Oke..

Sebelum kalian membaca fict yang berubah menjadi euforia, saya ingin menyampaikan sesuatu.

Saya sungguh tercengang melihat sebuah icon awan dengan sudut lancip (dibaca icon revew) dan mendapatkan apresiasi begitu bagusnya sampai saya nggak berani buka notifikasi HP. Karena apa, sebutlah saya ini murahan atau udik sekalipun, dalam sejarah menulis saya, baru kali ini saya mendapat tanggapan meluber.

Saya gemetaran membuka satu-persatu review kalian. Dan menangis terharu. Padahal di luar sana banyak tulisan yang lebih baik, lebih banyak yang indah tanpa ranjau typo, dan lebih bagus dalam diksi serta rajutan masalahnya. Tapi kalian begitu murah hati sampai-sampai saya tidak tahu harus berbuat apa.

Saya hanya ingin bilang; "Terimaksih karena kalian merecoki review saya. Dan membuat dunia sepi saya menjadi semakin berwarna."

Saya telah kembali ke rumah. Kembali ke FFn, di mana tidak ada dengki di antara kita. (*cieh bahasa saya)

Saya telah berdamai dengan hati, bahwa saya telah melupakan semua hal buruk dan mengubahnya menjadi ingatan tentang memperbaiki diri.

Terima kasih kalian mau meluangkan waktu.

Terimakasih untuk mampu menerima saya kembali.

Terimakasih untuk reader aktif maupun yang silent.

Saya senang kalian masih mempercayai ketulusan saya dalam berbagi kesenangan.

Sincerly;

Poochan.

.

.

(*Bagian SATU SETENGAH?)

...

..

.

Duduk di aula utama keluarga Hyuuga lelaki Uchiha itu bahkan tidak merasa gugup sedikit pun. Dia kelihatan.. senang?

Err.. tampaknya keluargaku dianggap menarik. Bukannya aku sedang membela Uchiha sialan itu. Bukan-bukan seperti itu, aku hanya paham jika ia merasa begitu tertarik kepada kemarahan ayahku.

Apakah aku terdengar seperti istri yang membela suaminya dari amukan ayahku sendiri?

Kalau iya, maka singkirkan pikiran buruk itu dari kepala kalian.

Aku menggigit bibir, menunduk dalam-dalam dan berusaha menampilkan wajah menyesal yang menunjukkan kalau hal memalukan itu tidak terjadi lagi. Tapi jelas-jelas aku akan mengingkarinya dilain waktu.

Oh.. ayolah. Kalian pasti tahu maksudku. Menolak pesona Uchiha di saat sadar saja aku tidak mampu, bayangkan jika aku mabuk. Tentu saja aku akan lebih mengerikan lagi. Mungkin aku perlu berterimakasih pada Ayahku nanti.

Ngomong-ngomong, aku tidak begitu ingat detail bagaimana kami bisa menikah.

Yang kuingat, hanya siang itu aku begitu merasa kosong. Seperti perasaan tidak berguna, tidak berharga atau bahkan tidak kuasa. Kematian Kak Neji serta rapat dewan membuat posisiku buruk. Ku dengar mereka mulai meminta Ayah untuk segera menunjuk Hanabi. Secara protokoler aku bisa diganti jika aku menikah.

Tentu saja menikah bukan hal gampang mengingat betapa canggungnya aku dengan pria. Lingkup pergaulanku sungguh tidak bisa diandalkan. Aburame dan Inuzuka bukanlah pilihan tepat untuk dinikahkan denganku.

Para tetua mengusulkan nama Sabaku no Gaara dan juga beberapa pria asing yang bahkan tidak paham dunia ninja. Beberapa Daimyou kaya dan berpengaruh. Masalahnya adalah aku. Ya.. Heiress lemah yang hanya bisa jadi ibu rumah tangga.

Aku begitu muak kepada kumpulan orang tua cerewet itu. Mereka tidak sadar kalau aku juga ikut berkontribusi sebagai prajurit ketika perang berlangsung. Aku seorang shinobi juga. Tapi mereka selalu melihatku sebagai gadis cilik lemah yang seharusnya dilindungi.

Dan Sabaku no Gaara adalah pilihan utama. Selain dia masih muda, tampan dan dia seorang Kazekage. Berita bagusnya aku setidaknya pernah menjalin komunikasi dengannya. Meski itu bukan konteks pribadi. Kazekage-sama adalah kapten dalam aliansi shinobi yang kebetulan ada aku yang menjadi komponennya. Aku beberapa kali pernah bertatap muka. Dan dia adalah sahabat dari pujaan hatiku dulu.

Masalah terbesarnya adalah diriku sendiri. Kurasa aku tidak sebagus itu jika dibandingkan dengan seorang Sabaku. Kazekage hanya akan malu mendapatkan bekas fan berat teman seperjuangannya.

Aku berbelok menuju sebuah kedai sake. Tapi urung.

...

Aku mencoba mengingat bagaimana setelah itu tapi aku justru lupa. Ingatanku buruk. Karena itulah aku dianggap sebagai lemah. Mereka ingin heiress yang tangguh yang tak pernah mereka dapatkan dariku.

...

..

.

Hiashi Hyuuga yang agung berdehem. Aku merasa suasana menjadi mengerikan. Para pria Hyuuga bersiaga di luar. Dan tetuanya sedang berada di aula dengan duduk melingkari kami seolah kami adalah penjahat.

Uchiha Sasuke memang iblis jahat. Tapi dia tak sejahat itu. Ia hanya mau mengambil miliknya. Masalahnya miliknya begitu egois dengan meminta sesuatu yang menjadi runyam. Seperti sekarang misalnya.

Aku duduk di samping Sasuke, menarik ujung kimono putihnya yang sedikit terbuka. Dia menatapku sejenak dan melihat semua isi kepalaku seperti lautan sampah di samudra. Mengambang dan begitu merusak suasana.

Sasuke mengernyit, "Tidak-tidak, tentu saja aku tidak akan melukai keluarga mertuaku Hinata."

Aku menggigit bibirku hingga nyaris kebas dan menyisakan rasa asin.

Demi Tuhan Sasuke. Aku lebih suka kau menutup mulutmu!

"Kau, mau apa Sasuke?" Aku mencengkeram kimono hitam itu erat-erat. Berusaha tenang malah nyatanya berantakan. Suaraku mencicit dan aku merasa demam-panas dingin hanya karena melihat seringai tampannya yang seperti iblis. Sialan!

Seringai asimetris justru kian melebar, "Sedikit menunjukkan bahwa kita terikat."

"Tidak!" tanpa sadar aku memekik. Dan aku merutuki hal itu setelahnya. Sialan. Kenapa di saat aku ingin dia berhenti mengoceh, justru lelaki yang katanya pendiam itu mendadak menjadi manusia cerewet.

Aku melihat mata Sasuke berkilat. Apakah ia melepaskan genjutsu tak terbatas dan benar-benar memperlihatkan adegan percintaan kami? Aku bergidik membayangkan kemungkinan itu. "Demi tuhan Sasuke. Kau-" bahkan suaraku tercekat tak bisa melanjutkan perkataanku sendiri. Sudah diujung lidah tapi berakhir dengan keheningan. Terlalu frustasi menghadapi Uchiha terakhir.

Dia membaca kekhawatiranku dengan baik. "Tidak." dia mendengus geli. "Aku tidak akan menunjukkan hal yang melukaimu." dia berkata sambil memandang aku dengan tatapan sendu.

.

"Katakan Hinata. Apa yang dikatakan oleh mulut laknat Uchiha bangsat ini hanya delusinya!" Suara Hiashi menggelegar.

.

missing nights

(Malam yang Hilang)

.

(twooshot)

.

Original story by Poochan

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: Typos, gaje, abal. MAINDSTREAM

SasuHinaGaa

Romance/Drama

Semi canon(?)/ Alternative Universe

Rate M

.

.

DLDR.

-First and half fragment -

(*Countdown desire)

*hitung mundur hasrat

.

.

*Be nice. I'm just newbie..

If you statisfied just push the review..

Or you feel unstatisfied just tell me the review coloum too.. :)

I'll learning..

.

.

Enjoy minna~

...

..

.

Hinata mengkerut. Dan kenyataan itu mengusik ego Sang Uchiha.

Diamnya si anak sulung yang terkenal dengan kehalusan budi menjadi pematik api dalam tubuh Hiashi yang telah tercelup minyak. Membakar sang Ketua Klan Hyuuga dengan kemarahan yang tidak bisa dibayangkan gadis kecilnya.

.

"Hinata, angkat dagumu dan bicaralah!" ada gemeretak dalam suara rendah Hiashi.

Sasuke merasa marah pada mertuanya. Dan ini tidak benar. Ia sudah berjanji tidak akan berbuat sesuatu yang bisa membuat istrinya sedih.

"Kami menikah. Sebulan yang lalu." kata-kata Sasuke begitu tenang, datar, seolah itu bukan kegilaan. Nadanya bahkan seperti berkata 'kami makan karena kami lapar.'

Seolah kata menikah itu hal yang lumrah. Biasa. Yang efeknya sungguh luar binasa memukul telak ego sang ayah mertua.

.

Hyuuga Hiashi bahkan takut untuk bernapas, seolah pula jika ia berkedip maka halusinasilah yang ia dengar. Nyatanya begitu ia menyadari bahwa Uchiha Sasuke sialan yang telah merampas Hinatanya. Ia diam. Bukan tak berbuat apa-apa tapi mencari semua cara untuk menggagalkannya.

Pasti ada celah, inner sang ayah mendominasi. Ia pasti bisa menyelamatkan gadis kecilnya dari serigala jahat seperti Sasuke.

Mata perak Hiashi bergulir memandang si putri yang mulai sesenggukan. Hinata dan tangisan adalah sebuah paket komplit dimana ayam goreng dan nasinya.

"Kau menikah dengannya, Hinata?" nada terluka Hiashi memancing anaknya.

"Hiks.. Go-gomenne, Tou-sama. Sa-saya ma-mabuk waktu itu." Hinata terisak di sela penjelasannya yang patah-patah. Mencoba jujur tentang dosa mabuk yang membuat ayahnya terpojok seperti sekarang.

Berbeda dari presepsi Hinata, Hyuuga Hiashi justru lega? Senyuman tipis mengembang di wajah dingin sang ketua klan.

Kejujuran itu membuat gusar sang Uchiha tersisa. Tapi dengan pengendalian sempurna ia hanya mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia seorang lelaki yang beristri sekarang. Dan menyerang mertua bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan.

"Menurutku-" Hiashi menuangkan teh hitam di dalam cawan. "Kami hanya bisa mengakui Gaara sebagai calon menantu. Bagaimanapun, aku bisa menuntut pembatalan pernikahan."

Sasuke manahan keinginan hatinya untuk bangkit dan menendang meja hingga terbalik. Namun ia justru meneguhkan hati, masih duduk. Hanya melihat bagaimana Hiashi menolaknya sebagai menantu. "Maksud Anda?"

Hiashi melirik sang Kazekage yang duduk dalam posisi sempurna. Sesuai kriteria menantu idamannya, lalu matanya bergulir melirik sang Uchiha yang duduk dengan tenang. Diam-diam memuji jikalau suami anaknya tidak begitu fatal, meskipun mantan missing nin dan mulutnya berbisa, Sasuke tidak berisik dan hiperaktif.

Tapi jika disandingkan dengan Kazekage? Hiashi menggeleng. Ia bergidik membayangkan Hianata mampu menarik atensi si mata merah.

"Uchiha-san. Sebagai orang tua dan ketua Klan yang dirugikan karena menghilangnya Hinata. Aku bisa menuntutmu atas tindakan penculikan."

Jika bisa. Sasuke pasti sudah memanggang Hiashi dengan amaterasu. Sayangnya ia terpenjara oleh rasa cintanya pada Hinata. Perempuan itu akan sedih. Dan Sasuke benci air mata yang mengalir dari perempuan itu. Rasanya lebih sakit ketimbang ia disakiti langsung.

Kediaman Sasuke dimanfaatkan oleh Hiashi, "Sabaku-sama.. Apakah anda keberatan jika Hinata pernah menikah?

Gaara menyunggingkan senyum tulus, matanya tak lepas dari Hinata dengan tatapan memuja. Membuat Sasuke habis kesabaran.

"Hinata tidak bersalah. Dia pasti sedih menerima undangan dari Naruto. Yang bersalah adalah orang yang memanfaatkan keadaan itu."

Sasuke menggeram, "Kau pikir semua bermula dari mana, Sabaku? Semua kesalahan ini berawal darimu." Sasuke melipat tangannya di depan dada, senyumnya mengejek.

Gaara menatap tajam Sasuke yang justru terkekeh,

"Siapa yang membelikan Hinata sake? Dan yang membuatnya mabuk bukanlah undangan Naruto. Tapi dirimu sendiri."

Nah... Nah...

Gaara terkesiap, mengetatkan rahangnya dan berusaha menahan kepala tangannya untuk tidak melayang meninju rahang Sasuke. "Apa maksudmu Uchiha?!"

"Kau melakukan perjalanan ilegal ke Konoha, dan Hinata mengenalimu. Kau takut dia akan mengadu. Namun ternyata perempuan itu justru menarik atensimu. Tiga botol sake yang kau hadiahkan kepadanya, memberikan dampak yang besar kan?"

Gaara menegang. Menggali ingatannya lagi. Dan memang kejadiannya hampir mirip seperti itu. Minus dia takut Hinata mengadu.

"Atas dasar apa kalian memisahkan ikatan di antara kami?" Sasuke berkata dingin. "Tanyakan pada semua orang yang tahu tentang kami. Apakah Hianata bahagia denganku atau tidak."

Hiashi mencengkeram pinggiran meja, "Kau berpikir aku tak mampu membahagiakan putriku?"

Sasuke menyeringai,

Dasar menantu kurang ajar!

Tapi Hiashi membiarkan dirinya tetap bisu. Mengumpat berarti ia mengakui si Berengsek Uchiha sebagai menantunya.

"Panggil saja Naruto dan Sakura. Mereka tahu Hinata bersamaku. Dan tanyakan, apa dia melihat Hinata sedih seperti sekarang?!"

Hinata mencengkeram kimono Sasuke lebih erat. Dan Membuat Sasuke menoleh untuk melihatnya yang mengkerut ketakutan.

...

..

.

Di luar semua itu mata Gaara menjadi fokus. Titik itu kian intens di mana ia melihat betapa luwesnya Sasuke merangkul Hinata dan menghadiahkan kecupan ringan di ubun-ubun wanita yang ia taksir. Hatinya teriris hebat dengan melihat fanservice antara Hinata dan Sasuke yang mesra.

.

Apakah tidak ada jalan untuk bersama?

.

Gaara nyaris mengamuk jika saja tatapan Hinata yang sedih membayangi pelupuk matanya. Kepalan tangannya terbuka saat ia mendesah.

Ya, tidak selamanya cerita harus berakhir bahagia. Ada yang lebih hidup jika tanda tanya menggantung di udara. Sebab kadang semua pertanyaan tidak harus diberi jawaban.

Sabaku no Gaara melihat Sasuke Uchiha yang berubah semenjak Hinata menghilang. Sasuke yang lebih tenang dan bijaksana. Dan ia merasa ditampar dengan kenyataan itu. Waktu seharusnya mendewasakan dia, bukan malah melemparnya menjadi abege labil yang nyaris merebut istri seseorang.

Sabaku berdehem, "Kurasa, aku tidak berhak mencampuri urusan keluarga."

...

..

.

Hiashi merasa wajahnya diludahi. Ketua klan Hyuuga itu malu atas semua yang terjadi. Hyuuga berambut panjang itu menundukkan kepala, "Maafkan Saya, Kazekage-sama. Saya menyesal harus menjadi seperti ini. Saya pastikan jika Hinata akan bebas dan akan menjadi bagian dari Suna."

Gaara tersenyum sendu sambil menatap Hinata yang masih terisak di dada suaminya. Ia menarik napas dan menghembuskan pelan, seolah berusaha mengurangi himpitan kekecewaannya. "Hyuuga-san tidak perlu melakukan itu. Hinata berhak memilih. Dan sepertinya pilihan itu tidak berada di Suna."

"Tapi-"

"Tidak apa-apa Hyuuga-san. Kami akan tetap berteman." potong Gaara, bahkan meragukan kalimatnya sendiri.

Bagaimana jika suatu saat ia menatap Hinata lagi? Pasti akan ada rasa sakit. Dan ia tak pernah membayangkan hal itu sebelumnya.

Dan Gaara mulai berdiri dan membungkukkan badannya sedikit untuk menyampaikan selamat tinggal pada Hiashi dan sepasang suami-istri yang sedang menghadapi penolakan keluarganya. Dan Gaara begitu benci pada dirinya sendiri yang masih belum bisa mengakui kalau Hinata tidak bisa menjadi bagian dalam catatan masa depannya sendiri.

.

Gaara bertemu Naruto dan Sakura di depan gerbang utama Hyuuga, ia tetap berjalan dengan tegak bahkan sempat mengucap "hai." meski suasananya sama sekali tidak mendukung.

Naruto dan Sakura masuk. Gaara pun sudah kembali kepada kehidupan lamanya. Yang penuh dengan hal-hal yang tidak serumit perasaan cinta.

***i'm newbie***

.

.

Naruto nyengir kaku, merasa gentar dan juga canggung.

Sebetulnya hanya pertanyaan sederhana, tapi ia malah hanya bisa mengangkat bibirnya dan membuatnya senyumnya seperti gelas yang retak.

"Kuulangi Uzumaki, apa yang kau lihat di malam Hinata menghilang?"

Haruskah ia mengatakan dengan jujur ia melihat Hinata yang mungkin saja polos dalam balutan selimut sebatas dada. Ia berciuman dengan Sasuke mesra seolah besok hari sudah kiamat. Dan Haruskah ia juga mengatakan jika Sakura bahkan melihat punggung Hinata yang telanjang dan Hinata tertawa. Tertawa saudara-saudara! Yang bahkan Naruto sendiri belum pernah melihatnya. Dan menurut Sakura juga Hinata juga mengacungkan jari tengah?

Bagian mana yang barus disensor di depan Hiashi?

Terlalu banyak hingga Naruto yang otaknya pas-pasan hanya nyengir kaku.

"Hinata, bahagia. Hinata yang tertawa. Dan Hinata yang telah menjadi bagian Uchiha." kalimat pintar ini bukan berasal dari lidah Naruto-chan tentu saja. Karena yang mengatakannya adalah murid sang sannin Tsunade, yaitu Sakura Uzumaki.

"Kau tidak menutupi sesuatu?" Suara Hiashi mengintimidasi.

Sakura berdecih melihat Sasuke dan Hinata yang tampak seperti orang bodoh. Kemana perginya Uchiha yang mengobrak-abrik pertemuan lima kage. Atau Sasuke yang menuntut balas kematian semua anggota klannya. Yang di hadapannya adalah seorang suami yang melindungi istrinya dari amukan sang ayah mertua.

Bangsat. Bahkan lelaki itu mengumpankannya kepada Hiashi untuk diintrogasi? Kenapa kepala Sasuke menjadi seperti ayam? Kemana banteng yang siap menyeruduk siapapun yang membuatnya marah. Merasa geram karena seharusnya malam ini diisi dengan belah duren dengan Naruto, justru dihabiskan dengan obrolan tidak pentingnya dengan Hiashi.

"Dengarkan aku, Hyuuga-san. Kau harus membuka matamu. Maaf harusnya byakugan juga bisa melihat apa yang aku lihat kan. Demi tuhan! Mereka hanya menikah! Dan jangan merusak citra Konoha dengan adegan seperti ini!" Sakura mengibaskan tangannya.

Hiashi menggeram benci jika kenyataan itu menyengat hatinya.

"Jika Sasuke mau, ia bisa saja membawa Hinata kabur dan tidak perlu kembali. Hinata sudah dewasa, dan matang untuk memiliki keputusannya sendiri. Dan bisa saja Sasuke menghancurkan kompleks perumahan ini dengan Susano'o jika ia marah. Jangan buang tenagamu untuk bertanya hal yang bahkan tidak ingin Anda dengar.

"Kau-" suara Hiashi tersangkut saat melihat tangan Sakura di udara. Membuat aba-aba berhenti.

"Demi Tuhan, Hiashi-san. Ini malam pertamaku dan otakku masih waras. Cari saja orang lain untuk mendengar curhatmu!"

Sakura begitu murka hingga ia melupakan tata krama dan menarik Naruto segera menyingkir dari rumah itu.

***i'm newbie***

.

.

Hinata dan Sasuke berpelukan. Itu jelas mainstream. Tapi jika Hiashi memeluk Sasuke?!

Perlu lebih sekedar byakugan, sharingan, dan juga rinnengan sekaligus.

Segalanya hanya perlu sebotol sake. Ya ya.. Sasuke perlu berterimakasih pada Kou Hyuuga.

Pria Hyuuga yang menjadi pelindung Hinata itu tidak tega melihat sang Heiress terpojok karena pernikahannya. Seharusnya pernikahan adalah sesuatu yang membahagiakan. Dan Kou adalah penganut 'asal Hinata bahagia maka ia bahagia' persis jargon author.

Jadi Sasuke akan mempertimbangkan memberikan imbalan yang pantas kepada Kou setelah misi berikutnya selesai.

Misi apa coba?

Membangkitkan Uchiha?

Tetot.

Mencetak generasi penerus Rinnengan?

Punya anak?

Rate-M?

Tetot.. Tetot... Tetot...

Semua keliru.

.

Ini misi penting. Yaitu menagih janji Hyuuga montok. Hahahaha...

Jadi setelah adegan tidak menyenangkan-gaje-dan menguras emosi, Sasuke kini berbaikan dengan Ayah mertua yang payah dalam adu minum.

Bagaimana sebotol sake bisa mengalahkan Hyuuga Hiashi? Ha? Ha?

Cukup mudah. Orang mabuk tidak bisa menghitung. Sejujurnya bukan sebotol, tapi sepuluh. Dan Hiashi yang mabuk kini terkapar di ruang keluarga-mereka pindah untuk minum sake, dan jangan bayangkan di aula lagi.

Hiashi meracau tidak jelas seperti "Aku butuh cucu."

atau bahkan, "Jangan berbuat mesum di tempatku!"

Tentu saja itu hanya karangan author untuk membangun charmistry menegangkan kembali diantara Sasuke dan Hinata yang sempat tertunda.

Hihihihi..

Persiapkan diri kalian. Pertunjukan utama akan dimulai!

***T(Tendang) B(Bokong) C (Chi-Poo)***

.

.

a/n:

Menaruh tbc di tempat yang tidak tepat saudara-saudara?

Saya tahu saya pantas dihajar. (*_*)

Ada yang nggak ngeh?

Saya tidak bermaksud php. Sungguh. (-_-)v

Saya tidak salah mencantumkan kata BAGIAN SATU SETENGAH.

Sebab, part ini cuma filler. Makanya judulnya countdown desire-hitung mundur hasrat.

Soalnya ehemnya di belakang cuy.

Banyak anak dibawah umur, jadi lemonan ditaroh bawah, okeyyhhh..

Chap depan benar-benar full malam yang hilang. (*chap 2 maksudnya)

Lok begini tetap disebut twoshoot kan? (ngeles)

Ya iya lah..

Kan ini bukan chap 2, masih chap satu setengah. #dibejek.

.

.

Sasuke pov.

.

Masuk ke kamar Hinata tanpa menyandang kata penyusup atau penculik itu ternyata lega sekali. Seperti membuang sampah pada tempatnya(?) plong-banget.

Jadi aku melihat Hinata yang masih menggunakan kimono pernikahan kami dan memandangku seperti kelinci yang minta diterkam.

Jangan salahkan aku jika berbuat mesum, dear..

Oh, aku selalu menambahkan panggilan Dear setelah nama Hinata disebut. Hinata dear. Bagaimana, apakah terdengar kampungan? Kalau kau bilang iya, maka katana ini akan memotong lehermu!

Tapi tentu saja dear tidak untuk diperdengarkan, aku menambahkan panggilan itu dalam hati.

Hinata itu unyuh dan sexy. Tentu saja aku masih normal. Ingin memiliki istri penurut, enak dipandang mata terutama di bagian yang perlu sensor, seperti dada dan paha.

Dia itu cute-terutama kalau menggigit bibir seperti sekarang, dengan dandanan messy hair. Rambut yang berantakan dengan peluh yang membuat kulitnya berkilat.

Oke. Jangan berani-beraninya kalian membayangkan Hinata dear-ku telanjang. Karena kami belum sampe ke tahap itu!

Ia baru saja memapah ayahnya ke kamar si tua busuk itu. Dan aktingku sebagai suami yang baik hati dan sayang istri semakin sempurna.

Oh ayolah. Image itu perlu, tapi jangan tanyakan perasaanku tadi. Hinata akan membayar kesalahan ayahnya! Dan aku akan menagihnya sekarang.

Saat ia masih capek mengurusi tubuh berat ayahnya dan kemudian menggiringku ke kamarnya lagi.

.

Aku langsung memeluknya dari belakang bahkan sedetik setelah pintu shojinya tertutup.

"Sa-Sasukehhh.." dia mencicit-tapi dalam kupingku aku justru mendengar ia mendesahkan namaku.

Nah, aku suka jika dia sudah turn-on begini. Aku menciumi bahunya. Lalu menjilat kupingnya yang sensitif. Bagaimana aku tahu?

Tentu saja karena dia istriku-bodoh!

Lama-kelamaan kalian jadi mirip Naruto. Baka!

.

Sialan!

Dasar sial!

Aku yang ingin menggodanya malah aku sendiri yang tergoda!

Bagaimana mungkin Hinata tahu kalau aku tak kan bisa tahan jika diumpani sepasang dalaman La Perla?!(*)

Celana dalam mini berbahan sutra yang begitu halus itu mengundang untuk disentuh. Dan jangan lupakan betapa montoknya bokong Hinata yang seolah memanggil untuk ditepuk.

Arrggggghhhhh!

Rendanya yang khas, begitu cantik sekaligus menjerat. Bra-nya melambai-lambai di depan mataku. Membuatku serasa jadi banteng betulan.

Napasku sesak dan pendek-pendek. Dengan memandang saja aku sudah ngilu seengah mati.

Siaaalllll...

Celana dalam mini berwarna merah maroon dengan pinggiran renda indah itu seakan menjerit minta di robek. Bagaimana Hinata bisa kenal barang-barang laknat macam ini he?

Merah?!

Aku benci warna itu.

Jadi aku meraih benda rapuh itu dan membuatnya menjadi suvenir pribadiku nanti. Yentu saja benda itu sudah terlepas dari tempatnya yang menyembunyikan bagian paling pribadi milik Hinata.

Barang pribadi-sensitif-menggairahkan itu jadi milikku sekarang. Aku perlu mempertimbangkan untuk menyetok sake dalam jumlah yang banyak setelah tahu sebuah fakta besar.

Para Hyuuga selalu terperosok dalam lubang yang sama, sake.

Dan Hinata bisa sangat luar biasa memuaskanku justru dengan minum alkohol itu. Tapi rasanya tidak enak juga kalau dia dalam keadaan setengah sadar seperti itu.

Hinata melenguh saat tanganku meremas buah dadanya yang menggodaku. Marasakan kelembutan sutra justru membuatku risih.

Ah.. Begini lebih baik. Tentu saja aku sudah melempar jauh-jauh benda keparat-merah-berbentuk dua gundukan yang disatukan itu.

Jadi aku bebas menjilat dan memilin ujung puncak payudaranya yang kini punya bekas ciuman.

Apa aku terlalu berhati-hati dalam memilih kata?

Sejujurnya, aku juga risih mendapati diriku menjadi sok sopan seperti ini. Baiklah. kita keluarkan saja apa yang tidak perlu disensor.

Sial kau Hinata!

Aku menggeram di sela ciumanku sendiri.

Kau begitu menggoda. Kenapa menciummu sekali justru membuatku haus, eh?!

Aku memagut, melumat, mengeksplorasi semua geliginya. Mengecap segala rasa yang ada di dalam mulut manisnya itu.

Sialnya aku ketagiahan, tanganku lebih cepat dari otakku. Menelisuri tiap jengkal kulit yang halus seperti lembaran kain sutra. Dan aku merasakan setiap denyutan nadinya yang begitu menghentak seperti punyaku.

Tanganku menuju ke bawah, tempat pusat duniaku teralihkan. Di sana, berdenyut, basah dan begitu menghipnotis dan nyaris membuatku gila.

Bagaimana mungkin mahluk yang tak pernah kurindukan ini menjadi sosok penting dalam perjalanan hidupku. Bagimana aku harus dibuat bertekuk lutut hanya karena dia memakai sepasang dalaman La Perla.

Membuatku seperti lelaki busuk yang mengendus bahkan menjilat-jilat agar ia berteriak untuk meminta sesuatu.

"Mintalah." Aku nyaris gila dan menerjang dia jika ia tetap sok kuat dengan menggigit bibirnya seperti itu. Tapi aku akan membuat dia memohon untuk dipuaskan.

Bukankah itu hukuman yang indah?!

Lidahku menyusuri belahan dadanya dan turun ke pusar, dia melengkungkan badan ke depan, menggelinjang.

.

Dua jariku sudah menjamah dan masuk dalam pusat semestanya. Dan ia mendesah-desah tapi tak mau menyerah.

Dasar keras kepala!

"Memintalah sayang.." Aku berbisik, lalu mencium telinganya sambil memaju mundurkan jariku.

.

Ada yang berdenyut dan menyedot jariku. Tapi aku tidak suka melihat dia senang. Jadi sebelum kembang api di tubuhnya meletus dan memeberikan surga padanya, aku mencabut jariku dan menyeringai.

Ia memandangku dengan kabut gairah yang menutupi matanya. Ia menatapku dengan permohonan tanpa suara.

Tapi segalanya tidak akan semudah itu.

Ego lelaki selalu lebih tinggi dibanding dendam sekalipun.

"Ku-kumohon.." Suaranua serak-sexy dan nyaris membuatku melepas celana.

Oho.. itu terlalu mudah sayang.

"Memohonlah!"

"Sa-Sasuke.." Dia merengek, sementara aku masih menggodanya dengan kulumanku di payudaranya.

"Sasuke, tolong.."

"Tolong apa?" Aku menjawab di sela membuat kissmark di lehernya.

Dia menggeram. Mendorong bahuku dan membuatku nyaris terjengkang. Dia kemudian membalikkam keadaan.

Aku di bawah dan dia di atas.

Keadaan persis saat ia mabuk. Begitu tak sabaran. Dia menarik tambang ungu celanaku. Membuat bemda itu lolos dari kakiku dengan cepat, tanpa cela sekaligus elegan. Ia juga menarik paksa boxerku hingga memperlihatkan milikku yang sudah babak belur karena menahan hasrat sejak tadi.

Dan segalanya menjadi liar. Panas. Dan juga menggairahkan.

***Cut Area***

.

.

#sedikit curcol (lagi)

Dari kemarin saya pusing. Gara-gara soalnya saya nulis BH. bwahaha.. Saya ngrasa aneh. tapi saya menadak lupa apa persamaan kata dari BH itu. Dan bodohnya akhirnya saya nanya ke mbah gugel. saya ketik "nama lain BH"

Lhadalah.. dapetlah saya tiga huruf laknat itu! BRA!

Siyaaallll kenala tiga huruf kecil itu menjadi begitu sialan kalau lagi lupa. Dapetnya dari Tololpedia pisan!

Hancur harga diri saya! #emangPunya? #ditampol.

(*) La Perla itu nama brand daleman yang terbuat dari sutra. Berbeda dengan Victoria Secret yang udah buming duluan di telinga kita, La Perla terkenal dengan rendanya yang dikerjakan oleh pengerajin renda paling mumpuni di Itali. Intinya barang brended mesin ama barang brended buatan tangan bo! Googling aja. Keren pastinya. #yaIyalah. FYi paling murah Bra-nya doang 3-5 juta bookk! Belum CD-nya.

Ngimpi dulu pake daleman harga jutaan. Yasalam..

.

.

R

E

V

I

E

please...

xoxoxo

Poochan.