kamu kan orang Cina, ya... kupikir kamu suka mie jadi kubeliin itu juga. "
" Oh ... "
" Aku pulang dulu ya. "
Aku segera menahan lengan jaketnya,
" Eh, tunggu, kamu makan disini aja. "
" Oh, boleh. "
Kami pun makan malam berduaan disini, udah kayak orang pacaran aja tapi gak modal, makan di kamar kos. Aku tak berbicara sepatah kata pun, aku tak tau mau bilang apa.
" Syukur deh kamu punya garpu, soalnya aku gak bisa pake sumpit, haha. "
" Oh... iya, kalau mau ambil saja. "
" Ah, nggak usah kok, nggak apa-apa. Ngomong-ngomong, kamu udah berapa lama disini? "
" Baru enam bulan."
" Hmm... gitu. "
Kami berdua terdiam sejenak.
" Alu. "
" Ya? "
" Boleh nanya? "
" Boleh kok. Nanya apa? "
"... Ng... "
Sebenarnya aku ingin bertanya, alasan dia bekerja dan tentang keluarganya, tapi kita kan baru kenal, aku nggak enak nanyainnya.
" Nggak jadi. "
" Yah. Yaudah, aku aja yang nanya deh. Keluargamu di Cina semua? "
Ah, ini kesempatan bagiku untuk bertanya tentang keluarganya.
" Iya. Kalau kamu? "
Alucard tersenyum kecil padaku,
" Aku nggak punya keluarga. "
" ... "
" Kenapa? Kaget ya? "
" Ng... "
" Ya, gini ceritanya, aku ini anak tunggal, tapi ortuku meninggal sejak aku kecil, jadi, ya, aku diasuh di panti asuhan. Pas udah lulus SMA, ya dilepas gini, udah bebas. Makanya aku harus kerja, soalnya nggak ada transferan darimanapun. Panti kan ngurus anak-anak dibawah delapan belas, umurku sudah sembilan belas. "
