Sakura membuka halaman buku yang dibelinya sore tadi. Ia mencari lagu yang menarik untuk dimainkan. Matanya bergerak cepat membaca rentetan not balok di hadapannya. Ia langsung tertuju pada satu lagu setelah beberapa kali membalik-balikan halaman buku. Senyum simpul ia pasang. Dengan senang ia ambil kertas partitur kosong miliknya dan langsung mencatat not-notnya.


.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story ©yazura

AU, OOC, Typo

[Anime Shigatsu wa Kimi no Uso menginspirasiku untuk membuat fic ini. Aku tidak mengambil plot dari Shigatsu, hanya beberapa yang kusamakan.]

.

.

.

Classic Love

.

.

.


"Tata..tatatata tatata–.." senandung Sakura melafalkan beberapa nada lagu. Ia tampak bersemangat hari ini. Senyum yang merekah tak ingin ia lepas. Ia berjalan menyusuri koridor sekolahnya dengan ceria. Beberapa murid membisikan namanya. Ia cukup terkenal karena sering memainkan biolanya dan mengeluarkan nada yang disukai para murid.

"–tatatata..tata–"

"Hei, kau!" teriak gadis berambut merah sembari menunjukan jarinya menghentikan senandung Sakura.

Sakura melihatnya dengan tatapan bingung. "Apa?"

Gadis berambut merah itu berjalan menghampiri Sakura dengan kesal. Mata merahnya menatap Sakura tajam. "Jauhi Sasuke-ku!" perintahnya. Sakura mengerutkan alisnya. "Sasuke adalah kekasihku! Kemarin ia meninggalkanku saat pulang sekolah dan ternyata ia pulang bersamamu!" lanjut gadis yang bernama Karin itu kesal.

Sakura berpikir sejenak. "Hm..seingatku dia berkata "tidak" saat kutanya sedang menunggu orang." ucap Sakura. Karin semakin menatapnya kesal.

Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Kakinya melangkah maju mendekati Sakura dan berbisik di telinganya, "Jangan dekati Sasuke." bisiknya tajam lalu pergi menjauhi gadis merah muda itu.

Sakura menatapnya bingung lalu mengendikan bahu dan berjalan sambil bersenandung lagi. Ia memilih untuk tidak mempedulikannya. Kadang ia harus memutus senandungnya untuk menyapa orang-orang yang ia kenal. Ia berhenti di depan papan pengumuman saat tak sengaja melihat secarik kertas yang menarik perhatiannya menempel di papan.

PERAYAAN ULANG TAHUN SEKOLAH

Minggu, 13 Mei.

Pukul 8:00 pagi Selesai

Tempat: Auditorium sekolah

Yang akan di meriahkan oleh murid-murid sekolah.

Kepala Sekolah,

Senju Tsunade

Sakura mengamati kertas di depannya. "Pasti akan meriah." gumamnya sembari melihat-lihat isi kertas tersebut.

"Kau tertarik?"

Sakura tersentak kaget mendengar suara wanita paruh baya di sampingnya secara tiba-tiba. Ia menoleh dan langsung membungkuk mendapati kepala sekolahnya sedang melipat tangan di dada memperhatikannya. Sakura sama sekali tidak sadar dengan kehadiran Tsunade karena terlalu fokus pada kertas.

"Kau tertarik?" ulang Tsunade membuat alis Sakura berkerut.

"Untuk?"

Tsunade meletakan satu tangannya di pinggang, "Ikut memeriahkannya. Aku ingin kau bermain biolamu di panggung." senyum Tsunade mengembang.

Sakura terkejut mendengarnya. "Eh? Memangnya boleh?"

"Selagi kau masih menjadi murid di sini."

Sakura hening. Ia berpikir beberapa detik untuk menimbang-nimbang keputusannya. Ia tersenyum lalu senyumnya langsung pudar begitu ia mengingat sesuatu yang penting. "Tapi aku sedang tidak memiliki pengiring," ucapnya sedih.

Tsunade menepuk-nepuk puncak kepala Sakura, "Akan kucarikan untukmu," ia melipat tangannya kembali di dada. "kau memiliki waktu dua hari untuk berlatih." lanjut Tsunade lalu pergi meninggalkan Sakura yang masih berpikir.

Sakura membungkuk lagi pada Tsunade. Kepala sekolahnya itu memang sering menunjukan kebanggaannya padanya. Karena Sakura sering memenangkan kompetisi musik yang sering diadakan di kotanya. Tsunade sendiri sudah ia anggap sebagai ibu kedua. Lagi-lagi ia tersenyum dan bergegas kembali ke kelasnya–dengan senandung. Tak sabar ingin memberitahukannya pada sahabatnya, Ino.


"Kudengar Karin akan bermain diperayaan ulang tahun sekolah," ucap Uzumaki Naruto pada laki-laki berambut hitam yang kita ketahui bernama Sasuke.

Sasuke tetap menatap ke depan sambil mendengar ucapan Naruto. Meskipun ia tak peduli. Naruto mengambil minuman yang tadi ia pesan. Jam istirahat baru saja berlangsung. Naruto terlihat gembira karena ia bisa keluar dari tali pelajaran yang menurutnya begitu kusut saat ia mencernanya ke otak. Sasuke sendiri juga senang–sedikit–saat ia mendengar bel istirahat. Fisika membuat otaknya ikut kusut meskipun ia begitu ahli dalam pelajaran. Tentu saja, orang-orang pasti pernah mengalami masa sulit sekalipun mereka memiliki otak cerdas.

Sasuke membuka kancing jas sekolahnya yang membuatnya terasa tercekik. Ia membeli air mineral untuk mendinginkan tenggorokan dan otaknya yang panas. Sesekali ia menyeruput air berkemasan botol transparan itu disela-sela perbincangannya dengan Naruto.

"–aku langsung saja kabur untuk berma–hng? Suara biola? Darimana? Siapa violinisnya? Suaranya seakan membawaku ikut terhanyut." ucap Naruto terpotong saat mereka hampir melewati ruang musik. Kakinya terhenti saat ia baru saja ingin menaiki tangga ke lantai tiga. Sasuke ikut berhenti saat ia mulai mendengar alunan biola yang ia kenal.

"Lagi." batinnya.

Naruto membelokkan kakinya ke arah ruang musik. Diikuti decakan kesal dari Sasuke yang sudah tak sabar untuk menempatkan bokongnya ke kursi kelas. Namun pada akhirnya, ia juga mengikuti langkah Naruto dari belakang.

Naruto membuka kenop pintu ruang musik dan melihat siapa yang berada di dalam. Mata birunya melihat gadis yang berdiri menghadap ke arah jendela dengan biola yang bertengger di perpotongan bahu dan leher. Rahangnya menahan biola tersebut agar tidak terjatuh. Gadis itu terus mengeluarkan suara indah melalui biolanya. Mulut Naruto sedikit terbuka. Sasuke berdiri di samping Naruto sembari melihat objek yang sama.

"Sugoi." ucap Naruto takjub.

Sakura berhenti saat mendengar suara di belakangnya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati dua orang laki-laki yang melihat ke arahnya. Alisnya berkerut dengan mata tertutup. Lagi-lagi ia melakukan itu untuk mengingat orang yang ia ketahui namanya. Matanya terbuka lebar sembari mengembangkan senyum yang tak kalah lebar. "Uzumaki Naruto dengan kelas yang sama seperti Sasuke!" ucapnya semangat sembari menunjuk ke arah Naruto.

Naruto terkejut saat namanya diketahui oleh orang yang tidak ia kenal. "Apa kita saling mengenal?" ucapnya bingung.

Sakura mendengus geli. "Aku sering mendengar ataupun melihat orang yang sering dibicarakan oleh murid-murid lain."

"Begitu," Naruto melangkahkan kakinya masuk. "permainanmu indah sekali..aa–"

"Haruno Sakura." sambung Sakura.

"–Sakura-chan." Naruto menggaruk kepalanya.

Sasuke sedikit menghela napas. "Dia bahkan sudah memanggil nama depannya. Dasar bodoh." ucapnya dalam hati. Ia melangkahkan kakinya masuk lalu duduk di kursi kosong yang ada di pojok kiri pintu masuk. Ia melihat Naruto dan Sakura sedang berbincang-bincang seru. Kepribadian mereka sama-sama ceria, jadi ia harus siap-siap menutup telinga agar tahan dengan suara ocehan mereka berdua. Seperti sekarang.

"Jadi, apa kau akan bermain diperayaan?" tanya Naruto.

Sakura menaruh partitur yang tadi ia lihat-lihat ke rak buku. "Entahlah, aku masih memikirkannya."

"Hng? Kenapa? Padahal permainanmu begitu merdu," ucap Naruto kecewa.

Sakura terkekeh mendengar nada bicara Naruto. "Terima kasih. Tapi aku butuh pengiring," ucap Sakura.

"Kalau begitu Sasuke saja! Ia sangat pandai bermain piano! Ia benar-benar pemain pro!" teriak Naruto sembari menunjuk-nunjuk ke arah Sasuke yang sedari tadi diam–menguping–di kursi.

Sasuke menautkan alisnya. "Jangan seenaknya bicara, bodoh." ucapnya datar.

"Kau tahu sendiri Sasuke pasti akan menolaknya." ucap Sakura dengan nada kesal.

"Dasar teme! Berbaik hatilah sedikit, Sasuke! Aku tahu kau juga ingin mendengarkan Sakura bermain biolanya." ucap Naruto.

Sasuke menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Ia berdiri lalu berjalan ke arah pintu. "Aku ingin ke kelas." ucapnya lalu pergi meninggalkan Naruto dan Sakura yang berwajah kesal, kecewa, sedikit marah dan lain sebagainya.

Naruto ikut menghela napas. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya, Sakura. Aku berharap kau bermain diperayaan," ia berlari ke arah pintu. "Jangan pedulikan ucapan Sasuke! Dia memang orang yang bodoh!" teriaknya di sela-sela kegiatan kakinya yang berlari dengan sedikit terburu-buru, membuat Sakura terkikik di ruang musik.

Sakura tersenyum sembari merapikan biolanya. Lalu senyumnya hilang digantikan dengan helaan napas. Ia masih harus mencari pengiring untuk perayaan dan seterusnya. Ia berharap pengiring barunya itu tidak akan mengundurkan diri. Sakura berjalan keluar sembari menenteng tas biolanya. Ia menaiki tangga untuk menuju ke kelasnya. Dengan senyum yang mengembang, ia membalas sapaan ramah dari para murid-murid.


Sasuke keluar dari gedung sekolahnya beberapa saat setelah bel pulang berdering kencang. Kakinya melangkah santai keluar dengan beberapa bisik-bisik para siswi yang melihat paras tampannya. Ia sedikit risih dengan itu. Padahal sudah berkali-kali ia menghujani para siswi itu dengan tatapan yang sangat tajam, tapi mereka malah teriak kegirangan. Hal itu membuat Sasuke terus-terusan menghela napas malas. Matanya tak sengaja melihat violinis yang ia kagumi akhir-akhir ini sedang berbincang-bincang dengan seorang laki-laki berambut merah. Ada rasa tak suka saat ia melihat Sakura tertawa karena lelucon dari laki-laki yang memakai kemeja hitam tersebut. Ia berdecih dalam hati. Laki-laki itu kelihatan tertarik pada Sakura.

"Sasuke-kun!" teriakan seorang gadis mengalihkan pandangannya dari Sakura. Gadis itu bergelayut manja di lengan Sasuke. Ia sedikit membenahi kacamatanya yang sedikit melorot. "Ayo kita pulang!" ucap gadis berambut merah itu girang.

Sasuke hanya bergumam pelan dan mulai melangkahkan kakinya ke arah jalan pulangnya. Ia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dicelotehkan oleh gadis di sampingnya ini. Pikirannya terlalu fokus pada Sakura. Hey, kenapa ia jadi sering memikirkan Sakura? Ia menggelengkan kepalanya lalu mencoba berkonsentrasi pada apa yang ada di depannya kini.

"Hm? Ada apa, Sasuke-kun?" tanya gadis yang bernama Karin itu.

"Tidak." jawab Sasuke pelan. Ia merasa sangat kesal pada Karin yang terus bergelayut manja di lengannya kini. Tapi Karin tetap saja mengalungkan lengannya dengan tangan kecilnya. Mengetahui hal itu, Sasuke hanya menggerutu di dalam hati.


"Sakura!" panggil seorang wanita paruh baya.

Sakura menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya barusan. Dari jarak yang sedikit jauh, Sakura melihat Tsunade berjalan dengan laki-laki berambut merah gelap. Ia bertanya-tanya apakah itu anak dari kepala sekolahnya? Sangat jauh sekali jika dilihat dalam fisik. Laki-laki itu juga tidak mirip dengan suami Tsunade. Sakura hanya bisa mengendikkan bahunya. Ia membungkuk saat kepala sekolahnya itu sampai di hadapannya.

"Aku telah menemukan pengiringmu untuk perayaan." ucap Tsunade sembari mengarahkan pandangan matanya ke arah laki-laki itu.

Sakura tersenyum dan sedikit mengangguk pada laki-laki itu sebagai salam. "Haruno Sakura," ucap Sakura sembari menjulurkan tangannya.

Laki-laki itu membalas uluran tangan Sakura. "Sabaku Gaara. Salam kenal. Aku akan mengiringimu saat perayaan nanti," ucap laki-laki tersebut.

Sakura melebarkan senyumnya saat mengetahui kalau orang ini begitu pandai bergaul. "Itu akan menyenangkan! Aku tak sabar." ucapnya senang.

Gaara mengangguk seraya tersenyum tipis. "Aku harap kita bisa bekerja sama."

Sakura tersenyum lebar sehingga membuat matanya menyipit melihat laki-laki yang baru saja ia temui. Tenang namun menyenangkan. Hampir sama sepertinya, namun ia tak setenang itu.

Tsunade yang melihat kecepatan dalam keakraban mereka tersenyum simpul. "Gaara dua tahun lebih tua darimu. Ia benar-benar pintar memainkan piano. Aku sampai terharu saat ia memainkan lagu Chopin," Tsunade menepuk-nepuk bahu Gaara.

"Benarkah? Aku jadi penasaran bagaimana bentuk dari suara pianomu." Sakura masih tersenyum.

Gaara menggaruk kepalanya yang tak gatal saat mendengar penuturan dari kedua wanita di depannya itu. Ia sedikit tersipu karenanya. Mereka bertiga membincangkan hal-hal yang akan dilakukan saat perayaan nanti. Sakura mulai terbiasa dengan sikap Gaara yang begitu tenang namun kadang membuatnya tertawa dan tersipu. "Ah iya," Sakura mengambil beberapa kertas di tasnya. "Ini partitur lalu yang akan kumainkan nanti. Kuharap kau bisa memahami isinya. Jadi kita tidak perlu berlatih bersama karena waktunya tinggal besok. Jika kau merasa kesulitan, kau hanya perlu mendengar permainanku dan mulai mengikuti nada partiturnya." jelas Sakura sembari memberikan kertas-kertas itu pada Gaara.

Gaara melihat partitur itu sekilas lalu mengangguk. "Beethoven," gumamnya saat melihat nama komposer yang tertera di bawah judul lagu bagian kanan. "pilihan lagu yang bagus. Aku menyukai lagunya." ucap Gaara lalu menatap mata hijau Sakura. Seketika ia langsung merasakan ketenangan saat menatap beningnya kornea mata Sakura sehingga menampilkan warna lensa yang begitu nyata. Ia tersenyum tipis.

"Oh, ya? Kalau begitu mohon kerja samanya," Sakura membungkuk.

"Sama-sama," balas Gaara.

Sakura melihat jam tangannya yang menunjukan pukul empat sore. Ia lalu berpamitan untuk pulang dan setelah itu berjalan menuju arah rumahnya. Ia tersenyum ceria karena mendapat pengiring yang begitu baik dan dewasa. Ia meragukan pikirannya yang sebelumnya sempat berpikir untuk mendapat pengiring yang akan mengundurkan dirinya lagi. Ia mendengus lalu dengan senang hati melangkahkan kakinya maju. Besok akan menjadi hari yang menyenangkan.

Di kejauhan, Gaara melihat punggung Sakura yang berjalan menjauh. Ia tersenyum melihatnya. "Gadis yang menarik." batinnya lalu berbalik dan mengikuti langkah Tsunade yang sudah menjauh.

.

.

.

.

.

.

to be continue


Hai, kita berjumpa lagi hari ini. Hm, sebelumnya maaf jika lanjutannya tidak seperti yang kalian harapkan tapi aku berharap kalian masih mau mengikuti ceritanya dan terus mereview untuk memperbaiki kesalahan yang ada di fic ini.

Um, segini aja. Kuucapkan terima kasih banyak untuk para reviewers atau readers yang dengan setia menunggu dan menyukai cerita ini.

Dah!

.

.

.

.

yazura

Sat, 8 August. 9:36PM


RnR?